Showing posts with label Features. Show all posts
Showing posts with label Features. Show all posts

Wednesday, January 10, 2018

Bagaimana Nuran Wibisono Mengutuk Saya Jadi Penulis Musik Amatiran


Saya baru saja masuk kantor, pukul setengah tiga sore. Shift malam sama brengseknya dengan shift pagi: macetnya, panasnya. Saya rehat sejenak sebelum menatap layar komputer untuk beberapa jam ke depan. Sesudah sebats saya mencomot Cola dari kulkas koperasi. Ya bisa bayar besok atau besoknya lagi. Terima kasih untuk Mbak Yani selalu mau terima kasbon. Saya bawa Cola itu dan bersiap ngendon depan komputer. Saya tidak cek handphone daritadi, saya masukkan saku. Tidak ingin terlalu terdistraksi dengan WhatsApp atau Instagram -- dunia maya bisa ditunda. Saya coba fokus di kerjaan, tapi entah kenapa masih belum konsen betul. Padahal sudah beberapa tegukan Cola mengisi lambung, juga cegukan-cegukan kebahagiaan yang hanya bisa dirasa pencandu soda tingkat akut. Karena masih terbayang busuknya jalanan tadi, saya tidak punya pilihan lagi selain mengeluarkan ponsel. Hidupkan data, dan seperti yang sehari-hari kamu alami: jutaan pesan -- kalau saya boleh sedikit hiperbolis -- beruntun masuk dengan derasnya. WhatsApp selalu begitu. Andai saja chat grup bisa sedikit lebih bermakna. Lalu dari beberapa grup yang saya ikuti, beberapa yang paling berisik adalah grup keluarga. Grup keluarga besar saya ada dua: satu keluarga besar ibuk dan satunya ibuk juga, cuman beda nasab atau garis keturunan. Jadi, beda eyang lah istilahnya. Dari grup-grup ini saya tahu -- kamu pun juga pasti tahu -- kalau bahaya hoax yang dikoar-koarkan orang-orang ternyata memang ada. Hoax yang benar-benar militan.  Disebar sama orang yang kamu kenal dekat. Kamu tidak berani untuk menegur, apalagi memberi tahu kebenaran. Bahkan, kapasitasmu sebagai buruh berita di media -- yang terverifikasi dewan pers -- tidak serta-merta bikin nyalimu memuncak untuk bilang: budhe, pakdhe, itu kabar hoax. Kamu lalu hanya diam saja -- bisanya memang begitu demi kesopanan -- dan melihat chat grup lain, yang kadang sama omong kosongnya. Menemukan fitur bisu di grup WhatsApp bisa jadi salah satu penyelamat hidup yang mungkin memang dari sononya sudah sumpek. Saya lalu merasa muak dan mual sendiri, kembali menaruh ponsel di meja. Saat akan mengetik, ponsel saya berbunyi. Ah, mungkin dari pacar. Penasaran sedikit, saya lirik sebentar. Saat melirik itulah mau tidak mau saya langsung fokus 100% pada ponsel, dan sadar tidak sadar mengenyahkan pekerjaan barang sebentar. Tertulis jelas di notifikasi: chat dari Mas Nuran Wibisono.

Kamu tidak salah baca. Ya, Nuran si jurnalis rock and roll -- atau hair metal -- super brengsek itu. Penulis musik ugal-ugalan kebanggaan Jember. Calon duta Guns N' Roses kawasan Asia Tenggara. Propagandis hair metal nomor wahid yang membuat band macam GRIBS, Sangkakala, dan gerombolan hair metal lokal lainnya, tetap percaya pada celana ketat dan rambut gondrong; gerombolan riang gembira yang merasa survive, karena karyanya selalu dicintai seorang Nuran -- penulis dengan kepercayaan diri tinggi pada apa yang disukainya. Ya, benar sekali. Nuran adalah penulis musik idola saya.

Sesudah bertanya kabar kabari dan lain sebagainya, dan saya balas dengan rasa tidak percaya dan menebak-nebak arah tujuannya, akhirnya Nuran bilang to the point.

"Kamu mau nggak ngisi bedah buku baruku di c2o?" tanyanya.

Tenggorokan saya serasa ingin minum air perasan jeruk lemon.

"Moderatornya Ayos Purwoaji." Nuran menambahkan.

Saya langsung mengambil air mineral di pantry. Lupa kalau di sebelah ada Cola.


***
Nuran Wibisono adalah penulis blog yang sudah saya ikuti sejak bandel-bandelnya masa SMA. Kalau tidak ada tulisan beliau, saya tidak akan bisa ikut menulis juga di blog kecil ini. Saya kenal dia waktu tidak sengaja nyasar di portal berita antah-berantah, pada tulisan -- yang kalau tidak salah -- berjudul 'Menulis Musik'. Pembukanya ciamik, mencomot daftar lima pekerjaan impian Rob, tokoh di film -- dan novel -- High Fidelity. Salah satu mimpi Rob: jadi musisi. Selanjutnya: jadi wartawan musik di New Musical Express atau NME. Nuran lalu menggiring saya ke dunia yang belum pernah saya tahu -- mungkin tahu tapi masih kurang dalam: dunia menulis musik. Ini orang keren, pikir saya. Meskipun tulisannya agak sok tahu  (mungkin karena waktu itu saya belum tahu apa-apa yang diketahui Nuran). Dari situlah saya paham sebuah profesi yang benar-benar menyenangkan bagi anak band gagal seperti saya: jadi penulis musik atau wartawan musik. Kurang ajar. Tulisan ini secara langsung -- dan tidak langsung -- membuka cakrawala saya yang masih sangat terbatas. Tahu-tahu saya nyasar di blog pribadi Nuran, dan hampir sudah membaca semua tulisannya (saya bahkan pernah baca kaburnya dia ke Gili Trawangan cuman gara-gara putus cinta). Yang saya tahu kemudian, dari Nuran-lah pintu gerbang menuju dunia tulis-menulis musik terbuka. Blog Nuran berisi banyak link ke blog lain. Semuanya seru dan hampir semuanya menulis tentang musik. Sampai saya nyasar di sebuah situs humaniora yang masih hangat: JakartaBeat. Di situs ini, Nuran juga ikut berkontribusi. Selanjutnya, perlahan-lahan kenal dengan tulisan penulis lain seperti Taufiq Rahman, dan Phillips Vermonte. Saya lupa nama penulis lainnya di Jakbeat, tapi tiga orang itulah yang selalu saya baca tulisannya dari awal sampai akhir, dari naskah paling lapuk sampai paling baru. Esai Taufiq Rahman bahkan sudah saya jadikan bahan skrpsi. 

Dari aktivitasnya di Jakbeat, Nuran kemudian aktif menulis di Tirto.Id -- sebuah situs berita yang menurut saya jadi yang pertama kali mempopolerkan infografis di Indonesia. Aura bengalnya masih sama; tulisan Nuran renyah dan mengenyangkan. Tapi tidak terlalu berat. Seperti menyantap Paket Panas 1 di McDonalds. Salah satu tulisannya tentang Nike Ardila, benar-benar mengambil sudut pandang baru. Bukan menyoroti sosok Nike sebagai legenda, tapi efek yang ditimbulkan sesudah kematiannya. Fokus pada fans sejati Nike, yang setiap tahun mengadakan ziarah. Kata Nuran: "Ini sudah seperti sebuah agama, dengan ritual wajibnya." Musik -- seperti yang Nuran dan saya yakini -- memang bisa menimbulkan efek sosial yang luar biasa. Kalau kata Taufiq Rahman: "Menulis musik adalah menulis tentang manusia", maka Nuran sudah berhasil meramu sisi humanis dari tulisan bertema musik.

Sebelum menulis di media, karya-karya Nuran di masa bengal (mungkin waktu masih gondrong) sangat-sangat menyentuh hati nurani. Nuran tidak memposisikan diri sebagai begundal tengik seperti Rio Tantomo -- ini 'guru' saya yang lain -- tapi cenderung apa adanya. Pernahkah kamu kepikiran untuk membuat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Demi Satu"? Hanya Nuran yang segila itu. Lalu, kekonyolan lain adalah saat semua penulis musik berlomba menulis album terbaik di tahun ini -- seperti ritual media musik pada umumnya -- Nuran malah menjadi 'punk' dan menolak sama. Ia dengan bangga mempersembahkan daftar album terburuk tahun ini, dan siap dimaki-maki semua orang: terutama Ungu Cliquers dan fangirl Sigit Purnomo alias Pasha. Jelas ini tidak pakai teknik-teknikan: nulis ya nulis saja. Super subjektif. Sengak dan songong, tapi sekaligus cerdas. Apa yang kamu pikirkan saat mendengar band bernama 'Asbak Band'? Hanya Nuran yang berani menyarankan band itu untuk ganti nama lebih dulu, sebelum rilis album baru. Saya tidak mengesampingkan karya Nuran yang lain di luar tulisan musik (food writernya tentang warung makan juga keterlaluan biadab bagusnya, apalagi kisah tentang 'on the road' versi Nuran yang doyan backpacker). Tapi karena ini sedang fokus pada tulisan musik, maka saya hanya akan berfokus pada Nuran dan karya tulisan musiknya saja.

"Gimana? Mau nggak?" Nuran bertanya lagi. Itu sesudah saya mencoba ruwet, melempar kesana kemari dengan alasan sungkan, kurang pede, kurang kompeten dan lain sebagainya. Saya lalu menelfon Rona Cendera, editor senior Ronascent Webzine.

"Wancuk! Terima aja! Kesempatan!" katanya. Entah kenapa harus berteriak-teriak di telfon. Saya lalu mencoba mengopernya pada Mas Rona.

"Sek sek" ujarnya. "Moderatornya siapa?"

"Ayos. Ayos Purwoaji." 

"Cok! Emoh sungkan! Orang besar itu. Awakmu ae!" 

Bangsat. Saya sebenarnya tidak kenal Ayos, hanya suka mendengar namanya saja. Cukup disegani di ranah seni rupa, dan sempat aktif di dunia kepenulisan. Sebelumnya saya malah sempat mampir ke acara Biennale Jatim, disitu Ayos berperan sebagai kurator. Melihat tindak-tindak Ayos yang punya nama besar, dan Nuran yang hampir setara dengan Rudolf Dethu di kancah propagandis hair metal nusantara, saya jadi agak segan. Tapi ini adalah kesempatan bagus: lagipula saya belum beli bukunya -- masih menabung untuk beli yang hardcover seharga 150 ribuan. Akhirnya saya menyanggupi. Pikiran saya waktu itu: kapan lagi bisa sedekat ini dengan idola. Plus kemungkinan bisa dapat buku gratisan. Saya pikir bukunya lumayan worthed juga untuk dimiliki. Akhirnya saya mengiyakan tawaran Nuran. Saya yang belum baca bukunya, sedikit malu-malu kucing ingin 'membacanya' dulu. Tapi Nuran sepertinya membaca pikiran saya.

"Minta alamatnya. Nanti aku kirimin bukunya." 

Oh yes. Alamak di tanggal hampir mendekati tua, dapat kiriman buku gratis. Tapi dengan bodohnya sesudah mengiyakan saya kepikiran hal lain. Otak saya langsung kosong. Brengsek, mau ngobrolin apa nantinya di bedah buku. Cola di meja saya tandaskan. Luar biasa, saya belum mengerti harus bicara apa tapi sudah mengiyakan saja. 

Kebuntuan ini terjadi sampai jelang hari H tur buku Nuran di Surabaya. Karena banyak pekerjaan, saya sampai hampir lupa kalau ada bedah buku hari Minggu. Sampai di suatu sore, dengan sepatu saya yang mamel karena hujan di jalan, saya masuk ruangan kantor dengan gontainya. Mbak Maria, salah satu penyiar yang sedang melalukan hobi ceriwisnya di dekat meja makan, menyapa saya sambil sedikit berteriak.

"Tit, ada kiriman buat kamu. Kutaruh mejamu, ya."

Dalam hati saya langsung berdenyut 'deg'. Asu. Saya lupa kalau hari Minggu ada bedah buku, dan ini pasti kiriman dari Nuran. Ternyata benar. Tapi dasar otak saya memang sedungu itu, sesudah saya buka paket saya malah keasyikan membaca dari awal bukunya. Membaca tanpa sadar saja tahu-tahu sudah hampir separuh. Kemudian ingat lagi. Asu. Bedah buku Minggu. Lalu sampai di kos saya baca lagi sampai ketiduran, dan lupa lagi esok harinya. Buku saya bawa ke kantor, saya tuntaskan sampai habis. Mau tidak mau saya harus ingat, karena besok acara bedah buku itu sudah dijadwalkan. Saya sudah ditawari Rona untuk cangkruk, membahas materi yang setidaknya bisa saya sampaikan. Tapi Rona hampir belum pernah baca tulisan Nuran, jadi mungkin bisa sharing tentang geliat musik di Surabaya saja -- topik obrolan favorit Rona selain meniduri salah satu personil The Corrs. Alhasil, saya berpikir tidak muluk-muluk: saya akan hadir sebagai penggemar, yang mengapresiasi Nuran, itu saja. Dan inilah jeleknya saya: untuk acara dari penulis sebesar Master Nuran, saya tidak merangkai kata-kata apapun: cul-culan. 

"Wis gampang. Lihat besok saja. Nanti aku bantu kalau ada hal yang bikin awakmu kesulitan." ujar Rona.

***

Hari Minggunya, saya harus ke kantor dulu mengisi ruang-ruang berita untuk dibacakan awak gatekeeper. Bedah buku dimulai pukul tujuh, tapi pukul enam kerjaan masih belum kelar. Nuran sudah saya kontak, katanya berangkat ke c2o pukul enam, bersama Ayos. Setelah selesai semuanya, saya sudah siap-siap menjunjung tas, ndilalah di depan pintu ada Mas Iman Dwihartanto -- penyiar legendaris Kelana Kota Suara Surabaya, sekaligus Manager Newsroom. Saya agak sedikit sungkan kalau langsung pamit. Akhirnya saya duduk-duduk dulu dekat Mas Iman. Nah, di sini sepertinya Mas Iman bisa membaca pikiran saya, dan langsung memberi saya sedikit pelajaran tentang 'public speaking'. Padahal beliau tidak tahu sebentar lagi saya akan mengobrol ria di bedah bukunya Nuran.

"Keep smile face. Jangan cemberut. Usahakan kamu 'senyum' waktu ngobrol. Itu penting. Mempengaruhi pembawaanmu. Nanti kapan-kapan aku ajari teknik announcing lagi." Mas Iman melihat arloji. "Eh, apa sekarang saja belajarnya di ruang rekaman?" tanyanya. 

Saya yang memang sedang buru-buru menjawab seadanya: "Next time deh, mas. Buru-buru nih, ada acara."

"Oh, ok, ok. Santai. Mau berangkat sekarang? Hati-hati, loh ya. Lagi hari libur."

Saya langsung bergerak cepat ke c2o. Jaraknya hanya seperlemparan batu dari kantor. Tinggal turun sedikit, lewat beberapa lampu merah, lalu sampai. 

Sampai di sana, Mbak Yuli dan Charlie--atau siapa nama kucing itu--menyambut saya. 

"Mas Nuran lagi di dalem, silahkan silahkan!" ujar Mbak Yuli. Saya tidak sempat menengok buku-buku baru. Lalu sesudah mengasap Black Menthol sebentar di luar (dengan tanpa terasa sudah habis tiga batang di asbak), Nuran lalu WhatsApp saya

"Masuk aja. Ada temen-temen juga nih!" 

Saya lalu memasuki mini bar di c2o. Ada bercangkir-cangkir kopi hitam di meja, dan puntung rokok yang berceceran. Kharis Junandharu dari Silampukau juga ada di sana, dengan kaus merah lengan panjang yang biasa dipakai pas manggung. Ada juga basis Hi-Mom! yang bergaya cukup flamboyan: menebalkan bulu cambang dan pakai topi ala anak kampus kesenian. Ayos Purwoaji, si moderator kemudian sedikit ngobrol-ngobrol dengan saya. 

"Aku belum mbaca bukunya. Nanti tak lempar-lempar saja ya," ujarnya.

Saya lalu lanjut bercakap dengan Nuran. Untuk pertama kalinya kami berjumpa. Saya melihat Nuran sebagai sosok yang lumayan tambun, tapi gagah. Mungkin berbeda dengan foto-foto yang dipamerkan di blognya saat dia sedang travelling beberapa tahun silam. Nuran sudah punya bini. Jadi mungkin agak terlihat seperti bapak-bapak. Pakai celana 3/4, kamu tidak akan sadar kalau dia adalah penulis jempolan. Tapi saya ragu apakah benar dia propagandis hair metal nomor satu Indonesia, karena dia pakai kaus Seringai. Haha. 

Lalu satu-persatu pengunjung mulai datang. Saya, Nuran dan Ayos berada di depan. Hanya gelar tikar seadanya, dan itu lebih bisa bikin suasana jadi lebih intim dan hangat. Ada sekitar 5-6 orang yang hadir. Dan terus berdatangan kira-kira sampai belasan orang.

Nuran lalu sedikit bercerita tentang bukunya. Hanya gambaran kecil saja. Dulu Nuran sangat doyan dengar Guns N' Roses, lalu bersama Ayos, membuat blog pribadi. Saya sempat membuka blog bernama 'muntah berak'  milik Nuran. Isinya sangat raw, personal, ngehek, dan banyak berisi indahnya kenakalan masa muda. Selain tentang musik, blognya juga berisi sumpah serapah, dan perjalanan cintanya bersama beberapa perempuan (khusus yang ini saya khawatir akan terlalu paham kehidupan pribadi Nuran karena ia selalu tulis apa saja di blog).

Kehidupannya berubah sesudah Phillips Vermonte, founder JakartaBeat, mengontak dirinya untuk menulis di website JakBeat yang baru seumur jagung. Ini dibahas tuntas di Kata Pengantar yang ditulis Mas Phillips. Tulisan Nuran begitu 'kotor'. Pemuda brengsek yang tidak sungkan buat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Per Satu" di blognya ini, membuat tulisan brengsek sejenis di JakBeat. Tulisan di awal-awal karir Nuran di JakBeat sih masih bisa dibilang 'lembut' dan 'elegan'--membahas John Mayer. Tapi lama-kelamaan keluar 'aslinya'. Selama dua tahun Nuran membuat tulisan "5 Album Terjelek 2009" dan "5 Album Terbaik 2010". Ini saat media musik lain seperti Rolling Stone sedang asyik menuliskan album terbaik sepanjang tahun. Dasar bajingan, tulisan ini sungguh tidak punya bobot objektivitas. Murni subjektivitas seenak udel Nuran, dan seenak jembutnya mengata-ngatai album dari Asbak Band, Ungu, The Harry Potters, The Bagindaz, dan band lain yang sama menye-nya. 


Saya yang baru berkenalan dengan Rolling Stone kisaran tahun 2011, jadi agak terganggu. Pikir saya, jurnalis atau penulis musik harus muluk-muluk. Harus pintar seperti Hasief Ardiasyah atau Wening Gitomartoyo. Pintar di sini dalam artian terkesan intelek, cenderung snob, dan punya milyaran referensi musik keren seluruh planet. Tapi sesudah baca Nuran di JakBeat, saya pikir penulis musik bisa ngehek juga. Bisa seenaknya juga. Tulisan-tulisan Nuran-lah yang kemudian memicu saya untuk mulai menulis juga. Patokan saya turun drastis. Nuran begitu seenaknya dan peduli setan: semua karya jelek ya jelek, dan dia tidak sungkan untuk menghina (saya bahagia dia mencaci-maki Ungu). Dan itu lebih terasa fun, menyenangkan. Memang kadang Nuran menghasilkan tulisan yang lebih berbobot, misal saat menulis tentang The Doors dan 'hair metal'. Tapi nuansanya sama: ringan dan asyik. Tidak membuat kepala terlalu banyak berpikir, malah ingin segera mencari band atau lagu apa yang menurut Nuran bagus. Bukankah begitu tujuan menulis musik? Saya lalu menyadari satu hal: tulisan Nuran menyenangkan karena dia hanya menulis tentang band-band yang dicintainya. Tulisan musik yang hidup erat kaitannya dengan selera. Dan saya setuju itu. Alhasil, tulisan Nuran di blog-nya atau JakBeat, jadi salah satu pemicu saya untuk membuat zine perdana.


***
Zine perdana saya adalah kumpulan tulisan anak muda sok pretensius yang sok mahir bermain alat musik dan sok idealis ingin bikin band yang super-duper hipster dan sok menolak selera kampungan macam screamo, tapi akhirnya gagal dan membusuk bersama dua edisi Rolling Stone dan lembaran-lembaran zine milik abang saya yang diperam sejak tahun 2000-an. Zine yang berani-beraninya dan dengan pedenya menjuluki diri sebagai digital rock zine (karena diproduksi pdf), dan total terpengaruh zinemaker asal Bandung Jiwa Singa (produsen Nobody Zine), tapi dengan gaya tulisan yang alamak sok cerdas dan berlipat pedenya. Patokan saya: Nuran Wibisono. Zine bernama Throwzine ini berhasil mewawancarai band lokal, dan seakan-akan dalam pandangan saya sudah jadi zine rock professional yang bisa membuat goyah Jann Wenner. Bangsat, saya terkikik saat mengingat ini. Atas jasa-jasa Nuran-lah saya berani menulis di media sendiri, dan akhirnya memberanikan diri mengirim naskah ke JakartaBeat. Saya kelas tiga SMA waktu itu, dan tiga tulisan tentang Green Day yang saya tulis, yang saya anggap punya kelas seperti Rob Sheffield atau David Fricke di rubrik review Rolling Stone, yang saya pikir akan mengubah dunia, semesta, dan jadi sejarah di jurnalisme musik, ternyata hanyalah seonggok sampah yang mungkin tidak dilirik oleh Phillips dan Taufiq, editor JakartaBeat. Tulisan yang kalau saya baca ulang sekarang, akan terlihat memalukan dan tolol, sok elitis dan sok punya selera musik bagus. Brengsek benar. Saya sudah melangkah terlalu jauh dari apa yang diterapkan Nuran: kesederhanaan dan ringan. Tiga tulisan tadi kemudian masuk di zine saya yang kedua, yang entah apa namanya (saya memutuskan tidak pakai nama Throwzine lagi), tapi tidak lolos kurasi JakBeat membuat saya sedikit sedih dan hampir patah arang. Apa kurangnya? Lalu saya memutuskan berhenti menulis sejenak, dan mengamati gaya-gaya penulisan tabib-tabib jurnalisme rock. Tidak ada yang lain lagi: blog Nuran Wibisono jadi tujuan akhir.

Sebelumnya, saya mengamati tulisan Taufiq Rahman yang sangat-sangat bagus, dan saya langsung menyerah. Saya tidak punya kecerdasan kritis macam Taufiq untuk hasilkan tulisan bermutu seperti itu. Otak saya masih sangat kurang. Lalu Ady Renaldi (di saat dia menulis tentang hubungan album Taring Seringai dan dihubungkannya dengan logical phallacy atau apalah), saya malah tidak nyambung. Saya ingin belajar dari pengisi kolom JakBeat tapi mengapa tidak ada yang bisa saya cerna dengan baik. Apalagi Arman Dhani. Saya menyerah dan akhirnya membuka lagi tulisan mahaguru utama saya: arsip tulisan Nuran Wibisono di JakBeat dan blognya saya babat habis--semua tulisan, tanpa kecuali, termasuk puisi lucu-lucuannya. Tanpa disangka, ada satu tulisan yang menginformasikan tentang pemesanan buku. Di situ tertulis nomor rekening Nuran, dan nomor ponselnya.

Aunnurahman Wibisono - 08xxxxxxxxx

Fuck! Tanpa tunggu esok pagi saya langsung SMS si mahaguru. Basa-basi dan akhirnya mengakui: tulisanku nggak diterimo JakBeat, mas. Lalu Nuran menjawab singkat: kenapa kamu kok pengen nulis di Jakarta Beat?

Saya tidak tahu. Betul-betul tidak tahu. Nihilisme tulen. Saya merasa hanya menulis karena ikut-ikutan review keren Rolling Stone saja. Padahal saya tahu, jadi keren tidak bisa hanya dengan ikut-ikutan. Sejak hari itu saya mulai berpikir kalau tulisan musik harus punya nyawa. Nuran bisa menulis 'hair metal lebih baik dari grunge' karena dia mungkin kesal atas kehadiran Nirvana yang menggeser dominasi Guns N' Roses. Taufiq mungkin kesal pada Phillips yang menganggap Nevermind The Bollocks sebagai album punk terbaik, bukan Marquee Moon dari Television. Semua penulis punya kekesalannya masing-masing.

Saya akhirnya merasa tulisan saya kurang satu hal yang amat sangat penting: kegelisahan. Ini membuat tulisan saya kering, kosong, hanya berusaha meng-keren-kerenkan kata, menyamakan rima, mengutip diksi-diksi keren as fuck untuk gambarkan jenis musik. Tidak ada isinya. Hampa tanpa gagasan.


***



Nuran duduk di sebelah saya. Di sampingnya ada Ayos Purwoaji. Sementara di depan kami ada beberapa orang yang punya minat sama: menulis musik. Salah satunya Kharis Junandharu dari Silampukau. Ini hari Minggu di akhir bulan, di luar mendung. Kopi dan snack disediakan Mbak Yuli penjaga C2o, untuk disambi sembari diskusi. Ini seperti hal yang sureal: kamu duduk di sebelah penulis yang membuatmu ingin menulis musik, dan saat ini kamu dan dia menjadi pembicara untuk diskusi menulis musik. Saya mewakili Ronascent--webzine musik indie lokal tempat saya menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir, sementara Nuran membawa buku terbarunya: 'Nice Boys Don't Write Rock N' Roll'. Saya didapuk untuk menanggapi tulisan Nuran, dan sedikit berbagi tentang jurnalisme musik. Saya tidak tahu apa-apa, masih bodoh. Tidak punya draft atau bahan apapun untuk dibawakan. Saya tidak tahu teori menulis musik yang baik dan benar. Selama ini di Ronascent, saya selalu menulis untuk senang-senang: tidak bertendensi apapun. Saya menulis suka-suka belaka. Tanpa tuntutan profesi. Inilah yang jadi bahan bakar saya untuk selalu menghubungkan naskah musik dengan kegelisahan. Ini nikmat. Saya suka mendengarkan musik, dan saya kadang muak dengan dunia. Saya menulis kegelisahan itu, dan hubungannya dengan musik. Saya malas dengar band-band sok pretensius dan jelek seperti Foster The People, dan saya menuliskan semuanya di saat semua orang menganggapnya sebagai jenius tiada tara yang berhasil bla-bla-bla fuckin' psychedelic! Saya bisa bicara bersama Nuran, justru karena membaca tulisan-tulisan Nuran.

Saya sendiri agak lupa sudah mengobrolkan apa saja, pun juga petuah-petuah Nuran yang malam itu lebih banyak guyonnya. Pembahasan agak melebar ke arah bisnis musik dan era musik digital tapi bisa diantisipasi dengan baik oleh moderator. Satu yang saya ingat: ini adalah malam yang menyenangkan. Sesudah satu jam lebih kami membahas jurnalisme musik dan hal-hal di sekitarnya, Ayos menyudahi diskusi dan mengadakan sesi tanda tangan. 

"Ke Biennale nggak? Ayok bareng, sama aku, Nuran juga ikut." ujar Ayos. Dia sebenarnya jadi kurator Biennale Jatim tahun ini. Di malam penutupan yang seharusnya dia wajib hadir, sahabatnya, Nuran Wibisono malah mendaulatnya jadi moderator diskusi. Pilihan yang mudah karena tentu saja Ayos memilih acara Nuran. Masih pukul sembilan. Penutupan Biennale mungkin tersisan dua jam lagi. Saya dan awak Ronascent segera meluncur ke Gedung Prabangkara, menyusul Ayos dan Nuran.

***

Saya langsung menghampiri Nuran yang duduk di joglo depan Prabangkara. Ayos hilang entah ke mana, menyusul si Kharis yang berlalu-lalang seenaknya saja tanpa seorang pun tahu dia dedengkot Silampukau. Musik DJ mengalun kencang dan brengsek. Apa-apaan. Kenapa di perayaan penutupan pameran seni ada musik EDM Party kencang bertajuk perform art? Saya tidak mengerti dan sekarang saya hanya ingin mengobrol lagi dengan Nuran. Sambil teriak-teriak karena saking kencangnya suara, saya bertanya beberapa hal. Nuran juga sambil teriak-teriak dan kadang mendekatkan mulutnya ke kuping saya, menjelaskan tentang suatu hal.

"Tirto buka lowongan reporter. Coba aja kali aja minat." Ujar Nuran. 

Saya berpikir keras, keluarkan rokok putih dan membakarnya. Saya belum tahu hidup mau dibawa kemana, tapi untuk ke Jakarta, saya rasa belum saatnya. Kami lalu membahas banyak hal lagi, diselingi musik disko yang begitu brengseknya. Bisa apa saya. Lalu datanglah pejabat-pejabat Ronascent: Rona Cendera - editor, dan Ian Darmawan, public relations (ya sebut begitulah biar kelihatan keren dikit). Saat keduanya datang, Nuran langsung menghilang, entah mencari Ayos atau Kharis. Saya dan kru Ronascent langsung menuju kantin di pojokan untuk pesan satu gelas kopi dingin pembunuh kantuk. Saat sedang membicarakan hal-hal remeh-temeh Nuran datang dengan muka kusut: Ayos tidak ketemu. Dia langsung duduk di sebelah saya, dan memesan Indomie. 

"Oh ini timnya Ronascent?" tanya Nuran. Kami sebagai penulis musik lokal merasa seperti ditanya oleh jurnalis hair metal legendaris. Sambil diselingi kopi, udud, dan gorengan, kami mulai membahas apa saja tentang media musik. Rona dan Ian juga berkali-kali bertanya, mumpung ada pakarnya.

"Sekarang susah. Media cetak sudah gulung tikar semua. Kemarin, Trax, HAI..." kata Nuran.

"Sayang banget, ya Mas. Trax lumayan keren sih isinya menurutku." ujar saya menanggapi.

"Iya, penyeimbang Rolling Stone lah ya."

"Haha, itu Trax langsung tutup habisnya Rio keluar ya."

"Rio? Oh, Rio Tantomo? Kon kenal?"

"Sempet beberapa kali ngobrol. Haha brengsek sih dia. Tapi bagus."

"Aku ndak kenal sih, cuman tau aja. Gonzo dia."

"Iya, nulis Burgerkill pakai ganja pas tur, eh Ebenz dkk protes. Pantes keluar tuh si Rio." saya tertawa.

"Lahyo, jarene rock and roll, metal, ditulis ora wani." Nuran juga tertawa sambil mengecap Indomie-nya.

Kami lalu membahas industri media lagi, yang makin hari makin ditinggalkan. Semua orang bisa menulis di akunnya masing-masing. Semua orang bisa bikin media sendiri. Di saat seperti itu, kami--yang semuanya jadi buruh media dan budak naskah--harus siap seandainya radio, koran, atau media apapun tempat kami bekerja mendadak tutup. Kelihatannya tidak mungkin, tapi apa salahnya siap-siap. Sejumput rokok kami bakar--kecuali Nuran--untuk membunuh perasaan ini. Kami sudah terjerumus dalam media, wartawan, jurnalis: dan seperti kata Sudjiwo Tejo; sekali kamu jadi jurnalis, kamu tidak bisa meninggalkannya, seumur hidup. Jurnalis itu candu.

"Wis rek, mbayare iki ae." ujar Nuran yang berdiri dan serahkan sejumlah uang pada penjualnya. 

"Arek-arek kabeh, totale pinten?"

Kami hanya cengar-cengir. Dalam hati sedikit menggumam: ini penulis hair metal paling membumi dan murah hati yang ada.

Thanks, Mas Nuran Wibisono. See you next time!

Tuesday, November 1, 2016

Jejak Sang Begawan


Langsung dari Pulau Dewata, begawan tata bahasa Unesa mengungkapkan sejumlah besar rahasianya. Betapa hidup memang serba kebetulan dan penuh perjuangan: Diding Rohaedin bercerita apa adanya dibalik balkon hotel kelas melati. Oleh Tito Hilmawan Reditya

Perawakannya kecil. Tubuhnya agak tambun. Kumisnya tipis-tipis. Tatapan matanya lurus-lurus saja. Bijaksana ia dari bahasa dan gaya bicara. Asli Jawa Barat, Bandung tepatnya. Menetap di Surabaya lebih dari tiga puluh tahun. Begawan bahasa Unesa yang paling banyak malang melintang mendampingi penelitian mahasiswa di luar pulau: Diding Rohaedin.

“Rokok sekarang berapa harganya?” 

Ia bertanya sesaat setelah mengamati bungkus rokok putih Lucky Strike yang berserakan di meja. Kami berada di balkon salah satu hotel kelas melati dekat stasiun Ubung, Bali. Duduk berdampingan menatap apapun yang terhalang pohon dan bangunan Pulau Dewata yang tak pernah terlalu tinggi itu. Hanya dibatasi meja.

“15-ribuan, Pak.” Saya menyahut. Pecandu Indomaret lain juga tahu akan hal ini. Kecuali penggemar eceran, Indomaret dan 15-ribu untuk sebungkus rokok sudah jadi tabu.

“Bapak nggak ngerokok?” Saya bertanya.

“Hahah, saya nggak ngerokok.” Ia melanjutkan. Ceritanya straigt edge lifestyle.

“Dulu, jaman dulu sekali saya pernah ngerokok, iseng aja itu. Di dalam kereta waktu itu temen-temen saya banyak yang ngerokok. Ah, saya pikir daripada saya hanya menghirup asapnya saja, mending saya ikutan.” Kenangnya.

Di jaman dulu rokok yang sedang nge-hype adalah merek kretek dari Djarum, bukan rokok mild murah dengan kemasan ngejreng yang digemari muda-mudi.

“Kretek itu saya coba. Enggak kuat saya, rasanya merokok kok seperti ini. Nggak enak, jadinya saya nggak pernah merokok setelah itu.”

Acap kali yang keluar dari mulut Pak Diding beda jauh dengan apa yang ia ajarkan dalam kelas. Tata bahasa baku, kalimat sempurna, morfologi, fonologi, morfem dan apa itu namanya yang mungkin hanya dihafal mahasiswa tingkat akhir yang mengambil tema kebahasaan dengan buku diktat setebal kitab Sun Go Kong. Tapi saat perbincangan, tak pernah ada hal-hal kaku membosankan semacam itu. Pak Diding adalah tokoh fleksibel yang mudah kita ajak bicara. Layaknya teman-teman lama yang kita temui saat nongkrong di warung kopi sederhana tepi jalan. Enjoy, rileks, menyenangkan. Tiada batas dosen-mahasiswa. Begawan-medioker. Berumur-masih hijau. Sekat itu meluntur sejak awal perbincangan.

“Dji Sam Soe juga dulu banyak yang suka. Banyak yang ngerokok itu.” ujarnya.

Beliau juga paham menjelaskan bahwa Dji Sam Soe adalah rokok tanpa filter. Sementara kebanyakan merek rokok memakai filter.

“Itu pasti rasanya beda.”

Dari beberapa kamar di sebelah yang sebagian berisi mahasiswa Unesa yang besoknya akan menuju daerah Penglipuran, Bali untuk melakukan penelitian, saya dan Pak Diding kembali berbincang. Kemeja flannel saya masih menggantung, dan beliau hanya memakai singlet putih. Kegerahan. Hotel kecil yang saya tempati tak memberi dampak kebahagiaan ataupun kesenangan apa-apa. Kasur yang tak seberapa empuk, pendingin ruangan yang bermasalah, selimut ala kadarnya juga paling membuat kami—saya dan Pak Diding—tak betah adalah siaran televisi antenna dengan channel kampungan yang hanya berisi pemujaan berlebih terhadap Mahabarata.

Dari kejauhan tampak temaram. Malam datang begitu cepat. Banyak hal yang dilalui seharian ini yang membuat mulut menguap, cepat. Perlahan tapi pasti rasa kantuk itu datang. Tapi tidak dengan cerita-cerita Pak Diding. Malam masih panjang. Dan ini baru saja dimulai.

Dari balkon tempat kami berada, terlihat banyak muda-mudi sedang asyik berduaan. Mengukir kisah tak peduli di gang-gang Kuta, pantai penuh turis, sampai malam ini, depan kamar hotel.

“Itu seneng banget keliatanya, cowok menghampirin cewek.” Beliau membuka percakapan. Ada rasa Sunda dari logat dan suaranya.

“Saya dulu tak pernah seperti itu. Tak pernah ada pacar-pacaran gitu.”

Waktu Indonesia Bagian Timur seakan melambat dengan cerita Pak Diding. Saya semakin tertarik.

Pak Diding adalah dosen muda. Di era generasi bunga 70-an, matinya Beatles dan gegap gempitanya Zeppelin dan Stones, beliau menjalani hidup ala lelaki jantan yang penuh semangat rock and roll. Di tahun-tahun kisaran 70-an inilah Pak Diding mulai hijrah ke Surabaya. Waktu itu kampus jurusan Bahasa Indonesia masih berada di Ketintang. Bisa kita bayangkan suasana Surabaya waktu itu masih amat panas, menggebu-gebu dan bising dengan AKA maupun SAS—unit rock indopahit kebanggaan Surabaya. Sebagai dosen muda, Pak Diding waktu itu masih indekost. masih mencari-cari kehidupan yang pas. Dan ternyata, menjadi dosen tata bahasa adalah jalan yang ia tempuh sampai hari ini.

“Waktu itu setelah saya selesai kuliah di Bandung, saya pindah mengajar di Surabaya.” kenangnya. “Dari situ banyak berjuangnya.” 

Suatu hari, di daerah sekitar Ahmad Yani, Pak Diding sedang mengendarai motor. 70-an adalah masa dimana memegang kendali mesin dan melepas-tekan kopling adalah sesuatu yang jantan. Safety riding sudah berlaku. Tapi kejadiaan itu diawali saat motor yang ditumpanginya harus mengerem mendadak karena suatu hal. Motor beliau oleng ke kanan dan...

Brak!

Beliau resmi mengalami kecelakaan perdana di Surabaya.

“Tangan saya rasanya kok gak enak gitu” (menunjuk tangan kanan) “Digerak-gerakkin kok kayak susah. Wah ini pasti patah.” ujarnya.

Beliau cepat tanggap mengetahui bahwa tangannya patah. Dulunya Pak Diding sempat bermain bola dan mengalami cidera. Tangannya patah.

“Dulu sewaktu di Bandung saya pernah patah tangan saat main bola. Jadi saya ngerti rasanya patah tuh gimana.” jelasnya.

Mungkin ini adalah alasan tak langsung mengapa jalan hidup beliau tak menjadi pemain Persib. Tapi semangat bobotoh sejati tetap ada dalam nafas, juga logat bicara.

Dari situlah kisah romansa Begawan tata bahasa dimulai. Saat sebelum peristiwa kecelakaan naas itu, Pak Diding sempat mendampingi mahasiswi untuk skripsi. Ada satu mahasiswi asal Ngawi waktu itu yang mengambil bahan skripsi penelitian bahasa Sunda. Ternyata sanak kerabatnya juga berasal dari Bandung. Atas dasar kesamaan daerah dan karena memang Pak Diding cukup paham bahasa Sunda, bimibingan pun terjadi. Tapi setelah beliau kecelakaan dan beritanya menyebar di kampus, segalanya seperti tak akan pernah sama lagi.

“Waktu itu saya sudah tak bisa melakukan apa-apa. tangan kanan saya tak bisa digerakkan. Berita kecelakaan saya sudah menyebar di dosen-dosen dan para mahasiswa. Saya bingung juga harus bagaimana. Makan sendiri tidak bisa. Cuci baju tidak bisa.  Pokoknya sudah tak bisa ngapa-ngapain.”

“Emang keluarga ibuk kos pada kemana, Pak?”

“Masak minta tolong mereka. Ha-ha. Pokoknya waktu itu saya sedang bingung-bingungnya.”

Pak Diding tinggal di sebuah indekost yang menyatu bersama rumah ibu dan bapak kost-nya. Waktu kecelakaan itu bapak kost jugalah yang membawa beliau berobat.

“Waktu itu saya minta diantar Bapak kos, ‘pak antarkan saya berobat’. Saya mintanya ke Rumah Sakit Dokter Sutomo, Karang Menjangan situ.” Beliau menjelaskan sambil menerawang masa-masa itu. “Tapi biayanya mahal sekali waktu itu. Dokter menyuruh operasi. Wah saya tak mau.”

Akhirnya Pak Diding hanya di gips dan disuruh istirahat. Ini adalah masa sulit. Pak Diding seakan tak berdaya. Tangan kanan sebagai penopang tak bisa dibuat apa-apa. Bahkan untuk menanak nasi pun kesulitan. Di saat itulah muncul sosok malaikat. Tanpa menyebutkan nama, Pak Diding menceritakan awal kisah cinta dengan istrinya, yang telah dinikahinya hingga saat ini.

“Sebelumnya saya sempat membimbing skripsi mahasiswi. Anaknya asal Ngawi. Ngambil skripsi tentang bahasa Sunda. Sedikit banyak saya mengerti lah. Jadilah saya pembimbingnya.” Terang Pak Diding.

Berita tentang musibah yang menimpa Pak Diding akhirnya sampai juga di lingkungan kampus. Mulai dosen, sampai mahasiswa, banyak yang tahu musibah itu. Termasuk juga mahasiswi yang kebetulan dibimbing skripsi oleh Pak Diding tersebut.

“Waktu itu saya bingung. Nggak bisa ngapa-ngapain. Apa saya pulang ke Bandung saja? Begitu pikir saya. Tapi tak berapa lama, mahasiswi saya itu datang ke kos. Seorang diri.”
Mahasiswi inilah kemudian yang merawat Pak Diding. Segala keterbatasan Begawan tata bahasa ini praktis dibantu oleh mahasiswi itu. Lingkungan kos Pak Diding yang menyatu dengan rumah keluarga yang punya kos membuat kunjungan tersebut aman-aman saja dan tak menimbulkan masalah berarti.

“Kosan saya itu gabung sama rumah bapak sama ibuk kos. Jadi walaupun nerima tamu cewek gitu ya masih bisa diawasi.” Jelasnya.

Dari awal tak pernah ada perasaan apapun. Hanya sebatas dosen dan mahasiswa. Tapi ketelatenan mahasiswi itu membantu Pak Diding mulai dari makan, mengambil sesuatu sampai mencuci membuat hubungan mereka semakin akrab.

“Saya belum pernah pacaran. Ha-ha. Bagaimana rasanya pacaran itu saya juga tak mengerti.” Ia berkata sambil terus memandangi muda-mudi depan hotel kami yang sedang asyik bercengkrama.

“Asyik kelihatannya.” katanya sambil tertawa. Saya tersenyum pahit saja. Kesendirian ini begitu busuk, batin saya.

Keakraban Pak Diding dengan Mahasiswi itu makin terasa saat Pak Diding memutuskan untuk pulang saja ke Bandung, berkunjung ke rumah keluarganya. Karena tangan kanan di gips, otomatis Pak Diding perlu bantuan. Jadilah mahasiswi tersebut ikut mengantar Pak Diding ke Bandung. Kereta menjadi pilihan mereka berdua menuju Kota Parahiyangan.

Pak Diding juga sempat bercerita bahwasanya mahasiswi ini adalah orang yang taat—alim istilahnya.

“Waktu itu saya tak sengaja menyentuh tangannya. Ia langsung menghindar dan bilang bukan muhrim. Jadi kesimpualnnya ini gadis baik-baik.”

Setibanya di Bandung dan ramah-tamah dengan keluarga besar, ada sedikit masalah.

“Saya menceritakan semuanya ke keluarga saya, termasuk si cewek itu. Dan mungkin ada sedikit tekanan bahwa hal seperti itu kurang pantas. Perempuan bersama laki-laki yang bukan muhrim. Akhirnya daripada menjadi aib, mending nikah siri saja. Hanya untuk menutupi aib.”

Pak Diding setuju, begitu pula si mahasiswi. Dilangsungkanlah pernikahan siri itu. Hanya sebagai formalitas karena setelah itu, si mahasisiwi kembali ke Ngawi dan Pak Diding masih di Surabaya.

“Saya nikah ya nggak ngapa-ngapain. Istri saya di Ngawi, saya di Surabaya sini. Jadi jauh-jauhan. Di Ngawi kata istri, banyak lelaki yang menghampiri dia. Tapi saya percaya saja, pasrah saja. Terserah dia mau pilih lelaki itu atau saya. Kalau jodoh kan emang nggak kemana. Makanya saya pasrah.”

Proyek nikah Pak Diding ini ternyata lebih sederhana dibanding mata kuliah yang biasa beliau beri di kelas. Andaikata nikah semudah itu, tentu kuliah akan jadi nomor dua. Istrinya ternyata masih menjaga ikatan perkawinannya, tak hanya di masa itu, tapi juga hingga saat tulisan ini ditulis. Cinta sejati, siapa yang mampu menolaknya?

“Ternyata dia tak menghiraukan lelaki-lelaki yang datang. Dia sadar sudah punya suami. Ha-ha. Ya sudah, baguslah. Saya juga dari awal percaya dia nggak bakal macam-macam, di Ngawi itu kan banyak kelaurganya, ada kakak-kakaknya, jadi pasti bisa menjaga adiknya yang udah kawin itu he-he.” tambah Pak Diding.

Lika-liku kisah cinta Pak Diding yang sudah diresmikan dan bertahan hingga sekarang mungkin akan terasa sedikit aneh jika diceritakan di masa kini. Saya hanya tertawa-tawa saja mendengar cerita beliau. Bagi saya—dan pastinya kebanyakan muda-mudi—hidup terasa begitu anjing tanpa pacar. Tapi Pak Diding membongkar mitos itu, mendekonstruksi ulang makna pacaran dan membuat konsep baru bahwasanya tanpa pacaran pun hidup normal-normal saja. Saya tersadar.

Kisah cinta ini berlanjut di Bandung. Entah bisa disebut kisah cinta atau tidak karena segalanya berjalan seperti guyonan. Seperti di film-film Warkop dimana kisah-kisah cinta malah terasa menggelikan. Dono dan Eva Arnaz adalah contoh yang baik dalam mengajarkan bahwa cinta sebenarnya hanyalah permainan dan iseng belaka. Tapi contoh yang lebih real hadir di samping saya sekarang: cerita legendaris Pak Diding.

Di Bandung pun mereka masih jauh-jauhan. Pak Diding di rumah keluarganya, sementara istrinya, tinggal di rumah sanak saudaranya di Bandung.

“Di Surabaya jauh-jauhan, di tempat yang sama, Bandung pun, masih jauh-jauhan. Ha-ha-ha.”

Kehidupan menyenangkan. Pak Diding menceritakan tanpa beban. Mengenang kisah kecelakaan tak pernah semenarik ini. Biasanya ada bumbu-bumbu sedih klise. Tapi beliau malah mengungkapnya di level kebahagiaan tingkat tinggi. Jelas mahasiswi inilah pemicunya. Dari sini saya bisa tahu, dari awal memang ada cinta yang terselip di hati keduanya, meski mereka tak pernah sadari itu.

Betapa hidup hanya iseng. Keisengan yang penuh perjuangan. Sekembalinya Pak Diding ke Surabaya, kos mungkin sudah terlalu lapuk bagi dosen muda seperti beliau. Ada tawaran yang menggiurkan di kalangan para dosen: punya rumah sendiri. Yang menggiurkan bukan itu, tapi hal dibaliknya: rumah dengan cicilan rendah.

“Waktu itu Pak Mulyono yang menyerankan saya punya rumah sendiri. Akhirnya lama-lama tergiur juga.”

Selanjutnya, Pak Diding memiliki rumah sederhana yang waktu itu masih dibangun dengan batako, bukan batu bata seperti rumah kebanyakan. Tiada barang. Rumah masih kosong. Dekorasi masih jelek. Banyak cerita dari rumah itu. Sampai-sampai Pak Diding merenovasi ulang rumah itu untuk ditinggali sanak saudaranya dari Bandung yang kebetulan kuliah di Surabaya.

“Setelah saya renovasi, saudara saya yang dari Bandung saya suruh tinggal disitu. Kebetulan banyak yang kuliah di Surabaya. Akhirnya rumah itu ada yang menempati.”

Perjuangan Diding tak berhenti disitu. Sempat juga beliau bercerita tentang mobil pertamanya. Mungkin waktu itu memilik mobil sudah dianggap tajir, kaya, dan berkelas. Sementara Pak Diding sebagai dosen muda sudah memilik mobil. Tentu ini menjadi perbincangan di kalangan dosen.

“Contohnya pas saya beli mobil itu. Banyak yang ngomongin di kampus, yang beginilah, yang begitulah.”

Pak Diding memiliki mobil bukan untuk pamer, bukan juga untuk alasan muluk-muluk.
“Waktu itu ‘kan lagi musim hujan, wah saya nggak bisa ini kalau naik motor hujan-hujan. Nah, akhirnya saya beli mobil aja, walaupun hujan tetep bisa kerja, nggak basah-basah.”
Mobil pertama itu memiliki banyak kenangan. Diantaranya adalah cerita legendaris perjalanan pertama beliau dari Surabaya menuju Malang menggunakan mobil. Mobil tersebut mogok karena kehabisan bensin. Dan setelah kejadian itu Pak Diding mungkin menganggap Surabaya memang kota yang keras.

Entah mobil itu masih ada apa tidak. Saya yang beberapa kali sempat berkunjung ke rumah beliau di kawasan Driyorejo sempat melihat sejenis mobil klasik terparkir di teras yang disulap jadi garasi. Belum jelas apakah benar itu mobil bersejarah itu atau bukan. Tapi yang pasti, tidak bisa tidak, saya harus mengakui satu hal.

Cerita Pak Diding lebih klasik ketimbang mobil apapun.

***
Catatan Penulis:
Tidak terasa waktu berlalu sedemikian cepat. Saya masih semester awal saat tulisan ini ditulis. Sengaja tidak cepat-cepat dipublikasi. Saya memilih menggodoknya dan menambahkan cerita-cerita lain tentang Pak Diding. Salah satu mahasiswa kesayangannya, Tri Nanang dari PA 2013 juga sempat ‘didongengi’ beliau saat melakukan penelitian di Bandung. Ceritanya sama persis dengan apa yang disampaikan beliau di Bali. Jadilah saya dan Tri kemudian juga tertarik berburu kisah pelengkap. Saya ingin menggali lebih dalam mengenai Pak Diding, lewat mungkin mahasiswa-mahasiswanya, atau bahkan keluarganya.

Tapi waktu, sekali lagi bergerak amat cepat. Pak Diding kini sudah menjadi Ketua Jurusan Sastra di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa. Saya juga sudah mulai harus berpusing-ria dengan skripsi. Duh. Obesesi saya untuk menggali kisah Pak Diding sepertinya harus diredam. Keputusan awal untuk mengendapkannya dan berharap ini akan jadi sempurna mungkin belum atau bahkan tidak akan pernah terwujud. Jadi, selagi ada waktu dan belum dikhianati lupa, saya memutuskan untuk meluncurkan cerita ini. Setidaknya meski belum sempurna, saya sempat menulis dan merekam secuil jejak Sang Begawan Tata Bahasa ini.

Akhirnya, tulisan lama di tahun 2014 terpublikasi juga. Terima kasih untuk Pak Diding dan rekan-rekan Sastra Indonesia 2013. Tanpa kalian, tulisan ini tidak akan pernah ada.





WAKTU HIJAU DULU:
BALI, 2014. BERSAMA PAK DIDING
MINUS ARDAN HUDA DAN BEGUNDAL-BEGUNDAL
YANG MENYINGKIR

Saturday, January 25, 2014

UKT: Untuk Kalangan Tertentu atau Untuk Kepentingan Tertentu


Untung membakar rokok lagi. Penat. Di hadapannya, berkumpul puluhan mahasiswa dengan raut muka yang sama: kombinasi lelah, marah dan gelisah. Hari ini memang hari yang berat. Pengumuman kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) terjadi serentak di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya. Menyulut emosi. Korban berjatuhan. Ada mahasiswa yang menangis, mengancam akan bunuh diri, sampai ada yang mau jual diri. Semua karena UKT. Untung, sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBS bertanggung jawab akan hal ini. Ia mengumpulkan hampir seluruh mahasiswa angkatan 2013 yang ada di kontaknya untuk berdialog bersama membahas UKT. Tapi nyatanya, dari sekian banyak yang diundang oleh Untung, tak sampai separuh yang hadir. Yang datang itupun hanya kurang lebih, curhat, marah-marah dan menyampaikan keluh kesah tanpa ada kejelasan aksi apa yang akan dilakukan menyikapi UKT yang menurut beberapa pihak tidak wajar ini. Solusi menggantung. Malamnya, Untung mengajak beberapa perwakilan per jurusan yang hadir tadi untuk membahas solusi di warung kopi. Seperti stiker yang menempel di notebook-nya yang bertulis “SOLUSIMU,” Untung menawarkan solusi untuk segera beraksi: demonstrasi. Segera saja tagar #UKTUNESA menyebar dengan cepat menanggapi UKT dan aksi ini. Twitter ramai, Facebook menggila. Halaman BEM FBS Unesa sesak oleh komentar curhatan para mahasiswa yang gerah akan kenaikan UKT. Sesekali ada yang marah, tak sedikit pula yang provokatif. Semuanya tampak bagus. Kritis. Inilah salah satu modal penting, tak hanya bagi aksi demonstrasi yang akan dilaksanakan lusa, tapi juga bagi mahasiswa. Solusi tercapai, Untung membakar bara rokoknya lagi. Lega.

Kamis yang suram. Setelah menjalani perkuliahan kurang lebih enam bulan dan melepas predikat Mahasiswa Baru, babak baru mulai terbuka. Beranjak ke semester dua, dan menerima pengumuman UKT untuk semester dua dan seterusnya. Ada yang tetap, ada yang turun tapi banyak juga yang naik. Kecuali mahasiswa Bidik Misi yang benar-benar kuliah gratis karena kurang mampu, seluruh mahasiswa panik dan deg-degan. Penentuan UKT ini akan mengubah segalanya. Masalah biaya memang selalu menjadi masalah klasik bagi perkuliahan. Dikhawatirkan, jika UKT mereka naik, mereka makin merepotkan orang tua, memberatkan keluarga dan akhirnya terancam cuti kuliah. Dan, yang dikhawatirkan pun terjadi. Beberapa mahasiswa merasa terjebak ketika membuka amplop coklat berisi surat penentuan yang datangnya langsung dari pusat (rektorat). “SUPERTRAP” dan “JEBAKAN BETMEN” istilah mereka. UKT mereka naik. Tak main-main, kenaikan UKT bagi beberapa mahasiswa ini di luar nalar. Penghasilan orang tua dan jumlah tanggungan keluarga dikesampingkan. Pun juga pekerjaan orang tua. Mahasiswa merasakan adanya ketidakadilan. Rasa-rasanya, UKT ini sangat rancu. Kenaikan UKT melebihi ambang batas pundak orang tua mereka terasa amat memberatkan. Banyak mahasiswa yang tak terima. Bom pun meledak. Berbagai aksi di FBS pun bermunculan. Segala upaya dan aksi ini akhirnya bermuara pada Senin pagi, di kampus Unesa Ketintang, Surabaya. Demonstrasi menolak hegemoni pihak kampus yang memerah UKT di luar kewajaran pun terjadi. #AKSIUKTUNESA2013 menjadi tagar baru di tengah aksi ini.

Menjadi sebuah polemik ketika ide secemerlang UKT ternoda oleh ketidaktepatan verifikasi pihak Rektorat yang menaikkan UKT seenak udelnya tanpa memperhatikan banyak faktor. UKT, yang awalnya bertujuan sebagai subsidi silang, dimana mahasiswa yang mampu membayar mahal, dan mahasiswa kurang mampu boleh membayar murah untuk kemudian ditutup oleh sumbangsih dari sekelompok mahasiswa mampu ini kemudian menjadi tidak adil. Banyak kejadian salah sasaran yang terjadi seperti mahasiswa yang kurang mampu membayar mahal, sebaliknya mahasiswa yang mampu malah membayar murah. Rencana di beberapa rapat perwakilan jurusan yang mengusulkan adanya tim khusus dari kalangan mahasiswa sendiri untuk bersama-sama tim dari pusat dalam melakukan verifikasi ulang UKT pun muncul. Ide ini menyeruak karena perwakilan jurusan merasa pihak kampus melakukan kesalahan yang amat fatal, entah disengaja atau tidak, dengan menaikkan UKT fantastis di luar batas kewajaran. Di samping itu, kuota Bidik Misi juga dirasa terlalu banyak dan ada yang salah sasaran–“Salah Bidik” istilahnya–Perkuliahan pun menjadi tak nyaman. Muncul wacana miring dari mahasiswa yang merasa keberatan karena UKT mereka mahal kepada mahasiswa Bidik Misi yang memang digratiskan. Mulai muncul pertanyaan: apakah UKT, hanya “Untuk Kalangan Tertentu,” atau bahkan “Untuk Kepentingan Tertentu?”

Agaknya kita perlu bertanya tentang kenaikan UKT ini secara lebih mendalam. Penentuan kenaikan UKT yang hanya “Untuk Kalangan Tertentu,” ini menjadi pertanyaan selanjutnya. Atas dasar apa kenaikan UKT itu? Apakah faktor penghasilan dan jumlah tanggungan menjadi penentu? Jika begitu, mengapa UKT terasa begitu berat dan di luar nalar? Mengapa pula muncul perbedaan UKT antara mahasiswa satu dengan lainnya yang bahkan orang tua dan tanggunganya berpenghasilan sama? Ada apa? Apakah ada faktor “Untuk Kepentingan Tertentu,” dalam penentuan UKT itu? Dimana transparansi dana yang seharusnya dicantumkan saat penentuan UKT? Apakah hanya mereka-reka? Apakah pertimbangan telak dalam penentuanya? Atau, hanya setinggi-tingginya menumpuk dana yang entah untuk apa tujuanya? Semua tak tahu. Semuanya mungkin akan terjawab oleh waktu. Tapi, mahasiswa berhak bertanya, mahasiswa berhak mengkritisi, mahasiswa pula yang berhak MENGUBAH.
Dampak kenaikan UKT ini juga patut untuk dibahas. Ini bukan saja karena faktor uang yang mungkin membuat beberapa mahasiswa terancam putus kuliah, tapi juga faktor dinamika kampus yang mungkin pada akhirnya, didominasi mahasiswa yang kurang kritis karena mereka seperti disokong, seperti disetir oleh pihak kampus dengan agenda Bidik Misi dan Beasiswa. Selain itu, para mahasiswa yang benar-benar kritis bisa saja terpaksa putus kuliah hanya karena tak mampu membayar karena UKT terlalu tinggi. Akibatnya, mahasiswa yang tersisa menjadi takut untuk bersikap vokal karena khawatir bidikmisi ataupun beasiswanya dicabut. Mahasiswa menjadi apatis, enggan menyuarakan suara hati dan kebenaran karena sungkan biaya kuliah mereka ditanggung pihak kampus. Mahasiswa tak lagi kritis karena menurut mereka tugas mahasiswa hanyalah duduk di bangku kuliah dan menjadi sarjana. Mereka sepertinya lupa, bahwa dari dulu pun, tugas mahasiswa adalah sebagai pendobrak, sebagai penggerak, yang bahkan sejarah Indonesia pun sudah meletakkan mahasiswa sebagai faktor kunci akan berbagai pergerakan. Robohnya rezim Orde Lama dengan Soekarno yang berkuasa dan juga hancurnya Orde Baru dengan Soeharto yang mendikte dengan tangan besinya adalah beberapa hal yang terjadi akibat pergerakan mahasiswa.

Fakta bahwa masih ada ketakutan atau mungkin keapatisan mahasiswa untuk bersikap kritis ini memang ada dan benar-benar terjadi. Tak banyak memang, tapi bila tak segera diluruskan, hal ini bisa menjadi benalu yang merongrong kekuatan utama mahasiswa FBS itu sendiri. Sekedar pengalaman pribadi penulis, bahwa dari sekian banyak mahasiswa yang dimohon bantuannya untuk ikut serta dalam aksi penurunan UKT, hanya mahasiswa berkepentingan-lah yang langsung bersiap siaga di barisan. Sedangkan, dari golongan lain merasa takut, merasa sungkan, merasa tidak perlu mengadakan aksi karena khawatir sokongan biaya dari kampus menjadi macet.

Pernyataan senada juga pernah dinyatakan oleh Untung saat rapat awal pembahasan aksi UKT ini: “Saya ini mahasiswa Bidikmisi, dapat Beasiswa juga, tapi buktinya saya tetap ikut aksi kalian. Saya tak takut kan.” Ujar Untung sambil sedikit tertawa. Tindak tanduk Untung selama ini mungkin juga bisa menjadi refleksi. Pria ini tak pernah sedikitpun takut untuk bersuara, takut untuk melawan, takut untuk kritis, takut untuk mengaspirasikan kebenaran. Untung tetap teguh pada pendirian meskipun ia juga mahasiswa Bidikmisi, penerima beasiswa. “Kita ini mahasiswa. Asalkan kita benar, jangan takut pada apapun. Pihak kampus takkan semudah itu mencoreng kita dari daftar Bidikmisi hanya karena kita kritis. Semuanya tentu harus melalui prosedur terlebih dahulu.” Kata Untung. Ini juga berlaku bagi mahasiswa yang takut dikeluarkan karena bersikap frontal dan kritis: “Kita nggak akan dikeluarkan dari kampus hanya karena hal-hal itu, nggak akan. Pihak kampus tak semudah itu mengeluarkan mahasiswa, ada hal-hal tertentu yang mesti diperhatikan.” Tambah Untung.

Akhirnya, sekitar Senin siang, #AKSIUKTUNESA2013 yang sedari tadi memadati Kampus Ketintang untuk berteriak menyuarakan aspirasi kembali ke kampus Lidah Wetan. Iring-iringan ini sedikit lega karena telah menyuarakan aspirasinya. Tapi sepertinya, aksi UKT ini masih belum bisa menjawab misteri yang kebetulan cocok menjadi kepanjangan UKT ini: UKT? “Untuk Kalangan Tertentu?” atau “Untuk Kepentingan Tertentu?”

*Ditulis untuk SESASI FBS Unesa.

Monday, July 15, 2013

Apa Kabar Kantin Smanda?

Waktu belum terlampau siang, sekitar hampir mendekati pukul sembilan. Lonceng istrahat belum berbunyi. Di kelas masing-masing, pelajaran masih berlangsung khidmat. Pintunya tertutup rapat. Hari itu, para guru mengajar dengan semangat. Beberapa siswa juga terlihat antusias, meski beberapa diantaranya dengan damainya meniduri bangku. Mengantuk.
“Rek, luweh. Gurune kok gak metu-metu seh?” Ucapan berbahasa jawa ngoko keluar dari mulut Rusdi, salah seorang siswa yang sepertinya belum melahap nasi dan meneguk susu, singkatnya: belum sarapan. “Iyo, aduh, sampek seneb wetengku!” Salah seorang siswa lain menanggapi. Zack namanya. Dengan memegangi perut dan sedikit menyeringai, tingkah polah bocah itu mengindikasikan dua hal; belum sarapan atau belum menunaikan hajat penting di ruangan paling pojok di sekolah; kamar mandi. Dari hal tersebut, kita bisa tahu kemana kedua orang ini akan meluncur saat bel berbunyi, atau paling tidak, saat gurunya pergi.
Kekhusyukan pembelajaran, keintiman guru dan murid serta durasi yang cukup lama untuk waktu belajar demi kualitas dan mutu siswa adalah hal yang bisa kita lihat secara gamblang di SMA Negeri 1 Pandaan. Gerbang sekolah yang megah; dengan konstruksi layaknya sebuah buku besar yang terbuka, adalah pintu masuk bagi itu semua, terutama bagi siswa yang gila belajar, juga guru yang gila mengajar. Tapi, efek yang mengandung semacam isyarat bahwa ada sedikit beban dari siswa juga tak dapat dipungkiri. Seperti cerita Rusdi dan Zack diatas contohnya.
“Masuknya jam enam bila ada tambahan pelajaran. Kita istirahat sebentar jam tujuh, lanjut pelajaran lagi sampai waktu isirahat pertama, jam sepuluh.” Salah satu guru di SMAN 1 Pandaan memberi komentar. “Saat istirahat jam tujuh, para  siswa bisa memanfaatkan waktu, baik untuk sarapan, ataupun aktivitas yang lain.” Papar guru tersebut. Tapi agaknya Rusdi dan Zack tak memanfaatkan waktu istirahat tersebut dengan baik. Bisa dibayangkan keadaan antara jam tujuh sampai jam sepuluh bagi orang yang belum sarapan. “Wetengku loro, luweh!” jelas Rusdi mencoba mendeskripsikan kondisinya.
Sementara itu, di bagian belakang sekolah, lelaki tua berkepala plontos yang terlihat sudah berumur, sibuk menghangatkan rantang besar berisi soto ayam yang sepertinya isinya bisa lebih dari lima puluh porsi soto. Disajikan dalam mangkok, soto itu cukup terkenal di kalangan siswa SMAN 1 Pandaan, semacam masakan legend yang mendarah daging. “Soto Pak No,” begitu para siswa menyebutnya. Dan benar, lelaki yang menjual soto di kantin itu memang bernama Pak No.
“Lumayan rame, Alhamdulillah. Kadang belum sampai bel pulang, sotonya udah habis,” Ujar Pak No menceritakan sotonya yang laris manis. Dengan harga yang cukup terjangkau bagi kalangan pelajar, ditambah dengan porsi pas yang tak mengecewakan, Soto Ayam Pak No sepertinya jadi primadona. Urusan perut para siswa seakan dimanjakan oleh Pak No; soto dengan daging ayam yang tak bisa dibilang sedikit, nasi yang lumayan mengenyangkan, juga air kuah yang seolah-olah bisa membuat kita makan tanpa memesan minum.
“Untuk seporsi soto, biasanya dijual tiga ribu rupiah untuk porsi biasa dan tiga setengah untuk porsi pull,” terang Pak No. Di porsi yang biasa disebut pull, yang merupakan sedikit plesetan khas orang jawa dari kata full, kita bisa mendapatkan nasi dan irisan ayam yang lebih banyak dibanding porsi biasa. Cukup dengan menambah lima ratus rupiah saja. Dan ini adalah salah satu solusi terbaik bagi siswa yang belum sempat sarapan. Bahkan, ada siswa yang setiap harinya mengandalkan Pak No sebagai solusi.
Salah satu penikmat setia soto Pak No adalah Galley, siswa yang paling dulu ada di kantin saat bel berbunyi, bahkan terkadang saat bel belum berbunyi. Menurutnya, hanya dengan bermodal lima ribu rupiah, lambungnya bisa terisi penuh. Kenyang.
“Soto pull regane telu setengah, ditambah es teh regane sewu mangatus, Pak No ancen paling sip. Tapi kelarangen koyok’ane es teh-ne, aku maleh gak iso ngecer kerupuk, limangatusan. Duek ku mek limangewu Jo!” kata Galley pada teman-temannya saat sedang menyantap seporsi soto panas. Tempat makan Galley dan teman-temannya, yang notabene anak laki-laki, memang cukup eksotis. Area yang terletak di sebelah ruang guru (baru) ini memang difungsikan sebagai salah satu jalan menuju kantin, semacam koridor beratapkan pohon-pohon besar yang menjulang rindang. Para siswa yang beruntung bisa makan disana dengan duduk di kursi porselen yang tersedia di bawah pohon. Sementara yang lainnya, lebih memilih duduk ala lesehan di ruangan yang agak tinggi di sebelah ruang guru. Suasananya cukup luas dan menyenangkan. Disitulah sepertinya tempat berkumpulnya para siswa dari segala kelas dan jurusan. Sehingga boleh dikata, bahwa tempat makan disini adalah tempat yang cukup merakyat. Salah satu contohnya adalah budaya satu gelas untuk semua yang kerap kali terjadi. Siswa yang membawa minuman, semisal es teh atau jus, tak sungkan membaginya kepada siswa lain yang sedang makan atau sekedar duduk disana.
Di sisi yang lain, tempat makan (resmi) yang sudah disediakan sekolah, masih sangat longgar saat itu. Kantin memang belum terlampau ramai. Tempat yang disediakan terlihat sangat layak memenuhi standar kantin yang berkualitas dan bermutu; adanya tempat duduk yang nyaman, beberapa gazebo, dengan banyak kursi yang tersedia. Jika SMAN 1 Pandaan boleh dimisalkan sebuah mal, maka tempat itu adalah “food court”-nya. Tapi, banyak diantara bocah-bocah laki-laki memilih untuk tidak makan disana. Mereka tetap memilih makan di tempat biasa yang merakyat. Seperti Galley dan kawan-kawanya.
“Isin aku mangan kono, didelok’i wong, rame, kadang guru yo meneng kono,” ujar Galley mengungkapkan alasanya mengapa tak memilih makan di tempat yang sudah disediakan. Meski begitu, area “food court,” tetap saja penuh dan selalu ramai, oleh siswa putri juga beberapa siswa laki-laki.
“Iku mainstream area. Lek ndek kene iki underground, indie. Hahaha,” kata salah seorang anak mencoba talkshit dengan komparasi yang menarik.
Bel berbunyi dengan kerasnya. Pukul sepuluh. Beberapa siswa yang tertunduk lesu segera berjingkrak dan menuju tempat favoritnya masing-masing. Salah satu yang terlihat kegirangan adalah Rusdi, yang sedari tadi menahan gejolak di perutnya. Ia bersama Zack, dan satu lagi temanya yang bernama Ardi, segera bergegas menuju kantin. Rupanya, Zack berpindah haluan ketika melihat kamar mandi.
“Sek yo, rek. Urusan mendadak, hehe.” Ujar Zack pada kedua temanya. Sepertinya mereka tahu Zack akan melakukan apa. Kamar mandi pria, berjarak tak jauh dari kantin. Tempatnya cukup dekat dari area makan “underground” di sekitar rimbunan pohon. Karena itulah siswa biasanya sering nongkrong disana setelah makan. Semacam tempat favorit untuk hangout. Terlihat Rusdi berjalan dengan gontai menuju kantin, tepatnya tempat penjaja makanan. Sementara Ardy terlihat lebih tergopoh-gopoh.
“Ayo, Rus, selak rame!” kata Ardi. Rusdi hanya mengangguk. Setelah melewati kamar mandi, mereka melewati tempat makan bawah pohon untuk menuju tempat penjaja makanan. Beberapa siswa sudah sibuk mengunyah saat mereka lewat. Setelah sampai di tempat penjaja makanan yang mirip sekali dengan pujasera, mereka berdebat.
“Mangan opo iki, soto ta?” tanya Ardi. “Ojok, aku wingi mari nyoto! Ayam goreng ae!” jawab Rusdi. “Aku mari mangan ayam maeng isuk!” Ardi menaggapi lagi. “Lho koen maeng mari sarapan ta? Wedhuuus!” ujar Rusdi. Sepertinya Ardi sudah sarapan tadi pagi, rupa-rupanya ia ke kantin untuk makan lagi, semacam nafsu makan yang besar. Akhirnya, Rusdi mengantri untuk mendapatkan ayam goreng plus nasi hangat. Penjualnya bernama Om Heri. Sementara Ardi yang sedari tadi mengincar soto, harus segera mengubah pilihan karena antrian di Warung Pak No sungguh luar biasa. Ardi akhirnya menuju Warung Mak Yati, untuk memesan tahu lontong yang khas. Zack yang biasanya lama di kamar mandi, secara mengejutkan hadir di depan Warung Mak Kun yang menyediakan berbagai jenis gorengan. Sepertinya ia butuh pendorong untuk aksi keji di kamar mandi yang sedari tadi mungkin gagal.
Tempat makan Rusdi hari ini, Heri Fried Chicken namanya. Penjualnya adalah trio ramah yang selalu melayani pembeli dengan segera. Pemiliknya bernama Om Heri, Sarjana Sosial, juga penjaga sekolah yang berjualan di kantin sebagai sampingan. Ia sepertinya tahu menu yang diinginkan sebagian siswa di SMAN 1 Pandaan. Ditemani sang istri dan juga pembantunya yang bernama Mbak Win, Om Heri berhasil menggabungkan konsep makanan ala mal yang banyak diminati dengan kantin sekolah. Terbukti dengan peralatan makan, juga menu-menu menarik yang biasa kita jumpai di mal-mal besar. Menu yang sudah menjadi trademark Heri Fried Chicken diantaranya; ayam goreng ala Kentucky, ayam kecap serta nasi goreng. Minumanya juga menarik; jus aneka buah dengan es batu yang niscaya membuat gigi susah payah mengunyahnya. Fleksibilitas juga ditawarkan di HFC dengan menyediakan kertas minyak untuk melayani permintaan siswa yang minta dibungkus. Harga di sini agak sedikit lebih mahal dari soto Pak No. Sekitar empat ribu rupiah untuk seporsi Kentucky dan nasi hangat, lima ribu rupiah untuk seporsi Kentucky dan nasi goreng. Selain itu, berbagai pelengkap lain penggoda selera sengaja dipajang untuk menarik perhatian siswa yang sudah kejang-kejang akibat kepalaran. Telur, sambal goreng tempe, dan ikan bumbu bali diantaranya.
“Sego goreng, ambek ayam kentucky. Tambah endok iki om, piro dadine?” pesan Rusdi sekaligus bertanya. “Oh, enam setengah, bos!” jawab Om Heri. “Tambah tempe iki wes om cek pas pitu!” kata Rusdi diiringi anggukan Om Heri. Dengan piring plastik lebar yang cukup untuk menampung makanan dalam porsi banyak, Rusdi terlihat ingin segera menyantap makanan yang ada di hadapanya. “Ayo om! Susuk’e! Luweh pol iki!” dengan tak sabaran Rusdi menagih kembalian uang sepuluh ribuannya. Apapun memang bisa terjadi saat lapar.
Untungnya, Om Heri adalah tipe orang sabar, humble dan suka bercanda. Itu juga yang menjadi daya tarik HFC. “Opo’o yo lek aku ambek arek-arek kelasku kate mangan, mesti didisekno. Apik’an ancen Om iku!” begitulah testimoni pelanggan setia HFC, Rusdi. “Wee, arek ganteng, boyband! Opo ae iki rek mangane?” Rusdi menirukan ucapan Om Heri saat melayani ia dan kawan-kawannya yang antri memesan makanan. Sebutan boyband yang familiar untuk geng Rusdi adalah salah satu bukti betapa humble-nya Om Heri. Satu lagi, di tenant ini, para pelanggan bebas mengambil nasi. “Lek kurang jukuk’o maneh rek. Gak popo!” kata Om Heri. Dan ini adalah keuntungan favorit dari para siswa dengan porsi makan yang besar, “porsi tukang” istilahnya. “Ben wareg ho!” ujar Zack yang sudah biasa mengambil porsi besar ini. Om Heri adalah orang baru yang berjualan di kantin, karena sebelumnya ia berjualan di rumahnya, yang secara ajaib menyatu dengan sekolah. Meski begitu, tak butuh waktu lama bagi Om untuk menarik perhatian warga kantin.
“Ayo, Ndul!” teriak Rusdi kepada Ardi yang masih terlihat mengantri di Warung Mak Yati. “Lhoo, sabar, tenang, tenang. Iki tahu-ne sek digawekno!” ujar Ardi. Warung Mak Yati, adalah termasuk warung yang legend di SMAN 1 Pandaan. Bersama Pak No dan Mak Kun, Mak Yati merintis karir sudah cukup lama sebagai penjaga kantin. Ia sudah menjaja makanan bersama tiga teman seperjuanganya itu semenjak kantin masih belum sebagus sekarang. Tempatnya dulu sederhana. Sebelum pindah tempat, hanya ada tiga tenant yang ditempati tiga pedagang waktu itu; Mak Yati, Mak Kun dan Pak No. Karena itulah predikat legend layak disematkan pada warungnya, yang kini sudah bagus di area pujasera. Kantin SMAN 1 Pandaan yang dulu terbatas pada tiga tempat makan, kini telah berevolusi dua kali lipat menjadi enam tenant di food court. Tiga tenant legend, satu tenant Om Heri dan dua tenant antah berantah. Disebut antah berantah karena tenant ini sering bergonta-ganti pedagang. Entah karena tidak laku, terlalu mahal atau karena masakannya kurang lezat jika dibandingkan empat tenant tersebut. Tapi inilah yang menambah keberagaman rasa di kantin SMAN 1 Pandaan.
Mak Yati berjualan dengan dibantu putrinya, Mbak Devi, yang juga merupakan satpam perempuan pertama di Smanda. “Iyo, rek, sabar sabar. Tenang ae kabeh pasti oleh kok! Tenang tenang!” Ujar Mak Yati sambil tersenyum. Ia memang keibuan. Dengan menu andalan tahu lontong, bakso, siomay dan kare ayam, yang semuanya dibandrol hanya dengan tiga ribu rupiah. Harga yang amat sangat terjangkau, tentu juga dengan rasa dan porsi yang bisa membuat siswa semangat kembali saat belajar.
“Disini favoritnya itu bakso dan tahu, lumayan wareg arek-arek kenek iku. Lek bakso biasae digae arek wedok, ringan soale. Arek genda’an (pacaran) yo biasae pesen iku!” Ujar Mak Yati. Selain menu tersebut, Mak Yati juga menjual gorengan. Keuntunganya warungnya pun lumayan, ia bisa menunaikan haji tahun lalu. Sepertinya warungnya berkah.
Ardi pun sudah mendapat pesananya. “Ganok susuk’e (kembalian) ta mak? Yo wes engkok ae pas moleh tak jupuk!” ujar Ardi. Warung Mak Yati memang terkadang buka sampai sore. Jadi saat para siswa pulang, Mak Yati masih stand-by disana.
Semantara Rusdi dan Ardi sudah mulai menyantap makanannya, Zack terlihat masih berada di tenant Mak Kun, sebuah warung yang juga legend. Menyediakan gorengan aneka rasa, semacam ote-ote, tahu brontak, pisang goreng, tempe menjos bahkan yang terbaru juga menjual bakwan jagung, yang biasa disebut dadar jagung. Pada awalnya warung ini sempat terkenal dengan menu mie instannya yang sungguh cepat pelayanannya. Rasa dan porsinya juga khas.
“Biasane tak tambah racikan lombok, cek sedep,” ujar Mak Kun. Ditemani ibunya, yang sudah berusai sangat sepuh, yang biasa dipanggil “Mbah” oleh para siswa, setiap hari, dari jam enam sampai sore kadang, mereka berjualan. Mak Kun dan Mbah sungguh merupakan ibu kantin yang sangat baik, juga amat sangat ramah. Terkadang ia memberi gratis gorengan kepada pelanggan setia, Rusdi dan Zack diantaranya. Ia juga hafal nama-nama pelangganya, satu persatu.
“Zack, lah kok mek tuku gedang tok. Oalah rugi ganteng-ganteng tuku mek titik!” kata Mak Kun dengan nada bercanda. Zack hanya tersenyum. “Sek kere, Mak. Hehe.” Kedekatan itulah yang menjadi daya tarik tersendiri di tenant ini. Lain halnya dengan tenant antah berantah yang biasanya hanya sekedar melayani makanan siswa, terkesan kaku dan dingin. Beda warung legend dengan yang masih baru sepertinya adalah kehangatan penjualnya.
Beberapa saat sebelumnya, sempat tersiar kabar bahwa mie instan menjadi menu yang “diharamkan” untuk dijual di Smanda. Proyek lingkungan besar-besaran bernama Adiwiyata adalah sebabnya. Sempat juga kabar burung tersebar, bahwa eksistensi Warung Mak Kun terancam. Dengan dilarangnya penjualan mie instan, para siswa pun banyak yang mengkhawatirkan tenant idolanya tutup.
Sakno rek Mak Kun lek  misale warunge tutup. Kehilangan rek aku!” begitu pendapat salah satu siswi perempuan yang sepertinya menjadi pelanggan setia Mak Kun.
Tapi di hari-hari setelah pelarangan mie instan itu, Mak Kun seperti menunjukkan eksistensinya berjualan di kantin. “Husshh, ngawur ae! Wes gak oleh dodol mie ambek sekolahan. Gak apik jarene!” kata Mak Kun saat beberapa siswa iseng memesan mie instan. “Iki lho rek, menu anyar! Mangano wes cek ero rasane!” kata Mak Kun menawari. Menu yang ditawarkan Mak Kun sepertinya menunjukkan nalurinya sebagai penjual kantin sejati yang tak kalah oleh sekedar mie instan. Pecel, ayam goreng, dan sayur adalah menu yang kini dengan bangga dipajang di tenant Mak Kun. Bungkus mie instan berbagai merek dan rasa yang biasanya nampak di depan tenant-nya, kini sudah tak nampak.
Rupanya, menu baru ini mengundang cita rasa yang lain. Jelas, para siswa menyukainya. Apalagi, dengan menambah modal lima ratus perak, mereka bisa menambah lauk gorengan, seperti tempe dan dadar jagung.
“KFC iki bro, Kun Fried Chicken. Hahaha!” ujar salah satu siswa yang terlihat lahap menyantap pecel dengan tambahan ayam; menu santap yang baru. Nasi dengan ukuran yang cukup mengenyangkan, lauk ayam dibalut tepung yang khas, sayuran segar sebagai pelengkap, serta guyuran bumbu pecel yang padat oleh kacang-kacang gurih yang diuleg rata, menjadi daya tarik tenant Mak Kun sekarang. Ayam-nya spesial, berbeda dengan HFC yang mengunggulkan tepungnya yang tebal, ayam Mak Kun lebih tipis taburan tepungnya. Namun rasanya tak kalah dengan milih HFC. Mereka berdua mempunyai ciri khas yang sama-sama enak.
Istirahat pun usai. Rombongan siswa segera berduyun-duyun memasuki ruang kelas, termasuk Rusdi dan kawan-kawan. Beberapa anak yang baru saja memesan makanan terlihat tergopoh-gopoh menghabiskanya. Mulut mereka jadi tahan panas.
“Ayo, anak-anak! Sudah masuk, agak cepat ya makannya!” ujar salah satu guru yang kebetulan lewat di depan anak yang sedang makan. Mereka menanggapinya dengan mengangguk saja. Tentu tak mungkin mengucap kata-kata yang bisa berakibat semburan makanan ke arah yang tak diinginkan. Mulut mereka penuh.
Pasca istirahat, kantin lumayan sepi. Terutama setelah anak-anak yang baru makan tadi berlari ke kelas. Pengunjung kantin “food court” pasca istirahat ini biasanya adalah tukang kebun, para satpam, anggota tata usaha, juga guru yang kebetulan tidak mengajar. Biasanya mereka berkumpul sambil memesan kopi hangat, juga makanan ringan seperti gorengan dan bakso.
Para penjual kantin; Pak No, Mak Yati, Mak Kun dan Om Heri terlihat beristirahat sejenak. Biasanya waktu ini menjadi ajang curhat para pedagan kantin, juga ajang pijat memijat dan terkadang saling mencoba dagangan satu sama lain. Rasa kekeluargaan yang tinggi terasa sekali disini. Tak ada sifat bersaing karena mereka sudah mempunyai pasar masing-masing. Setelah itu, barulah mereka membersihkan area kantin; tenant, area food court juga area makan sekitar pohon. Mereka juga tak ragu untuk membawa piring yang tak dikembalikan oleh para siswa, meskipun bukan piring milik mereka sendiri, tetapi milik penjual yang lain. Budaya gotong royong yang patut dicontoh.
“Waduh, yoopo arek-arek iki, wes onok peraturan semua siswa harus mengembalikan piring waktu selesai makan, sek dilanggar ae!” begitu kata Mak Yati. Tentu sikap baik para siswa, seperti menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan dan mengembalikan piring ke tempat yang sudah disediakan waktu selesai makan dapat menjadi kebanggaan tersendiri bagi para penjual kantin. Ada perasaan semacam “anak sendiri” bagi para penjual yang telah melayani siswa selama puluhan tahun tersebut. Mereka bangga saat siswa berubah lebih baik. Meski banyak juga kelakuan siswa yang bebal. Walau begitu, para penjual kantin ini dengan sabar dan penuh kasih tetap melayani mereka. Sebuah pengabdian yang tulus.
Waktu menunjukkan hampir pukul satu. Para siswa tentu sedang sibuk belajar di dalam kelas. Terlihat Pak No membereskan daganganya. “Kukut kukut! Moleh moleh!” ucap Pak No sambil tersenyum. Penghuni kantin yang lain sudah paham akan kebiasaan Pak No itu. Mereka hanya bisa menanggapinya dengan bercanda, yang kemudian meledak dengan tawa riang pada akhirnya.
Sementara Mak Kun, terlihat letih. Kelihatan sekali dari raut mukanya. Dengan pakaian skuter mania-nya yang bermacam macam, yang sepertinya diberi putranya yang tergabung di komunitas vespa, Mak Kun tetap menunjukkan senyum. Pernah dalam suatu wawancara untuk tugas bahasa perancis, saya dan Ardi menemukan keteduhan dan keikhlasan yang cukup dalam dari seorang Mak Kun. “Lek arek-arek seng njupuk gorengan, terus gak mbayar, langsung ditinggal mlayu, iku yo lumayan akeh. Tapi aku kate nagih yo gak enak, aku ero kok sopo-sopo ae seng biasae ngono. Yo diikhlasno ae gak popo, be’e ancen arek gak duwe, sakno.” Kata Mak Kun. “Tapi arek-arek seng gak mbayar iku biasae lek wes lulus terus rene maneh iku sungkan nang aku. Kadang moro rene, ngaku. Terus aku dekek’I seket ewu. Gelek ngono iku wisan.” Mak Kun menambah ceritanya diakhiri dengan tertawa. Dengan keuntungan yang tak seberapa, ternyata ada juga siswa yang masih mencurangi Mak Kun. Tapi nyatanya, Mak Kun malah menghadapinya dengan tulus ikhlas, seperti perasaan ibu terhadap anaknya sendiri.
Bersama Mak Yati, Mak Kun juga tak pernah alpha shalat dzuhur. Saat musola sepi adalah saat yang tepat bagi mereka untuk bersyukur atas rejeki yang didapat hari ini. Bersimpuh sujud dan untaian doa juga tak lupa dipanjatkan. Dengan sifat mereka yang tulus, rasanya tak mustahil jika mereka juga mendoakan para siswa. Mereka adalah penjual kantin yang benar-benar pantas diberi predikat legend. Mungkin pihak SMAN 1 Pandaan kapan-kapan bisa mengundangnya di perhelatan wisuda. Bukan tak mungkin mereka akan merasa bangga sekaligus kehilangan. “Lho, arek iku. Seng biasane pesen mie soto saiki wes lulus. Mugo sukses wes!” begitu kira-kira ungkapanya.
Waktu menujukkan hampir pukul dua. Bel pulang berbunyi renyah. Para siswa sibuk berbenah. Berbondong-bondong menuju parkiran dan gerbang yang baru dibuka. Terlihat Ardi, ditemani Zack menuju kantin, tepatnya di Warung Mak Yati.
“Maaak!” Ardi memanggil Mak Yati. “Susuk-ku maeng wes onok ta?”

Notes: Sedikit berlatih menulis tulisan jenis feature. Demi alasan privasi, beberapa nama sengaja disamarkan.