Showing posts with label Zine. Show all posts
Showing posts with label Zine. Show all posts

Wednesday, January 10, 2018

Bagaimana Nuran Wibisono Mengutuk Saya Jadi Penulis Musik Amatiran


Saya baru saja masuk kantor, pukul setengah tiga sore. Shift malam sama brengseknya dengan shift pagi: macetnya, panasnya. Saya rehat sejenak sebelum menatap layar komputer untuk beberapa jam ke depan. Sesudah sebats saya mencomot Cola dari kulkas koperasi. Ya bisa bayar besok atau besoknya lagi. Terima kasih untuk Mbak Yani selalu mau terima kasbon. Saya bawa Cola itu dan bersiap ngendon depan komputer. Saya tidak cek handphone daritadi, saya masukkan saku. Tidak ingin terlalu terdistraksi dengan WhatsApp atau Instagram -- dunia maya bisa ditunda. Saya coba fokus di kerjaan, tapi entah kenapa masih belum konsen betul. Padahal sudah beberapa tegukan Cola mengisi lambung, juga cegukan-cegukan kebahagiaan yang hanya bisa dirasa pencandu soda tingkat akut. Karena masih terbayang busuknya jalanan tadi, saya tidak punya pilihan lagi selain mengeluarkan ponsel. Hidupkan data, dan seperti yang sehari-hari kamu alami: jutaan pesan -- kalau saya boleh sedikit hiperbolis -- beruntun masuk dengan derasnya. WhatsApp selalu begitu. Andai saja chat grup bisa sedikit lebih bermakna. Lalu dari beberapa grup yang saya ikuti, beberapa yang paling berisik adalah grup keluarga. Grup keluarga besar saya ada dua: satu keluarga besar ibuk dan satunya ibuk juga, cuman beda nasab atau garis keturunan. Jadi, beda eyang lah istilahnya. Dari grup-grup ini saya tahu -- kamu pun juga pasti tahu -- kalau bahaya hoax yang dikoar-koarkan orang-orang ternyata memang ada. Hoax yang benar-benar militan.  Disebar sama orang yang kamu kenal dekat. Kamu tidak berani untuk menegur, apalagi memberi tahu kebenaran. Bahkan, kapasitasmu sebagai buruh berita di media -- yang terverifikasi dewan pers -- tidak serta-merta bikin nyalimu memuncak untuk bilang: budhe, pakdhe, itu kabar hoax. Kamu lalu hanya diam saja -- bisanya memang begitu demi kesopanan -- dan melihat chat grup lain, yang kadang sama omong kosongnya. Menemukan fitur bisu di grup WhatsApp bisa jadi salah satu penyelamat hidup yang mungkin memang dari sononya sudah sumpek. Saya lalu merasa muak dan mual sendiri, kembali menaruh ponsel di meja. Saat akan mengetik, ponsel saya berbunyi. Ah, mungkin dari pacar. Penasaran sedikit, saya lirik sebentar. Saat melirik itulah mau tidak mau saya langsung fokus 100% pada ponsel, dan sadar tidak sadar mengenyahkan pekerjaan barang sebentar. Tertulis jelas di notifikasi: chat dari Mas Nuran Wibisono.

Kamu tidak salah baca. Ya, Nuran si jurnalis rock and roll -- atau hair metal -- super brengsek itu. Penulis musik ugal-ugalan kebanggaan Jember. Calon duta Guns N' Roses kawasan Asia Tenggara. Propagandis hair metal nomor wahid yang membuat band macam GRIBS, Sangkakala, dan gerombolan hair metal lokal lainnya, tetap percaya pada celana ketat dan rambut gondrong; gerombolan riang gembira yang merasa survive, karena karyanya selalu dicintai seorang Nuran -- penulis dengan kepercayaan diri tinggi pada apa yang disukainya. Ya, benar sekali. Nuran adalah penulis musik idola saya.

Sesudah bertanya kabar kabari dan lain sebagainya, dan saya balas dengan rasa tidak percaya dan menebak-nebak arah tujuannya, akhirnya Nuran bilang to the point.

"Kamu mau nggak ngisi bedah buku baruku di c2o?" tanyanya.

Tenggorokan saya serasa ingin minum air perasan jeruk lemon.

"Moderatornya Ayos Purwoaji." Nuran menambahkan.

Saya langsung mengambil air mineral di pantry. Lupa kalau di sebelah ada Cola.


***
Nuran Wibisono adalah penulis blog yang sudah saya ikuti sejak bandel-bandelnya masa SMA. Kalau tidak ada tulisan beliau, saya tidak akan bisa ikut menulis juga di blog kecil ini. Saya kenal dia waktu tidak sengaja nyasar di portal berita antah-berantah, pada tulisan -- yang kalau tidak salah -- berjudul 'Menulis Musik'. Pembukanya ciamik, mencomot daftar lima pekerjaan impian Rob, tokoh di film -- dan novel -- High Fidelity. Salah satu mimpi Rob: jadi musisi. Selanjutnya: jadi wartawan musik di New Musical Express atau NME. Nuran lalu menggiring saya ke dunia yang belum pernah saya tahu -- mungkin tahu tapi masih kurang dalam: dunia menulis musik. Ini orang keren, pikir saya. Meskipun tulisannya agak sok tahu  (mungkin karena waktu itu saya belum tahu apa-apa yang diketahui Nuran). Dari situlah saya paham sebuah profesi yang benar-benar menyenangkan bagi anak band gagal seperti saya: jadi penulis musik atau wartawan musik. Kurang ajar. Tulisan ini secara langsung -- dan tidak langsung -- membuka cakrawala saya yang masih sangat terbatas. Tahu-tahu saya nyasar di blog pribadi Nuran, dan hampir sudah membaca semua tulisannya (saya bahkan pernah baca kaburnya dia ke Gili Trawangan cuman gara-gara putus cinta). Yang saya tahu kemudian, dari Nuran-lah pintu gerbang menuju dunia tulis-menulis musik terbuka. Blog Nuran berisi banyak link ke blog lain. Semuanya seru dan hampir semuanya menulis tentang musik. Sampai saya nyasar di sebuah situs humaniora yang masih hangat: JakartaBeat. Di situs ini, Nuran juga ikut berkontribusi. Selanjutnya, perlahan-lahan kenal dengan tulisan penulis lain seperti Taufiq Rahman, dan Phillips Vermonte. Saya lupa nama penulis lainnya di Jakbeat, tapi tiga orang itulah yang selalu saya baca tulisannya dari awal sampai akhir, dari naskah paling lapuk sampai paling baru. Esai Taufiq Rahman bahkan sudah saya jadikan bahan skrpsi. 

Dari aktivitasnya di Jakbeat, Nuran kemudian aktif menulis di Tirto.Id -- sebuah situs berita yang menurut saya jadi yang pertama kali mempopolerkan infografis di Indonesia. Aura bengalnya masih sama; tulisan Nuran renyah dan mengenyangkan. Tapi tidak terlalu berat. Seperti menyantap Paket Panas 1 di McDonalds. Salah satu tulisannya tentang Nike Ardila, benar-benar mengambil sudut pandang baru. Bukan menyoroti sosok Nike sebagai legenda, tapi efek yang ditimbulkan sesudah kematiannya. Fokus pada fans sejati Nike, yang setiap tahun mengadakan ziarah. Kata Nuran: "Ini sudah seperti sebuah agama, dengan ritual wajibnya." Musik -- seperti yang Nuran dan saya yakini -- memang bisa menimbulkan efek sosial yang luar biasa. Kalau kata Taufiq Rahman: "Menulis musik adalah menulis tentang manusia", maka Nuran sudah berhasil meramu sisi humanis dari tulisan bertema musik.

Sebelum menulis di media, karya-karya Nuran di masa bengal (mungkin waktu masih gondrong) sangat-sangat menyentuh hati nurani. Nuran tidak memposisikan diri sebagai begundal tengik seperti Rio Tantomo -- ini 'guru' saya yang lain -- tapi cenderung apa adanya. Pernahkah kamu kepikiran untuk membuat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Demi Satu"? Hanya Nuran yang segila itu. Lalu, kekonyolan lain adalah saat semua penulis musik berlomba menulis album terbaik di tahun ini -- seperti ritual media musik pada umumnya -- Nuran malah menjadi 'punk' dan menolak sama. Ia dengan bangga mempersembahkan daftar album terburuk tahun ini, dan siap dimaki-maki semua orang: terutama Ungu Cliquers dan fangirl Sigit Purnomo alias Pasha. Jelas ini tidak pakai teknik-teknikan: nulis ya nulis saja. Super subjektif. Sengak dan songong, tapi sekaligus cerdas. Apa yang kamu pikirkan saat mendengar band bernama 'Asbak Band'? Hanya Nuran yang berani menyarankan band itu untuk ganti nama lebih dulu, sebelum rilis album baru. Saya tidak mengesampingkan karya Nuran yang lain di luar tulisan musik (food writernya tentang warung makan juga keterlaluan biadab bagusnya, apalagi kisah tentang 'on the road' versi Nuran yang doyan backpacker). Tapi karena ini sedang fokus pada tulisan musik, maka saya hanya akan berfokus pada Nuran dan karya tulisan musiknya saja.

"Gimana? Mau nggak?" Nuran bertanya lagi. Itu sesudah saya mencoba ruwet, melempar kesana kemari dengan alasan sungkan, kurang pede, kurang kompeten dan lain sebagainya. Saya lalu menelfon Rona Cendera, editor senior Ronascent Webzine.

"Wancuk! Terima aja! Kesempatan!" katanya. Entah kenapa harus berteriak-teriak di telfon. Saya lalu mencoba mengopernya pada Mas Rona.

"Sek sek" ujarnya. "Moderatornya siapa?"

"Ayos. Ayos Purwoaji." 

"Cok! Emoh sungkan! Orang besar itu. Awakmu ae!" 

Bangsat. Saya sebenarnya tidak kenal Ayos, hanya suka mendengar namanya saja. Cukup disegani di ranah seni rupa, dan sempat aktif di dunia kepenulisan. Sebelumnya saya malah sempat mampir ke acara Biennale Jatim, disitu Ayos berperan sebagai kurator. Melihat tindak-tindak Ayos yang punya nama besar, dan Nuran yang hampir setara dengan Rudolf Dethu di kancah propagandis hair metal nusantara, saya jadi agak segan. Tapi ini adalah kesempatan bagus: lagipula saya belum beli bukunya -- masih menabung untuk beli yang hardcover seharga 150 ribuan. Akhirnya saya menyanggupi. Pikiran saya waktu itu: kapan lagi bisa sedekat ini dengan idola. Plus kemungkinan bisa dapat buku gratisan. Saya pikir bukunya lumayan worthed juga untuk dimiliki. Akhirnya saya mengiyakan tawaran Nuran. Saya yang belum baca bukunya, sedikit malu-malu kucing ingin 'membacanya' dulu. Tapi Nuran sepertinya membaca pikiran saya.

"Minta alamatnya. Nanti aku kirimin bukunya." 

Oh yes. Alamak di tanggal hampir mendekati tua, dapat kiriman buku gratis. Tapi dengan bodohnya sesudah mengiyakan saya kepikiran hal lain. Otak saya langsung kosong. Brengsek, mau ngobrolin apa nantinya di bedah buku. Cola di meja saya tandaskan. Luar biasa, saya belum mengerti harus bicara apa tapi sudah mengiyakan saja. 

Kebuntuan ini terjadi sampai jelang hari H tur buku Nuran di Surabaya. Karena banyak pekerjaan, saya sampai hampir lupa kalau ada bedah buku hari Minggu. Sampai di suatu sore, dengan sepatu saya yang mamel karena hujan di jalan, saya masuk ruangan kantor dengan gontainya. Mbak Maria, salah satu penyiar yang sedang melalukan hobi ceriwisnya di dekat meja makan, menyapa saya sambil sedikit berteriak.

"Tit, ada kiriman buat kamu. Kutaruh mejamu, ya."

Dalam hati saya langsung berdenyut 'deg'. Asu. Saya lupa kalau hari Minggu ada bedah buku, dan ini pasti kiriman dari Nuran. Ternyata benar. Tapi dasar otak saya memang sedungu itu, sesudah saya buka paket saya malah keasyikan membaca dari awal bukunya. Membaca tanpa sadar saja tahu-tahu sudah hampir separuh. Kemudian ingat lagi. Asu. Bedah buku Minggu. Lalu sampai di kos saya baca lagi sampai ketiduran, dan lupa lagi esok harinya. Buku saya bawa ke kantor, saya tuntaskan sampai habis. Mau tidak mau saya harus ingat, karena besok acara bedah buku itu sudah dijadwalkan. Saya sudah ditawari Rona untuk cangkruk, membahas materi yang setidaknya bisa saya sampaikan. Tapi Rona hampir belum pernah baca tulisan Nuran, jadi mungkin bisa sharing tentang geliat musik di Surabaya saja -- topik obrolan favorit Rona selain meniduri salah satu personil The Corrs. Alhasil, saya berpikir tidak muluk-muluk: saya akan hadir sebagai penggemar, yang mengapresiasi Nuran, itu saja. Dan inilah jeleknya saya: untuk acara dari penulis sebesar Master Nuran, saya tidak merangkai kata-kata apapun: cul-culan. 

"Wis gampang. Lihat besok saja. Nanti aku bantu kalau ada hal yang bikin awakmu kesulitan." ujar Rona.

***

Hari Minggunya, saya harus ke kantor dulu mengisi ruang-ruang berita untuk dibacakan awak gatekeeper. Bedah buku dimulai pukul tujuh, tapi pukul enam kerjaan masih belum kelar. Nuran sudah saya kontak, katanya berangkat ke c2o pukul enam, bersama Ayos. Setelah selesai semuanya, saya sudah siap-siap menjunjung tas, ndilalah di depan pintu ada Mas Iman Dwihartanto -- penyiar legendaris Kelana Kota Suara Surabaya, sekaligus Manager Newsroom. Saya agak sedikit sungkan kalau langsung pamit. Akhirnya saya duduk-duduk dulu dekat Mas Iman. Nah, di sini sepertinya Mas Iman bisa membaca pikiran saya, dan langsung memberi saya sedikit pelajaran tentang 'public speaking'. Padahal beliau tidak tahu sebentar lagi saya akan mengobrol ria di bedah bukunya Nuran.

"Keep smile face. Jangan cemberut. Usahakan kamu 'senyum' waktu ngobrol. Itu penting. Mempengaruhi pembawaanmu. Nanti kapan-kapan aku ajari teknik announcing lagi." Mas Iman melihat arloji. "Eh, apa sekarang saja belajarnya di ruang rekaman?" tanyanya. 

Saya yang memang sedang buru-buru menjawab seadanya: "Next time deh, mas. Buru-buru nih, ada acara."

"Oh, ok, ok. Santai. Mau berangkat sekarang? Hati-hati, loh ya. Lagi hari libur."

Saya langsung bergerak cepat ke c2o. Jaraknya hanya seperlemparan batu dari kantor. Tinggal turun sedikit, lewat beberapa lampu merah, lalu sampai. 

Sampai di sana, Mbak Yuli dan Charlie--atau siapa nama kucing itu--menyambut saya. 

"Mas Nuran lagi di dalem, silahkan silahkan!" ujar Mbak Yuli. Saya tidak sempat menengok buku-buku baru. Lalu sesudah mengasap Black Menthol sebentar di luar (dengan tanpa terasa sudah habis tiga batang di asbak), Nuran lalu WhatsApp saya

"Masuk aja. Ada temen-temen juga nih!" 

Saya lalu memasuki mini bar di c2o. Ada bercangkir-cangkir kopi hitam di meja, dan puntung rokok yang berceceran. Kharis Junandharu dari Silampukau juga ada di sana, dengan kaus merah lengan panjang yang biasa dipakai pas manggung. Ada juga basis Hi-Mom! yang bergaya cukup flamboyan: menebalkan bulu cambang dan pakai topi ala anak kampus kesenian. Ayos Purwoaji, si moderator kemudian sedikit ngobrol-ngobrol dengan saya. 

"Aku belum mbaca bukunya. Nanti tak lempar-lempar saja ya," ujarnya.

Saya lalu lanjut bercakap dengan Nuran. Untuk pertama kalinya kami berjumpa. Saya melihat Nuran sebagai sosok yang lumayan tambun, tapi gagah. Mungkin berbeda dengan foto-foto yang dipamerkan di blognya saat dia sedang travelling beberapa tahun silam. Nuran sudah punya bini. Jadi mungkin agak terlihat seperti bapak-bapak. Pakai celana 3/4, kamu tidak akan sadar kalau dia adalah penulis jempolan. Tapi saya ragu apakah benar dia propagandis hair metal nomor satu Indonesia, karena dia pakai kaus Seringai. Haha. 

Lalu satu-persatu pengunjung mulai datang. Saya, Nuran dan Ayos berada di depan. Hanya gelar tikar seadanya, dan itu lebih bisa bikin suasana jadi lebih intim dan hangat. Ada sekitar 5-6 orang yang hadir. Dan terus berdatangan kira-kira sampai belasan orang.

Nuran lalu sedikit bercerita tentang bukunya. Hanya gambaran kecil saja. Dulu Nuran sangat doyan dengar Guns N' Roses, lalu bersama Ayos, membuat blog pribadi. Saya sempat membuka blog bernama 'muntah berak'  milik Nuran. Isinya sangat raw, personal, ngehek, dan banyak berisi indahnya kenakalan masa muda. Selain tentang musik, blognya juga berisi sumpah serapah, dan perjalanan cintanya bersama beberapa perempuan (khusus yang ini saya khawatir akan terlalu paham kehidupan pribadi Nuran karena ia selalu tulis apa saja di blog).

Kehidupannya berubah sesudah Phillips Vermonte, founder JakartaBeat, mengontak dirinya untuk menulis di website JakBeat yang baru seumur jagung. Ini dibahas tuntas di Kata Pengantar yang ditulis Mas Phillips. Tulisan Nuran begitu 'kotor'. Pemuda brengsek yang tidak sungkan buat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Per Satu" di blognya ini, membuat tulisan brengsek sejenis di JakBeat. Tulisan di awal-awal karir Nuran di JakBeat sih masih bisa dibilang 'lembut' dan 'elegan'--membahas John Mayer. Tapi lama-kelamaan keluar 'aslinya'. Selama dua tahun Nuran membuat tulisan "5 Album Terjelek 2009" dan "5 Album Terbaik 2010". Ini saat media musik lain seperti Rolling Stone sedang asyik menuliskan album terbaik sepanjang tahun. Dasar bajingan, tulisan ini sungguh tidak punya bobot objektivitas. Murni subjektivitas seenak udel Nuran, dan seenak jembutnya mengata-ngatai album dari Asbak Band, Ungu, The Harry Potters, The Bagindaz, dan band lain yang sama menye-nya. 


Saya yang baru berkenalan dengan Rolling Stone kisaran tahun 2011, jadi agak terganggu. Pikir saya, jurnalis atau penulis musik harus muluk-muluk. Harus pintar seperti Hasief Ardiasyah atau Wening Gitomartoyo. Pintar di sini dalam artian terkesan intelek, cenderung snob, dan punya milyaran referensi musik keren seluruh planet. Tapi sesudah baca Nuran di JakBeat, saya pikir penulis musik bisa ngehek juga. Bisa seenaknya juga. Tulisan-tulisan Nuran-lah yang kemudian memicu saya untuk mulai menulis juga. Patokan saya turun drastis. Nuran begitu seenaknya dan peduli setan: semua karya jelek ya jelek, dan dia tidak sungkan untuk menghina (saya bahagia dia mencaci-maki Ungu). Dan itu lebih terasa fun, menyenangkan. Memang kadang Nuran menghasilkan tulisan yang lebih berbobot, misal saat menulis tentang The Doors dan 'hair metal'. Tapi nuansanya sama: ringan dan asyik. Tidak membuat kepala terlalu banyak berpikir, malah ingin segera mencari band atau lagu apa yang menurut Nuran bagus. Bukankah begitu tujuan menulis musik? Saya lalu menyadari satu hal: tulisan Nuran menyenangkan karena dia hanya menulis tentang band-band yang dicintainya. Tulisan musik yang hidup erat kaitannya dengan selera. Dan saya setuju itu. Alhasil, tulisan Nuran di blog-nya atau JakBeat, jadi salah satu pemicu saya untuk membuat zine perdana.


***
Zine perdana saya adalah kumpulan tulisan anak muda sok pretensius yang sok mahir bermain alat musik dan sok idealis ingin bikin band yang super-duper hipster dan sok menolak selera kampungan macam screamo, tapi akhirnya gagal dan membusuk bersama dua edisi Rolling Stone dan lembaran-lembaran zine milik abang saya yang diperam sejak tahun 2000-an. Zine yang berani-beraninya dan dengan pedenya menjuluki diri sebagai digital rock zine (karena diproduksi pdf), dan total terpengaruh zinemaker asal Bandung Jiwa Singa (produsen Nobody Zine), tapi dengan gaya tulisan yang alamak sok cerdas dan berlipat pedenya. Patokan saya: Nuran Wibisono. Zine bernama Throwzine ini berhasil mewawancarai band lokal, dan seakan-akan dalam pandangan saya sudah jadi zine rock professional yang bisa membuat goyah Jann Wenner. Bangsat, saya terkikik saat mengingat ini. Atas jasa-jasa Nuran-lah saya berani menulis di media sendiri, dan akhirnya memberanikan diri mengirim naskah ke JakartaBeat. Saya kelas tiga SMA waktu itu, dan tiga tulisan tentang Green Day yang saya tulis, yang saya anggap punya kelas seperti Rob Sheffield atau David Fricke di rubrik review Rolling Stone, yang saya pikir akan mengubah dunia, semesta, dan jadi sejarah di jurnalisme musik, ternyata hanyalah seonggok sampah yang mungkin tidak dilirik oleh Phillips dan Taufiq, editor JakartaBeat. Tulisan yang kalau saya baca ulang sekarang, akan terlihat memalukan dan tolol, sok elitis dan sok punya selera musik bagus. Brengsek benar. Saya sudah melangkah terlalu jauh dari apa yang diterapkan Nuran: kesederhanaan dan ringan. Tiga tulisan tadi kemudian masuk di zine saya yang kedua, yang entah apa namanya (saya memutuskan tidak pakai nama Throwzine lagi), tapi tidak lolos kurasi JakBeat membuat saya sedikit sedih dan hampir patah arang. Apa kurangnya? Lalu saya memutuskan berhenti menulis sejenak, dan mengamati gaya-gaya penulisan tabib-tabib jurnalisme rock. Tidak ada yang lain lagi: blog Nuran Wibisono jadi tujuan akhir.

Sebelumnya, saya mengamati tulisan Taufiq Rahman yang sangat-sangat bagus, dan saya langsung menyerah. Saya tidak punya kecerdasan kritis macam Taufiq untuk hasilkan tulisan bermutu seperti itu. Otak saya masih sangat kurang. Lalu Ady Renaldi (di saat dia menulis tentang hubungan album Taring Seringai dan dihubungkannya dengan logical phallacy atau apalah), saya malah tidak nyambung. Saya ingin belajar dari pengisi kolom JakBeat tapi mengapa tidak ada yang bisa saya cerna dengan baik. Apalagi Arman Dhani. Saya menyerah dan akhirnya membuka lagi tulisan mahaguru utama saya: arsip tulisan Nuran Wibisono di JakBeat dan blognya saya babat habis--semua tulisan, tanpa kecuali, termasuk puisi lucu-lucuannya. Tanpa disangka, ada satu tulisan yang menginformasikan tentang pemesanan buku. Di situ tertulis nomor rekening Nuran, dan nomor ponselnya.

Aunnurahman Wibisono - 08xxxxxxxxx

Fuck! Tanpa tunggu esok pagi saya langsung SMS si mahaguru. Basa-basi dan akhirnya mengakui: tulisanku nggak diterimo JakBeat, mas. Lalu Nuran menjawab singkat: kenapa kamu kok pengen nulis di Jakarta Beat?

Saya tidak tahu. Betul-betul tidak tahu. Nihilisme tulen. Saya merasa hanya menulis karena ikut-ikutan review keren Rolling Stone saja. Padahal saya tahu, jadi keren tidak bisa hanya dengan ikut-ikutan. Sejak hari itu saya mulai berpikir kalau tulisan musik harus punya nyawa. Nuran bisa menulis 'hair metal lebih baik dari grunge' karena dia mungkin kesal atas kehadiran Nirvana yang menggeser dominasi Guns N' Roses. Taufiq mungkin kesal pada Phillips yang menganggap Nevermind The Bollocks sebagai album punk terbaik, bukan Marquee Moon dari Television. Semua penulis punya kekesalannya masing-masing.

Saya akhirnya merasa tulisan saya kurang satu hal yang amat sangat penting: kegelisahan. Ini membuat tulisan saya kering, kosong, hanya berusaha meng-keren-kerenkan kata, menyamakan rima, mengutip diksi-diksi keren as fuck untuk gambarkan jenis musik. Tidak ada isinya. Hampa tanpa gagasan.


***



Nuran duduk di sebelah saya. Di sampingnya ada Ayos Purwoaji. Sementara di depan kami ada beberapa orang yang punya minat sama: menulis musik. Salah satunya Kharis Junandharu dari Silampukau. Ini hari Minggu di akhir bulan, di luar mendung. Kopi dan snack disediakan Mbak Yuli penjaga C2o, untuk disambi sembari diskusi. Ini seperti hal yang sureal: kamu duduk di sebelah penulis yang membuatmu ingin menulis musik, dan saat ini kamu dan dia menjadi pembicara untuk diskusi menulis musik. Saya mewakili Ronascent--webzine musik indie lokal tempat saya menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir, sementara Nuran membawa buku terbarunya: 'Nice Boys Don't Write Rock N' Roll'. Saya didapuk untuk menanggapi tulisan Nuran, dan sedikit berbagi tentang jurnalisme musik. Saya tidak tahu apa-apa, masih bodoh. Tidak punya draft atau bahan apapun untuk dibawakan. Saya tidak tahu teori menulis musik yang baik dan benar. Selama ini di Ronascent, saya selalu menulis untuk senang-senang: tidak bertendensi apapun. Saya menulis suka-suka belaka. Tanpa tuntutan profesi. Inilah yang jadi bahan bakar saya untuk selalu menghubungkan naskah musik dengan kegelisahan. Ini nikmat. Saya suka mendengarkan musik, dan saya kadang muak dengan dunia. Saya menulis kegelisahan itu, dan hubungannya dengan musik. Saya malas dengar band-band sok pretensius dan jelek seperti Foster The People, dan saya menuliskan semuanya di saat semua orang menganggapnya sebagai jenius tiada tara yang berhasil bla-bla-bla fuckin' psychedelic! Saya bisa bicara bersama Nuran, justru karena membaca tulisan-tulisan Nuran.

Saya sendiri agak lupa sudah mengobrolkan apa saja, pun juga petuah-petuah Nuran yang malam itu lebih banyak guyonnya. Pembahasan agak melebar ke arah bisnis musik dan era musik digital tapi bisa diantisipasi dengan baik oleh moderator. Satu yang saya ingat: ini adalah malam yang menyenangkan. Sesudah satu jam lebih kami membahas jurnalisme musik dan hal-hal di sekitarnya, Ayos menyudahi diskusi dan mengadakan sesi tanda tangan. 

"Ke Biennale nggak? Ayok bareng, sama aku, Nuran juga ikut." ujar Ayos. Dia sebenarnya jadi kurator Biennale Jatim tahun ini. Di malam penutupan yang seharusnya dia wajib hadir, sahabatnya, Nuran Wibisono malah mendaulatnya jadi moderator diskusi. Pilihan yang mudah karena tentu saja Ayos memilih acara Nuran. Masih pukul sembilan. Penutupan Biennale mungkin tersisan dua jam lagi. Saya dan awak Ronascent segera meluncur ke Gedung Prabangkara, menyusul Ayos dan Nuran.

***

Saya langsung menghampiri Nuran yang duduk di joglo depan Prabangkara. Ayos hilang entah ke mana, menyusul si Kharis yang berlalu-lalang seenaknya saja tanpa seorang pun tahu dia dedengkot Silampukau. Musik DJ mengalun kencang dan brengsek. Apa-apaan. Kenapa di perayaan penutupan pameran seni ada musik EDM Party kencang bertajuk perform art? Saya tidak mengerti dan sekarang saya hanya ingin mengobrol lagi dengan Nuran. Sambil teriak-teriak karena saking kencangnya suara, saya bertanya beberapa hal. Nuran juga sambil teriak-teriak dan kadang mendekatkan mulutnya ke kuping saya, menjelaskan tentang suatu hal.

"Tirto buka lowongan reporter. Coba aja kali aja minat." Ujar Nuran. 

Saya berpikir keras, keluarkan rokok putih dan membakarnya. Saya belum tahu hidup mau dibawa kemana, tapi untuk ke Jakarta, saya rasa belum saatnya. Kami lalu membahas banyak hal lagi, diselingi musik disko yang begitu brengseknya. Bisa apa saya. Lalu datanglah pejabat-pejabat Ronascent: Rona Cendera - editor, dan Ian Darmawan, public relations (ya sebut begitulah biar kelihatan keren dikit). Saat keduanya datang, Nuran langsung menghilang, entah mencari Ayos atau Kharis. Saya dan kru Ronascent langsung menuju kantin di pojokan untuk pesan satu gelas kopi dingin pembunuh kantuk. Saat sedang membicarakan hal-hal remeh-temeh Nuran datang dengan muka kusut: Ayos tidak ketemu. Dia langsung duduk di sebelah saya, dan memesan Indomie. 

"Oh ini timnya Ronascent?" tanya Nuran. Kami sebagai penulis musik lokal merasa seperti ditanya oleh jurnalis hair metal legendaris. Sambil diselingi kopi, udud, dan gorengan, kami mulai membahas apa saja tentang media musik. Rona dan Ian juga berkali-kali bertanya, mumpung ada pakarnya.

"Sekarang susah. Media cetak sudah gulung tikar semua. Kemarin, Trax, HAI..." kata Nuran.

"Sayang banget, ya Mas. Trax lumayan keren sih isinya menurutku." ujar saya menanggapi.

"Iya, penyeimbang Rolling Stone lah ya."

"Haha, itu Trax langsung tutup habisnya Rio keluar ya."

"Rio? Oh, Rio Tantomo? Kon kenal?"

"Sempet beberapa kali ngobrol. Haha brengsek sih dia. Tapi bagus."

"Aku ndak kenal sih, cuman tau aja. Gonzo dia."

"Iya, nulis Burgerkill pakai ganja pas tur, eh Ebenz dkk protes. Pantes keluar tuh si Rio." saya tertawa.

"Lahyo, jarene rock and roll, metal, ditulis ora wani." Nuran juga tertawa sambil mengecap Indomie-nya.

Kami lalu membahas industri media lagi, yang makin hari makin ditinggalkan. Semua orang bisa menulis di akunnya masing-masing. Semua orang bisa bikin media sendiri. Di saat seperti itu, kami--yang semuanya jadi buruh media dan budak naskah--harus siap seandainya radio, koran, atau media apapun tempat kami bekerja mendadak tutup. Kelihatannya tidak mungkin, tapi apa salahnya siap-siap. Sejumput rokok kami bakar--kecuali Nuran--untuk membunuh perasaan ini. Kami sudah terjerumus dalam media, wartawan, jurnalis: dan seperti kata Sudjiwo Tejo; sekali kamu jadi jurnalis, kamu tidak bisa meninggalkannya, seumur hidup. Jurnalis itu candu.

"Wis rek, mbayare iki ae." ujar Nuran yang berdiri dan serahkan sejumlah uang pada penjualnya. 

"Arek-arek kabeh, totale pinten?"

Kami hanya cengar-cengir. Dalam hati sedikit menggumam: ini penulis hair metal paling membumi dan murah hati yang ada.

Thanks, Mas Nuran Wibisono. See you next time!

Wednesday, July 19, 2017

Mandasia Si Penetes Air Liur

Tidak ada negara yang memiliki ragam kuliner sekaya kita. Keragaman itu memiliki akar sejarah panjang. Politik dan keadaan ekonomi suatu daerah sangat menentukan variasi makanan penduduk. (Majalah Tempo Edisi Khusus “Antropologi Bumbu Nusantara, 2014:31)


Makanan sudah identik dengan kebudayaan. Resep turun-temurun dalam pengolahannya membuat makanan mencerminkan siapa dan bagaimana masyarakat dan kebudayaannya. Keanekaragaman makanan membuat insting kita tidak pernah berhenti; ada saja hal menarik yang bisa digali. Salah satunya yang mungkin terdengar baru adalah Gastrologi. Saya sendiri agak kebingungan mencari-cari apa definisinya. Di Wiki malah dikatakan semacam ahli penyakit pencernaan atau apalah. Baru akhirnya salah satu kawan kuliah yang bernama Mareta, mengkaji gastrologi dalam kajian novelnya. Mareta berkata cukup simpel: gastrologi intinya membahas makanan gitulah. Di situlah saya mulai tahu bahwa ada ya novel yang membahas tentang makanan. Setahu saya hanya Tabula Rasa atau One Hundred Food Journey, film yang diadaptasi dari novel, yang membahas tentang makanan. Karena di layar lebar, saya pikir sisi menyenangkannya bisa lebih keluar karena penonton akan bisa ngiler, menikmati makanan-makanan yang ditampilkan dalam film. Kalau film sih tidak masalah, tetapi dalam bentuk novel—jujur saya tidak pernah tahu dan menebak-nebak bisakah tulisan fiksi membuat imajinasi pembaca ngiler?

Mungkin saja khazanah bacaan saya tentang penulisan makanan amat sangat kurang. Saya hanya sempat membaca tulisan-tulisan Mas Nuran Wibisono di blognya, yang kebanyakan membahas sop buntut, atau makanan-makanan yang bisa saya jumpai sehari-hari. Itu bukan fiksi, ada fotonya dan saya bisa membayangkan bagaimana enaknya saat kita menyendok makanan itu ke mulut. Ada narasi deskripsi, ada banyak kata-kata yang merujuk pada indra perasa. Tapi sumpah saya masih bingung bila semua ini diaplikasikan ke fiksi, terutama novel. Tidak ada gambar, tidak ada ilustrasi, dan tentu saja, saya pikir penulis-penulis fiksi yang sering saya baca tidak pernah mampu membuat air liur menetes saat mereka menuliskan tentang makanan. Saya pernah membaca novel Dimsum Terakhir, karangan Clara Ng. Memang judulnya sangat identik dengan makanan, tapi entah, sampai sekarang pun saya tidak tahu rupa dan rasa dimsum itu seperti apa. Ini membuat saya berpikir bahwa makanan dalam novel hanya ditampilkan sebagai pelengkap yang tidak penting-penting amat.

Setidaknya itu pandangan saya sebelum mengenal dan membaca novel perdana Yusi Avianto Pareanom Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi. Saya sudah membaca Rumah Kopi Singa Tertawa karangan Pamanda Yusi sejak lama. Kisah-kisahnya datar dan ganjil, dengan banyak momen mengejutkan serta menyenangkan. Pikiran saya saat awal membaca Mandasia, mungkin novel ini akan sama sablengnya. Ternyata isinya jauh melebihi ekspekstasi. Kawan saya sempat berkata bahwa, “Raden Mandasia itu magnum opus-nya Yusi!” Mungkin benar. Diulang-ulang sesering apapun, saya masih bisa tertawa, atau kadang misuh-misuh sendiri. Dan saya paling menyukai untuk membaca lagi part-part di mana ada adegan makan di situ. Yusi menjungkirbalikkan pandangan saya. Membaca fiksi tentang makanan ternyata bisa senikmat ini. Sudah sering saya tiba-tiba minta antar pacar membeli sate kambing dan gule karena tidak tahan membayangkan apa yang ada dalam Mandasia. Dari Mandasia jugalah saya kemudian sok menjadi pakar daging sapi, yang merasa paling tahu beda sirloin dan tenderloin, dan menceramahi pacar saya yang doyan makan bahwa bagian sapi paling enak adalah sandung lamur. Hmm. Tapi keparatnya, Mandasia juga tidak hanya mengajari soal santap-menyantap sapi. Di bagian saat mereka menuju rumah makan untuk menemui Loki Tua, saya benar-benar ngiler tidak tertahan, benar-benar hampir kehilangan akal sehat. Babi asap dideskripsikan begitu sempurna oleh Pamanda Yusi. Membuat saya yang belum pernah secuil pun memakan babi jadi ingi sesekali mencobanya—lemaknya yang lengket, kupingnya yang berbunyi krak saat dikunyah; saya berjanji kapan-kapan akan menjajal babi panggang utuh dan setidaknya sehari saja melepaskan label haramnya. 

Selain umpatan-umpatan macam anjing, tapir bunting, simbahmu koprol dan lain sebagainya yang cukup membuat terhibur, kutipan dalam Mandasia berikut dijamin akan membuat kalian menghubungi Go-Food: ada warung tongseng terdekat?

Semua daging ini sangat lunak karena otot-otot di sekitarnya jarang digerakkan sapi. Daging-daging yang cukup ditaburi sedikit garam, bubuk merica biasa atau hitam—terserah selera, tanpa perlu bawang putih atau bumbu lain; daging-daging yang cukup dibakar dua sisi sebentar saja sampai setengah matang supaya keempukannya terjaga sehingga lumer saat digigit; daging-daging yang bakal membuat penikmatnya merasai kedamaian yang sampai tahap tertentu adikodrati antara ia dan penciptanya. (Pareanom, 2016:21)

Bukan hanya empuk, daging hangat setengah matang itu juga menyemburkan kaldu daging di dalam mulut saat kugigit. Kalau ada rasa yang lebih enak daripada ini, dewa-dewa pasti masih merahasiakannya. “Raden, daging ini rasanya...luhur,” kataku. (Pareanom, 2016:22)

Astaga. Kulit luar nasi yang agak gosong ternyata renyah betul dan nasinya sendiri lebih padat daripada dugaanku. Kejutan berikutnya, nasi kepal itu ternyata berisi suwiran ikan kakap kering manis pedas.  Maka-nan sederhana yang kehangatannya sampai ke hati. (Pareanom, 2016:27)

Kari ikan datang berteman nasi dari beras basmati yang butiran-butirannya panjang, tidak lengket satu sama lain, dan aromanya harum. Nasi yang disajikan di atas daun pisang lebih menggugah seleraku. Aku mengambil sesuap dengan jariku. Enak. Aku menyuap lagi, berteman secuil ikan berbumbu kental. Anjing, tambah enak, ternyata. Aku menuangkan kari ikan ke atas nasiku dan dengan cepat aku menghabiskan nasiku dan minta tambah lagi. (Pareanom, 2016:231)

Aku menelan air liur. Potongan-potongan daging dalam ukuran besar dibakar. Di tungku terpisah, empat babi utuh dipanggang berdiri memutari perapian yang berbentuk lingkaran. Seorang pekerja secara teratur melaburi babi-babi itu dengan cairan yang kuduga mengandung gula karena babi-babi itu berwarna kuning coklat keemasan. Babi-babi yang berlumur minyak itu dibelah tepat di tengahnya sehingga mereka mirip gundukan daging yang melebar. (Pareanom, 2016:274)

Yang perempuan menyantap sup berwarna hijau teratai muda yang sepertinya berisi simping. Setelah menyendokkan sup ke mulutnya, si perempuan menunjukkan paras terkejut. Tubuhnya bergetar halus. Gila. Itu gerakan bergetar yang kukenali ketika perempuan menunjukkan paras terkejut. Tubuhnya bergetar halus. Gila. Itu gerakan bergetar yang kukenali ketika perempuan mendapat kepuasan setelah bercinta. Mata perempuan itu sedikit membasah. (Pareanom, 2016:274)

Seorang pelayan lain datang ke meja di samping kanan kami mengantarkan satu ekor babi panggang utuh untuk empat orang. Ada asap tipis naik dari babi panggang itu. Begitu babi diletakkan di meja, keempat orang itu menyobek-nyobek dagingnya dengan tangan kosong. Aduh, pasti lembut sekali dan langsung lumer di mulut. Satu orang mematahkan kuping babi. Ada bunyi krak yang merdu sekali di telingaku, juga saat suatu kuping itu dikremus di beruntung. Kawannya mengambil cingur babi dan mencomot daging pipinya. Semuanya berminyak berkilat-kilat. Potongan daging itu lalu mereka celupkan ke cairan kuning kental yang kemudian aku tahu terbuat dari campuran kuning telur dan minyak sayur. (Pareanom, 2016:276)

Bubur. Oh, ternyata ada irisan-irisan tipis dagingnya. Bubur terasa lembut dan hangat di perutku. Irisan dagingnya enak sekali. Gurih pedas. Mereka pintar mengolah daging kambing, pikirku. (Pareanom, 2016:314)

dimuat di litera obscura edisi #2
format digital bisa diunduh bebas disini

Tuesday, January 3, 2017

Litera Obscura (Buku I)

Saya pernah terlibat di suatu chat random dengan Rahma, lulusan Sastra Inggris UB yang kini berdomilisi di Jogja setelah bertahun-tahun di Malang. Kita yang sudah sejak dulu kala gemar tukar-tukar zine dan referensi, sepakat untuk bikin zine kolaborasi. Saya sempat punya Throwzine dan Yeah Yeah Zine, sementara Rahma sendiri aktif di zine pribadinya, Robby yang sudah masuk edisi ketiga kalau tidak salah. Rahma kebetulan adalah kutu buku khususnya buku-buku cult yang jarang ada di peredaran, istilahnya obscure. Sementara saya adalah mahasiswa sastra bodoh yang kemampuan membacanya masih hijau dan medioker. Alhasil kami sepakat buat zine yang membahas buku, khususnya buku-buku obscure, underrated dan di bawah radar. Proyek ini juga melibatkan teman-teman Rahma, anak-anak design dan juga Mas Ardi Wilda--salah satu penulis Jakbeat di masa jayanya. Di dalam zine ini saya berkontribusi menyumbangkan tulisan tentang c2o library, perpustakaan paling ngehip di Surabaya. So, jika kalian punya minat besar terhadap dunia buku, mungkin zine ini bisa jadi referensi bacaan untuk awal tahun.

Litera Obscure Zine bisa dilihat dan diunduh gratis dalam format pdf, disini:

Tunggu edisi selanjutnya...

Saturday, September 20, 2014

Yeah Yeah Zine #1: Editorial Hura-Hura

Pengalaman pertama membaca zine sejujurnya saya dapat sewaktu SD. Kakak saya punya setumpuk koleksi zine lokal di meja kamarnya, selain koleksi kaset pita band-band underground. Masa SD yang biasanya diisi dengan mengisi LKS, mencongak atau menggambar gunung di buku gambar A4 mendadak berubah usai membaca salah satu zine. Saya tanpa ragu minta dibelikan sepatu Converse, tiba-tiba anti Mc-Donald, benci Bush dan invasi Amerika, serta mulai tertarik dengan kompilasi punk lawas rilisan Proton Records ‘Berpacu Dalam Melodic.’
Pengalaman tersebut membawa saya hingga masa SMA. Masa dimana mulai ada luapan rasa bosan, muak, kesal dan kecenderungan untuk melawan. Trend hipster menjamur, anti-mainstream merebak, pergaulan bawah tanah mulai masuk. Dan lagi-lagi, saya bertemu dengan zine punk sebagai bahan bacaan: semangat ugal-ugalan, lempar molotov, dan bersenang-senang sampai mampus. Saya pun kembali temukan kesenangan disitu.
Dan akhirnya sampai pada masa kuliah. Bersama beberapa kawan seperjuangan, muncul kesepakatan untuk mulai merangkum karya dalam konsep zine ini. Masih berlandaskan semangat do-it-yourself yang dibuat seenak udel, kami tak berharap lebih selain bisa menyalurkan energi dan membagi inspirasi.
Oke, bahasa kami memang masih buruk, media kami masih awut-awutan, proses kami masih ugal-ugalan dan tulisan kami masih absurd; tapi tak mengapa atas nama gairah, hura-hura dan senang-senang semata. Jangan heran dengan nama zine kami, Yeah Yeah Zine memang dicomot langsung  tanpa tedeng aling-aling dan beban moral sedikitpun dari nama band art punk asal New York, Yeah Yeah Yeahs! Trims berat Mbak Karen O. Oh Yeah!

Yeah Yeah Zine #1 format PDF bisa kalian unduh bebas DISINI.