Saturday, March 1, 2014

Furious 6: Para Keluarga Berkumpul Kembali dan Mengantam London Dengan Kecepatan Maksimal

Ride Or Die. Paul Walker (kiri) di salah satu scene. Ia akhirnya berpulang dalam insiden kecelakaan mobil 30 November tahun lalu. 
Sejenak, para penjahat internasional-pun butuh istirahat, termasuk penjahat sekaliber Dominic Toretto (Vin Diesel) dan kawan-kawan yang kini kembali dalam sekuel terbaru “Furious 6.” Sukses menggeber dominasi Box Office lewat sekuel film sebelumnya, Fast And Furious (2009) dan Fast Five (2011, “Furious 6” agaknya tak ingin dipecundangi sekuel-sekuel itu. Perlahan tutup jendela mobil dan mulailah tancap gas, jangan terlampau cepat karena adegan pembuka di film ini menggambarkan dengan jelas bagaimana cara buronan kelas kakap dunia menikmati status bebas dan beristirahat “sejenak.” Telah menjalin hubungan yang penuh haru biru di sekuel-sekuel sebelumnya, Brian (Paul Walker) dan Mia (Jornana Brewster) --adik Dom-- kini lekat dalam kebahagiaan setelah kelahiran putra pertama mereka. Di ujung dunia lain, kawan-kawan Dom; Roman (Tyrese Gibson), Tej (Ludacris), Han (Sung Kang), dan Gisele (Gal Gadot), sedang menikmati dunia lewat cara mereka masing-masing setelah mendapat banyak uang dalam cerita “Fast Five.” Tapi, kawan-kawan yang seperti sudah menjadi satu keluarga ini rupanya harus berkumpul kembali setelah Dom mengontak mereka untuk menjalani aksi di London. Tindakan Dom mengumpulkan mereka bukannya tanpa alasan. Hobbs (Dwayne Johnson), seorang kepala polisi, meminta bantuan Dom untuk menangkap gembong kriminal pimpinan Shaw (Luke Evans) yang berisi pembalap jalanan liar dari berbagai negara; orang-orang berkemampuan setara dengan kelompok Dom. Hobbs sepertinya memahami filosofi diamond cut diamond --hanya pembalap yang bisa menangkap pembalap. Tapi sepertinya cerita tersebut kurang seru jika tanpa sedikit pemicu. Pemicu utama aksi ini tak lain tak bukan adalah foto pembalap kriminal yang ditunjukkan Hobbs pada Dom di adegan pembuka: sosok perempuan liar dan bengal, kekasih dan mantan partner kriminal terhebat Dom, Lettizia Ortiz, atau akrab dipanggil Letty. Ia dikabarkan meninggal karena dibunuh oleh anak buah penjahat narkotika bernama Braga di Fast Four, tapi di Fast Furious 6,  Letty “dihidupkan” kembali. Misteri kematian Letty sedikit demi sedikit mulai terkuak, termasuk pertanyaan mengapa Letty seakan telah melupakan Dom dan kawan-kawan (digambarkan dalam adegan mengejutkan: Letty menembak dada Dom dan menganggap seolah musuhnya). Sebuah jalan cerita yang agak sedikit dipaksakan, namun tetap menjadi bumbu yang menarik bagi franchise ini. Balapan mobil liar yang menjadi “tema” film ini dari awal, mulai bergeser ke adegan “patriotik” yang menggambarkan sisi pahlawan. Sepertinya sang sutradara ingin memberi tahu kita bahwa penjahat sekalipun bisa menjadi pahlawan.

Joe Taslim, aktor asal Indonesia yang berjaya lebih dulu lewat The Raid, juga turut menyumbang peran di Furious 6. Tak jadi peran utama tak menghalangi aktor yang juga atlit beladiri ini untuk tampil total. Ia berperan sebagai Jah, anak buah Shaw yang menguasai ilmu bela diri dan parkour. Kata-kata berbahasa Indonesia-nya yang diucapkan di salah satu adegan kejar-kejaran: “hantam mereka!” memang tak hanya membuat sedikit bangga bagi Indonesia karena bahasanya –meskipun hanya dua kata- bisa didengar dunia, lebih dari itu, Joe Taslim benar-benar mengimplementasikan kata itu dengan baik dan benar. Indonesia boleh bangga sekali lagi karena aktornya bisa “menghantam” dan menghajar habis-habisan dua bintang Hollywood: Sung Kang dan Tyrese Gibson,di sebuah adegan berdurasi agak lama yang menampilkan beladiri judo yang indah. Agak klise karena aksi hajar-menghajar di genre film macam ini biasanya hanya sekedar pukul-tendang-pukul-tendang layaknya preman. Ini adalah kejutan lain di Furious 6. Joe Taslim kini benar-benar berhasil “menghantam” mata dunia lewat aksinya.

Serasa membosankan jika film full action seperti ini hanya menampilkan sesuatu yang membuat jidat berkerut dan tak mengajak tertawa. Dalam hal ini, Roman, yang cocok diperankan oleh Tyrese Gibson agaknya menjadi penyelamat. Humor-humor ala American style yang ringan namun menusuk tampil di berbagai dialognya yang konyol. Juga beberapa tindakan bodohnya yang memancing gelak tawa. Aksi tomboy nan seksi aktris asal Israel, Gal Gadot, yang memerankan Gisele, juga menambah kemeriahan cerita, selain para pemeran lain yang mempunyai ciri khas masing-masing. Tapi disini, tokoh sentral yang menjadi inti cerita masih berkutat pada Dom dan Brian. Dom dengan Letty-nya dan Brian dengan rasa bersalahnya pada Dom. Disini Dom terlihat menumpu beban dan rasa pedih yang amat dalam. Di awal cerita Dom rupanya sedikit demi sedikit mulai melupakan Letty yang “mati,” dengan sudah memiliki pacar beru bernama Elena, yang dulunya merupakan anak buah Hobbs. Tapi disaat seperti itu, Dom malah dihadapkan pada kenyataan bahwa Letty masih hidup. Sempat terpikir bahwa Furious 6 ini akan dipenuhi masalah cinta layaknya drama yang pelik. Tapi ternyata Elena malah mengikhlaskan Dom untuk mencari dan mencintai Letty kembali, bahkan ini ditampilkan di adegan awal. Namun, drama belum usai. Di saat Dom mengejar Letty, dadanya ditembus dengan peluru tanpa rasa ampun dan iba oleh Letty sendiri. Hal ini tentu tak hanya merobek kulit Dom hingga berdarah, tapi juga mencabik hatinya hingga luka. Dom harus berfokus menangkap dan memburu penjahat, yang di dalamnya justru terdapat pujaan hatinya sendiri. Sebuah situasi yang sulit dikarenakan Letty seperti menjadi sosok penting di kelompok penjahat pimpinan Shaw itu. Misteri Letty juga bertambah, mengapa ia seperti lebih memilih Shaw dibanding Dom?

Brian, di sekuel-sekuel sebelumya berperan menjadi agen FBI yang membelot sebagai penjahat bersama Dom, juga dihantui berjuta perasaan. Hubungannya dengan Mia memasuki babak baru saat ia mempunyai bayi, tapi ia juga tampil sebagai sosok yang bertanggung jawab saat ada sesuatu yang menimpa Letty. Ia yang dulunya biasa menahan penjahat kini harus rela ditahan FBI demi mendapat informasi. Adegan-adegan dalam Furious 6 memang banyak menampilkan kecamuk perasaan macam ini, sehingga mengaduk-aduk emosi penonton. Tapi setidaknya, ini dipadukan dengan aksi-aksi gila sehingga tak melulu dramatis. Sepertinya ungkapan Dom: “You’ve got the best crew in the world standing right you, give them reason to stay,” tak hanya bisa ditujukan pada Hobbs. Tapi pada para penonton film ini, karena Furious 6 mampu menunjukkan alasan agar kita bersedia berlama-lama menatap layar, kemudian memacu gas dengan kencang bahkan nyaris tanpa rem.

Secara alur, cerita dan berjuta aksi yang “menghantam” memang sangat menghibur, walaupun para penggemar yang awalnya menggemari film ini karena aksi balapannya harus beradaptasi dengan tema baru yang dimainkan. Sepertinya Fast & Furious akan terus berlanjut mengingat jalan cerita yang bisa berkembang dan disesuaikan. Namun, benang merah film ini juga harus dijaga sehingga ceritanya tak meluber kemana-mana. Aksi-aksi “gila” yang ditampilkan di tiap sekuel memang mengalami peningkatan. Terlihat di Furious 6 ini banyak sekali adegan menegangkan yang kadang juga anti logika. Semisal Dom yang seakan memiliki kekuatan manusia super saat meloncat dengan jarak yang amat sangat jauh demi menyelamatkan Letty, atau mungkin di adegan terakhir saat pesawat yang akan tinggal landas tak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda terbang, malah asyik melaju kencang menginjak tanah, yang pada umumnya pesawat takkan selama itu jika akan tinggal landas. Juga mobil khusus yang digunakan Shaw, menunjukkan pada kita bahwa Furious 6 seakan terinspirasi Death Race. Tentu adegan ini tak terlampau buruk karena dibalut dengan efek canggih nan mumpuni, tapi dari segi realitas, hal ini rupanya terlampau mustahil. Seperti kesan ganjil saat Elena dengan mudahnya merelakan Dom untuk Letty kembali.  

Aksi “gila” memang beresiko memakan nyawa, dan itu terjadi di penghujung film ini. Dan jangan terburu-buru meninggalkan layar saat film ini usai, karena spoiler yang mungkin ditujukan untuk film Fast And Furious 7 layak disimak sebentar untuk memicu penasaran. Setting Tokyo dengan tokoh Han, yang ditampilkan di spoiler ini, agaknya akan berhubungan dengan sekuel paling tidak nyambung dari Fast And Furious, Fast And Furious Tokyo Drift.

Banyak film yang menunjukkan amanat secara tersirat, tapi di Furious 6, agaknya banyak amanat yang tersurat. Ucapan Dom seusai membersihkan luka bekas tembakan Letty, “You don’t turn your back on family, even when they do,” mungkin adalah amanat paling penting di film ini: keluarga. Film ini ingin mengajarkan pada kita bahwa keluarga tak boleh ditinggalkan walaupun mereka tega meninggalkan kita. Dan Dom, Brian, Mia, Letty, juga yang lainnya, adalah keluarga yang sebenarnya bagi Fast And Furious. Tapi, jika mengingat ucapan legendaris Dom dari sekuel-sekuel terdahulu: “Ride Or Die,” keluarga yang sebenarnya bukanlah mereka, bukanlah tim Dom. Keluarga utama dan sebenarnya dari Fast And Furious adalah mobil.

*Ditulis untuk mengenang Paul Walker, Ride Or Die!

No comments:

Post a Comment