Showing posts with label Humi Dumi. Show all posts
Showing posts with label Humi Dumi. Show all posts

Thursday, April 16, 2015

Mirror

On your way
First time I saw you
On your way
I learned to enjoy staring at you
On your way
I found the very sweet mirror
On your way
I couldn’t as such loose
from mirror
On your way
I started to be in action to sidewalk
To let our eyesight go
On your way
I sang loudly wherever
To steer clear of your sound pulling

How to use your way correctly
Almost, I couldn’t back from the blue pain ~

***

Sedikit cerita:
Track terbaik di I Am Ij Sin A. 10 dari 10. Sempurna. Magis. Manis. Menyentuh. Spiritual. Gelap. Muram. Nikmat:  saya seperti kehabisan kata-kata mendeskripsikan lagu ini. Lagu ini selalu hampir membuat saya menitikkan air mata, tapi kemudian tak jadi. Lagi-lagi momen magis adalah di pertengahan sampai akhir lagu. Kalian bisa mengalami puncak emosi yang intens jika kalian masih cukup waras kala mendengar lagu ini. Keajaiban musik memang ada. Lagu ini adalah penyembuh yang begitu indah. Semenit terakhir sebelum lagu ini berakhir adalah surga auditori, berdampingan dengan segala  momen melankolia hidup. Merdu. Sungguh. Teriakkan Nitnot mengisi backsound membuat urat ngeri. Merinding. Rintihan gitar kerlap-kerlip, tempo naik seirama jantung. Kata-kata apalagi yang bisa saya tulis? Tidak ada. Segalanya sempurna dan Humi Dumi—menurut saya—resmi sudah mengalahkan Mocca jauh. Jauh sekali. Masa bodoh dengan kesubjektifan. Mendengar “Mirror”; tak ada tandingan dan bandingannya. 10 dari 10. Sekali lagi, mereka sempurna.

Walking In The Pillow

In the night
I  felt it’s difficult
To sleep upstairs
Then I walk around kitchen
Wishing to find a pillow
Which helps me sleep
I don’t wanna be quiet
Seeing bed which wave the dream
‘Cause I’m scared
I can’t sleep walking anymore

There’s a dream in my pillow ~

Dance when fall asleep
Sing when fall asleep
Going through the pole
Going through the south
And find the discussion
Come to the oudor
Feel the oudor
Don’t you ever break the dream

There’s a dream in my pillow
There’s noise near with you
There’s an ego holding me on warmly
When I was blind

***

Sedikit cerita:
“Walking In The Pillow” adalah kumpulan kesedihan, kebahagiaan, momen dan waktu yang dikumpulkan dalam bentuk lagu. Ini adalah track kedua terbaik di album I Am Ij Sin A versi saya. Saya sudah hampir gila mendengar lagu ini tanpa pernah bosan sedikitpun. Simak momen magis jelang akhir lagu saat Humi Dumi seperti menumpahkan seluruh potensinya: suara gitar elektrik; post-rock! Gila sekali lagi ini adalah pencapaian artistik luar biasa memukau yang pernah dilakukan musisi Surabaya. Ada nuansa misterius; seperti anak kecil yang tertawa ceria tapi menyimpan memar bekas cubitan mamanya. Atau seperti bocah yang kelelahan bermain layang-layang dan kemudian tidur memeluk guling dengan rapat. Lagu ini menyenangkan tapi juga tak 100% menyenangkan. Lagu ini melankolik tapi hanya 65% sisi yang bisa dianggap melankolik. Sebuah penciptaan yang matang—atau jika belum matang ini adalah bukti bahwa ketidaksempurnaan dalam musik justru menjadikannya mahakarya. Pengantar yang bagus sebelum lagu selanjutnya yang menjadi klimaks dari I Am Ij Sin A. Saya selalu merasa lagu ini tak pantas untuk didengarkan saja; ini patut diapresiasi dan dihayati sampai tingkatan sufi—maafkan hiperbola saya.

Bella In 79 Seconds

Bella is smiling
But i know her smile for who
Bella is staring
But i know her stare for who
Bella said “stay here!”
But i don’t wanna stay
Bella wear black dress
But Bella’s heart never get black, for me
And Bella said “we must sink”
And i cannot breath
And i cannot smile

As Bella i know
Why it’s suddenly disappeared
And because Bella too,
I know why it’s suddenly come
Bella don’t like came and go
Just on 79 seconds
Bella like clockwork
When it was number 10

I know it’s not Bella
Anymore

I know
I know what her wanted anymore

***

Sedikit cerita:
Menceritakan tentang Bella, inilah lagu di album I Am Ij Sin A yang menduduki urutan terbaik ketiga menurut saya (sama dengan “Ceria Cerita” karena susah sekali menentukan dari kedua track ini mana yang terbaik). Lagu ini masuk dalam kompilasi Safe & Sound yang dirilis webzine tempat saya bekerja dan berhura-hura Ronascent Webzine, dan sambutan yang didapat publik Surabaya tentu saja tak mengecewakan. Lagi-lagi suara Nitnot pada lagu ini membuat saya kembali berlebihan: bahwa Nitnot adalah penyanyi perempuan paling luar biasa yang pernah ada di Surabaya. Fak!

Ceria Cerita

Pergi
Bersama dirimu
Nyanyikan
Nyanyikan lagu
Biaskan semu
Semua yang tersisa

Jemput bayangmu di perahuku
Lakukan dengan ceria cerita
Masa kecilmu
Masa, masa kecilmu

Diam
Tatap wajahku perlahan
Derukan, derukan
Angin panjang
Sisakan bebas
Bebas yang tertinggal

Hu~uu

***

Sedikit cerita:
Entah sudah seberapa sering saya memutar “Ceria Cerita” dan selanjutnya seperti balon yang terbang dengan sendirinya. Lagu ini selaras dengan denyut jantung. Ajaib. Menggetarkan. Momen magis terjadi saat bait “Huu uu” didendangkan berulang menjelang akhir lagu. Dan sepertinya tak ada salahnya untuk mengenang kembali masa kecil dimana nenek suka membelikan balon untuk kita saat berkunjung ke rumahnya. Yang membuat saya kagum tak henti-henti pada kolektif ini sekali lagi adalah musik mereka selaras-senada-seirama dengan denyut jantung. Saya masih mengalaminya bahkan setelah ribuan kali memutar lagunya.

Pack Of Friend

Are you sure
This is night no stars
My coffee cup can not
To interpretation
What’s out there
In the sky or sorrounding bustle
Huooooo
I’m just alone
Sitting with adventures imagination
She said shippidly enough to miss this
I miss so one half of the music
Miss
All i know history there

When i meet you
In the bookstore
You give me a new hug a smile for me
We walk together
And i just thought about my home
So we can watch a movie every time

You come to me come closer
A ya ya ya-a ya ya ya
You will find some places
A-yaa-aaa-aaaaaa...

We, we are young cheerful

If united voice
One become splash
Crowding in the head (2x)
History becomes work

Are you sure this is night no stars
Are you sure? Oh are you sure
Are you Are you sure

***

Sedikit cerita:
Setelah melempar EP dengan kemasan unik I Am Ij Sin A, buru-buru sekali saya putar lagu-lagu mereka selain “Sleep” tentunya. “Pack Of Friend” adalah juga sebuah kegemilangan. Dibalut hanya dengan kesederhanaan gitar bolong dan cajoon, sedikit lebih ceria dan cair dibanding “Sleep”. Sama seperti semua lirik di album ini yang kebanyakan puitis dan penuh metafor (dengan mbak Qanita alias Nitnot sebagai penulis seluruh lirik), “Pack Of Friend” menceritakan tentang perasaan rindu pada seorang teman. Simpel sekali. Ada suasana kesepian disini, namun di saat bersamaan ada perasaan riang. Saya jatuh cinta untuk yang kesekian kali. Tapi syukurlah saya tak berhenti di “Sleep” dan “Pack Of Friend” karena track-track setelahnya mungkin limabelas kali lebih baik dari dua track pembuka ini. 

Sleep

Postingan ini dan selanjutnya saya persembahkan untuk Humi Dumi, band innocence folk-pop Surabaya dengan debut EP-nya yang bergelimang kejora I Am Ij Sin A. Meski masih agak underrated di skena nasional dan bahkan di Surabaya sendiri, saya mencintai Humi Dumi dengan setulus hati jiwa dan raga. Karena setelah googling saya belum menemukan lirik di semua lagu dalam I Am Ij Sin A, maka saya memutuskan untuk menyalin lirik dari kemasan albumnya yang unik itu dan mempostingnya di blog. Karena saya yakin, menyebarkan Humi Dumi walaupun hanya sebatas liriknya adalah bentuk balas budi paling masuk akal karena EP ini telah menyelamatkan hidup saya dari guncangan patah hati dan akhirnya membimbing saya untuk merenung lebih dalam hingga saya bisa sembuh kembali. Berikut ini adalah lagu pembuka "Sleep" dan selamat menikmati dan berspiritual lewat I Am Ij Sin A!

***

I saw a lot of thing in here
Anyway to remind that
I must go back to the sound
I want to go somewhere
That i don’t want anyone
To know when and whenever

I forgot all lying of thing
I don’t want too, distance
I like you, remember
Eyes, said to start get a light over
Anything you anything founded?
Distance we were

Other place
Some other place
I can do anything you want
I find anything you find
We can be together
Everything we can through
Without lie

And other place
Some other place
And other place
So we ca do anything you want
You can find anything you find
We can do this something
Every after to distance to like
We didn’t meet up

***

Sedikit cerita:
Lepas dari bagaimana debut album Humi Dumi I Am Ij Sin A yang kurang begitu meledak di skena lokal—khususnya Surabaya—padahal menurut saya hanya dengan “Sleep” saja mereka sudah cukup mampu bersaing di industri pop mainstream (dan tolong lepaskan stigma mainstream itu dari seberapa sering sebuah band main di Inbox) untuk kemudian menjadi idola indie pop baru setelah Mocca (dan hebatnya Mocca sempat memuji Humi Dumi via Twitter), Humi Dumi dengan “Sleep” adalah sebuah kegemilangan. Surabaya kering rilisan folk beberapa tahun terakhir, apalagi dengan vokalis wanita dengan suara benzodiazepine yang menenangkan . “Sleep” saya dengar beberapa saat setelah berputar menjelajahi Sunday Market. Saya ingat betul suasana malam itu: saya berada persis di dekat panggung, sebelah sound besar dimana Humi Dumi mulai memainkan lagu. Saya termenung beberapa saat saat intro “Sleep” dimainkan, mengingat saya baru pertama kali mendengarnya. Folk juga bisa seindah dan semelankoli ini. Momen magis yang tiap detik terus terjadi sampai mendekati akhir lagu. Dan lagi-lagi suara Nitnot si vokalis yang kekanakan-imut-lucu-menggemaskan—dan itu semua tercermin dalam suara dan gaya khasnya membuat saya jatuh cinta berkali-kali. Bahagia berlipat-lipat. Tak berlebihan karena setelah pulang dari Sunday Market yang saya lupa volume keberapa itu hidup saya tak pernah sama lagi: “Sleep” adalah playlist favorit di Soundcloud. Dan saya berani menjamin mungkin hanya 10% dari total populasi kampus yang mengenal Humi Dumi dan keajaiban yang ditimbulkannya—mengingat waktu itu mereka adalah band baru serta baru mengeluarkan satu single dan album juga belum kelar. Saya optimis bahwa mereka nantinya akan menjadi band skala nasional, bahkan go internasional secepatnya dengan hanya single “Sleep” saja. “Sleep” sendiri menurut interpretasi saya adalah lagu tentang LDR, dimana jarak jauh tak jadi penghalang karena saat kita tidur, kita bisa bermimpi dan melakukan apapun dengan orang yang kita sayang. Selain Nitnot, saya juga memuji performa cantik-menghanyutkan dari bassist-nya (saya lupa namanya) yang juga seorang perempuan. Komposisi ini adalah harta karun musik Surabaya yang walaupun hype dari skena nasional belum tampak, tapi seiring berjalannya waktu I Am Ij Sin A akan menjadi salah satu artefak paling jenius dalam sejarah musik Surabaya itu sendiri.

Friday, October 10, 2014

Biaskan Semu, Semua yang Tersisa

Saat ini kita duduk di tepian danau. Kamu berharap imajinasimu kali ini tak jadi nyata. Seolah-olah sesudah kamu bercerita bahwa apa yang kamu pikirkan—hal-hal tabu, tak masuk akal, sulit dinalar—selalu saja jadi kenyataan, ular besar sebesar naga yang kau bayangkan akan muncul dari dasar danau dan mencelakai kita semua: termasuk orang memancing, muda-mudi yang berpacaran juga ayah yang menggendong anaknya sambil menatap danau. Tapi aku justru berharap ular itu muncul dan kita akan terkejut; biar kamu yakin bahwa imajinasimu selalu jadi nyata. Karena sejujurnya aku berharap bahwa aku ada dalam jutaan imajinasimu.

Waktu berlalu. Kita hanya duduk. Menatap danau jernih seluas tiga kali lapangan bola, dan melamun. Kita sudah membicarakan banyak hal. Aku tahu kamu gelisah menunggu nilai test-mu diumumkan. Kamu tahu aku gelisah banyak deadline yang harus dikerjakan. Semua menumpuk. Tapi tumpah seketika saat kita bicara. Sore ini bebanku terbagi. Kita selalu seperti ini. Membagi semua. Biaskan semua. Tanpa sisa. Aku tahu kamu ingin berjumpa adik bayiku yang baru berusia tiga tahun—atau empat tahun aku lupa?—dan kamu akan menggendongnya, mengajaknya bermain, meninabobokannya, tapi kamu bingung saat dia minta mimik. Sementara kamu tahu aku masih mengharapkan ular besar itu muncul dari dasar. Dan di sore itu, genap dua puluh kali kamu mencubit pipiku. “Ih, aku takut lho. Jangan ular-ularan terus!” katamu. Aku semakin menggila. Dua puluh satu cubitan mendarat. Aku kesakitan dan entah mengapa juga kegirangan.

Senja mulai turun. Pukul lima lebih sekian menit. Ada sesuatu di angkasa yang membuat kita terus memandanginya. Langit mulai kekuningan. Indah. Aku melihat sorot matamu lembut menatap pendar sinar, sedikit menyilaukan retina. Air danau mulai bergerak tertiup angin. Membentuk gelombang elok. Begitu pula kita. Bersamaan dengan itu aku menunjuk tengah danau. “Hey liat, danaunya kayak kekuning-kuningan gitu. Keren nggak?” Kamu mengangguk sambil tersenyum. Aku menantikannya sedari tadi. Senyuman termanis di penghujung senja. Senyuman terlembut di antara bayang-bayang nilai test, tumpukan deadline dan ular sebesar naga. Senyuman terhangat, yang entah untuk senja, atau untuk aku.

Keniscayaan yang muncul pasca senja adalah gelap. Tapi bukan gelap yang membutakan mata. Aku masih bisa melihat daun tertiup angin, sinar lampu kota yang mulai nampak, penjual cilok yang duduk menghisap kretek, dan, aku masih bisa melihatmu. “Nggak pengen senyum? Cantik kayaknya kalo senyum.” Dan kamu pun tersenyum. Melengkapi langit orange-keungu-unguan yang sedang terjadi. Soreku sempurna.

"Diam
Tatap wajahku perlahan
Derukan, derukan
Angin panjang
Sisakan bebas
Bebas yang tertinggal
Huuhu…"

Danau Lidah, October, 2014
Title and quotes taken from Humi Dumi’s song “Ceria Cerita”
It’s just fiction or reality? Who cares.