Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts

Friday, August 17, 2018

8 Lagu Padi Paling Ajaib

Di suatu masa, musik Indonesia pernah berada pada satu puncak keajaiban. Padi--salah satu yang memicunya.

Riwayat tape rongsokan punya kakak perempuan saya tidak bisa diceritakan tanpa album Save My Soul punya Padi. Tape seringkali memutar lirih satu album ini tanpa jeda, di kamar si mbak yang berjendela terbuka dan penuh poster Simple Plan. Itu masih 2003, saya masih kelas tiga SD.  Tapi kaset bercover lukisan surealis ini seolah menandai sebuah era penting dalam hidup saya.

Mendengarkan Padi dari masa sebelum saya baligh jelas membawa memori tersendiri. Sebelum industri musik menjadi kacang pasca viralnya 3gp Ariel-Luna Maya-Cut Tari, Padi berada di satu kontingen bersama Dewa 19, Sheila On 7, dan Naif. Padi jelas menempati posisi tertinggi. Tape yang diulang-ulang dalam rumah, menggema di ingatan setiap waktu.

Pertanyaan yang mungkin relevan sekarang: apa sih lagu Padi yang paling ajaib? Saya berusaha menjawabnya sambil membongkar-ulang katalog lama dari semua album mereka.

8. "Terbakar Cemburu" (Tak Hanya Diam, 2007)
Liukan maut Piyu di "Terbakar Cemburu" benar-benar membakar. Membuat saya cemburu buta pada Fender Stratocaster-nya. Lagu tentang cemburu selama ini adalah yang dinyanyikan Once dengan marah-marah. Milik Padi lebih romantis.  Membuat perasaan cemburu lebih berkesan. Pujaan hati dibonceng orang lain? Sambil berpelukan? Mendengarkan lagu ini jauh lebih berkelas daripada merencanakan duel satu-lawan-satu.


7. "Patah" (Save My Soul, 2003)
Mungkin solo Piyu di awal lagu ini mengingatkan kita pada kejayaan rock 90-an akhir yang sopan dan romantis. "Memelukmu kuingin, menyentuhmu kuingin, dan mengucapkan sepatah kata... "; Lirik yang kalau didengarkan sekarang berpotensi membuat saya mengucek-ucek mata yang agak perih,  sambil melihat riwayat chat yang penuh emoticon bunga dan ciuman.


6. "Kasih Tak Sampai" (Sesuatu Yang Tertunda, 2001)
"Kasih Tak Sampai" mungkin jadi penghiburan kegalauan muda-muda era 2000-an, bahkan sebelum kata galau jadi booming. Petikan gitarnya hanya berfungsi menambah deras air mata. Kalau lagu ini rilis di masa remaja saya, mungkin saya akan menjadi lebih cengeng saat berada di fase hampir menenggak Baygon cair pasca putus cinta.


5. "Harmoni" (Tak Hanya Diam, 2007)
Terputar sendu dengan vocal Piyu. Jangan lupakan choir yang parah sekali bagusnya menjelang lagu usai. Kontemplasi yang disudahi dengan semakin kencangnya gebukan Yoyo. Lagu yang paling doyan wara-wiri di MTV Ampuh pukul sebelas siang saat VJ kesayangan kita Marissa Nasution masih fresh graduate. Ehm, Tahukah kalian kalau Ernest Prakasa yang jadi model di video klip lagu ini?


4. "Jangan Datang Malam Ini" (Tak Hanya Diam, 2007)
"Jangan Datang Malam Ini" justru malah membuat saya ingin mendatangi sekali lagi pengalaman pertama  menonton klip lagu ini via Inbox SCTV.  Video klip yang mungkin jika dirilis sekarang akan jadi bahan perdebatan sengit warganet yang seenak udel. Sheila Marcia  sebagai bintang klip,  ditampilkan punya affair dengan sesama jenisnya. Dengan musik minimalis nan segar, Padi membuktikan kalau kekuatan pop sebenarnya terletak pada kesederhanaanya.


3. "Tak Hanya Diam" (Padi, 2005)
Track ini sebenarnya masih amat dingin. Tambah lagi gebukan drum yang monoton, tidak seperti kebiasaan Yoyo. Penyelamatnya: pertama, pemakaian organ hammond atau synthetizer. Kedua, siulan Fadly yang syahdu benar. Ketiga, dari lagu ini kita bisa tahu definisi terbaik dari cinta adalah cinta.


2. "Hitam" (Save My Soul, 2003)
"Hitam" adalah wahana urakan Padi. Berisi tonjokan tanpa ampun dari Yoyo si mesin tempur kelas kakap yang doyan membuang tenaganya demi menggetarkan drum sekalap mungkin. Soundtrack sinetron setan di RCTI puluhan tahun lalu. Tapi masih menyeramkan dan ngeri didengar sekarang. Di sini kita bisa mengakui kalau Padi adalah supergrup keren tanpa ampun. Simak progresi jelang akhir lagu saat musik mulai beralih jadi ajang pamer kegilaan para alumnus Universitas Airlangga ini. Hasilnya? Desah panjang tanda orgasme.


1. "Ternyata Cinta" (Padi, 2005)
Sebenarnya semua daftar di atas hanyalah kedok dan alibi belaka untuk menuliskan tentang lagu ini. "Ternyata Cinta" adalah satu lagu yang membuat saya menyadari kalau Padi adalah keajaiban, kalau musik adalah keajaiban, kalau cinta adalah keajaiban. Sejauh ini, "Ternyata Cinta" adalah lagu terbaik Padi. Salah satu alasannya? Saya tidak bisa melupakan intronya yang aduhai brengseknya. Alasan lain? Tidak ada. Lagu ini terlalu sempurna.


Ditulis untuk Kolaborasik. Bisa juga dibaca disini.

Thursday, July 19, 2018

Menyembah YouTube

Pertanyaan pertama, mengapa manusia harus bekerja. Pertanyaan kedua, mengapa saya mempertanyakan pertanyaan macam pertanyaan pertama. Pertanyaan ketiga, bisakah saya berhenti ngedumel?

Ringkas saja. Ini hari jelang pukul sembilan malam. Saya masih di kantor dan terkepung entah apa itu namanya yang lebih bajingan dari kebosanan. Brengsek. Tapi tahukah Anda bahwa internet selalu menyediakan caranya sendiri untuk menyelamatkan hidup. Tahu-tahu saya sudah berada di YouTube--dengan mungkin milyaran orang yang juga mengakses situs yang sama. Bahkan mungkin pencarian yang sama. Lebih ekstrem lagi, video yang sama!

Luar biasa. Kita semua ternyata terkoneksi secara tidak langsung dengan YouTube! 

Ngomong-ngomong, gerakan self-healing di lingkungan pekerjaan yang membuat kita jadi batu, bisa dilakukan secara sederhana. Sesederhana membuka tab baru, mengetikkan platform video-sharing kesayangan, dan mulailah berselancar sampai mabuk.

Tapi apa guna link kalau tidak dibagi? Apa guna fungsi teknologi bernama hyperlink? Apa guna selera manusia kalau tidak dipamerkan? Maka dari itu saya berkenan membagikan sejumlah video yang saya putar random dan berurutan, dan saya harap kalian juga berkenan mengontak saya, membagikan video yang sekiranya bisa menyelamatkan hari-hari saya dari kondisi ekstra boring.

Deafheaven - "You Without End" (Full Album Stream)


Saya sedang berada tepat di samping editor musik kenamaan Surabaya saat memamerkan track ini kemarin malam. Dalam posisi rebah di waktu jelang hampir subuh hari dengan kondisi badan yang payah dan tenggorokan yang sengak kebanyakan nikotin, mendengarkan album baru Deafheaven adalah keindahan tiada tara. Kata Yang Mulia Editor: "Gini ini black metal? Yang bener?" Saya menanggapinya dengan semakin mengencangkan volume. Kemudian mengulang-ulang satu album Ordinary Corrupt Human Love di Spotify semenjak tadi siang, dan kembali mendengarkannya lagi di YouTube dengan komputer kantor yang sepertinya sudah sangat lelah. Satu pendapat saya: bagaimana mungkin sebuah album metal--ehm, black metal--bisa membuat perasaan saya perih dan tiba-tiba ingin menitikkan air mata? Jawabannya: pemakaian kadar bumbu post-rock, emotive hardcore, dan shoegaze yang begitu proporsional. YouTube hanya selingan. Anda harus mendengarkan albumnya via pemutar yang lebih jernih.

PENDAKIAN GUNUNG KERINCI Part I - What's in My Bag #DindaDimana




"She's so cute i'm gonna die!" - tulis salah satu komentar di vlog perdananya mbak ini. Bener juga sih. Saking tidak fokusnya, saya bahkan enggak tahu Adinda Thomas ngomong dan menjelaskan apa saja, tahu-tahu video kelar. "Kak terbuat dari apa kok manis banget?" - komen selanjutnya yang saya baca--yang walaupun rada anjing tetap saya amini juga.

rumahsakit - Hilang - Lirik



Adinda Thomas mungkin adalah penggemar Rumahsakit garis keras karena menampilkan dua lagunya--satu lagu lama yang luar biasa mahadahsyat sampai level menyembah-nyembah, dan satu lagu barunya yang biasa-biasa saja--dalam vlog imut-imutnya di atas. Siapa bisa menahan godaan Dinda? Akhirnya saya menyerah dan mengikuti alur selera Dinda. Dan lagu luar biasa mahadahsyat sampai level menyembah-nyembah dan punya lirik yang beneran ikonik ini akhirnya terputar juga.

jangan biarkan aku jangan hilang, Mbak Dinda... 

Friday, July 13, 2018

Saat Pure Saturday Jadi Band Cover Nan Mengecewakan


Gigs kemarin memang jadi perjumpaan perdana saya dengan Pure Saturday. Band yang hanya menyisakan tiga personil asli ini (dengan tambahan Iyo yang sudah mengisi vokal di album Elora), punya tempat tersendiri dalam ingatan. Pasca patah hati luar biasa beberapa tahun ke belakang, album Grey jadi penyelamat dan salah satu pendorong saya untuk bisa menentukan sikap. Bahkan, tanpa tendensi berlebihan, Grey jadi pemicu saya untuk hidup kembali dan kembali hidup. Sayang seribu sayang, tidak ada satupun dari album Grey yang dibawakan di acara yang disponsori merek bir hitam ternama itu.

Bercerita Grey akan panjang dan mungkin bisa diceritakan lain waktu. Tapi saya ingin menekankan kalau penggemar PS pasti punya satu album favorit, dan mungkin itu bukanlah Grey. Penggemar era lawas mungkin mencintai Utopia, Elora, atau Time For A Change. Semuanya bagus dan berkesan. Tapi di Grey, PS memainkan musik yang berbeda; melebur indie-pop dengan prog-rock. Analoginya; indie pop bisa dianggap musik kebun bunga yang indah mewangi, tapi prog-rock adalah hamparan langit yang gelap, panjang dan berliku. Seperti itulah Grey. Keputusan untuk tidak memainkannya membuat saya kecewa.

Saya datang di acara seorang diri. Siapapun yang saya ajak sebelumnya kemungkinan tidak mengetahui PS, dan saya mungkin hanya melakukan pemaksaan untuk sekadar menemani. Beruntung di sana saya bertemu Abraham Herdyanto dari Anti Warna Zine dan Ricky Mahardika dari unit space rock Dopest Dope. Mereka datang dengan alasan yang sama: PS punya tempat penting dalam perjalanan mereka menggilai musik. Pun juga saya yang selain ingin menggenapi gigs dari band yang belum sempat saya tonton, juga demi menjaga kenangan.

"Jancok sepi cok!" Kata Abraham sambil terus berjalan ngalor-ngidul kesana-kemari dengan rambutnya yang tergerai. Sementara Ricky lebih kalem. Frontman Dopest Dope ini sesekali mengangguk mengikuti tata suara sound yang lumayan bagus.

Dua sampai tiga lagu pertama PS adalah katalog lama. Katalog nostalgia. Mungkin diambil dari album Utopia. Selanjutnya saya hanya mencatat Pagi, Elora, dan Pathetic Waltz (porsi dengar saya pada lagu-lagu ini lumayan intens). Sekali lagi lagu dalam Grey tidak ada yang dimainkan. Padahal saya menantikannya.

Crowd yang sepi dan kurang apresiatif mungkin akhirnya membuat PS berinisiatif. Iyo membawa stand khusus tempat kertas lirik. Kemudian mulai membawakan kejutan--demi membuat orang-orang yang asyik sendiri menyesap bir sambil main PS di tengah gigs PS.

"Main Play Station sambil diiringi Pure Saturday. PS, diiringi PS." Ujar saya pada Abraham.

"Ya, ya. Lumayan lucu." Ujar si skeptis Abraham. Lalu dia menimpali.

"Sebenarnya PS ini influence-nya siapa sih!"

"The Cure." Jawab saya.

Abraham melotot. "Mosok?"

Lalu PS terdengar memainkan intro yang familiar. Oasis dengan Don't Go Away. Anjing, saat cover lagu orang, crowd malah terlihat menikmati. Mungkin karena tahu lagunya.

Karena crowd makin terlihat apresiatif saat cover song, PS sepertinya semakin tahu diri. Saya yang dalam hati berharap PS memainkan katalognya sendiri, dibalas intro lagu lain yang memang mungkin sudah diketahui khalayak. The Cure dengan Friday I'm In Love. Disusul intro sejuta umat yang sudah pasti membuat crowd bir hitam bergairah.

"Ini siapa sih? Lali aku."  Tanya Abraham.

"The Killers." Jawab saya. Dan Mr. Brightside yang legendaris itu berkumandang. Saya hampir putus asa karena PS memainkan lagu cover berturut-turut. Tapi di lagu cover terakhir, sedikit membuat saya salut.

"Eh! Iki opo iki opo? Lali aku." Tanya Abraham lagi.

"Regrets. New Order." Saya menjawabnya dengan hati agak sedikit senang karena lagu ini lumayan asoy geboy, meskipun dibawakan PS.

Abraham kemudian pamit kencing sementara saya dan Ricky sedikit bercakap-cakap.

Saya kemudian tahu gigs ini akan segera berakhir saat Kosong dimainkan. Ini jadi hits awal PS dan masih dijagokan sampai hari ini. 

Secara keseluruhan, saya belum puas. Apalagi ini gigs PS perdana saya. Kemungkinan PS juga baru pertama kali ini manggung di Surabaya. Meskipun pernyataan ini dibantah Abraham, dengan keraguan.

"Kayaknya pernah dulu buanget maen di sini. Kayaknya."

"Masak sih? Rumahsakit mungkin?" Jawab saya.

"Eh enggak ya! Rumahsakit 'kan main di Sunday Market pertama. 2013."

"Iyo. Vokalisnya masih Si Lemes. Sakjane nggak usah diganti yo Bram." 

"Yoi. Lemes enggak tergantikan."

"Walaupun ancur-ancuran dan fals nemen ya. Haha."

Pure Saturday, Rumahsakit, Themilo, semuanya grup indie-pop yang punya tempat tersendiri di hati saya. Meskipun mengecewakan, tapi gigs perdana PS saya akhirnya keturutan. Yang belum sekarang hanya tinggal Themilo dan Rumahsakit--meskipun vokalisnya sekarang sudah bisa bernyanyi.

Saturday, July 7, 2018

Tuan Marah: "Pekerjaan Ini Membuatku Alami Keterbelakangan Mental!"

"Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia yang membuat bumi seolah melambat dan lebih santai karena para manusia bisa asyik memantengi televisi sampai jelang subuh padahal besok kerja, aku terpuruk dan seolah berada di ambang batas kebosanan. Menonton pertandingan apapun--kecuali Spanyol lawan Rusia kemarin--belum ada yang membuatku berteriak wow dan melupakan gelapnya jiwa. Ah, aku memang Si Raja Sambat. Tapi apa kegunaan kau, sahabatku, kalau tak kugunakan menampung rewelan dan cerewetanku, tanpa perlu proses dan sok menasehati untuk bersyukur dan bersabar. Semua tukang ceramah adalah tai anjing ngentot babi yang tidak tahu apa yang sebenanya  kualami. Semuanya tidak jauh lebih baik dari gorong-gorong... ah sudahlah. Kenapa aku jadi semakin melantur dan mengata-ngatai orang begini. Kenapa juga orang-orang tidak ada yang mengerti aku. Melarangku sambat seolah-olah Mario Teguh hidup kembali dan memasuki pembuluh darah vena orang itu via dubur. Ah bangsat. Mengapa aku mengoceh. Mengapa aku ngotot. Mengapa aku jadi bangkai di tempat kerja yang hidup hanya demi perut dengan mata panas dan lelah, dingin AC goblok dan deru mesin ketik yang membuatku tertahan delapan jam sehari dengan alokasi 70 persen waktu berpikiran untuk terbang seperti burung, lepas ke alam bebas, melupakan hidup penjara yang no life dan anjing-anjing aturan yang mengharuskan kita untuk bersedih-sedih dahulu bersenang-senang kemudian. Goblok. Ini semua membuatku sedikit demi sedikit, alami keterbelakangan mental!"

***
Itu tadi adalah tulisan kawan saya, yang harus saya samarkan nama terangnya di sini dan bisa dipanggil Tuan Marah saja. Dia menuliskannya via WhatsApp--lagi-lagi dengan panjang sekali. Saya juga terpaksa memotong, mengedit, dan memperhalus beberapa bagian tulisan ini yang menyebut nama, instansi, atau kata-kata yang terlampau kasar. Pemuatan tulisan ini dalam blog ini murni karena apa yang dialami Tuan Marah ini, agak identik dengan apa yang saya dan ribuan pekerja lain rasakan. Saya berjanji pada Tuan Marah untuk membalas tulisannya ini di blog. Tapi karena kebingungan membalas dengan apalagi--jujur stok cacian dan umpatan saya untuk bumbu tulisan seperti tenggelam ditelan kejemuan pekerjaan. Jadi saya akan bagikan saja materi berat yang berpotensi membuat hidup makin ruwet dan semakin alami mental-breakdown. Atau bisa juga malah bisa melepaskan hormon kelegaan dari dalam diri kita; manusia-manusia pemalas yang diperas korporat sampai keluar ampas dan akhirnya melupakan diri sendiri karena harus melulu palsu di tempat kerja.

Materi berat yang saya maksud langsung teringat begitu saja saat Tuan Marah menuliskan 'keterbelakangan'. Segera saja saya mencari-cari album yang saya simpan di Spotify dan menemukan Tyranation, satu lagi mahakarya dari unit death metal bintang lima Deadsquad. Jujur akhir-akhir ini saya jarang mendengar lagu metal baru. Apalagi yang serapat death metal. Tapi Deadsquad memang punya pesona sendiri. Materinya sejak Horror Vision dilanjutkan Profanatik, selalu saya simpan dan putar. Tidak ketinggalan album baru Tyranation, yang digarap bersama musisi-musisi ternama, seperti Dewa Budjana, Andra Ramadhan, Coki Bollemeyer, bahkan Sudjiwo Tedjo untuk track pembuka berjudul "Jancuk." 

Album ini epik dan menggambarkan dunia pasca-apokaliptik yang tanpa harapan, gelap, dan kotor. Diksi Daniel Mardhany si lirikus sekaligus yang menggeramkannya memang tidak jauh berbeda dari lagu-lagu lain. Penuh benci, kesumat, dan kesakitan. Sangat relevan dengan kondisi Tuan Marah. Karena itu saya membalas gundah-gulana Tuan Marah tadi dengan "The Comfort Of Retardation"; track iblis mati yang mau tidak mau harus nyaman di dunia yang busuk dan alami keterbelakangan. Daniel menggeram: 

We still need an education
Teach us how to sold the world Teach us how to erase your soul Teach us how to kiss the fear!

Anjing Setan!


Wednesday, May 16, 2018

Bagaimana Jajan Rock Mempengaruhi Hidup Kita?

Lebih bernilai mana kaus Joy Division atau My Bloody Valentine? Tape Utopia dari Pure Saturday atau Rumahsakit? Plat Badai Pasti Berlalu atau Guruh Gipsy? CD album terbaru Taylor Swift atau Coldplay? Susah kalau perkara selera. Apalagi hasrat untuk jadi hipster kadang membuat selera jadi terkotak: harus cult, indie, menyimpang: apapun yang disuka arus utama, kita sebisa mungkin harus menghindarinya. Mau tidak mau ini berpengaruh pada hasrat belanja. Tapi musik memang sebegitunya. Memaksa kita keluarkan duit tidak hanya untuk nada dan irama: kaset dan sejenisnya. Musik juga bisa dipakai, dalam pernak-pernik merchandise: kaus, bracelet, sampai gantungan kunci. Beberapa tahun terakhir ini, beberapa penerbit juga mulai rilis buku-buku musik. Musik bisa dibaca. Elevation Records, label milik Taufiq Rahman penulis musik kesayangan kita semua—meluncurkan divisi ‘usaha kecil menengah’ bernama Elevation Books. Jadi gebrakan lewat kumpulan esai musik karya Taufiq, disusul kumpulan tulisan Herry Sutresna aka. Morgue Vanguard aka. Ucok Homicide – legenda hip hop yang doyan menuliskan musik secara personal. Apalagi layanan musik streaming seperti Spotify, yang harus dipaksa premium supaya bebas iklan. 50 ribu terlalu mahal untuk sealbum penuh A Moon Shaped Pool plus jutaan lagu streaming lain? Atau bagaimana dengan tiket konser—yang kini makin mudah karena bisa dipesan virtual. DWP sudah jadi rutinitas, gigs-gigs kampus pakai band lokal juga sudah ada ticketing, apalagi tur dari band-band rilisan Kolibri atau label-label luar kota yang ajaib.

Ini tidak bisa dibiarkan. Mau sampai kapan isi dompet kita dikoyak segala pernak-pernik musik?

Mungkin ada frase ‘jajan rock’—sebagai istilah belanja musik entah itu tape, CD, plat, sampai kaus band. Kamu tidak harus mengerti frase itu buat njajan. Apapun motivasinya, musik mungkin sudah jadi semacam candu yang terlalu seru untuk tidak diusahakan. Kamu butuh, tidak hanya ingin. Hasrat yang menggebu-gebu untuk tidak beli vinyl Rajasinga atau Taring-nya Seringai edisi splatter vinyl, bisa disesali seumur hidup kalau tidak dituruti. Kamu ingin benar-benar menikmatinya secara maksimal, dengan pemutar musik terbaik. Kaus juga harus original merchandise, tidak boleh premium murah. Pengorbanan bukan hanya sebagai bentuk dukungan pada musik dan musisi. Tapi lebih pada kenikmatan pribadi.

Beberapa orang bertanya ‘ngapain beli tiket konser mahal-mahal, pakai kaus band cotton 30’s mahal, beli vinyl di eBay, bla-bla-bla, sebenarnya mencari apa sih?

Karena sesungguhnya manusia tidak pernah puas. Dan kepuasan dari musik, selalu harus diperjuangkan.

Kaus Band
Banyak band di Surabaya sudah mulai produksi kausnya sendiri. Ada yang jadi barang buruan seperti kaus Si Pelanggannya Silampukau. Atau kaus Timeless dengan font album Beetwen And Beyond. Beberapa merasa ini perlu dibeli untuk mendukung eksistensi band. Tapi lebih dari itu semua, ini juga bukti betapa cintanya kita pada musik. Musik tidak hanya nempel di kuping, tapi juga di badan dan kulit. Kurang cinta apalagi coba? Kita serahkan jiwa raga kita pada musik, karena kita sadar begitu banyak peran musik di hidup kita.

Plat
Plat bukan hanya untuk orang-orang berdoku dan tua. Ini masalah kualitas dan kamu lebih baik kembali ke klasik. Lebih baik menabung tidak apa-apa, beli plat dulu turntable-nya menyusul. Mungkin event Record Store Day bisa jadi awal yang bagus. Ya beli plat-plat empat ratus ribuan dari album-album top 40’s yang keren boleh juga dicoba. Lalu sesudah kamu mengerti ada banyak ‘suara lainnya’ yang bisa terdengar lewat layer-layer tersembunyi dalam lagu, kamu akan semakin mengerti bedanya headset 18 ribuan dengan turntable. Plat punya perbandingan 1:2 dengan rekaman di studio. Turntable mahal ya? Pikir ulang dulu rencana nikah pakai resepsi di gedung, lebih baik buat beli turntable, sisanya buat beli mobil sport. Boleh jugalah.

 CD/Tape
Tape dulu baru kemudian CD. Tape menurut banyak orang lebih romantis, tapi beberapa orang lebih memuja CD. Semuanya tergantung selera masing-masing—dan di zaman apa kita bertumbuh. Sebagai genarasi mp3 mungkin memuja Spotify tidak kalah romantis. Apapunlah buat konsumsi musik. Kita tidak tahu mau jadi apa umat manusia kalau tidak ada benda bernama album. Mau jadi apa malam gelap gulita tanpa Mellon Collie and Infinite Sadness? Mau jadi apa anak-anak muda yang terasing di kelas tanpa Nevermind dan In Utero. Kebanyakan—atau mungkin semua orang punya utang budi pada tape atau CD. Termasuk audio mobil butut ayahmu yang doyan memutar sealbum penuh Sgt. Pepper-nya The Beatles dalam perjalanan mengantarmu ke sekolah.

Buku
Ini tidak kalah pentingnya, dan mungkin perlu diusahakan. Beberapa dari kalian mungkin bingung cari dimana buku rilisan Continuum: 33 1/3 karangan Mike McGonigal. Buku itu membahas semua album yang mungkin pernah masuk kuping kalian, secara berkelas. Kalau lewat eBay atau Amazon terlalu asing dicoba dan Bahasa Inggris kalian tidak bagus-bagus amat, mending mulai baca Setelah Boombox Usai Menyalak karya Herry Sutresna, atau Nice Boys Don’t Write Rock And Roll-nya Nuran Wibisono yang rilis tahun ini. Seperti kata Erie Setiawan musikolog Jogja: teks musik membantu lagu atau album, mengatakan apa yang tidak bisa dikatakan lagu dan lirik. Bacalah!

Tiket Konser
Karena musik gratisan berarti tidak segmented dan akan ada banyak penonton non-penggemar yang nonton hanya untuk eksis belaka. Pernahkah kalian merasakan sensasi teriak koor massal saat intro bas lagu I Wanna Be Adored dimulai?  Kalau belum, buka website The Stone Roses, cari kemungkinan kapan mereka Reuni lagi, segera booking tiket. Ya, semoga harganya tidak separuh gaji kalian ya, wahai kelas menengah.

Naskah nan slebor ini pernah dimuat di Majalah SCG.

Deathwords – Abandon The Truth: Jenuh dan Terasing Dalam Buram Hitam Putih


Kita sering merasa terasing tanpa tahu apa itu keterasingan; Marx menjelaskannya dengan agak bertele-tele dan mungkin bagi saya yang berotak di bawah rata-rata ini cukup membingungkan: manusia terasing dari dirinya sendiri, akibat dari sistem kapitalis yang membuat manusia bekerja agar tidak kelaparan. Bla-bla-bla selengkapnya bisa baca Manifesto--atau sekalian Das Kapital. Tapi kamu bisa sedikit-sedikit belajar soal keterasingan dalam video klip baru Deathwords; unit brutal stoner (begitu saya menyebutnya), berisi sobat-sobat SMA saya yang sejak dulu jadi begundal. Kita digiring di situasi hitam putih: buram dan agak sedikit menyeramkan. Kota Malang, tempat klip itu diambil, terasa seperti Norwegia, atau kota di negara Eropa yang jadi tempat kelahiran Black Metal. Padahal hanya menyorot sisi paling remeh dari Pasar Besar Malang, sampai daerah Kayu Tangan. Keterasingan dalam klip bisa dilihat dari kusamnya Converse punya Iqbal--si vokalis dengan geraman mematikan--lalu angan kita secara otomatis memasuki situasi nihil. Bocah bahagia bermain ayunan tampak kelabu; mendung dan melankoli. Jerit-jerit Iqbal yang ditampilkan berjalan di trotoar pertokoan menunjukkan sisi muram kota. Busuk dan tidak indah. Bagaimana Iqbal menyiksa pita suaranya diiringi berat knalpot distorsi Riki; membuat rasa tertohok dan meradang dalam satu paket. Malang kota hujan, tampak ortodoks dan ragu. Denging Tomi Iommi menekankan pengaruh Sabbath yang kuat. Klip mulai menggelinding menyorot aspal keras, dan jalan yang mulai penuh dengan hal-hal yang menggelisahkan. Meskipun sederhana, pikiranmu perlahan akan penuh deru. Seolah ada asap dalam hisap Marlboro yang tertelan dan masuk ke otak. Linu dan pegal, saya akui, tapi Deathwords sedang membangun nuansa. Split underground dengan Band Singapura tampak perlu digembar-gembor sebagai hal yang luar biasa; hanya saling berbagi keterasingan, kemuraman, kegelisahan--yang selalu ada di gang-gang kotor penuh kecoak, asbak yang selalu pekat terisi, got penuh kadal dan tikus coro: sudut suburb sebuah kota yang meskipun brengseknya minta ampun, tetap nyaman untuk ditinggali. Terbiasa dengan keterasingan, lalu sedikit-demi-sedikit mencicil kejenuhan dan lambat laun mencapai titik didih keputus-asaan. Mengutip Nietzsche: aku bukan manusia, aku dinamit. Lamat-lamat kita akan meledak sendiri. Meledek dan mengumpat pada hidup. Siaga pada kesedihan yang bisa datang dalam hitungan menit. Segaring Indomie yang kita makan mentah. Absurd, kosong, sekaligus renyah dan beracun. Mungkin keterasingan tiada peduli situasi apapun: ia bersemayam dalam pikir bawah sadar. Sistem pendingin dalam tubuh kita tidak berfungsi; seperti Malang yang semakin penuh, sesak, dan tidak bisa dinginkan panas kotanya sendiri. Deathwords menggambarkanya dalam klip berbudget rendah, tapi dengan kemasan yang mengena.

Tulisan sebelumnya dimuat di Wayward Online Magz.

Thursday, February 15, 2018

Menunggu Kamu di Teras Depan, Menunggu Kamu Pulang ke Rumah

Saat sedang ngendon depan kompi yang memutar lagu-lagu dari Oathbreaker, ada pertanyaan menarik yang dilempar Rahma, kawan baik saya di Jogja, lewat status WhatsApp:

“Pengguna WhatsApp ada yang suka C’mon Lennon?”

Secara impulsif, saya langsung menjawab: 'aku dong!' Lagu Oathbreaker yang lumayan kencang, mendadak berhenti, otomatis berganti intro “Aku Cinta J.A.K.A.R.TA” dari C’mon Lennon di dalam pikiran. Sial. Waktu seperti berputar. Pikiran saya terbang ke laptop tua yang yang berkali-kali sekarat. Tempat saya mengepulkan banyak rilisan dari rip-CD atau unduh illegal. Dan ada satu folder dari ratusan album musik yang rutin saya buka. C’mon Lennon dengan Ketika Lalala

Lalu, lagi-lagi secara impulsif, saya ngobrol dengan Rahma. Membahas objek favorit anak-anak segerombolan kami. Apalagi selain musik. Dan C’mon Lennon bisa jadi adalah satu yang tidak boleh dilupakan.

“Punya lagu favorit?” Tanya saya.

“Gadis Bertangan Satu, Adiksi, semuanya. Hehe.”

Semuanya di sini adalah 12 track di album Ketika Lalala. Hanya ini. Satu-satunya rilisan band yang menyandang status criminally underrated; tapi mungkin jadi band indie terbaik yang pernah ada.

Saya mencoba mengingat-ingat sejumlah track itu: nyaris terlupa. Saya memang sempat beberapa kali mendengarkan full-album. Tapi selalu berhenti, mengulang lagi satu track yang benar-benar tidak bisa lenyap dari pikiran. Bahkan, hanya lagu ini yang saya putar rutin, saat membuka folder C’mon Lennon. Tanpa perlu ditanya, saya menyebut satu lagu sakral yang menurut saya paling berkesan dari C’mon Lennon’.

“Aku paling suka Kikuk.”
***
Sore hari kerumahmu sendiri
Jalan kaki perlahan menuju harapan
Awan putih dan layangan di atasku
Jarak ini semakin dekat, tiga langkah.
Di muka rumahmu, menyapa pintu
Selamat sore.

Televisi hitam putih masih menyala
Tapi kamu telah pergi entah kemana
Dalam kebingungan kucoba menerka
Kemana kah kamu pergi di sore ini
Jam berapa ‘kan kembali di hari ini
Aku menunggu

Menunggu kamu di teras depan
Menunggu kamu pulang kerumah
Malam hari kamu pulang
Bertemu aku
Aku kikuk

Musik yang menyayat. Lirik yang memikat. Sekarang saya tiba-tiba merasakan kesenduan itu. Ingatan itu. Di teras rumah seorang perempuan, berjabat tangan, dan berucap malu-malu: “Selamat sore.”

C'Mon Lennon - Kikuk - Bisa didengar disini.

Wednesday, February 14, 2018

Guilty Pleasure: Fluktuasi Glukosa


Semacam guilty pleasure - sesuatu yang dari lubuk hati terdalam, saya akui tidak penting buat didengar, tapi toh tetap saya dengarkan juga. Saya tidak berani memuji Pee Wee Gaskins. Menurut saya, Pee Wee hanya band beranggotakan anak-anak emo yang meletakkan dasar berpakaian so called dorks, cupu tapi keren, semacam kutu buku (lihat Dochi), tapi trendi dan doyan pakai kaus merek (lihat Dochi). Just that. Semua albumnya menurut saya tidak penting. Hanya pengulangan Blink 182 versi powerpop dengan tambahan bebunyian uwiw uwiw synthetizer yang lucu. Tolong, singkirkan kata punk atau apapun yang mengerucut ke sana kalau membahas soal Pee Wee Gaskins. Saya tidak punya kebencian apapun pada band ini, bahkan ada atau tiadanya band ini pun saya tidak ambil pusing. Album Sophomore atau yang paling baru sekalipun, saya tidak punya alasan untuk mendengarkannya. Saya tidak tahu kenapa dan memang malas sekali mencari tahu. Saya akui lagu-lagunya memang mudah dihafal. Seperti, ah saya lupa judulnya. Pernah nampang di Dahsyat sewaktu saya SMP. Tapi, hanya itu. Tidak ada kesan lain. 

Meski begitu saya akui, Pee Wee Gaskins lumayan bisa diperhatikan di track "Sebuah Rahasia". Balada yang tidak terlalu pamer bebunyian ambulan dan tidak terlalu nge-beat. Ini lagu yang lumayan worthed dari Pee Wee Gaskins. Kekuatan Pee Wee Gaskins muncul di lagunya yang mungkin paling ballad. Saya menyimaknya juga dalam versi akustik; sama-sama menarik. Ini guilty pleasure saya pada Pee Wee. Tidak ada alasan untuk bilang "Sebuah Rahasia" sebagai sesuatu yang tidak penting. Saya mencoba meminggirkan fanatik Pee Wee dan anti Pee Wee yang sempat merebak beberapa tahun belakangan. Biarlah. Itu juga lebih tidak penting untuk dibahas.

Sampai saya tidak sengaja mendengar "Fluktuasi Glukosa" via Spotify. Ini lumayan crunchy. Saya tidak tahu kenapa bisa doyan konsumsi lagu ini. Saya mencoba memperhatikan apa yang membedakan lagu ini dengan lagu tidak penting di semua album mereka (maafkan saya, saya bisa dikeroyok fans berat Pee Wee kalau begini). Tapi ini berbeda. Saya tidak berani bilang bahwa di lagu ini Pee Wee mulai matang, karena kapasitas saya tidak sampai mengamati seluruh katalog Pee Wee. Tapi saya semakin tidak tahu kenapa lagu ini terngiang-ngiang terus di kepala. Akhirnya saya ada pada satu kesimpulan yang tidak pasti: lagu ini catchy. Catchy as fuck. Ada kenikmatan dalam telinga yang sulit dijelaskan. Mungkin saya sedang jenuh dengan sejumlah band yang saya puja-puji sepanjang masa. Atau kesalahan memang terletak pada telinga saya? Who knows. Tapi, dalam lagu ini saya berani mengakui: Pee Wee, akhirnya kalian keren di mata saya.

Monday, February 12, 2018

My World Is'nt Dying Enough


First gigs sesudah sebelumnya hanya bisa ngaplo di tempat kerjaan, meratapi nasib jelek karena berbenturan jadwal. Terhitung sudah hampir dua bulan saya kurang asupan gigs. Kerjaan menbuat saya bodoh temporer: tiap hari layar komputer dan deadline. Atau kalau sedang ada waktu senggang sedikit, pasti tidur atau ketiduran, melewatkan hal-hal indah di luaran sana.
Sebenarnya saya sedang dalam kondisi mood yang benar-benar fluktuatif. Lingkungan kerja membuat pikiran saya buntu, sumpek, dan seperti ingin segera kiamat saja. Beberapa hiburan adalah main PS sampai jelang subuh, dan Tekken 7 benar-benar membuat jari saya kapalan. Susah sekali kalahkan Heihachi bandot sok kuat di Story Level 8. Tapi kalau ketemu lawan yang bisa Versus, pasti cupunya minta ampun sampai-sampai saya harus turunkan kemampuan main Tekken saya.
Hiburan lain seperti ngopi sudah jadi hal rutin sampai saya tidak perlu anggap itu hiburan. Saya hanya butuh liburan. Ke tempat yang jauh, terasing, dan buat pikiran sedikit terbantu. Rencana ke pantai batal karena saya belum diizinkan cuti. Termasuk di dalamnya: bawa botolan untuk dihabiskan saat remang rembulan di kasar pasir pantai.
Untuk itu, saya hanya butuh gigs. Bukan band-band jelek murahan yang sering bikin saya tahan napas saking amburadulnya. Untungnya SCALLER, band Jakarta yang saya tonton kemarin, bukan masuk kategori band pemicu muntah berak. Di beberapa lagu yang dimainkan live, ada energi itu: energi yang saya butuhkan untuk jalani hidup yang semakin tengik.
Dan kemarin, solar saya sepertinya sudah terisi lagi. Lapar dahaga saya akan hiburan selalu bisa terpuaskan oleh SCALLER. Tidak pernah mengecewakan. Walau di beberapa lagu, saya kurang begitu suka–-sorry to say, khususnya di lagu yang pakai vokal Rene Karamoy. Hidup tidaklah penting sampai kita menghidupkan hidup. “Live And Do”, “Flair” sampai “The Youth”, buat saya bisa kembali menemukan sesuatu yang lama hilang dalam diri: semangat masa muda.
Bahwa hidup tidak hanya tentang kerja, kerja, kerja. Singkirkan waktu dan lelah sejenak. Live gigs lebih keren dari Spotify. Meskipun lirik SCALLER di lagu penutup masih tengiang-ngiang. Menandakan saya memang berada di dunia yang batuk-batuk, hampir mati, dan sekarat.
“My world, is dying!”

Wednesday, January 24, 2018

Jangan Bajingan Waktu Menyetir

Jalanan selalu sumpek. Macet, gerah, panas. Tapi apa daya, ada hidup yang harus disambung. Walaupun harus berurusan dengan truk ngawur, angkot seenaknya, lampu merah yang terlalu lama, atau trotoar yang terlalu lebar. 

Ayolah, kapan terakhir kali kita bahagia di jalan--kecuali mungkin saat berkendara santai tengah malam sambil maksimalkan volume di headset.

Kita juga kadang terburu-buru, 60 km per-jam terlalu pelan, tambah lagi, kencangkan lagi. Tanpa peduli ada orang tua membawa asbes di jalan, anak kecil menyeberang, ibu-ibu motor matic mengantar les anaknya. Ayolah, apakah jalanan jadi sekejam itu?

Saya sering melamunkan hal di atas sampai akhirnya menemukan salah satu lagu terbaik dari Bin Idris ini. Bin Idris adalah sosok yang berkali-kali saya tonton, tapi dengan nama Haikal Azizi--yang tergabung band psychedelic kesayangan kita, Sigmun. Bin Idris jadi alter ego Haikal, dan melempar album solo yang luar biasa bagus. Puncaknya ada di lagu "Jalan Bebas Hambatan", yang sudah bisa kalian nikmati di Spotify.

Mendengarkan lagunya, saya seperti tersindir sendiri. Sebagai orang yang doyan kesana-kemari pakai motor, kadang terlalu ngawur di jalan, dan jarang sekali pulang, saya seperti diingatkan.


Jalan Selalu Menuntun Kita Pulang

Berbulan-bulan kau belum pulang
Aspal jalanan pun engkau terjang
Menuju rumah
Untuk bertemu papah dan mamah

Terlalu mudah bagi kita melupakan rumah, tapi terlalu sulit untuk melepaskannya. Di jalanan menuju kerja, kadang kita sering dihantam pertanyaan: kapan pulang? Apalagi buat kamu kaum urban yang banyak menahan diri untuk tidak pulang kampung, menunggu sampai sebulan-dua bulan lagi. Ayolah. Saya tidak mau terlalu menye. Tapi apa salahnya pulang sebentar, toh jalan yang dilewati sama.

Jalan menuju kerja akan terasa berbeda kalau kita selalu ingat jalan menuju rumah.

Sekali Lagi, Safety Riding Lumayan Penting

Sinar mentari silau menikam
Kau kenakan kacamata hitam 20 ribu
Mereka tak perlu tau

Kebut-kebutan cuma bikin pusing
Jangan terpejam nanti terguling
Ketepian jalan
Mudah-mudahan jangan

Santai saja engkau menyupir
Kalau mengantuk tinggal melipir
Ke rest area
Beli gorengan dua ribu tiga

Bukan mau sok-sokan kampanye safety riding, dan jadi cemen karena takut aspal. Tapi jelas, kebut-kebutan tidak ada fungsinya. Santai sajalah. Toh kalau jatuh yang sakit ya sikut kamu juga. Tidak hanya itu, jalanan juga berpotensi turunkan tingkat kegantenganmu sampai 37%. Matahari pukul satu siang bisa bakar kulitmu pelan-pelan, lalu memicu jerawat, lalu mukamu jadi jelek. Lebih baik pakai perlengkapan standar. Lupakan knalpot brong. Jangan lupa klik helm. Pakai kaus kaki, sarung tangan. Buff.

Juga usahakan tidak mengantuk. Melipir saja ke minimarket, mampir dulu beli kopi dalam kemasan yang bukan diseduh biar tidak ngantuk. Seng penting slamet--kalau kata Mbah.

Di Jalan Bukan Cuman Ada Kamu, Bung

Ada ambulance kau pun menyingkir
Jangan bajingan waktu menyetir
Lebih baik sabar
Daripada bar-bar

Awas ada truk pasir di depan
Jangan dekat-dekat
Tidak perlu nekat

Baiklah, siapa di sini yang kadang terlalu sok jadi Marquez dan suka membalap ibu-ibu bapak-bapak yang kadang masih tegang buat nambah kecepatan di jalan? Jalanan yang kamu lewati bukan Sepang atau Valencia. Memangnya kamu lagi ikut GP?

Tidak perlu banyak petingkah sirkus tong setan. Kalau memang ingin balapan ya pakai lahan punya simbahmu saja. Ini jalanan milik bersama cuy. Apalagi, tingkat kecelakaan kadang dipicu orang-orang nekat. Main terobos. Main hantam. Kendaraanmu bukan 'invisible car'  seperti Mermaid Man dan Bernacle Boy bung. Selow saja kalau lagi jemput untuk kencan,  toh pacarmu juga mungkin masih sisiran.

*Sejatinya, tulisan ini sudah di-edit sedemikan sopan dan halus. Karena Kolaborasik.com - mainan baru Suara Surabaya Media - tempat saya bekerja, menilai tulisan versi awal terlalu kasar dalam pemakaian bahasa. 

Wednesday, January 10, 2018

Bagaimana Nuran Wibisono Mengutuk Saya Jadi Penulis Musik Amatiran


Saya baru saja masuk kantor, pukul setengah tiga sore. Shift malam sama brengseknya dengan shift pagi: macetnya, panasnya. Saya rehat sejenak sebelum menatap layar komputer untuk beberapa jam ke depan. Sesudah sebats saya mencomot Cola dari kulkas koperasi. Ya bisa bayar besok atau besoknya lagi. Terima kasih untuk Mbak Yani selalu mau terima kasbon. Saya bawa Cola itu dan bersiap ngendon depan komputer. Saya tidak cek handphone daritadi, saya masukkan saku. Tidak ingin terlalu terdistraksi dengan WhatsApp atau Instagram -- dunia maya bisa ditunda. Saya coba fokus di kerjaan, tapi entah kenapa masih belum konsen betul. Padahal sudah beberapa tegukan Cola mengisi lambung, juga cegukan-cegukan kebahagiaan yang hanya bisa dirasa pencandu soda tingkat akut. Karena masih terbayang busuknya jalanan tadi, saya tidak punya pilihan lagi selain mengeluarkan ponsel. Hidupkan data, dan seperti yang sehari-hari kamu alami: jutaan pesan -- kalau saya boleh sedikit hiperbolis -- beruntun masuk dengan derasnya. WhatsApp selalu begitu. Andai saja chat grup bisa sedikit lebih bermakna. Lalu dari beberapa grup yang saya ikuti, beberapa yang paling berisik adalah grup keluarga. Grup keluarga besar saya ada dua: satu keluarga besar ibuk dan satunya ibuk juga, cuman beda nasab atau garis keturunan. Jadi, beda eyang lah istilahnya. Dari grup-grup ini saya tahu -- kamu pun juga pasti tahu -- kalau bahaya hoax yang dikoar-koarkan orang-orang ternyata memang ada. Hoax yang benar-benar militan.  Disebar sama orang yang kamu kenal dekat. Kamu tidak berani untuk menegur, apalagi memberi tahu kebenaran. Bahkan, kapasitasmu sebagai buruh berita di media -- yang terverifikasi dewan pers -- tidak serta-merta bikin nyalimu memuncak untuk bilang: budhe, pakdhe, itu kabar hoax. Kamu lalu hanya diam saja -- bisanya memang begitu demi kesopanan -- dan melihat chat grup lain, yang kadang sama omong kosongnya. Menemukan fitur bisu di grup WhatsApp bisa jadi salah satu penyelamat hidup yang mungkin memang dari sononya sudah sumpek. Saya lalu merasa muak dan mual sendiri, kembali menaruh ponsel di meja. Saat akan mengetik, ponsel saya berbunyi. Ah, mungkin dari pacar. Penasaran sedikit, saya lirik sebentar. Saat melirik itulah mau tidak mau saya langsung fokus 100% pada ponsel, dan sadar tidak sadar mengenyahkan pekerjaan barang sebentar. Tertulis jelas di notifikasi: chat dari Mas Nuran Wibisono.

Kamu tidak salah baca. Ya, Nuran si jurnalis rock and roll -- atau hair metal -- super brengsek itu. Penulis musik ugal-ugalan kebanggaan Jember. Calon duta Guns N' Roses kawasan Asia Tenggara. Propagandis hair metal nomor wahid yang membuat band macam GRIBS, Sangkakala, dan gerombolan hair metal lokal lainnya, tetap percaya pada celana ketat dan rambut gondrong; gerombolan riang gembira yang merasa survive, karena karyanya selalu dicintai seorang Nuran -- penulis dengan kepercayaan diri tinggi pada apa yang disukainya. Ya, benar sekali. Nuran adalah penulis musik idola saya.

Sesudah bertanya kabar kabari dan lain sebagainya, dan saya balas dengan rasa tidak percaya dan menebak-nebak arah tujuannya, akhirnya Nuran bilang to the point.

"Kamu mau nggak ngisi bedah buku baruku di c2o?" tanyanya.

Tenggorokan saya serasa ingin minum air perasan jeruk lemon.

"Moderatornya Ayos Purwoaji." Nuran menambahkan.

Saya langsung mengambil air mineral di pantry. Lupa kalau di sebelah ada Cola.


***
Nuran Wibisono adalah penulis blog yang sudah saya ikuti sejak bandel-bandelnya masa SMA. Kalau tidak ada tulisan beliau, saya tidak akan bisa ikut menulis juga di blog kecil ini. Saya kenal dia waktu tidak sengaja nyasar di portal berita antah-berantah, pada tulisan -- yang kalau tidak salah -- berjudul 'Menulis Musik'. Pembukanya ciamik, mencomot daftar lima pekerjaan impian Rob, tokoh di film -- dan novel -- High Fidelity. Salah satu mimpi Rob: jadi musisi. Selanjutnya: jadi wartawan musik di New Musical Express atau NME. Nuran lalu menggiring saya ke dunia yang belum pernah saya tahu -- mungkin tahu tapi masih kurang dalam: dunia menulis musik. Ini orang keren, pikir saya. Meskipun tulisannya agak sok tahu  (mungkin karena waktu itu saya belum tahu apa-apa yang diketahui Nuran). Dari situlah saya paham sebuah profesi yang benar-benar menyenangkan bagi anak band gagal seperti saya: jadi penulis musik atau wartawan musik. Kurang ajar. Tulisan ini secara langsung -- dan tidak langsung -- membuka cakrawala saya yang masih sangat terbatas. Tahu-tahu saya nyasar di blog pribadi Nuran, dan hampir sudah membaca semua tulisannya (saya bahkan pernah baca kaburnya dia ke Gili Trawangan cuman gara-gara putus cinta). Yang saya tahu kemudian, dari Nuran-lah pintu gerbang menuju dunia tulis-menulis musik terbuka. Blog Nuran berisi banyak link ke blog lain. Semuanya seru dan hampir semuanya menulis tentang musik. Sampai saya nyasar di sebuah situs humaniora yang masih hangat: JakartaBeat. Di situs ini, Nuran juga ikut berkontribusi. Selanjutnya, perlahan-lahan kenal dengan tulisan penulis lain seperti Taufiq Rahman, dan Phillips Vermonte. Saya lupa nama penulis lainnya di Jakbeat, tapi tiga orang itulah yang selalu saya baca tulisannya dari awal sampai akhir, dari naskah paling lapuk sampai paling baru. Esai Taufiq Rahman bahkan sudah saya jadikan bahan skrpsi. 

Dari aktivitasnya di Jakbeat, Nuran kemudian aktif menulis di Tirto.Id -- sebuah situs berita yang menurut saya jadi yang pertama kali mempopolerkan infografis di Indonesia. Aura bengalnya masih sama; tulisan Nuran renyah dan mengenyangkan. Tapi tidak terlalu berat. Seperti menyantap Paket Panas 1 di McDonalds. Salah satu tulisannya tentang Nike Ardila, benar-benar mengambil sudut pandang baru. Bukan menyoroti sosok Nike sebagai legenda, tapi efek yang ditimbulkan sesudah kematiannya. Fokus pada fans sejati Nike, yang setiap tahun mengadakan ziarah. Kata Nuran: "Ini sudah seperti sebuah agama, dengan ritual wajibnya." Musik -- seperti yang Nuran dan saya yakini -- memang bisa menimbulkan efek sosial yang luar biasa. Kalau kata Taufiq Rahman: "Menulis musik adalah menulis tentang manusia", maka Nuran sudah berhasil meramu sisi humanis dari tulisan bertema musik.

Sebelum menulis di media, karya-karya Nuran di masa bengal (mungkin waktu masih gondrong) sangat-sangat menyentuh hati nurani. Nuran tidak memposisikan diri sebagai begundal tengik seperti Rio Tantomo -- ini 'guru' saya yang lain -- tapi cenderung apa adanya. Pernahkah kamu kepikiran untuk membuat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Demi Satu"? Hanya Nuran yang segila itu. Lalu, kekonyolan lain adalah saat semua penulis musik berlomba menulis album terbaik di tahun ini -- seperti ritual media musik pada umumnya -- Nuran malah menjadi 'punk' dan menolak sama. Ia dengan bangga mempersembahkan daftar album terburuk tahun ini, dan siap dimaki-maki semua orang: terutama Ungu Cliquers dan fangirl Sigit Purnomo alias Pasha. Jelas ini tidak pakai teknik-teknikan: nulis ya nulis saja. Super subjektif. Sengak dan songong, tapi sekaligus cerdas. Apa yang kamu pikirkan saat mendengar band bernama 'Asbak Band'? Hanya Nuran yang berani menyarankan band itu untuk ganti nama lebih dulu, sebelum rilis album baru. Saya tidak mengesampingkan karya Nuran yang lain di luar tulisan musik (food writernya tentang warung makan juga keterlaluan biadab bagusnya, apalagi kisah tentang 'on the road' versi Nuran yang doyan backpacker). Tapi karena ini sedang fokus pada tulisan musik, maka saya hanya akan berfokus pada Nuran dan karya tulisan musiknya saja.

"Gimana? Mau nggak?" Nuran bertanya lagi. Itu sesudah saya mencoba ruwet, melempar kesana kemari dengan alasan sungkan, kurang pede, kurang kompeten dan lain sebagainya. Saya lalu menelfon Rona Cendera, editor senior Ronascent Webzine.

"Wancuk! Terima aja! Kesempatan!" katanya. Entah kenapa harus berteriak-teriak di telfon. Saya lalu mencoba mengopernya pada Mas Rona.

"Sek sek" ujarnya. "Moderatornya siapa?"

"Ayos. Ayos Purwoaji." 

"Cok! Emoh sungkan! Orang besar itu. Awakmu ae!" 

Bangsat. Saya sebenarnya tidak kenal Ayos, hanya suka mendengar namanya saja. Cukup disegani di ranah seni rupa, dan sempat aktif di dunia kepenulisan. Sebelumnya saya malah sempat mampir ke acara Biennale Jatim, disitu Ayos berperan sebagai kurator. Melihat tindak-tindak Ayos yang punya nama besar, dan Nuran yang hampir setara dengan Rudolf Dethu di kancah propagandis hair metal nusantara, saya jadi agak segan. Tapi ini adalah kesempatan bagus: lagipula saya belum beli bukunya -- masih menabung untuk beli yang hardcover seharga 150 ribuan. Akhirnya saya menyanggupi. Pikiran saya waktu itu: kapan lagi bisa sedekat ini dengan idola. Plus kemungkinan bisa dapat buku gratisan. Saya pikir bukunya lumayan worthed juga untuk dimiliki. Akhirnya saya mengiyakan tawaran Nuran. Saya yang belum baca bukunya, sedikit malu-malu kucing ingin 'membacanya' dulu. Tapi Nuran sepertinya membaca pikiran saya.

"Minta alamatnya. Nanti aku kirimin bukunya." 

Oh yes. Alamak di tanggal hampir mendekati tua, dapat kiriman buku gratis. Tapi dengan bodohnya sesudah mengiyakan saya kepikiran hal lain. Otak saya langsung kosong. Brengsek, mau ngobrolin apa nantinya di bedah buku. Cola di meja saya tandaskan. Luar biasa, saya belum mengerti harus bicara apa tapi sudah mengiyakan saja. 

Kebuntuan ini terjadi sampai jelang hari H tur buku Nuran di Surabaya. Karena banyak pekerjaan, saya sampai hampir lupa kalau ada bedah buku hari Minggu. Sampai di suatu sore, dengan sepatu saya yang mamel karena hujan di jalan, saya masuk ruangan kantor dengan gontainya. Mbak Maria, salah satu penyiar yang sedang melalukan hobi ceriwisnya di dekat meja makan, menyapa saya sambil sedikit berteriak.

"Tit, ada kiriman buat kamu. Kutaruh mejamu, ya."

Dalam hati saya langsung berdenyut 'deg'. Asu. Saya lupa kalau hari Minggu ada bedah buku, dan ini pasti kiriman dari Nuran. Ternyata benar. Tapi dasar otak saya memang sedungu itu, sesudah saya buka paket saya malah keasyikan membaca dari awal bukunya. Membaca tanpa sadar saja tahu-tahu sudah hampir separuh. Kemudian ingat lagi. Asu. Bedah buku Minggu. Lalu sampai di kos saya baca lagi sampai ketiduran, dan lupa lagi esok harinya. Buku saya bawa ke kantor, saya tuntaskan sampai habis. Mau tidak mau saya harus ingat, karena besok acara bedah buku itu sudah dijadwalkan. Saya sudah ditawari Rona untuk cangkruk, membahas materi yang setidaknya bisa saya sampaikan. Tapi Rona hampir belum pernah baca tulisan Nuran, jadi mungkin bisa sharing tentang geliat musik di Surabaya saja -- topik obrolan favorit Rona selain meniduri salah satu personil The Corrs. Alhasil, saya berpikir tidak muluk-muluk: saya akan hadir sebagai penggemar, yang mengapresiasi Nuran, itu saja. Dan inilah jeleknya saya: untuk acara dari penulis sebesar Master Nuran, saya tidak merangkai kata-kata apapun: cul-culan. 

"Wis gampang. Lihat besok saja. Nanti aku bantu kalau ada hal yang bikin awakmu kesulitan." ujar Rona.

***

Hari Minggunya, saya harus ke kantor dulu mengisi ruang-ruang berita untuk dibacakan awak gatekeeper. Bedah buku dimulai pukul tujuh, tapi pukul enam kerjaan masih belum kelar. Nuran sudah saya kontak, katanya berangkat ke c2o pukul enam, bersama Ayos. Setelah selesai semuanya, saya sudah siap-siap menjunjung tas, ndilalah di depan pintu ada Mas Iman Dwihartanto -- penyiar legendaris Kelana Kota Suara Surabaya, sekaligus Manager Newsroom. Saya agak sedikit sungkan kalau langsung pamit. Akhirnya saya duduk-duduk dulu dekat Mas Iman. Nah, di sini sepertinya Mas Iman bisa membaca pikiran saya, dan langsung memberi saya sedikit pelajaran tentang 'public speaking'. Padahal beliau tidak tahu sebentar lagi saya akan mengobrol ria di bedah bukunya Nuran.

"Keep smile face. Jangan cemberut. Usahakan kamu 'senyum' waktu ngobrol. Itu penting. Mempengaruhi pembawaanmu. Nanti kapan-kapan aku ajari teknik announcing lagi." Mas Iman melihat arloji. "Eh, apa sekarang saja belajarnya di ruang rekaman?" tanyanya. 

Saya yang memang sedang buru-buru menjawab seadanya: "Next time deh, mas. Buru-buru nih, ada acara."

"Oh, ok, ok. Santai. Mau berangkat sekarang? Hati-hati, loh ya. Lagi hari libur."

Saya langsung bergerak cepat ke c2o. Jaraknya hanya seperlemparan batu dari kantor. Tinggal turun sedikit, lewat beberapa lampu merah, lalu sampai. 

Sampai di sana, Mbak Yuli dan Charlie--atau siapa nama kucing itu--menyambut saya. 

"Mas Nuran lagi di dalem, silahkan silahkan!" ujar Mbak Yuli. Saya tidak sempat menengok buku-buku baru. Lalu sesudah mengasap Black Menthol sebentar di luar (dengan tanpa terasa sudah habis tiga batang di asbak), Nuran lalu WhatsApp saya

"Masuk aja. Ada temen-temen juga nih!" 

Saya lalu memasuki mini bar di c2o. Ada bercangkir-cangkir kopi hitam di meja, dan puntung rokok yang berceceran. Kharis Junandharu dari Silampukau juga ada di sana, dengan kaus merah lengan panjang yang biasa dipakai pas manggung. Ada juga basis Hi-Mom! yang bergaya cukup flamboyan: menebalkan bulu cambang dan pakai topi ala anak kampus kesenian. Ayos Purwoaji, si moderator kemudian sedikit ngobrol-ngobrol dengan saya. 

"Aku belum mbaca bukunya. Nanti tak lempar-lempar saja ya," ujarnya.

Saya lalu lanjut bercakap dengan Nuran. Untuk pertama kalinya kami berjumpa. Saya melihat Nuran sebagai sosok yang lumayan tambun, tapi gagah. Mungkin berbeda dengan foto-foto yang dipamerkan di blognya saat dia sedang travelling beberapa tahun silam. Nuran sudah punya bini. Jadi mungkin agak terlihat seperti bapak-bapak. Pakai celana 3/4, kamu tidak akan sadar kalau dia adalah penulis jempolan. Tapi saya ragu apakah benar dia propagandis hair metal nomor satu Indonesia, karena dia pakai kaus Seringai. Haha. 

Lalu satu-persatu pengunjung mulai datang. Saya, Nuran dan Ayos berada di depan. Hanya gelar tikar seadanya, dan itu lebih bisa bikin suasana jadi lebih intim dan hangat. Ada sekitar 5-6 orang yang hadir. Dan terus berdatangan kira-kira sampai belasan orang.

Nuran lalu sedikit bercerita tentang bukunya. Hanya gambaran kecil saja. Dulu Nuran sangat doyan dengar Guns N' Roses, lalu bersama Ayos, membuat blog pribadi. Saya sempat membuka blog bernama 'muntah berak'  milik Nuran. Isinya sangat raw, personal, ngehek, dan banyak berisi indahnya kenakalan masa muda. Selain tentang musik, blognya juga berisi sumpah serapah, dan perjalanan cintanya bersama beberapa perempuan (khusus yang ini saya khawatir akan terlalu paham kehidupan pribadi Nuran karena ia selalu tulis apa saja di blog).

Kehidupannya berubah sesudah Phillips Vermonte, founder JakartaBeat, mengontak dirinya untuk menulis di website JakBeat yang baru seumur jagung. Ini dibahas tuntas di Kata Pengantar yang ditulis Mas Phillips. Tulisan Nuran begitu 'kotor'. Pemuda brengsek yang tidak sungkan buat tulisan berjudul "30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Per Satu" di blognya ini, membuat tulisan brengsek sejenis di JakBeat. Tulisan di awal-awal karir Nuran di JakBeat sih masih bisa dibilang 'lembut' dan 'elegan'--membahas John Mayer. Tapi lama-kelamaan keluar 'aslinya'. Selama dua tahun Nuran membuat tulisan "5 Album Terjelek 2009" dan "5 Album Terbaik 2010". Ini saat media musik lain seperti Rolling Stone sedang asyik menuliskan album terbaik sepanjang tahun. Dasar bajingan, tulisan ini sungguh tidak punya bobot objektivitas. Murni subjektivitas seenak udel Nuran, dan seenak jembutnya mengata-ngatai album dari Asbak Band, Ungu, The Harry Potters, The Bagindaz, dan band lain yang sama menye-nya. 


Saya yang baru berkenalan dengan Rolling Stone kisaran tahun 2011, jadi agak terganggu. Pikir saya, jurnalis atau penulis musik harus muluk-muluk. Harus pintar seperti Hasief Ardiasyah atau Wening Gitomartoyo. Pintar di sini dalam artian terkesan intelek, cenderung snob, dan punya milyaran referensi musik keren seluruh planet. Tapi sesudah baca Nuran di JakBeat, saya pikir penulis musik bisa ngehek juga. Bisa seenaknya juga. Tulisan-tulisan Nuran-lah yang kemudian memicu saya untuk mulai menulis juga. Patokan saya turun drastis. Nuran begitu seenaknya dan peduli setan: semua karya jelek ya jelek, dan dia tidak sungkan untuk menghina (saya bahagia dia mencaci-maki Ungu). Dan itu lebih terasa fun, menyenangkan. Memang kadang Nuran menghasilkan tulisan yang lebih berbobot, misal saat menulis tentang The Doors dan 'hair metal'. Tapi nuansanya sama: ringan dan asyik. Tidak membuat kepala terlalu banyak berpikir, malah ingin segera mencari band atau lagu apa yang menurut Nuran bagus. Bukankah begitu tujuan menulis musik? Saya lalu menyadari satu hal: tulisan Nuran menyenangkan karena dia hanya menulis tentang band-band yang dicintainya. Tulisan musik yang hidup erat kaitannya dengan selera. Dan saya setuju itu. Alhasil, tulisan Nuran di blog-nya atau JakBeat, jadi salah satu pemicu saya untuk membuat zine perdana.


***
Zine perdana saya adalah kumpulan tulisan anak muda sok pretensius yang sok mahir bermain alat musik dan sok idealis ingin bikin band yang super-duper hipster dan sok menolak selera kampungan macam screamo, tapi akhirnya gagal dan membusuk bersama dua edisi Rolling Stone dan lembaran-lembaran zine milik abang saya yang diperam sejak tahun 2000-an. Zine yang berani-beraninya dan dengan pedenya menjuluki diri sebagai digital rock zine (karena diproduksi pdf), dan total terpengaruh zinemaker asal Bandung Jiwa Singa (produsen Nobody Zine), tapi dengan gaya tulisan yang alamak sok cerdas dan berlipat pedenya. Patokan saya: Nuran Wibisono. Zine bernama Throwzine ini berhasil mewawancarai band lokal, dan seakan-akan dalam pandangan saya sudah jadi zine rock professional yang bisa membuat goyah Jann Wenner. Bangsat, saya terkikik saat mengingat ini. Atas jasa-jasa Nuran-lah saya berani menulis di media sendiri, dan akhirnya memberanikan diri mengirim naskah ke JakartaBeat. Saya kelas tiga SMA waktu itu, dan tiga tulisan tentang Green Day yang saya tulis, yang saya anggap punya kelas seperti Rob Sheffield atau David Fricke di rubrik review Rolling Stone, yang saya pikir akan mengubah dunia, semesta, dan jadi sejarah di jurnalisme musik, ternyata hanyalah seonggok sampah yang mungkin tidak dilirik oleh Phillips dan Taufiq, editor JakartaBeat. Tulisan yang kalau saya baca ulang sekarang, akan terlihat memalukan dan tolol, sok elitis dan sok punya selera musik bagus. Brengsek benar. Saya sudah melangkah terlalu jauh dari apa yang diterapkan Nuran: kesederhanaan dan ringan. Tiga tulisan tadi kemudian masuk di zine saya yang kedua, yang entah apa namanya (saya memutuskan tidak pakai nama Throwzine lagi), tapi tidak lolos kurasi JakBeat membuat saya sedikit sedih dan hampir patah arang. Apa kurangnya? Lalu saya memutuskan berhenti menulis sejenak, dan mengamati gaya-gaya penulisan tabib-tabib jurnalisme rock. Tidak ada yang lain lagi: blog Nuran Wibisono jadi tujuan akhir.

Sebelumnya, saya mengamati tulisan Taufiq Rahman yang sangat-sangat bagus, dan saya langsung menyerah. Saya tidak punya kecerdasan kritis macam Taufiq untuk hasilkan tulisan bermutu seperti itu. Otak saya masih sangat kurang. Lalu Ady Renaldi (di saat dia menulis tentang hubungan album Taring Seringai dan dihubungkannya dengan logical phallacy atau apalah), saya malah tidak nyambung. Saya ingin belajar dari pengisi kolom JakBeat tapi mengapa tidak ada yang bisa saya cerna dengan baik. Apalagi Arman Dhani. Saya menyerah dan akhirnya membuka lagi tulisan mahaguru utama saya: arsip tulisan Nuran Wibisono di JakBeat dan blognya saya babat habis--semua tulisan, tanpa kecuali, termasuk puisi lucu-lucuannya. Tanpa disangka, ada satu tulisan yang menginformasikan tentang pemesanan buku. Di situ tertulis nomor rekening Nuran, dan nomor ponselnya.

Aunnurahman Wibisono - 08xxxxxxxxx

Fuck! Tanpa tunggu esok pagi saya langsung SMS si mahaguru. Basa-basi dan akhirnya mengakui: tulisanku nggak diterimo JakBeat, mas. Lalu Nuran menjawab singkat: kenapa kamu kok pengen nulis di Jakarta Beat?

Saya tidak tahu. Betul-betul tidak tahu. Nihilisme tulen. Saya merasa hanya menulis karena ikut-ikutan review keren Rolling Stone saja. Padahal saya tahu, jadi keren tidak bisa hanya dengan ikut-ikutan. Sejak hari itu saya mulai berpikir kalau tulisan musik harus punya nyawa. Nuran bisa menulis 'hair metal lebih baik dari grunge' karena dia mungkin kesal atas kehadiran Nirvana yang menggeser dominasi Guns N' Roses. Taufiq mungkin kesal pada Phillips yang menganggap Nevermind The Bollocks sebagai album punk terbaik, bukan Marquee Moon dari Television. Semua penulis punya kekesalannya masing-masing.

Saya akhirnya merasa tulisan saya kurang satu hal yang amat sangat penting: kegelisahan. Ini membuat tulisan saya kering, kosong, hanya berusaha meng-keren-kerenkan kata, menyamakan rima, mengutip diksi-diksi keren as fuck untuk gambarkan jenis musik. Tidak ada isinya. Hampa tanpa gagasan.


***



Nuran duduk di sebelah saya. Di sampingnya ada Ayos Purwoaji. Sementara di depan kami ada beberapa orang yang punya minat sama: menulis musik. Salah satunya Kharis Junandharu dari Silampukau. Ini hari Minggu di akhir bulan, di luar mendung. Kopi dan snack disediakan Mbak Yuli penjaga C2o, untuk disambi sembari diskusi. Ini seperti hal yang sureal: kamu duduk di sebelah penulis yang membuatmu ingin menulis musik, dan saat ini kamu dan dia menjadi pembicara untuk diskusi menulis musik. Saya mewakili Ronascent--webzine musik indie lokal tempat saya menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir, sementara Nuran membawa buku terbarunya: 'Nice Boys Don't Write Rock N' Roll'. Saya didapuk untuk menanggapi tulisan Nuran, dan sedikit berbagi tentang jurnalisme musik. Saya tidak tahu apa-apa, masih bodoh. Tidak punya draft atau bahan apapun untuk dibawakan. Saya tidak tahu teori menulis musik yang baik dan benar. Selama ini di Ronascent, saya selalu menulis untuk senang-senang: tidak bertendensi apapun. Saya menulis suka-suka belaka. Tanpa tuntutan profesi. Inilah yang jadi bahan bakar saya untuk selalu menghubungkan naskah musik dengan kegelisahan. Ini nikmat. Saya suka mendengarkan musik, dan saya kadang muak dengan dunia. Saya menulis kegelisahan itu, dan hubungannya dengan musik. Saya malas dengar band-band sok pretensius dan jelek seperti Foster The People, dan saya menuliskan semuanya di saat semua orang menganggapnya sebagai jenius tiada tara yang berhasil bla-bla-bla fuckin' psychedelic! Saya bisa bicara bersama Nuran, justru karena membaca tulisan-tulisan Nuran.

Saya sendiri agak lupa sudah mengobrolkan apa saja, pun juga petuah-petuah Nuran yang malam itu lebih banyak guyonnya. Pembahasan agak melebar ke arah bisnis musik dan era musik digital tapi bisa diantisipasi dengan baik oleh moderator. Satu yang saya ingat: ini adalah malam yang menyenangkan. Sesudah satu jam lebih kami membahas jurnalisme musik dan hal-hal di sekitarnya, Ayos menyudahi diskusi dan mengadakan sesi tanda tangan. 

"Ke Biennale nggak? Ayok bareng, sama aku, Nuran juga ikut." ujar Ayos. Dia sebenarnya jadi kurator Biennale Jatim tahun ini. Di malam penutupan yang seharusnya dia wajib hadir, sahabatnya, Nuran Wibisono malah mendaulatnya jadi moderator diskusi. Pilihan yang mudah karena tentu saja Ayos memilih acara Nuran. Masih pukul sembilan. Penutupan Biennale mungkin tersisan dua jam lagi. Saya dan awak Ronascent segera meluncur ke Gedung Prabangkara, menyusul Ayos dan Nuran.

***

Saya langsung menghampiri Nuran yang duduk di joglo depan Prabangkara. Ayos hilang entah ke mana, menyusul si Kharis yang berlalu-lalang seenaknya saja tanpa seorang pun tahu dia dedengkot Silampukau. Musik DJ mengalun kencang dan brengsek. Apa-apaan. Kenapa di perayaan penutupan pameran seni ada musik EDM Party kencang bertajuk perform art? Saya tidak mengerti dan sekarang saya hanya ingin mengobrol lagi dengan Nuran. Sambil teriak-teriak karena saking kencangnya suara, saya bertanya beberapa hal. Nuran juga sambil teriak-teriak dan kadang mendekatkan mulutnya ke kuping saya, menjelaskan tentang suatu hal.

"Tirto buka lowongan reporter. Coba aja kali aja minat." Ujar Nuran. 

Saya berpikir keras, keluarkan rokok putih dan membakarnya. Saya belum tahu hidup mau dibawa kemana, tapi untuk ke Jakarta, saya rasa belum saatnya. Kami lalu membahas banyak hal lagi, diselingi musik disko yang begitu brengseknya. Bisa apa saya. Lalu datanglah pejabat-pejabat Ronascent: Rona Cendera - editor, dan Ian Darmawan, public relations (ya sebut begitulah biar kelihatan keren dikit). Saat keduanya datang, Nuran langsung menghilang, entah mencari Ayos atau Kharis. Saya dan kru Ronascent langsung menuju kantin di pojokan untuk pesan satu gelas kopi dingin pembunuh kantuk. Saat sedang membicarakan hal-hal remeh-temeh Nuran datang dengan muka kusut: Ayos tidak ketemu. Dia langsung duduk di sebelah saya, dan memesan Indomie. 

"Oh ini timnya Ronascent?" tanya Nuran. Kami sebagai penulis musik lokal merasa seperti ditanya oleh jurnalis hair metal legendaris. Sambil diselingi kopi, udud, dan gorengan, kami mulai membahas apa saja tentang media musik. Rona dan Ian juga berkali-kali bertanya, mumpung ada pakarnya.

"Sekarang susah. Media cetak sudah gulung tikar semua. Kemarin, Trax, HAI..." kata Nuran.

"Sayang banget, ya Mas. Trax lumayan keren sih isinya menurutku." ujar saya menanggapi.

"Iya, penyeimbang Rolling Stone lah ya."

"Haha, itu Trax langsung tutup habisnya Rio keluar ya."

"Rio? Oh, Rio Tantomo? Kon kenal?"

"Sempet beberapa kali ngobrol. Haha brengsek sih dia. Tapi bagus."

"Aku ndak kenal sih, cuman tau aja. Gonzo dia."

"Iya, nulis Burgerkill pakai ganja pas tur, eh Ebenz dkk protes. Pantes keluar tuh si Rio." saya tertawa.

"Lahyo, jarene rock and roll, metal, ditulis ora wani." Nuran juga tertawa sambil mengecap Indomie-nya.

Kami lalu membahas industri media lagi, yang makin hari makin ditinggalkan. Semua orang bisa menulis di akunnya masing-masing. Semua orang bisa bikin media sendiri. Di saat seperti itu, kami--yang semuanya jadi buruh media dan budak naskah--harus siap seandainya radio, koran, atau media apapun tempat kami bekerja mendadak tutup. Kelihatannya tidak mungkin, tapi apa salahnya siap-siap. Sejumput rokok kami bakar--kecuali Nuran--untuk membunuh perasaan ini. Kami sudah terjerumus dalam media, wartawan, jurnalis: dan seperti kata Sudjiwo Tejo; sekali kamu jadi jurnalis, kamu tidak bisa meninggalkannya, seumur hidup. Jurnalis itu candu.

"Wis rek, mbayare iki ae." ujar Nuran yang berdiri dan serahkan sejumlah uang pada penjualnya. 

"Arek-arek kabeh, totale pinten?"

Kami hanya cengar-cengir. Dalam hati sedikit menggumam: ini penulis hair metal paling membumi dan murah hati yang ada.

Thanks, Mas Nuran Wibisono. See you next time!