Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Thursday, June 7, 2018

Cerita Dewasa Untuk Pemula: Sebuah Pengantar

Oleh Bili Sayuti*
Saya pernah punya pengalaman menjijikkan. Sebenarnya tidak etis diceritakan di sini, karena itu saya hanya akan melempar pertanyaan ini saja: pernahkah Anda-anda semua, terutama yang mengaku sebagai moralis tulen, suci tak ternoda, pendukung keras boikot pornographic, ke-gap orang tua anda saat melakukan hal-hal yang kurang senonoh?

Jika belum, sebaiknya Anda membaca cerita bersambung karya mahasiswa sableng saya ini. Atau kalau Anda memang punya pengalaman ke-gap serupa, Anda juga bisa menyimak dalam-dalam esensi cerita nir-faedah ini dan membandingkannya dengan hidup anda yang tidak kalah absurd. 

Ini untuk kesekian kalinya saya disuruh membuat kata pengantar untuk proyekan fiksi mahasiswa saya yang sangat kurang ajar ini. Bagaimana tidak? Cerita ini, lagi-lagi dibagikan gratis di sebuah platform digital, dan terang-terangan mendokumentasikan kisah amoral nan jujur soal bagaimana sensasi menonton bokep pertama, atau pengalaman nyabun pertama di toilet sekolah karena tidak betah melihat bu guru magang yang aduhai tampilannya.

Karena itu, Anda direkomendasikan untuk menggantung moral Anda di balik pintu, dan mulai membaca bacaan senggang yang mengingatkan pada kejayaan Enny Arrow dan Freddy S. ini. Gaya penulisan Tito dalam ceritanya kali ini amat ringan, tidak berbelit-belit melilit seperti karyanya terdahulu. Juga tidak terlalu frontal dari segi pemilihan bahasa, meskipun tema yang diangkat terang-terangan berputar pada blue film, onani, dan seks pertama. 

Sebagai pamungkas saya ingin bertanya satu hal lagi pada Anda: pernahkah Anda onani pakai balsem? Saran saya jangan. Teman saya pernah bermain yang begini ini, lalu tidak sadarkan diri selama dua setengah jam di ruang UKS. Panas.

Rekomendasi Pak Bili bisa dibaca gratis di sini.

*Pak Bili Sayuti, mantan dosen saya. Sekarang fokus menjadi slackers di rumahnya. Pasca menamatkan Breaking Bad rekomendasi saya, beliau kecanduan Netflix sampai hari ini.

Wednesday, January 10, 2018

Bagaimana Nuran Wibisono Mengutuk Saya Jadi Penulis Musik Amatiran


Saya baru saja masuk kantor, pukul setengah tiga sore. Shift malam sama brengseknya dengan shift pagi: macetnya, panasnya. Saya rehat sejenak sebelum menatap layar komputer untuk beberapa jam ke depan. Sesudah sebats saya mencomot Cola dari kulkas koperasi. Ya bisa bayar besok atau besoknya lagi. Terima kasih untuk Mbak Yani selalu mau terima kasbon. Saya bawa Cola itu dan bersiap ngendon depan komputer. Saya tidak cek handphone daritadi, saya masukkan saku. Tidak ingin terlalu terdistraksi dengan WhatsApp atau Instagram -- dunia maya bisa ditunda. Saya coba fokus di kerjaan, tapi entah kenapa masih belum konsen betul. Padahal sudah beberapa tegukan Cola mengisi lambung, juga cegukan-cegukan kebahagiaan yang hanya bisa dirasa pencandu soda tingkat akut. Karena masih terbayang busuknya jalanan tadi, saya tidak punya pilihan lagi selain mengeluarkan ponsel. Hidupkan data, dan seperti yang sehari-hari kamu alami: jutaan pesan -- kalau saya boleh sedikit hiperbolis -- beruntun masuk dengan derasnya. WhatsApp selalu begitu. Andai saja chat grup bisa sedikit lebih bermakna. Lalu dari beberapa grup yang saya ikuti, beberapa yang paling berisik adalah grup keluarga. Grup keluarga besar saya ada dua: satu keluarga besar ibuk dan satunya ibuk juga, cuman beda nasab atau garis keturunan. Jadi, beda eyang lah istilahnya. Dari grup-grup ini saya tahu -- kamu pun juga pasti tahu -- kalau bahaya hoax yang dikoar-koarkan orang-orang ternyata memang ada. Hoax yang benar-benar militan.  Disebar sama orang yang kamu kenal dekat. Kamu tidak berani untuk menegur, apalagi memberi tahu kebenaran. Bahkan, kapasitasmu sebagai buruh berita di media -- yang terverifikasi dewan pers -- tidak serta-merta bikin nyalimu memuncak untuk bilang: budhe, pakdhe, itu kabar hoax. Kamu lalu hanya diam saja -- bisanya memang begitu demi kesopanan -- dan melihat chat grup lain, yang kadang sama omong kosongnya. Menemukan fitur bisu di grup WhatsApp bisa jadi salah satu penyelamat hidup yang mungkin memang dari sononya sudah sumpek. Saya lalu merasa muak dan mual sendiri, kembali menaruh ponsel di meja. Saat akan mengetik, ponsel saya berbunyi. Ah, mungkin dari pacar. Penasaran sedikit, saya lirik sebentar. Saat melirik itulah mau tidak mau saya langsung fokus 100% pada ponsel, dan sadar tidak sadar mengenyahkan pekerjaan barang sebentar. Tertulis jelas di notifikasi: chat dari Mas Nuran Wibisono.

Kamu tidak salah baca. Ya, Nuran si jurnalis rock and roll -- atau hair metal -- super brengsek itu. Penulis musik ugal-ugalan kebanggaan Jember. Calon duta Guns N' Roses kawasan Asia Tenggara. Propagandis hair metal nomor wahid yang membuat band macam GRIBS, Sangkakala, dan gerombolan hair metal lokal lainnya, tetap percaya pada celana ketat dan rambut gondrong; gerombolan riang gembira yang merasa survive, karena karyanya selalu dicintai seorang Nuran -- penulis dengan kepercayaan diri tinggi pada apa yang disukainya. Ya, benar sekali. Nuran adalah penulis musik idola saya.

Sesudah bertanya kabar kabari dan lain sebagainya, dan saya balas dengan rasa tidak percaya dan menebak-nebak arah tujuannya, akhirnya Nuran bilang to the point.

"Kamu mau nggak ngisi bedah buku baruku di c2o?" tanyanya.

Tenggorokan saya serasa ingin minum air perasan jeruk lemon.

"Moderatornya Ayos Purwoaji." Nuran menambahkan.

Saya langsung mengambil air mineral di pantry. Lupa kalau di sebelah ada Cola.


***
Nuran Wibisono adalah penulis blog yang sudah saya ikuti sejak bandel-bandelnya masa SMA. Kalau tidak ada tulisan beliau, saya tidak akan bisa ikut menulis juga di blog kecil ini. Saya kenal dia waktu tidak sengaja nyasar di portal berita antah-berantah, pada tulisan -- yang kalau tidak salah -- berjudul 'Menulis Musik'. Pembukanya ciamik, mencomot daftar lima pekerjaan impian Rob, tokoh di film -- dan novel -- High Fidelity. Salah satu mimpi Rob: jadi musisi. Selanjutnya: jadi wartawan musik di New Musical Express atau NME. Nuran lalu menggiring saya ke dunia yang belum pernah saya tahu -- mungkin tahu tapi masih kurang dalam: dunia menulis musik. Ini orang keren, pikir saya. Meskipun tulisannya agak sok tahu  (mungkin karena waktu itu saya belum tahu apa-apa yang diketahui Nuran). Dari situlah saya paham sebuah profesi yang benar-benar menyenangkan bagi anak band gagal seperti saya: jadi penulis musik atau wartawan musik. Kurang ajar. Tulisan ini secara langsung -- dan tidak langsung -- membuka cakrawala saya yang masih sangat terbatas. Tahu-tahu saya nyasar di blog pribadi Nuran, dan hampir sudah membaca semua tulisannya (saya bahkan pernah baca kaburnya dia ke Gili Trawangan cuman gara-gara putus cinta). Yang saya tahu kemudian, dari Nuran-lah pintu gerbang menuju dunia tulis-menulis musik terbuka. Blog Nuran berisi banyak link ke blog lain. Semuanya seru dan hampir semuanya menulis tentang musik. Sampai saya nyasar di sebuah situs humaniora yang masih hangat: JakartaBeat. Di situs ini, Nuran juga ikut berkontribusi. Selanjutnya, perlahan-lahan kenal dengan tulisan penulis lain seperti Taufiq Rahman, dan Phillips Vermonte. Saya lupa nama penulis lainnya di Jakbeat, tapi tiga orang itulah yang selalu saya baca tulisannya dari awal sampai akhir, dari naskah paling lapuk sampai paling baru. Esai Taufiq Rahman bahkan sudah saya jadikan bahan skrpsi. 

Dari aktivitasnya di Jakbeat, Nuran kemudian aktif menulis di Tirto.Id -- sebuah situs berita yang menurut saya jadi yang pertama kali mempopolerkan infografis di Indonesia. Aura bengalnya masih sama; tulisan Nuran renyah dan mengenyangkan. Tapi tidak terlalu berat. Seperti menyantap Paket Panas 1 di McDonalds. Salah satu tulisannya tentang Nike Ardila, benar-benar mengambil sudut pandang baru. Bukan menyoroti sosok Nike sebagai legenda, tapi efek yang ditimbulkan sesudah kematiannya. Fokus pada fans sejati Nike, yang setiap tahun mengadakan ziarah. Kata Nuran: "Ini sudah seperti sebuah agama, dengan ritual wajibnya." Musik -- seperti yang Nuran dan saya yakini -- memang bisa menimbulkan efek sosial yang luar biasa. Kalau kata Taufiq Rahman: "Menulis musik adalah menulis tentang manusia", maka Nuran sudah berhasil meramu sisi humanis dari tulisan bertema musik.

Sebelum menulis di media, karya-karya Nuran di masa bengal (mungkin waktu masih gondrong) sangat-sangat menyentuh hati nurani. Nuran tidak memposisikan diri sebagai begundal tengik seperti Rio Tantomo -- ini 'guru' saya yang lain -- tapi cenderung apa adanya. Pernahkah kamu kepikiran untuk membuat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Demi Satu"? Hanya Nuran yang segila itu. Lalu, kekonyolan lain adalah saat semua penulis musik berlomba menulis album terbaik di tahun ini -- seperti ritual media musik pada umumnya -- Nuran malah menjadi 'punk' dan menolak sama. Ia dengan bangga mempersembahkan daftar album terburuk tahun ini, dan siap dimaki-maki semua orang: terutama Ungu Cliquers dan fangirl Sigit Purnomo alias Pasha. Jelas ini tidak pakai teknik-teknikan: nulis ya nulis saja. Super subjektif. Sengak dan songong, tapi sekaligus cerdas. Apa yang kamu pikirkan saat mendengar band bernama 'Asbak Band'? Hanya Nuran yang berani menyarankan band itu untuk ganti nama lebih dulu, sebelum rilis album baru. Saya tidak mengesampingkan karya Nuran yang lain di luar tulisan musik (food writernya tentang warung makan juga keterlaluan biadab bagusnya, apalagi kisah tentang 'on the road' versi Nuran yang doyan backpacker). Tapi karena ini sedang fokus pada tulisan musik, maka saya hanya akan berfokus pada Nuran dan karya tulisan musiknya saja.

"Gimana? Mau nggak?" Nuran bertanya lagi. Itu sesudah saya mencoba ruwet, melempar kesana kemari dengan alasan sungkan, kurang pede, kurang kompeten dan lain sebagainya. Saya lalu menelfon Rona Cendera, editor senior Ronascent Webzine.

"Wancuk! Terima aja! Kesempatan!" katanya. Entah kenapa harus berteriak-teriak di telfon. Saya lalu mencoba mengopernya pada Mas Rona.

"Sek sek" ujarnya. "Moderatornya siapa?"

"Ayos. Ayos Purwoaji." 

"Cok! Emoh sungkan! Orang besar itu. Awakmu ae!" 

Bangsat. Saya sebenarnya tidak kenal Ayos, hanya suka mendengar namanya saja. Cukup disegani di ranah seni rupa, dan sempat aktif di dunia kepenulisan. Sebelumnya saya malah sempat mampir ke acara Biennale Jatim, disitu Ayos berperan sebagai kurator. Melihat tindak-tindak Ayos yang punya nama besar, dan Nuran yang hampir setara dengan Rudolf Dethu di kancah propagandis hair metal nusantara, saya jadi agak segan. Tapi ini adalah kesempatan bagus: lagipula saya belum beli bukunya -- masih menabung untuk beli yang hardcover seharga 150 ribuan. Akhirnya saya menyanggupi. Pikiran saya waktu itu: kapan lagi bisa sedekat ini dengan idola. Plus kemungkinan bisa dapat buku gratisan. Saya pikir bukunya lumayan worthed juga untuk dimiliki. Akhirnya saya mengiyakan tawaran Nuran. Saya yang belum baca bukunya, sedikit malu-malu kucing ingin 'membacanya' dulu. Tapi Nuran sepertinya membaca pikiran saya.

"Minta alamatnya. Nanti aku kirimin bukunya." 

Oh yes. Alamak di tanggal hampir mendekati tua, dapat kiriman buku gratis. Tapi dengan bodohnya sesudah mengiyakan saya kepikiran hal lain. Otak saya langsung kosong. Brengsek, mau ngobrolin apa nantinya di bedah buku. Cola di meja saya tandaskan. Luar biasa, saya belum mengerti harus bicara apa tapi sudah mengiyakan saja. 

Kebuntuan ini terjadi sampai jelang hari H tur buku Nuran di Surabaya. Karena banyak pekerjaan, saya sampai hampir lupa kalau ada bedah buku hari Minggu. Sampai di suatu sore, dengan sepatu saya yang mamel karena hujan di jalan, saya masuk ruangan kantor dengan gontainya. Mbak Maria, salah satu penyiar yang sedang melalukan hobi ceriwisnya di dekat meja makan, menyapa saya sambil sedikit berteriak.

"Tit, ada kiriman buat kamu. Kutaruh mejamu, ya."

Dalam hati saya langsung berdenyut 'deg'. Asu. Saya lupa kalau hari Minggu ada bedah buku, dan ini pasti kiriman dari Nuran. Ternyata benar. Tapi dasar otak saya memang sedungu itu, sesudah saya buka paket saya malah keasyikan membaca dari awal bukunya. Membaca tanpa sadar saja tahu-tahu sudah hampir separuh. Kemudian ingat lagi. Asu. Bedah buku Minggu. Lalu sampai di kos saya baca lagi sampai ketiduran, dan lupa lagi esok harinya. Buku saya bawa ke kantor, saya tuntaskan sampai habis. Mau tidak mau saya harus ingat, karena besok acara bedah buku itu sudah dijadwalkan. Saya sudah ditawari Rona untuk cangkruk, membahas materi yang setidaknya bisa saya sampaikan. Tapi Rona hampir belum pernah baca tulisan Nuran, jadi mungkin bisa sharing tentang geliat musik di Surabaya saja -- topik obrolan favorit Rona selain meniduri salah satu personil The Corrs. Alhasil, saya berpikir tidak muluk-muluk: saya akan hadir sebagai penggemar, yang mengapresiasi Nuran, itu saja. Dan inilah jeleknya saya: untuk acara dari penulis sebesar Master Nuran, saya tidak merangkai kata-kata apapun: cul-culan. 

"Wis gampang. Lihat besok saja. Nanti aku bantu kalau ada hal yang bikin awakmu kesulitan." ujar Rona.

***

Hari Minggunya, saya harus ke kantor dulu mengisi ruang-ruang berita untuk dibacakan awak gatekeeper. Bedah buku dimulai pukul tujuh, tapi pukul enam kerjaan masih belum kelar. Nuran sudah saya kontak, katanya berangkat ke c2o pukul enam, bersama Ayos. Setelah selesai semuanya, saya sudah siap-siap menjunjung tas, ndilalah di depan pintu ada Mas Iman Dwihartanto -- penyiar legendaris Kelana Kota Suara Surabaya, sekaligus Manager Newsroom. Saya agak sedikit sungkan kalau langsung pamit. Akhirnya saya duduk-duduk dulu dekat Mas Iman. Nah, di sini sepertinya Mas Iman bisa membaca pikiran saya, dan langsung memberi saya sedikit pelajaran tentang 'public speaking'. Padahal beliau tidak tahu sebentar lagi saya akan mengobrol ria di bedah bukunya Nuran.

"Keep smile face. Jangan cemberut. Usahakan kamu 'senyum' waktu ngobrol. Itu penting. Mempengaruhi pembawaanmu. Nanti kapan-kapan aku ajari teknik announcing lagi." Mas Iman melihat arloji. "Eh, apa sekarang saja belajarnya di ruang rekaman?" tanyanya. 

Saya yang memang sedang buru-buru menjawab seadanya: "Next time deh, mas. Buru-buru nih, ada acara."

"Oh, ok, ok. Santai. Mau berangkat sekarang? Hati-hati, loh ya. Lagi hari libur."

Saya langsung bergerak cepat ke c2o. Jaraknya hanya seperlemparan batu dari kantor. Tinggal turun sedikit, lewat beberapa lampu merah, lalu sampai. 

Sampai di sana, Mbak Yuli dan Charlie--atau siapa nama kucing itu--menyambut saya. 

"Mas Nuran lagi di dalem, silahkan silahkan!" ujar Mbak Yuli. Saya tidak sempat menengok buku-buku baru. Lalu sesudah mengasap Black Menthol sebentar di luar (dengan tanpa terasa sudah habis tiga batang di asbak), Nuran lalu WhatsApp saya

"Masuk aja. Ada temen-temen juga nih!" 

Saya lalu memasuki mini bar di c2o. Ada bercangkir-cangkir kopi hitam di meja, dan puntung rokok yang berceceran. Kharis Junandharu dari Silampukau juga ada di sana, dengan kaus merah lengan panjang yang biasa dipakai pas manggung. Ada juga basis Hi-Mom! yang bergaya cukup flamboyan: menebalkan bulu cambang dan pakai topi ala anak kampus kesenian. Ayos Purwoaji, si moderator kemudian sedikit ngobrol-ngobrol dengan saya. 

"Aku belum mbaca bukunya. Nanti tak lempar-lempar saja ya," ujarnya.

Saya lalu lanjut bercakap dengan Nuran. Untuk pertama kalinya kami berjumpa. Saya melihat Nuran sebagai sosok yang lumayan tambun, tapi gagah. Mungkin berbeda dengan foto-foto yang dipamerkan di blognya saat dia sedang travelling beberapa tahun silam. Nuran sudah punya bini. Jadi mungkin agak terlihat seperti bapak-bapak. Pakai celana 3/4, kamu tidak akan sadar kalau dia adalah penulis jempolan. Tapi saya ragu apakah benar dia propagandis hair metal nomor satu Indonesia, karena dia pakai kaus Seringai. Haha. 

Lalu satu-persatu pengunjung mulai datang. Saya, Nuran dan Ayos berada di depan. Hanya gelar tikar seadanya, dan itu lebih bisa bikin suasana jadi lebih intim dan hangat. Ada sekitar 5-6 orang yang hadir. Dan terus berdatangan kira-kira sampai belasan orang.

Nuran lalu sedikit bercerita tentang bukunya. Hanya gambaran kecil saja. Dulu Nuran sangat doyan dengar Guns N' Roses, lalu bersama Ayos, membuat blog pribadi. Saya sempat membuka blog bernama 'muntah berak'  milik Nuran. Isinya sangat raw, personal, ngehek, dan banyak berisi indahnya kenakalan masa muda. Selain tentang musik, blognya juga berisi sumpah serapah, dan perjalanan cintanya bersama beberapa perempuan (khusus yang ini saya khawatir akan terlalu paham kehidupan pribadi Nuran karena ia selalu tulis apa saja di blog).

Kehidupannya berubah sesudah Phillips Vermonte, founder JakartaBeat, mengontak dirinya untuk menulis di website JakBeat yang baru seumur jagung. Ini dibahas tuntas di Kata Pengantar yang ditulis Mas Phillips. Tulisan Nuran begitu 'kotor'. Pemuda brengsek yang tidak sungkan buat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Per Satu" di blognya ini, membuat tulisan brengsek sejenis di JakBeat. Tulisan di awal-awal karir Nuran di JakBeat sih masih bisa dibilang 'lembut' dan 'elegan'--membahas John Mayer. Tapi lama-kelamaan keluar 'aslinya'. Selama dua tahun Nuran membuat tulisan "5 Album Terjelek 2009" dan "5 Album Terbaik 2010". Ini saat media musik lain seperti Rolling Stone sedang asyik menuliskan album terbaik sepanjang tahun. Dasar bajingan, tulisan ini sungguh tidak punya bobot objektivitas. Murni subjektivitas seenak udel Nuran, dan seenak jembutnya mengata-ngatai album dari Asbak Band, Ungu, The Harry Potters, The Bagindaz, dan band lain yang sama menye-nya. 


Saya yang baru berkenalan dengan Rolling Stone kisaran tahun 2011, jadi agak terganggu. Pikir saya, jurnalis atau penulis musik harus muluk-muluk. Harus pintar seperti Hasief Ardiasyah atau Wening Gitomartoyo. Pintar di sini dalam artian terkesan intelek, cenderung snob, dan punya milyaran referensi musik keren seluruh planet. Tapi sesudah baca Nuran di JakBeat, saya pikir penulis musik bisa ngehek juga. Bisa seenaknya juga. Tulisan-tulisan Nuran-lah yang kemudian memicu saya untuk mulai menulis juga. Patokan saya turun drastis. Nuran begitu seenaknya dan peduli setan: semua karya jelek ya jelek, dan dia tidak sungkan untuk menghina (saya bahagia dia mencaci-maki Ungu). Dan itu lebih terasa fun, menyenangkan. Memang kadang Nuran menghasilkan tulisan yang lebih berbobot, misal saat menulis tentang The Doors dan 'hair metal'. Tapi nuansanya sama: ringan dan asyik. Tidak membuat kepala terlalu banyak berpikir, malah ingin segera mencari band atau lagu apa yang menurut Nuran bagus. Bukankah begitu tujuan menulis musik? Saya lalu menyadari satu hal: tulisan Nuran menyenangkan karena dia hanya menulis tentang band-band yang dicintainya. Tulisan musik yang hidup erat kaitannya dengan selera. Dan saya setuju itu. Alhasil, tulisan Nuran di blog-nya atau JakBeat, jadi salah satu pemicu saya untuk membuat zine perdana.


***
Zine perdana saya adalah kumpulan tulisan anak muda sok pretensius yang sok mahir bermain alat musik dan sok idealis ingin bikin band yang super-duper hipster dan sok menolak selera kampungan macam screamo, tapi akhirnya gagal dan membusuk bersama dua edisi Rolling Stone dan lembaran-lembaran zine milik abang saya yang diperam sejak tahun 2000-an. Zine yang berani-beraninya dan dengan pedenya menjuluki diri sebagai digital rock zine (karena diproduksi pdf), dan total terpengaruh zinemaker asal Bandung Jiwa Singa (produsen Nobody Zine), tapi dengan gaya tulisan yang alamak sok cerdas dan berlipat pedenya. Patokan saya: Nuran Wibisono. Zine bernama Throwzine ini berhasil mewawancarai band lokal, dan seakan-akan dalam pandangan saya sudah jadi zine rock professional yang bisa membuat goyah Jann Wenner. Bangsat, saya terkikik saat mengingat ini. Atas jasa-jasa Nuran-lah saya berani menulis di media sendiri, dan akhirnya memberanikan diri mengirim naskah ke JakartaBeat. Saya kelas tiga SMA waktu itu, dan tiga tulisan tentang Green Day yang saya tulis, yang saya anggap punya kelas seperti Rob Sheffield atau David Fricke di rubrik review Rolling Stone, yang saya pikir akan mengubah dunia, semesta, dan jadi sejarah di jurnalisme musik, ternyata hanyalah seonggok sampah yang mungkin tidak dilirik oleh Phillips dan Taufiq, editor JakartaBeat. Tulisan yang kalau saya baca ulang sekarang, akan terlihat memalukan dan tolol, sok elitis dan sok punya selera musik bagus. Brengsek benar. Saya sudah melangkah terlalu jauh dari apa yang diterapkan Nuran: kesederhanaan dan ringan. Tiga tulisan tadi kemudian masuk di zine saya yang kedua, yang entah apa namanya (saya memutuskan tidak pakai nama Throwzine lagi), tapi tidak lolos kurasi JakBeat membuat saya sedikit sedih dan hampir patah arang. Apa kurangnya? Lalu saya memutuskan berhenti menulis sejenak, dan mengamati gaya-gaya penulisan tabib-tabib jurnalisme rock. Tidak ada yang lain lagi: blog Nuran Wibisono jadi tujuan akhir.

Sebelumnya, saya mengamati tulisan Taufiq Rahman yang sangat-sangat bagus, dan saya langsung menyerah. Saya tidak punya kecerdasan kritis macam Taufiq untuk hasilkan tulisan bermutu seperti itu. Otak saya masih sangat kurang. Lalu Ady Renaldi (di saat dia menulis tentang hubungan album Taring Seringai dan dihubungkannya dengan logical phallacy atau apalah), saya malah tidak nyambung. Saya ingin belajar dari pengisi kolom JakBeat tapi mengapa tidak ada yang bisa saya cerna dengan baik. Apalagi Arman Dhani. Saya menyerah dan akhirnya membuka lagi tulisan mahaguru utama saya: arsip tulisan Nuran Wibisono di JakBeat dan blognya saya babat habis--semua tulisan, tanpa kecuali, termasuk puisi lucu-lucuannya. Tanpa disangka, ada satu tulisan yang menginformasikan tentang pemesanan buku. Di situ tertulis nomor rekening Nuran, dan nomor ponselnya.

Aunnurahman Wibisono - 08xxxxxxxxx

Fuck! Tanpa tunggu esok pagi saya langsung SMS si mahaguru. Basa-basi dan akhirnya mengakui: tulisanku nggak diterimo JakBeat, mas. Lalu Nuran menjawab singkat: kenapa kamu kok pengen nulis di Jakarta Beat?

Saya tidak tahu. Betul-betul tidak tahu. Nihilisme tulen. Saya merasa hanya menulis karena ikut-ikutan review keren Rolling Stone saja. Padahal saya tahu, jadi keren tidak bisa hanya dengan ikut-ikutan. Sejak hari itu saya mulai berpikir kalau tulisan musik harus punya nyawa. Nuran bisa menulis 'hair metal lebih baik dari grunge' karena dia mungkin kesal atas kehadiran Nirvana yang menggeser dominasi Guns N' Roses. Taufiq mungkin kesal pada Phillips yang menganggap Nevermind The Bollocks sebagai album punk terbaik, bukan Marquee Moon dari Television. Semua penulis punya kekesalannya masing-masing.

Saya akhirnya merasa tulisan saya kurang satu hal yang amat sangat penting: kegelisahan. Ini membuat tulisan saya kering, kosong, hanya berusaha meng-keren-kerenkan kata, menyamakan rima, mengutip diksi-diksi keren as fuck untuk gambarkan jenis musik. Tidak ada isinya. Hampa tanpa gagasan.


***



Nuran duduk di sebelah saya. Di sampingnya ada Ayos Purwoaji. Sementara di depan kami ada beberapa orang yang punya minat sama: menulis musik. Salah satunya Kharis Junandharu dari Silampukau. Ini hari Minggu di akhir bulan, di luar mendung. Kopi dan snack disediakan Mbak Yuli penjaga C2o, untuk disambi sembari diskusi. Ini seperti hal yang sureal: kamu duduk di sebelah penulis yang membuatmu ingin menulis musik, dan saat ini kamu dan dia menjadi pembicara untuk diskusi menulis musik. Saya mewakili Ronascent--webzine musik indie lokal tempat saya menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir, sementara Nuran membawa buku terbarunya: 'Nice Boys Don't Write Rock N' Roll'. Saya didapuk untuk menanggapi tulisan Nuran, dan sedikit berbagi tentang jurnalisme musik. Saya tidak tahu apa-apa, masih bodoh. Tidak punya draft atau bahan apapun untuk dibawakan. Saya tidak tahu teori menulis musik yang baik dan benar. Selama ini di Ronascent, saya selalu menulis untuk senang-senang: tidak bertendensi apapun. Saya menulis suka-suka belaka. Tanpa tuntutan profesi. Inilah yang jadi bahan bakar saya untuk selalu menghubungkan naskah musik dengan kegelisahan. Ini nikmat. Saya suka mendengarkan musik, dan saya kadang muak dengan dunia. Saya menulis kegelisahan itu, dan hubungannya dengan musik. Saya malas dengar band-band sok pretensius dan jelek seperti Foster The People, dan saya menuliskan semuanya di saat semua orang menganggapnya sebagai jenius tiada tara yang berhasil bla-bla-bla fuckin' psychedelic! Saya bisa bicara bersama Nuran, justru karena membaca tulisan-tulisan Nuran.

Saya sendiri agak lupa sudah mengobrolkan apa saja, pun juga petuah-petuah Nuran yang malam itu lebih banyak guyonnya. Pembahasan agak melebar ke arah bisnis musik dan era musik digital tapi bisa diantisipasi dengan baik oleh moderator. Satu yang saya ingat: ini adalah malam yang menyenangkan. Sesudah satu jam lebih kami membahas jurnalisme musik dan hal-hal di sekitarnya, Ayos menyudahi diskusi dan mengadakan sesi tanda tangan. 

"Ke Biennale nggak? Ayok bareng, sama aku, Nuran juga ikut." ujar Ayos. Dia sebenarnya jadi kurator Biennale Jatim tahun ini. Di malam penutupan yang seharusnya dia wajib hadir, sahabatnya, Nuran Wibisono malah mendaulatnya jadi moderator diskusi. Pilihan yang mudah karena tentu saja Ayos memilih acara Nuran. Masih pukul sembilan. Penutupan Biennale mungkin tersisan dua jam lagi. Saya dan awak Ronascent segera meluncur ke Gedung Prabangkara, menyusul Ayos dan Nuran.

***

Saya langsung menghampiri Nuran yang duduk di joglo depan Prabangkara. Ayos hilang entah ke mana, menyusul si Kharis yang berlalu-lalang seenaknya saja tanpa seorang pun tahu dia dedengkot Silampukau. Musik DJ mengalun kencang dan brengsek. Apa-apaan. Kenapa di perayaan penutupan pameran seni ada musik EDM Party kencang bertajuk perform art? Saya tidak mengerti dan sekarang saya hanya ingin mengobrol lagi dengan Nuran. Sambil teriak-teriak karena saking kencangnya suara, saya bertanya beberapa hal. Nuran juga sambil teriak-teriak dan kadang mendekatkan mulutnya ke kuping saya, menjelaskan tentang suatu hal.

"Tirto buka lowongan reporter. Coba aja kali aja minat." Ujar Nuran. 

Saya berpikir keras, keluarkan rokok putih dan membakarnya. Saya belum tahu hidup mau dibawa kemana, tapi untuk ke Jakarta, saya rasa belum saatnya. Kami lalu membahas banyak hal lagi, diselingi musik disko yang begitu brengseknya. Bisa apa saya. Lalu datanglah pejabat-pejabat Ronascent: Rona Cendera - editor, dan Ian Darmawan, public relations (ya sebut begitulah biar kelihatan keren dikit). Saat keduanya datang, Nuran langsung menghilang, entah mencari Ayos atau Kharis. Saya dan kru Ronascent langsung menuju kantin di pojokan untuk pesan satu gelas kopi dingin pembunuh kantuk. Saat sedang membicarakan hal-hal remeh-temeh Nuran datang dengan muka kusut: Ayos tidak ketemu. Dia langsung duduk di sebelah saya, dan memesan Indomie. 

"Oh ini timnya Ronascent?" tanya Nuran. Kami sebagai penulis musik lokal merasa seperti ditanya oleh jurnalis hair metal legendaris. Sambil diselingi kopi, udud, dan gorengan, kami mulai membahas apa saja tentang media musik. Rona dan Ian juga berkali-kali bertanya, mumpung ada pakarnya.

"Sekarang susah. Media cetak sudah gulung tikar semua. Kemarin, Trax, HAI..." kata Nuran.

"Sayang banget, ya Mas. Trax lumayan keren sih isinya menurutku." ujar saya menanggapi.

"Iya, penyeimbang Rolling Stone lah ya."

"Haha, itu Trax langsung tutup habisnya Rio keluar ya."

"Rio? Oh, Rio Tantomo? Kon kenal?"

"Sempet beberapa kali ngobrol. Haha brengsek sih dia. Tapi bagus."

"Aku ndak kenal sih, cuman tau aja. Gonzo dia."

"Iya, nulis Burgerkill pakai ganja pas tur, eh Ebenz dkk protes. Pantes keluar tuh si Rio." saya tertawa.

"Lahyo, jarene rock and roll, metal, ditulis ora wani." Nuran juga tertawa sambil mengecap Indomie-nya.

Kami lalu membahas industri media lagi, yang makin hari makin ditinggalkan. Semua orang bisa menulis di akunnya masing-masing. Semua orang bisa bikin media sendiri. Di saat seperti itu, kami--yang semuanya jadi buruh media dan budak naskah--harus siap seandainya radio, koran, atau media apapun tempat kami bekerja mendadak tutup. Kelihatannya tidak mungkin, tapi apa salahnya siap-siap. Sejumput rokok kami bakar--kecuali Nuran--untuk membunuh perasaan ini. Kami sudah terjerumus dalam media, wartawan, jurnalis: dan seperti kata Sudjiwo Tejo; sekali kamu jadi jurnalis, kamu tidak bisa meninggalkannya, seumur hidup. Jurnalis itu candu.

"Wis rek, mbayare iki ae." ujar Nuran yang berdiri dan serahkan sejumlah uang pada penjualnya. 

"Arek-arek kabeh, totale pinten?"

Kami hanya cengar-cengir. Dalam hati sedikit menggumam: ini penulis hair metal paling membumi dan murah hati yang ada.

Thanks, Mas Nuran Wibisono. See you next time!

Monday, January 1, 2018

Semenit Sebelum 30: Sebuah Pengantar

Oleh: Bili Sayuti*



Malam belum betul-betul dingin saat pesan pendek--atau lebih cepatnya WhatsApp--dari mahasiswa saya membuat saya sedikit kaget dan mendelik. Tito Hilmawan, mahasiswa yang pernah saya ajar setengah semester di Fakultas Bahasa dan Seni Unesa, mengaku sudah menulis novel. Saya mendelik bukan dalam artian novel itu begitu monumental melampaui Tere Liye, wong saya juga belum baca. Juga bukan dalam artian novel itu jeleknya minta ampun melampaui Tere Liye, wong saya--sudah saya bilang sebelumnya--belum mbaca sama sekali. Jadi kenapa saya mendelik kaget mungkin karena saya belum update Grab Taxi di Galaxy Note baru saya--iya baru beli. Jadi tiba-tiba ada notifikasi kalau aplikasi butuh pembaruan. Atau mungkin karena--kembali ke awal--Tito Hilmawan, mahasiswa saya mengabari saya dengan bahasa yang lincah dan tergesa-gesa, khas anak milenial yang doyan dianggap gesit, kalau dia bikin novel dengan tokoh utama seperti nama saya.

Sebagai dosen pengampu mata kuliah penulisan kreatif antara tahun Januari sampai April 2016, saya sudah menyadari potensi seorang Tito. Bukan potensi dalam hal penciptaan karya yang indah sekaligus busuk luar biasa seperti Tere Liye (saya mungkin bisa dipidana atas statement barusan), bukan juga dalam hal apapun tentang sastra super idiot, idiot, jenius, dan super jenius (empat tingkatan sastra menurut saya, ada dalam buku Sastra Mukjizatku yang saya tulis kisaran tahun 2001 silam tapi tidak laku karena dianggap buku rohani), tapi Tito berpotensi membuat hal-hal yang bebal.

Tito ini sempat menolak mendalami sastra, begitu pengakuannya saat mengajak ngopi saya di sore yang cerah-secerah-cerahnya, di Warkop Klutik Lidah Wetan. Begitu kurang ajarnya mahasiswa bau kencur mengajak seorang dosen untuk ngopi di warkop pinggir jalan. Tito yang awalnya ingin menggali ilmu dan pengalaman saya, justru seperti keasyikan membagi kisah hidupnya yang muram dan tidak baik-baik amat. Saya berusaha tidak peduli kisahnya tentang perempuan karena hanya berisi hal-hal receh, atau mungkin di beberapa nama agak terlalu berat dan terlalu privasi untuk disebar.

Tito mengaku sudah ngebet jadi penulis sejak dia mulai membaca Rolling Stone. Saya sedikit heran kenapa dan bagaimana seorang manusia bisa begitu biadabnya sampai yang menginspirasinya menulis bukanlah Shakespeare atau Hemingway, tapi malah David Fricke atau Lester Bangs. Saya tidak mengerti pola pikir seperti itu sampai akhirnya saya tahu, saat Tito semester empat, sewaktu saya belum dipercaya Kajur untuk memegang mata kuliah dan hanya jadi asisten dosen yang makan gaji buta: Tito ini bodohnya minta ampun soal sastra. Ini makin bikin saya geleng-geleng kepala. Kelakuan mahasiswa macam apa yang ingin jadi penulis fiksi tapi belum baca karya-karya hebat dunia. 

Tito kemudian memberi saya beberapa kertas bekas (yang sungguh bobrok dan tidak bisa digambarkan keadannya), lusuh dan fotokopian. Saya ingat betul kertas itu ketinggalan di Klutik karena memang saya tidak tahu kalau itu nantinya bisa berguna, dan memang tidak ada gunanya. Tito - si pemberi kertas bekas cebok, menyatakan kalau kertas itu berisi karyanya. Dia menyebutnya sebagai zine (kalau saya tidak saya tulis). Dia seperti melawan sastra itu sendiri tapi tidak keren, cenderung goblok dan saya memandangnya hanya pemalas tukang tidur saja. Sesudah mengambil kretek saya dari meja, saya hanya mengambil kertas karyanya dan membolak-baliknya, terlalu malas berbasa-basi sore itu, apalagi cangkir kopi gelas potel itu tidak kunjung dingin. Asu. Saya lalu memberinya beberapa wejangan, lalu menyamakan persepsi tentang apa sebenarnya yang diinginkan bocah tengil ini. Dia mengajak saya berdikusi dan mengumbar cita-citanya jadi penulis fiksi, tapi karyanya hanya bungkus gorengan semacam ini? Saya bisa saja mengusap tangan sisa minyak goreng saya ke kertas itu, tapi tidak kuasa karena dia begitu berapi-api.

Tito terus berkata zine, zine, zine, zine. Bebas, bebas, bebas, bebas. Free, fuck copyright, whatever, rock and roll, remeh-temeh tai kucing lainnya. Di depan muka dosennya sendiri. Biadab benar. Saya semakin tidak mudeng. Satu yang saya pahami, seorang penulis fiksi harus bikin buku. Titik. Saya puritan. Bukan nulis di sobekan kertas, atau majalah sekalipun. Tito lalu memamerkan blognya (mungkin tulisan ini akan dimuat disitu juga), tapi saya ogah membacanya, Bagaimanapun, Pramoedya Ananta Toer terkenal justru karena dia bikin buku, bukan nulis di Wordpress. Atau seheboh-hebohnya blog Raditya Dika, ia akan tetap dipandang sebelah mata kalau buku Kambing Jantan tidak terbit (bangsat lihat sekarang nasibnya). Tapi Tito keukeuh dengan jalannya. Ia terus baca majalah musik kapitalis, kecanduan, dan jadi goblok sendiri karena doyan habiskan waktu berjam-jam berburu album gratisan. Dasar miskin. Dia mau jadi penulis atau anak band. Satu lagi aktivitasnya adalah dia doyan menulis musik, di media-media lokal yang kecilnya minta ampun. Saya tidak tahu faedahnya apa bagi seseorang yang bercita menulis fiksi seperti Tito.

Awal kenal Tito terjadi saat saya dipercaya mengajar (walaupun saya mundur beberapa bulan sebelum UAS). Saya dipercaya menggantikan Pak--(saya tidak bisa sebut namanya di sini karena ada sedikit ketegangan pribadi) yang sedang ada urusan di Kyoto - Jepang. Saya mengajar mata kuliah Penulisan Kreatif sekitar empat bulan. Di situ saya tahu kalau anak-anak sastra angkatan 2013 kebanyakan gobloknya minta ampun. Bahkan yang bisa disebut pintar pun sebenarnya bodohnya amit-amit di mata saya. Bagaimana tidak? Anak sastra tapi tidak ada yang sastrawi. Membuat puisi seperti jadi hal yang mudah, lalu hasilnya kacangan. Mana prosesmu, mana mata kurang tidurmu, mana perjalananmu untuk hasilkan karya tulis, karya sastra. Semuanya terlihat tolol di mata saya, apalagi gerombolan biadab yang duduk di bangku belakang: Tito dan Rozzak. Ada satu lagi anak laki-laki tapi saya tidak hafal namanya. Tapi melihat mukanya sebentar saja saya tahu dia ini sama gobloknya. 

Perkenalan dengan Tito tentu saja terjadi saat saya mengajar. Saya bertanya dengan serampangan, menunjuk dua anak yang terlihat ngantuk, ada di pojokan seperti sedang nonton bokep dari ponsel. Brengsek. Satunya malah pakai headset di telinganya. Tito seperti kelimpungan, megap-megap, dan bertanya: 'aku ta yang ditanya?' Ini anak benar-benar jancok maksimal. Sudah celananya robek parah, dan kelihatannya tidak pernah dicuci. Teman-temannya yang ditanya Tito aku-ta aku-ta tadi juga kelimpungan, panik. Belum pernah saya menemukan kelas sesopral ini. Maafkan bahasa saya yang kurang mengindahkan tata krama. Tapi saya sudah resmi tidak jadi dosen, jadi bebas misah-misuh seenaknya. Saya lupa bertanya apa ke Tito--pastinya pertanyan mudah. Tapi jawabannya bikin mendelik: begitu koprol dan tidak penting sepanjang masa. Bahkan indra pendengaran saya harusnya tidak mendengar pernyataan tidak berkualitas semacam itu.

Lalu sesudah kelas yang berantakan, saya masih duduk di meja, entah malas sekali untuk sekadar melangkah ke luar pintu. Saya agak sedikit pusing entah karena kebanyakan kopi atau jawaban tahi kucing Tito tadi. Brengseknya saat saya duduk, mahasiswa saya justru pada pulang duluan! Mana sopan santun sebagai anak didik. Saat saya mengumpat dalam hati itulah muncul sosok Tito di hadapan saya. Saya bingung, dia kelihatan seperti campuran orang belum mandi, baru saja kumur benzoat, atau habis giting kemarin malam. Tanpa diduga dia mencium tangan saya. Tindakan yang sopan benar. Tapi sesudah itu langsung mengajak saya ngopi. Tindakan yang kurang ajar benar.

"Saya ingin berguru, pak." Ujar Tito. Saya melihat arloji. Istri saya baru pulang jam tujuh nanti. Baiklah, tidak ada salahnya ikut bajigur ini. Dari situlah dimulailah kedekatan saya dengan Tito. Sampai akhirnya disuruh memberi komentar pada draft novelnya yang belum selesai, dan masih teramat panjang untuk mencapai garis akhir. Saya sebenarnya sudah menolak permintaan Tito, karena saya diharuskan menuliskan komentar untuk ditaruh di blognya. Saya lebih suka cerewet dan mengobrol. Tapi setelah saya membaca kalau tokoh utama dalam draftnya pakai nama saya tanpa izin (baru izin setelah beberapa hari minta tolong, dengan alasan lupa), maka sebagai beban moral saya turuti permintaanya.

Tapi saya juga kaget sesudah Tito bilang kalau draftnya sudah diposting di salah satu platform online. Bebas diakses siapapun dan kapanpun, bebas dicaci-maki. Kalau penulis lain simpan draftnya rapat-rapat sebelum dicetak dalam bentuk buku, Tito malah dengan entengnya membiarkan semua orang bisa membaca karya-karyanya yang cenderung urakan dan tidak beraturan.

(bersambung)
***
*Penulis adalah dosen mata kuliah penulisan kreatif saya tahun lalu. Sekarang, Pak Bili berdomisili di (entah, saya disuruh merahasiakannya), bersama istri tercintanya. Sedang selesaikan buku kumpulan puisi terbarunya. Untuk draft novel yang dimaksud Pak Bili, bisa dibaca di sini: 

Saturday, November 25, 2017

Nuran Wibisono: Menulis Musik Adalah Mimpi Basah

Oleh: Redaksi Ronascent
bisa dibaca di sini

Nuran Wibisono: kedua dari kiri
Nice Boys Don’t Write Rock And Roll; judul buku terbaru Nuran Wibisono ini menyatakan sesuatu yang sejak dulu kala jadi perdebatan: seperti apakah kapasitas seseorang untuk bisa jadi penulis rock and roll? Apakah harus sangar—‘honest and unmerciful’—seperti Lester Bangs di Almost Famous—mengingat William Miller, jurnalis rock cilik di film kesayangan kita itu, sungguh mewakili term ‘nice boys’. Seperti apa seharusnya? Nuran tidak menjawab pertanyaan kita, tapi sudah melakukannya. Whatever, nice boys or bad guys—rock and roll, or anything music in your pocket playlist; semua bisa menulis musik. Nuran bukan tipikal bajingan tengik seperti Bangs atau Thompson—merokok saja tidak. Bukan juga sosok yang terlampau imut untuk bisa dikatakan ‘nice boys’. Nuran sebagai orang biasa-biasa saja, tanpa kepentingan dan pretensi apapun, tanpa beban dan tanggungan apapun, menulis musik hanya sebagai bentuk kecintaannya mendengarkan Guns N’ Roses, The Doors, dan ribuan band favoritnya. Nuran tidak bisa (atau tidak mau?) dicap sebagai jurnalis musik. Dirinya mungkin bisa disebut pengulas musik ugal-ugalan (sempat baca 5 Album Terburuk Indonesia 2009 dan 2010 di JakartaBeat?). Tapi, disitulah letak serunya buku ini: puluhan esai yang ditulis dengan kecintaan pada musik yang ceplas-ceplos, apa adanya, minim saringan, dan kaya akan kesenangan. Buku ini sangat worthed untuk dimiliki dengan satu alasan bagus: siapapun yang membacanya dipastikan terinspirasi untuk menulis musik juga. Apapun kapasitas mereka.

Tito Hilmawan Reditya, salah satu penulis di Ronascent, berkesempatan menanggapi buku ini di acara bedah buku bersama Nuran, di c2o Library Surabaya, akhir Oktober kemarin. Tito—yang mengaku terinspirasi untuk mulai menulis musik dan membuat zine sesudah membaca esai Nuran yang berjudul “30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Persatu”—harus mengakui kalau buku babon ini bisa memicu terbitnya buku-buku sejenis. Selama ini rilisan buku musik di Indonesia amat sangat jarang. Mungkin divisi Elevation Books milik Taufiq Rahman, adalah angin segar untuk permulaan. Elevation sudah merilis tiga buku esai musik, yang salah satunya ditulis Herry Sutresna—pentolan Homicide. Nuran kemudian mulai menyusul, dengan gaya tulisannya sendiri. Kalau Taufiq lebih menyorot hubungan musik dan sosial politik—pun juga Ucok, tapi tulisan Nuran terasa lebih personal dan ringan.

Esai-esai musik dalam Nice Boys dibuka dengan nama bab yang mengutip lagu-lagu kegemaran Nuran—tentu saja seputaran hair metal dan ‘Almighty’ The Doors. Di bab pertama Nuran menuliskan dengan hangat awal perjumpaannya dengan musik, lalu mengenal jurnalisme musik, lalu bagaimana semua itu bisa mengubah arah hidupnya. Phillips Vermonte—founder Jakarta Beat—tidak sengaja membaca tulisan Nuran saat sedang mencari kontributor untuk website barunya. Perkenalan dengan Nuran dituliskan Phillips di Kata Pengantar buku ini. Lalu di bab kedua dan seterusnya, lebih fokus pada satu bahasan. Membahas hair metal, slank, musik Indonesia—itu diantaranya. Beberapa tulisan tentang Slank belum pernah dimuat dimanapun. Nuran mengaku, proyek menulis Slanknya batal, entah karena apa. Padahal dia sudah selesaikan separuh tulisan.

Untuk tulisan lain kebanyakan sudah dimuat di blog Nuran—nuranwibisono.net—dan di beberapa media. Tito, yang sudah jadi pembaca blog Nuran sejak SMA, menganggap tulisan Nuran selalu tampil apa adanya; ringan, sedikit slebor, agak urakan, dan sangat menyenangkan. Nuran dianggapnya setara Rudolf Dethu, dalam konteks propagandis hair metal nusantara. Keyword hair metal di Google entah bagaimana caranya bisa langsung mendeteksi blog Nuran. Tulisannya tentang Sangkakala ataupun GRIBS atau siapa saja dedengkot rocker gondrong Indonesia sangat-sangat energik. Ada perasaan meluap-luap, dan kecintaan yang tinggi pada objek tulisan.

Ayos Purwoaji moderator diskusi sempat bertanya pada Nuran: apakah ada otokritik untuk buku ini? Nuran menjawab, kekurangannya mungkin buku terlalu tebal: tulisan terlalu banyak. Nuran mengaku terlalu malas untuk mengkurasi, atau mengedit tulisan-tulisannya. Alhasil, buku perdananya terkesan tumplek blek. Sedangkan menurut Tito, buku Nuran mungkin bisa jadi semacam kitab suci bagi pencinta hair metal—atau musik apapun. Atau kalau frasa kitab suci terlalu berat, anggaplah buku ini sebagai buah cinta dari Nuran, pada siapapun yang masih percaya kalau rock and roll belum mati, masih berusaha menggondrongkan rambut, pakai banyak gelang, dan setia pakai DocMart—atau Converse. Meskipun saat bedah bukunya Nuran pakai kaus Seringai, tapi bolehlah itu dimaknai sebagai tanda kalau penulis musik seharusnya terbuka. Nuran sudah membuktikannya: dalam buku yang berlabel rock and roll dan bernuansa sangat glam metal, terselip satu dua tulisan tentang Peter Pan dan... Ahmad Dhani.

Menutup tulisan, Kharis Junandharu dari Silampukau yang sempat hadir di diskusi bertanya pada Nuran dan Tito, tentang pengalaman terbaik yang pernah dialami saat jadi penulis musik. Tapi entah, sepertinya pertanyaan tidak terjawab. Keduanya malah tersenyum dan kemudian tertawa bahagia. Karena seperti kata Nuran:

Bagi orang yang mencintai dunia musik, bekerja sebagai penulis musik adalah mimpi basah... Tapi namanya juga mimpi basah, ketika terbangun setelah merasakan nikmat, kamu akan berdecak kesal. Celana dalammu basah dan lengket. Dan kamu harus mandi besar...” 


Monday, August 14, 2017

Nganggur: A Daily Activities

Sekarang hari-hari saya begitu santai, terlalu santai malah. Jika definisi santai adalah bangun tidur siangan, menolak jadi morning person, lalu melakukan daily activity yang produktif tapi dengan nuansa woles, saya malah lebih dari itu, terlalu santai. Bangun rada sorean, menolak jadi jenis persona apapun, lalu melakukan daily activity non-produktif dengan leha-leha di kasur. Ditambah melupakan mandi pagi, atau kadang sore, dan leluasa untuk ngaplo dan berbuat apa saja. Terlalu santai itu keterlaluan bukan?

Jika lapar saya tinggal ke dapur (yang jarang ada makanan yang berguna karena ibu sendiri masak alakadarnya atau kadang tidak sama sekali), lalu mempersiapkan teflon, membuka kulkas, dan merasa jadi chef sendiri, masak dengan pakai kolor. Lalu saya bayangkan Chef Marinka sedang mengajari saya memasak dari belakang. Oh, men... Tapi ya, mungkin hanya ngelindur saja. Masak apapun dari kulkas terlalu ribet. Selalu ada tahu, tempe, jamur, atau jenis ikan-ikanan yang saya tidak mau menyentuh karena amis. Alhasil karena sudah kelaparan dan orang-orang pada kerja, saya mau tak mau harus sendirian menghasilkan brunch (breakfast lunch!). Mungkin akan makan banyak waktu jika mengolah dari dasar lemari es, akhirnya pilihan lagi-lagi jatuh pada Indomie Goreng. Satu-satunya makanan terbaik di alam semesta, dengan telor dadar tanpa MSG yang saya masak setengah matang. Satu bungkus tidak pernah cukup. Selalu dua. Dan saya adalah tipe-tipe orang yang tidak kudu makan nasi buat syarat.

Mie terus bikin usus melilit (saya kira usus memang sudah melilit dari sononya deh), maka dari itu untuk menyeimbangkan terkadang saya harus menyalakan mesin motor, pergi ke Indomaret. Hanya sesuatu yang instan yang akan kita dapatkan di dalam. Tapi beberapa rombong gorengan atau martabak atau pisang keju selalu nongol di depannya. Jadi saya parkir Indomaret tapi membeli jajanan di luarnya. Hebatnya di sini free parkir jadi saya tidak harus sedia recehan dari rumah. Lalu setelah mengganjal perut tersebut saya selalu bingung harus melakukan apa. Teman-teman sudah pasti kerja. Saya yang beberapa kali akan berkunjung ke rumah teman, Luthfi misalnya, selalu tidak jadi karena dia sibuk. Dia yang belum lulus kuliah sudah mengajar di SMK dekat rumahnya, pulang jam tiga sore, dan kadang mengambil jadwal ekstra, malam sudah terlalu lelah dan tidur pukul sembilan. Sementara Jay, kawan saya yang lain, agak sulit ditemukan kontaknya. Janjian ngopi sedari zaman Orde Baru sampai sekarang tidak pernah terealisasi. Jay pun terkadang juga membantu ibunya berjualan jika malam, dan molor di pagi hari. Sementara itu, golongan bajingan macam Biadab ataupun Keparat (samaran) mungkin sudah melenceng terlalu jauh dari orbit. Mereka doyan mengajak saya having-fun dalam artian sesungguhnya. Tiada hari tanpa botolan. Tiada hari tanpa nongkrong di Gg. Sono (alumni Gg. Dolly kebanyakan sekarang di sini). Saya bukannya menolak kodrat sebagai anak yang tinggal di daerah prostitusi, tapi sedari dulu, keluarga saya sudah dipandang agamis dan terhormat (bapak saya dipanggil kaji di sini), saya tentu berpikir ulang untuk mengiyakan ajakan mereka.

Alhasil, sembari menunggu panggilan dari HRD (saya sudah lolos sebuah tes dengan saya kandidat satu-satunya untuk sebuah newsroom), saya melakukan aktivitas-aktivitas super selow. Kebanyakan aktivitas ini sudah saya rencanakan sejak lama, namun selalu kelupaan atau tidak jadi karena kesibukan tahi kucing saat kuliah ataupun kerja. Ini adalah saatnya balas dendam: hidup sesantai-santainya, melakukan apa yang sedari dulu tertunda. Tentu saja tidak jauh-jauh dengan pop culture yang memang masih jadi hal paling menarik di mata saya sampai detik ini. Ya sambil membunuh rasa-rasa nggateli karena pacar lagi jauh juga.

Menamatkan Seri Game Of Thrones?
Oke baiklah yang ini ternyata berhenti pada eps. 1 season 2, yang itupun masih sampai pertengahan. Saya hanya sempat menamatkan season 1, dan ada banyak keengganan untuk melanjutkan. Tapi beberapa akun Instagram membuat saya penasaran lagi seperti apa kelanjutannya. Apalagi sekarang season 7 sedang on going. Saya sih tidak punya beban sosial apa-apa meskipun masih cupu tentang Game Of Thrones, toh lingkungan pergaulan saya juga seringnya tidak tahu apa itu GoT. Teman-teman saya waktu di Zetizen saja mungkin ya, yang mengamati serial ini. Seperti Mbak Grace, salah satu editor yang sempat menanyakan tentang siapa yang mati di Season 6 lalu. Wah saya Season 2 aja sudah tidak betah, mbak. Apalagi yang bikin saya muak kalau bukan Joffrey yang sok (tapi di spoilernya raja songong ini akhirnya mati juga di season selanjutnya, syukurlah). Saya menghentikan GoT sampai di tengah ya karena ada King Joffrey ini, pusing melihatnya. Sementara agak sedikit ketar-ketir juga dengan jagoan saya dari awal Arya Stark yang bisa saja tiba-tiba dipenggal seperti bapaknya. Ah tapi sudahlah, tidak perlu dipaksakan nonton. Buat yang senasib dengan saya, ditambah dengan dilema sosial karena takut dianggap cupu di pergaulan, bisa baca tips dari VICE berikut.

Meneruskan Silicon Valley
Alhasil saya memilih menonton serial lain yang memang sudah saya ikuti sejak awal. Jika Breaking Bad sudah kelar dan tamat sampai Season 5 dan saya sedih mampus menonton episode terakhirnya, maka Silicon Valley ini statusnya masih on-going. Saya belum tahu apakah ada episode lagi setelah Eps. 10 (sepertinya sih sudah usai). Silicon Valley kali ini sudah sampai Season 4. Serial ini sudah saya tonton semenjak SMA dan mungkin serial kedua favorit saya setelah Breaking Bad. Silicon Valley adalah kisah tentang startup bernama Pied Piper, yang di dalamnya berisi CEO Richard Hendriks, bersama programmer andalan Dinesh yang berasal dari Pakistan dan selalu bertingkah amat norak, dan Gillfoyle, jenius penyembah setan yang punya tato salib terbalik di tubuhnya. Ditemani oleh orang pemasaran, Jared, yang bertingkah bak seorang nerd yang selalu mengusahakan agar semuanya lurus. Dan bajingan tengik pemilik saham dan tukang lobby bernama Erlich Bachman. Ditambah seorang asal China yang bermuka dan berperilaku menyebalkan bernama Jian-Yang, yang tidak lain adalah mantan pembantu Erlich. Mereka semua berkumpul dalam satu rumah, di mana selalu ada saja masalah bagi Pied Piper. Silicon Valley adalah cerita tentang bagaimana mereka mengatasi semua masalah itu, demi membuat Pied Piper menjadi perusahaan bernilai milyaran dollar. Dengan kumpulan karakter macam itu, tentu saja akan terjadi banyak hal tolol, dengan dialog-dialog yang sarkastis, misoginis dan kadang rasis. Serta adanya twist yang membelokkan plot secara tidak terduga. Di Season 4 ini Pied Piper harus menghadapi tantangan baru, di mana arah Richard benar-benar berubah. Masih diselingi dengan antagonis lama semisal Gavin Belson, juga Laurie, bos dari Raviga. Dan... sebelum saya semakin doyan untuk cerewet dan membocorkan spoiler, ada baiknya kalian lihat sendiri saja. Hehe.




Terjebak Di YouTube dan Menjadi Receh
Berikut daftar yang saya tonton:
- Mukbang Indomie
Ini adalah hal paling tidak penting dalam nganggur saya: melihat mukbang, atau orang lagi makan dengan porsi besar, menantang dirinya sendiri untuk menghabiskannya, sambil cerewet depan kamera. Tapi entah kenapa, saya hanya gemar nonton yang Indomie saja. Mukbang Challenge Indomie ini ternyata tidak hanya ada di Indonesia, tapi banyak juga di luaran sana. Orang Amerika yang saya tonton kemarin makan lima bungkus sekaligus, ada juga yang sampai enam. Tapi masih kalah sih dengan Indonesia yang makan lima belas bungkus sekaligus. Nekat amat. Tapi sebagai penggemar mie produksi Indofood ini, melihat orang menyuapkan Indomie ke mulutnya secara rakus dan cepat (pakai sumpit!) membuat ngiler jadi berlipat-lipat. Terkadang di waktu menjelang subuh dan perut saya kembali lapar, melihat Mukbang beginian membuat saya ingin nekat saja ke dapur dan menjereng air. Tapi tidak jadi karena diwanti-wanti ibuk untuk tidak bikin Indomie tiap hari. Jadilah saya ngiler-ngiler sendiri, dan saat rumah sepi, melakukan aksi balas dendam itu. Ya semoga saja saya tidak gendut. Masih 65 kilo. Aman.


Bajingan!
- Lifehack
Ya, masih bermanfaat melihat yang beginian. Kebanyakan memang memanfaatkan barang yang sudah ada untuk memudahkan suatu pekerjaan. Ada lifehack yang sulit dipraktekkan, misal membuat sound system dengan kaleng bekas. Ada juga yang mudah, lifehack balon untuk kondom hape, misalnya. Ada banyak channel bagus, baik luar ataupun lokal yang memberi lifehack-lifehack keren. Tapi hati-hati terjebak di hal-hal receh, seperti lifehack tisu, sebagai pembatas buku. Semua orang sudah tahu lah yang begitu. Salah satu yang bagus adalah Channel Mr. Grue. Channel lokal dan sangat kreatif dalam mengolah benda-benda. Gampang ditiru dan tidak sulit-sulit amat. Setidaknya nganggur saya tidak melulu menonton hal yang tidak berfaedah.
- Cak Nun
Saya tidak pernah nemu ustad, atau tukang ceramah, atau kyai, atau apapun itu namanya yang sreg di hati. Apalagi Armand Maulana yang sempat ceramah kultum jelang buka puasa di NET. Apalagi Ustad Maulana (situ ustad?). Atau Mamah Dedeh ataupun Mamah-mamah yang ceramah di acaranya Uya Kuya yang selalu jeleknya amit-amit itu. Tapi Cak Nun beda. Spirit kebudayaannya terasa. Tidak mendorong umat untuk mengikuti arab, atau pakai jihad taruhan nyawa segala. Orangnya tetap orang Jawa, nggak lali jowone. Apalagi keluarga saya juga NU, dan mbah-mbah buyut juga ada yang beragama Jawa, jadi saya merasa sreg dan pas. Toleransinya, kemudian logikanya, hanya Cak Nun yang bisa saya pahami dan terima. Cak Nun tidak sama sekali mengajarkan kebencian. Atau harus memusuhi orang yang berbeda. Cak Nun malah menyuruh kita berpikir terbuka, kritis, tidak kaku. Beragama, menurut Cak Nun, baiknya harus menyentuh sisi sosial dan psikologi. Bukan sisi surga-neraka tok. Intinya adalah rahmatan lil 'alamin. Cak Nun, menurut hemat saya bahkan lebih teduh dan enak didengar, dibanding adu pintar ala Zakir Naik. 
- Tutorial Masak
Weits, ketahuan deh saya sedang cari ide untuk mengolah makanan di kulkas. Biar tidak Indomie melulu. Sejauh ini saya sudah paham cara masak tahu bulat dan tempe krispi, tinggal menunggu wahyu berupa kemauan ini datang saja untuk bisa memasaknya. Eh tapi resep Indomie Pizza-nya boleh juga tuh buat dicoba.


Telur ceplok bersama Chef Marinka
Penyakit Kambuhan: Unduh Illegal
Isi dompet sedang kering, nganggur pula, tidak ada pemasukan, sementara banyak album bagus di luaran sana baru rilis. Betapa menyedihkannya. Tapi, sungguh, maafkan saya. Dengan sedikit keyword dan menjelajahi mesin pencari, album itu sudah bisa didengarkan, dengan MP3 320 pula. Tidak jauh beda dengan CD-nya. Hm. Tapi membajak tentu saja tetap salah. Maafkan saya. Saya hanya ingin preview lagunya saja. Eh tapi, jadi keterusan. Sialan. Tidak hanya album bagus terbaru yang rilis, beberapa album lama yang luarbiasa bagus juga menarik untuk dikulik. Brengsek, setelah mendapat album-album legenda tersebut, saya kemudian malah tertarik mengunduh album-album obscure super underrated, yang bahkan masih jarang yang mendengarkan. Dan, band-band shoegaze seperti My Bloody Valentine-lah yang membuat saya benar-benar terobsesi. Saya bolak-balik mengunduh album Loveless, di berbagai situs, mencari kualitas sound terbak. Bahkan sekarang saya punya tiga album Loveless; rilisan pertama, rilisan kedua versi remastered, dan rilisan final versi remastered. Lagunya sama saja: dibuka oleh Only Shallow ditutup oleh Soon. Asal tahu saja, My Bloody Valentine merilis debut pertamanya Loveless di tahun 1991, dan album keduanya bertajuk MBV di tahun 2013. Betapa diperlukan jarak sampai 20 tahun lamanya, bagi empunya band ini, Kevin Shields (alaihisalam), untuk berperang dengan writers block, dan menghasilkan karya paripurna. Tapi memang anjing sekali, semua track punya daya bius. Inilah kekuatan indie pop dicampur post rock dicampur zat-zat adiktif, noise, depresi, kesedihan, kekalutan, dan lain sebagainya. Inilah apa yang disebut shoegaze (dengan turunan baru bernama Blackgaze, black metal plus shoegaze, yang dipopulerkan oleh band metal idola saya, Deafheaven). Inilah musik yang membuat saya merasa tidak sekarat sendirian. My Bloody Valentine kemudian membuat saya terus menggali, sampai dasar, di mana saya menemukan banyak sekali mini album mereka, single-single yang tercecer, dan instrumentalia gila dengan semburan gitar fuzz dan berat dari Shields. Kurang ajar. Percaya atau tidak, saya bahkan nemu album band ini sedang berkolaborasi dengan jenius gila macam Thom Yorke! Tentu saja saya mungkin tidak akan pernah paham indahnya racikan sound mereka karena jelas kapasitas otak saya masih belum mencapai spiritualitas itu. Hanya saja karena memang benar-benar terobesesi, ya mau bagaimana lagi. Satu-satunya band yang dapat menyamai obsesi saya terhadap My Bloody Valentine adalah Sonic Youth. Dan desahan Kim Gordon tahun 1989. 

Saya juga mengunduh semua album indie lokalyang baru-baru saja rilis walaupun kebanyakan langsung saya buang setelah sekali dengar. Contoh: eleventwelf, Fourtwenty, Senar Senja, dan band-band yang super kacangan lainnya. Kacrutnya minta ampun. Mending dengar Asal Kau Bahagia dari The Bagindas saja. Tapi ada juga yang bagus, seperti Gaung misalnya. Selain itu ada pula band-band lain yang bikin penasaran tapi tidak sampai atau belum membuat saya terobsesi untuk download. Solusinya: ada Spotify yang walaupun kita tidak punya musik dalam file penyimpanan, setidaknya sebagai preview bagus atau tidaknya. Kalau bagus, kudu punya albumnya fisik, atau minimal MP3-nya. Huhuhehe.

Baca Ulang Sastrawan Sableng Indonesia
Diantaranya Yusi Avianto Pareanom, Sabda Armandio dan Dea Anugrah. Saya kok merasa mereka bertiga punya kemiripan: ceritanya sama-sama ngawur dan nyeleneh, tapi diceritakan dengan teknik luwes dan kadang lempeng, tapi bikin misuh-misuh karena banyak punch-line yang aduhai. Sungguh biadab.

Terakhir, Mampir Yuk Ke Bitterhear!
Proyek blog fiksi saya akhirnya terealisasi. Dengan alamat bitterhear.wordpress.com, setidaknya saya bisa benar-benar menumpahkan seluruh energi cerita super kacau saya dalam satu tempat khusus. Konsep Bitterhear sendiri adalah tanpa konsep, peduli setan. Saya hanya mau bercerita. Atau bolehlah dibilang fiksi murahan atau pulp fiction. Di sini akan banyak ditemui cerita-cerita pendek yang murahan, receh, dan mungkin pantas dimasukkan lubang pantat penghuni neraka paling bawah. Jika musik, mungkin ini bisa diibaratkan punk yang seperti GG Allin. Rusuh, dan tidak teratur. Terserah saja. Intinya, jangan bosan buat berkunjung, dan lalu caci maki saya karena ini kemungkinan besar akan sering update. Hehe. Bitterhear tidak memberi kalian faedah atau nilai moral apapun, tapi setidaknya saya senang karena bisa berbagi isi otak fiksi saya, alter ego menyebalkan saya, dalam blog ini. Mampir ya!

Saya juga sedang menggodok konsep Bitterhear Podcast (radio internet), berisi siaran rekaman suara tidak penting saya menyuarakan uneg-uneg. Kemungkinan besar akan mengudara di Soundcloud setelah benar-benar terkonsep. 

Hm oke deh, ada usul aktivitas lain?

Tuesday, June 20, 2017

Tadarus Breaking Bad, Takjil Barefood dan Menu Buka Puasa Menyenangkan Lainnya


Berpuasa di rumah adalah seperti kutukan: mata baru bisa merem, lalu suara-suara berisik dari bocah-bocah TPQ membuat saya melek lagi. Kadang di pukul tiga sore, puasa menjadi neraka. Menyiksa dan saya pun tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang bisa diperbuat jika jarak Musola dan kamar saya hanya dibatasi tembok? Bahkan letak bantal saya persis di samping microfon yang digunakan untuk adzan dan aktivitas koar-koar lain termasuk pengajian Malam Jumat dan tadarus saat puasa. Bukan saya menghina agama atau apapunlah—saya tidak ada sedikitpun tendensi itu, dan bila ada kalian yang tersinggung dan masih terbawa-bawa urusan Ahok, go to hell, membusuklah di neraka, saya tidak peduli dan hanya menyampai uneg-uneg yang ngeganjel ini saja. Sebenarnya saya tidak pernah ada masalah dengan aktivitas apapun di Musola itu, selama itu digunakan pure untuk ibadah dan tidak menganggu orang lain. Pure untuk ibadah berarti tidak bertujuan untuk pamer ataupun menunjukkan identitas sebagai umat yang taat. Tidak mengganggu orang lain itu cukuplah bila ada aktivitas ibadah menggunakan sound system, seyogyanya volume speaker diatur agar tidak terlalu keras—atau mungkin tidak usah memakai speaker toa langgar yang amat keras itu. Atau bila memang keras, saya berharap para pemburu surga dan keutamaan di balik bau mulut orang puasa—anak-anak TPQ itu—bisa sedikit lebih santailah jika ngaji. Saya tahu semua orang berhak membaca kitab suci, baik sudah kelas kakap ataupun medioker sekalipun. Tapi ya tuhan, Ya Allah, Ya Allah, Tuhan YME, selama beberapa hari puasa ini entah mengapa yang mengaji di sebelah rumah sungguh sangat tidak bisa menentramkan hati. Mereka mengaji dengan asal-asalan, kadang ada cekikik-cekikik busuk, lalu bercanda internal yang sungguh, seperti semua orang sekampung harus tahu saja. Mengaji pun seperti orang teriak-teriak, keras sekali, seperti orang lain yang mendengarnya tidak punya aktivitas lain saja selain mendengarkan mereka. Bagaimana bila Mbah saya sedang mendengarkan tauziah di televisi, yang karena suara ampun-ampunan mereka, jadi tidak bisa dengar. Bagaimana bila Ibuk menyuruh saya membeli terang bulan dan sop buah untuk berbuka, sampai harus teriak-teriak dan saya masih tidak mendengarkan karena gaduhnya suara ngaji di sebelah. Saya berharap mereka bisa lebih sopan saat mengaji, lebih memelankan suara (kalau bisa volume dikecilkan, kalau tidak bisa ya minimal lebih kalemlah). Saya pernah sekali waktu mendengar suara orang mengaji di sebelah, suaranya lembut dan sopan, menghayati setiap bacaan, tidak tergopoh-gopoh segera usai. Ini nyaman, tidak berisik dan saya masih bisa mendengarkan sekitar. Lah bocah-bocah TPQ yang kebanyakan tetangga saya yang berusia puber ini, malah menjerit-jerit tidak karuan membawakan ayat-ayat Allah. Sebagai seseorang yang kamarnya berada persis sebelah mikrofon, kadang saya ingin mengingatkan, tapi siapalah saya, saya kadang merasa serba salah sendiri. Padahal tetangga Musola lain yang juga berada persis adalah orang Nasrani. Saya tidak tahu apa hukumnya orang yang mengaji dengan toa sedemikian berisik dan mengganggunya. Mungkin MUI atau FPI bisa bantu menjawab, atau bisa juga menuduh saya komunis bangsat liberal kafir pendukung Ahok karena saya seperti anti dengan ngaji. Terserah. Saya tidak peduli. bila kalian cerdas mungkin kalian bisa melihat bahwa saya tidak anti ritual ibadah, yang saya tekankan adalah apakah proses ibadah itu menganggu orang lain atau tidak. Benar kata antah-berantah yang banyak dikutip orang yang sudah muak akan cap-cap kafir dangkal dari sekitar: agama itu seperti kontol, kamu punya sembunyikan saja, nggak perlu dipamerkan ke orang lain, siapa pula yang tidak terganggu kalau kamu pamer jembutmu ke muka orang.

Baiklah, lepas dari uneg-uneg Ramadhan tersebut, dan saya yang masih mengumpulkan cara menegur yang baik agar tidak ada yang salah sangka, lebih baik saya menghibur diri kembali sambil ngabuburit menunggu datangnya adzan Maghrib. Puasa akhir-akhir ini memang lumayan cepat. Saya jarang tidur malam hari sampai sahur, dan baru tidur pagi sampai agak siang, kemudian bangun, menunggu berbuka sambil memasrahkan diri pada layar tua, menonton serial, film atau apapun. Setelah itu terkadang saya memasrahkan pada speaker rumah; mencolokkan pemutar musik dan menghibur diri sendiri dari lapar dan dahaga, untuk kemudian kembali ngaplo di pukul tiga sore sampai dua jam kemudian karena gangguan dari akhwat-akhwat TPQ yang tidak tahu aturan tersebut. Di sela ngaplo saya kembali membuka-baca koleksi baru, atau juga lama. Berupa buku-buku baru yang menurut saya bagus, buku-buku lama yang tidak bosan diulang, juga koleksi majalah-majalah rare dan langka yang baru saya dapatkan akhir-akhir ini, tak lupa suntikan kebengalan dari zine-zine baik baru maupun lama. Berikut beberapa yang saya konsumsi: tadarus, takjil dan buka puasa saya selama bulan puasa tahun ini.

Breaking Bad Season 1-5
Serial TV yang katanya terbaik sepanjang masa. Rolling Stone sempat membahasnya di Editor Playlist dan itu langsung mengganggu rasa penasaran saya selama bertahun-tahun. Premisnya seperti ini: seorang guru kimia yang didiagnosa mempunyai kanker dan akhirnya memutuskan terjun dalam bisnis narkoba demi mengumpulkan uang untuk keluarganya saat dia meninggal nanti. Serial ini sudah tayang di AMC sejak 2008, hanya saja saya baru benar-benar punya waktu untuk melihatnya kali ini. Hati-hati, Breaking Bad tiap episodenya selalu membawa hal-hal yang tidak terduga, dan kita akan kecanduan untuk terus menontonnya sampai akhir. Daya tahan saya masih bisa sampai Season 3, dan kadang harus menyerah karena satu Season punya kira-kira 13 episode dengan durasi hampir 50 menitan. Serial yang membuat dag-dig-dug tidak karuan ini tiap seasonnya semakin memuncak dan membawa pada masalah yang semakin kompleks—dan kalian harus tahu bahwa ipar Mr. Walter White, si guru yang bisnis narkoba, adalah anggota DEA alias polisi yang mengurusi masalah narkoba. Betapa repot menyembunyikan semuanya. Salah satu yang sangat memorable adalah saat White dan partner bodoh yang juga merupakan bekas muridnya, Jesse Pinkman, memproduksi meth berjumlah besar-besaran di gurun pasir. Banyak adegan tolol di situ (Season 2 Eps. 9) yang saya rasa seperti komedi getir Tarantino di mana kita akan merasa miris dan tertawa di saat bersamaan. Sebelum Breaking Bad saya sempat menonton Game Of Thrones namun hanya kuat sampai Season 1. Entah kenapa serial ini walaupun bagus dan membuat penasaran, tidak membuat saya cukup sreg untuk melanjutkannya ke Season 2 (sekarang di HBO akan segera premiere Season 7). Terlalu memusingkan dan banyak intrik. Atau latar jaman kerajaan mungkin saya tidak terlalu suka, mengingat selera saya cenderung tontonan yang punya muatan latar American Lifestyle era 90’s atau 20’s. Selain GoT saya juga sempat menonton The Walking Dead, namun hanya kuat sampai Season 1 juga dan tidak ada niatan lanjut. Serial ini tidak seram-seram amat, namun saya rasa ketegangan yang ditampilkan di Walking Dead amat sangat gelap dan suram sampai-sampai saya merinding-merinding sendiri. Selain itu, True Detective juga sempat saya tonton, ini cuma hanya sampai pada Episode 1 Season 1 saja. Entahlah, terlalu memusingkan dan saya kurang tertarik. Yang terakhir adalah serial Netflix yang tersohor dan sedang hits akhir-akhir ini Thirteen Reasons Why. Saya sempat menonton dan lumayan menarik. Tapi di Episode 2, saya kok mulai bosan, dan arah cerita tidak bisa saya mengerti—kadang terlalu bertele-tele. Saya juga tidak tahu mengapa serial seperti ini bisa jadi sangat hits: semacam serial remaja yang berkisah tentang perempuan bunuh diri dan salah seorang teman (juga teman main seks-nya), berusaha mencari tahu alasannya lewat mixtape. Mungkin selain Breaking Bad, serial yang saya ikuti dan masih betah menonton adalah Silicon Valley, yang Season 4-nya sudah tayang di HBO musim ini. Breaking Bad sendiri juga memunculkan satu tokoh pengacara yang akhirnya dibuatkan spin-off serial sendiri yakni Saul Goodman. Saya berencana menonton serial bertajuk Better Call Saul tersebut setelah menuntaskan Breaking Bad ini. Kurang 2 Season lagi, saya harap kelar sebelum Lebaran.


Barefood – Sullen (EP 2013), Barefood (EP 2014), Milkbox (LP 2017)
Menyimak duo collage rock asal Jakarta ini membuat kuping saya digempur distorsi 90-an setiap hari. Dua EP, Sullen dan Barefood, juga satu debut full length album Milkbox yang baru saja rilis tahun ini, adalah jawaban yang tepat jika ada yang bertanya seperti apakah musik rock yang easy listening tapi tetap gagah dan tidak banci itu. Rio Tantomo sempat menuliskan romantika menonton konser Barefood yang dilarang untuk menyulut rokok; menampilkan Barefood sebagai band rock lurus nan pendiam di mana anak-anak cupu dan culun, berkacamata dan kutubuku di kampus atau sekolah akhirnya punya penyaluran yang satu visi dan bisa moshing. Dari ketiga album itu, saya memfavoritkan Sullen yang dirilis tahun 2013. Dibuka oleh “Perfect Colour” yang renyah dan manis, serta punya sisi getir tersendiri yang sukar dijelaskan. Bagi yang belum pernah mendengar Barefood, “Perfect Colour” adalah pintu gerbang yang tepat. Semua orang akan menyukai lagu ini, termasuk yang masih awam alternative rock sekalipun. Seperti kata Devi Ardian, kritikus musik spesialis Chainsmoker dan Nia Daniati ini, saat saya memberi dengar lagu ini. “Lagu kaya gini enak didengerin makai headset!” Sayangnya, dia tidak punya headset dan saya ogah meminjami. Tidak hanya “Perfect Colour,” Sullen juga punya track lain yang tidak kalah legit. Sebut saja “Grey Skies” yang sangat melodius, “Teenage Daydream” yang bersemangat, dan “Sullen” yang menampilkan vokal perempuan malu-malu tapi cukup renyah dan catchy, cukup nyaman dan enteng. Untuk album Milkbox sendiri, deretan-dereran track matang siap menggempur telinga. Milkbox menjadi album Barefood yang mendewasa. Saya memfavoritkan track nomor 7, “Sugar” dengan sound gitar ala Kevin Shields, semacam eksplorasi ke arah shoegaze yang soft dan muram pekat. Tipikal My Bloody Valentine. Selebihnya semuanya bagus, walaupun sebaik-baik Barefood tetaplah Sullen.


Rumahsakit – 1+2
Mencintai Rumahsakit dengan segala kuranglebihnya—di album ini kekurangannya (atau justru daya tariknya?) ada pada vokal Andri Lemes yang masih tetap... lemes. Siapapun menyukai Rumahsakit dengan Arief (kalau tidak salah) sebagai vokalis baru yang barusan meluncurkan album Timeless. Saya juga suka sih. Suaranya bagus. Cuman lebih suka corak vokal monoton dan malas dari Andri. Bila menyimak album Rumahsakit rilisan lampau, era 90-an, suaranya malah makin kacau meski musiknya tetap indah (hanya saja saya download mp3-nya dengan kualitas lo-fi nan mengecewakan). Ada sebuah pendapat bahwa hanya segelintir orang yang kenal Rumahsakit, dan mereka betul-betul fanatik. Saya mungkin salah satunya. Jika tidak kenal Rumahsakit, sebaiknya ya begitu saja tidak perlu memaksa. Tapi jika ingin kenal, mungkin akan ada dua tipe manusia setelah mendengarkan Rumahsakit era Lemes, khususnya di album 1+2 ini: merasa aneh dan tergila-gila sekali, dan yang kedua mengatakannya sebagai musik lempeng, aneh dan tidak punya daya seni—mengutip pendapat Tri Nanang Budi Santoso, sobat kepompong saya saat saya pamerkan lagu “Hilang.” Sambil mengata-ngatai dengan sembrono bahwa selera saya nggak mbois, tidak punya sense of music atau apalah—enak saja. Saya mencintai Rumahsakit secara tidak sengaja saat memutar lagu “Hilang” di YouTube, yang itu juga secara tidak sengaja pula. Nama band ini adalah nama yang mungkin paling unik dalam jagad musik tanah air; lebih menegaskan keabsurdan ketimbang katakanlah GiGi, atau Padi. Rumahsakit, saya ingin sekali terbahak saat mendengar namanya. Nyatanya lagu “Hilang” yang saya dengarkan membuat saya terus-terusan meratap di depan speaker: indah sekali, tuhan. Intro yang menyayat, dan terkesan sok keren, membius dengan gaya vokal paling ngehek; perpaduan yang memukau dan menghasilkan musik yang begitu bagus dan jujur. Gila. Rumahsakit bagi sebagian orang dianggap nabi (simak SFTC band ini di YouTube). Bahkan meskipun sudah berganti dengan vokalis yang sangat merdu dan bisa bernyanyi, tetat saja orang-orang merindukan Rumahsakit dengan Lemes sebagai vokalis. “Kuning”, membuat kita seolah merasakan hamparan mentari di kening, “Bernyanyi Menunggu”, mengusik naluri kejantanan dengan musik adem ayem, “Pop Kinetik”, yang absurd dan bernada jenaka, “Mati Suri” yang gurih, “Anomali” yang mungkin merupakan suguhan terbaik pada musik pop Indonesia, dan “Sakit Sendiri” yang menyayat dan kosong. FYI, saya sering mengentikan guyuran gayung, atau aktivitas menggosok gigi di pagi hari, saat intro lagu “Hilang” berkumandang dari sound murahan`di kamar. Bukan apa-apa, keindahan itu sayang sekali untuk diacuhkan.


Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie – Semua Ikan Di Langit (2017)
Ziggy meramu sebuah keabsurdan tingkat dewa menjadi fiksi yang manis, tanpa adanya konflik bertele-tele atau ending yang menendang kepala. Novel pemenang juara 1 sayembara Dewan Kesenian Jakarta, sekaligus mungkin juara 2 dan 3 karena pihak juri sengaja tidak memberikan juara untuk urutan 2 dan 3 dengan alasan perbedaan kualitas yang jauh. Semua Ikan Di Langit memang bagus, dari segi gagasan juga tokoh-tokoh yang dimainkan. Mungkin jika ini film bisa dapat nilai 9,8 dari Rotten Tomatoes. Bayangkan tokoh utama novel ini adalah bus. Benar, bus Damri jelek yang biasa kalian jumpai di Bungurasih ataupun—dalam latar novel ini entah saya lupa tepatnya terminal apa. Bus ini secara ajaib berkendara di langit, dengan ikan julung-julung ajaib yang dikendalikan oleh sosok bernama Beliau. Sulit menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya karena alurnya benar-benar tidak tertebak, keluar dari batas kewarasan dan imajinasi. Ada pemikiran bahwa ini merujuk pada kisah Tuhan dan malaikat, dan proses penciptaan dunia. Tapi Ziggy—benar-benar—mengisahkannya secara ajaib dan absurd, tidak sakral dan sama seperti gaya penceritaan anak kecil lugu yang tidak tahu apa-apa di Di Tanah Lada (2013). Ada balutan ilustrasi epik karya Ziggy sendiri yang juga menambah nilai lebih di sekujur tubuh buku ini. Ada kutipan-kutipan haru yang jujur cukup absurd karena diucapkan oleh bus. Bila perasaan kita sudah terasah, atau sudah mempelajari teori semiotika, kita akan segera tahu pesan halus yang disampaikan Ziggy dalam adegan-adegan yang meloncat-loncat, dari situasi perang sampai toko roti di belahan dunia lainnya. Ziggy melemparkan kritik dan pesan tidak dengan gaya keras, tidak pula lembut romantis. Ia menyampaikannya dengan gaya ketidakjelasan yang sebenarnya cukup jelas bila kita mengerti maksudnya. Saya penasaran akan naskah-naskah yang tersodor di meja juri DKJ: seburuk itukah sampai hanya Ziggy yang memperoleh juara 1—dengan juara 2 dan 3 yang kosong, selebihnya diisi juara harapan? Mungkin dari semua puja-puji di atas, saya belum menemukan satu titik cela lagi: ini sastra ringan yang sebenarnya cukup berat. Ini sastra dengan pembahasan paling liar dan fantastis yang pernah saya baca. Cukup berbobot dan tinggi. Mungkin Semua Ikan Di Langit bisa dibayangkan sebagai cerita-cerita Disney; sama seperti itu dan hanya saja ini jauh lebih berbobot dan melampaui imajinasi manusia manapun. Karya Ziggy yang sepertinya sedang main-main tapi ia sangat serius melakukan main-main itu. Mungkin Wening Gitomartoyo dari Rolling Stone Indonesia berpikiran serupa saat mengulas Ziggy—yang oleh majalah ini menerima Editor Choice Awards tahun ini kategori The Phenomenal


Sabda Armandio – 24 Jam Bersama Gaspar (2017)
Dio adalah juara harapan 3 dari Sayembara Novel DKJ. Jujur, saya lebih menikmati membaca ini dibanding Semua Ikan Di Langit—meski memang tidak bisa membandingkannya karena Semua Ikan memang punya gagasan yang cukup fantastis. Novel Dio yang kedua seteleh Kamu (yang sudah lama saya ingin membacanya tetapi tidak pernah ada di toko buku ini) membawa cerita detektif yang mengejek detektif itu sendiri, menurut keterangannya. Tapi saya akan bilang bahwa novel ini lebih ke arah kriminal. Detektif tidak dikenal itu hanya melakukan dialog penyelidikan yang selalu ada di bagian tiap bab. Tokoh sentral dalam novel ini adalah Gaspar, yang sejak awal digambarkan sebagai bajingan yang akan merampok kotak hitam di sebuah toko emas. Upaya Gaspar ini secara kebetulan membuatnya mendapatkan partner merampok: saya lupa tokohnya satu-persatu. Kalian pernah membaca novel 5cm sebelum ia jadi ngehip karena dibuat filmnya? Novel terbaik versi Goodreads itu membawa banyak sekali tokoh dalam novelnya. Apakah kalian kebingungan membedakan dan menghafal tokoh ini dan itu, Arial dan Zafran misalnya. Meski Donijantoro meramunya pelan-pelan, tapi entah kenapa saya sulit sekali untuk melakukan pendekatan dengan imajinasi. Untung saja tertolong filmnya—yang juga masih jelek pula. Tapi Dio berhasil membuat pembaca hanya perlu membaca tanpa perlu membolak-balik halaman awal demi mengingat sang tokoh. Karakternya kuat, ada pembeda dan seolah kita mengenalnya. Yang hebat lagi adalah, kita bisa tahu karakter tersebut dan hafal walaupun mereka menggunakan nama samaran. Begitulah Dio. Saya tidak tahu dan tidak penting untuk tahu apakah isi kotak hitam tersebut. Memang bukan itu tujuan penulis. Saya mungkin akan membacanya lagi untuk menemukan hal itu. Tapi yang menarik dan saya fokuskan adalah, kecerewetan Gaspar sebagai tokoh aku, yang cukup komunikatif dan memakai banyak pendekatan budaya pop dalam novelnya. Ada ciri seorang geek-nerd yang tidak memaksakan memakai pendekatan ini. Cerpenis dan novelis Hami Badjingan (nama samaran) sempat berkata bahwa ia juga seperti itu dalam sebuah percakapan tapi saya hampir muntah mendengarnya. Hanya Dio yang bisa seperti itu. Saya ulangi, hanya orang tengil yang benar-benar tengil yang bisa seperti itu. Bukan yang sok tengil.

Taufiq Rahman - Pop Kosong Berbunyi Nyaring (2017)
Dalam buku ini akan dijumpai 19 hal yang tidak perlu diketahui tentang musik. Taufiq sebagai hipster sejati menuliskan grup musik, album, dan lagu-lagu underrated alias di bawah radar yang tidak banyak diketahui dan disukai orang. Menarik membaca esai-esai di buku ini, menghubungkan pengalaman pribadi penulis atau fenomena sosial, dengan musik. Secara mengejutkan, Chris Cornell vokalis Soundgarden ditemukan meninggal beberap bulan setelah buku yang memuat esai tentangnya di halaman depan ini dirilis. Membuat saya yang buta grunge selain Nirvana dan Pearl Jam (serta Ello Tahitoe jika dia layak disebut grunge), langsung mengonsumsi Soundgarden saat itu juga. Juga banyak artis yang saya tidak pernah tahu seperti Brian Eno atau Minutemen atau bahkan Bandempo (!) Ada banyak informasi yang tidak perlu diketahui namun amat menarik bila kita tahu. UKM penerbitan buku Elevation Books milik Taufiq Sepertinya akan konstan mengisi rak buku saya dengan buku-buku musik yang jarang ada di Indonesia. Saya menunggu rilisan-rilisan selanjutnya. Rock and Roll tidak hanya menyenangkan untuk didengarkan, tapi juga untuk dibaca.

Playboy Indonesia Edisi Januari 2007
Singkat cerita di suatu siang yang terik di bulan puasa, saya memutuskan mampir ke Jl. Semarang untuk berburu harta karun: majalah dan buku bekas. Tapi kenyataannya saya seringkali kesini dengan tangan kosong. Saya tidak tahu lagi harus ke mana saat tiba-tiba terpikir bahwa jarak Blauran dengan Jl. Semarang tidaklah terlalu jauh. Saya iseng mampir meski parkir bangsat 3000 rupiah. Ternyata benar adanya: satu Playboy Indonesia saya memang didapat dari Jl. Semarang, juga Rolling Stone Indonesia edisi pertama yang oleh penjualnya ditaruh sembarangan sebagai tadah hujan—sialan—tetapi di Blauran saya selalu menemukan harta karun: dua Playboy Indonesia saya dapat di sini, juga beberapa Rolling Stone, juga selusin National Geographic Indonesia. Lokasi perburuan saya pun berpindah ke Pasar Blauran. Saya sempat bertemu dengan Rafika, jurnalis senior Zetizen di tempat ini. “Aku nemu harta karun,” pamer saya padanya. Rafika yang waktu itu sedang bersama ibundanya penasaran. “Mana lihat?” saya langsung menyeretnya ke tempat agak jauh, membuka tas, dan “astaghfirullahalaziim, mas....” ujar Rafika. Saya terkekeh dan tidak peduli stereotip orang akan Playboy. Ini bagi saya adalah majalah terbaik dan paling memuaskan yang pernah saya baca, lepas dari foto nude-nya. Playboy membuat saya klimaks berulang kali tanpa bosan membacanya; feature yang jempolan, gaya bahasa yang sok songong dan sengak tapi saya suka (khususnya di Playboy Advice). Satu lagi, Playboy punya sikap yang jarang dipunyai media lain. Saya berharap Playboy Indonesia hadir kembali, dengan Pemred Erwin Arnada, penulis Alfred Pasifico, Soleh Solihun dan Arian Arifin Wardiman. Cerpen-cerpen yang dilempar juga sarat akan mutu. Cukup kenyang dan puas, setidaknya sudah mendapat tiga edisi. Kurang tujuh lagi dan saya mungkin akan bahagia. Khususnya edisi perdana dengan cover Andhara Early dan Playmate Kartika. Saya penasaran, sungguh.