Friday, April 3, 2015

Lima Album yang Akan Membuatmu Mimisan

Bosan nonton bokep yang gayanya begitu-begitu saja? Bosan juga nonton TV tapi tak nemu-nemu iklan Kozui? Otak kalian memang sudah teracuni pornografi dalam dosis tinggi, tak ada salahnya dicemari lagi dengan sajian ultra kekerasan—yang juga dalam dosis tinggi. Kali ini kekerasan bukan disuntikkan lewat visual seperti video Sampit VS Madura ataupun video 3gp tetanggamu yang kepalanya dilempari batu karena ketangkap nyuri kutang. Maaf juga, ini tak ada hubunganya dengan pentung dan FPI—yang fasis-fasis, minggir dulu—karena niat kami hanya menawarkan kekerasan lewat lubang telinga. Bersiaplah untuk ledakkan urat syaraf! Lima album dibawah ini berasa seperti rel kereta berkarat penuh kerikil yang dilewati kereta tua pukul 12 siang. Ngebut, panas, sesak, berisik dan hancur-hancuran. Saat mendengarkannya, jaga adikmu agar tidak bangun sebelum kamu ditempeleng ibumu. Album-album ini bisa buat ia muntah darah saat tersadar. Jangan sok pemberani juga, mungkin ini akan membuatmu mimisan sampai kejang-kejang sesak nafas. Jika kalian memang masih pemula, sediakan saja Bodrex, Neo Napasin atau Kiranti sebelum mulai mendengarkan. Untuk yang sudah terbiasa dengan hyperblast dan sejenisnya, ingat, jangan mendengarkannya lewat toa musola. Sepakat?

1. Deadsquad – Horror Vision
Jujur Horror Vision adalah album death metal pertama yang saya dengar—butuh waktu sekitar 7 kali untuk bisa menemukan dimana letak keasyikan mendengar death metal (7 kali!) sampai akhirnya saya jatuh cinta pada duo shredder bangsat Stevie Morley Item dan Coki Bollemeyer yang sialnya saat itu juga masih tergabung dalam Andra And The Backbone dan Netral. Hentakan double (triple maybe?) pedal, hyperblast dan segala macam akurasi death metal berhasil ditunjukkan oleh sang drummer Andyan Gorust, yang menurut saya sampai saat ini merupakan drummer death metal terbaik Indonesia—padahal gigs sungguh beda jauh dengan sirkus. Tak peduli orang sekitar saya ngamuk-ngamuk karena saya dengar brang-brenag-brang-breng musik chaos karena pada akhirnya Deadsquad-lah yang membimbing saya menuju musik-musik sejenis—saya telah melakukan dosa besar sebesar-besarnya. Tanpa mengesampingkan gaya vokal menggeram dari Daniel dan bass-line maut dari Bonny Sidharta, saya pribadi menyukai Deadsquad karena tiga hal: Stevie, Coki dan Andyan. Toh siapapun bisa jadi vokalis dan bassist Deadsquad. tapi tanpa ketiga tokoh ini Deadsquad mungkin hanya jadi band death metal biasa-biasa saja. Mari menuju lagu. Di “Dominasi Belati” lehermu serasa digorok oleh sesuatu yang tumpul sampai pisah kepala dan badan. Mengerikan. Daniel menggeram tak karuan tanpa ampun—saya ingat penonton Surabaya sempat menyoraki ‘Daniel jancok’ saat Deadsquad bermain di Colors Pub—dan memang geraman ini keterlaluan maksimal: menyumpah serapah tepat di liang pendengaran. “Manufaktur Replika Baptis”; track yang menancapkan Deadsquad sebagai death metal bintang lima dengan fasilitas mandi vodka dan jamuan bersama Izrail. Apa ada yang lebih jenius dibanding menghadirkan sound jazz tepat saat pit sedang panas-panasnya? Stevie berhasil memadu brutal dengan klasikal. Ini maut. Cenderung ndewo. Nguasai. Cover dari Sepultura, “Arise” tak kalah menakutkan. Saya sempat mendengar versi aslinya dan sepertinya saya harus minta maaf pada Max Cavalera karena versi Deadsquad di Horror Vision jauh lebih bar-bar. “Hiperbola Dogma Monotheis”: ya, death metal atas nama agama apapun adalah penyesatan, dan ini dosa. Tapi oke mari kita sebut personil satu-satu agar malaikat mudah mengabsennya saat di neraka: Stevie, Coki, Andyan, Daniel dan Bony. Itulah nama mereka: pasukan mati rasa neraka, kami resmi menjadi pengikutnya. 

2. Napalm Death – Scum
1989 tahun rilis album ini. Scum menjadi tonggak penting akan ereksi grindcore yang hadir di masa-masa setelahnya. Kekacauan paling penting kedua setelah perang nuklir adalah rilisnya Scum. Napalm Death sempat saya puja, sempat saya mainkan dalam studio, sempat saya pelajari makna liriknya. Hasilnya: dengan sedikit ceroboh saya mendapat hoodie metal pertama saya—yang walaupun bersablon Trivium tapi ya sudahlah karena stok hoodie Napalm Death di distro metal kecil di kota saya waktu itu sedang habis—dan saya resmi jadi pengikut grindcore dengan hoodie Trivium. Fuck ini aneh. Tapi tak mengapa karena setelah itu hari-hari saya padat dengan grindcore, tak hanya Scum tapi kebanyakan juga dari band-band raw tingkat upil sampai tingkat Gatotkaca: Hydroacid adalah salah satunya (ini adalah band grindcore legendaris dari kota saya, kalian harus tahu atau hentikan saja membacanya). Dan cerita saya dengan Scum yang harusnya tersambung dengan judul tulisan ini sudah tak dapat didiskusikan lagi. Saya selalu mendengar Scum lewat headphone tanpa berusaha mengingat judulnya dan folder brengsek itu kini lenyap entah kemana (mungkin Mbak saya menggantinya dengan Sherina). Tapi saya masih bisa mencatat efek apa yang terjadi sesaat setelah Scum diputar: kebingungan parah, hampa total, melamun, cenderung agak marah, ingin bakar rumah. Dan ya, inilah Scum Effect. Harap maklum deskripsi tentang Scum sedikit sekali: terlalu indah mengenang Scum sekali lagi.

3. Burgerkill – Beyond Coma And Despair
Album ini masuk dalam deretan album Indonesia terbaik sepanjang masa versi majalah musik ternama. Dan di blog nyampah ini Beyond Coma And Despair juga punya tempat tersendiri. Tak ada urutan, tak ada pembahasan komprehensif yang muluk-muluk dari segi musikalitas bak kritikus-kritikus musik itu. Saya hanya ingin mengucap beribu-beribu terima kasih pada Burgerkill dan mahakaryanya: album ini berhasil mengubah hidup saya, dari yang awalnya tak pernah tahu apa itu brang-breng-brang-breng musik metal dan akhirnya mencintai aliran ini sampai saat ini. Saya kenal Burgerkill semenjak SD dari cover kaset di kamar kakak saya. Penasaran, nama band-nya unik sekali dan setelah saya buka kotak kasetnya personilnya seram-seram, hanya tiga orang seingat saya—sisanya additional tak dicantumkan dalam foto. Saya pikir Burgerkill adalah sekumpulan pemuda biasa yang bermain rock, seperti Boomerang, Edane atau yang sejenis itu. Saya belum paham apa dan bagaimana sebenarnya Burgerkill. Hingga waktu SMP saya tak sengaja menemukan file dalam folder di komputer yang lagi-lagi milik kakak saya. “Tiga Titik Hitam”, dari album berkarat. Ini duet maut mereka bersama Fadly Padi waktu itu hanya saya dengar sekilas. Langsung saja saya tinggalkan karena memusingkan dan mending saya dengar yang lain saja yang lebih nge-beat. Tapi lagu itu dari judulnya saja sudah keren, saya dengar lagi dan saya kaget bukan kepalang karena di akhir lagu alm. Ivan Scumbag memuntahkan teriakkan beracun yang bisa membuatmu menggigil. Edan! Saya akhirnya betul-betul ngeh dimana arah musikalitas mereka tatkala saya memutar “Atur Aku” dan saya langsung hampir kesurupan. Anjing! Pertama kali mendengar metal seserius ini dan saya menikmatinya. Fuck! Dilanjut “Shadow Of Sorrow” saya makin menjadi dan tiada hari tanpa Burgerkill. Beyond Coma And Despair seketika langsung menjadi soundtrack masa SMP yang jancuk! Asuuuuuu! Tanpa mempedulikan ayah lagi tidur, nenek lagi nonton telenovela dan adik lagi ngaji saya selalu putar itu album sekencang-kencangnya. Cuk! Saya telah melakukan dosa besar karena di hari berikutnya saya membuat pengakuan bahwa saya Begundal, alias fans Burgerkill. “Laknat” adalah soundtrack sepulang sekolah, “Anjing Tanah” adalah backsound pengiring tidur. Mampus! Album ini benar-benar bisa membuatmu mimisan, muntah darah sekaligus kencing nanah! RIP IVAN SCUM!

4. Antichrist Demoncore – Antichrist Demoncore
Saya pernah mereview album ini di salah satu webzine. Internet murah membuat saya mengunduh-comot sembarangan saja dari mp3boo dan setelah menjalani sesi dengar: ratingnya tujuh dari sepuluh. Ini adalah album grindcore tergrindcore yang pertama kali saya dengar di bangku kuliah. Sebelumnya aktivitas berburu album grind memang sudah terhenti selepas lulus SMA. Teman-teman baru, lingkungan baru, gadis-gadis baru: biasalah saya juga jadi ikut-ikutan tren menye-menye (yang saya yakin bukan Kangen Band atau ST, swear!) dan memasukkan indie pop sebagai kegemaran baru. Tapi ACxDC membuat saya muda kembali. Sekitar lima tahun lebih muda. Diceritakan tiap saya baru bangun tidur saya hobi sekali memutar Pure Saturday. Dan gara-gara review ini saya memutuskan untuk mendengarkannya di pagi hari setelah semalam saya mengunduh albumnya. Wuih! Iki musik jancooooookkkkkkkk!!!!! Kasar, upbeat, ultra brutal, raw, chaos, bangsat, main tampar, sodomi masokis, penis sobek, gatal-gatal: uuuhhh! ACxDC-lah yang memegang kendali. Sebaiknya jangan didengar dulu jika rumahmu berada satu gang dengan kader PKS.

5. Armada – album yang paling ngehits
Kalau tak salah nama vokalisnya Rijal. Kini entah dimanakah ia berada—mungkin sudah habis dimakan rayap. Berburu lagu dari band ini gampang sekali, lebih gampang dari ngupil dengan jempol. Langsung saja klik YouTube dan kalian akan segera masuk dalam tahap dimana perasaan kalian akan sama persis dengan apa yang kalian rasakan seusai hisap rokok merek Aroma dan mencret-mencret. Dan sesungguhnya Rijal—dengan tampang dan lagu macam begini—lebih pantas membersihkan WC rumah kalian  daripada nyanyi sambil meratapi nasib teraniaya; sungguh sangat apes sekali nasibmu dek. Mendengar album ini dengan dosis harian yang tinggi bisa membuatmu mimisan bahkan sampai darahnya keluar lewat mata. Untuk itu, anggap saja album ini pil penenang sekaligus selingan bagi kalian yang sudah mulai gila mendengar album-album sebelumnya. Oh, ada yang masih belum ejakulasi dan ingin melanjutkan aksi lempar gendang telinga? Silahkan melanjutkan dengan mencari sepuasnya lagu dari band-band kisruh tingkat dewa yang bisa diunduh gratis di blog kawan saya absoluteevils.blogspot.com. Tak hanya band-band besar, bahkan band-band underground extreme tingkat RT dengan rekaman paling raw menggunakan tape pun ada disini. Tips: bagi yang ingin meningkatkan gairah sekaligus berjingkrakan chaos, unduhlah band aliran porngrind. Masokisme berlebihan tidak dianjurkan. Tapi untuk menganiaya Rijal, bolehlah!

Honorable Mention:
Karena keterbatasan saya hanya bisa menuliskan empat album pada list diatas (lima album jika kalian menganggap Armada sebagai band technical brutal death metal extravaganza). Untuk itu saya cantumkan beberapa album sebagai honorable mention dengan penjelasan sesingkat-singkatnya.
1. Bring Me The Horizon – Semua album kecuali Sempiternal
BMTH adalah Count Your Blessings, Suicide Season, There Is A Hell...Masa bodoh dengan album-album sesudahnya.
2. Siksa Kubur – Semua album dimulai dari Eye Cry
Ada masanya saya jadi begitu sarkastis-filosofis. Andre Tiranda adalah dewa bacot.
3. Suicide Silence – The Cleansing
Dzing-dzing-dzing! Hidup Mitch Lucker tak sia-sia.
4. Kompilasi Metalik Klinik I –VI
Tanpa Didik Nurhakim saya takkan pernah terdidik thrash metal odlschool. Btw itu nama kakak saya.
5. Dead Vertical – Infecting The World
Grindcore-cide still alive! Grindcore-cide still alive! Erraawwkk! Juan cuak!
6. Criminal Vagina - Total Anal Infections
Saya dikenalkan pornogrind oleh Doni, sahabat saya sewaktu SD yang kini hilang tanpa kabar. Ngaceng ternyata begitu brutal.
7. Hydroacid – Demolishit
Mince and roll: sebuah cabang dari aliran grindcore, dimana semakin rusuh musiknya, semakin banyak pahalanya. Drummernya bernama Mas Eko dan dia tetangga saya yang gondrong.
8. Comeback Kid – Semua album hingga Die Knowing
Hardcrot! Hardcore ngecrot!

Bodohnya saya juga terbatas dalam membuat honorable mention sekalipun, jadi sambil menghalau rasa kecewa dan mengusap air mata karena tulisan ini tak memiliki guna dan manfaat apapun bagi perkembangan sel otak, sila donlod saja album penolak impoten via:
- absoulteevils.blogspot.com
- metalheadindonesia.blogspot.com
- mp3boo.me/genre/deathmetal
- xnxx.com/amateur 
- brazzer.com/lesbian 
- tvonenews.co.id
- armadaband.com

Hatur nuhun!

Tulisan sampah nan kasar penuh umpatan 21 tahun keatas ini dimuat juga di Yeah Yeah Zine #2 yang terbengkalai dan sempat dicekal penerbitannya oleh MUI karena berbahaya bagi umat. Pucing pala barbel. 

No comments:

Post a Comment