Ini adalah hari kesekian saya bekerja di suatu media berita di mana karyawan on air-nya tetap masuk meskipun tanda di kalender menunjukkan tanggal merah. Long weekend dimulai Jumat ini hanya saja saya sebagai pekerja pantang merasakannya. Sesudah dibombardir tugas kantor yang menumpuk sejak pukul sembilan pagi, saya akhirnya bisa rehat selepas pukul lima sore. Sobat saya, Jonip, merencanakan untuk membunuh stres barang sebentar nanti malam. Entah itu memperingati hari film nasional di bioskop terdekat, main ke gereja merayakan Jumat Agung Paskah, atau sekadar ngopi rasan-rasan dengan jutaan rutukan dan luapan perasaan tertekan atas ritme kerja yang membuat kehidupan kaum somplak seperti kami amburadul jaya. Tapi apa daya badan sudah terlalu keras dihantam teks-teks berita. Kepala sudah sedemikian puyeng dan sedang malas dihantam paracetamol. Akhirnya sesudah mengisap bunga saya rebah sejenak, sambil mencoba membuka mulut, melemaskan otot-otot. Saya membayangkan adegan dalam Spongebob Squarepants di mana salah satu tokoh antagonis kesayangan kita, Squidward, sedang berusaha melepaskan diri dari gangguan Si Kuning dan mengafirmasi dirinya dengan berkata "santai, santai, santai." Tapi sesudah membayangkan adegan itu saya malah terbang entah ke mana, mengalami pertempuran luar biasa di alam mimpi, dan bangun dengan bermacam-macam umpatan karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Brengsek bajigur. Saya langsung mengecek ponsel dan ada ribuan message dan telfon. Salah satunya dari Jonip yang saya duga sedang marah tidak karuan, menganggap saya seorang terkutuk yang menyalahi janji dan rencana. Dan yang sureal adalah suasana di luar sedang hujan begitu derasnya. Satu hal lagi, kawan baik saya, Mas Nirwana, menyampaikan kesedihan dalam sebuah kiriman share location di WhatsApp. Saya langsung mendadak bodoh karena selepas pulang kerja tadi mengajak Nirwana ini ngopi-ngopi juga di daerah Ketintang. Saya langsung merasa berdosa dan iba tapi tidak mau berlarut-larut. Akhirnya saya kembali menumpuk guling di atas kepala, menikmati badan yang sudah segar sesudah tidur tiga jam, dan ingin merasakan kembali kesyahduan. Mata yang masih sepet begitu asoy dipejam-pejamkan. Hawa yang dingin karena hujan, sungguh mantap anjing karena biasanya Surabaya selalu gerah dan panasnya minta ampun. Terbersit keinginan untuk makan karena perut terakhir kali diisi pentol pukul lima sore tadi. Tapi sedihnya di luar hujan dan saya sedang sedemikian enjoynya menikmati suasana asoy geboy ini.
Showing posts with label Cerita-Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita-Cerita. Show all posts
Saturday, March 31, 2018
Thursday, February 15, 2018
Menunggu Kamu di Teras Depan, Menunggu Kamu Pulang ke Rumah
Saat sedang ngendon depan kompi yang memutar lagu-lagu dari
Oathbreaker, ada
pertanyaan menarik yang dilempar Rahma, kawan baik saya di Jogja, lewat status
WhatsApp:
“Pengguna WhatsApp ada yang suka C’mon Lennon?”
Secara impulsif, saya langsung menjawab: 'aku dong!' Lagu Oathbreaker
yang lumayan kencang, mendadak berhenti, otomatis berganti intro “Aku Cinta
J.A.K.A.R.TA” dari C’mon Lennon di dalam pikiran. Sial. Waktu seperti berputar. Pikiran
saya terbang ke laptop tua yang yang berkali-kali sekarat. Tempat saya
mengepulkan banyak rilisan dari rip-CD atau unduh illegal. Dan ada satu folder
dari ratusan album musik yang rutin saya buka. C’mon Lennon dengan Ketika Lalala
Lalu, lagi-lagi secara impulsif, saya ngobrol dengan
Rahma. Membahas objek favorit anak-anak segerombolan kami. Apalagi selain musik.
Dan C’mon Lennon bisa jadi adalah satu yang tidak boleh dilupakan.
“Punya lagu favorit?” Tanya saya.
“Gadis Bertangan Satu, Adiksi, semuanya. Hehe.”
Semuanya di sini adalah 12 track di album Ketika Lalala.
Hanya ini. Satu-satunya rilisan band yang menyandang status criminally
underrated; tapi mungkin jadi band indie terbaik yang pernah ada.
Saya mencoba mengingat-ingat sejumlah track itu: nyaris terlupa. Saya memang sempat beberapa kali mendengarkan full-album. Tapi selalu berhenti, mengulang lagi satu track yang benar-benar tidak bisa lenyap dari pikiran. Bahkan, hanya lagu ini yang saya putar rutin, saat membuka folder C’mon Lennon. Tanpa perlu ditanya, saya menyebut satu lagu sakral yang menurut saya paling berkesan dari C’mon Lennon’.
Saya mencoba mengingat-ingat sejumlah track itu: nyaris terlupa. Saya memang sempat beberapa kali mendengarkan full-album. Tapi selalu berhenti, mengulang lagi satu track yang benar-benar tidak bisa lenyap dari pikiran. Bahkan, hanya lagu ini yang saya putar rutin, saat membuka folder C’mon Lennon. Tanpa perlu ditanya, saya menyebut satu lagu sakral yang menurut saya paling berkesan dari C’mon Lennon’.
“Aku paling suka Kikuk.”
***
Sore hari kerumahmu sendiri
Jalan kaki perlahan menuju harapan
Awan putih dan layangan di atasku
Jarak ini semakin dekat, tiga langkah.
Di muka rumahmu,
menyapa pintu
Selamat sore.
Televisi hitam putih masih menyala
Tapi kamu telah pergi entah kemana
Dalam kebingungan kucoba menerka
Kemana kah kamu pergi di sore ini
Jam berapa ‘kan kembali di hari ini
Aku menunggu
Menunggu kamu di teras depan
Menunggu kamu pulang kerumah
Malam hari kamu pulang
Bertemu aku
Aku kikuk
Musik yang menyayat. Lirik yang memikat. Sekarang saya tiba-tiba merasakan kesenduan itu. Ingatan itu. Di teras rumah seorang perempuan, berjabat tangan, dan berucap malu-malu: “Selamat sore.”
Televisi hitam putih masih menyala
Tapi kamu telah pergi entah kemana
Dalam kebingungan kucoba menerka
Kemana kah kamu pergi di sore ini
Jam berapa ‘kan kembali di hari ini
Aku menunggu
Menunggu kamu di teras depan
Menunggu kamu pulang kerumah
Malam hari kamu pulang
Bertemu aku
Aku kikuk
Musik yang menyayat. Lirik yang memikat. Sekarang saya tiba-tiba merasakan kesenduan itu. Ingatan itu. Di teras rumah seorang perempuan, berjabat tangan, dan berucap malu-malu: “Selamat sore.”
C'Mon Lennon - Kikuk - Bisa didengar disini.
Monday, February 12, 2018
My World Is'nt Dying Enough
First gigs sesudah sebelumnya hanya bisa ngaplo di tempat kerjaan, meratapi nasib jelek karena berbenturan jadwal. Terhitung sudah hampir dua bulan saya kurang asupan gigs. Kerjaan menbuat saya bodoh temporer: tiap hari layar komputer dan deadline. Atau kalau sedang ada waktu senggang sedikit, pasti tidur atau ketiduran, melewatkan hal-hal indah di luaran sana.
Sebenarnya saya sedang dalam kondisi mood yang benar-benar fluktuatif. Lingkungan kerja membuat pikiran saya buntu, sumpek, dan seperti ingin segera kiamat saja. Beberapa hiburan adalah main PS sampai jelang subuh, dan Tekken 7 benar-benar membuat jari saya kapalan. Susah sekali kalahkan Heihachi bandot sok kuat di Story Level 8. Tapi kalau ketemu lawan yang bisa Versus, pasti cupunya minta ampun sampai-sampai saya harus turunkan kemampuan main Tekken saya.
Hiburan lain seperti ngopi sudah jadi hal rutin sampai saya tidak perlu anggap itu hiburan. Saya hanya butuh liburan. Ke tempat yang jauh, terasing, dan buat pikiran sedikit terbantu. Rencana ke pantai batal karena saya belum diizinkan cuti. Termasuk di dalamnya: bawa botolan untuk dihabiskan saat remang rembulan di kasar pasir pantai.
Untuk itu, saya hanya butuh gigs. Bukan band-band jelek murahan yang sering bikin saya tahan napas saking amburadulnya. Untungnya SCALLER, band Jakarta yang saya tonton kemarin, bukan masuk kategori band pemicu muntah berak. Di beberapa lagu yang dimainkan live, ada energi itu: energi yang saya butuhkan untuk jalani hidup yang semakin tengik.
Dan kemarin, solar saya sepertinya sudah terisi lagi. Lapar dahaga saya akan hiburan selalu bisa terpuaskan oleh SCALLER. Tidak pernah mengecewakan. Walau di beberapa lagu, saya kurang begitu suka–-sorry to say, khususnya di lagu yang pakai vokal Rene Karamoy. Hidup tidaklah penting sampai kita menghidupkan hidup. “Live And Do”, “Flair” sampai “The Youth”, buat saya bisa kembali menemukan sesuatu yang lama hilang dalam diri: semangat masa muda.
Bahwa hidup tidak hanya tentang kerja, kerja, kerja. Singkirkan waktu dan lelah sejenak. Live gigs lebih keren dari Spotify. Meskipun lirik SCALLER di lagu penutup masih tengiang-ngiang. Menandakan saya memang berada di dunia yang batuk-batuk, hampir mati, dan sekarat.
“My world, is dying!”
Wednesday, January 10, 2018
Bagaimana Nuran Wibisono Mengutuk Saya Jadi Penulis Musik Amatiran
Kamu tidak salah baca. Ya, Nuran si jurnalis rock and roll -- atau hair metal -- super brengsek itu. Penulis musik ugal-ugalan kebanggaan Jember. Calon duta Guns N' Roses kawasan Asia Tenggara. Propagandis hair metal nomor wahid yang membuat band macam GRIBS, Sangkakala, dan gerombolan hair metal lokal lainnya, tetap percaya pada celana ketat dan rambut gondrong; gerombolan riang gembira yang merasa survive, karena karyanya selalu dicintai seorang Nuran -- penulis dengan kepercayaan diri tinggi pada apa yang disukainya. Ya, benar sekali. Nuran adalah penulis musik idola saya.
Sesudah bertanya kabar kabari dan lain sebagainya, dan saya balas dengan rasa tidak percaya dan menebak-nebak arah tujuannya, akhirnya Nuran bilang to the point.
"Kamu mau nggak ngisi bedah buku baruku di c2o?" tanyanya.
Tenggorokan saya serasa ingin minum air perasan jeruk lemon.
"Moderatornya Ayos Purwoaji." Nuran menambahkan.
Saya langsung mengambil air mineral di pantry. Lupa kalau di sebelah ada Cola.
***
Nuran Wibisono adalah penulis blog yang sudah saya ikuti sejak bandel-bandelnya masa SMA. Kalau tidak ada tulisan beliau, saya tidak akan bisa ikut menulis juga di blog kecil ini. Saya kenal dia waktu tidak sengaja nyasar di portal berita antah-berantah, pada tulisan -- yang kalau tidak salah -- berjudul 'Menulis Musik'. Pembukanya ciamik, mencomot daftar lima pekerjaan impian Rob, tokoh di film -- dan novel -- High Fidelity. Salah satu mimpi Rob: jadi musisi. Selanjutnya: jadi wartawan musik di New Musical Express atau NME. Nuran lalu menggiring saya ke dunia yang belum pernah saya tahu -- mungkin tahu tapi masih kurang dalam: dunia menulis musik. Ini orang keren, pikir saya. Meskipun tulisannya agak sok tahu (mungkin karena waktu itu saya belum tahu apa-apa yang diketahui Nuran). Dari situlah saya paham sebuah profesi yang benar-benar menyenangkan bagi anak band gagal seperti saya: jadi penulis musik atau wartawan musik. Kurang ajar. Tulisan ini secara langsung -- dan tidak langsung -- membuka cakrawala saya yang masih sangat terbatas. Tahu-tahu saya nyasar di blog pribadi Nuran, dan hampir sudah membaca semua tulisannya (saya bahkan pernah baca kaburnya dia ke Gili Trawangan cuman gara-gara putus cinta). Yang saya tahu kemudian, dari Nuran-lah pintu gerbang menuju dunia tulis-menulis musik terbuka. Blog Nuran berisi banyak link ke blog lain. Semuanya seru dan hampir semuanya menulis tentang musik. Sampai saya nyasar di sebuah situs humaniora yang masih hangat: JakartaBeat. Di situs ini, Nuran juga ikut berkontribusi. Selanjutnya, perlahan-lahan kenal dengan tulisan penulis lain seperti Taufiq Rahman, dan Phillips Vermonte. Saya lupa nama penulis lainnya di Jakbeat, tapi tiga orang itulah yang selalu saya baca tulisannya dari awal sampai akhir, dari naskah paling lapuk sampai paling baru. Esai Taufiq Rahman bahkan sudah saya jadikan bahan skrpsi.
Dari aktivitasnya di Jakbeat, Nuran kemudian aktif menulis di Tirto.Id -- sebuah situs berita yang menurut saya jadi yang pertama kali mempopolerkan infografis di Indonesia. Aura bengalnya masih sama; tulisan Nuran renyah dan mengenyangkan. Tapi tidak terlalu berat. Seperti menyantap Paket Panas 1 di McDonalds. Salah satu tulisannya tentang Nike Ardila, benar-benar mengambil sudut pandang baru. Bukan menyoroti sosok Nike sebagai legenda, tapi efek yang ditimbulkan sesudah kematiannya. Fokus pada fans sejati Nike, yang setiap tahun mengadakan ziarah. Kata Nuran: "Ini sudah seperti sebuah agama, dengan ritual wajibnya." Musik -- seperti yang Nuran dan saya yakini -- memang bisa menimbulkan efek sosial yang luar biasa. Kalau kata Taufiq Rahman: "Menulis musik adalah menulis tentang manusia", maka Nuran sudah berhasil meramu sisi humanis dari tulisan bertema musik.
Sebelum menulis di media, karya-karya Nuran di masa bengal (mungkin waktu masih gondrong) sangat-sangat menyentuh hati nurani. Nuran tidak memposisikan diri sebagai begundal tengik seperti Rio Tantomo -- ini 'guru' saya yang lain -- tapi cenderung apa adanya. Pernahkah kamu kepikiran untuk membuat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Demi Satu"? Hanya Nuran yang segila itu. Lalu, kekonyolan lain adalah saat semua penulis musik berlomba menulis album terbaik di tahun ini -- seperti ritual media musik pada umumnya -- Nuran malah menjadi 'punk' dan menolak sama. Ia dengan bangga mempersembahkan daftar album terburuk tahun ini, dan siap dimaki-maki semua orang: terutama Ungu Cliquers dan fangirl Sigit Purnomo alias Pasha. Jelas ini tidak pakai teknik-teknikan: nulis ya nulis saja. Super subjektif. Sengak dan songong, tapi sekaligus cerdas. Apa yang kamu pikirkan saat mendengar band bernama 'Asbak Band'? Hanya Nuran yang berani menyarankan band itu untuk ganti nama lebih dulu, sebelum rilis album baru. Saya tidak mengesampingkan karya Nuran yang lain di luar tulisan musik (food writernya tentang warung makan juga keterlaluan biadab bagusnya, apalagi kisah tentang 'on the road' versi Nuran yang doyan backpacker). Tapi karena ini sedang fokus pada tulisan musik, maka saya hanya akan berfokus pada Nuran dan karya tulisan musiknya saja.
"Gimana? Mau nggak?" Nuran bertanya lagi. Itu sesudah saya mencoba ruwet, melempar kesana kemari dengan alasan sungkan, kurang pede, kurang kompeten dan lain sebagainya. Saya lalu menelfon Rona Cendera, editor senior Ronascent Webzine.
"Wancuk! Terima aja! Kesempatan!" katanya. Entah kenapa harus berteriak-teriak di telfon. Saya lalu mencoba mengopernya pada Mas Rona.
"Sek sek" ujarnya. "Moderatornya siapa?"
"Ayos. Ayos Purwoaji."
"Cok! Emoh sungkan! Orang besar itu. Awakmu ae!"
Bangsat. Saya sebenarnya tidak kenal Ayos, hanya suka mendengar namanya saja. Cukup disegani di ranah seni rupa, dan sempat aktif di dunia kepenulisan. Sebelumnya saya malah sempat mampir ke acara Biennale Jatim, disitu Ayos berperan sebagai kurator. Melihat tindak-tindak Ayos yang punya nama besar, dan Nuran yang hampir setara dengan Rudolf Dethu di kancah propagandis hair metal nusantara, saya jadi agak segan. Tapi ini adalah kesempatan bagus: lagipula saya belum beli bukunya -- masih menabung untuk beli yang hardcover seharga 150 ribuan. Akhirnya saya menyanggupi. Pikiran saya waktu itu: kapan lagi bisa sedekat ini dengan idola. Plus kemungkinan bisa dapat buku gratisan. Saya pikir bukunya lumayan worthed juga untuk dimiliki. Akhirnya saya mengiyakan tawaran Nuran. Saya yang belum baca bukunya, sedikit malu-malu kucing ingin 'membacanya' dulu. Tapi Nuran sepertinya membaca pikiran saya.
"Minta alamatnya. Nanti aku kirimin bukunya."
Oh yes. Alamak di tanggal hampir mendekati tua, dapat kiriman buku gratis. Tapi dengan bodohnya sesudah mengiyakan saya kepikiran hal lain. Otak saya langsung kosong. Brengsek, mau ngobrolin apa nantinya di bedah buku. Cola di meja saya tandaskan. Luar biasa, saya belum mengerti harus bicara apa tapi sudah mengiyakan saja.
Kebuntuan ini terjadi sampai jelang hari H tur buku Nuran di Surabaya. Karena banyak pekerjaan, saya sampai hampir lupa kalau ada bedah buku hari Minggu. Sampai di suatu sore, dengan sepatu saya yang mamel karena hujan di jalan, saya masuk ruangan kantor dengan gontainya. Mbak Maria, salah satu penyiar yang sedang melalukan hobi ceriwisnya di dekat meja makan, menyapa saya sambil sedikit berteriak.
"Tit, ada kiriman buat kamu. Kutaruh mejamu, ya."
Dalam hati saya langsung berdenyut 'deg'. Asu. Saya lupa kalau hari Minggu ada bedah buku, dan ini pasti kiriman dari Nuran. Ternyata benar. Tapi dasar otak saya memang sedungu itu, sesudah saya buka paket saya malah keasyikan membaca dari awal bukunya. Membaca tanpa sadar saja tahu-tahu sudah hampir separuh. Kemudian ingat lagi. Asu. Bedah buku Minggu. Lalu sampai di kos saya baca lagi sampai ketiduran, dan lupa lagi esok harinya. Buku saya bawa ke kantor, saya tuntaskan sampai habis. Mau tidak mau saya harus ingat, karena besok acara bedah buku itu sudah dijadwalkan. Saya sudah ditawari Rona untuk cangkruk, membahas materi yang setidaknya bisa saya sampaikan. Tapi Rona hampir belum pernah baca tulisan Nuran, jadi mungkin bisa sharing tentang geliat musik di Surabaya saja -- topik obrolan favorit Rona selain meniduri salah satu personil The Corrs. Alhasil, saya berpikir tidak muluk-muluk: saya akan hadir sebagai penggemar, yang mengapresiasi Nuran, itu saja. Dan inilah jeleknya saya: untuk acara dari penulis sebesar Master Nuran, saya tidak merangkai kata-kata apapun: cul-culan.
"Wis gampang. Lihat besok saja. Nanti aku bantu kalau ada hal yang bikin awakmu kesulitan." ujar Rona.
***
Hari Minggunya, saya harus ke kantor dulu mengisi ruang-ruang berita untuk dibacakan awak gatekeeper. Bedah buku dimulai pukul tujuh, tapi pukul enam kerjaan masih belum kelar. Nuran sudah saya kontak, katanya berangkat ke c2o pukul enam, bersama Ayos. Setelah selesai semuanya, saya sudah siap-siap menjunjung tas, ndilalah di depan pintu ada Mas Iman Dwihartanto -- penyiar legendaris Kelana Kota Suara Surabaya, sekaligus Manager Newsroom. Saya agak sedikit sungkan kalau langsung pamit. Akhirnya saya duduk-duduk dulu dekat Mas Iman. Nah, di sini sepertinya Mas Iman bisa membaca pikiran saya, dan langsung memberi saya sedikit pelajaran tentang 'public speaking'. Padahal beliau tidak tahu sebentar lagi saya akan mengobrol ria di bedah bukunya Nuran.
"Keep smile face. Jangan cemberut. Usahakan kamu 'senyum' waktu ngobrol. Itu penting. Mempengaruhi pembawaanmu. Nanti kapan-kapan aku ajari teknik announcing lagi." Mas Iman melihat arloji. "Eh, apa sekarang saja belajarnya di ruang rekaman?" tanyanya.
Saya yang memang sedang buru-buru menjawab seadanya: "Next time deh, mas. Buru-buru nih, ada acara."
"Oh, ok, ok. Santai. Mau berangkat sekarang? Hati-hati, loh ya. Lagi hari libur."
Saya langsung bergerak cepat ke c2o. Jaraknya hanya seperlemparan batu dari kantor. Tinggal turun sedikit, lewat beberapa lampu merah, lalu sampai.
Sampai di sana, Mbak Yuli dan Charlie--atau siapa nama kucing itu--menyambut saya.
"Mas Nuran lagi di dalem, silahkan silahkan!" ujar Mbak Yuli. Saya tidak sempat menengok buku-buku baru. Lalu sesudah mengasap Black Menthol sebentar di luar (dengan tanpa terasa sudah habis tiga batang di asbak), Nuran lalu WhatsApp saya
"Masuk aja. Ada temen-temen juga nih!"
Saya lalu memasuki mini bar di c2o. Ada bercangkir-cangkir kopi hitam di meja, dan puntung rokok yang berceceran. Kharis Junandharu dari Silampukau juga ada di sana, dengan kaus merah lengan panjang yang biasa dipakai pas manggung. Ada juga basis Hi-Mom! yang bergaya cukup flamboyan: menebalkan bulu cambang dan pakai topi ala anak kampus kesenian. Ayos Purwoaji, si moderator kemudian sedikit ngobrol-ngobrol dengan saya.
"Aku belum mbaca bukunya. Nanti tak lempar-lempar saja ya," ujarnya.
Saya lalu lanjut bercakap dengan Nuran. Untuk pertama kalinya kami berjumpa. Saya melihat Nuran sebagai sosok yang lumayan tambun, tapi gagah. Mungkin berbeda dengan foto-foto yang dipamerkan di blognya saat dia sedang travelling beberapa tahun silam. Nuran sudah punya bini. Jadi mungkin agak terlihat seperti bapak-bapak. Pakai celana 3/4, kamu tidak akan sadar kalau dia adalah penulis jempolan. Tapi saya ragu apakah benar dia propagandis hair metal nomor satu Indonesia, karena dia pakai kaus Seringai. Haha.
Lalu satu-persatu pengunjung mulai datang. Saya, Nuran dan Ayos berada di depan. Hanya gelar tikar seadanya, dan itu lebih bisa bikin suasana jadi lebih intim dan hangat. Ada sekitar 5-6 orang yang hadir. Dan terus berdatangan kira-kira sampai belasan orang.
Nuran lalu sedikit bercerita tentang bukunya. Hanya gambaran kecil saja. Dulu Nuran sangat doyan dengar Guns N' Roses, lalu bersama Ayos, membuat blog pribadi. Saya sempat membuka blog bernama 'muntah berak' milik Nuran. Isinya sangat raw, personal, ngehek, dan banyak berisi indahnya kenakalan masa muda. Selain tentang musik, blognya juga berisi sumpah serapah, dan perjalanan cintanya bersama beberapa perempuan (khusus yang ini saya khawatir akan terlalu paham kehidupan pribadi Nuran karena ia selalu tulis apa saja di blog).
Kehidupannya berubah sesudah Phillips Vermonte, founder JakartaBeat, mengontak dirinya untuk menulis di website JakBeat yang baru seumur jagung. Ini dibahas tuntas di Kata Pengantar yang ditulis Mas Phillips. Tulisan Nuran begitu 'kotor'. Pemuda brengsek yang tidak sungkan buat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Per Satu" di blognya ini, membuat tulisan brengsek sejenis di JakBeat. Tulisan di awal-awal karir Nuran di JakBeat sih masih bisa dibilang 'lembut' dan 'elegan'--membahas John Mayer. Tapi lama-kelamaan keluar 'aslinya'. Selama dua tahun Nuran membuat tulisan "5 Album Terjelek 2009" dan "5 Album Terbaik 2010". Ini saat media musik lain seperti Rolling Stone sedang asyik menuliskan album terbaik sepanjang tahun. Dasar bajingan, tulisan ini sungguh tidak punya bobot objektivitas. Murni subjektivitas seenak udel Nuran, dan seenak jembutnya mengata-ngatai album dari Asbak Band, Ungu, The Harry Potters, The Bagindaz, dan band lain yang sama menye-nya.
Saya yang baru berkenalan dengan Rolling Stone kisaran tahun 2011, jadi agak terganggu. Pikir saya, jurnalis atau penulis musik harus muluk-muluk. Harus pintar seperti Hasief Ardiasyah atau Wening Gitomartoyo. Pintar di sini dalam artian terkesan intelek, cenderung snob, dan punya milyaran referensi musik keren seluruh planet. Tapi sesudah baca Nuran di JakBeat, saya pikir penulis musik bisa ngehek juga. Bisa seenaknya juga. Tulisan-tulisan Nuran-lah yang kemudian memicu saya untuk mulai menulis juga. Patokan saya turun drastis. Nuran begitu seenaknya dan peduli setan: semua karya jelek ya jelek, dan dia tidak sungkan untuk menghina (saya bahagia dia mencaci-maki Ungu). Dan itu lebih terasa fun, menyenangkan. Memang kadang Nuran menghasilkan tulisan yang lebih berbobot, misal saat menulis tentang The Doors dan 'hair metal'. Tapi nuansanya sama: ringan dan asyik. Tidak membuat kepala terlalu banyak berpikir, malah ingin segera mencari band atau lagu apa yang menurut Nuran bagus. Bukankah begitu tujuan menulis musik? Saya lalu menyadari satu hal: tulisan Nuran menyenangkan karena dia hanya menulis tentang band-band yang dicintainya. Tulisan musik yang hidup erat kaitannya dengan selera. Dan saya setuju itu. Alhasil, tulisan Nuran di blog-nya atau JakBeat, jadi salah satu pemicu saya untuk membuat zine perdana.
Sebelumnya, saya mengamati tulisan Taufiq Rahman yang sangat-sangat bagus, dan saya langsung menyerah. Saya tidak punya kecerdasan kritis macam Taufiq untuk hasilkan tulisan bermutu seperti itu. Otak saya masih sangat kurang. Lalu Ady Renaldi (di saat dia menulis tentang hubungan album Taring Seringai dan dihubungkannya dengan logical phallacy atau apalah), saya malah tidak nyambung. Saya ingin belajar dari pengisi kolom JakBeat tapi mengapa tidak ada yang bisa saya cerna dengan baik. Apalagi Arman Dhani. Saya menyerah dan akhirnya membuka lagi tulisan mahaguru utama saya: arsip tulisan Nuran Wibisono di JakBeat dan blognya saya babat habis--semua tulisan, tanpa kecuali, termasuk puisi lucu-lucuannya. Tanpa disangka, ada satu tulisan yang menginformasikan tentang pemesanan buku. Di situ tertulis nomor rekening Nuran, dan nomor ponselnya.
Aunnurahman Wibisono - 08xxxxxxxxx
Fuck! Tanpa tunggu esok pagi saya langsung SMS si mahaguru. Basa-basi dan akhirnya mengakui: tulisanku nggak diterimo JakBeat, mas. Lalu Nuran menjawab singkat: kenapa kamu kok pengen nulis di Jakarta Beat?
Saya tidak tahu. Betul-betul tidak tahu. Nihilisme tulen. Saya merasa hanya menulis karena ikut-ikutan review keren Rolling Stone saja. Padahal saya tahu, jadi keren tidak bisa hanya dengan ikut-ikutan. Sejak hari itu saya mulai berpikir kalau tulisan musik harus punya nyawa. Nuran bisa menulis 'hair metal lebih baik dari grunge' karena dia mungkin kesal atas kehadiran Nirvana yang menggeser dominasi Guns N' Roses. Taufiq mungkin kesal pada Phillips yang menganggap Nevermind The Bollocks sebagai album punk terbaik, bukan Marquee Moon dari Television. Semua penulis punya kekesalannya masing-masing.
Saya akhirnya merasa tulisan saya kurang satu hal yang amat sangat penting: kegelisahan. Ini membuat tulisan saya kering, kosong, hanya berusaha meng-keren-kerenkan kata, menyamakan rima, mengutip diksi-diksi keren as fuck untuk gambarkan jenis musik. Tidak ada isinya. Hampa tanpa gagasan.
***
Zine perdana saya adalah kumpulan tulisan anak muda sok pretensius yang sok mahir bermain alat musik dan sok idealis ingin bikin band yang super-duper hipster dan sok menolak selera kampungan macam screamo, tapi akhirnya gagal dan membusuk bersama dua edisi Rolling Stone dan lembaran-lembaran zine milik abang saya yang diperam sejak tahun 2000-an. Zine yang berani-beraninya dan dengan pedenya menjuluki diri sebagai digital rock zine (karena diproduksi pdf), dan total terpengaruh zinemaker asal Bandung Jiwa Singa (produsen Nobody Zine), tapi dengan gaya tulisan yang alamak sok cerdas dan berlipat pedenya. Patokan saya: Nuran Wibisono. Zine bernama Throwzine ini berhasil mewawancarai band lokal, dan seakan-akan dalam pandangan saya sudah jadi zine rock professional yang bisa membuat goyah Jann Wenner. Bangsat, saya terkikik saat mengingat ini. Atas jasa-jasa Nuran-lah saya berani menulis di media sendiri, dan akhirnya memberanikan diri mengirim naskah ke JakartaBeat. Saya kelas tiga SMA waktu itu, dan tiga tulisan tentang Green Day yang saya tulis, yang saya anggap punya kelas seperti Rob Sheffield atau David Fricke di rubrik review Rolling Stone, yang saya pikir akan mengubah dunia, semesta, dan jadi sejarah di jurnalisme musik, ternyata hanyalah seonggok sampah yang mungkin tidak dilirik oleh Phillips dan Taufiq, editor JakartaBeat. Tulisan yang kalau saya baca ulang sekarang, akan terlihat memalukan dan tolol, sok elitis dan sok punya selera musik bagus. Brengsek benar. Saya sudah melangkah terlalu jauh dari apa yang diterapkan Nuran: kesederhanaan dan ringan. Tiga tulisan tadi kemudian masuk di zine saya yang kedua, yang entah apa namanya (saya memutuskan tidak pakai nama Throwzine lagi), tapi tidak lolos kurasi JakBeat membuat saya sedikit sedih dan hampir patah arang. Apa kurangnya? Lalu saya memutuskan berhenti menulis sejenak, dan mengamati gaya-gaya penulisan tabib-tabib jurnalisme rock. Tidak ada yang lain lagi: blog Nuran Wibisono jadi tujuan akhir.Sebelumnya, saya mengamati tulisan Taufiq Rahman yang sangat-sangat bagus, dan saya langsung menyerah. Saya tidak punya kecerdasan kritis macam Taufiq untuk hasilkan tulisan bermutu seperti itu. Otak saya masih sangat kurang. Lalu Ady Renaldi (di saat dia menulis tentang hubungan album Taring Seringai dan dihubungkannya dengan logical phallacy atau apalah), saya malah tidak nyambung. Saya ingin belajar dari pengisi kolom JakBeat tapi mengapa tidak ada yang bisa saya cerna dengan baik. Apalagi Arman Dhani. Saya menyerah dan akhirnya membuka lagi tulisan mahaguru utama saya: arsip tulisan Nuran Wibisono di JakBeat dan blognya saya babat habis--semua tulisan, tanpa kecuali, termasuk puisi lucu-lucuannya. Tanpa disangka, ada satu tulisan yang menginformasikan tentang pemesanan buku. Di situ tertulis nomor rekening Nuran, dan nomor ponselnya.
Aunnurahman Wibisono - 08xxxxxxxxx
Fuck! Tanpa tunggu esok pagi saya langsung SMS si mahaguru. Basa-basi dan akhirnya mengakui: tulisanku nggak diterimo JakBeat, mas. Lalu Nuran menjawab singkat: kenapa kamu kok pengen nulis di Jakarta Beat?
Saya tidak tahu. Betul-betul tidak tahu. Nihilisme tulen. Saya merasa hanya menulis karena ikut-ikutan review keren Rolling Stone saja. Padahal saya tahu, jadi keren tidak bisa hanya dengan ikut-ikutan. Sejak hari itu saya mulai berpikir kalau tulisan musik harus punya nyawa. Nuran bisa menulis 'hair metal lebih baik dari grunge' karena dia mungkin kesal atas kehadiran Nirvana yang menggeser dominasi Guns N' Roses. Taufiq mungkin kesal pada Phillips yang menganggap Nevermind The Bollocks sebagai album punk terbaik, bukan Marquee Moon dari Television. Semua penulis punya kekesalannya masing-masing.
Saya akhirnya merasa tulisan saya kurang satu hal yang amat sangat penting: kegelisahan. Ini membuat tulisan saya kering, kosong, hanya berusaha meng-keren-kerenkan kata, menyamakan rima, mengutip diksi-diksi keren as fuck untuk gambarkan jenis musik. Tidak ada isinya. Hampa tanpa gagasan.
Nuran duduk di sebelah saya. Di sampingnya ada Ayos Purwoaji. Sementara di depan kami ada beberapa orang yang punya minat sama: menulis musik. Salah satunya Kharis Junandharu dari Silampukau. Ini hari Minggu di akhir bulan, di luar mendung. Kopi dan snack disediakan Mbak Yuli penjaga C2o, untuk disambi sembari diskusi. Ini seperti hal yang sureal: kamu duduk di sebelah penulis yang membuatmu ingin menulis musik, dan saat ini kamu dan dia menjadi pembicara untuk diskusi menulis musik. Saya mewakili Ronascent--webzine musik indie lokal tempat saya menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir, sementara Nuran membawa buku terbarunya: 'Nice Boys Don't Write Rock N' Roll'. Saya didapuk untuk menanggapi tulisan Nuran, dan sedikit berbagi tentang jurnalisme musik. Saya tidak tahu apa-apa, masih bodoh. Tidak punya draft atau bahan apapun untuk dibawakan. Saya tidak tahu teori menulis musik yang baik dan benar. Selama ini di Ronascent, saya selalu menulis untuk senang-senang: tidak bertendensi apapun. Saya menulis suka-suka belaka. Tanpa tuntutan profesi. Inilah yang jadi bahan bakar saya untuk selalu menghubungkan naskah musik dengan kegelisahan. Ini nikmat. Saya suka mendengarkan musik, dan saya kadang muak dengan dunia. Saya menulis kegelisahan itu, dan hubungannya dengan musik. Saya malas dengar band-band sok pretensius dan jelek seperti Foster The People, dan saya menuliskan semuanya di saat semua orang menganggapnya sebagai jenius tiada tara yang berhasil bla-bla-bla fuckin' psychedelic! Saya bisa bicara bersama Nuran, justru karena membaca tulisan-tulisan Nuran.
Saya sendiri agak lupa sudah mengobrolkan apa saja, pun juga petuah-petuah Nuran yang malam itu lebih banyak guyonnya. Pembahasan agak melebar ke arah bisnis musik dan era musik digital tapi bisa diantisipasi dengan baik oleh moderator. Satu yang saya ingat: ini adalah malam yang menyenangkan. Sesudah satu jam lebih kami membahas jurnalisme musik dan hal-hal di sekitarnya, Ayos menyudahi diskusi dan mengadakan sesi tanda tangan.
"Ke Biennale nggak? Ayok bareng, sama aku, Nuran juga ikut." ujar Ayos. Dia sebenarnya jadi kurator Biennale Jatim tahun ini. Di malam penutupan yang seharusnya dia wajib hadir, sahabatnya, Nuran Wibisono malah mendaulatnya jadi moderator diskusi. Pilihan yang mudah karena tentu saja Ayos memilih acara Nuran. Masih pukul sembilan. Penutupan Biennale mungkin tersisan dua jam lagi. Saya dan awak Ronascent segera meluncur ke Gedung Prabangkara, menyusul Ayos dan Nuran.
Saya sendiri agak lupa sudah mengobrolkan apa saja, pun juga petuah-petuah Nuran yang malam itu lebih banyak guyonnya. Pembahasan agak melebar ke arah bisnis musik dan era musik digital tapi bisa diantisipasi dengan baik oleh moderator. Satu yang saya ingat: ini adalah malam yang menyenangkan. Sesudah satu jam lebih kami membahas jurnalisme musik dan hal-hal di sekitarnya, Ayos menyudahi diskusi dan mengadakan sesi tanda tangan.
"Ke Biennale nggak? Ayok bareng, sama aku, Nuran juga ikut." ujar Ayos. Dia sebenarnya jadi kurator Biennale Jatim tahun ini. Di malam penutupan yang seharusnya dia wajib hadir, sahabatnya, Nuran Wibisono malah mendaulatnya jadi moderator diskusi. Pilihan yang mudah karena tentu saja Ayos memilih acara Nuran. Masih pukul sembilan. Penutupan Biennale mungkin tersisan dua jam lagi. Saya dan awak Ronascent segera meluncur ke Gedung Prabangkara, menyusul Ayos dan Nuran.
***
Saya langsung menghampiri Nuran yang duduk di joglo depan Prabangkara. Ayos hilang entah ke mana, menyusul si Kharis yang berlalu-lalang seenaknya saja tanpa seorang pun tahu dia dedengkot Silampukau. Musik DJ mengalun kencang dan brengsek. Apa-apaan. Kenapa di perayaan penutupan pameran seni ada musik EDM Party kencang bertajuk perform art? Saya tidak mengerti dan sekarang saya hanya ingin mengobrol lagi dengan Nuran. Sambil teriak-teriak karena saking kencangnya suara, saya bertanya beberapa hal. Nuran juga sambil teriak-teriak dan kadang mendekatkan mulutnya ke kuping saya, menjelaskan tentang suatu hal.
"Tirto buka lowongan reporter. Coba aja kali aja minat." Ujar Nuran.
Saya berpikir keras, keluarkan rokok putih dan membakarnya. Saya belum tahu hidup mau dibawa kemana, tapi untuk ke Jakarta, saya rasa belum saatnya. Kami lalu membahas banyak hal lagi, diselingi musik disko yang begitu brengseknya. Bisa apa saya. Lalu datanglah pejabat-pejabat Ronascent: Rona Cendera - editor, dan Ian Darmawan, public relations (ya sebut begitulah biar kelihatan keren dikit). Saat keduanya datang, Nuran langsung menghilang, entah mencari Ayos atau Kharis. Saya dan kru Ronascent langsung menuju kantin di pojokan untuk pesan satu gelas kopi dingin pembunuh kantuk. Saat sedang membicarakan hal-hal remeh-temeh Nuran datang dengan muka kusut: Ayos tidak ketemu. Dia langsung duduk di sebelah saya, dan memesan Indomie.
"Oh ini timnya Ronascent?" tanya Nuran. Kami sebagai penulis musik lokal merasa seperti ditanya oleh jurnalis hair metal legendaris. Sambil diselingi kopi, udud, dan gorengan, kami mulai membahas apa saja tentang media musik. Rona dan Ian juga berkali-kali bertanya, mumpung ada pakarnya.
"Sekarang susah. Media cetak sudah gulung tikar semua. Kemarin, Trax, HAI..." kata Nuran.
"Sayang banget, ya Mas. Trax lumayan keren sih isinya menurutku." ujar saya menanggapi.
"Iya, penyeimbang Rolling Stone lah ya."
"Haha, itu Trax langsung tutup habisnya Rio keluar ya."
"Rio? Oh, Rio Tantomo? Kon kenal?"
"Sempet beberapa kali ngobrol. Haha brengsek sih dia. Tapi bagus."
"Aku ndak kenal sih, cuman tau aja. Gonzo dia."
"Iya, nulis Burgerkill pakai ganja pas tur, eh Ebenz dkk protes. Pantes keluar tuh si Rio." saya tertawa.
"Lahyo, jarene rock and roll, metal, ditulis ora wani." Nuran juga tertawa sambil mengecap Indomie-nya.
Kami lalu membahas industri media lagi, yang makin hari makin ditinggalkan. Semua orang bisa menulis di akunnya masing-masing. Semua orang bisa bikin media sendiri. Di saat seperti itu, kami--yang semuanya jadi buruh media dan budak naskah--harus siap seandainya radio, koran, atau media apapun tempat kami bekerja mendadak tutup. Kelihatannya tidak mungkin, tapi apa salahnya siap-siap. Sejumput rokok kami bakar--kecuali Nuran--untuk membunuh perasaan ini. Kami sudah terjerumus dalam media, wartawan, jurnalis: dan seperti kata Sudjiwo Tejo; sekali kamu jadi jurnalis, kamu tidak bisa meninggalkannya, seumur hidup. Jurnalis itu candu.
"Wis rek, mbayare iki ae." ujar Nuran yang berdiri dan serahkan sejumlah uang pada penjualnya.
"Arek-arek kabeh, totale pinten?"
Kami hanya cengar-cengir. Dalam hati sedikit menggumam: ini penulis hair metal paling membumi dan murah hati yang ada.
Thanks, Mas Nuran Wibisono. See you next time!
"Tirto buka lowongan reporter. Coba aja kali aja minat." Ujar Nuran.
Saya berpikir keras, keluarkan rokok putih dan membakarnya. Saya belum tahu hidup mau dibawa kemana, tapi untuk ke Jakarta, saya rasa belum saatnya. Kami lalu membahas banyak hal lagi, diselingi musik disko yang begitu brengseknya. Bisa apa saya. Lalu datanglah pejabat-pejabat Ronascent: Rona Cendera - editor, dan Ian Darmawan, public relations (ya sebut begitulah biar kelihatan keren dikit). Saat keduanya datang, Nuran langsung menghilang, entah mencari Ayos atau Kharis. Saya dan kru Ronascent langsung menuju kantin di pojokan untuk pesan satu gelas kopi dingin pembunuh kantuk. Saat sedang membicarakan hal-hal remeh-temeh Nuran datang dengan muka kusut: Ayos tidak ketemu. Dia langsung duduk di sebelah saya, dan memesan Indomie.
"Oh ini timnya Ronascent?" tanya Nuran. Kami sebagai penulis musik lokal merasa seperti ditanya oleh jurnalis hair metal legendaris. Sambil diselingi kopi, udud, dan gorengan, kami mulai membahas apa saja tentang media musik. Rona dan Ian juga berkali-kali bertanya, mumpung ada pakarnya.
"Sekarang susah. Media cetak sudah gulung tikar semua. Kemarin, Trax, HAI..." kata Nuran.
"Sayang banget, ya Mas. Trax lumayan keren sih isinya menurutku." ujar saya menanggapi.
"Iya, penyeimbang Rolling Stone lah ya."
"Haha, itu Trax langsung tutup habisnya Rio keluar ya."
"Rio? Oh, Rio Tantomo? Kon kenal?"
"Sempet beberapa kali ngobrol. Haha brengsek sih dia. Tapi bagus."
"Aku ndak kenal sih, cuman tau aja. Gonzo dia."
"Iya, nulis Burgerkill pakai ganja pas tur, eh Ebenz dkk protes. Pantes keluar tuh si Rio." saya tertawa.
"Lahyo, jarene rock and roll, metal, ditulis ora wani." Nuran juga tertawa sambil mengecap Indomie-nya.
Kami lalu membahas industri media lagi, yang makin hari makin ditinggalkan. Semua orang bisa menulis di akunnya masing-masing. Semua orang bisa bikin media sendiri. Di saat seperti itu, kami--yang semuanya jadi buruh media dan budak naskah--harus siap seandainya radio, koran, atau media apapun tempat kami bekerja mendadak tutup. Kelihatannya tidak mungkin, tapi apa salahnya siap-siap. Sejumput rokok kami bakar--kecuali Nuran--untuk membunuh perasaan ini. Kami sudah terjerumus dalam media, wartawan, jurnalis: dan seperti kata Sudjiwo Tejo; sekali kamu jadi jurnalis, kamu tidak bisa meninggalkannya, seumur hidup. Jurnalis itu candu.
"Wis rek, mbayare iki ae." ujar Nuran yang berdiri dan serahkan sejumlah uang pada penjualnya.
"Arek-arek kabeh, totale pinten?"
Kami hanya cengar-cengir. Dalam hati sedikit menggumam: ini penulis hair metal paling membumi dan murah hati yang ada.
Thanks, Mas Nuran Wibisono. See you next time!
Tuesday, December 5, 2017
Desember dan Lapis Kenangan Pertama
Hujan di bulan ini selalu membawa perintilan-perintilan yang dijahit lagu Efek Rumah Kaca. Bosen ya? Tidak juga. Lagu Desember selalu magis, tidak pernah berkurang dan mengalami erosi kenikmatan saat mendengarkannya. Meskipun sudah kepalang sering jadi anthem galau nan insecure dari bocah-bocah yang baru kenal ERK tahun lalu dan merasa sudah menemukan tambatan hati, menemukan 'yah ini band gue banget'--atau yah, hanya sekadar 'ok bagus nih, keren juga kalau gue dengerin gini'. Motif orang mendengarkan musik macam-macam. Saya tidak peduli juga motivasimu mendengar musik itu apa: soalnya ada banyak kemungkinan dan saya tidak mau mengurusi orang lain. Termasuk Desember, yang menurut saya jadi pencapaian besar banget di musik Indonesia. Desember lahir di saat generasi terakhir MTV digempur sama Matta, The Harry Potters, dan Kangen Band. Ada juga Merpati Band, haha anjing. Cholil yang sekarang jadi legenda dulunya mah apa, seperti mahasiswa tingkat akhir yang sedih dan bikin band-band-an, terpengaruh Radiohead, gelap dan murung. Saya lihat di jaman-jaman pertama kali kemunculannya di TV. Melabrak semua video klip yang ada saat itu. Desember jelas sekali dipakai dengan budget seadanya, sengaja monokrom, menyorot orang hujan. Dan Cholil menyanyi melihat jendela. Agak aneh pada awalnya. Dan mungkin karena di momen itu, hujan benar-benar memberi saya kenangan yang sedap-sedap, saya selalu memutar Desember untuk merasakan kembali atmosfer kenangan itu.
Kenangannya berlapis. Ada satu, dibalut lagi, dibalut lagi. Jadi Desember ini lagu yang lumayan berhasil mewadahi banyak kenangan sekaligus. Semuanya melankolis, sendu, hujan. Dan ada di bulan Desember. Mungkin lagu ini muncul saat kita masih pakai putih biru, dan MTV sudah di ambang kelesuannya. Saya nonton ini pertama kali di rumah mbah. Sewaktu habis hujan-hujanan sepulang sekolah. Saya bisa merasakan wax di rambut saya meluntur, bercampur bersama bau keringat dari baju batik SMP saya. Saya lekas diberi handuk untuk mengeringkan badan, sementara seragam masih terpakai. Televisi menyala, dan nenek saya adalah penggemar sinema menjelang siang yang sering membahas pembalasan alam kubur seorang yang biadab di masa hidupnya. Saya mengotak-atik remote, dan menonton MTV Ampuh seperti kebiasaan saya di rumah. Senyum dan -ehem VJ Marissa adalah salah satu hal terbaik yang pernah saya lihat sewaktu SMP. Lalu, Marissa si gemas mulai berkhotbah tentang chart, dan saya menahan diri untuk tidak terpukau dengan tanktop putihnya dan apa itu sesuatu yang mencuat di dalamnya. Lalu muncullah video hitam putih. Cholil dan kawan-kawan.
Dan Desember resmi mewadahi lapis kenangan pertama.
Kenangannya berlapis. Ada satu, dibalut lagi, dibalut lagi. Jadi Desember ini lagu yang lumayan berhasil mewadahi banyak kenangan sekaligus. Semuanya melankolis, sendu, hujan. Dan ada di bulan Desember. Mungkin lagu ini muncul saat kita masih pakai putih biru, dan MTV sudah di ambang kelesuannya. Saya nonton ini pertama kali di rumah mbah. Sewaktu habis hujan-hujanan sepulang sekolah. Saya bisa merasakan wax di rambut saya meluntur, bercampur bersama bau keringat dari baju batik SMP saya. Saya lekas diberi handuk untuk mengeringkan badan, sementara seragam masih terpakai. Televisi menyala, dan nenek saya adalah penggemar sinema menjelang siang yang sering membahas pembalasan alam kubur seorang yang biadab di masa hidupnya. Saya mengotak-atik remote, dan menonton MTV Ampuh seperti kebiasaan saya di rumah. Senyum dan -ehem VJ Marissa adalah salah satu hal terbaik yang pernah saya lihat sewaktu SMP. Lalu, Marissa si gemas mulai berkhotbah tentang chart, dan saya menahan diri untuk tidak terpukau dengan tanktop putihnya dan apa itu sesuatu yang mencuat di dalamnya. Lalu muncullah video hitam putih. Cholil dan kawan-kawan.
Dan Desember resmi mewadahi lapis kenangan pertama.
Tuesday, June 20, 2017
14 Hari Untuk Selamanya (Bagian 7 - Habis)
VII.
Lewat
Sudah...
| 145 |
Sebelum benar-benar
berakhir izinkanlah saya untuk menyampaikan satu ini: semua yang ada dalam
tulisan ini adalah hasil dari realita dan praduga. Semua adalah kejadian real,
pun kutipan percakapan, gestur, penampakan, apapun itu, ditambah dengan praduga
saya pribadi—yang sedikit agak ceroboh dan cenderung berpikiran buruk dan kotor
akan segala sesuatu. Jadi saya akan merasa sangat berterimakasih jika pembaca
yang merasa tersinggung atau menjadi bahan olokan mau menerima permohonan maaf
saya. Meski sebenarnya saya tidak peduli juga jika ada yang tersinggung, atau
merasa terhibur, atau apapun itu. Saya tidak peduli bahkan bila tidak ada yang
peduli sekalipun.
Dan setelah melewati
hari-hari panjang sialan yang busuk di lantai basecamp tengik yang jarang
disapu dan di pel, penuh bolot gemuk dari bajingan-bajingan yang tidak mandi
dengan bersih atau tidak mandi, setelah di lantai itu saya beserta tim ekonomi
yaitu: 1) Nila, 2) Sylvia, 3) Tyo dan 4) Wisnu, menggarap mahakarya luar biasa
agung yang menurut saya pribadi sudah melampaui batas etika dan estetika,
esensi dan eksistensi: kerajinan dari ampas tebu. Karya seni kriya avant garde
ini saya percaya akan membuat Andy Warholl berdecak kagum dalam kuburannya.
Sebuah karya nan cult, dibuat dengan kejeniusan hipster kelas tinggi, dengan
pengaruh dan warisan yang tiada terhingga terhadap generasi-generasi
setelahnya. Potret sketsa Campbell Soup legendaris itu dibikin oleh Warholl,
sementara untuk Kriya Ampas Tebu ini, kita punya Wisnu.
| The Other Side: Wisnu Prasetya Bekti |
Dalam framing kehidupan,
kita mungkin pernah menjumpai perasaan bahwa dunia yang kita tinggali adalah
fana. Mengerikan dan kita harusnya sudah bersiap mati setiap saat. Bila kalian
mengamati Final Destination sedari awal dan makin menganggap franchise itu makin
buruk dan mengada-ada, maka cobalah berkendara dengan kecepatan yang di luar
nalar, dengan motor tua nan ringsek, bersama pengemudi ngantuk dan belum pernah
sarapan: kalian akan mengalami Final Destination versi kalian sendiri dan untuk
kemudian berhenti menonton sampah itu via donwnload gratisan. Saya pernah
beberapa kali mengalami yang seperti itu. Dan sekarang seseorang bernama Wisnu
yang baru saya kenal kemarin, membuat saya mengalami sensasi serupa.
Menuliskan tentang Wisnu
akan sangat panjang. Tiada terkira dan saya takut nantinya akan membuang-buang
waktu saya yang tidak terlalu berharga ini untuk mendeskripsikan orang lain
yang saya pun tidak tahu apa feadahnya bagi saya pribadi dan keluarga. Tetapi,
tiada artinya peristiwa KKN ini tanpa seorang Wisnu. Cerita tentang boncengan
mautnya mungkin bisa saya bagikan sambil menonton streaming video roller
coaster dengan iringan lagu jelek supercepat dari Dragonforce. Cerita tentang
boncengan mautnya bersama motor hipsternya mungkin bisa saya bagikan sambil
menonton streaming video roller coaster dengan iringan lagu jelek supercepat
dari Dragonforce sambil menggerus bata dengan gigi geraham. Cerita tentang
boncengan mautnya bersama motor hipsternya dan senyum meringisnya yang innocent
yang tampak di spion saat hampir menghantam bahu jalan mungkin bisa saya
bagikan sambil menonton streaming video roller coaster dengan iringan lagu
jelek supercepat dari Dragonforce sambil menggerus bata dengan gigi geraham
ditemani Anggur Merah Cap Orang Tua.
Intinya cerita itu akan
terlalu melelahkan diceritakan di sini dan mungkin sebaiknya dilupakan saja.
Bagian ini akan lebih menfokuskan perjalanan Wisnu di basecamp meramu formula
ampas tebu. Perjalanan ini menjadi menarik karena saya—sebagai sebusuk-busuknya
ketua yang mengepalai divisi Ekonomi—nekat untuk tidak melakukan survey akan
kerajinan ini sebelum KKN, dan baru melakukan trial and error saat KKN tiba.
Perjalanan ampas tebu
ini diawali dari saya dan Wisnu yang merampok sisa-sisa ampas tebu dari
mamang-mamang yang berjualan es tebu di dekat Pasar Canggu. Akhirnya kami
mengenal beliau dan rutin memasok ampasnya. Beliau pun sangat pengertian untuk
tidak membuang ampas tebu itu dan menggeletakkanya di pinggir jalan agar kami
bisa mengambilnya. Sungguh mulia hati bapak ini—yang membuat saya kepengen
mokel es tebu siang bolong. Akhirnya di basecamp saya bersama anggota tim
ekonomi bereksperimen setiap hari. Tapi yang paling total dan tidak
tanggung-tanggung adalah Wisnu. Ada masanya saat saya asyik tidur siang, mokel,
atau sebats di kamar, Wisnu di luar sedang mengupas ampas tebu dengan ditemani
cerita pranikah dari Mama Esti, atau berandalan cilik Sidowangi yang masih
kecil sudah kurangajar. Saya yang kadang tidak peka selalu disindir oleh dia,
hingga di suatu pagi saya sadar bahwa saya yang terlalu malas. Untuk itulah
saya akhirnya selalu menemani Wisnu, dan ekstremnya melakukan hal-hal yang dia
perintahkan seperti survey kebun tebu walaupun itu agak tidak masuk akal,
kemudian berbelanja barang-barang kebutuhan yang dibutuhkan Wisnu meskipun saya
sudah membelinya banyak sekali tapi entah kenapa selalu habis. Sampai akhirnya
saya melihat pola kerja Wisnu yang gemar mencoba-coba sana-sini, rela
menghamburkan uang dari saku sendiri demi peralatan, dan selalu melakukan aktivitas
dengan ampas tebu meskipun sudah mentok dan saya merasa semuanya sudah
dilakukan. Saya akhirnya sadar bahwa bukan saya yang terlalu malas, tapi Wisnu
yang terlalu rajin. Saya pun kembali normal seperti semula. Eksperimen tebu itu
ternyata tidak sulit-sulit amat. Tinggal mencuci ampas, menjemurnya, lalu
menempelkannya. Model tempelan disesuaikan: potongan kecil ataukah besar dan
kasar. Tinggal membuat prakarya saja untuk tempelan. Sebagai ketua saya
seharusnya yang mempresentasikan tapi saya kira Wisnu lebih berhak.
| Kadang saya masih takjub akan potret yang saya ambil ini. Begitu bercerita |
Tim ekonomi kami
mendapat giliran acara di hari-hari jelang berakhirnya KKN. Mungkin H-1 atau
H-2. Saya menyerahkan urusan tutorial pada Wisnu, juga yang terhormat Hengki
sebagai Master Of Ceremony. Saya respect pada Hengki karena ia alpa membacakan
bagian acara di mana saya harus memberi sambutan jadi saya tidak perlu menata
karangan buruk dan basa-basi lagi. Urusan forografi sudah ada sendiri entah itu
Aminul atau siapa saya lupa. Saya hanya tinggal duduk diam sambil beramah-tamah
kepada ibu-ibu sekitar. Acara ini tidak mungkin terjadi apabila saya dan Nila
tidak rutin mengunjungi rumah Bu Lurah dan membicarakan kepastian. Bu Lurah
yang amat baik adalah ketua PKK, dan sasaran paling baik dari acara
kewirausahaan ini adalah ibu-ibu PKK. Maka dengan mendekati ketuanya, paling
tidak kita bisa melewati satu proses yang melelahkan yaitu membagikan undangan
ke warga. Saya yakin Bu Lurah hits itu pasti punya grup Whatsapp dan dengan
satu dua kalimat saja, ia bisa mempromosikan acara kami. Tinggal mengatur
teknisnya, dan sesuai permohonan Bu Lurah, acara diadakan pada hari Kamis,
pukul sembilan pagi. Bu Lurah tidak mau banyak omong dan mempersetankan
sambutan. Jadilah acara dimulai dengan Hengki, kemudian Wisnu, kemudian saya
yang koar-koar sedikit sok-sok saja, kemudian Wisnu lagi untuk doa, Hengki lagi
untuk penutup dan basa-basi cuci mulut. Dan usai. Rundown hanya seperti itu.
Seperti halnya tugas
korlap, di sana saya hanya mengatur pembagian ampas, serta peralatan yang
digunakan ibu-ibu untuk praktek membuat prakarya. Jujur saya tidak terlalu
paham Wisnu menjelaskan apa, dengan bahasa Jawa tulen yang banyak menggunakan
metafora atau apalah, atau kata ‘sepuntene’ atau apalah, Wisnu mengajari
ibu-ibu berusia setengah abad, seolah-olah dia lahir delapan abad sebelum
ibu-ibu itu dilahirkan. Sempurna. Rundown menjadi sedikit padat karena Sylvia
mengusulkan agar acara ditambah dengan tutorial make up oleh Shella dari
jurusan Tata Rias. Saya setuju asal modelnya adala Hengki dengan memakai
kurudung pasmina; tapi tidak ada yang lebih pas lagi untuk dirias selain
perempuan bernama Velly. Saya yakin dia akan menjadi salah satu biduan dangdut
di masa depan menggantikan Ayu Ting-Ting dan ayahnya. Tugasnya sekarang hanya
tinggal menjadi ratu angsa: duduk, di make up, berdecak kagum pada cermin.
Velly dipoles Shella sedemikian rupa di depan ibu-ibu yang mencoba menirunya.
Acara extras ini lebih menarik animo ibu-ibu ketimbang acara ampas tebu.
Sialan. Apalagi Bu Lurah yang sedang melahirkan juga ingin dirias juga. Alhasil
Shella pun memoles Bu Lurah di depan ibu-ibu yang sepertinya ingin menjadi Ibu
Lurah juga. Polesan Shella adalah salah satu yang terbaik. Riasanya mengukuhkan
tanpa kata-kata sedikitpun bahwa Bu Lurah—istri Pak Lurah Akemad—adalah
perempuan tercantik di desa ini. Tercantik nomor tiga di Kabupaten Mojokerto
(setelah tentu saja istri Bupati dan Wakilnya). Shella segera saja menjadi buah
bibir di kalangan ibu-ibu hits. Menjadikannya make up artist handal yang segera
bisa menggeser Ivan Gunawan dadar gulung itu sebagai pakar fashion nasional.
Meskipun setiap melihat make up tebal saya hanya melihat kepalsuan. Tapi
setidaknya kepalsuan itu membuatmu tampak cantik. Inilah kebingungannya; pilih
cantik tapi fake atau standard tapi original. Saya kira itu tidak bisa dipilih.
Keniscayaan perempuan adalah memang berdandan. Kita hanya perlu
menyeimbangkannya saja.
| Support ibu-ibu PKK jasmani dan rohani |
Setelah acara ini usai, entah
kenapa saya merasakan semuanya juga akan segera usai.
Semuanya.
***
Ada beberapa hari dalam
dua minggu di mana suasana antarteman betul-betul mengerikan. Ada hawa-hawa
perang dingin, tanpa ocehan ataupun sindiran kode-kode, nyinyiran. Diam.
Betul-betul diam. Tetapi hawanya dingin betul. Dalam sains, segala akibat pasti
mempunyai sebab. Buah apel tidak tiba-tiba jatuh sendiri, kemudian diamati oleh
Newton yang sedang melamun. Ya, benar. Adanya gravitasi. Ada sebab. Kemudian
akibat. Dalam sosial pun sama, cuman entah kenapa segalanya lebih kompleks.
Saya bisa membahas ilmu-ilmu kemungkinan begini seharian penuh, sambil mengutip
sedikit Einstein, atau quote film Interstellar (2014); mendedah dengan ilmu
nalar, rumus-rumus super acakadul, tentang apa yang menyebabkan dua orang atau
lebih saling berdiam diri dan merasa tidak nyaman satu sama lain. Seperti dalam
Pulp Fiction (1994), di mana karakter Mia Wallace berkata pada teman kencannya,
Vincent Vega bahwa dia hanya butuh melakukan diam yang tidak nyaman kepada
pasangannya. Diam yang tidak nyaman dalam situasi kali ini memang bisa
dijelaskan dengan aspek psikologi, sosial atau bahkan hubungan antar jaringan
proton dan neutron. Tapi saya hanya ingin bercerita, sejauh pandang mata saya
tentang apa yang terjadi, sebelum dan setelah diam yang tak nyaman tersebut.
Saya tidak paham
sebelumnya dan ogah mencari paham juga akan apa yang terjadi. Semuanya serba
sembunyi-sembunyi, dan memang saya terlalu bodoh untuk mengerti hal-hal yang
penting. Fitra, ceking buduk kriwul ini sempat membahas tentang ‘pembagian
takjil pada warga’, secara sembunyi-sembunyi. Seperti zaman perjuangan saja,
pikir saya. Aksi gerilya ini adalah sebuah bentuk protes pada Anugrah, sang
ketua—yang selain karena masalah pribadi entah apa—juga karena program Anu
seperti berseberangan dengan program yang diingkan teman-teman. Saya masih
menghormati Anu tentu saja, dan menjadikannya pegangan karena dia menurut saya
sudah yang paling pas dan pantas menjadi ketua. Orang kedua yang saya jadikan
pegangan adalah si tengik Hengki yang menjadi wakil ketua. Tapi apa daya bila
kedua tokoh sentral tersebut diam, dan malah saling memiliki persepsi berbeda.
Saya yakin benar, kedua kubu yang perang dingin ini adalah kubu Anugrah dan
kubu Hengki—yang setelah perjalanan waktu lebih pantas dinamai kubu Fitra
karena memang anjing peking ini yang mengomando dari belakang.
Setelah asyik membangun
kubu sendiri-sendiri, yang saya tahu gerakan ini semakin meruncing setelah ada
upaya pembangkangan terhadap Anu. Ketua kita dibicarakan di sana-sini. Saya
sebenarnya merasa tidak nyaman terhadap kubu-kubu tidak berguna semacam ini. Kuliah
Kerja Nyata hanpir berakhir, dan tidak penting-penting amat juga terlalu
menganggap serius hal seperti ini. Akhirnya saya juga melakukan pembangkangan.
Bersama Ikbal, saya selalu menghilang dan menghindar bila ada kubu-kubu datang
dan melakukan pembicaraan—atas kedok diskusi membahas masalah sekalipun. Pernah
di banyak waktu, saya dan Ikbal malah bepergian ke tempat lain saat ada rapat.
Saat ada kumpul-kumpul saya dan Ikbal kabur menuju warung kopi langganan yang cukup
sendu dan mulia—namun wifinya bedebah brengsek bajigur, lebih cepat dari
Surabaya. Bahkan pernah, saya ingat betul, Ikbal sudah kabur duluan ke warung
kopi sebelum rapat itu dimulai. Saya yang ditinggal hanya bisa berkeluh
nestapa. Dan terkadang di saat seperti itu, saya lebih memilih kabur bersama
Chandra.
Rapat heboh yang saya
ingat itu terjadi kisaran pukul delapan atau sembilan malam. Saat itu saya
sedang satu bantal dengan Amanda, membuka koleksi musiknya yang tidak
bagus-bagus amat itu, dan searching di Joox. Saya memamerkan grup band indie
pop yang sudah sepantasnya didengar seperti Mocca, menceramahinya sampai kering
tentang betapa jeniusnya musik mereka. Saat itu Manda mengerjap-erjap,
sepertinya mengantuk. Headset yang terpasang di kuping kami, satu di saya satu
di Manda, mulai lepas dengan sendirinya seiring Manda yang kehilangan
kesadaran. Saat Manda tiba-tiba melek di saat seperti itu, entah kenapa matanya
mengingatkan saya pada Rocky Balboa yang dihajar KO oleh petinju Soviet sombong
di Rocky IV. Manda saya lihat-lihat seperti Stallone versi cewek. Kalau saya
sadar akan hal ini pada saat itu mungkin saya akan bilang pada dia.
| Ateng |
Sebelum itu saya, Fitra
dan Hengki memang membahas tentang rencana membagikan takjil ke warga itu.
Malam itu semuanya
memang berada di camp, berada di tengah, ada sebagian yang berada di kamar.
Kecuali Ikbal yang sudah lenyap sedari jam tarawih tadi. Fitra memulai omongan.
“Ayo wes rek, ndang
dibahas. Mumpung ngumpul kabeh iki.” Ujarnya.
Saya tahu anak-anak
hanya ngaplo dan tidak bergairah lagi.
“Heng, ndang ngomongo!”
Fitra bilang pada Hengki. Ceking yang ditunjuk itu malah gagu,
celingak-celinguk.
“Wes Fit, ojok, sakno.
Ngomong bareng-bareng ae.” Saya terpaksa ikut menanggapi. Saya pikir itu
akan membahas tentang takjil tadi. Mengapa harus setegang itu. Setelah
menanggapi hal yang tidak penting itu, saya rebah kembali bersama Manda,
headset masih di telinga. Rocky Balboa cewek itu terbangun, langsung melek dan
sadar. Saya kemudian lupa ada huru-hara apa, Anu kemudian memulai pembicaraan. Saya
tahu ada Elsa di sebelahnya. Manda melihat langit-langit. Saya tahu dia tahu
sesuatu. Saya tidak tahu apa-apa dan tidak mau tahu juga. Hengki celingukan.
Fitra menatap Anugrah dengan tajam. Anugrah tidak bisa menatap siapapun karena
dilahirkan sipit. Saya membesarkan volume Joox di Samsung Manda. Manda
menyerahkan ponsel dan headsetnya ke saya. Ia bangun dari rebah, duduk. Saya
masih tiduran, membesarkan volume. Yang saya tahu kemudian ada Velly muncul
dari kamar. Kemudian bajingan-bajingan tengik juga terlihat menyemut, seperti
Wiendo dan Tyo, atau Syakur, atau semua cowok kecuali Ikbal bangsat yang
meninggalkan saya. Semua cewek juga hadir, baik yang sudah dari tadi berada di
tengah dan ngaplo, atau juga yang baru dari kamar dan bau kasur seperti Nila, Devi,
Esti dan lain sebagainya. Saya memegang kendali penuh atas Joox Manda. Saya
mencari band-band seperti Pearl Jam, atau Soundgarden tapi jaringan sedang
bangsat. Jadilah saya menyetel Mocca dengan volume maksimal, yang ternyata Joox
streaming musik keparat ini punya limited, atau aturan yang membatasi pemutaran
lagu. Babi. Streaming musik apapun bentuknya, Joox, Spotify, memang keparat.
Tapi banyak yang menggunakannya. Malas menyimpan musik, hanya ingin dengar.
Saya selalu ingin menangis saat mengingat fakta ini, di mana dulu saya yang
hidup di zaman mp3 berusaha benar saat mencari musik baru. Tapi zaman telah
berubah, di hape Manda-lah saya pertama kali dengan betul-betul intens mencoba
fitur-fitur Joox tai anjing sialan.
Semua orang di camp
sedang duduk bersila membentuk posisi lingkaran. Cowok-cowok yang berada di
pusaran adalah Anugrah, Fitra dan Hengki yang makin lama makin menyingkir ke
pinggir. Sementara itu para cewek ada Elsa dan Velly. Manda duduk di tepi
bantal tadi. Sisanya menyingkir. Saya di samping Manda, masih rebahan untuk
kemudian entah siapa yang menyuruh saya duduk juga, entah Fitra atau siapa.
Saya masih belum paham mengapa masalah pembagian takjil ini serius sekali.
“Aku lek awakmu nggak
gelem mbagi, tak bagi dewe!” ujar Fitra.
Tapi Anu menanggapinya
dengan terserah, begitu saja. Mulai ada pembicaraan yang saya betul-betul lupa
apa. Kemudian ada yang memulai bicara entah siapa dan apa isinya. Waktu itu
saya berada di antara lupa dan tidak peduli. Saya baru sadar bahwasanya topik telah
berganti saat Anu mengatakan sesuatu dengan amat pelan sambil menggaruk pahanya
yang mulus dan besar.
“Aku, Elsa, Velly nggak
usah melok acara penutupan. Kene nang kene ae nggarap laporan. Kalian ae seng
melok.” Ujar beliau.
“Lho, yo nggak isok! Melok
siji melok kabeh, bareng-bareng!” Fitra menjadi blingsatan dan memulai gaya
menunjuk-nunjuk ala mamang topeng monyet. Saya tidak melihat Hengki, ia menghangatkan diri di ketiak Wiendo dan
sela-sela kandung kemih Syakur. Saat itu semuanya menjadi agak sedikit tidak
terkendali. Saya lagi-lagi tidak sadar, lupa atau tidak peduli apa yang
terjadi. Yang saya ingat adalah Elsa yang berada di samping Anu, bendahara
mungil yang bermuka sedikit judes dengan gaya bicara pelan tapi nyinyir ini
kemudian menangis. Sedikit-sedikit lama-lama menggigil juga.
“Ga onok seng ngewangi
aku!” ujar Elsa.
Setelah itu huru-hara
makin tidak terkontrol. Saya lupa ada apa lagi. Manda yang sedari tadi menahan
sesuatu juga mulai mengusap bening air mata di pelupuk matanya. Semuanya jadi
serba emosi. Saya tidak ingin mengganggu tangis siapapun, jadi saya putuskan untuk
berpindah posisi dengan membawa ponsel dan handsfree Manda. Saya kemudian duduk
di belakang Nila, yang entah bagaimana bisa kemudian bisa berhadap-hadapan.
Nila memandang saya dengan pandangan iba dan terpuruk. Saya makin mengencangkan
volume Joox keparat. Ada Mew dalam daftar playlist. Saya tidak mendengarkan
apa-apa lagi selain itu. Saya memberi Nila satu kabel, berbagi sedikit
kebahagiaan di situasi tidak berguna semacam ini. Sedikit senyum Nila membuat
saya tidak peduli lagi akan segalanya yang terjadi. Sampai kemudian Candra
menghubungi saya via pesan pendek.
“Mas, aku nang ngarep.
Metuo.”
Segera saja saya menaruh
ponsel Manda, mengendap-endap, dan menemui Candra.
“Onok opo Mas kok
rame-rame, tukaran ta?” tanya dia.
“Onok seng nangis, Mas.
Embuh opo’o.” Jawab saya.
“Lho, piye se samean iki
mas.” Candra terbahak. “Ayo melok aku mas.”
“Budal wes mas.” Jawab
saya.
Melaju pelan...
***
Saya ingat betul pagi
itu mata saya berkunang-kunang. Ikbal berasa di sebelah saya, matanya masih
tertutup dengan mulut terbuka, menyembur hawa-hawa keparat sisa semalam. Anjing,
batin saya. Di hari-hari akhir seperti ini, saya menjadi semakin mengerti bahwa
membicarakan moral adalah hal yang paling ambigu. Bagaimana pemuda Sidowangi
merayakan dan menikmati hidup dengan apapun yang membuat mereka lupa hari esok mereka
patut diacungi jempol. Setelah bekerja keras dan lelah seharian, tidak ada
salahnya berpesta ria dan menertawakan dunia. Pun juga Candra, pun juga bocah
hitam legam yang tinggal di sebelah camp, yang pada malam huru-hara keparat itu
melakukan aksi paling dugal tiada dua: mengencingi jalan persis di
tengah-tengahnya, dengan nafas bau solar tanpa campuran. Mengaduk kokang
kesana-kemari, mungkin tegang atau efek tangan yang pedih perih hasil
ketidaksaran limabelas menit lalu yang menggosok-gosokkan genggaman
tangan—mengampelas buku-buku tangan—pada aspal kerikil Sidowangi. Sayup-sayup
terdengar suara-suara bocah itu kembali terngiang di telinga. Sebuah bentuk
perlawanan kepada dunia, dalam bungkusan penuh: tinggal dorong dan bebaslah.
“Jancok! Ancen arek
gendeng!”
Sekarang muncul
sekelebatan bayangan yang mungkin terjadi tadi malam. Candra memaki sambil
sedikit tertawa busuk. Melihat-lihat garukan aspal pemuda hitam legam tadi.
Berdarah-darah; kotor dan keruh campur pasir sisa aspal dan campuran semen yang
perih di tangan.
“Arek iku ancene ngono,
Mas! Liar!” ujar Candra.
Suara Candra perlahan
menghilang, lalu sayup-sayup pikiran antara sadar dan tidak sadar kembali
menerawang. Duduk melingkar dangan Ikbal di samping kiri dan bocah hitam legam
di samping kanan. Sementara Candra mengutak-atik Goldlights saya tanpa
menghidupkannya. Meja penuh puntung keparat: Ikbal sedang kebut-kebutan dengan
Dota campur sisa-sisa ampas Clas Mild. Butuh sedikit penghangat atau
penyeimbang; substansi yang keparat betul. Tapi Ikbal belum mulai, ia hanya
hangat oleh kopi dan nikotin. Ia butuh dorongan lagi. Ikbal kemudian mengikuti tawaran
Candra—keluar sebentar.
Setelah itu pikiran saya
membuyar entah ke mana. Ada sosok di depan pintu. Berkacamata dan entah siapa.
Saya merindukan sesuatu tapi tidak tahu apa yang harusnya pantas untuk saya
rindukan. Sedikit celotehan busuk khas KKN 145. Lalu pikiran menggeliat lagi
dalam dimensi yang lebih prosaik. Bocah hitam legam di samping saya, membusuk
dengan Extra Jos Susu keparat di meja. Hanya disentuh beberapa teguk. Dia
tertidur, atau pingsan dengan santainya. Mata memerah darah. Tangan perih.
Sebuah penolakan penuh terhadap kesadaran.
“Jancok, turuo nang
ngarepe toko ae lo, cok! Ojok nang kene!” Candra membentak dengan kasar.
Campuran dari campuran yang dicampur-campur jadi satu kadang menghasilkan efek
seperti itu. Terjadi pada anak hitam legam dan Candra harus sedikit punya
sentakan untuk mengejutkan urat saraf yang mati. Lalu ada bayangan Ikbal
sempoyongan. Kaki kerbau. Iblis berwajah dua. Awan kelabu. Cairan kuning urin.
Bayangan sewarna kelam. Mata saya berkunang lagi. Lalu terbatuk-batuk untuk
kemudian sadar dengan sendiri.
Bangsat. Seperti mimpi
buruk saja barusan.
***
Saya yang selalu gagal
memahami sesuatu mendadak harus paham bahwasanya Hengki dkk—dengan komando dari
Fitra dkk—akan kembali mengobrak-abrik lantai balai desa dengan biduan hardcore
kenalan baik Manda di desa Kemlagi. Biduan yang di hari-hari lampau telah
membuat huru-hara tak berkesudahan, mengajari dengan baik dan busuk sekaligus
bagaimana pesta seharusnya digelar. Biduan sekaligus pengiringnya, ditambah
Roland—keyboard electon yang ditakdirkan sebagai teman baik dangdut dan semua
subgenrenya—dan sedikit kesenangan urakan bahwa hidup masih muda dan panjang,
have fun itu penting, dan lain sebagainya. Mereka semua akan diboyong dalam
rangka penutupan KKN kami, dan sekaligus menyetujui bahwa cara paling baik
untuk berpisah adalah dengan perayaan. Yang saya pahami kemudian dan mungkin
masih gagal paham juga adalah Anu dkk yang tidak begitu setuju, dan saya juga
kurang begitu paham atas alasan apa. Pro-kontra ini kemudian memicu sedikit
tetesan air di pelupuk mata Manda, dipadukan sesenggukan tangis Elsa dan akhirnya
disepakati jalan tengah nan mulus bahwa penutupan dilakukan di balai desa
dengan berbuka dan berdoa bersama. Saya sih terserah saja yang penting
anak-anak kartar juga diundang.
Tepat di malam hari
sebelum besoknya kita beranjak kembali ke paraduan masing-masing, ini jadi
malam penghabisan dan acara terakhir KKN. Para perempuan sibuk menyiapkan es
buah dan serutan-serutan dan es batu-es batu dan sedikit keras kepala dalam
pemberian gula sehingga terasa terlalu manis untuk memicu diabet. Tidak bagi Wiendo
dan Syakur yang mirip tempat penampungan es tebu. Kami sudah bersiap semenjak
siang, tapi saya tertidur. Ikbal juga. Jadi agak telat menuju balai desa tempat
keributan kecil akan berlangsung. Di sana ternyata sudah dipersiapkan makanan
bebek antah-berantah yang dipesan dari kota, saya lupa berlabel Bebek Madu atau
apa, yang akan menjadi menu terakhir kami.
![]() |
| Jemaah |
Selepas magrib sebagian
anak sudah siap di tempat masing-masing. Sendok, dan wadah-wadah es, kretek,
buah-buahan; tanpa solat terlebih dahulu langsung libas saja dengan libido.
Ekstrem memang karena saya hanya mengingat sedikit sekali acara sebelum
makan-memakan itu di mana ada sosok yang memimpin doa, dan sedikit pidato
penutupan. Pak Lurah juga bersuara sedikit. Dan tamu paling penting yang tidak pernah
disebut dalam cerita ini, Pak Wiryo dari Fakultas Ilmu Pendidikan, hadir dengan
potongan rambut masih sama seperti yang sudah-sudah. Beliau adalah pembimbing KKN
kami yang tidak hadir saat pengarahan, dan entah saya juga lupa bagaimana kami
bisa mengenal beliau. Pak Wiryo menggunakan kacamata dan makin mengukuhkan
eksistensinya sebagai seorang yang smart—sayangnya sudah punya istri, kawan.
Tidak ada objek lain yang pantas untuk dipaparkan dalam konteks acara ini
selain Pak Wiryo.
“Udah nggak usah berangkat
penutupan ke kecamatan, saya yang tanggung jawab!”
Satu-satunya quote yang
saya ingat dari beliau hanya itu. Selebihnya lupa dan tidak peduli-peduli amat.
Acara berlangsung seperti tipikal acara basa-basi lain: hening, formal dan
diakhiri dengan foto-foto. Dari sesi foto-foto ini kami mengambil banyak sekali
gambar, baik di kamera atau di ponsel, berbagai pose, dengan raut muka
bahagia-bahagia sedih. Raut muka lega sudah melalui dua minggu di paceklik.
Raut muka puas besok sudah bisa pulang. Raut muka kekenyangan bebek berlemak
berlendir dan kebelet buang air besar karena kebanyakan es buah. Beberapa
pencandu rakus memilih untuk menggerogoti asap di samping balai desa.
Menggunakan jas almamater dan tidak peduli juga tata aturan larangannya.
Setelah salam-salaman dan ramah-tamah, berpamitan mewek terhadap Pak Lurah
Akemad Rianto, Ibu Lurah—ehem—Akemad, dan para bawahannya yakni Pak Polo
seluruh desa. Yang tidak saya lihat: 1) Anak-anak kartar Sidowangi; pada kemana
dugal-dugal itu? 2) Ibu Sekdes. Saya sudah tidak memakai celana bolong-bolong
lagi, Bu.
Ya, setelah itu kembali
lagi ke basecamp, bersiap beristirahat, atau packing, bersih-bersih untuk
kemudian pulang esok hari. Tapi oh tapi, anak-anak kartar Sidowangi ternyata
sudah menanti. Bersiap untuk perpisahan jilid dua.
Haha anjing.
***
Kegoblokan berikutnya:
Mas Juwono, ceking putih, anggota kartar yang tertua, membopong DVD dan
beberapa keping kaset dangutan, atau campursarian, atau banyuwangian, atau
atmospheric black metal—persetanlah—dan ditata di basecamp. Ini pukul dua belas
lebih, hampir setengah satu. Mental pemuda Sidowangi selain pekerja keras di
siang hari adalah begajul karaoke di malam hari. Jadi, Juwono tidak hanya
membopong DVD; perkaranya adalah hal itu turut memicu massa; keseluruhan anak
kartar, termasuk Chandra. Saya sebenarnya sudah cukup lelah. Nila, yang
seharian tadi bersama saya, juga tampak kuyu dan kusut. Mungkin bisa tiduran
lah sampai nanti biar besok bisa fresh saat pulang. Beberapa gerombolan ibu-ibu
muda seperti: Mak Lay, Mak Manda, Mak Devi, Mak Sylvi, Mak Esti (mak yang
sebenar-benarnya), dan mak-mak lain sudah bersiap cuci muka, pasang odol,
siapkan bantal selimut dan amblas. Tapi ceking putih Juwono entah berpikiran
apa saat memulai itu semua. Saya yang sedang membantu menata ampas tebu bersama
Wisnu dan Eko—ehm maaf, Tio untuk dibawa pulang, atau dibuang saja toh tidak
guna-guna amat sekarang, melihat Fitra dan Hengi tergopoh-gopoh.
“Arek kartar ngajak
karaokean. Penutupan.” Ujar Fitra yang kemudian langsung memanjat televisi,
mempertontonkan kemampuanya sebagai sesepuh teknik mesin, matanya berkilatan
pun juga kulitnya, memasang colokan demi terselenggaranya sinergi antara DVD,
televisi, ampli (ya, benar), dan microphone yang ditujukan sebagai pesta
terakhir bersama para dedengkot desa. Karaoke yang saya tidak tahu persis
memutar lagu-lagu apa, bergenre apa, bahkan saya tidak butuh informasi apapun
tentang hal semacam itu jika yang terdengar dari ampli hanyalah birunya cinta,
birunya langit, di dalam duka dll dsb. Di dalam otak lagu ini sudah sedemikian
overrated sampai-sampai saya butuh headset demi mengimbangi agar nada
brengseknya tidak menghantui kepala.
Apalagi, ini pentas
dengan Juwono sebagai pelaku tunggal. Memamerkan skill-nya (mungkin di SMA-nya
dulu, atau pabrik tempatnya bekerja dia adalah penyanyi solo). Terlalu sulit
untuk menceritakan seperti apa suaranya di sini: ini perpaduan Obie Mesakh
(semoga saya tidak salah tulis) dan suara deru Kijang Innova dalam genangan
lumpur. Saya hanya memantau kondisi sembari kongkow bareng Chandra. Turut hadir
pula Hengki. Chandra membawa suguhan kopi dan teh, juga buah-buahan potong.
Sebelumnya ia memang mengajak saya menuju dapur rumahnya untuk membantu
membuatkan konsumsi. Dengan suara serak-serak ciamik Juwono, saya cukup syahdu
mengamini kopi pekat panas tanpa krim, dengan kretek entah milik siapa. Ari,
putra Juwono satu-satunya yang masih berusia PAUD, hadir sambil senyam-senyum
sendiri. Saya lumayan dekat dengan Ari, dibanding bajingan-bajingan cilik yang
lain. Entah kenapa Ari ini lebih lucu dan menurut saya berbeda dengan temannya
yang penjahat mercon semua itu. Apa mungkin Ari terlalu kecil, tapi sepertinya
dari semangatnya saya yakin dia bakalan punya masa depan cerah. Sementara
bapaknya masih asyik dengan cengkok maut dengan birunya cinta, birunya langit,
di dalam duka, dll dsb.
![]() |
| Ari, calon menteri. |
Saya mencowal-cowel pipi
Ari sambil terus mengokop gelas-gelas kopi. Butuh robusta untuk membunuh kantuk
dan lelah. Apalagi lantai kotor balai dusun ini dingin juga. Saya terus memasukkan
apapun ke mulut; kafein, asap nikotin, serat blewah, bajingan tengik, ini yang
terakhir, pikir saya. Kalau perlu tidak perlu tidurlah. Bangsat. Sementara Ari
makin terlihat rewel, mungkin ngantuk. Saya yang sedari tadi mencowal-cowel
dia, juga tidak yakin apa badan anak ini memang lagi hangat atau panas. Sedari
tadi dia nyosrop umbelnya terus. Mungkin flu. Ari lalu lari ke bapaknya. Sampai
pada hal ini saya tidak tahu menahu lagi karena Bu Lurah menelfon, meminta
prakarya ampas tebu tadi untuk tugas kesenian anaknya yang masih SD. Saya yang
sudah akan membuang bahkan membakar prakarya itu segera mengiyakan dan
menawarkan diri untuk mengantar sekarang juga. Pukul satu lebih kalau tidak
salah, saya langsung mengambil sebatang, dan jaket. Mengayunkan kunci motor ke muka
Nila.
“Yuk, ikut!” Nila
mengangguk lalu mengambil jaket juga. Pening juga di camp terus. Suara
Juwono—masya Allah. Kami berkendara dengan kecepatan tidak ngebut-ngebut amat.
Ada waktu untuk menghirup udara bebas dari kesumpekan birunya cinta, birunya
langit, di dalam duka, oh my god motherfuck. Ada ocehan-ocehan Nila lagi. Ada
kecurigaan dan ketakutan Nila lagi.
“Mau ke mana ini,Tong!
Ojok macem-macem kon! Tak telfon Devi bah!”
Anak ini. Dikiranya saya
sedang merencanakan sesuatu yang buruk dan kurang berfaedah di malam seperti
ini. Saya memang sempat berlagak tolol dengan bertanya padanya arah dan tujuan
perjalanan ini. Untungnya cungkring manja satu ini tidak meloncat dari motor ke
kebun tebu.
“Wih, makasih ya, mas,
mbak.” Bu Lurah saat kami mengantarkan prakaryanya. Menggunakan daster. Lalu
obrolan basa-basi kecil-kecilan beberapa menit kemudian. Sedikit pamitan lagi
karena besok KKN berakhir. Lalu pulang. Lalu Nila ngoceh lagi. lalu Nila curiga
dan takut lagi. Ya Tuhan.
“Istrinya Juwono ngamuk,
si Ari sakit malah diajak karaokean.” Saya lupa yang berkata itu siapa. Yang
pasti setelah saya dan Nila sampai camp masih terdengar suara musik namun
pelan. Dan anak-anak yang berebutan menyanyikan birunya cinta, birunya langit,
di dalam duka, dll dsb yang tentu saja dimenangkan Laila. Saya garuk-garuk
janggut saja. Juwono dan Ari lenyap disuruh pulang istrinya. Sekian menit kami
berada dalam keabsurdan yang tidak penting-penting amat ini.
“Rek ke alun-alun, yuk!
Ngajak anak kartar sekalian penutupan.”
Ini sudah pasti idenya
Laila.
***
Jalanan Mojokerto pukul
setengah dua pagi yang lengang tiba-tiba saja jadi beringas. Separuh warga
camp, juga anak-anak kartar konvoi kecil-kecilan menuju alun-alun yang tidak
jauh-jauh amat. Pemandangan malam terakhir yang indah saya kira: langit hitam
pekat, ada bintang-bintang kuning hijau bahkan keunguan berpendar di angkasa,
mengelilingi bulan yang tampak besar dan jumawa; membuat saya memacu gas—dengan
Nila di kursi penumpang—tampak berusaha mempertahankan raut muka positif
meskipun hari sudah sepekat ini. Dari spion, tampak wajah Nila sedikit
mengembun: udara dingin dan lembab, tubuh saja sampai sedikit menggigil. Dengan
dikawal anak kartar yang dikomandoi Chandra, perjalanan jadi sedikit lebih
rumit. Melewati antah-berantah jalanan ilegal yang mempercepat kami menuju
tujuan. Alun-alun seperti dugaan, masih ramai dan belum tampak tidur. Gerbang
Majapahit menyambut di gerbang; sedikit pengingat bahwa pada masanya Mojokerto
ini adalah puncak kekuasaan Nusantara I yang dipersatukan oleh Mahapatih Gajah
Mada—herannya kenapa UGM tidak berdiri di sini. Ada kabut yang menggunung saat
kami sampai. Anak-anak memilih berpencar dengan aktivitasnya masing-masing.
Sudah sedari tadi berkumpul, mungkin ada kalanya perlu sedikit longgar dan
bebas memilih mau jalan dengan siapa, mau ngapain, mau ke mana. Sementara anak
kartar memilih duduk-duduk di tepian aspal.
“Monggo mas, tak enteni
kene.” Ujar Chandra mempersilahkan saya masuk. Saya sedikit berbisik-bisik pada
Chandra, ada sesuatu yang terlupa. Semacam herbal, jamu kuat, ramuan rempah
tradisional yang baik untuk kesehatan. Setara jahe sebagai penghangat. Racikan
yang membuat manusia bisa menemukan dirinya yang sejati dalam gumpalan beku
dingin seperti malam ini.
“Habiskan!” Chandra
tergelak.
Lalu anak-anak sudah
tidak tampak batang hidungnya. Beberapa orang yang mungkin dilahirkan dengan
nafsu makan kudanil, memilih untuk pergi ke rombong nasi goreng, dengan kedok
sahur dan semacamnya dan makan masing-masing sepiring berdua. Salah satu yang
makan dengan syahdunya adalah Ikbal si anjing buduk. Sementara lainnya entah ke
mana: Hengki dan Aminul terlihat mondar-mandir sendiri seperti ingin
menunjukkan bahwa mereka gay, disorientasi atau semacamnya. Saya dan Nila
memilih mengikuti Fitra dan Manda yang leha-leha di sekitaran gerobak tahu tek.
Mereka berdua—Ya Tuhan—juga masih bernafsu makan di perut yang sepertinya sudah
terisi penuh itu.
“Tong enggak makan ta?
Ayuk.” Nila menawari tahu tek. Saya menggeleng dan memilih mengeluarkan bungkus
kretek milik Ikbal yang saya bawa. Perut sudah hampir meledak begini. Lagian
tidak begitu nafsu makan juga. Kunyah tembakau saja, menguarkannya dalam kabut
gelap: mempertemukan bagian-bagian diri yang kosong dengan semesta raya lewat
perantara asap-asap mewangi nan kudus—kalimat yang barusan sangat spiritual.
Sementara Nila makan, saya mengamati sekitar dan ada rasa sedih, rasa yang
jancuk sekali, bahwa kesenangan-kesenangan seperti ini besok akan segera
berakhir. Membusuk kembali di jalanan kota. Macet. Sumpek. Tapi sekaligus juga
rindu pada asap-asap knalpot dan suara-suara kaleng rombeng di jalanan. Ada
perasaan tertahan dan ada perasaan ingin pulang. Jika kalian sadari, atau mungkin
pernah mengalami gejolak perasaan semacam itu: maka setidaknya yang tertahan
dan yang kalian rindukan itu sudah menjadi bagian dari hidup kalian.
Langit bertambah pekat.
Pukul dua malam. Saya dan Nila duduk-duduk—setidaknya pada bangku taman yang
tersedia. Saya belum pernah merasakan esensi dari lagu Pure Saturday “Di Bangku
Taman,” di Surabaya. Bangku yang benar-benar bangku secara harfiah adalah yang
sekarang saya duduki. Bulan menggantung tak jemu-jemu. Lalu saya mulai cerewet
dan ngalor- ngidul. Saya tidak bisa mengingat—atau mungkin terlalu malas—untuk
mengingat apa-apa yang saya ceritakan pada Nila. Yang pasti muntahan-muntahan
itu; kecamuk, rekaman waktu, ketidakpastian, seluruhnya. Nila menahan diri
untuk kemudian membuat saya larut. Sambil membetulkan kacamatanya, dia
bercerita apapun yang membuat mulut pahit. Malam ini kami benar-benar tanpa
sekat. Saya tidak bisa berkata apapun lagi selain meraih sesuatu dalam saku
untuk dibakar. Tidak banyak yang bisa saya katakan tentang percakapan ini. Yang
saya benar-benar tahu selanjutnya adalah, ada bagian dari diri saya yang ikut
berubah. Nila yang saya kenal dekat karena sama-sama berada dalam satu tim
ekonomi, membuat saya hanya berani melamun saat dia mulai mendongeng
kisah-kisahnya.
Perjalanan pulang
kemudian terasa begitu panjang. Tampak senyum itu, senyum lega, di mata
teman-teman semua.
Sudah berakhir.
***
Ampli masih menyiarkan
musik seiring anak-anak yang mempersiapkan koper dan mulai berpamitan. Saya
yang pulang bersama Hengki menunggu semuanya benar-benar pulang. Saya berdiri
di luar camp, tepat di depan rumah Mas Juwono, tempat di mana motor-motor
diletakkan dengan serampangan. Wisnu ceking, kawan sefakultas pamit duluan.
“Sampai jumpa di FBS”
ujar saya.
“Ngeband, yo!” timpal
Wisnu.
Sementara satu-persatu
berpamitan dan pulang. Tampak Anugrah dengan matanya yang sipit memprihatinkan,
tersenyum.
“Bro aku mbalik sek yo.”
Ujarnya.
Saya melihat ada hal
yang hebat dalam diri Anugrah. Sesuatu yang membuatnya bisa bertahan sampai
sejauh ini. Saya lupa, sadar atau tidak, saya memberi pelukan perpisahan.
Sebusuk apapun suasana hari-hari kemarin, sepanas dan semenyebalkan apapun,
saya masih menghormati Anugrah sebagai ketua. Saya tidak berhak untuk memihak
dan menyalahkan, tapi ketegarannya; saya tahu ini sikap yang hebat bagi seorang
pemimpin. Anu tidak mundur, hanya minggir sejenak.
Semua sepakat bahwa
hidup akan lebih bisa dikenang saat diisi sekumpulan soundtrack. Semua sepakat
bahwa salah satu adegan paling berkesan dalam frachise Fast And Furious
menampilkan Dominic dan Bryan saling bersimpangan jalan satu sama lain di
ending film—lalu muncul tulisan For Paul diiringi lagu yang membuat perasaan
sedikit empatik. Saya tidak tahu lagu judul tersebut, siapa penyanyinya, dan
tidak ingin tahu. Namun, saya tidak bisa untuk tidak peduli saat lagu tersebut
berkumandang, seiring anak-anak yang mulai pulang ke haribaan. Perpisahan tidak
pernah sedrama ini.
“Tong, maafin ya selama
ini. Aku pulang dulu.” Nila berkata dengan senyumnya yang paling lebar sambil
sok-sok mengucek mata mewek. Mobil jemputannya sudah menunggu.
Saya tidak menjumpai Mas
Juwono, hanya ada Ari yang sembunyi-sembunyi di depan pintu. Saya melambaikan
tangan.
“Mas arep balik sek ya.
Ini buat Ari. pakai en.” Saya melepaskan salah satu gelang, dan memakaikannya
di tangan Ari. Ari kemudian berlari ke arah ibunya yang berada di dalam. Saya
pun berpamitan pada Juwono sekeluarga.
Setelah itu, saya
berjalan ke sebuah tempat di mana saya menemukan saudara. Tempat pertama kali
kami diterima di Sidowangi. Tempat di mana Pak Polo, kepala dusun bertempat
tinggal, serta putranya, bajingan tengik bernama Chandra, yang seperti sudah
menanti di ruang tamunya.
“Mas aku arep mbalik
sek, pamit.” Ujar saya. Hampir saja menitikkan air mata saat merangkulnya.
Tidak ada orang lain, hanya saya dan keparat satu ini.
“Enggeh, mas.
Ati-ati...” Chandra terdiam beberapa milisekon. Bangsat, mengapa jadi
semelankolis ini. “Sampean wis tak anggep dulur mas, dulur lanang. Sampean lek
gelem tak gawekno KK nang omah iki.” Ujar Chandra. Saya terbahak. Entah harus
mengatakan apalagi. “Yawes mas. Mariki sepi iki ga onok sampean.” Chandra
tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Seberat apapun, saya harus tetap
berpisah. Hengki dan teman-teman yang tersisa sudah menunggu.
Saya melambai untuk
terakhir kali.
***
Pasca pulang, ada
hal-hal tertentu yang kadang membuat perasaan campuraduk. Kembali ke rutinitas
lama, kos-kosan lama, bertemu orang-orang lama: saya merasa pulang. Mungkin
saya sudah berada di Surabaya, tapi entah kenapa rasanya saya masih berada di
sekitar rumah Chandra. Lalu, untuk membunuh kebuntuan, saya menghubungi
teman-teman lama yang tercecer. Sekadar kopi mungkin bisa membunuh perasaan.
“Wes moleh KKN ta?”
tanya saya pada salah satu kribo gimbal keparat, Tri Nanang Budi Santoso.
“Dorong, mene penutupan.
Ayo melu aku!” jawabnya.
“Ayok!”
Alhasil saya kembali
berangkat KKN menuju daerah Cerme, Gresik, di mana sawah dan tambak khas
pedesaan terhampar luas. Berkenalan lagi dengan anggota-anggota KKN, seperti
anggota kelompok baru. Ricky Kobot, ketua kelompok ini membriefing saya.
“Temene Tri ‘kan yo?
Pasti kerjoe koyok Tri! Njaluk bantuan mas, yo. Ngewangi arek-arek.”
Dan setelahnya, malam
penutupan di balai desa kelompok KKN Tri Nanang sudah dilaksanakan. Saya
mendapat kenalan-kenalan baru—termasuk juga Mama dan Papa Ricky yang sempat
berjam-jam mengobrol dan menunggu anaknya bersama saya.
“Nang, ayo ndelok
hardcore-an saiki.” Waktu masih menunjukkan pukul delapan. Saya ingat ada acara
berisik di DBL Arena Surabaya. Daripada nganggur pikir saya. Perjalanan
Cerme-Surabaya sekitar satu jam. Bisa lah. Nanang mengiyakan. Tetapi
sesampainya di jalan arah Ketintang, saya melihat rundown acara di pamflet yang
ditempel di jalan. Keparat. Ternyata acara berakhir sebelum berbuka puasa.
Alhasil kami kebingungan dan akhirnya Nanang memutuskan ide bagus yang keparat.
“Anggur merah. Camel
grape. Mabuk premium,” ujarnya. Keparat ini kemudian juga mengeluh lapar. Kami
yang saat itu sudah menikmatinya di kos terpaksa harus keluar lagi. Nanang
menyomot semua recehan saya, dimasukkan dalam tas busuknya. Kami menuju tempat
mie ayam di depan gang tanpa uang sepeserpun kecuali recehan. Nanang
membayarnya dengan pede—di awal. Lalu saat kami makan, uang recehan kami yang
seplastik dikembalikan oleh si penjual.
“Ini mas, tadi udah
dibayarin ibu-ibu yang di depan.”
Bajingan. Saya tidak
bisa berhenti tertawa. Sedikit lepas kendali dan mengobati kebuntuan pasca KKN.
Di kos tidak ada lagi hal yang ingin kami ceritakan selain KKN. Selain Ikbal,
Anugrah, Chandra, Nila... dengan terus mengisi gelas-gelas kosong—Tebs sebagai
campuran. Nanang melukis sebuah objek di kamar kos saat saya bercerita tentang
objek itu sambil menerawang jauh. Membuat saya meraih sebatang Camel,
membakarnya pelan.
“Emang bener, 14 hari
untuk selamanya...” ujar saya, diikuti Nanang yang mengangguk-angguk setuju.
Mabuk.
(SELESAI)
Subscribe to:
Posts (Atom)






