Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Saturday, May 5, 2018

Merayakan May the Fourth Be With You

source: wilx.com
Demi memperingati empat Mei alias Star Wars Day, saya baru saja mengkhatamkan The Last Jedi via situs streaming gratisan. Saya memang bukan penggemar Star Wars yang taat, malah kadang sering lupa jalan cerita dan nama tokohnya. Tapi secara garis besarnya, saya tentu ingat karena sejak usia dini sudah dicekoki hal macam beginian via VCD rental. Star Wars Episode IV sampai VI sudah pernah saya tonton kira-kira di usia sebelum sekolah dasar. Membuat saya sempat trauma dan ketakutan pada sosok Darth Maul yang muncul di Phantom Menace. Sekuel selanjutnya, I sampai III sempat saya tonton di ANTV di hari-hari kecil saya. Meskipun sempat lupa dan harus menontonnya kembali saat kuliah; khusunya di 2015 akhir saat Star Wars Episode VII The Force Awakens membuat ramai jagad raya. Saya yang sudah lama menimbun memori perang bintang mau tidak mau harus menggalinya lagi. Alhasil, saya sudah menemukan titik terang dan jalan cerita yang jelas, seiring kedewasaan pikiran. 

Star Wars memang menarik dan pantas ditonton meskipun saya bukanlah fans yang terlampau fanatik. Tapi memang manusia yang belum pernah menonton Star Wars seumur hidupnya sama saja seperti mengkhianati budaya pop; keterlaluan, kemana saja kalian selama ini? Lalu tibalah saatnya saat trailer The Last Jedi meluncur dan saya sungguh tidak sabar menunggu natal tahun lalu, saat film diputar serentak di seluruh bioskop kesayangan Anda. Tapi nyatanya hidup adalah sekumpulan tai kucing yang menyebar di jalanan; bisa terinjak tanpa diduga. Adaptasi dengan waktu kerja dan ketidaksesuaian agenda dengan pacar--rekan nonton waktu itu--membuat saya menunda-nunda terus menonton pemutaran The Last Jedi ini. Alhasil saat niatan untuk menonton mulai terlupakan karena banyaknya kesumpekan hidup, termasuk bertengkar dengan pacar dan remeknya badan di awal bekerja, The Last Jedi sudah hilang dari peredaran. Saya menggoblok-goblokkan diri karena menonton Star Wars memang punya kesenangan tersendiri; terutama saat bersama dengan fanatik Star Wars yang kebetulan menonton. Ada hawa-hawa nostalgik saat soundtrack John Williams berkumandang di pembuka; ada rasa haru, ingatan kolektif masa kecil. Seperti saat saya menyaksikan langsung saat pemutaran The Force Awakens--film Star Wars pertama sesudah sekitar sepuluh tahun penantian. Kemunculan Han Solo dari Millenium Falcon disambut riuh penonton, bahkan ada yang bertepuk tangan. Momen seperti ini sangat jarang, meskipun kadang bisa dijumpai di film yang punya banyak massa; seperti sekuel Marvel atau DC. Tapi saya tidak bisa merasakan momen itu di The Last Jedi, yang kabarnya jadi sekuel terakhir Star Wars. Dan saat perayaan May the Fourth inilah saya seperti diingatkan kembali untuk menamatkan Star Wars. Hasilnya adalah streaming via komputer kantor selama dua jam setengah, lalu teka-teki serta rasa penasaran saya hilang sudah.

Walaupun sangat telat, izinkan saya bercerita sejenak. The Last Jedi dibuka dengan adegan di luar angkasa; baku hantam antara First Order dan Pemberontak. Aksi sudah dimulai sedemikian dini. Tidak ada nafas yang terbuang sia-sia karena ketegangan di film ini bisa muncul di adegan hening sekalipun; saat Rey bertemu Luke Skywalker di suatu tempat indah nan antah berantah. Banyak spekulasi bermunculan yang akhirnya berbelok tajam; semacam twist yang tidak akan terduga oleh penebak manapun. Teka-teki siapakah Rey akhirnya terjawab. Alasan Luke memilih sembunyi juga bisa diterima nalar. Selebihnya adalah hal-hal mengejutkan lain yang berpotensi jadi spoiler saat saya ocehkan di sini.

Tapi toh mungkin semua sudah nonton The Last Jedi, jadi istilah spoiler tadi sepertinya tidak relevan. Intinya yang paling menarik adalah pertemuan Rey dan Kylo Ren (Ben Solo) via Force, yang saling melempar pengaruh dan kekuatan. Juga pertemuan sekaligus duel terakhir antara Luke Skywalker, ksatria Jedi terakhir, dengan Kylo Ren, anak cucu Darth Vader. Nafas dibuat berhenti saat menyaksikan film yang katanya jadi akhir dari Star Wars. Meskipun kita semua tahu pada akhirnya kalau tiga sekuel lanjutan akan segera diproduksi. Ini berarti The Last Jedi bukanlah sekuel terakhir. Tebakan kalian salah semua. Tapi masih mending daripada saya yang telat menonton dan baru bisa menjawab semuanya, saat dunia mulai disibukkan dengan spoiler Infinity War. Karena itu saya ingin membagi satu spoiler penting kalau di The Last Jedi, Jenderal Snoke, pak tua pimpinan First Order, tewas dibantai Rey, dan nasib Luke Skywalker... silahkan tebak sendiri.

Sunday, October 1, 2017

Feel Alive Adalah Segalanya

Sedikit lupa waktu tidak apa-apa asal tidak diperbudak waktu. Umur harusnya panjang karena kebahagiaan tidak mungkin datang dalam dua puluh empat jam. Rehatlah sejenak, rawat ingatanmu, bacalah buku-buku. Kembalilah waras, jadilah manusia, putar album favoritmu sampai ketiduran. Berkumpullah dengan teman-temanmu, tanpa perlu berpikir akan membahas apa dibalik meja kopi. Berbicaralah, keluarkan gelisahmu, jujurlah tentang semua yang terjadi, akui kelemahanmu. Hidup tidak perlu tergesa-gesa, terburu-buru, rutinitas itu tahi, kamu bukan ayam yang harus selalu bangun pagi. Makan Indomie sepuasmu, jangan berpikir aneh-aneh, makanan sehat itu menyebalkan, makanlah apapun yang kamu mau. Dunia sudah terlalu banyak aturan, kamu seharusnya tidak perlu terlalu mengatur diri. Banyak kejutan di luar meja kerja, dan kalau definisi hidup adalah kejutan yang berkelanjutan, mengapa kamu harus terus terjebak tumpukan pekerjaan?

Karena hidup tidak begitu penting kalau kamu tidak merasa hidup. 

from Breaking Bad: season 5 - episode terakhir

Monday, August 14, 2017

Nganggur: A Daily Activities

Sekarang hari-hari saya begitu santai, terlalu santai malah. Jika definisi santai adalah bangun tidur siangan, menolak jadi morning person, lalu melakukan daily activity yang produktif tapi dengan nuansa woles, saya malah lebih dari itu, terlalu santai. Bangun rada sorean, menolak jadi jenis persona apapun, lalu melakukan daily activity non-produktif dengan leha-leha di kasur. Ditambah melupakan mandi pagi, atau kadang sore, dan leluasa untuk ngaplo dan berbuat apa saja. Terlalu santai itu keterlaluan bukan?

Jika lapar saya tinggal ke dapur (yang jarang ada makanan yang berguna karena ibu sendiri masak alakadarnya atau kadang tidak sama sekali), lalu mempersiapkan teflon, membuka kulkas, dan merasa jadi chef sendiri, masak dengan pakai kolor. Lalu saya bayangkan Chef Marinka sedang mengajari saya memasak dari belakang. Oh, men... Tapi ya, mungkin hanya ngelindur saja. Masak apapun dari kulkas terlalu ribet. Selalu ada tahu, tempe, jamur, atau jenis ikan-ikanan yang saya tidak mau menyentuh karena amis. Alhasil karena sudah kelaparan dan orang-orang pada kerja, saya mau tak mau harus sendirian menghasilkan brunch (breakfast lunch!). Mungkin akan makan banyak waktu jika mengolah dari dasar lemari es, akhirnya pilihan lagi-lagi jatuh pada Indomie Goreng. Satu-satunya makanan terbaik di alam semesta, dengan telor dadar tanpa MSG yang saya masak setengah matang. Satu bungkus tidak pernah cukup. Selalu dua. Dan saya adalah tipe-tipe orang yang tidak kudu makan nasi buat syarat.

Mie terus bikin usus melilit (saya kira usus memang sudah melilit dari sononya deh), maka dari itu untuk menyeimbangkan terkadang saya harus menyalakan mesin motor, pergi ke Indomaret. Hanya sesuatu yang instan yang akan kita dapatkan di dalam. Tapi beberapa rombong gorengan atau martabak atau pisang keju selalu nongol di depannya. Jadi saya parkir Indomaret tapi membeli jajanan di luarnya. Hebatnya di sini free parkir jadi saya tidak harus sedia recehan dari rumah. Lalu setelah mengganjal perut tersebut saya selalu bingung harus melakukan apa. Teman-teman sudah pasti kerja. Saya yang beberapa kali akan berkunjung ke rumah teman, Luthfi misalnya, selalu tidak jadi karena dia sibuk. Dia yang belum lulus kuliah sudah mengajar di SMK dekat rumahnya, pulang jam tiga sore, dan kadang mengambil jadwal ekstra, malam sudah terlalu lelah dan tidur pukul sembilan. Sementara Jay, kawan saya yang lain, agak sulit ditemukan kontaknya. Janjian ngopi sedari zaman Orde Baru sampai sekarang tidak pernah terealisasi. Jay pun terkadang juga membantu ibunya berjualan jika malam, dan molor di pagi hari. Sementara itu, golongan bajingan macam Biadab ataupun Keparat (samaran) mungkin sudah melenceng terlalu jauh dari orbit. Mereka doyan mengajak saya having-fun dalam artian sesungguhnya. Tiada hari tanpa botolan. Tiada hari tanpa nongkrong di Gg. Sono (alumni Gg. Dolly kebanyakan sekarang di sini). Saya bukannya menolak kodrat sebagai anak yang tinggal di daerah prostitusi, tapi sedari dulu, keluarga saya sudah dipandang agamis dan terhormat (bapak saya dipanggil kaji di sini), saya tentu berpikir ulang untuk mengiyakan ajakan mereka.

Alhasil, sembari menunggu panggilan dari HRD (saya sudah lolos sebuah tes dengan saya kandidat satu-satunya untuk sebuah newsroom), saya melakukan aktivitas-aktivitas super selow. Kebanyakan aktivitas ini sudah saya rencanakan sejak lama, namun selalu kelupaan atau tidak jadi karena kesibukan tahi kucing saat kuliah ataupun kerja. Ini adalah saatnya balas dendam: hidup sesantai-santainya, melakukan apa yang sedari dulu tertunda. Tentu saja tidak jauh-jauh dengan pop culture yang memang masih jadi hal paling menarik di mata saya sampai detik ini. Ya sambil membunuh rasa-rasa nggateli karena pacar lagi jauh juga.

Menamatkan Seri Game Of Thrones?
Oke baiklah yang ini ternyata berhenti pada eps. 1 season 2, yang itupun masih sampai pertengahan. Saya hanya sempat menamatkan season 1, dan ada banyak keengganan untuk melanjutkan. Tapi beberapa akun Instagram membuat saya penasaran lagi seperti apa kelanjutannya. Apalagi sekarang season 7 sedang on going. Saya sih tidak punya beban sosial apa-apa meskipun masih cupu tentang Game Of Thrones, toh lingkungan pergaulan saya juga seringnya tidak tahu apa itu GoT. Teman-teman saya waktu di Zetizen saja mungkin ya, yang mengamati serial ini. Seperti Mbak Grace, salah satu editor yang sempat menanyakan tentang siapa yang mati di Season 6 lalu. Wah saya Season 2 aja sudah tidak betah, mbak. Apalagi yang bikin saya muak kalau bukan Joffrey yang sok (tapi di spoilernya raja songong ini akhirnya mati juga di season selanjutnya, syukurlah). Saya menghentikan GoT sampai di tengah ya karena ada King Joffrey ini, pusing melihatnya. Sementara agak sedikit ketar-ketir juga dengan jagoan saya dari awal Arya Stark yang bisa saja tiba-tiba dipenggal seperti bapaknya. Ah tapi sudahlah, tidak perlu dipaksakan nonton. Buat yang senasib dengan saya, ditambah dengan dilema sosial karena takut dianggap cupu di pergaulan, bisa baca tips dari VICE berikut.

Meneruskan Silicon Valley
Alhasil saya memilih menonton serial lain yang memang sudah saya ikuti sejak awal. Jika Breaking Bad sudah kelar dan tamat sampai Season 5 dan saya sedih mampus menonton episode terakhirnya, maka Silicon Valley ini statusnya masih on-going. Saya belum tahu apakah ada episode lagi setelah Eps. 10 (sepertinya sih sudah usai). Silicon Valley kali ini sudah sampai Season 4. Serial ini sudah saya tonton semenjak SMA dan mungkin serial kedua favorit saya setelah Breaking Bad. Silicon Valley adalah kisah tentang startup bernama Pied Piper, yang di dalamnya berisi CEO Richard Hendriks, bersama programmer andalan Dinesh yang berasal dari Pakistan dan selalu bertingkah amat norak, dan Gillfoyle, jenius penyembah setan yang punya tato salib terbalik di tubuhnya. Ditemani oleh orang pemasaran, Jared, yang bertingkah bak seorang nerd yang selalu mengusahakan agar semuanya lurus. Dan bajingan tengik pemilik saham dan tukang lobby bernama Erlich Bachman. Ditambah seorang asal China yang bermuka dan berperilaku menyebalkan bernama Jian-Yang, yang tidak lain adalah mantan pembantu Erlich. Mereka semua berkumpul dalam satu rumah, di mana selalu ada saja masalah bagi Pied Piper. Silicon Valley adalah cerita tentang bagaimana mereka mengatasi semua masalah itu, demi membuat Pied Piper menjadi perusahaan bernilai milyaran dollar. Dengan kumpulan karakter macam itu, tentu saja akan terjadi banyak hal tolol, dengan dialog-dialog yang sarkastis, misoginis dan kadang rasis. Serta adanya twist yang membelokkan plot secara tidak terduga. Di Season 4 ini Pied Piper harus menghadapi tantangan baru, di mana arah Richard benar-benar berubah. Masih diselingi dengan antagonis lama semisal Gavin Belson, juga Laurie, bos dari Raviga. Dan... sebelum saya semakin doyan untuk cerewet dan membocorkan spoiler, ada baiknya kalian lihat sendiri saja. Hehe.




Terjebak Di YouTube dan Menjadi Receh
Berikut daftar yang saya tonton:
- Mukbang Indomie
Ini adalah hal paling tidak penting dalam nganggur saya: melihat mukbang, atau orang lagi makan dengan porsi besar, menantang dirinya sendiri untuk menghabiskannya, sambil cerewet depan kamera. Tapi entah kenapa, saya hanya gemar nonton yang Indomie saja. Mukbang Challenge Indomie ini ternyata tidak hanya ada di Indonesia, tapi banyak juga di luaran sana. Orang Amerika yang saya tonton kemarin makan lima bungkus sekaligus, ada juga yang sampai enam. Tapi masih kalah sih dengan Indonesia yang makan lima belas bungkus sekaligus. Nekat amat. Tapi sebagai penggemar mie produksi Indofood ini, melihat orang menyuapkan Indomie ke mulutnya secara rakus dan cepat (pakai sumpit!) membuat ngiler jadi berlipat-lipat. Terkadang di waktu menjelang subuh dan perut saya kembali lapar, melihat Mukbang beginian membuat saya ingin nekat saja ke dapur dan menjereng air. Tapi tidak jadi karena diwanti-wanti ibuk untuk tidak bikin Indomie tiap hari. Jadilah saya ngiler-ngiler sendiri, dan saat rumah sepi, melakukan aksi balas dendam itu. Ya semoga saja saya tidak gendut. Masih 65 kilo. Aman.


Bajingan!
- Lifehack
Ya, masih bermanfaat melihat yang beginian. Kebanyakan memang memanfaatkan barang yang sudah ada untuk memudahkan suatu pekerjaan. Ada lifehack yang sulit dipraktekkan, misal membuat sound system dengan kaleng bekas. Ada juga yang mudah, lifehack balon untuk kondom hape, misalnya. Ada banyak channel bagus, baik luar ataupun lokal yang memberi lifehack-lifehack keren. Tapi hati-hati terjebak di hal-hal receh, seperti lifehack tisu, sebagai pembatas buku. Semua orang sudah tahu lah yang begitu. Salah satu yang bagus adalah Channel Mr. Grue. Channel lokal dan sangat kreatif dalam mengolah benda-benda. Gampang ditiru dan tidak sulit-sulit amat. Setidaknya nganggur saya tidak melulu menonton hal yang tidak berfaedah.
- Cak Nun
Saya tidak pernah nemu ustad, atau tukang ceramah, atau kyai, atau apapun itu namanya yang sreg di hati. Apalagi Armand Maulana yang sempat ceramah kultum jelang buka puasa di NET. Apalagi Ustad Maulana (situ ustad?). Atau Mamah Dedeh ataupun Mamah-mamah yang ceramah di acaranya Uya Kuya yang selalu jeleknya amit-amit itu. Tapi Cak Nun beda. Spirit kebudayaannya terasa. Tidak mendorong umat untuk mengikuti arab, atau pakai jihad taruhan nyawa segala. Orangnya tetap orang Jawa, nggak lali jowone. Apalagi keluarga saya juga NU, dan mbah-mbah buyut juga ada yang beragama Jawa, jadi saya merasa sreg dan pas. Toleransinya, kemudian logikanya, hanya Cak Nun yang bisa saya pahami dan terima. Cak Nun tidak sama sekali mengajarkan kebencian. Atau harus memusuhi orang yang berbeda. Cak Nun malah menyuruh kita berpikir terbuka, kritis, tidak kaku. Beragama, menurut Cak Nun, baiknya harus menyentuh sisi sosial dan psikologi. Bukan sisi surga-neraka tok. Intinya adalah rahmatan lil 'alamin. Cak Nun, menurut hemat saya bahkan lebih teduh dan enak didengar, dibanding adu pintar ala Zakir Naik. 
- Tutorial Masak
Weits, ketahuan deh saya sedang cari ide untuk mengolah makanan di kulkas. Biar tidak Indomie melulu. Sejauh ini saya sudah paham cara masak tahu bulat dan tempe krispi, tinggal menunggu wahyu berupa kemauan ini datang saja untuk bisa memasaknya. Eh tapi resep Indomie Pizza-nya boleh juga tuh buat dicoba.


Telur ceplok bersama Chef Marinka
Penyakit Kambuhan: Unduh Illegal
Isi dompet sedang kering, nganggur pula, tidak ada pemasukan, sementara banyak album bagus di luaran sana baru rilis. Betapa menyedihkannya. Tapi, sungguh, maafkan saya. Dengan sedikit keyword dan menjelajahi mesin pencari, album itu sudah bisa didengarkan, dengan MP3 320 pula. Tidak jauh beda dengan CD-nya. Hm. Tapi membajak tentu saja tetap salah. Maafkan saya. Saya hanya ingin preview lagunya saja. Eh tapi, jadi keterusan. Sialan. Tidak hanya album bagus terbaru yang rilis, beberapa album lama yang luarbiasa bagus juga menarik untuk dikulik. Brengsek, setelah mendapat album-album legenda tersebut, saya kemudian malah tertarik mengunduh album-album obscure super underrated, yang bahkan masih jarang yang mendengarkan. Dan, band-band shoegaze seperti My Bloody Valentine-lah yang membuat saya benar-benar terobsesi. Saya bolak-balik mengunduh album Loveless, di berbagai situs, mencari kualitas sound terbak. Bahkan sekarang saya punya tiga album Loveless; rilisan pertama, rilisan kedua versi remastered, dan rilisan final versi remastered. Lagunya sama saja: dibuka oleh Only Shallow ditutup oleh Soon. Asal tahu saja, My Bloody Valentine merilis debut pertamanya Loveless di tahun 1991, dan album keduanya bertajuk MBV di tahun 2013. Betapa diperlukan jarak sampai 20 tahun lamanya, bagi empunya band ini, Kevin Shields (alaihisalam), untuk berperang dengan writers block, dan menghasilkan karya paripurna. Tapi memang anjing sekali, semua track punya daya bius. Inilah kekuatan indie pop dicampur post rock dicampur zat-zat adiktif, noise, depresi, kesedihan, kekalutan, dan lain sebagainya. Inilah apa yang disebut shoegaze (dengan turunan baru bernama Blackgaze, black metal plus shoegaze, yang dipopulerkan oleh band metal idola saya, Deafheaven). Inilah musik yang membuat saya merasa tidak sekarat sendirian. My Bloody Valentine kemudian membuat saya terus menggali, sampai dasar, di mana saya menemukan banyak sekali mini album mereka, single-single yang tercecer, dan instrumentalia gila dengan semburan gitar fuzz dan berat dari Shields. Kurang ajar. Percaya atau tidak, saya bahkan nemu album band ini sedang berkolaborasi dengan jenius gila macam Thom Yorke! Tentu saja saya mungkin tidak akan pernah paham indahnya racikan sound mereka karena jelas kapasitas otak saya masih belum mencapai spiritualitas itu. Hanya saja karena memang benar-benar terobesesi, ya mau bagaimana lagi. Satu-satunya band yang dapat menyamai obsesi saya terhadap My Bloody Valentine adalah Sonic Youth. Dan desahan Kim Gordon tahun 1989. 

Saya juga mengunduh semua album indie lokalyang baru-baru saja rilis walaupun kebanyakan langsung saya buang setelah sekali dengar. Contoh: eleventwelf, Fourtwenty, Senar Senja, dan band-band yang super kacangan lainnya. Kacrutnya minta ampun. Mending dengar Asal Kau Bahagia dari The Bagindas saja. Tapi ada juga yang bagus, seperti Gaung misalnya. Selain itu ada pula band-band lain yang bikin penasaran tapi tidak sampai atau belum membuat saya terobsesi untuk download. Solusinya: ada Spotify yang walaupun kita tidak punya musik dalam file penyimpanan, setidaknya sebagai preview bagus atau tidaknya. Kalau bagus, kudu punya albumnya fisik, atau minimal MP3-nya. Huhuhehe.

Baca Ulang Sastrawan Sableng Indonesia
Diantaranya Yusi Avianto Pareanom, Sabda Armandio dan Dea Anugrah. Saya kok merasa mereka bertiga punya kemiripan: ceritanya sama-sama ngawur dan nyeleneh, tapi diceritakan dengan teknik luwes dan kadang lempeng, tapi bikin misuh-misuh karena banyak punch-line yang aduhai. Sungguh biadab.

Terakhir, Mampir Yuk Ke Bitterhear!
Proyek blog fiksi saya akhirnya terealisasi. Dengan alamat bitterhear.wordpress.com, setidaknya saya bisa benar-benar menumpahkan seluruh energi cerita super kacau saya dalam satu tempat khusus. Konsep Bitterhear sendiri adalah tanpa konsep, peduli setan. Saya hanya mau bercerita. Atau bolehlah dibilang fiksi murahan atau pulp fiction. Di sini akan banyak ditemui cerita-cerita pendek yang murahan, receh, dan mungkin pantas dimasukkan lubang pantat penghuni neraka paling bawah. Jika musik, mungkin ini bisa diibaratkan punk yang seperti GG Allin. Rusuh, dan tidak teratur. Terserah saja. Intinya, jangan bosan buat berkunjung, dan lalu caci maki saya karena ini kemungkinan besar akan sering update. Hehe. Bitterhear tidak memberi kalian faedah atau nilai moral apapun, tapi setidaknya saya senang karena bisa berbagi isi otak fiksi saya, alter ego menyebalkan saya, dalam blog ini. Mampir ya!

Saya juga sedang menggodok konsep Bitterhear Podcast (radio internet), berisi siaran rekaman suara tidak penting saya menyuarakan uneg-uneg. Kemungkinan besar akan mengudara di Soundcloud setelah benar-benar terkonsep. 

Hm oke deh, ada usul aktivitas lain?

Tuesday, June 20, 2017

Tadarus Breaking Bad, Takjil Barefood dan Menu Buka Puasa Menyenangkan Lainnya


Berpuasa di rumah adalah seperti kutukan: mata baru bisa merem, lalu suara-suara berisik dari bocah-bocah TPQ membuat saya melek lagi. Kadang di pukul tiga sore, puasa menjadi neraka. Menyiksa dan saya pun tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang bisa diperbuat jika jarak Musola dan kamar saya hanya dibatasi tembok? Bahkan letak bantal saya persis di samping microfon yang digunakan untuk adzan dan aktivitas koar-koar lain termasuk pengajian Malam Jumat dan tadarus saat puasa. Bukan saya menghina agama atau apapunlah—saya tidak ada sedikitpun tendensi itu, dan bila ada kalian yang tersinggung dan masih terbawa-bawa urusan Ahok, go to hell, membusuklah di neraka, saya tidak peduli dan hanya menyampai uneg-uneg yang ngeganjel ini saja. Sebenarnya saya tidak pernah ada masalah dengan aktivitas apapun di Musola itu, selama itu digunakan pure untuk ibadah dan tidak menganggu orang lain. Pure untuk ibadah berarti tidak bertujuan untuk pamer ataupun menunjukkan identitas sebagai umat yang taat. Tidak mengganggu orang lain itu cukuplah bila ada aktivitas ibadah menggunakan sound system, seyogyanya volume speaker diatur agar tidak terlalu keras—atau mungkin tidak usah memakai speaker toa langgar yang amat keras itu. Atau bila memang keras, saya berharap para pemburu surga dan keutamaan di balik bau mulut orang puasa—anak-anak TPQ itu—bisa sedikit lebih santailah jika ngaji. Saya tahu semua orang berhak membaca kitab suci, baik sudah kelas kakap ataupun medioker sekalipun. Tapi ya tuhan, Ya Allah, Ya Allah, Tuhan YME, selama beberapa hari puasa ini entah mengapa yang mengaji di sebelah rumah sungguh sangat tidak bisa menentramkan hati. Mereka mengaji dengan asal-asalan, kadang ada cekikik-cekikik busuk, lalu bercanda internal yang sungguh, seperti semua orang sekampung harus tahu saja. Mengaji pun seperti orang teriak-teriak, keras sekali, seperti orang lain yang mendengarnya tidak punya aktivitas lain saja selain mendengarkan mereka. Bagaimana bila Mbah saya sedang mendengarkan tauziah di televisi, yang karena suara ampun-ampunan mereka, jadi tidak bisa dengar. Bagaimana bila Ibuk menyuruh saya membeli terang bulan dan sop buah untuk berbuka, sampai harus teriak-teriak dan saya masih tidak mendengarkan karena gaduhnya suara ngaji di sebelah. Saya berharap mereka bisa lebih sopan saat mengaji, lebih memelankan suara (kalau bisa volume dikecilkan, kalau tidak bisa ya minimal lebih kalemlah). Saya pernah sekali waktu mendengar suara orang mengaji di sebelah, suaranya lembut dan sopan, menghayati setiap bacaan, tidak tergopoh-gopoh segera usai. Ini nyaman, tidak berisik dan saya masih bisa mendengarkan sekitar. Lah bocah-bocah TPQ yang kebanyakan tetangga saya yang berusia puber ini, malah menjerit-jerit tidak karuan membawakan ayat-ayat Allah. Sebagai seseorang yang kamarnya berada persis sebelah mikrofon, kadang saya ingin mengingatkan, tapi siapalah saya, saya kadang merasa serba salah sendiri. Padahal tetangga Musola lain yang juga berada persis adalah orang Nasrani. Saya tidak tahu apa hukumnya orang yang mengaji dengan toa sedemikian berisik dan mengganggunya. Mungkin MUI atau FPI bisa bantu menjawab, atau bisa juga menuduh saya komunis bangsat liberal kafir pendukung Ahok karena saya seperti anti dengan ngaji. Terserah. Saya tidak peduli. bila kalian cerdas mungkin kalian bisa melihat bahwa saya tidak anti ritual ibadah, yang saya tekankan adalah apakah proses ibadah itu menganggu orang lain atau tidak. Benar kata antah-berantah yang banyak dikutip orang yang sudah muak akan cap-cap kafir dangkal dari sekitar: agama itu seperti kontol, kamu punya sembunyikan saja, nggak perlu dipamerkan ke orang lain, siapa pula yang tidak terganggu kalau kamu pamer jembutmu ke muka orang.

Baiklah, lepas dari uneg-uneg Ramadhan tersebut, dan saya yang masih mengumpulkan cara menegur yang baik agar tidak ada yang salah sangka, lebih baik saya menghibur diri kembali sambil ngabuburit menunggu datangnya adzan Maghrib. Puasa akhir-akhir ini memang lumayan cepat. Saya jarang tidur malam hari sampai sahur, dan baru tidur pagi sampai agak siang, kemudian bangun, menunggu berbuka sambil memasrahkan diri pada layar tua, menonton serial, film atau apapun. Setelah itu terkadang saya memasrahkan pada speaker rumah; mencolokkan pemutar musik dan menghibur diri sendiri dari lapar dan dahaga, untuk kemudian kembali ngaplo di pukul tiga sore sampai dua jam kemudian karena gangguan dari akhwat-akhwat TPQ yang tidak tahu aturan tersebut. Di sela ngaplo saya kembali membuka-baca koleksi baru, atau juga lama. Berupa buku-buku baru yang menurut saya bagus, buku-buku lama yang tidak bosan diulang, juga koleksi majalah-majalah rare dan langka yang baru saya dapatkan akhir-akhir ini, tak lupa suntikan kebengalan dari zine-zine baik baru maupun lama. Berikut beberapa yang saya konsumsi: tadarus, takjil dan buka puasa saya selama bulan puasa tahun ini.

Breaking Bad Season 1-5
Serial TV yang katanya terbaik sepanjang masa. Rolling Stone sempat membahasnya di Editor Playlist dan itu langsung mengganggu rasa penasaran saya selama bertahun-tahun. Premisnya seperti ini: seorang guru kimia yang didiagnosa mempunyai kanker dan akhirnya memutuskan terjun dalam bisnis narkoba demi mengumpulkan uang untuk keluarganya saat dia meninggal nanti. Serial ini sudah tayang di AMC sejak 2008, hanya saja saya baru benar-benar punya waktu untuk melihatnya kali ini. Hati-hati, Breaking Bad tiap episodenya selalu membawa hal-hal yang tidak terduga, dan kita akan kecanduan untuk terus menontonnya sampai akhir. Daya tahan saya masih bisa sampai Season 3, dan kadang harus menyerah karena satu Season punya kira-kira 13 episode dengan durasi hampir 50 menitan. Serial yang membuat dag-dig-dug tidak karuan ini tiap seasonnya semakin memuncak dan membawa pada masalah yang semakin kompleks—dan kalian harus tahu bahwa ipar Mr. Walter White, si guru yang bisnis narkoba, adalah anggota DEA alias polisi yang mengurusi masalah narkoba. Betapa repot menyembunyikan semuanya. Salah satu yang sangat memorable adalah saat White dan partner bodoh yang juga merupakan bekas muridnya, Jesse Pinkman, memproduksi meth berjumlah besar-besaran di gurun pasir. Banyak adegan tolol di situ (Season 2 Eps. 9) yang saya rasa seperti komedi getir Tarantino di mana kita akan merasa miris dan tertawa di saat bersamaan. Sebelum Breaking Bad saya sempat menonton Game Of Thrones namun hanya kuat sampai Season 1. Entah kenapa serial ini walaupun bagus dan membuat penasaran, tidak membuat saya cukup sreg untuk melanjutkannya ke Season 2 (sekarang di HBO akan segera premiere Season 7). Terlalu memusingkan dan banyak intrik. Atau latar jaman kerajaan mungkin saya tidak terlalu suka, mengingat selera saya cenderung tontonan yang punya muatan latar American Lifestyle era 90’s atau 20’s. Selain GoT saya juga sempat menonton The Walking Dead, namun hanya kuat sampai Season 1 juga dan tidak ada niatan lanjut. Serial ini tidak seram-seram amat, namun saya rasa ketegangan yang ditampilkan di Walking Dead amat sangat gelap dan suram sampai-sampai saya merinding-merinding sendiri. Selain itu, True Detective juga sempat saya tonton, ini cuma hanya sampai pada Episode 1 Season 1 saja. Entahlah, terlalu memusingkan dan saya kurang tertarik. Yang terakhir adalah serial Netflix yang tersohor dan sedang hits akhir-akhir ini Thirteen Reasons Why. Saya sempat menonton dan lumayan menarik. Tapi di Episode 2, saya kok mulai bosan, dan arah cerita tidak bisa saya mengerti—kadang terlalu bertele-tele. Saya juga tidak tahu mengapa serial seperti ini bisa jadi sangat hits: semacam serial remaja yang berkisah tentang perempuan bunuh diri dan salah seorang teman (juga teman main seks-nya), berusaha mencari tahu alasannya lewat mixtape. Mungkin selain Breaking Bad, serial yang saya ikuti dan masih betah menonton adalah Silicon Valley, yang Season 4-nya sudah tayang di HBO musim ini. Breaking Bad sendiri juga memunculkan satu tokoh pengacara yang akhirnya dibuatkan spin-off serial sendiri yakni Saul Goodman. Saya berencana menonton serial bertajuk Better Call Saul tersebut setelah menuntaskan Breaking Bad ini. Kurang 2 Season lagi, saya harap kelar sebelum Lebaran.


Barefood – Sullen (EP 2013), Barefood (EP 2014), Milkbox (LP 2017)
Menyimak duo collage rock asal Jakarta ini membuat kuping saya digempur distorsi 90-an setiap hari. Dua EP, Sullen dan Barefood, juga satu debut full length album Milkbox yang baru saja rilis tahun ini, adalah jawaban yang tepat jika ada yang bertanya seperti apakah musik rock yang easy listening tapi tetap gagah dan tidak banci itu. Rio Tantomo sempat menuliskan romantika menonton konser Barefood yang dilarang untuk menyulut rokok; menampilkan Barefood sebagai band rock lurus nan pendiam di mana anak-anak cupu dan culun, berkacamata dan kutubuku di kampus atau sekolah akhirnya punya penyaluran yang satu visi dan bisa moshing. Dari ketiga album itu, saya memfavoritkan Sullen yang dirilis tahun 2013. Dibuka oleh “Perfect Colour” yang renyah dan manis, serta punya sisi getir tersendiri yang sukar dijelaskan. Bagi yang belum pernah mendengar Barefood, “Perfect Colour” adalah pintu gerbang yang tepat. Semua orang akan menyukai lagu ini, termasuk yang masih awam alternative rock sekalipun. Seperti kata Devi Ardian, kritikus musik spesialis Chainsmoker dan Nia Daniati ini, saat saya memberi dengar lagu ini. “Lagu kaya gini enak didengerin makai headset!” Sayangnya, dia tidak punya headset dan saya ogah meminjami. Tidak hanya “Perfect Colour,” Sullen juga punya track lain yang tidak kalah legit. Sebut saja “Grey Skies” yang sangat melodius, “Teenage Daydream” yang bersemangat, dan “Sullen” yang menampilkan vokal perempuan malu-malu tapi cukup renyah dan catchy, cukup nyaman dan enteng. Untuk album Milkbox sendiri, deretan-dereran track matang siap menggempur telinga. Milkbox menjadi album Barefood yang mendewasa. Saya memfavoritkan track nomor 7, “Sugar” dengan sound gitar ala Kevin Shields, semacam eksplorasi ke arah shoegaze yang soft dan muram pekat. Tipikal My Bloody Valentine. Selebihnya semuanya bagus, walaupun sebaik-baik Barefood tetaplah Sullen.


Rumahsakit – 1+2
Mencintai Rumahsakit dengan segala kuranglebihnya—di album ini kekurangannya (atau justru daya tariknya?) ada pada vokal Andri Lemes yang masih tetap... lemes. Siapapun menyukai Rumahsakit dengan Arief (kalau tidak salah) sebagai vokalis baru yang barusan meluncurkan album Timeless. Saya juga suka sih. Suaranya bagus. Cuman lebih suka corak vokal monoton dan malas dari Andri. Bila menyimak album Rumahsakit rilisan lampau, era 90-an, suaranya malah makin kacau meski musiknya tetap indah (hanya saja saya download mp3-nya dengan kualitas lo-fi nan mengecewakan). Ada sebuah pendapat bahwa hanya segelintir orang yang kenal Rumahsakit, dan mereka betul-betul fanatik. Saya mungkin salah satunya. Jika tidak kenal Rumahsakit, sebaiknya ya begitu saja tidak perlu memaksa. Tapi jika ingin kenal, mungkin akan ada dua tipe manusia setelah mendengarkan Rumahsakit era Lemes, khususnya di album 1+2 ini: merasa aneh dan tergila-gila sekali, dan yang kedua mengatakannya sebagai musik lempeng, aneh dan tidak punya daya seni—mengutip pendapat Tri Nanang Budi Santoso, sobat kepompong saya saat saya pamerkan lagu “Hilang.” Sambil mengata-ngatai dengan sembrono bahwa selera saya nggak mbois, tidak punya sense of music atau apalah—enak saja. Saya mencintai Rumahsakit secara tidak sengaja saat memutar lagu “Hilang” di YouTube, yang itu juga secara tidak sengaja pula. Nama band ini adalah nama yang mungkin paling unik dalam jagad musik tanah air; lebih menegaskan keabsurdan ketimbang katakanlah GiGi, atau Padi. Rumahsakit, saya ingin sekali terbahak saat mendengar namanya. Nyatanya lagu “Hilang” yang saya dengarkan membuat saya terus-terusan meratap di depan speaker: indah sekali, tuhan. Intro yang menyayat, dan terkesan sok keren, membius dengan gaya vokal paling ngehek; perpaduan yang memukau dan menghasilkan musik yang begitu bagus dan jujur. Gila. Rumahsakit bagi sebagian orang dianggap nabi (simak SFTC band ini di YouTube). Bahkan meskipun sudah berganti dengan vokalis yang sangat merdu dan bisa bernyanyi, tetat saja orang-orang merindukan Rumahsakit dengan Lemes sebagai vokalis. “Kuning”, membuat kita seolah merasakan hamparan mentari di kening, “Bernyanyi Menunggu”, mengusik naluri kejantanan dengan musik adem ayem, “Pop Kinetik”, yang absurd dan bernada jenaka, “Mati Suri” yang gurih, “Anomali” yang mungkin merupakan suguhan terbaik pada musik pop Indonesia, dan “Sakit Sendiri” yang menyayat dan kosong. FYI, saya sering mengentikan guyuran gayung, atau aktivitas menggosok gigi di pagi hari, saat intro lagu “Hilang” berkumandang dari sound murahan`di kamar. Bukan apa-apa, keindahan itu sayang sekali untuk diacuhkan.


Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie – Semua Ikan Di Langit (2017)
Ziggy meramu sebuah keabsurdan tingkat dewa menjadi fiksi yang manis, tanpa adanya konflik bertele-tele atau ending yang menendang kepala. Novel pemenang juara 1 sayembara Dewan Kesenian Jakarta, sekaligus mungkin juara 2 dan 3 karena pihak juri sengaja tidak memberikan juara untuk urutan 2 dan 3 dengan alasan perbedaan kualitas yang jauh. Semua Ikan Di Langit memang bagus, dari segi gagasan juga tokoh-tokoh yang dimainkan. Mungkin jika ini film bisa dapat nilai 9,8 dari Rotten Tomatoes. Bayangkan tokoh utama novel ini adalah bus. Benar, bus Damri jelek yang biasa kalian jumpai di Bungurasih ataupun—dalam latar novel ini entah saya lupa tepatnya terminal apa. Bus ini secara ajaib berkendara di langit, dengan ikan julung-julung ajaib yang dikendalikan oleh sosok bernama Beliau. Sulit menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya karena alurnya benar-benar tidak tertebak, keluar dari batas kewarasan dan imajinasi. Ada pemikiran bahwa ini merujuk pada kisah Tuhan dan malaikat, dan proses penciptaan dunia. Tapi Ziggy—benar-benar—mengisahkannya secara ajaib dan absurd, tidak sakral dan sama seperti gaya penceritaan anak kecil lugu yang tidak tahu apa-apa di Di Tanah Lada (2013). Ada balutan ilustrasi epik karya Ziggy sendiri yang juga menambah nilai lebih di sekujur tubuh buku ini. Ada kutipan-kutipan haru yang jujur cukup absurd karena diucapkan oleh bus. Bila perasaan kita sudah terasah, atau sudah mempelajari teori semiotika, kita akan segera tahu pesan halus yang disampaikan Ziggy dalam adegan-adegan yang meloncat-loncat, dari situasi perang sampai toko roti di belahan dunia lainnya. Ziggy melemparkan kritik dan pesan tidak dengan gaya keras, tidak pula lembut romantis. Ia menyampaikannya dengan gaya ketidakjelasan yang sebenarnya cukup jelas bila kita mengerti maksudnya. Saya penasaran akan naskah-naskah yang tersodor di meja juri DKJ: seburuk itukah sampai hanya Ziggy yang memperoleh juara 1—dengan juara 2 dan 3 yang kosong, selebihnya diisi juara harapan? Mungkin dari semua puja-puji di atas, saya belum menemukan satu titik cela lagi: ini sastra ringan yang sebenarnya cukup berat. Ini sastra dengan pembahasan paling liar dan fantastis yang pernah saya baca. Cukup berbobot dan tinggi. Mungkin Semua Ikan Di Langit bisa dibayangkan sebagai cerita-cerita Disney; sama seperti itu dan hanya saja ini jauh lebih berbobot dan melampaui imajinasi manusia manapun. Karya Ziggy yang sepertinya sedang main-main tapi ia sangat serius melakukan main-main itu. Mungkin Wening Gitomartoyo dari Rolling Stone Indonesia berpikiran serupa saat mengulas Ziggy—yang oleh majalah ini menerima Editor Choice Awards tahun ini kategori The Phenomenal


Sabda Armandio – 24 Jam Bersama Gaspar (2017)
Dio adalah juara harapan 3 dari Sayembara Novel DKJ. Jujur, saya lebih menikmati membaca ini dibanding Semua Ikan Di Langit—meski memang tidak bisa membandingkannya karena Semua Ikan memang punya gagasan yang cukup fantastis. Novel Dio yang kedua seteleh Kamu (yang sudah lama saya ingin membacanya tetapi tidak pernah ada di toko buku ini) membawa cerita detektif yang mengejek detektif itu sendiri, menurut keterangannya. Tapi saya akan bilang bahwa novel ini lebih ke arah kriminal. Detektif tidak dikenal itu hanya melakukan dialog penyelidikan yang selalu ada di bagian tiap bab. Tokoh sentral dalam novel ini adalah Gaspar, yang sejak awal digambarkan sebagai bajingan yang akan merampok kotak hitam di sebuah toko emas. Upaya Gaspar ini secara kebetulan membuatnya mendapatkan partner merampok: saya lupa tokohnya satu-persatu. Kalian pernah membaca novel 5cm sebelum ia jadi ngehip karena dibuat filmnya? Novel terbaik versi Goodreads itu membawa banyak sekali tokoh dalam novelnya. Apakah kalian kebingungan membedakan dan menghafal tokoh ini dan itu, Arial dan Zafran misalnya. Meski Donijantoro meramunya pelan-pelan, tapi entah kenapa saya sulit sekali untuk melakukan pendekatan dengan imajinasi. Untung saja tertolong filmnya—yang juga masih jelek pula. Tapi Dio berhasil membuat pembaca hanya perlu membaca tanpa perlu membolak-balik halaman awal demi mengingat sang tokoh. Karakternya kuat, ada pembeda dan seolah kita mengenalnya. Yang hebat lagi adalah, kita bisa tahu karakter tersebut dan hafal walaupun mereka menggunakan nama samaran. Begitulah Dio. Saya tidak tahu dan tidak penting untuk tahu apakah isi kotak hitam tersebut. Memang bukan itu tujuan penulis. Saya mungkin akan membacanya lagi untuk menemukan hal itu. Tapi yang menarik dan saya fokuskan adalah, kecerewetan Gaspar sebagai tokoh aku, yang cukup komunikatif dan memakai banyak pendekatan budaya pop dalam novelnya. Ada ciri seorang geek-nerd yang tidak memaksakan memakai pendekatan ini. Cerpenis dan novelis Hami Badjingan (nama samaran) sempat berkata bahwa ia juga seperti itu dalam sebuah percakapan tapi saya hampir muntah mendengarnya. Hanya Dio yang bisa seperti itu. Saya ulangi, hanya orang tengil yang benar-benar tengil yang bisa seperti itu. Bukan yang sok tengil.

Taufiq Rahman - Pop Kosong Berbunyi Nyaring (2017)
Dalam buku ini akan dijumpai 19 hal yang tidak perlu diketahui tentang musik. Taufiq sebagai hipster sejati menuliskan grup musik, album, dan lagu-lagu underrated alias di bawah radar yang tidak banyak diketahui dan disukai orang. Menarik membaca esai-esai di buku ini, menghubungkan pengalaman pribadi penulis atau fenomena sosial, dengan musik. Secara mengejutkan, Chris Cornell vokalis Soundgarden ditemukan meninggal beberap bulan setelah buku yang memuat esai tentangnya di halaman depan ini dirilis. Membuat saya yang buta grunge selain Nirvana dan Pearl Jam (serta Ello Tahitoe jika dia layak disebut grunge), langsung mengonsumsi Soundgarden saat itu juga. Juga banyak artis yang saya tidak pernah tahu seperti Brian Eno atau Minutemen atau bahkan Bandempo (!) Ada banyak informasi yang tidak perlu diketahui namun amat menarik bila kita tahu. UKM penerbitan buku Elevation Books milik Taufiq Sepertinya akan konstan mengisi rak buku saya dengan buku-buku musik yang jarang ada di Indonesia. Saya menunggu rilisan-rilisan selanjutnya. Rock and Roll tidak hanya menyenangkan untuk didengarkan, tapi juga untuk dibaca.

Playboy Indonesia Edisi Januari 2007
Singkat cerita di suatu siang yang terik di bulan puasa, saya memutuskan mampir ke Jl. Semarang untuk berburu harta karun: majalah dan buku bekas. Tapi kenyataannya saya seringkali kesini dengan tangan kosong. Saya tidak tahu lagi harus ke mana saat tiba-tiba terpikir bahwa jarak Blauran dengan Jl. Semarang tidaklah terlalu jauh. Saya iseng mampir meski parkir bangsat 3000 rupiah. Ternyata benar adanya: satu Playboy Indonesia saya memang didapat dari Jl. Semarang, juga Rolling Stone Indonesia edisi pertama yang oleh penjualnya ditaruh sembarangan sebagai tadah hujan—sialan—tetapi di Blauran saya selalu menemukan harta karun: dua Playboy Indonesia saya dapat di sini, juga beberapa Rolling Stone, juga selusin National Geographic Indonesia. Lokasi perburuan saya pun berpindah ke Pasar Blauran. Saya sempat bertemu dengan Rafika, jurnalis senior Zetizen di tempat ini. “Aku nemu harta karun,” pamer saya padanya. Rafika yang waktu itu sedang bersama ibundanya penasaran. “Mana lihat?” saya langsung menyeretnya ke tempat agak jauh, membuka tas, dan “astaghfirullahalaziim, mas....” ujar Rafika. Saya terkekeh dan tidak peduli stereotip orang akan Playboy. Ini bagi saya adalah majalah terbaik dan paling memuaskan yang pernah saya baca, lepas dari foto nude-nya. Playboy membuat saya klimaks berulang kali tanpa bosan membacanya; feature yang jempolan, gaya bahasa yang sok songong dan sengak tapi saya suka (khususnya di Playboy Advice). Satu lagi, Playboy punya sikap yang jarang dipunyai media lain. Saya berharap Playboy Indonesia hadir kembali, dengan Pemred Erwin Arnada, penulis Alfred Pasifico, Soleh Solihun dan Arian Arifin Wardiman. Cerpen-cerpen yang dilempar juga sarat akan mutu. Cukup kenyang dan puas, setidaknya sudah mendapat tiga edisi. Kurang tujuh lagi dan saya mungkin akan bahagia. Khususnya edisi perdana dengan cover Andhara Early dan Playmate Kartika. Saya penasaran, sungguh.

Tuesday, August 18, 2015

Konsumsi Puasa Selain Fanta Merah

Ini adalah beberapa benda bertuah yang jadi konsumsi saya selama puasa kemarin. Saya share disini sebelum emak marah lagi karena meja ruang tamu lantai dua dipenuhi benda-benda ini—dengan kondisi gak rapi blas. Setelah itu baru saya ringkes-ringkes.

Rolling Stone Indonesia (Edisi 122 Juni 2015)
Kurt Cobain sebagai cover sampul (lagi). Patut dibaca bagi siapupun umat flannel kumal dan jeans belel yang tersisa. Sisi lain tuhan kalian diungkap langsung oleh putri kandungnya, Frances Bean Cobain dengan sangat hangat. Ada pula feature panjang tentang ISIS, yang tentunya lebih mencerahkan dibanding website PKS Piyungan.

Tabloid Rock (All Issues 1-34)
Bacaan adiktif bagi pemuja musik berisik kumur-kumur. Log Zhellebour—promotor rock hasil didikan arek-arek Suroboyo—dan Wenz Rawk—kini jadi jurnalis metal majalah Rolling Stone—adalah beberapa orang dibalik tabloid berumur pendek ini. Menemukan seluruh isu tabloid lawas era 2000-an ini di gudang secara tidak sengaja adalah berkah ramadan yang menjadikan puasa lebih heavy varokah.

Esquire (Anniversary Issues, Maret 2015)
Esquire pertama saya. Memuat a must have items pria dewasa yang juwancuk mahalnya—dan nggak penting-penting juga. Kurang memenuhi ekspekstasi. Pertama: tidak ada feature seperti Playboy. Kedua: model-model wanitanya kurang ngena—dengan pengecualian mbak Sigi Wimala: you’re always the badass!

Unfold Zine 2015
Zine untuk korporasi Bakrie tai. Jerit hati korban lumpur disuarakan lepas di zine anak-anak Porong, Sidoarjo ini. Sebagai dukungan saya berhenti nonton TvOne, atau Tv O’on—penyiarnya nggak cakep sih nggak kaya Metro—dan memilih setia dengan Youtube (dan Jav68).

10 Dosa Besar Soeharto
Kemungkinan besar buku ini tidak dijual bebas. Hanya dimiliki orang-orang tertentu saja. Saya nemu buku ini di lemari oom dan langsung mencomotnya gitu aja. Kesimpulannya sih cukup masuk akal bila ada jutaan orang yang ingin menggantung Pak Harto hidup-hidup (sayangnya udah meninggal duluan). Saya suka gaya provokasi di buku ini. Urat marah cepet kebakar. Yang diungkap pun juga fakta dan dari sumber-sumber yang sangat bisa dipercaya. Untuk itu, tidak ada ide lain yang lebih gegabah selain menjadikan Harto pahlawan nasional.

Selain menikmati majalah dan buku, puasa juga menjadikan saya pendengar musik yang lebih khusyuk.

Keane – The Best Of Keane
Cukup dengan mengganti gitar dengan piano dan memainkannya seemosional mungkin, jadilah rock era baru yang lebih cocok didengarkan sambil merangkul pacar. The Best Of Keane memuat kurang lebih tiga puluh lagu terbaik mereka. Percayalah, tidak hanya Coldplay yang pandai meramu musik sendu secara jenius. Keane juga patut diperhitungkan.

Alice - Konsorsium Humaniora (EP)
Alice (atau A.L.I.C.E) adalah band baru asal Bandung yang dalam sebuah wawancara berkeinginan jadi band cult – dan untuk itu rela mengeksplorasi hardcore, memadunya dengan stoner sampai melodic death metal. Untuk jadi cult saya rasa masih belum, eits tapi tunggu dulu, ini baru rilisan EP perdana. Akan lain pendapat mungkin jika nanti menyimak rilisan selanjutnya.

Chunk! No, Captain Chunk! – Get Lost, Find Yourself
Judul album setengik slogan acara travelling konyol itu. Tidak bagus-bagus amat, yang melekat hanya track pertama (lupa judulnya juga) dan lagu yang berjudul sama dengan album – satu-satunya lagu berformat akustik. Pop punk yang jadi agak berat karena dicampur unsur breakdown – hardcore (terdengar amat sangat di-pak-sa-kan dan itu nggak ma-suk). Tapi vokalis Chunk! Kayaknya lebih cocok menggantikan Tom DeLonge di Blink, cempreng-cempreng nikmat.

Black Sabbath – Paranoid
“Yang nyiptain metal padahal bukan Metallica, tapi Black Sabbath, ini patut diluruskan biar arek-arek yang baru ngerti metal nggak sok!” Mas Bison dari rombongan GRIBS saat berbincang santai di backstage jelang perform mereka. Dengan itu sepertinya tidak ada lagi alasan bagi kalian untuk tidak mendengar Sabbath, khususnya di album-album awal.

Buku dan musik. Kurang lengkap bila tak ditambah satu lagi: film/serial TV.

Silicon Valley (Season 1)
Serial HBO paling konyol. Bahwa jenius dan bodoh itu beda tipis. Menceritakan kumpulan programmer Silicon Valley yang bekerja untuk aplikasi yang diberi nama Pied Piper. Dibalut kata-kata sarkastis, cabul, rusuh, tak bermoral, tapi cerdas dan membuat terpingkal (saya sampe cegukan). Cocok bagi kalian yang muak dengan sitkom Tetangga Kok Gitu.

Silicon Valley (Season 2)
Melanjutkan kebodohan season pertama. Menjadi semakin serius karena Pied Piper sudah berharga jutaan dollar. Tapi tentu saja semakin serius serial komedi, semakin tolol pula adegan dan dialog yang terjadi.

Kurt Cobain: Montage Of Heck
Dokumenter rock terpenting tahun ini. Tidak berlebihan bahkan saat menceritakan sisi kegemilangan atau kejatuhan Cobain sekalipun—emosi yang ditampilkan pun cukup konstan. Dengan tambahan animasi visual yang seolah menyatu dengan dokumen-dokumen Cobain (khusunya diary atau catatan), kita diajak untuk memahami sisi manusiawi Cobain secara utuh dan mendalam. Saya resmi berhenti menganggap Cobain tuhan setelah menonton dokumenter ini. Ternyata dia manusia.

All Ages Party
Dokumenter hardcore ibukota mulai dari era 90-an. Menyenangkan: di dalamnya banyak berisi rekaman-rekaman gigs lawas dan hardcore kids yang nyanyi bareng, selain wawancara tokoh-tokoh legendaris di subgenre metal paling bergengsi ini. Jika kalian penasaran kenapa scene hardcore tak pernah mati, sebaiknya tonton dokumenter penting ini. 

Saturday, March 7, 2015

Enam Aturan People Like Us

Saya baru saja menonton People Like Us di HBO dan sedikit nangis pas ending. Saya ogah menjelaskan bagaimana ceritanya secara detail tapi intinya ini adalah film tentang keluarga yang hilang. Cukup menyentuh di beberapa babak, dan menurut saya yang paling berkesan dan menyentuh emosi adalah endingnya. Sambil mengusap sisa air mata cemen saya, berikut saya tulis kembali enam aturan yang sempat dibeberkan mas-mas itu (saya lupa nama perannya) di suatu adegan.

Six Rules:

 1. Jika kalian menyukai sesuatu karena kalian berpikir orang lain juga menyukainya, itu bukanlah hal yang sebenarnya ingin kalian sukai.
2. Sebagian besar pintu di dunia ini tertutup. Jika kalian ingin memasukinya, kalian harus mengetuk pintunya semenarik mungkin.
3. Segala sesuatu yang kalian anggap penting sebenarnya tak penting. Dan segala sesuatu yang kalian anggap tak penting sebenarnya penting.
4. Jangan taruh/buang kotoran (shit) ditempat makan kalian.
5. Masuklah ke dalamnya: tak perlu mempermasalahkan hasil. Yang terpenting adalah bahwa kalian berada di sana untuk itu.
6. Jangan pernah tidur dengan seseorang yang memiliki lebih banyak masalah dibanding kalian.