Friday, August 17, 2018

8 Lagu Padi Paling Ajaib

Di suatu masa, musik Indonesia pernah berada pada satu puncak keajaiban. Padi--salah satu yang memicunya.

Riwayat tape rongsokan punya kakak perempuan saya tidak bisa diceritakan tanpa album Save My Soul punya Padi. Tape seringkali memutar lirih satu album ini tanpa jeda, di kamar si mbak yang berjendela terbuka dan penuh poster Simple Plan. Itu masih 2003, saya masih kelas tiga SD.  Tapi kaset bercover lukisan surealis ini seolah menandai sebuah era penting dalam hidup saya.

Mendengarkan Padi dari masa sebelum saya baligh jelas membawa memori tersendiri. Sebelum industri musik menjadi kacang pasca viralnya 3gp Ariel-Luna Maya-Cut Tari, Padi berada di satu kontingen bersama Dewa 19, Sheila On 7, dan Naif. Padi jelas menempati posisi tertinggi. Tape yang diulang-ulang dalam rumah, menggema di ingatan setiap waktu.

Pertanyaan yang mungkin relevan sekarang: apa sih lagu Padi yang paling ajaib? Saya berusaha menjawabnya sambil membongkar-ulang katalog lama dari semua album mereka.

8. "Terbakar Cemburu" (Tak Hanya Diam, 2007)
Liukan maut Piyu di "Terbakar Cemburu" benar-benar membakar. Membuat saya cemburu buta pada Fender Stratocaster-nya. Lagu tentang cemburu selama ini adalah yang dinyanyikan Once dengan marah-marah. Milik Padi lebih romantis.  Membuat perasaan cemburu lebih berkesan. Pujaan hati dibonceng orang lain? Sambil berpelukan? Mendengarkan lagu ini jauh lebih berkelas daripada merencanakan duel satu-lawan-satu.


7. "Patah" (Save My Soul, 2003)
Mungkin solo Piyu di awal lagu ini mengingatkan kita pada kejayaan rock 90-an akhir yang sopan dan romantis. "Memelukmu kuingin, menyentuhmu kuingin, dan mengucapkan sepatah kata... "; Lirik yang kalau didengarkan sekarang berpotensi membuat saya mengucek-ucek mata yang agak perih,  sambil melihat riwayat chat yang penuh emoticon bunga dan ciuman.


6. "Kasih Tak Sampai" (Sesuatu Yang Tertunda, 2001)
"Kasih Tak Sampai" mungkin jadi penghiburan kegalauan muda-muda era 2000-an, bahkan sebelum kata galau jadi booming. Petikan gitarnya hanya berfungsi menambah deras air mata. Kalau lagu ini rilis di masa remaja saya, mungkin saya akan menjadi lebih cengeng saat berada di fase hampir menenggak Baygon cair pasca putus cinta.


5. "Harmoni" (Tak Hanya Diam, 2007)
Terputar sendu dengan vocal Piyu. Jangan lupakan choir yang parah sekali bagusnya menjelang lagu usai. Kontemplasi yang disudahi dengan semakin kencangnya gebukan Yoyo. Lagu yang paling doyan wara-wiri di MTV Ampuh pukul sebelas siang saat VJ kesayangan kita Marissa Nasution masih fresh graduate. Ehm, Tahukah kalian kalau Ernest Prakasa yang jadi model di video klip lagu ini?


4. "Jangan Datang Malam Ini" (Tak Hanya Diam, 2007)
"Jangan Datang Malam Ini" justru malah membuat saya ingin mendatangi sekali lagi pengalaman pertama  menonton klip lagu ini via Inbox SCTV.  Video klip yang mungkin jika dirilis sekarang akan jadi bahan perdebatan sengit warganet yang seenak udel. Sheila Marcia  sebagai bintang klip,  ditampilkan punya affair dengan sesama jenisnya. Dengan musik minimalis nan segar, Padi membuktikan kalau kekuatan pop sebenarnya terletak pada kesederhanaanya.


3. "Tak Hanya Diam" (Padi, 2005)
Track ini sebenarnya masih amat dingin. Tambah lagi gebukan drum yang monoton, tidak seperti kebiasaan Yoyo. Penyelamatnya: pertama, pemakaian organ hammond atau synthetizer. Kedua, siulan Fadly yang syahdu benar. Ketiga, dari lagu ini kita bisa tahu definisi terbaik dari cinta adalah cinta.


2. "Hitam" (Save My Soul, 2003)
"Hitam" adalah wahana urakan Padi. Berisi tonjokan tanpa ampun dari Yoyo si mesin tempur kelas kakap yang doyan membuang tenaganya demi menggetarkan drum sekalap mungkin. Soundtrack sinetron setan di RCTI puluhan tahun lalu. Tapi masih menyeramkan dan ngeri didengar sekarang. Di sini kita bisa mengakui kalau Padi adalah supergrup keren tanpa ampun. Simak progresi jelang akhir lagu saat musik mulai beralih jadi ajang pamer kegilaan para alumnus Universitas Airlangga ini. Hasilnya? Desah panjang tanda orgasme.


1. "Ternyata Cinta" (Padi, 2005)
Sebenarnya semua daftar di atas hanyalah kedok dan alibi belaka untuk menuliskan tentang lagu ini. "Ternyata Cinta" adalah satu lagu yang membuat saya menyadari kalau Padi adalah keajaiban, kalau musik adalah keajaiban, kalau cinta adalah keajaiban. Sejauh ini, "Ternyata Cinta" adalah lagu terbaik Padi. Salah satu alasannya? Saya tidak bisa melupakan intronya yang aduhai brengseknya. Alasan lain? Tidak ada. Lagu ini terlalu sempurna.


Ditulis untuk Kolaborasik. Bisa juga dibaca disini.

Thursday, July 19, 2018

Menyembah YouTube

Pertanyaan pertama, mengapa manusia harus bekerja. Pertanyaan kedua, mengapa saya mempertanyakan pertanyaan macam pertanyaan pertama. Pertanyaan ketiga, bisakah saya berhenti ngedumel?

Ringkas saja. Ini hari jelang pukul sembilan malam. Saya masih di kantor dan terkepung entah apa itu namanya yang lebih bajingan dari kebosanan. Brengsek. Tapi tahukah Anda bahwa internet selalu menyediakan caranya sendiri untuk menyelamatkan hidup. Tahu-tahu saya sudah berada di YouTube--dengan mungkin milyaran orang yang juga mengakses situs yang sama. Bahkan mungkin pencarian yang sama. Lebih ekstrem lagi, video yang sama!

Luar biasa. Kita semua ternyata terkoneksi secara tidak langsung dengan YouTube! 

Ngomong-ngomong, gerakan self-healing di lingkungan pekerjaan yang membuat kita jadi batu, bisa dilakukan secara sederhana. Sesederhana membuka tab baru, mengetikkan platform video-sharing kesayangan, dan mulailah berselancar sampai mabuk.

Tapi apa guna link kalau tidak dibagi? Apa guna fungsi teknologi bernama hyperlink? Apa guna selera manusia kalau tidak dipamerkan? Maka dari itu saya berkenan membagikan sejumlah video yang saya putar random dan berurutan, dan saya harap kalian juga berkenan mengontak saya, membagikan video yang sekiranya bisa menyelamatkan hari-hari saya dari kondisi ekstra boring.

Deafheaven - "You Without End" (Full Album Stream)


Saya sedang berada tepat di samping editor musik kenamaan Surabaya saat memamerkan track ini kemarin malam. Dalam posisi rebah di waktu jelang hampir subuh hari dengan kondisi badan yang payah dan tenggorokan yang sengak kebanyakan nikotin, mendengarkan album baru Deafheaven adalah keindahan tiada tara. Kata Yang Mulia Editor: "Gini ini black metal? Yang bener?" Saya menanggapinya dengan semakin mengencangkan volume. Kemudian mengulang-ulang satu album Ordinary Corrupt Human Love di Spotify semenjak tadi siang, dan kembali mendengarkannya lagi di YouTube dengan komputer kantor yang sepertinya sudah sangat lelah. Satu pendapat saya: bagaimana mungkin sebuah album metal--ehm, black metal--bisa membuat perasaan saya perih dan tiba-tiba ingin menitikkan air mata? Jawabannya: pemakaian kadar bumbu post-rock, emotive hardcore, dan shoegaze yang begitu proporsional. YouTube hanya selingan. Anda harus mendengarkan albumnya via pemutar yang lebih jernih.

PENDAKIAN GUNUNG KERINCI Part I - What's in My Bag #DindaDimana




"She's so cute i'm gonna die!" - tulis salah satu komentar di vlog perdananya mbak ini. Bener juga sih. Saking tidak fokusnya, saya bahkan enggak tahu Adinda Thomas ngomong dan menjelaskan apa saja, tahu-tahu video kelar. "Kak terbuat dari apa kok manis banget?" - komen selanjutnya yang saya baca--yang walaupun rada anjing tetap saya amini juga.

rumahsakit - Hilang - Lirik



Adinda Thomas mungkin adalah penggemar Rumahsakit garis keras karena menampilkan dua lagunya--satu lagu lama yang luar biasa mahadahsyat sampai level menyembah-nyembah, dan satu lagu barunya yang biasa-biasa saja--dalam vlog imut-imutnya di atas. Siapa bisa menahan godaan Dinda? Akhirnya saya menyerah dan mengikuti alur selera Dinda. Dan lagu luar biasa mahadahsyat sampai level menyembah-nyembah dan punya lirik yang beneran ikonik ini akhirnya terputar juga.

jangan biarkan aku jangan hilang, Mbak Dinda... 

Friday, July 13, 2018

Saat Pure Saturday Jadi Band Cover Nan Mengecewakan


Gigs kemarin memang jadi perjumpaan perdana saya dengan Pure Saturday. Band yang hanya menyisakan tiga personil asli ini (dengan tambahan Iyo yang sudah mengisi vokal di album Elora), punya tempat tersendiri dalam ingatan. Pasca patah hati luar biasa beberapa tahun ke belakang, album Grey jadi penyelamat dan salah satu pendorong saya untuk bisa menentukan sikap. Bahkan, tanpa tendensi berlebihan, Grey jadi pemicu saya untuk hidup kembali dan kembali hidup. Sayang seribu sayang, tidak ada satupun dari album Grey yang dibawakan di acara yang disponsori merek bir hitam ternama itu.

Bercerita Grey akan panjang dan mungkin bisa diceritakan lain waktu. Tapi saya ingin menekankan kalau penggemar PS pasti punya satu album favorit, dan mungkin itu bukanlah Grey. Penggemar era lawas mungkin mencintai Utopia, Elora, atau Time For A Change. Semuanya bagus dan berkesan. Tapi di Grey, PS memainkan musik yang berbeda; melebur indie-pop dengan prog-rock. Analoginya; indie pop bisa dianggap musik kebun bunga yang indah mewangi, tapi prog-rock adalah hamparan langit yang gelap, panjang dan berliku. Seperti itulah Grey. Keputusan untuk tidak memainkannya membuat saya kecewa.

Saya datang di acara seorang diri. Siapapun yang saya ajak sebelumnya kemungkinan tidak mengetahui PS, dan saya mungkin hanya melakukan pemaksaan untuk sekadar menemani. Beruntung di sana saya bertemu Abraham Herdyanto dari Anti Warna Zine dan Ricky Mahardika dari unit space rock Dopest Dope. Mereka datang dengan alasan yang sama: PS punya tempat penting dalam perjalanan mereka menggilai musik. Pun juga saya yang selain ingin menggenapi gigs dari band yang belum sempat saya tonton, juga demi menjaga kenangan.

"Jancok sepi cok!" Kata Abraham sambil terus berjalan ngalor-ngidul kesana-kemari dengan rambutnya yang tergerai. Sementara Ricky lebih kalem. Frontman Dopest Dope ini sesekali mengangguk mengikuti tata suara sound yang lumayan bagus.

Dua sampai tiga lagu pertama PS adalah katalog lama. Katalog nostalgia. Mungkin diambil dari album Utopia. Selanjutnya saya hanya mencatat Pagi, Elora, dan Pathetic Waltz (porsi dengar saya pada lagu-lagu ini lumayan intens). Sekali lagi lagu dalam Grey tidak ada yang dimainkan. Padahal saya menantikannya.

Crowd yang sepi dan kurang apresiatif mungkin akhirnya membuat PS berinisiatif. Iyo membawa stand khusus tempat kertas lirik. Kemudian mulai membawakan kejutan--demi membuat orang-orang yang asyik sendiri menyesap bir sambil main PS di tengah gigs PS.

"Main Play Station sambil diiringi Pure Saturday. PS, diiringi PS." Ujar saya pada Abraham.

"Ya, ya. Lumayan lucu." Ujar si skeptis Abraham. Lalu dia menimpali.

"Sebenarnya PS ini influence-nya siapa sih!"

"The Cure." Jawab saya.

Abraham melotot. "Mosok?"

Lalu PS terdengar memainkan intro yang familiar. Oasis dengan Don't Go Away. Anjing, saat cover lagu orang, crowd malah terlihat menikmati. Mungkin karena tahu lagunya.

Karena crowd makin terlihat apresiatif saat cover song, PS sepertinya semakin tahu diri. Saya yang dalam hati berharap PS memainkan katalognya sendiri, dibalas intro lagu lain yang memang mungkin sudah diketahui khalayak. The Cure dengan Friday I'm In Love. Disusul intro sejuta umat yang sudah pasti membuat crowd bir hitam bergairah.

"Ini siapa sih? Lali aku."  Tanya Abraham.

"The Killers." Jawab saya. Dan Mr. Brightside yang legendaris itu berkumandang. Saya hampir putus asa karena PS memainkan lagu cover berturut-turut. Tapi di lagu cover terakhir, sedikit membuat saya salut.

"Eh! Iki opo iki opo? Lali aku." Tanya Abraham lagi.

"Regrets. New Order." Saya menjawabnya dengan hati agak sedikit senang karena lagu ini lumayan asoy geboy, meskipun dibawakan PS.

Abraham kemudian pamit kencing sementara saya dan Ricky sedikit bercakap-cakap.

Saya kemudian tahu gigs ini akan segera berakhir saat Kosong dimainkan. Ini jadi hits awal PS dan masih dijagokan sampai hari ini. 

Secara keseluruhan, saya belum puas. Apalagi ini gigs PS perdana saya. Kemungkinan PS juga baru pertama kali ini manggung di Surabaya. Meskipun pernyataan ini dibantah Abraham, dengan keraguan.

"Kayaknya pernah dulu buanget maen di sini. Kayaknya."

"Masak sih? Rumahsakit mungkin?" Jawab saya.

"Eh enggak ya! Rumahsakit 'kan main di Sunday Market pertama. 2013."

"Iyo. Vokalisnya masih Si Lemes. Sakjane nggak usah diganti yo Bram." 

"Yoi. Lemes enggak tergantikan."

"Walaupun ancur-ancuran dan fals nemen ya. Haha."

Pure Saturday, Rumahsakit, Themilo, semuanya grup indie-pop yang punya tempat tersendiri di hati saya. Meskipun mengecewakan, tapi gigs perdana PS saya akhirnya keturutan. Yang belum sekarang hanya tinggal Themilo dan Rumahsakit--meskipun vokalisnya sekarang sudah bisa bernyanyi.

Saturday, July 7, 2018

Tuan Marah: "Pekerjaan Ini Membuatku Alami Keterbelakangan Mental!"

"Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia yang membuat bumi seolah melambat dan lebih santai karena para manusia bisa asyik memantengi televisi sampai jelang subuh padahal besok kerja, aku terpuruk dan seolah berada di ambang batas kebosanan. Menonton pertandingan apapun--kecuali Spanyol lawan Rusia kemarin--belum ada yang membuatku berteriak wow dan melupakan gelapnya jiwa. Ah, aku memang Si Raja Sambat. Tapi apa kegunaan kau, sahabatku, kalau tak kugunakan menampung rewelan dan cerewetanku, tanpa perlu proses dan sok menasehati untuk bersyukur dan bersabar. Semua tukang ceramah adalah tai anjing ngentot babi yang tidak tahu apa yang sebenanya  kualami. Semuanya tidak jauh lebih baik dari gorong-gorong... ah sudahlah. Kenapa aku jadi semakin melantur dan mengata-ngatai orang begini. Kenapa juga orang-orang tidak ada yang mengerti aku. Melarangku sambat seolah-olah Mario Teguh hidup kembali dan memasuki pembuluh darah vena orang itu via dubur. Ah bangsat. Mengapa aku mengoceh. Mengapa aku ngotot. Mengapa aku jadi bangkai di tempat kerja yang hidup hanya demi perut dengan mata panas dan lelah, dingin AC goblok dan deru mesin ketik yang membuatku tertahan delapan jam sehari dengan alokasi 70 persen waktu berpikiran untuk terbang seperti burung, lepas ke alam bebas, melupakan hidup penjara yang no life dan anjing-anjing aturan yang mengharuskan kita untuk bersedih-sedih dahulu bersenang-senang kemudian. Goblok. Ini semua membuatku sedikit demi sedikit, alami keterbelakangan mental!"

***
Itu tadi adalah tulisan kawan saya, yang harus saya samarkan nama terangnya di sini dan bisa dipanggil Tuan Marah saja. Dia menuliskannya via WhatsApp--lagi-lagi dengan panjang sekali. Saya juga terpaksa memotong, mengedit, dan memperhalus beberapa bagian tulisan ini yang menyebut nama, instansi, atau kata-kata yang terlampau kasar. Pemuatan tulisan ini dalam blog ini murni karena apa yang dialami Tuan Marah ini, agak identik dengan apa yang saya dan ribuan pekerja lain rasakan. Saya berjanji pada Tuan Marah untuk membalas tulisannya ini di blog. Tapi karena kebingungan membalas dengan apalagi--jujur stok cacian dan umpatan saya untuk bumbu tulisan seperti tenggelam ditelan kejemuan pekerjaan. Jadi saya akan bagikan saja materi berat yang berpotensi membuat hidup makin ruwet dan semakin alami mental-breakdown. Atau bisa juga malah bisa melepaskan hormon kelegaan dari dalam diri kita; manusia-manusia pemalas yang diperas korporat sampai keluar ampas dan akhirnya melupakan diri sendiri karena harus melulu palsu di tempat kerja.

Materi berat yang saya maksud langsung teringat begitu saja saat Tuan Marah menuliskan 'keterbelakangan'. Segera saja saya mencari-cari album yang saya simpan di Spotify dan menemukan Tyranation, satu lagi mahakarya dari unit death metal bintang lima Deadsquad. Jujur akhir-akhir ini saya jarang mendengar lagu metal baru. Apalagi yang serapat death metal. Tapi Deadsquad memang punya pesona sendiri. Materinya sejak Horror Vision dilanjutkan Profanatik, selalu saya simpan dan putar. Tidak ketinggalan album baru Tyranation, yang digarap bersama musisi-musisi ternama, seperti Dewa Budjana, Andra Ramadhan, Coki Bollemeyer, bahkan Sudjiwo Tedjo untuk track pembuka berjudul "Jancuk." 

Album ini epik dan menggambarkan dunia pasca-apokaliptik yang tanpa harapan, gelap, dan kotor. Diksi Daniel Mardhany si lirikus sekaligus yang menggeramkannya memang tidak jauh berbeda dari lagu-lagu lain. Penuh benci, kesumat, dan kesakitan. Sangat relevan dengan kondisi Tuan Marah. Karena itu saya membalas gundah-gulana Tuan Marah tadi dengan "The Comfort Of Retardation"; track iblis mati yang mau tidak mau harus nyaman di dunia yang busuk dan alami keterbelakangan. Daniel menggeram: 

We still need an education
Teach us how to sold the world Teach us how to erase your soul Teach us how to kiss the fear!

Anjing Setan!


Thursday, June 7, 2018

Cerita Dewasa Untuk Pemula: Sebuah Pengantar

Oleh Bili Sayuti*
Saya pernah punya pengalaman menjijikkan. Sebenarnya tidak etis diceritakan di sini, karena itu saya hanya akan melempar pertanyaan ini saja: pernahkah Anda-anda semua, terutama yang mengaku sebagai moralis tulen, suci tak ternoda, pendukung keras boikot pornographic, ke-gap orang tua anda saat melakukan hal-hal yang kurang senonoh?

Jika belum, sebaiknya Anda membaca cerita bersambung karya mahasiswa sableng saya ini. Atau kalau Anda memang punya pengalaman ke-gap serupa, Anda juga bisa menyimak dalam-dalam esensi cerita nir-faedah ini dan membandingkannya dengan hidup anda yang tidak kalah absurd. 

Ini untuk kesekian kalinya saya disuruh membuat kata pengantar untuk proyekan fiksi mahasiswa saya yang sangat kurang ajar ini. Bagaimana tidak? Cerita ini, lagi-lagi dibagikan gratis di sebuah platform digital, dan terang-terangan mendokumentasikan kisah amoral nan jujur soal bagaimana sensasi menonton bokep pertama, atau pengalaman nyabun pertama di toilet sekolah karena tidak betah melihat bu guru magang yang aduhai tampilannya.

Karena itu, Anda direkomendasikan untuk menggantung moral Anda di balik pintu, dan mulai membaca bacaan senggang yang mengingatkan pada kejayaan Enny Arrow dan Freddy S. ini. Gaya penulisan Tito dalam ceritanya kali ini amat ringan, tidak berbelit-belit melilit seperti karyanya terdahulu. Juga tidak terlalu frontal dari segi pemilihan bahasa, meskipun tema yang diangkat terang-terangan berputar pada blue film, onani, dan seks pertama. 

Sebagai pamungkas saya ingin bertanya satu hal lagi pada Anda: pernahkah Anda onani pakai balsem? Saran saya jangan. Teman saya pernah bermain yang begini ini, lalu tidak sadarkan diri selama dua setengah jam di ruang UKS. Panas.

Rekomendasi Pak Bili bisa dibaca gratis di sini.

*Pak Bili Sayuti, mantan dosen saya. Sekarang fokus menjadi slackers di rumahnya. Pasca menamatkan Breaking Bad rekomendasi saya, beliau kecanduan Netflix sampai hari ini.

Wednesday, May 16, 2018

Bagaimana Jajan Rock Mempengaruhi Hidup Kita?

Lebih bernilai mana kaus Joy Division atau My Bloody Valentine? Tape Utopia dari Pure Saturday atau Rumahsakit? Plat Badai Pasti Berlalu atau Guruh Gipsy? CD album terbaru Taylor Swift atau Coldplay? Susah kalau perkara selera. Apalagi hasrat untuk jadi hipster kadang membuat selera jadi terkotak: harus cult, indie, menyimpang: apapun yang disuka arus utama, kita sebisa mungkin harus menghindarinya. Mau tidak mau ini berpengaruh pada hasrat belanja. Tapi musik memang sebegitunya. Memaksa kita keluarkan duit tidak hanya untuk nada dan irama: kaset dan sejenisnya. Musik juga bisa dipakai, dalam pernak-pernik merchandise: kaus, bracelet, sampai gantungan kunci. Beberapa tahun terakhir ini, beberapa penerbit juga mulai rilis buku-buku musik. Musik bisa dibaca. Elevation Records, label milik Taufiq Rahman penulis musik kesayangan kita semua—meluncurkan divisi ‘usaha kecil menengah’ bernama Elevation Books. Jadi gebrakan lewat kumpulan esai musik karya Taufiq, disusul kumpulan tulisan Herry Sutresna aka. Morgue Vanguard aka. Ucok Homicide – legenda hip hop yang doyan menuliskan musik secara personal. Apalagi layanan musik streaming seperti Spotify, yang harus dipaksa premium supaya bebas iklan. 50 ribu terlalu mahal untuk sealbum penuh A Moon Shaped Pool plus jutaan lagu streaming lain? Atau bagaimana dengan tiket konser—yang kini makin mudah karena bisa dipesan virtual. DWP sudah jadi rutinitas, gigs-gigs kampus pakai band lokal juga sudah ada ticketing, apalagi tur dari band-band rilisan Kolibri atau label-label luar kota yang ajaib.

Ini tidak bisa dibiarkan. Mau sampai kapan isi dompet kita dikoyak segala pernak-pernik musik?

Mungkin ada frase ‘jajan rock’—sebagai istilah belanja musik entah itu tape, CD, plat, sampai kaus band. Kamu tidak harus mengerti frase itu buat njajan. Apapun motivasinya, musik mungkin sudah jadi semacam candu yang terlalu seru untuk tidak diusahakan. Kamu butuh, tidak hanya ingin. Hasrat yang menggebu-gebu untuk tidak beli vinyl Rajasinga atau Taring-nya Seringai edisi splatter vinyl, bisa disesali seumur hidup kalau tidak dituruti. Kamu ingin benar-benar menikmatinya secara maksimal, dengan pemutar musik terbaik. Kaus juga harus original merchandise, tidak boleh premium murah. Pengorbanan bukan hanya sebagai bentuk dukungan pada musik dan musisi. Tapi lebih pada kenikmatan pribadi.

Beberapa orang bertanya ‘ngapain beli tiket konser mahal-mahal, pakai kaus band cotton 30’s mahal, beli vinyl di eBay, bla-bla-bla, sebenarnya mencari apa sih?

Karena sesungguhnya manusia tidak pernah puas. Dan kepuasan dari musik, selalu harus diperjuangkan.

Kaus Band
Banyak band di Surabaya sudah mulai produksi kausnya sendiri. Ada yang jadi barang buruan seperti kaus Si Pelanggannya Silampukau. Atau kaus Timeless dengan font album Beetwen And Beyond. Beberapa merasa ini perlu dibeli untuk mendukung eksistensi band. Tapi lebih dari itu semua, ini juga bukti betapa cintanya kita pada musik. Musik tidak hanya nempel di kuping, tapi juga di badan dan kulit. Kurang cinta apalagi coba? Kita serahkan jiwa raga kita pada musik, karena kita sadar begitu banyak peran musik di hidup kita.

Plat
Plat bukan hanya untuk orang-orang berdoku dan tua. Ini masalah kualitas dan kamu lebih baik kembali ke klasik. Lebih baik menabung tidak apa-apa, beli plat dulu turntable-nya menyusul. Mungkin event Record Store Day bisa jadi awal yang bagus. Ya beli plat-plat empat ratus ribuan dari album-album top 40’s yang keren boleh juga dicoba. Lalu sesudah kamu mengerti ada banyak ‘suara lainnya’ yang bisa terdengar lewat layer-layer tersembunyi dalam lagu, kamu akan semakin mengerti bedanya headset 18 ribuan dengan turntable. Plat punya perbandingan 1:2 dengan rekaman di studio. Turntable mahal ya? Pikir ulang dulu rencana nikah pakai resepsi di gedung, lebih baik buat beli turntable, sisanya buat beli mobil sport. Boleh jugalah.

 CD/Tape
Tape dulu baru kemudian CD. Tape menurut banyak orang lebih romantis, tapi beberapa orang lebih memuja CD. Semuanya tergantung selera masing-masing—dan di zaman apa kita bertumbuh. Sebagai genarasi mp3 mungkin memuja Spotify tidak kalah romantis. Apapunlah buat konsumsi musik. Kita tidak tahu mau jadi apa umat manusia kalau tidak ada benda bernama album. Mau jadi apa malam gelap gulita tanpa Mellon Collie and Infinite Sadness? Mau jadi apa anak-anak muda yang terasing di kelas tanpa Nevermind dan In Utero. Kebanyakan—atau mungkin semua orang punya utang budi pada tape atau CD. Termasuk audio mobil butut ayahmu yang doyan memutar sealbum penuh Sgt. Pepper-nya The Beatles dalam perjalanan mengantarmu ke sekolah.

Buku
Ini tidak kalah pentingnya, dan mungkin perlu diusahakan. Beberapa dari kalian mungkin bingung cari dimana buku rilisan Continuum: 33 1/3 karangan Mike McGonigal. Buku itu membahas semua album yang mungkin pernah masuk kuping kalian, secara berkelas. Kalau lewat eBay atau Amazon terlalu asing dicoba dan Bahasa Inggris kalian tidak bagus-bagus amat, mending mulai baca Setelah Boombox Usai Menyalak karya Herry Sutresna, atau Nice Boys Don’t Write Rock And Roll-nya Nuran Wibisono yang rilis tahun ini. Seperti kata Erie Setiawan musikolog Jogja: teks musik membantu lagu atau album, mengatakan apa yang tidak bisa dikatakan lagu dan lirik. Bacalah!

Tiket Konser
Karena musik gratisan berarti tidak segmented dan akan ada banyak penonton non-penggemar yang nonton hanya untuk eksis belaka. Pernahkah kalian merasakan sensasi teriak koor massal saat intro bas lagu I Wanna Be Adored dimulai?  Kalau belum, buka website The Stone Roses, cari kemungkinan kapan mereka Reuni lagi, segera booking tiket. Ya, semoga harganya tidak separuh gaji kalian ya, wahai kelas menengah.

Naskah nan slebor ini pernah dimuat di Majalah SCG.

Deathwords – Abandon The Truth: Jenuh dan Terasing Dalam Buram Hitam Putih


Kita sering merasa terasing tanpa tahu apa itu keterasingan; Marx menjelaskannya dengan agak bertele-tele dan mungkin bagi saya yang berotak di bawah rata-rata ini cukup membingungkan: manusia terasing dari dirinya sendiri, akibat dari sistem kapitalis yang membuat manusia bekerja agar tidak kelaparan. Bla-bla-bla selengkapnya bisa baca Manifesto--atau sekalian Das Kapital. Tapi kamu bisa sedikit-sedikit belajar soal keterasingan dalam video klip baru Deathwords; unit brutal stoner (begitu saya menyebutnya), berisi sobat-sobat SMA saya yang sejak dulu jadi begundal. Kita digiring di situasi hitam putih: buram dan agak sedikit menyeramkan. Kota Malang, tempat klip itu diambil, terasa seperti Norwegia, atau kota di negara Eropa yang jadi tempat kelahiran Black Metal. Padahal hanya menyorot sisi paling remeh dari Pasar Besar Malang, sampai daerah Kayu Tangan. Keterasingan dalam klip bisa dilihat dari kusamnya Converse punya Iqbal--si vokalis dengan geraman mematikan--lalu angan kita secara otomatis memasuki situasi nihil. Bocah bahagia bermain ayunan tampak kelabu; mendung dan melankoli. Jerit-jerit Iqbal yang ditampilkan berjalan di trotoar pertokoan menunjukkan sisi muram kota. Busuk dan tidak indah. Bagaimana Iqbal menyiksa pita suaranya diiringi berat knalpot distorsi Riki; membuat rasa tertohok dan meradang dalam satu paket. Malang kota hujan, tampak ortodoks dan ragu. Denging Tomi Iommi menekankan pengaruh Sabbath yang kuat. Klip mulai menggelinding menyorot aspal keras, dan jalan yang mulai penuh dengan hal-hal yang menggelisahkan. Meskipun sederhana, pikiranmu perlahan akan penuh deru. Seolah ada asap dalam hisap Marlboro yang tertelan dan masuk ke otak. Linu dan pegal, saya akui, tapi Deathwords sedang membangun nuansa. Split underground dengan Band Singapura tampak perlu digembar-gembor sebagai hal yang luar biasa; hanya saling berbagi keterasingan, kemuraman, kegelisahan--yang selalu ada di gang-gang kotor penuh kecoak, asbak yang selalu pekat terisi, got penuh kadal dan tikus coro: sudut suburb sebuah kota yang meskipun brengseknya minta ampun, tetap nyaman untuk ditinggali. Terbiasa dengan keterasingan, lalu sedikit-demi-sedikit mencicil kejenuhan dan lambat laun mencapai titik didih keputus-asaan. Mengutip Nietzsche: aku bukan manusia, aku dinamit. Lamat-lamat kita akan meledak sendiri. Meledek dan mengumpat pada hidup. Siaga pada kesedihan yang bisa datang dalam hitungan menit. Segaring Indomie yang kita makan mentah. Absurd, kosong, sekaligus renyah dan beracun. Mungkin keterasingan tiada peduli situasi apapun: ia bersemayam dalam pikir bawah sadar. Sistem pendingin dalam tubuh kita tidak berfungsi; seperti Malang yang semakin penuh, sesak, dan tidak bisa dinginkan panas kotanya sendiri. Deathwords menggambarkanya dalam klip berbudget rendah, tapi dengan kemasan yang mengena.

Tulisan sebelumnya dimuat di Wayward Online Magz.