Showing posts with label List. Show all posts
Showing posts with label List. Show all posts

Friday, August 17, 2018

8 Lagu Padi Paling Ajaib

Di suatu masa, musik Indonesia pernah berada pada satu puncak keajaiban. Padi--salah satu yang memicunya.

Riwayat tape rongsokan punya kakak perempuan saya tidak bisa diceritakan tanpa album Save My Soul punya Padi. Tape seringkali memutar lirih satu album ini tanpa jeda, di kamar si mbak yang berjendela terbuka dan penuh poster Simple Plan. Itu masih 2003, saya masih kelas tiga SD.  Tapi kaset bercover lukisan surealis ini seolah menandai sebuah era penting dalam hidup saya.

Mendengarkan Padi dari masa sebelum saya baligh jelas membawa memori tersendiri. Sebelum industri musik menjadi kacang pasca viralnya 3gp Ariel-Luna Maya-Cut Tari, Padi berada di satu kontingen bersama Dewa 19, Sheila On 7, dan Naif. Padi jelas menempati posisi tertinggi. Tape yang diulang-ulang dalam rumah, menggema di ingatan setiap waktu.

Pertanyaan yang mungkin relevan sekarang: apa sih lagu Padi yang paling ajaib? Saya berusaha menjawabnya sambil membongkar-ulang katalog lama dari semua album mereka.

8. "Terbakar Cemburu" (Tak Hanya Diam, 2007)
Liukan maut Piyu di "Terbakar Cemburu" benar-benar membakar. Membuat saya cemburu buta pada Fender Stratocaster-nya. Lagu tentang cemburu selama ini adalah yang dinyanyikan Once dengan marah-marah. Milik Padi lebih romantis.  Membuat perasaan cemburu lebih berkesan. Pujaan hati dibonceng orang lain? Sambil berpelukan? Mendengarkan lagu ini jauh lebih berkelas daripada merencanakan duel satu-lawan-satu.


7. "Patah" (Save My Soul, 2003)
Mungkin solo Piyu di awal lagu ini mengingatkan kita pada kejayaan rock 90-an akhir yang sopan dan romantis. "Memelukmu kuingin, menyentuhmu kuingin, dan mengucapkan sepatah kata... "; Lirik yang kalau didengarkan sekarang berpotensi membuat saya mengucek-ucek mata yang agak perih,  sambil melihat riwayat chat yang penuh emoticon bunga dan ciuman.


6. "Kasih Tak Sampai" (Sesuatu Yang Tertunda, 2001)
"Kasih Tak Sampai" mungkin jadi penghiburan kegalauan muda-muda era 2000-an, bahkan sebelum kata galau jadi booming. Petikan gitarnya hanya berfungsi menambah deras air mata. Kalau lagu ini rilis di masa remaja saya, mungkin saya akan menjadi lebih cengeng saat berada di fase hampir menenggak Baygon cair pasca putus cinta.


5. "Harmoni" (Tak Hanya Diam, 2007)
Terputar sendu dengan vocal Piyu. Jangan lupakan choir yang parah sekali bagusnya menjelang lagu usai. Kontemplasi yang disudahi dengan semakin kencangnya gebukan Yoyo. Lagu yang paling doyan wara-wiri di MTV Ampuh pukul sebelas siang saat VJ kesayangan kita Marissa Nasution masih fresh graduate. Ehm, Tahukah kalian kalau Ernest Prakasa yang jadi model di video klip lagu ini?


4. "Jangan Datang Malam Ini" (Tak Hanya Diam, 2007)
"Jangan Datang Malam Ini" justru malah membuat saya ingin mendatangi sekali lagi pengalaman pertama  menonton klip lagu ini via Inbox SCTV.  Video klip yang mungkin jika dirilis sekarang akan jadi bahan perdebatan sengit warganet yang seenak udel. Sheila Marcia  sebagai bintang klip,  ditampilkan punya affair dengan sesama jenisnya. Dengan musik minimalis nan segar, Padi membuktikan kalau kekuatan pop sebenarnya terletak pada kesederhanaanya.


3. "Tak Hanya Diam" (Padi, 2005)
Track ini sebenarnya masih amat dingin. Tambah lagi gebukan drum yang monoton, tidak seperti kebiasaan Yoyo. Penyelamatnya: pertama, pemakaian organ hammond atau synthetizer. Kedua, siulan Fadly yang syahdu benar. Ketiga, dari lagu ini kita bisa tahu definisi terbaik dari cinta adalah cinta.


2. "Hitam" (Save My Soul, 2003)
"Hitam" adalah wahana urakan Padi. Berisi tonjokan tanpa ampun dari Yoyo si mesin tempur kelas kakap yang doyan membuang tenaganya demi menggetarkan drum sekalap mungkin. Soundtrack sinetron setan di RCTI puluhan tahun lalu. Tapi masih menyeramkan dan ngeri didengar sekarang. Di sini kita bisa mengakui kalau Padi adalah supergrup keren tanpa ampun. Simak progresi jelang akhir lagu saat musik mulai beralih jadi ajang pamer kegilaan para alumnus Universitas Airlangga ini. Hasilnya? Desah panjang tanda orgasme.


1. "Ternyata Cinta" (Padi, 2005)
Sebenarnya semua daftar di atas hanyalah kedok dan alibi belaka untuk menuliskan tentang lagu ini. "Ternyata Cinta" adalah satu lagu yang membuat saya menyadari kalau Padi adalah keajaiban, kalau musik adalah keajaiban, kalau cinta adalah keajaiban. Sejauh ini, "Ternyata Cinta" adalah lagu terbaik Padi. Salah satu alasannya? Saya tidak bisa melupakan intronya yang aduhai brengseknya. Alasan lain? Tidak ada. Lagu ini terlalu sempurna.


Ditulis untuk Kolaborasik. Bisa juga dibaca disini.

Wednesday, May 16, 2018

Bagaimana Jajan Rock Mempengaruhi Hidup Kita?

Lebih bernilai mana kaus Joy Division atau My Bloody Valentine? Tape Utopia dari Pure Saturday atau Rumahsakit? Plat Badai Pasti Berlalu atau Guruh Gipsy? CD album terbaru Taylor Swift atau Coldplay? Susah kalau perkara selera. Apalagi hasrat untuk jadi hipster kadang membuat selera jadi terkotak: harus cult, indie, menyimpang: apapun yang disuka arus utama, kita sebisa mungkin harus menghindarinya. Mau tidak mau ini berpengaruh pada hasrat belanja. Tapi musik memang sebegitunya. Memaksa kita keluarkan duit tidak hanya untuk nada dan irama: kaset dan sejenisnya. Musik juga bisa dipakai, dalam pernak-pernik merchandise: kaus, bracelet, sampai gantungan kunci. Beberapa tahun terakhir ini, beberapa penerbit juga mulai rilis buku-buku musik. Musik bisa dibaca. Elevation Records, label milik Taufiq Rahman penulis musik kesayangan kita semua—meluncurkan divisi ‘usaha kecil menengah’ bernama Elevation Books. Jadi gebrakan lewat kumpulan esai musik karya Taufiq, disusul kumpulan tulisan Herry Sutresna aka. Morgue Vanguard aka. Ucok Homicide – legenda hip hop yang doyan menuliskan musik secara personal. Apalagi layanan musik streaming seperti Spotify, yang harus dipaksa premium supaya bebas iklan. 50 ribu terlalu mahal untuk sealbum penuh A Moon Shaped Pool plus jutaan lagu streaming lain? Atau bagaimana dengan tiket konser—yang kini makin mudah karena bisa dipesan virtual. DWP sudah jadi rutinitas, gigs-gigs kampus pakai band lokal juga sudah ada ticketing, apalagi tur dari band-band rilisan Kolibri atau label-label luar kota yang ajaib.

Ini tidak bisa dibiarkan. Mau sampai kapan isi dompet kita dikoyak segala pernak-pernik musik?

Mungkin ada frase ‘jajan rock’—sebagai istilah belanja musik entah itu tape, CD, plat, sampai kaus band. Kamu tidak harus mengerti frase itu buat njajan. Apapun motivasinya, musik mungkin sudah jadi semacam candu yang terlalu seru untuk tidak diusahakan. Kamu butuh, tidak hanya ingin. Hasrat yang menggebu-gebu untuk tidak beli vinyl Rajasinga atau Taring-nya Seringai edisi splatter vinyl, bisa disesali seumur hidup kalau tidak dituruti. Kamu ingin benar-benar menikmatinya secara maksimal, dengan pemutar musik terbaik. Kaus juga harus original merchandise, tidak boleh premium murah. Pengorbanan bukan hanya sebagai bentuk dukungan pada musik dan musisi. Tapi lebih pada kenikmatan pribadi.

Beberapa orang bertanya ‘ngapain beli tiket konser mahal-mahal, pakai kaus band cotton 30’s mahal, beli vinyl di eBay, bla-bla-bla, sebenarnya mencari apa sih?

Karena sesungguhnya manusia tidak pernah puas. Dan kepuasan dari musik, selalu harus diperjuangkan.

Kaus Band
Banyak band di Surabaya sudah mulai produksi kausnya sendiri. Ada yang jadi barang buruan seperti kaus Si Pelanggannya Silampukau. Atau kaus Timeless dengan font album Beetwen And Beyond. Beberapa merasa ini perlu dibeli untuk mendukung eksistensi band. Tapi lebih dari itu semua, ini juga bukti betapa cintanya kita pada musik. Musik tidak hanya nempel di kuping, tapi juga di badan dan kulit. Kurang cinta apalagi coba? Kita serahkan jiwa raga kita pada musik, karena kita sadar begitu banyak peran musik di hidup kita.

Plat
Plat bukan hanya untuk orang-orang berdoku dan tua. Ini masalah kualitas dan kamu lebih baik kembali ke klasik. Lebih baik menabung tidak apa-apa, beli plat dulu turntable-nya menyusul. Mungkin event Record Store Day bisa jadi awal yang bagus. Ya beli plat-plat empat ratus ribuan dari album-album top 40’s yang keren boleh juga dicoba. Lalu sesudah kamu mengerti ada banyak ‘suara lainnya’ yang bisa terdengar lewat layer-layer tersembunyi dalam lagu, kamu akan semakin mengerti bedanya headset 18 ribuan dengan turntable. Plat punya perbandingan 1:2 dengan rekaman di studio. Turntable mahal ya? Pikir ulang dulu rencana nikah pakai resepsi di gedung, lebih baik buat beli turntable, sisanya buat beli mobil sport. Boleh jugalah.

 CD/Tape
Tape dulu baru kemudian CD. Tape menurut banyak orang lebih romantis, tapi beberapa orang lebih memuja CD. Semuanya tergantung selera masing-masing—dan di zaman apa kita bertumbuh. Sebagai genarasi mp3 mungkin memuja Spotify tidak kalah romantis. Apapunlah buat konsumsi musik. Kita tidak tahu mau jadi apa umat manusia kalau tidak ada benda bernama album. Mau jadi apa malam gelap gulita tanpa Mellon Collie and Infinite Sadness? Mau jadi apa anak-anak muda yang terasing di kelas tanpa Nevermind dan In Utero. Kebanyakan—atau mungkin semua orang punya utang budi pada tape atau CD. Termasuk audio mobil butut ayahmu yang doyan memutar sealbum penuh Sgt. Pepper-nya The Beatles dalam perjalanan mengantarmu ke sekolah.

Buku
Ini tidak kalah pentingnya, dan mungkin perlu diusahakan. Beberapa dari kalian mungkin bingung cari dimana buku rilisan Continuum: 33 1/3 karangan Mike McGonigal. Buku itu membahas semua album yang mungkin pernah masuk kuping kalian, secara berkelas. Kalau lewat eBay atau Amazon terlalu asing dicoba dan Bahasa Inggris kalian tidak bagus-bagus amat, mending mulai baca Setelah Boombox Usai Menyalak karya Herry Sutresna, atau Nice Boys Don’t Write Rock And Roll-nya Nuran Wibisono yang rilis tahun ini. Seperti kata Erie Setiawan musikolog Jogja: teks musik membantu lagu atau album, mengatakan apa yang tidak bisa dikatakan lagu dan lirik. Bacalah!

Tiket Konser
Karena musik gratisan berarti tidak segmented dan akan ada banyak penonton non-penggemar yang nonton hanya untuk eksis belaka. Pernahkah kalian merasakan sensasi teriak koor massal saat intro bas lagu I Wanna Be Adored dimulai?  Kalau belum, buka website The Stone Roses, cari kemungkinan kapan mereka Reuni lagi, segera booking tiket. Ya, semoga harganya tidak separuh gaji kalian ya, wahai kelas menengah.

Naskah nan slebor ini pernah dimuat di Majalah SCG.

Wednesday, January 24, 2018

Jangan Bajingan Waktu Menyetir

Jalanan selalu sumpek. Macet, gerah, panas. Tapi apa daya, ada hidup yang harus disambung. Walaupun harus berurusan dengan truk ngawur, angkot seenaknya, lampu merah yang terlalu lama, atau trotoar yang terlalu lebar. 

Ayolah, kapan terakhir kali kita bahagia di jalan--kecuali mungkin saat berkendara santai tengah malam sambil maksimalkan volume di headset.

Kita juga kadang terburu-buru, 60 km per-jam terlalu pelan, tambah lagi, kencangkan lagi. Tanpa peduli ada orang tua membawa asbes di jalan, anak kecil menyeberang, ibu-ibu motor matic mengantar les anaknya. Ayolah, apakah jalanan jadi sekejam itu?

Saya sering melamunkan hal di atas sampai akhirnya menemukan salah satu lagu terbaik dari Bin Idris ini. Bin Idris adalah sosok yang berkali-kali saya tonton, tapi dengan nama Haikal Azizi--yang tergabung band psychedelic kesayangan kita, Sigmun. Bin Idris jadi alter ego Haikal, dan melempar album solo yang luar biasa bagus. Puncaknya ada di lagu "Jalan Bebas Hambatan", yang sudah bisa kalian nikmati di Spotify.

Mendengarkan lagunya, saya seperti tersindir sendiri. Sebagai orang yang doyan kesana-kemari pakai motor, kadang terlalu ngawur di jalan, dan jarang sekali pulang, saya seperti diingatkan.


Jalan Selalu Menuntun Kita Pulang

Berbulan-bulan kau belum pulang
Aspal jalanan pun engkau terjang
Menuju rumah
Untuk bertemu papah dan mamah

Terlalu mudah bagi kita melupakan rumah, tapi terlalu sulit untuk melepaskannya. Di jalanan menuju kerja, kadang kita sering dihantam pertanyaan: kapan pulang? Apalagi buat kamu kaum urban yang banyak menahan diri untuk tidak pulang kampung, menunggu sampai sebulan-dua bulan lagi. Ayolah. Saya tidak mau terlalu menye. Tapi apa salahnya pulang sebentar, toh jalan yang dilewati sama.

Jalan menuju kerja akan terasa berbeda kalau kita selalu ingat jalan menuju rumah.

Sekali Lagi, Safety Riding Lumayan Penting

Sinar mentari silau menikam
Kau kenakan kacamata hitam 20 ribu
Mereka tak perlu tau

Kebut-kebutan cuma bikin pusing
Jangan terpejam nanti terguling
Ketepian jalan
Mudah-mudahan jangan

Santai saja engkau menyupir
Kalau mengantuk tinggal melipir
Ke rest area
Beli gorengan dua ribu tiga

Bukan mau sok-sokan kampanye safety riding, dan jadi cemen karena takut aspal. Tapi jelas, kebut-kebutan tidak ada fungsinya. Santai sajalah. Toh kalau jatuh yang sakit ya sikut kamu juga. Tidak hanya itu, jalanan juga berpotensi turunkan tingkat kegantenganmu sampai 37%. Matahari pukul satu siang bisa bakar kulitmu pelan-pelan, lalu memicu jerawat, lalu mukamu jadi jelek. Lebih baik pakai perlengkapan standar. Lupakan knalpot brong. Jangan lupa klik helm. Pakai kaus kaki, sarung tangan. Buff.

Juga usahakan tidak mengantuk. Melipir saja ke minimarket, mampir dulu beli kopi dalam kemasan yang bukan diseduh biar tidak ngantuk. Seng penting slamet--kalau kata Mbah.

Di Jalan Bukan Cuman Ada Kamu, Bung

Ada ambulance kau pun menyingkir
Jangan bajingan waktu menyetir
Lebih baik sabar
Daripada bar-bar

Awas ada truk pasir di depan
Jangan dekat-dekat
Tidak perlu nekat

Baiklah, siapa di sini yang kadang terlalu sok jadi Marquez dan suka membalap ibu-ibu bapak-bapak yang kadang masih tegang buat nambah kecepatan di jalan? Jalanan yang kamu lewati bukan Sepang atau Valencia. Memangnya kamu lagi ikut GP?

Tidak perlu banyak petingkah sirkus tong setan. Kalau memang ingin balapan ya pakai lahan punya simbahmu saja. Ini jalanan milik bersama cuy. Apalagi, tingkat kecelakaan kadang dipicu orang-orang nekat. Main terobos. Main hantam. Kendaraanmu bukan 'invisible car'  seperti Mermaid Man dan Bernacle Boy bung. Selow saja kalau lagi jemput untuk kencan,  toh pacarmu juga mungkin masih sisiran.

*Sejatinya, tulisan ini sudah di-edit sedemikan sopan dan halus. Karena Kolaborasik.com - mainan baru Suara Surabaya Media - tempat saya bekerja, menilai tulisan versi awal terlalu kasar dalam pemakaian bahasa. 

Monday, August 14, 2017

Nganggur: A Daily Activities

Sekarang hari-hari saya begitu santai, terlalu santai malah. Jika definisi santai adalah bangun tidur siangan, menolak jadi morning person, lalu melakukan daily activity yang produktif tapi dengan nuansa woles, saya malah lebih dari itu, terlalu santai. Bangun rada sorean, menolak jadi jenis persona apapun, lalu melakukan daily activity non-produktif dengan leha-leha di kasur. Ditambah melupakan mandi pagi, atau kadang sore, dan leluasa untuk ngaplo dan berbuat apa saja. Terlalu santai itu keterlaluan bukan?

Jika lapar saya tinggal ke dapur (yang jarang ada makanan yang berguna karena ibu sendiri masak alakadarnya atau kadang tidak sama sekali), lalu mempersiapkan teflon, membuka kulkas, dan merasa jadi chef sendiri, masak dengan pakai kolor. Lalu saya bayangkan Chef Marinka sedang mengajari saya memasak dari belakang. Oh, men... Tapi ya, mungkin hanya ngelindur saja. Masak apapun dari kulkas terlalu ribet. Selalu ada tahu, tempe, jamur, atau jenis ikan-ikanan yang saya tidak mau menyentuh karena amis. Alhasil karena sudah kelaparan dan orang-orang pada kerja, saya mau tak mau harus sendirian menghasilkan brunch (breakfast lunch!). Mungkin akan makan banyak waktu jika mengolah dari dasar lemari es, akhirnya pilihan lagi-lagi jatuh pada Indomie Goreng. Satu-satunya makanan terbaik di alam semesta, dengan telor dadar tanpa MSG yang saya masak setengah matang. Satu bungkus tidak pernah cukup. Selalu dua. Dan saya adalah tipe-tipe orang yang tidak kudu makan nasi buat syarat.

Mie terus bikin usus melilit (saya kira usus memang sudah melilit dari sononya deh), maka dari itu untuk menyeimbangkan terkadang saya harus menyalakan mesin motor, pergi ke Indomaret. Hanya sesuatu yang instan yang akan kita dapatkan di dalam. Tapi beberapa rombong gorengan atau martabak atau pisang keju selalu nongol di depannya. Jadi saya parkir Indomaret tapi membeli jajanan di luarnya. Hebatnya di sini free parkir jadi saya tidak harus sedia recehan dari rumah. Lalu setelah mengganjal perut tersebut saya selalu bingung harus melakukan apa. Teman-teman sudah pasti kerja. Saya yang beberapa kali akan berkunjung ke rumah teman, Luthfi misalnya, selalu tidak jadi karena dia sibuk. Dia yang belum lulus kuliah sudah mengajar di SMK dekat rumahnya, pulang jam tiga sore, dan kadang mengambil jadwal ekstra, malam sudah terlalu lelah dan tidur pukul sembilan. Sementara Jay, kawan saya yang lain, agak sulit ditemukan kontaknya. Janjian ngopi sedari zaman Orde Baru sampai sekarang tidak pernah terealisasi. Jay pun terkadang juga membantu ibunya berjualan jika malam, dan molor di pagi hari. Sementara itu, golongan bajingan macam Biadab ataupun Keparat (samaran) mungkin sudah melenceng terlalu jauh dari orbit. Mereka doyan mengajak saya having-fun dalam artian sesungguhnya. Tiada hari tanpa botolan. Tiada hari tanpa nongkrong di Gg. Sono (alumni Gg. Dolly kebanyakan sekarang di sini). Saya bukannya menolak kodrat sebagai anak yang tinggal di daerah prostitusi, tapi sedari dulu, keluarga saya sudah dipandang agamis dan terhormat (bapak saya dipanggil kaji di sini), saya tentu berpikir ulang untuk mengiyakan ajakan mereka.

Alhasil, sembari menunggu panggilan dari HRD (saya sudah lolos sebuah tes dengan saya kandidat satu-satunya untuk sebuah newsroom), saya melakukan aktivitas-aktivitas super selow. Kebanyakan aktivitas ini sudah saya rencanakan sejak lama, namun selalu kelupaan atau tidak jadi karena kesibukan tahi kucing saat kuliah ataupun kerja. Ini adalah saatnya balas dendam: hidup sesantai-santainya, melakukan apa yang sedari dulu tertunda. Tentu saja tidak jauh-jauh dengan pop culture yang memang masih jadi hal paling menarik di mata saya sampai detik ini. Ya sambil membunuh rasa-rasa nggateli karena pacar lagi jauh juga.

Menamatkan Seri Game Of Thrones?
Oke baiklah yang ini ternyata berhenti pada eps. 1 season 2, yang itupun masih sampai pertengahan. Saya hanya sempat menamatkan season 1, dan ada banyak keengganan untuk melanjutkan. Tapi beberapa akun Instagram membuat saya penasaran lagi seperti apa kelanjutannya. Apalagi sekarang season 7 sedang on going. Saya sih tidak punya beban sosial apa-apa meskipun masih cupu tentang Game Of Thrones, toh lingkungan pergaulan saya juga seringnya tidak tahu apa itu GoT. Teman-teman saya waktu di Zetizen saja mungkin ya, yang mengamati serial ini. Seperti Mbak Grace, salah satu editor yang sempat menanyakan tentang siapa yang mati di Season 6 lalu. Wah saya Season 2 aja sudah tidak betah, mbak. Apalagi yang bikin saya muak kalau bukan Joffrey yang sok (tapi di spoilernya raja songong ini akhirnya mati juga di season selanjutnya, syukurlah). Saya menghentikan GoT sampai di tengah ya karena ada King Joffrey ini, pusing melihatnya. Sementara agak sedikit ketar-ketir juga dengan jagoan saya dari awal Arya Stark yang bisa saja tiba-tiba dipenggal seperti bapaknya. Ah tapi sudahlah, tidak perlu dipaksakan nonton. Buat yang senasib dengan saya, ditambah dengan dilema sosial karena takut dianggap cupu di pergaulan, bisa baca tips dari VICE berikut.

Meneruskan Silicon Valley
Alhasil saya memilih menonton serial lain yang memang sudah saya ikuti sejak awal. Jika Breaking Bad sudah kelar dan tamat sampai Season 5 dan saya sedih mampus menonton episode terakhirnya, maka Silicon Valley ini statusnya masih on-going. Saya belum tahu apakah ada episode lagi setelah Eps. 10 (sepertinya sih sudah usai). Silicon Valley kali ini sudah sampai Season 4. Serial ini sudah saya tonton semenjak SMA dan mungkin serial kedua favorit saya setelah Breaking Bad. Silicon Valley adalah kisah tentang startup bernama Pied Piper, yang di dalamnya berisi CEO Richard Hendriks, bersama programmer andalan Dinesh yang berasal dari Pakistan dan selalu bertingkah amat norak, dan Gillfoyle, jenius penyembah setan yang punya tato salib terbalik di tubuhnya. Ditemani oleh orang pemasaran, Jared, yang bertingkah bak seorang nerd yang selalu mengusahakan agar semuanya lurus. Dan bajingan tengik pemilik saham dan tukang lobby bernama Erlich Bachman. Ditambah seorang asal China yang bermuka dan berperilaku menyebalkan bernama Jian-Yang, yang tidak lain adalah mantan pembantu Erlich. Mereka semua berkumpul dalam satu rumah, di mana selalu ada saja masalah bagi Pied Piper. Silicon Valley adalah cerita tentang bagaimana mereka mengatasi semua masalah itu, demi membuat Pied Piper menjadi perusahaan bernilai milyaran dollar. Dengan kumpulan karakter macam itu, tentu saja akan terjadi banyak hal tolol, dengan dialog-dialog yang sarkastis, misoginis dan kadang rasis. Serta adanya twist yang membelokkan plot secara tidak terduga. Di Season 4 ini Pied Piper harus menghadapi tantangan baru, di mana arah Richard benar-benar berubah. Masih diselingi dengan antagonis lama semisal Gavin Belson, juga Laurie, bos dari Raviga. Dan... sebelum saya semakin doyan untuk cerewet dan membocorkan spoiler, ada baiknya kalian lihat sendiri saja. Hehe.




Terjebak Di YouTube dan Menjadi Receh
Berikut daftar yang saya tonton:
- Mukbang Indomie
Ini adalah hal paling tidak penting dalam nganggur saya: melihat mukbang, atau orang lagi makan dengan porsi besar, menantang dirinya sendiri untuk menghabiskannya, sambil cerewet depan kamera. Tapi entah kenapa, saya hanya gemar nonton yang Indomie saja. Mukbang Challenge Indomie ini ternyata tidak hanya ada di Indonesia, tapi banyak juga di luaran sana. Orang Amerika yang saya tonton kemarin makan lima bungkus sekaligus, ada juga yang sampai enam. Tapi masih kalah sih dengan Indonesia yang makan lima belas bungkus sekaligus. Nekat amat. Tapi sebagai penggemar mie produksi Indofood ini, melihat orang menyuapkan Indomie ke mulutnya secara rakus dan cepat (pakai sumpit!) membuat ngiler jadi berlipat-lipat. Terkadang di waktu menjelang subuh dan perut saya kembali lapar, melihat Mukbang beginian membuat saya ingin nekat saja ke dapur dan menjereng air. Tapi tidak jadi karena diwanti-wanti ibuk untuk tidak bikin Indomie tiap hari. Jadilah saya ngiler-ngiler sendiri, dan saat rumah sepi, melakukan aksi balas dendam itu. Ya semoga saja saya tidak gendut. Masih 65 kilo. Aman.


Bajingan!
- Lifehack
Ya, masih bermanfaat melihat yang beginian. Kebanyakan memang memanfaatkan barang yang sudah ada untuk memudahkan suatu pekerjaan. Ada lifehack yang sulit dipraktekkan, misal membuat sound system dengan kaleng bekas. Ada juga yang mudah, lifehack balon untuk kondom hape, misalnya. Ada banyak channel bagus, baik luar ataupun lokal yang memberi lifehack-lifehack keren. Tapi hati-hati terjebak di hal-hal receh, seperti lifehack tisu, sebagai pembatas buku. Semua orang sudah tahu lah yang begitu. Salah satu yang bagus adalah Channel Mr. Grue. Channel lokal dan sangat kreatif dalam mengolah benda-benda. Gampang ditiru dan tidak sulit-sulit amat. Setidaknya nganggur saya tidak melulu menonton hal yang tidak berfaedah.
- Cak Nun
Saya tidak pernah nemu ustad, atau tukang ceramah, atau kyai, atau apapun itu namanya yang sreg di hati. Apalagi Armand Maulana yang sempat ceramah kultum jelang buka puasa di NET. Apalagi Ustad Maulana (situ ustad?). Atau Mamah Dedeh ataupun Mamah-mamah yang ceramah di acaranya Uya Kuya yang selalu jeleknya amit-amit itu. Tapi Cak Nun beda. Spirit kebudayaannya terasa. Tidak mendorong umat untuk mengikuti arab, atau pakai jihad taruhan nyawa segala. Orangnya tetap orang Jawa, nggak lali jowone. Apalagi keluarga saya juga NU, dan mbah-mbah buyut juga ada yang beragama Jawa, jadi saya merasa sreg dan pas. Toleransinya, kemudian logikanya, hanya Cak Nun yang bisa saya pahami dan terima. Cak Nun tidak sama sekali mengajarkan kebencian. Atau harus memusuhi orang yang berbeda. Cak Nun malah menyuruh kita berpikir terbuka, kritis, tidak kaku. Beragama, menurut Cak Nun, baiknya harus menyentuh sisi sosial dan psikologi. Bukan sisi surga-neraka tok. Intinya adalah rahmatan lil 'alamin. Cak Nun, menurut hemat saya bahkan lebih teduh dan enak didengar, dibanding adu pintar ala Zakir Naik. 
- Tutorial Masak
Weits, ketahuan deh saya sedang cari ide untuk mengolah makanan di kulkas. Biar tidak Indomie melulu. Sejauh ini saya sudah paham cara masak tahu bulat dan tempe krispi, tinggal menunggu wahyu berupa kemauan ini datang saja untuk bisa memasaknya. Eh tapi resep Indomie Pizza-nya boleh juga tuh buat dicoba.


Telur ceplok bersama Chef Marinka
Penyakit Kambuhan: Unduh Illegal
Isi dompet sedang kering, nganggur pula, tidak ada pemasukan, sementara banyak album bagus di luaran sana baru rilis. Betapa menyedihkannya. Tapi, sungguh, maafkan saya. Dengan sedikit keyword dan menjelajahi mesin pencari, album itu sudah bisa didengarkan, dengan MP3 320 pula. Tidak jauh beda dengan CD-nya. Hm. Tapi membajak tentu saja tetap salah. Maafkan saya. Saya hanya ingin preview lagunya saja. Eh tapi, jadi keterusan. Sialan. Tidak hanya album bagus terbaru yang rilis, beberapa album lama yang luarbiasa bagus juga menarik untuk dikulik. Brengsek, setelah mendapat album-album legenda tersebut, saya kemudian malah tertarik mengunduh album-album obscure super underrated, yang bahkan masih jarang yang mendengarkan. Dan, band-band shoegaze seperti My Bloody Valentine-lah yang membuat saya benar-benar terobsesi. Saya bolak-balik mengunduh album Loveless, di berbagai situs, mencari kualitas sound terbak. Bahkan sekarang saya punya tiga album Loveless; rilisan pertama, rilisan kedua versi remastered, dan rilisan final versi remastered. Lagunya sama saja: dibuka oleh Only Shallow ditutup oleh Soon. Asal tahu saja, My Bloody Valentine merilis debut pertamanya Loveless di tahun 1991, dan album keduanya bertajuk MBV di tahun 2013. Betapa diperlukan jarak sampai 20 tahun lamanya, bagi empunya band ini, Kevin Shields (alaihisalam), untuk berperang dengan writers block, dan menghasilkan karya paripurna. Tapi memang anjing sekali, semua track punya daya bius. Inilah kekuatan indie pop dicampur post rock dicampur zat-zat adiktif, noise, depresi, kesedihan, kekalutan, dan lain sebagainya. Inilah apa yang disebut shoegaze (dengan turunan baru bernama Blackgaze, black metal plus shoegaze, yang dipopulerkan oleh band metal idola saya, Deafheaven). Inilah musik yang membuat saya merasa tidak sekarat sendirian. My Bloody Valentine kemudian membuat saya terus menggali, sampai dasar, di mana saya menemukan banyak sekali mini album mereka, single-single yang tercecer, dan instrumentalia gila dengan semburan gitar fuzz dan berat dari Shields. Kurang ajar. Percaya atau tidak, saya bahkan nemu album band ini sedang berkolaborasi dengan jenius gila macam Thom Yorke! Tentu saja saya mungkin tidak akan pernah paham indahnya racikan sound mereka karena jelas kapasitas otak saya masih belum mencapai spiritualitas itu. Hanya saja karena memang benar-benar terobesesi, ya mau bagaimana lagi. Satu-satunya band yang dapat menyamai obsesi saya terhadap My Bloody Valentine adalah Sonic Youth. Dan desahan Kim Gordon tahun 1989. 

Saya juga mengunduh semua album indie lokalyang baru-baru saja rilis walaupun kebanyakan langsung saya buang setelah sekali dengar. Contoh: eleventwelf, Fourtwenty, Senar Senja, dan band-band yang super kacangan lainnya. Kacrutnya minta ampun. Mending dengar Asal Kau Bahagia dari The Bagindas saja. Tapi ada juga yang bagus, seperti Gaung misalnya. Selain itu ada pula band-band lain yang bikin penasaran tapi tidak sampai atau belum membuat saya terobsesi untuk download. Solusinya: ada Spotify yang walaupun kita tidak punya musik dalam file penyimpanan, setidaknya sebagai preview bagus atau tidaknya. Kalau bagus, kudu punya albumnya fisik, atau minimal MP3-nya. Huhuhehe.

Baca Ulang Sastrawan Sableng Indonesia
Diantaranya Yusi Avianto Pareanom, Sabda Armandio dan Dea Anugrah. Saya kok merasa mereka bertiga punya kemiripan: ceritanya sama-sama ngawur dan nyeleneh, tapi diceritakan dengan teknik luwes dan kadang lempeng, tapi bikin misuh-misuh karena banyak punch-line yang aduhai. Sungguh biadab.

Terakhir, Mampir Yuk Ke Bitterhear!
Proyek blog fiksi saya akhirnya terealisasi. Dengan alamat bitterhear.wordpress.com, setidaknya saya bisa benar-benar menumpahkan seluruh energi cerita super kacau saya dalam satu tempat khusus. Konsep Bitterhear sendiri adalah tanpa konsep, peduli setan. Saya hanya mau bercerita. Atau bolehlah dibilang fiksi murahan atau pulp fiction. Di sini akan banyak ditemui cerita-cerita pendek yang murahan, receh, dan mungkin pantas dimasukkan lubang pantat penghuni neraka paling bawah. Jika musik, mungkin ini bisa diibaratkan punk yang seperti GG Allin. Rusuh, dan tidak teratur. Terserah saja. Intinya, jangan bosan buat berkunjung, dan lalu caci maki saya karena ini kemungkinan besar akan sering update. Hehe. Bitterhear tidak memberi kalian faedah atau nilai moral apapun, tapi setidaknya saya senang karena bisa berbagi isi otak fiksi saya, alter ego menyebalkan saya, dalam blog ini. Mampir ya!

Saya juga sedang menggodok konsep Bitterhear Podcast (radio internet), berisi siaran rekaman suara tidak penting saya menyuarakan uneg-uneg. Kemungkinan besar akan mengudara di Soundcloud setelah benar-benar terkonsep. 

Hm oke deh, ada usul aktivitas lain?

Tuesday, June 20, 2017

Tadarus Breaking Bad, Takjil Barefood dan Menu Buka Puasa Menyenangkan Lainnya


Berpuasa di rumah adalah seperti kutukan: mata baru bisa merem, lalu suara-suara berisik dari bocah-bocah TPQ membuat saya melek lagi. Kadang di pukul tiga sore, puasa menjadi neraka. Menyiksa dan saya pun tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang bisa diperbuat jika jarak Musola dan kamar saya hanya dibatasi tembok? Bahkan letak bantal saya persis di samping microfon yang digunakan untuk adzan dan aktivitas koar-koar lain termasuk pengajian Malam Jumat dan tadarus saat puasa. Bukan saya menghina agama atau apapunlah—saya tidak ada sedikitpun tendensi itu, dan bila ada kalian yang tersinggung dan masih terbawa-bawa urusan Ahok, go to hell, membusuklah di neraka, saya tidak peduli dan hanya menyampai uneg-uneg yang ngeganjel ini saja. Sebenarnya saya tidak pernah ada masalah dengan aktivitas apapun di Musola itu, selama itu digunakan pure untuk ibadah dan tidak menganggu orang lain. Pure untuk ibadah berarti tidak bertujuan untuk pamer ataupun menunjukkan identitas sebagai umat yang taat. Tidak mengganggu orang lain itu cukuplah bila ada aktivitas ibadah menggunakan sound system, seyogyanya volume speaker diatur agar tidak terlalu keras—atau mungkin tidak usah memakai speaker toa langgar yang amat keras itu. Atau bila memang keras, saya berharap para pemburu surga dan keutamaan di balik bau mulut orang puasa—anak-anak TPQ itu—bisa sedikit lebih santailah jika ngaji. Saya tahu semua orang berhak membaca kitab suci, baik sudah kelas kakap ataupun medioker sekalipun. Tapi ya tuhan, Ya Allah, Ya Allah, Tuhan YME, selama beberapa hari puasa ini entah mengapa yang mengaji di sebelah rumah sungguh sangat tidak bisa menentramkan hati. Mereka mengaji dengan asal-asalan, kadang ada cekikik-cekikik busuk, lalu bercanda internal yang sungguh, seperti semua orang sekampung harus tahu saja. Mengaji pun seperti orang teriak-teriak, keras sekali, seperti orang lain yang mendengarnya tidak punya aktivitas lain saja selain mendengarkan mereka. Bagaimana bila Mbah saya sedang mendengarkan tauziah di televisi, yang karena suara ampun-ampunan mereka, jadi tidak bisa dengar. Bagaimana bila Ibuk menyuruh saya membeli terang bulan dan sop buah untuk berbuka, sampai harus teriak-teriak dan saya masih tidak mendengarkan karena gaduhnya suara ngaji di sebelah. Saya berharap mereka bisa lebih sopan saat mengaji, lebih memelankan suara (kalau bisa volume dikecilkan, kalau tidak bisa ya minimal lebih kalemlah). Saya pernah sekali waktu mendengar suara orang mengaji di sebelah, suaranya lembut dan sopan, menghayati setiap bacaan, tidak tergopoh-gopoh segera usai. Ini nyaman, tidak berisik dan saya masih bisa mendengarkan sekitar. Lah bocah-bocah TPQ yang kebanyakan tetangga saya yang berusia puber ini, malah menjerit-jerit tidak karuan membawakan ayat-ayat Allah. Sebagai seseorang yang kamarnya berada persis sebelah mikrofon, kadang saya ingin mengingatkan, tapi siapalah saya, saya kadang merasa serba salah sendiri. Padahal tetangga Musola lain yang juga berada persis adalah orang Nasrani. Saya tidak tahu apa hukumnya orang yang mengaji dengan toa sedemikian berisik dan mengganggunya. Mungkin MUI atau FPI bisa bantu menjawab, atau bisa juga menuduh saya komunis bangsat liberal kafir pendukung Ahok karena saya seperti anti dengan ngaji. Terserah. Saya tidak peduli. bila kalian cerdas mungkin kalian bisa melihat bahwa saya tidak anti ritual ibadah, yang saya tekankan adalah apakah proses ibadah itu menganggu orang lain atau tidak. Benar kata antah-berantah yang banyak dikutip orang yang sudah muak akan cap-cap kafir dangkal dari sekitar: agama itu seperti kontol, kamu punya sembunyikan saja, nggak perlu dipamerkan ke orang lain, siapa pula yang tidak terganggu kalau kamu pamer jembutmu ke muka orang.

Baiklah, lepas dari uneg-uneg Ramadhan tersebut, dan saya yang masih mengumpulkan cara menegur yang baik agar tidak ada yang salah sangka, lebih baik saya menghibur diri kembali sambil ngabuburit menunggu datangnya adzan Maghrib. Puasa akhir-akhir ini memang lumayan cepat. Saya jarang tidur malam hari sampai sahur, dan baru tidur pagi sampai agak siang, kemudian bangun, menunggu berbuka sambil memasrahkan diri pada layar tua, menonton serial, film atau apapun. Setelah itu terkadang saya memasrahkan pada speaker rumah; mencolokkan pemutar musik dan menghibur diri sendiri dari lapar dan dahaga, untuk kemudian kembali ngaplo di pukul tiga sore sampai dua jam kemudian karena gangguan dari akhwat-akhwat TPQ yang tidak tahu aturan tersebut. Di sela ngaplo saya kembali membuka-baca koleksi baru, atau juga lama. Berupa buku-buku baru yang menurut saya bagus, buku-buku lama yang tidak bosan diulang, juga koleksi majalah-majalah rare dan langka yang baru saya dapatkan akhir-akhir ini, tak lupa suntikan kebengalan dari zine-zine baik baru maupun lama. Berikut beberapa yang saya konsumsi: tadarus, takjil dan buka puasa saya selama bulan puasa tahun ini.

Breaking Bad Season 1-5
Serial TV yang katanya terbaik sepanjang masa. Rolling Stone sempat membahasnya di Editor Playlist dan itu langsung mengganggu rasa penasaran saya selama bertahun-tahun. Premisnya seperti ini: seorang guru kimia yang didiagnosa mempunyai kanker dan akhirnya memutuskan terjun dalam bisnis narkoba demi mengumpulkan uang untuk keluarganya saat dia meninggal nanti. Serial ini sudah tayang di AMC sejak 2008, hanya saja saya baru benar-benar punya waktu untuk melihatnya kali ini. Hati-hati, Breaking Bad tiap episodenya selalu membawa hal-hal yang tidak terduga, dan kita akan kecanduan untuk terus menontonnya sampai akhir. Daya tahan saya masih bisa sampai Season 3, dan kadang harus menyerah karena satu Season punya kira-kira 13 episode dengan durasi hampir 50 menitan. Serial yang membuat dag-dig-dug tidak karuan ini tiap seasonnya semakin memuncak dan membawa pada masalah yang semakin kompleks—dan kalian harus tahu bahwa ipar Mr. Walter White, si guru yang bisnis narkoba, adalah anggota DEA alias polisi yang mengurusi masalah narkoba. Betapa repot menyembunyikan semuanya. Salah satu yang sangat memorable adalah saat White dan partner bodoh yang juga merupakan bekas muridnya, Jesse Pinkman, memproduksi meth berjumlah besar-besaran di gurun pasir. Banyak adegan tolol di situ (Season 2 Eps. 9) yang saya rasa seperti komedi getir Tarantino di mana kita akan merasa miris dan tertawa di saat bersamaan. Sebelum Breaking Bad saya sempat menonton Game Of Thrones namun hanya kuat sampai Season 1. Entah kenapa serial ini walaupun bagus dan membuat penasaran, tidak membuat saya cukup sreg untuk melanjutkannya ke Season 2 (sekarang di HBO akan segera premiere Season 7). Terlalu memusingkan dan banyak intrik. Atau latar jaman kerajaan mungkin saya tidak terlalu suka, mengingat selera saya cenderung tontonan yang punya muatan latar American Lifestyle era 90’s atau 20’s. Selain GoT saya juga sempat menonton The Walking Dead, namun hanya kuat sampai Season 1 juga dan tidak ada niatan lanjut. Serial ini tidak seram-seram amat, namun saya rasa ketegangan yang ditampilkan di Walking Dead amat sangat gelap dan suram sampai-sampai saya merinding-merinding sendiri. Selain itu, True Detective juga sempat saya tonton, ini cuma hanya sampai pada Episode 1 Season 1 saja. Entahlah, terlalu memusingkan dan saya kurang tertarik. Yang terakhir adalah serial Netflix yang tersohor dan sedang hits akhir-akhir ini Thirteen Reasons Why. Saya sempat menonton dan lumayan menarik. Tapi di Episode 2, saya kok mulai bosan, dan arah cerita tidak bisa saya mengerti—kadang terlalu bertele-tele. Saya juga tidak tahu mengapa serial seperti ini bisa jadi sangat hits: semacam serial remaja yang berkisah tentang perempuan bunuh diri dan salah seorang teman (juga teman main seks-nya), berusaha mencari tahu alasannya lewat mixtape. Mungkin selain Breaking Bad, serial yang saya ikuti dan masih betah menonton adalah Silicon Valley, yang Season 4-nya sudah tayang di HBO musim ini. Breaking Bad sendiri juga memunculkan satu tokoh pengacara yang akhirnya dibuatkan spin-off serial sendiri yakni Saul Goodman. Saya berencana menonton serial bertajuk Better Call Saul tersebut setelah menuntaskan Breaking Bad ini. Kurang 2 Season lagi, saya harap kelar sebelum Lebaran.


Barefood – Sullen (EP 2013), Barefood (EP 2014), Milkbox (LP 2017)
Menyimak duo collage rock asal Jakarta ini membuat kuping saya digempur distorsi 90-an setiap hari. Dua EP, Sullen dan Barefood, juga satu debut full length album Milkbox yang baru saja rilis tahun ini, adalah jawaban yang tepat jika ada yang bertanya seperti apakah musik rock yang easy listening tapi tetap gagah dan tidak banci itu. Rio Tantomo sempat menuliskan romantika menonton konser Barefood yang dilarang untuk menyulut rokok; menampilkan Barefood sebagai band rock lurus nan pendiam di mana anak-anak cupu dan culun, berkacamata dan kutubuku di kampus atau sekolah akhirnya punya penyaluran yang satu visi dan bisa moshing. Dari ketiga album itu, saya memfavoritkan Sullen yang dirilis tahun 2013. Dibuka oleh “Perfect Colour” yang renyah dan manis, serta punya sisi getir tersendiri yang sukar dijelaskan. Bagi yang belum pernah mendengar Barefood, “Perfect Colour” adalah pintu gerbang yang tepat. Semua orang akan menyukai lagu ini, termasuk yang masih awam alternative rock sekalipun. Seperti kata Devi Ardian, kritikus musik spesialis Chainsmoker dan Nia Daniati ini, saat saya memberi dengar lagu ini. “Lagu kaya gini enak didengerin makai headset!” Sayangnya, dia tidak punya headset dan saya ogah meminjami. Tidak hanya “Perfect Colour,” Sullen juga punya track lain yang tidak kalah legit. Sebut saja “Grey Skies” yang sangat melodius, “Teenage Daydream” yang bersemangat, dan “Sullen” yang menampilkan vokal perempuan malu-malu tapi cukup renyah dan catchy, cukup nyaman dan enteng. Untuk album Milkbox sendiri, deretan-dereran track matang siap menggempur telinga. Milkbox menjadi album Barefood yang mendewasa. Saya memfavoritkan track nomor 7, “Sugar” dengan sound gitar ala Kevin Shields, semacam eksplorasi ke arah shoegaze yang soft dan muram pekat. Tipikal My Bloody Valentine. Selebihnya semuanya bagus, walaupun sebaik-baik Barefood tetaplah Sullen.


Rumahsakit – 1+2
Mencintai Rumahsakit dengan segala kuranglebihnya—di album ini kekurangannya (atau justru daya tariknya?) ada pada vokal Andri Lemes yang masih tetap... lemes. Siapapun menyukai Rumahsakit dengan Arief (kalau tidak salah) sebagai vokalis baru yang barusan meluncurkan album Timeless. Saya juga suka sih. Suaranya bagus. Cuman lebih suka corak vokal monoton dan malas dari Andri. Bila menyimak album Rumahsakit rilisan lampau, era 90-an, suaranya malah makin kacau meski musiknya tetap indah (hanya saja saya download mp3-nya dengan kualitas lo-fi nan mengecewakan). Ada sebuah pendapat bahwa hanya segelintir orang yang kenal Rumahsakit, dan mereka betul-betul fanatik. Saya mungkin salah satunya. Jika tidak kenal Rumahsakit, sebaiknya ya begitu saja tidak perlu memaksa. Tapi jika ingin kenal, mungkin akan ada dua tipe manusia setelah mendengarkan Rumahsakit era Lemes, khususnya di album 1+2 ini: merasa aneh dan tergila-gila sekali, dan yang kedua mengatakannya sebagai musik lempeng, aneh dan tidak punya daya seni—mengutip pendapat Tri Nanang Budi Santoso, sobat kepompong saya saat saya pamerkan lagu “Hilang.” Sambil mengata-ngatai dengan sembrono bahwa selera saya nggak mbois, tidak punya sense of music atau apalah—enak saja. Saya mencintai Rumahsakit secara tidak sengaja saat memutar lagu “Hilang” di YouTube, yang itu juga secara tidak sengaja pula. Nama band ini adalah nama yang mungkin paling unik dalam jagad musik tanah air; lebih menegaskan keabsurdan ketimbang katakanlah GiGi, atau Padi. Rumahsakit, saya ingin sekali terbahak saat mendengar namanya. Nyatanya lagu “Hilang” yang saya dengarkan membuat saya terus-terusan meratap di depan speaker: indah sekali, tuhan. Intro yang menyayat, dan terkesan sok keren, membius dengan gaya vokal paling ngehek; perpaduan yang memukau dan menghasilkan musik yang begitu bagus dan jujur. Gila. Rumahsakit bagi sebagian orang dianggap nabi (simak SFTC band ini di YouTube). Bahkan meskipun sudah berganti dengan vokalis yang sangat merdu dan bisa bernyanyi, tetat saja orang-orang merindukan Rumahsakit dengan Lemes sebagai vokalis. “Kuning”, membuat kita seolah merasakan hamparan mentari di kening, “Bernyanyi Menunggu”, mengusik naluri kejantanan dengan musik adem ayem, “Pop Kinetik”, yang absurd dan bernada jenaka, “Mati Suri” yang gurih, “Anomali” yang mungkin merupakan suguhan terbaik pada musik pop Indonesia, dan “Sakit Sendiri” yang menyayat dan kosong. FYI, saya sering mengentikan guyuran gayung, atau aktivitas menggosok gigi di pagi hari, saat intro lagu “Hilang” berkumandang dari sound murahan`di kamar. Bukan apa-apa, keindahan itu sayang sekali untuk diacuhkan.


Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie – Semua Ikan Di Langit (2017)
Ziggy meramu sebuah keabsurdan tingkat dewa menjadi fiksi yang manis, tanpa adanya konflik bertele-tele atau ending yang menendang kepala. Novel pemenang juara 1 sayembara Dewan Kesenian Jakarta, sekaligus mungkin juara 2 dan 3 karena pihak juri sengaja tidak memberikan juara untuk urutan 2 dan 3 dengan alasan perbedaan kualitas yang jauh. Semua Ikan Di Langit memang bagus, dari segi gagasan juga tokoh-tokoh yang dimainkan. Mungkin jika ini film bisa dapat nilai 9,8 dari Rotten Tomatoes. Bayangkan tokoh utama novel ini adalah bus. Benar, bus Damri jelek yang biasa kalian jumpai di Bungurasih ataupun—dalam latar novel ini entah saya lupa tepatnya terminal apa. Bus ini secara ajaib berkendara di langit, dengan ikan julung-julung ajaib yang dikendalikan oleh sosok bernama Beliau. Sulit menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya karena alurnya benar-benar tidak tertebak, keluar dari batas kewarasan dan imajinasi. Ada pemikiran bahwa ini merujuk pada kisah Tuhan dan malaikat, dan proses penciptaan dunia. Tapi Ziggy—benar-benar—mengisahkannya secara ajaib dan absurd, tidak sakral dan sama seperti gaya penceritaan anak kecil lugu yang tidak tahu apa-apa di Di Tanah Lada (2013). Ada balutan ilustrasi epik karya Ziggy sendiri yang juga menambah nilai lebih di sekujur tubuh buku ini. Ada kutipan-kutipan haru yang jujur cukup absurd karena diucapkan oleh bus. Bila perasaan kita sudah terasah, atau sudah mempelajari teori semiotika, kita akan segera tahu pesan halus yang disampaikan Ziggy dalam adegan-adegan yang meloncat-loncat, dari situasi perang sampai toko roti di belahan dunia lainnya. Ziggy melemparkan kritik dan pesan tidak dengan gaya keras, tidak pula lembut romantis. Ia menyampaikannya dengan gaya ketidakjelasan yang sebenarnya cukup jelas bila kita mengerti maksudnya. Saya penasaran akan naskah-naskah yang tersodor di meja juri DKJ: seburuk itukah sampai hanya Ziggy yang memperoleh juara 1—dengan juara 2 dan 3 yang kosong, selebihnya diisi juara harapan? Mungkin dari semua puja-puji di atas, saya belum menemukan satu titik cela lagi: ini sastra ringan yang sebenarnya cukup berat. Ini sastra dengan pembahasan paling liar dan fantastis yang pernah saya baca. Cukup berbobot dan tinggi. Mungkin Semua Ikan Di Langit bisa dibayangkan sebagai cerita-cerita Disney; sama seperti itu dan hanya saja ini jauh lebih berbobot dan melampaui imajinasi manusia manapun. Karya Ziggy yang sepertinya sedang main-main tapi ia sangat serius melakukan main-main itu. Mungkin Wening Gitomartoyo dari Rolling Stone Indonesia berpikiran serupa saat mengulas Ziggy—yang oleh majalah ini menerima Editor Choice Awards tahun ini kategori The Phenomenal


Sabda Armandio – 24 Jam Bersama Gaspar (2017)
Dio adalah juara harapan 3 dari Sayembara Novel DKJ. Jujur, saya lebih menikmati membaca ini dibanding Semua Ikan Di Langit—meski memang tidak bisa membandingkannya karena Semua Ikan memang punya gagasan yang cukup fantastis. Novel Dio yang kedua seteleh Kamu (yang sudah lama saya ingin membacanya tetapi tidak pernah ada di toko buku ini) membawa cerita detektif yang mengejek detektif itu sendiri, menurut keterangannya. Tapi saya akan bilang bahwa novel ini lebih ke arah kriminal. Detektif tidak dikenal itu hanya melakukan dialog penyelidikan yang selalu ada di bagian tiap bab. Tokoh sentral dalam novel ini adalah Gaspar, yang sejak awal digambarkan sebagai bajingan yang akan merampok kotak hitam di sebuah toko emas. Upaya Gaspar ini secara kebetulan membuatnya mendapatkan partner merampok: saya lupa tokohnya satu-persatu. Kalian pernah membaca novel 5cm sebelum ia jadi ngehip karena dibuat filmnya? Novel terbaik versi Goodreads itu membawa banyak sekali tokoh dalam novelnya. Apakah kalian kebingungan membedakan dan menghafal tokoh ini dan itu, Arial dan Zafran misalnya. Meski Donijantoro meramunya pelan-pelan, tapi entah kenapa saya sulit sekali untuk melakukan pendekatan dengan imajinasi. Untung saja tertolong filmnya—yang juga masih jelek pula. Tapi Dio berhasil membuat pembaca hanya perlu membaca tanpa perlu membolak-balik halaman awal demi mengingat sang tokoh. Karakternya kuat, ada pembeda dan seolah kita mengenalnya. Yang hebat lagi adalah, kita bisa tahu karakter tersebut dan hafal walaupun mereka menggunakan nama samaran. Begitulah Dio. Saya tidak tahu dan tidak penting untuk tahu apakah isi kotak hitam tersebut. Memang bukan itu tujuan penulis. Saya mungkin akan membacanya lagi untuk menemukan hal itu. Tapi yang menarik dan saya fokuskan adalah, kecerewetan Gaspar sebagai tokoh aku, yang cukup komunikatif dan memakai banyak pendekatan budaya pop dalam novelnya. Ada ciri seorang geek-nerd yang tidak memaksakan memakai pendekatan ini. Cerpenis dan novelis Hami Badjingan (nama samaran) sempat berkata bahwa ia juga seperti itu dalam sebuah percakapan tapi saya hampir muntah mendengarnya. Hanya Dio yang bisa seperti itu. Saya ulangi, hanya orang tengil yang benar-benar tengil yang bisa seperti itu. Bukan yang sok tengil.

Taufiq Rahman - Pop Kosong Berbunyi Nyaring (2017)
Dalam buku ini akan dijumpai 19 hal yang tidak perlu diketahui tentang musik. Taufiq sebagai hipster sejati menuliskan grup musik, album, dan lagu-lagu underrated alias di bawah radar yang tidak banyak diketahui dan disukai orang. Menarik membaca esai-esai di buku ini, menghubungkan pengalaman pribadi penulis atau fenomena sosial, dengan musik. Secara mengejutkan, Chris Cornell vokalis Soundgarden ditemukan meninggal beberap bulan setelah buku yang memuat esai tentangnya di halaman depan ini dirilis. Membuat saya yang buta grunge selain Nirvana dan Pearl Jam (serta Ello Tahitoe jika dia layak disebut grunge), langsung mengonsumsi Soundgarden saat itu juga. Juga banyak artis yang saya tidak pernah tahu seperti Brian Eno atau Minutemen atau bahkan Bandempo (!) Ada banyak informasi yang tidak perlu diketahui namun amat menarik bila kita tahu. UKM penerbitan buku Elevation Books milik Taufiq Sepertinya akan konstan mengisi rak buku saya dengan buku-buku musik yang jarang ada di Indonesia. Saya menunggu rilisan-rilisan selanjutnya. Rock and Roll tidak hanya menyenangkan untuk didengarkan, tapi juga untuk dibaca.

Playboy Indonesia Edisi Januari 2007
Singkat cerita di suatu siang yang terik di bulan puasa, saya memutuskan mampir ke Jl. Semarang untuk berburu harta karun: majalah dan buku bekas. Tapi kenyataannya saya seringkali kesini dengan tangan kosong. Saya tidak tahu lagi harus ke mana saat tiba-tiba terpikir bahwa jarak Blauran dengan Jl. Semarang tidaklah terlalu jauh. Saya iseng mampir meski parkir bangsat 3000 rupiah. Ternyata benar adanya: satu Playboy Indonesia saya memang didapat dari Jl. Semarang, juga Rolling Stone Indonesia edisi pertama yang oleh penjualnya ditaruh sembarangan sebagai tadah hujan—sialan—tetapi di Blauran saya selalu menemukan harta karun: dua Playboy Indonesia saya dapat di sini, juga beberapa Rolling Stone, juga selusin National Geographic Indonesia. Lokasi perburuan saya pun berpindah ke Pasar Blauran. Saya sempat bertemu dengan Rafika, jurnalis senior Zetizen di tempat ini. “Aku nemu harta karun,” pamer saya padanya. Rafika yang waktu itu sedang bersama ibundanya penasaran. “Mana lihat?” saya langsung menyeretnya ke tempat agak jauh, membuka tas, dan “astaghfirullahalaziim, mas....” ujar Rafika. Saya terkekeh dan tidak peduli stereotip orang akan Playboy. Ini bagi saya adalah majalah terbaik dan paling memuaskan yang pernah saya baca, lepas dari foto nude-nya. Playboy membuat saya klimaks berulang kali tanpa bosan membacanya; feature yang jempolan, gaya bahasa yang sok songong dan sengak tapi saya suka (khususnya di Playboy Advice). Satu lagi, Playboy punya sikap yang jarang dipunyai media lain. Saya berharap Playboy Indonesia hadir kembali, dengan Pemred Erwin Arnada, penulis Alfred Pasifico, Soleh Solihun dan Arian Arifin Wardiman. Cerpen-cerpen yang dilempar juga sarat akan mutu. Cukup kenyang dan puas, setidaknya sudah mendapat tiga edisi. Kurang tujuh lagi dan saya mungkin akan bahagia. Khususnya edisi perdana dengan cover Andhara Early dan Playmate Kartika. Saya penasaran, sungguh.

Monday, June 19, 2017

So Long, My Friends


Tidak sengaja menemukan draft sialan yang ditulis kisaran tahun 2014 ini saat bongkar-bongkar arsip. Isinya tentang kawan-kawan saya yang dulu sempat 'hilang'. Daripada nganggur mending saya posting pure tanpa editan—jadi maaf kalau isinya rada ngehe.

Kalian bukan aktivis kampus yang kerjaanya demo melawan pemerintah dan kemudian hilang secara misterius. Kalian cuman aktivis warung kopi yang hobi ngoceh berjam-jam disambi main skak. Kalian bukan kader laskar fentung yang pas pemilu nyoblos PKS dan sekarang jadi hilang ikutan ISIS. Kalian cuman simpatisan Raisa yang gemar nonton JAV rame-rame di kamar kosan dan setelah itu ngantri kamar mandi untuk ehem-ehem lalu keramas. Kalian juga bukan pemuda yang hilang ditelan keganasan putus cinta, untuk kemudian mengasingkan diri di sesepi-sepinya tempat dan mempertimbangkan obat nyamuk cair untuk meghilangkan nyawa. Kalan cuman pengemis cinta yang baru lepas dari kejombloan tapi sudah sok belagu ngutip syair-syair Bang Kahlil Gibran.

Kalian, teman-temanku. Kawan-kawanku. Sobat-sobatku. Mas-masku. Dulur-dulurku. Jancok-jancokku. Yang dulu sempat hidup bersama saya di kerasnya kota rantau, meratapi nasib bersama, galau bersama, berbuat dosa bersama, dan segala hal yang membuat saya belajar banyak akan arti sebuah kebersamaan. Kalian—yang beberapa diantaranya masih sering kontak-kontakan, beberapa diantaranya sudah menghilang dan seolah pindah ke bulan karena tak pernah ada kabar—adalah bagian dari hidup saya. Walaupun entah kapan kita bisa bertemu dan merayakan reuni, tapi setidaknya lewat tulisan ini kita sudah membuat memoar, tentang betapa hina dan nistanya persahabatan absurd kita.

Karena sesungguhnya tiada persahabatan tanpa umpatan. Jancok kon-kon kabeh!

M. Mansur Azizi
Mansur adalah orang paling tolol yang pernah saya temui dalam hidup. Dia selalu memperdebatkan hal kontol tak penting yang ujung-ujungnya berdampak pada tingkat ketenangan penghuni kos. Bisa saja di suatu sore, saat kamu sedang asyik tepar di kasur, sedikit celetukan dari Mansur bisa mengubah semuanya. Mansur vs. Nyong adalah kiamat kecil di sore hari. Saat televisi jelek dengan acara-acara yang jelek pula memicu perdebatan tolol nan bodoh, dan perdebatan itu dilakukan secara terang-terangan, terbuka, diselingi pisuhan dan teriakkan yang sama kuat, dan kemudian perdebatan itu melebar kemana-mana berujung pada caci-maki dan semua orang akhirnya merasa dirinya paling pintar dan ber-IQ setara Einstein—padahal orang jenius tidak mungkin betah disana. Jika diingat-ingat, celetukan Mansur seperti Prabokir nduwe ontong nggak yo, yang kemudian memicu salah satu debat paling sengit dalam sejarah kost antara Mansur dan Nyong, dimana Mansur berkata bahwa Prab nggak punya ontong, dan Nyong si bodoh 2.0 membantahnya dengan argumentasi tingkat dewa bahwa tiap laki-laki pasti punya ontong. Mansur menjawab tak kalah sengit, dengan sanggahan paling bernas yang pernah saya jumpai seumur hidup: kalo punya ontong kenapa Pak Prab tak punya anak! Dan kemudian debat terus memanas saat Nyong menjawab: nggak punya anak belum tentu nggak punya ontong, bisa saja impoten! Dan saya sendiri begitu kasihan pada PAK PRABOKIR yang diperdebatkan dengan begitu bodoh oleh warga kos Muin yang legend. Ujung-ujungnya adalah Mansur yang berkata sok filsafat, kalo impoten berarti sama saja dengan tak punya ontong, dan Nyong tak mau kalah: emang kon tau ndelok cok sampek muni deke gak nduwe kont, eh maksud saya, ontong! Debat berlangsung sampai acara berita yang menayangkan Pak Prabokir usai. Saya mengucek mata, dan mencoba mencerna ini semua dengan istighfar. Mansur adalah spesies paling unik yang pernah ada.

Itu Nyong sodara. Sekali lagi itu Nyong! Musuh bebuyutan sekaligus yang paling ditunggu-tunggu adalah debat abadi antara Mansur vs. Mugsan. Mugsan sodara-sodara! Mugsan! Kalian perlu menyiapkan mental saat melihat ini, juga menyisihkan waktu yang agak lama untuk bisa merasakan ketegangannya. Ini adalah debat mahasiswa paling berpengaruh setelah tewasnya Soe Hok Gie. Ini jelas menggambarkan ketokohan Mansur dan Mugsan sebagai mahasiswa jenius penerus reformasi. Hebat benar. Debat bisa terjadi kapan saja, bahkan saat Mansur sedang menuju kamar mandi, dengan handuk, dan dengan peralatan mandi di tangan, mandi pun bisa ditunda hingga dua jam kemudian. Begitu tololnya saat mau masuk kamar mandi si Mansur kebetulan melihat Mugsan membawa skripsi. Mansur bertanya, Mugsan menjawab. Pertanyaan-pertanyaan teknis skripsi yang mungkin antara tahunnya Mansur dan tahunnya Mugsan berbeda (tentu saja karena mereka berbeda angkatan, Mansur lebih tua). Tapi saat jawaban Mugsan berbeda dengan ekspestasi Mansur “ndek jamanku biyen nggak ngunu” maka perdebatan pun dimulai. Berbagai argumentasi pun dilakukan keduanya. Tanpa peduli waktu. Mansur yang hampir mandi pun urung, peralatan mandi entah digeletakkan dimana, tak peduli hanya pakai handuk jamuran dia bersemangat sekali melawan Mugsan. Sementara Pak Mugsan tak mau kalah, ia baru pulang dari kampus, membawa sego bungkusan yang sudah dibuka staplessnya dan siap untuk dilahap. Tapi demi debat superpenting ini, makan sudah jadi nomor sekian. Mugsan pantang menyerah. Persetan Mansur. Dia bodoh. Gitu pikirnya. Tapi Mansur pun tak mau kalah. Mugsan itu manusia sok. Harus diladeni. Akhirnya bla-bla-bla torerot-torerot, debat dimulai. Mulai maghrib sampai pukul delapan malam. Penonton membludak dan makin ramai saat Bang Joko (Kang Ojek Gg.7) dan Cak To (tukang giras Gg. 7) dan Kompros (penjaga warung sederhana Gg. 7) datang dan menyaksikan duel seru ini. Tak ada kontak fisik, tapi secara verbal, ini jelas mengacaukan mental. Keduanya mulai merembet kemana mana, saling ejek. Saling hina. Saling melemahkan. Ibung sebagai ketua kos mengomporinya dengan tekun menggebrak-gebrak pintu. Sambil terus memanasi keduanya. Hurry si cecunguk hanya ketawa aneh, mungkin otaknya sudah rusak karena kebanyakan nggimbrut. Nyong si bodoh 2.0 tertawa paling keras. Reza Rahardian KW 15 juga tertawa bahkan sampai tak terdengar suaranya. Saya ngintip dari lubang jendela, menahan perut yang mencret kebanyakan ngakak karena sungguh, debat keduanya adalah hal paling tolol yang pernah tampak di mata saya. Ending debat ini tidak diketahui. Tiba-tiba bubar begitu saja. Tiba-tiba semuanya tampak biasa lagi. Mansur adalah manusia paling ajaib di dunia.

Tibalah pada besok dan besoknya lagi, debat Mansur vs. Mugsan yang paling krusial dan berpengaruh. Jauh mengalahkan debat hari sebelumnya, atau sebelum-sebelumnya lagi yang nggak berbobot blas. Perdebatan hari ini tercatat dalam rekor sebagai debat Mansur vs. Mugsan terbaik selama berabad-abad berdirinya kos Muin. Bahkan tercatat pula dalam sejarah sebagai debat paling berpengaruh sepanjang masa. Luar biasa. Celetukan pertama Mansur adalah pemicu debat rakyat super gahar ini: Kabeh wong lanang pasti gelem nduwe bojo Dewi Perssik. Dan kalian tentu tahu Mugsan membalas ucapan Mansur dengan tipe-tipe jawaban bagaimana: aku emoh nduwe bojo Dewi Perssik soale dia nggak makai hijab. Dan tak ayal, perdebatan gunung berapi pun dimulai. Seperti biasa, argumen tolol setolol-tololnya diajukan keduanya. Dan bahkan debat ini tanpa penonton. Saya yang kebetulan lewat awalnya tak minat bahkan berkata pada diri saya sendiri, plis tito, plis, jangan hirau, jangan hirau. Tapi entah bagaimana bisa saya kemudian duduk di hadapan keduanya, melongo menyaksikan mega-debat-abad-ini, dimana mereka sudah sampai pada pembahasan tentang susumontoknya Mbak Depe. Aich! Setelah beberapa jam, dan diselingi ribuan kali kata jancok, jutaan kali kata gateli, puluhan kali kata kontol, asu, fak, dan sejenisnya, debat akhirnya berakhir dan hebatnya, para penghuni kos tanpa saya sadari sudah menggeromboli mereka, menyimak dengan seksama argumen-argumennya, dan untuk kemudian melihat mereka dengan tatapan nanar, dan melihat diri mereka sendiri, dengan tatapan bodoh dan mengapa mereka kok bisa kuliah di Unesa, kos di Muin, untuk kemudian menjadi bodoh karena tiap hari menonton pertempuran Mansur dan Mugsan. Saya sebagai notulen pun—mencatat kesimpulan hasil akhir debat—serasa ingin minum anggur cap Orang Tua dicampur Jagermaester saat itu juga.

Kesimpulannya sungguh, membuat orang ingin menempeleng mukanya sendiri. Bahwa yang terhormat MANSUR dan yang mulia MUGSAN berdebat bukan dalam ranah pro-kontra: oke aku pro, kamu kontra, mari kita debat aja. Tapi junjungan kita MANSUR alaihis salam dan mahajara kudus MUGSAN almasih berdebat HANYA KARENA SALAH SATU PIHAK MERASA LEBIH PRO DARI PIHAK LAINNYA, ATAU SALAH SATU PIHAK MERASA LEBIH KONTRA DARI PIHAK LAINNYA: oke aku kontra, kamu juga kontra, tetapi aku lebih kontra dibanding kamu, jadi mari KITA DEBAT! JANCOOOOOOOKKKKKKKKKKKKKK!!! HOLY.... FUCKKKKKKKK!!!!

Lepas dari hal tersebut, sudilah kiranya saya mengakui bahwa Mansur adalah salah satu sahabat terbaik saya. Sewaktu saya masih maba, dia sudah semester tua. Tapi persetan penghormatan terhadap bocah lebih tua, abaikan sopan santun. Karena anak ini begitu nggateli dan raw saya bebas memanggil dia sesukanya. Bajingan Quraisy, upil Firaun, kontol Onta, ah, sesuka hati saja. Tapi Mansur adalah juga pria yang superduper melankolis—menyadarkan saya bahwa kamar-kamar di kos Muin adalah milik pria-pria yang patah hati. Dia sering menangis di kamar setelah berantem dengan pacarnya. Dia juga rutin membelikan pacarnya kado, minimal tiap bulan sekali. Saya masih tidak percaya ada pria macam begini, sampai di suatu malam, saya diajak untuk berburu kado. Karena nganggur, saya menuruti ajakannya dan sampailah kami pada tempat paling unyu di sudut kota: Toko Boneka. Fak, saya serasa mati kutu saat Mansur bertindak alay, memilah-memilih boneka, memegangnya, tanya cocok atau tidak. JANCOK! Tanpa dikomando saya langsung menunjuk satu boneka, asal saja, yang berwarna pink, dan rada besar. IKI LO APIK!—biar bisa secepatnya kabur dari toko tersebut. Mansur pun nurut-nurut saja, dan jadilah, boneka tersebut dibungkus sekalian dengan kadonya. Tidak hanya sekali, tapi ajakan selanjutnya dari Mansur pun masih di tempat yang sama. Saya yang lagi-lagi tak kuasa menolaknya terpaksa ikut serta. Hanya kali ini saya menunggu di luar. Tapi entah mengapa, cecunguk ini lama sekali memilih boneka. Ternyata setelah saya masuk ke dalam, ia sedang membandingkan dua boneka, diamati dengan serius satu sama lainnya, dirangkul, dipeluk, ASU TENAN! Akhirnya saya sudah tidak pernah lagi menemani begajul ini untuk berburu kado. Saya yang waktu itu sedang jomblo kadang merasa iri, merasa ingin juga membelikan kado rutin buat pacar. Tapi setelah punya pacar malah jarang membelikan kado hehe. Satu lagi dari Mansur adalah keberaniannya menjadi diri sendiri. Dia tidak pernah shalat, jarang melakukan perintah agama, tetapi juga tidak berbuat dosa, anti rokok, anti alkohol, anti nggimbrut bebas. Kombinasi yang aneh. Ia juga sebagai pencetus utama gerakan tidak memakai celana dalam sedunia. Memang adem dan lebih leluasa sih. Coba saja.

Mansur kini entah bekerja apa. Dia masih sering dibully di grup BBM kos Muin. Foto nudenya menyebar di grup BBM dan Facebook Muin—menjelaskan seperti apa posenya dipastikan akan membuat kalian muntah. Dia juga masih sering menghubungi saya, pisuh-pisuhan via BBM, berdebat tidak jelas dan kadang juga menelepon sambil sok menasehati. Jikalau bulan puasa datang ia juga aktif mengajak reuni dan buka bersama, meski tak pernah datang. Saat Mansur lulus, kos seperti kehilangan sikapnya yang ramai, liar, brengsek dan tolol. Kos jadi baik-baik saja, pendiam, alim, dan makin benar makin kesini. Kehilangan Mansur membawa pengaruh besar bagi kos. Tapi upaya untuk meneruskan kebiadaban Mansur sudah seharusnya dilakukan setelah ia mengupload foto untuk Profil BBM-nya: sebuah photogrid antara dua foto: Mansur dan bekas kamar kostnya. Di sebelahnya tertulis, kamu yang telah menghantarkan aku sukses selama 4 tahun ini. Sulit untuk menahan ngakak sekaligus haru karena bocah ini alay dan melankolis sekali. Kamar legend ini kini ditempati oleh maba lain, tapi warisan Mansur seperti ranjang keparat dan coretan-coretan di dindingnya tidak akan pernah mati.

Dan saya yakin Mansur sudah berubah menjadi manusia yang jauh lebih baik setelah mengalami berbagai proses ketololan hidup. Ia kini sedang menunggu hasil pengumuman CPNS, untuk kemudian bekerja dan mengharumkan nama bangsa dan negara—untuk paragraf terakhir ini mari berdoa bersama untuk kesuksesan tes CPNS Mansur, berdoa mulai.
Mansur (depan) bersama saya dan bajingan tengik lain.
Gerbang Unesa, akhir 2013

Bagus Riadi
Saya mengenal Cak Bagus setelah beliau pulang dari Bandung setelah menjalani PKL. Ia juga hidup di gubuk derita Muin. Asal Tulungagung, dan dialah yang mengajari saya mengkonsumsi barang-barang halusinogen, atau kadang yang berbau setengik bensin. Di kala itu saya memang sedang patah hati akibat putus sialan, dan Bagus, yang sudah lebih dulu berevolusi dari lelaki pendiam baik-baik menjadi bocah brengsek liar akibat patah hati karena mantan kekasih, membimbing saya untuk hidup dengan lebih neriman—dengan bantuan zat-zat perusak kandung kemih. Pengalaman mengonsumsi alkohol tradisional di kamar pojokan sampai tubuh saya roboh dan muntah-muntah tidak akan pernah terlupakan. Ciu brengsek. Alkohol murahan. Bagus sialan. Dia adalah kakak sekaligus guru, bajingan sekaligus malaikat. Kemurahan hatinya membagi kretek murah tidak akan pernah terlupa. Pun ketololannya saat bulan puasa—dimana di kost saat itu hanya ada saya dan dia—yang sulit sekali bangun sahur. Alhasil ia baru terbangun tiga menitan sebelum imsyak dan terburu-buru santap sahur. Perjuangannya, saya ingat betul, untuk menyelesaikan skripsi tepat waktu. Berkorban ke Malang di bulan Ramadan hanya untuk menemui dosen untuk tanda tangan, kemudian kembali lagi ke kosan keparat dan berkutat kembali dengan skripsi—benar-benar mental pemuda tengik yang menakjubkan. Saya akan selalu mengingat momen di mana hanya tinggal saya dan Bagus di kos saat bulan puasa, dan dia mengajak saya berbuka bersama di Warung Soto, untuk setelah itu cangkruk dengan kopi sampai hampir mati.

Bagus adalah saksi saat kasur di kamar saya dilalap api. Entah siapa yang sebats di situ tapi kejadian itu sungguh brengsek. Di saat semua orang sedang ribut memadamkan api (termasuk Ibung yang baru bangun, bersiap meminum dari Aqua botol, tidak jadi minum dan mengguyurkan airnya di kasur), Bagus malah sibuk mencari Gatsby Wax Merah yang cukup kaku itu, kemudian sisiran, ya, sisiran di cermin kamar saya. Sisiran saudara-saudara di tengah kebingungan khalayak ramai. Bagus sialan juga setengik penipu ulung yang bila berkata A sebenarnya adalah C, atau bila kita mengasumsikan bahwa yang dikatakan bagus adalah C, sebenarnya itu adalah A. Bingung ‘kan? Pengalaman lain bersama Bagus Riadi adalah saya yang waktu itu sempoyongan di jalan menuju kampus karena malamnya usai menenggak ethanol cair yang dia bawa, tiba-tiba saja dicegat oleh sosok berperawakan buduk anjing peking yang tidak lain tidak bukan adalah Bagus sendiri. Dia langsung tertawa dan menyuruh saya menaiki motornya. Pengalaman tai macam apakah itu?

Saya dan Bagus sempat bersama-sama melawan dunia, meski ada beberapa pertanyaan eksistensial yang belum sempat saya tanyakan seperti mengapa nama Facebook-nya ‘Bagas Riadi’ ataukah benarkah dia dulu sempat main sex di kamarnya sendiri dengan pacarnya yang bahenol? Tuhan mah Maha Tahu, saya tidak.

Bagus (kiri). Kos Bangsat. 2013
Deva Ocktardo (Dolly)
Deva adalah kawan seperjuangan saya saat memulai kuliah di tahun 2013. Walaupun kita berbeda fakultas, saya FBS dan dia FIP, tapi kami bernaung di bawah atap yang sama: Kos Mu’in In The Hoy Gg. 7A Lidah Wetan yang keterlaluan legendaris. Deva berasal dari luar Jawa, Lampung tepatnya. Dan yang saya pikirkan ketika mendengar Lampung hanyalah dua hal: gajah, dan Kangen Band. Dan mungkin sekarang tambah satu lagi: Deva Dolly si anjing norak kampungan. Sejarah kenapa dia sendiri sampai dipanggil Dolly sudah tercatat di Babad Kos Mu’in. Alkisah banyak dari penghuni kos memang diberi julukan, tidak dipanggil dengan namanya sendiri—kecuali saya karena saya terlalu keren untuk dipanggil aneh-aneh. Misal Fahrur dipanggil ‘Inyong’ karena dia tolol dan orang Kebumen, dan Deva sendiri ini menyandang nama asli yang keren banget, semacam menyalahi kodrat dengan dandanan macam begitu tetapi dipanggil Deva. Norak pula karena suka bilang ‘lo-gue’ disaat percakapan (padahal dia Lampung bukan Jakarta). Begitulah Deva Ocktardo survive di Surabaya dengan menyandang nama yang terlalu berat. Alhasil setelah mencari-cari titik lemah si jelek ini, di sebuah percakapan dengan bajingan-bajingan kos dia mengakui satu hal yang akan mengubah hidupnya selamanya.
“Aku kok kepengen ke Dolly, ya.”
Dan... setelah ditertawakan dan dianggap tidak terhormat, Deva akhirnya dipanggil Dolly untuk selama-lamanya. Buduk. Cocok sekali. Anak ini cekingnya minta ampun, jikalau hewan mungkin bisa kalian bayangkan cacing atau walang ijo. Jarang mandi, kumel tidak karu-karuan. Jikalau mandi pagi selalu saja membuat separuh warga kos kuliah telat. Apa-apaan dia kenapa tidak coli dalam kamar saja? Kemudian saat pergi berbelanja, ia akan jadi manusia Ferry Salim yang sok metrokseksual, memilih brand-brand branded, atau perawatan grooming pria demi memaksimalkan penampilan superduper noraknya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala saat dalam seminggu, lima belas kali ia bolak-balik ke mall, ke salon, demi mendapatkan minyak rambut! Bayangkan! Ia datang dengan membawa Gatsby seharga 60 ribu, yang special untuk anak Britpop, tidak cocok, dijual dengan harga 20 ribu kepada teman-teman kos (tentu saja ada yang mau beli, menjual ketololan macam begini ada untungnya buat konsumen). Kemudian beli Gatsby lagi, (lagi!), yang Spike, 60 tibu lagi, tentu saja tidak cocok, dijual lagi—siklusnya berulang seperti kalimat di atas. Alhasil ia mencoba comeback ke jaman dia SMP: Gatsby Wax. Tentu saja mukanya yang sudah jelek dan sok imut akan jadi tambah ancur karena Wax meleleh membuat jidatnya becek berminyak, secara Surabaya sudah bersinonim dengan panas dan lepek keringat. Ia jual lagi, atau ia buang, entah. Setelah itu beli Hairspray. Ini yang cukup awet ia pakai walaupun agak aneh juga. Setelah empat-lima kali pemakaian, hairspray digeletakkan begitu saja. ‘Pakai aja kalau mau,’ ujarnya. Cuih. Dengan rambut yang makin ancur-ancuran dia konsultasi masalah hidupnya ke kamar saya.
“Enaknya pakai minyak rambut apa ini, To?” tanyanya.
“Pakai pomade aja Dol.” jawab saya.
“Apaan itu?”
FYI Pomade adalah sejenis minyak rambut yang dipakai para greaser seperti di film Grease-nya John Travolta. Sudah dikenal sejak 60-an, dan hingga kini digunakan oleh para punggawa rockabilly. Entah pomade akan merebak atau tidak, namun pomade Uppercut yang dipakai JRX Superman Is Dead agaknya sudah menjangkiti para outsider. Saya sendiri mengenal pomade kualitas jempolan bermerek Rita dari Surabaya, juga Tanco yang dulu dipakai Papa. JRX di sebuah wawancara dengan Soleh Solihun dari Rolling Stone Indonesia menyatakan bahwa pomade tidak sama seperti wax yang mudah luntur. Mungkin pomade akan menjadi tren kembali menggantikan wax. Dolly tentu saja penasaran setelah saya beri tahu, dan langsung berburu Tanco di salon-salon. Setelah dia dapat itu barang di Ketintang, barang itu mengubah hidupnya selamanya.
“Ini nih yang gua cari! Basah, tapi enggak kaku!” ujarnya.
Saya sepertinya akan memanggilnya Travolta Lampung. Mengkilap sekali. Dolly Dandy. Anjing sialan saya kalah. Tapi walaupun begitu gaya tengik anak ini tidak hilang. Kamarnya makin hari makin kacau berantakan. Ibung, pak bos kami, sempat lewat kamarnya dan shock.
“Cok iki kamar opo kandang pitek?” ujarnya. Legenda kamar busuk ini semakin paripurna saat kaca jendela di dalamnya, entah bagaimana bisa, copot. Jadilah ia hidup di hari-hari tanpa jendela. Di malam penuh gigitan nafsu birahi nyamuk betina. Dia menutupinya dengan kain atau handuk. Memprihatinkan. Dengan gaya hidupnya yang semakin kacau, hobi belanjanya yang tidak masuk akal, Dolly akhirnya bangkrut. Ini ditandai dengan sekardus Indomie yang ia beli di Indomaret beserta sebotol saos sambal.
“Aku nggak punya uang, hemat. Sebulan makan ini terus aku.”
Tapi belum sampai sebulan dia sudah ambruk dan dibopong ke Puskesmas—ini efek kebanyakan indomie yang real dan benar-benar saya lihat sendiri. Saya hampir mengelap air mata melihat keadaanya. Apalagi, Dolly punya seorang teman perempuan yang pernah membuat saya seperti orang tolol dan hilang nalar semalaman dalam vila... ah sudahlah. Selain hal itu, jasa-jasa Dolly tidak banyak, bahkan hampir tidak ada. Saya mengenang kepergiannya yang dramatis itu dengan tanpa pelukan. Bahkan sedikit rela karena berkurang lagi satu beban. Dolly memilih pindah kos, dan beberapa bulan kemudian memilih untuk pulang kembali ke Lampung. Sebulan sebelum pulang ia tidak pernah pulang ke kosannya. Ia kembali mengunjungi kami, kawan-kawannya di kos Mu’in, tidur di lantai depan WC, mandi, segalanya.
“Aku pengen ngehabisin saat-saat terakhirku di Surabaya sama sahabat-sahabatku,” ujarnya.
Tapi itu bukan tanda-tanda bahwa Dolly akan usai dibully dan jadi anak emas. No more. Kos Mu’in adalah persetan. Lubang buaya. Dolly diperas habis-habisan atas dasar akan segera pulang ke asalnya. Ia disuruh membelikan martabak, dan lain sebagainya atas nama perpisahan. Bahkan saat Dolly sudah kehabisan doku, kami tega menyuruhnya menjual Beat merah bututnya (secara harfiah benar-benar motor jancok, busuk, jeleknya amit-amit), demi membelikan kami sesuap nasi bebek. Yang parah adalah kami tidak sungkan lagi meminta dia membawa peralatannya seperti mangkok, sendok, bahkan kaus untuk disumbangkan pada kami. Istilahnya warisan, daripada repot-repot bawa ke Lampung.
Dan di malam yang agak gerimis itu, menjadi malam terakhir Dolly. Ia ingin mengajak kami ngopi tapi sayangnya beberapa monyet sudah tertidur. Tinggal hanya saya yang sedang malas, dan hanya Fatchan yang mau diajak ngopi. Kira-kira besoknya saya bangun pukul tujuh pagi, telat kuliah tentu saja, dan didatangi oleh Fatchan.
“Dolly wis mbalik Lampung iku maeng jam 6,” ujarnya sambil menahan haru dan kebelet pipis.
Saya melihat lagi hairspray itu bergeletakkan di ruang tengah. Hairspray milik Dolly. Saya rasa saya sudah merindukannya. Selamat jalan, Dol, sukses di sana. Dan dia membalas chat ucapan indah saya tersebut dengan:
“OK COK! EH LU JANGAN KESERINGAN MAKAI KONTOL YA PAS GUA TINGGAL!”
Wong asu.
Deva Ocktardo alias Dolly (belakang, putih). Bersama singlet kebanggaan
Akhir 2013

M. Ardan Miftahul Huda
Sahabat paling sok mbetik (istilahnya Rojak): perokok yang jarang sekali merokok, peminum yang mau muntah karena ia baru tahu bir hitam rasanya pahit, basis yang tidak bisa memegang bas dan bahkan buta kunci, dan sebanyak itulah paradoks dari seorang Ardan: ia mengaku-ngaku sebagai A tapi semua sikapnya menujukkan bahwa dia B, C atau W. Konsep yang berkata bahwa jika Ardan bilang bahwa dia suka The Strokes, berarti dia sebenarnya pemuja K-Pop. Jika ia mulai sesumbar bahwa dia brengsek bajingan pemerkosa, berarti dia rajin salat dan malu-malu sama wanita. Tapi persetan psikologi. Saya tidak tahu dan tidak mau menebak-nebak sikap Ardan, yang patut dibagi adalah dia sahabat saya sampai kapanpun, bahkan walaupun dia menghilang dengan alasan yang paradoks juga.

Ardan adalah tambun buncit yang tidak akan pernah menjadi kurus seperti Prince Disney sejauh apapun usaha dan doanya. Badannya membengkak besar begitu, tambah lagi nafsu makannya yang seperti babi (tapi tidak ia tampakkan saat sedang bersama saya). Oke, ini akan panjang. Saya mengenal babi ini pertama kali saat KRS-an. Di situ seorang bertampang seram duduk jongkok sambil tertawa sendiri—agak ngeri melihatnya. Tapi isi hati saya berkata bahwa saya harus mendekati preman ini. Alhasil sayapun berkenalan dan mencium aroma mulutnya yang seperti bak sampah itu (giginya kuning lengket, ia tidak sikat gigi sialan). Ia sebenarnya cukup tolol di perkenalan pertama, banyak cengangas cengenges sendiri dan tampak sedikit hang syarafnya, membuyarkan stereotip preman yang saya stempelkan dari awal. Selanjutnya kita tidak pernah bersua, dan bertemu lagi saat ospek fakultas. Ya Tuhan, bau mulutnya sama saja. Saya bisa sedikit gila bila bercakap dengannya. Orang macam apa juga yang berkata terus terang tentang masalah ini (lebih baik menuliskannya di blog hehe). Setelah itu kami berjumpa lagi di hari kedua kuliah, Ardan, is, back. Kali ini lebih necis walaupun masih bertampang lendir babi.

Karena kami sama-sama kos di gang yang berdekatan maka saya seringkali nebeng Ardan kemanapun. Dia adalah sopir pribadi. Saya juga sering menginap di kosannya saat saya malas pulang ke kos. Saya hafal tempat penyimpanan kuncinya. Saya juga sudah mengenal akrab ibu kosnya. Mengapa saya tidak pindah kos dengan Ardan saja karena saya betul-betul tidak yakin menghabiskan hari-hari dalam kamarnya yang luar biasa gelap sekaligus pengap—dan Ardan selalu menghabiskan harinya di situ. Juga koleksi bokepnya yang cupu. Juga baunya yang setengik babi. Saya mempunyai ritual wajib tiap habis magrib selalu berkunjung ke kosan Ardan. Entah melakukan apa. Kadang juga menendang bokongnya saja sampai dia terbangun—babi guling ini sering sekali tertidur dengan wajah kotor usai kuliah dan baru sadar saat malam. Bokongnya bertekstur empuk, banyak serat dan juga tai-tai busuk yang belum kelar ia buang. Betapa gendutnya babi ini sampai-sampai meremas susunya seperti melecehkan seorang gadis ABG saja rasanya. Kamarnya, sekali lagi, saya gunakan sebagai tempat pelampiasan saat nganggur. Saya biasa membongkar laptopnya saat dia tidur, melihat koleksi-koleksi jelek itu tentu saja. Atau kadang Hentai yang lebay. Ardan adalah maniak anime tetapi ia tidak pernah gembar-gembor, entah malu entah apa. Terkadang saya juga mampir ke kosannya hanya untuk sekadar ngaca dan meminta minyak wangi. Saat saya akan pergi dengan perempuan, kosan Ardan adalah tempat make-up saya.

Saya pernah berbuat dosa besar terhadap Ardan. Begitu besarnya sampai-sampai melebihi besar lubang buhulnya yang busuk dan menyedihkan. Seorang perempuan yang kos di depan kosannya (sebut saja Rina) sempat membuat saya iseng ingin berkenalan. Karena waktu itu serba tidak memungkinkan dan memang saya terlalu rumit saat berurusan dengan perempuan-perempuan entah siapapun itu yang mungkin efek LDR sialan, saya menjadikan Ardan sebagai umpan. Kebetulan Ardan pernah satu kelompok dengannya entah saat ospek busuk itu atau apalah. Jadi Ardan punya kontak si Rina. Segera saja saya iseng menghubungi Rina via ponsel Ardan, dan bajingannya si Rina tampak interest. Bangsat. Mengapa harus via Ardan dan bukan saya. Ardan yang dungu dan tolol pasrah saja menyerahkan hapenya untuk mendekati Rina. Setelah malam tiba, hape Ardan saya kembalikan. Ardan kebingungan esok haRinaya, karena Rina menghubunginnya terus dan Ardan mau tidak mau terus membalasnya, melanjutkan pembukaan yang telah saya lakukan. Babi gudikan ini makin hari makin ceria saja, anjing. Sementara saya sudah lupa kalau celeng ini masih intens berhubungan dengan Rina. Puncaknya adalah saat dia mulai cuek saat saya ajak ngopi, atau kemanapun itu. Atau berangkat kuliah bareng. Atau muter-muter Surabaya. Ada apa dengan susu besar ini? Gendut sok. Ternyata oh ternyata tapir ini menjadi tukang ojek Rina, yang memang belum membawa motor dan butuh mobilitas. Ardan gendut ini senang-senang saja. Dan makin hari saya makin jijik dan ilfeel melihatnya. Ia potong rambut dengan gaya mohawk norak bin terkutuk, juga selalu mewangi, entah padahal tubuhnya adalah setengik-tengiknya ciptaan Tuhan. Saya pernah stay di kamarnya dan dia menyemprotkan parfum itu, parfum paling murah di Indomaret, hampir menghabiskan beberapa liter dan ratusan semprotan. Gila. Mereka semakin dekat dan saya pun juga sudah lupa bahwa saya awalnya yang ingin berkenalan. Bajingan ini sudah lupa bahwa tanpa saya yang memulai, dia tidak akan pernah sampai di posisi ini. Saya pun hanya bisa geleng kepala saat kremi berlemak ini membelikan gift-gift kecil untuk Rina, misal gelang-gelang lucu yang ia beli dengan saya saat menghadiri Indie Clothing—saya yang beli duluan dan dia memang demen ikut-ikutan. Juga saat Valentine, dia membeli Silver Queen dan membungkusnya dengan kado. Membungkusnya! Fuck. Saya tidak habis pikir saat melihatnya mengendap-endap ke parkiran, menyuruh saya dan Sony tidak mengikutinya, demi agar dia bisa menyerahkan pemberian itu pada Rina. Saya yang sebenarnya juga tidak bisa berkata-kata saat melihat Rina, akhirnya bertepuk tangan, ikut berbahagia atas kesenangan sahabat saya. Rina sudah jadi milik Ardan, beruntung sekali dia. Saya yang sial. Klimaksnya adalah saat kerbau ini mengajak kencan Rina di Sastra Bulan Purnama—ajang kencan anak jurusan saya di kampus. Saya bersama Sony si tikus jelek berangkat berdua seperti homo laknat, ngaplo dan merasa tolol karena perempuan begitu masyhurnya di mata namun kami sendiri adalah pecundang tengik yang berada di ambang kehancuran hubungan dengan pacar masing-masing, atau sedang menjalani hubungan tanpa status berbahaya dengan pacar orang, atau mengejar yang tak pasti seperti saya yang—ehm. Tapi ini Ardan, babi lendir tengik ini hadir di tengah acara Sasbulpur kesayangan kita ini, di saat timingnya sedang hujan deras. Sebelumnya memang hujan badai begitu kencang, saya dan Sony Tikus hanya berdua menontoni panggung yang dipindah—kasian sekali. penonton sudah mulai ramai tapi saya tidak melihat si tengik. Saya sudah mengabarinya untuk nonton sedari sore dan dia menjawab bahwa saya dan Sony Tikus disuruh berangkat dahulu. Hujan tetap deras namun tidak sederas tadi. Si gemplo tadi tiba-tiba datang dengan badan agak kuyup, bau yang teramat wangi, memakai kemeja hitam sialan berukuran XXXL, dan tersenyum sok cool serta—ini yang bikin saya berteriak ‘kontol asu’ dalam hati—dia memakai jam tangan dan kacamata saudara-saudara. Anjing. Ada apa dengan monyet ini sampai saya tahu bahwa yang berjalan di belakangnya adalah Rina. Hati saya remuk redam. Hati Sony kacau. Ternyata Ardan, gendut sipit bangsat ini menjemput Rina terlebih dahulu—setelah berdandan sampai hampir mampus di sore hari. Setelah menjemput, di jalan terjadilah hujan itu dan memang cukup tolol untuk melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian berteduh—ini tentu ide Rina dan bukan Ardan yang tidak akan mampu berpikir—dan Ardan, manusia becek ini langsung pamer-pamer kepada khalayak bahwa dia tadi berteduh di depan sebuah rumah random bersama Rina sampai kira-kira satu jam. Kurang romantis apa Dewa Cinta Romawi Kuno. Sejak saat itulah Ardan semakin intens dengan Rina, semakin masuk dalam kehidupannya, semakin melupakan teman, semakin melupakan saya—yang sudah hafal tempatnya meletakkan kunci kosnya dan bisa saya terobos seenaknya untuk penitipan sepeda.

Ardan babi tengik ini memang makin hari makin intens dengan Rina dan menjadi bahan sumpah serapah teman-teman yang ia lupakan. Tapi setelah insiden Silver Queen yang diberikan Ardan di parkiran saat Valentine itulah, segalanya berubah. Ardan kembali kepada haribaan, menjadi anak cupu kami lagi dan menyediakan susunya untuk kami remas-remas sampai memerah. Bokongnya menjadi bola lagi yang selalu siap kami tendangi sampai jebol lubang dubur. Saya sempat tak menyadari akan hal ini sampai-sampai di suatu sore, dengan Dunhill Mild di tangan kanan (rokok favorit kami dulu), saya dan Ardan ngobrol ngalor-ngidul di kursi tidak layak pakai depan kosannya sampai menjelang maghrib. Kami makin betah ngobrol di saat iqamah di masjid depan kosnya sudah berkumandang. Ardan adalah lulusan pondok yang kafir sekafir-kafirnya; tidak menyembah apa-apa selain lemak duburnya yang berlendir. Baiklah cukup seperti itu saja cerita Ardan dengan Rina. Karena seperti yang saya yakini, semua romansa yang melibatkan sahabat saya satu ini akan terdengar menjijikkan—dan memang seharusnya para pria tidak terlalu membahas urusan bunga mawar dan cokelat seperti ini antar gerombolannya.

Yang paling saya ingat dari Ardan adalah bagaimana dia mengerti segalanya yang ada di dunia ini, dan yang mengejutkan adalah dia juga menggemari apa yang saya gemari. Bahkan menggunakan apa yang saya kenakan. Semua tidak menjadi masalah bila tidak ada kepura-puraan. Tetapi babi ini mendadak jadi tahu black metal, death metal, grindcore bla-bla-bla setelah saya mengajaknya berbincang, atau bertukar pikiran. Ada perbedaan yang jelas antara orang yang betul-betul tahu dengan orang yang pura-pura tahu. Ardan selalu berada di nomor dua. Saya paham betul mengapa ada orang yang seperti ini. Benar, eksistensi. Yang pure menjengkelkan adalah saat Ardan gendut homo ini mendadak ikut band baru saya. Saya seringkali bertanya dia bisa memegang instrumen apa, atau kalau tidak bisa, kamu vokal saja. Tetapi dia memaksa dan meyakinkan saya bahwa dia benar-benar bisa instrumen bas—dulu sempat main band memegang bas pas SMP namun sekarang sudah agak lupa karena sudah lama sekali. Saya tidak percaya karena Ardan gembul ini tidak pernah memegang gitar sama sekali walaupun di sekelilingnya ada gitar. Alasan dulu bisa sekarang lupa apakah bisa berlaku untuk main musik? Jika lupa mungkin sedikit saja, karena orang yang belajar gitar itu tidak akan pernah bisa main-main jika ingin bisa: harus menyerahkan jiwanya, sampai seperti itu. Belajar gitar juga butuh waktu, yang pasti akan terekam di otak, prosesnya, detailnya. Dan Ardan gendut bangsat pembohong bajingan ini lupa segala-galanya: cara memegang, memencet, menggenjreng—what the fuckin’ fuck-fuck-fuck-fuck! Saya bersama rekan band dari Fakultas Ilmu Pendidikan, Jeffry, yang memegang gitar, mengenalkan Ardan sebagai basis baru. Saya sendiri memegang drum dan tidak peduli urusan lain-lain: hantam, hajar, pukul, tendang, fuck them all. Saat masuk studio untuk latihan, mau tidak mau saya harus percaya bahwa Ardan benar-benar bisa main bas: hanya sempat lupa dan mungkin kini ia bisa mengingatnya lagi. Saya berpikir tengik ini tidak mungkin masuk studio, sejauh ini, jika hanya bohong belaka semata. Apalagi ini tidaklah murah, dan ada orang lain juga yang melihat, gitaris bertompel sexy di bibir bernama Jeffry Legend penerus gitaris Drive yang tidak terkenal dan tidak berpengaruh di blantika musik Indonesia itu. Tapi kontol, sungguh, saya sungguh malu. Ardan kerepotan mengalungkan bas itu ke tubuh gemplonya. Bangsat. Feeling saya tidak karu-karuan. Belepotan. Kepercayaan saya luntur sudah. Dia memang senekat itu. Berani berbohong sampai sejauh ini. Sudah gila. Lalu Jeffry bertanya mau main lagu apa, saya jawab J-Rocks. Meskipun menggelikan tapi ini adalah standard band-band yang main di studio, terkadang untuk pemanasan saja karena lagunya juga tak buruk-buruk amat walaupun gayanya norak abis. Pun juga ada bass-line dan ketukan drum yang tidak monoton alias variasi. Lalu Fallin’ In Love dari J-Rocks berkumandang. Satu detik, dua detik, tiga detik, sampai delapan detik kemudian... ngentot! Anjing Ardan malah diam, cengengas-cengenges. Babi. Udik. Guoblok. “Aku lali, he-he.” Ujarnya sambil diam. Saya sudah mencium gelagat kebusukan bohongnya. Jeffry pun juga sudah. Tapi semua pada sungkan bilang ke Ardan, kasihan harga dirinya yang sudah rendah itu. Kami membiarkannya menaruh bas dan dia duduk, duduk saja! Sialan. Yang terjadi selanjutnya adalah Jeffry yang sungkan dan tidak enak hati melihat lipatan lemak itu diam. “Kamu nyanyi aja!” ujar Jeffry. Dan, tengik ini langsung memulai dengan memegang microfon. Acakadul memang. Memainkan J-Rocks lagi. Musik masuk. Cukup aduhai. Jeffry bermain gitar dengan pas, saya mengimbanginya dengan ketukan (Hail, Anton!) maut ala-ala Japanese rock dengan sedikit gaya flamboyan. Masuk lagu, masuk vokal dan... kontol sekontol-kontolnya! Bangsaaaaaat! Suara yang sungguh, masuk angin, layak buang dari muka bumi. Tuhan menciptakan suara bocah tengik ini bebarengan dengan Dewa Kodok Ngorek yang lagi kencing di pita suaranya mungkin. Kacau, jelek, bedebah, iblis, keparat, kucing ngewek, faaakkk! Lalu dia makin merusak lagu dengan terkekeh-kekeh seperti dia orang paling lucu sedunia, lalu Jeffry merasa sudah muak, terganggu dan berhenti. Sementara saya, melihat hal itu sebagai latihan band terkacau dan tergoblok yang pernah saya lakukan selama hidup di dunia yang sia-sia ini. Saya merasa selanjutnya tidak akan beres, kami tidak akan menuntaskan satu lagu pun. Saya kemudian melampiaskan kekesalan itu pada drum: memulai aksi technical brutal death metal: mumpung disediakan double pedal, saya langsung menghantam set di depan saya secara membabi-buta, secepat dan sekeras mungkin, menirukan triplets dari Tuhan sesembahan keringat dalam bolot-bolot stik drum bernama John “Bonzo” Bonham alias Sang Maha Pencipta Rock And Roll. Setelah dua orang kontol itu, Ardan dan Jeffry mengamati saya sedang sedeng dan gila, selama beberapa menit, saya kelelahan dan berhenti. Stik patah, saya tidak peduli. saya langsung duduk di samping Ardan dan saya sungkan kepada Jeffry. Mengajak tikus gemuk ini kesalahan yang tidak dapat saya maafkan, bahkan saya belum bisa berdamai dengan diri saya sendiri akan kejadian ini. Tapi saya sedikit lega karena Ardan, tanpa kata-katapun, sudah mengakui bahwa dirinya memang lemot dan tidak bisa main musik. Saya tersenyum memaklumi, sementara dia menahan malu yang sebusuk bau duburnya itu, kemudian malah mengambil handphone. Jeffry yang sedang menggenjreng gitar asal, tiba-tiba disuruh berhenti. Ardan mau mengangkat telfon. Sureal, peristiwa ini sungguh sureal. Percakapan Ardan dalam telfon: iyo-iyo aku ngeband maneh-iyo tapi rodok lali. Dan sebagainya. Jancok, setelah itu, tengik ini koar-koar: konco SMP-ku takon kabar, tak jawab aku lagi ngeband, terus deke jawab lo ngeband maneh, wis suwi awakmu gak band-band an. KONTOL! FUCK! Dia pura-pura ditelfon seseorang dari masa SMP-nya yang tidak menyenangkan itu, kemudian seperti menguatkan bahwa dia ADALAH ANAK BAND DI JAMAN SMP! PELER! Saya sudah kehabisan kata-kata akan peristiwa ini.

Setelah melewati fase-fase tengik itu: kebersamaan kami menonton gigs, minum alkohol murah dan berbagi mild, dan saling menjemput untuk ngopi, Ardan kemudian kembali jadi sosok yang misterius dan sok keren. Saat tugas Bu Ririe di mana ia sekelompok dengan si bajing loncat Sony, ia kemudian tidak pernah terlihat masuk. Sony kebingungan karena otaknya mampet dan ia mengerjakan tugasnya sendiri. Di kelas Ardan tidak pernah kelihatan, dan tidak masuk tanpa ijin. Saya mengira dia mungkin bolos, tapi setelah saya hampiri di kos-nya, Ibu Kos-nya yang oleh Ardan dibilang maling duit receh ini, bilang bahwa doi belum kembali ke kos. Ponselnya yang belum android dan masih jelek selalu merepotkan, saya harus SMS. Tidak dibalas. Telfon, tidak diangkat. Saya khawatir dia mati. Dia terpuruk dengan di dalam Tempat Pembuangan Sampah. Dua bulan lebih tidak masuk tanpa kabar. Kelas Sastra belum menyerah, masih mencari-cari Ardan. Saya pun begitu. Menjadi yang paling kehilangan. Jujur saya merasa sedih. Tapi sekaligus muak karena tampaknya semua orang di kelas jadi merasa mengenal Ardan, dekat dengan Ardan. Munafik bajingan. Penjilat sperma dosen. Anjing. Saat dosen bertanya kemana Ardan, kita bisa tahu ada banyak yang cari muka, sok tahu, sok kenal sok dekat, padahal tidak tahu apa-apa. Hanya saya yang tahu, tidak yang lain. Hanya saya yang diberi tahu, dan saya bungkam. Karena beberapa hari sebelumnya, tengik sialan ini mengunjungi saya di kost, tanpa saya duga, dengan mendadak.

Di dalam kost dia menceritakan semua uneg-unegnya. Saya merasa prihatin sekaligus iba sekaligus merasa bahwa babi ngepet ini pantas diberi sedikit es batu di kepala. Saya tidak atau belum bisa menceritakan alasannya kabur di sini. Ardan kemudian makin menghilang, dan tanpa kabar sama sekali. Saya menghormati pilihannya, berhenti mencari, dan mencoba setidaknya tersenyum, mengenang, bahwasanya saya pernah punya sahabat baik, yang kini memilih menghilang. Ia punya alasan sendiri. Saya percaya dengannya kali ini.

Ardan Huda. Foto pasca UAS. 2014/2015
Ardan (kanan). Pasca tawuran. 2014

Ardiansyah
Entah. Harus berkata apalagi tentang bocah kecil berambut mengembang bak Suneo versi afro bernama Ardiansyah. Bahkan menulis namapun saya tidak terlalu yakin: Ardiansyah, Andriansyah, Ardiansah, atau Andriansah. Tapi saya memanggilnya Ardi—atau sebenarnya Andri?—fuck, whatever. Intinya dia kecil hitam dengan ketek berbau kretek campur keringat, suka menyendiri dan gemar memegang jidat bak pengidap vertigo akut. Kuliah tidak pernah masuk dan pas rekreasi berkedok study tour, dia datang terlebih dahulu—anjing! Tapi toh ia apes juga karena study tour Sastra 2013 ke Jogja batal karena bus tidak jadi datang dan kami salah mempercayakan semua pada perempuan laknat penghuni kerak neraka bernama Eka, tongos comber dari angkatan 2012 (hati-hatilah!) yang berprofesi sebagai calo newbie paling tolol yang pernah ada, dan bahkan ia begitu bodoh untuk bisa menipu kami. Jancok. Eh tapi ini sedang membahas Ardi, bukan Eka si jelek kencur. Tapi sudahlah toh gara-gara bangsat itu kami jadi terlunta di musola kampus dengan koper warga kelas yang alay dan membawa baju dan gaun sebanyaknya untuk pamer dan selfie saat di Jogja dan ternyata tidak jadi: makan tuh koper. Dan Ardi akhirnya menginap di kosan saya selama semalam, sebelum besok pulang di rumahnya daerah Sepanjang.

Saya tidak tahu mengapa tuhan menciptakan ketek anak ini begitu baunya, pun kegemarannya garuk-garuk koreng dan mengisap kretek seperti kereta api—membuat aroma tubuhnya makin tidak karu-karuan. Ardi selalu datang kuliah lima menit sebelum jam pertama berakhir, nongkrong di kantin di jam kedua dan selanjutnya, dan kemudian kembali ke kelas lima menit setelah jam terakhir berakhir. Luar biasa thug life. Ardi saya tahu adalah tipe comel pendiam kritis meneng-meneng ndlendem yang diam-diam ngerasani, dan dia adalah tipe-tipe penjilat, tukang hasut kelas wahid dan sanggup mengeluarkan sisi brutal dari seseorang. Tipe-tipe orang macam ini seperti lempar tangan terhadap sesuatu yang ia bertanggung jawab akan hal itu. Tipe yang gemar memprovokasi secara halus, konspirasi yang terukur dan kita tetap bisa melihat Ardi tidak melakukan apa-apa. Ardi pernah digosipkan dengan Adelia—yang ternyata bersekolah di satu SMA—salah satu perempuan paling bling-bling di kelas. Ardi—dan saya kalau saya ingat, juga tentu saja Rojak si muka mesum—pernah menggoda Adelia, dan mungkin Ardi bertendensi menjurus pada hal-hal kotor. Adelia yang digoda seperti tidak ngeh dan malah menganggapnya bercanda. Tapi saya tahu isi otak kepala Ardi, dari senyumnya yang merupakan senyum paling aneh yang pernah dihadiahkan zaman. Setelah itu dia melakukan hobinya yang paling ikonik: memegangi rambut depan, menutupi jidatnya seperti orang yang pualing berat menjunjung beban kehidupan.

Ardiansah. Surya 16. Gigi kuning penuh gidal: kabar burung terakhir yang saya dapat dari Sony Ferdianto Cecurut mengatakan bahwa Ardi berjualan obat kuat di Sepanjang setelah hilang dari kuliah tanpa kabar dan tiada yang mempedulikan. Saya kemudian menghubunginya secara pribadi dan menanyakan apakah ada barang yang saya maksud, Ardi tengik ini malah bilang cari saja di apotek. Sialan. Setelah itu kami jarang berkomunikasi hingga di suatu siang saat kuliah membosankan, saya iseng membuka Facebook saat kuliah Teori Sastra gitu-gitu saja Pak Haris. Ada chat masuk. Tumben sekali Ardiansyah.

“Bro, njaluk chip poker. Onok gak?”

Bangsat. Rasa-rasanya saya ingin menggaruk kepalanya saja.

Ardiansyah. Pojok kiri. Pasca batal ke Jogja. 2014/2015

Dimas Ruben Maranata Hutabarat
Raja sakaw, ahli obat-obatan ilegal, tukang santai tingkat akut, maniak kopi, dan badan akan terasa sakit bila mulut tidak tersumpal tembakau. Kita sambut, Rubeeen! Si anjing buduk kecil dengan mata yang selalu sayu dan ngantuk, juga gaya bicara yang menye, lamban dan pelan, teman saya yang paling rajin menyembah Kristus—dia sepertinya pemeluk yang taat—dan gemar menggambar grafiti di buku tulis walaupun gambaranya jelek—dan sumpah tai sekali alay menggambar grafiti di buku seperti anak SMP yang baru belajar merancap dan berusaha keren dengan memakai wax sampai kaku semua jembut-jembut di rambut. Anjing! Ruben adalah si canggung sungkan yang dengan bodohnya mencari temannya disaat kami pertama bertemu dalam kelas lugu yang lama-kelamaan jadi porno dan tengik. Disitu ia begitu bingung—saya pikir dia mencari cintasejatinya. Ternyata yang dicari adalah mahasiswa angkatan tua, mengaku-ngaku sebagai maba, dan endingnya mereka bersahabat (by the way ternyata orang itu adalah Abu Wafa; siapapun orang di jurusan pastilah mengenalnya). Ruben, tanpa kapasitas apapun langsung ditunjuk sahabat petirnya tersebut untuk mengisi acara bedahfilm fakultas, membuat saya tidak habis pikir apakah tim panitia tersebut kekurangan stok orang sampai-sampai mengajak kampret ini untuk mengisi acara. Kalian lupa ada Ardan sang maniak film, hah! Kalian lupa! Oh, tapi Ardan jauh lebih kampret lagi mungkin jika disuruh mengisi acara karena jujur dia sangat goblok jika disuruh nggacor—walau saya yakin ia 70% lebih paham film dibanding Ruben—Ruben lebih bisa membohongi orang dan berbasa-basi. Mengarang manis, candaan tak lucu tapi konyol, tawa garing menyebalkan, dan mata seorang pemabuk yang sedang teler: Ruben, you got it!

Perjumpaan dengan mata sayu ini amat aneh—seperti yang saya jelaskan di atas, dengan pertemuan-pertemuan lain yang tidak kalah aneh dan absurd. Ruben adalah sahabat Ardiansyah dan kita akan bisa menebak keduanya memiliki satu ikatan dan suatu kesamaan hobi. Hanya saja Ruben lebih parah dan payah. Misal: ke kampus saat kuliah libur, sementara saat kuliah masuk dia tidak pernah tampak. Ke kampus saat sore hari saat jam kuliah usai, sementara di pagi hari tak pernah tampak. Ke kampus saat pagi hari tapi tidak pernah tampak di kelas, melainkan di warung kopi Bu Gono lalu setelah itu pulang. Ke kampus membawa kamera DSLR, foto-foto kami, lalu pulang secara tidak jelas tanpa ikut kuliah. Masuk kuliah, langsung tidur di menit pertama dosen memberi kuliah. Pernah kami—gerombolan basa-basi anak-anak semester awal—kasihan kepada Ruben karena kami mau nonton bioskop sementara tengik ini tidak punya duit. Alhasil ada yang membayarinya. Tapi bangsat, meki ini malah tertidur dan harus dibangunkan sesaat setelah film berakhir. Memang asu.

Jujur saya tidak punya banyak memori dengan Ruben, kecuali saat saya, Rojak, Ardi dan Ruben sepakat untuk membentuk kelompok Linguistik Umum. Saya berinisiatif membentuk ini karena saya sedang gerah dengan munafik-munafik dalam kelas. Saat membentuknya anggota pertama adalah Rojak disusul Ardi. Kemudian Ruben yang sedang tidur saya masukkan juga. Beberapa anak tidak yakin melihat kelompok kami yang beranggotakan cowok semua karena dosen Linguistik kami amat menakutkan dan ketat. Apalagi keseluruhan anggota kami adalah bengal dan tidak pintar dan amat sangat pemalas. Alhasil, bencana tiba saat hari presentasi laporan. Saya sempat meminjam file dari Esa Wahyu Setyo Jancok Linggar, bocah kurus dari kelas sebelah yang merupakan bajingan tengik di kos saya. Kebetulan pembahasannya sama. Saya menyerahkan file itu ke Ardi dan Rojak untuk diedit. Saya kira mereka sudah melakukannya sampai saat presentasi, si dosen keluar ruangan dan mengambil file presentasi milik kelas sebelah. Identik, ujarnya. Cocok. Kalian plagiat, kalian tidak lulus mata kuliah ini. Ujarnya. Gudik sialan. Saya tentu saja membantah. Tapi setelah dosen memberikan argumen bahwa yang diedit dari file ini adalah ‘adalah’ yang diganti ‘merupakan’ saya langsung pucat pasi. Saya tidak lulus mata kuliah memek ini dan harus mengulang semester depan bersama Rojak, Ardi dan Ruben. Ardi dan Ruben menghilang tanpa pernah mengulang. Kini hanya tinggal Rojak. Kami serasa pecundang tulen.

Ruben (bawah). Sastra Bulan Purnama. 2013

Yudhi/Ihduy/Johnny Andrean
Yudhi atau Ihduy atau Johnny Andrean (keparat yang memberi nama ini) adalah seseorang yang bekerja di pabrik Siantar Top Rasanya Pasti Top. Saya ingat betul hari itu puasa Ramadan, kos sepi benar, pecundang-pecundang seperti Nyong tentu saja pulang kampung ke neraka. Saya hanya bersama Ibung seorang, pemuda Blitar yang tidak pernah puasa dan selalu hilang saat mau berbuka demi nyolong takjil. Alhasil saya sendirian sampai datang Mas-Mas memakai seragam, membawa jajan dan kami pun berkenalan. Setelah basa-basi dan bertukar asap rokok dan minyak gorengan, saya tahu bahwa orang ini bernama Mas Yudhi atau dipanggil Ihduy. Asal Madiun dan pacarnya sedang kuliah di Malang. Ihduy kemudian menghantarkan saya pada situasi pelik di mana pacarnya kini sudah hamil entah berapa bulan. Ihduy bercerita bahwa sebelumnya ia khilaf saat sedang bersama pacarnya menginap di Telaga Sarangan. Di Surabaya, sambil bekerja, ia mencari dukun yang bisa melakukan aborsi. Saya rada merinding mendengar ceritanya. Tapi ekspresinya selalu saja kalem dan kalem—lumayan tenang untuk calon bapak yang bahkan belum menikah. Saya lalu tidak ikut-ikutan dan jadilah Ihduy ini selalu berdiskusi tentang aborsi bersama pakarnya: Ibung Wibisana.

Setelah itu, saya sering diajak Ihduy ngopi atau entah mengonsumsi apalah. Karena hanya ada kami berdua di kos. Ihduy kadang juga membawa burung lovebird, untuk lomba. Setelah itu beberapa hari setelah lebaran, Ihduy pindah ke Malang karena khawatir kehamilan pacarnya. Kerjaan di sini ia lepas, pun juga selingkuhan-selingkuhan di kantornya. Ihduy memang seorang bajingan yang kelihatannya pendiam dan lugu. Setelah lama tidak kontakan, beberapa hari lalu saya mendapatkan kabar bahwa burung-burungnya sering menang lomba di perlombaan lovebird Malang Raya. Sungguh kisah hidup yang melankolis.

Special:
Chrisnanda Fitrah Persada
Krisna sang Maha Pencipta. Krisna sang idola. Krisna yang Maha Kuasa. Krisna, the greatest man in the world alive. Krisna, the most inspiring people in the damn world. Krisna, a rockstar. A good looking guy. A shinny son. Krisna, kesempurnaan. Krisna, jancok, tidak bisa dilukiskan dengan air ludah bercampur lendir sperma. Saya menyerah. Lukiskan sendiri. saya hanya memberi gambaran deskripsi cerita yang jujur sejujur-jujurnya.

Saya merasa kehilangan karena setelah Krisna berhenti kuliah, saya kehilangan sasaran amuk berikutnya yang akan saya habisi kepalanya sampai pecah—dan ini tidak main-main. Kebohongan yang dilontar dari mulutnya, jutaan fitnah, bagi saya cukup merugikan dan merusak nama baik. Tidak peduli itu kelainan, penyakit atau memang konspirasi dari dia sendiri, kepalanya bisa terhantam bogem dan ludah saya andai saja dia melempar fitnah lagi. Ya, untung saja dia pindah. Jadi saya tak perlu lagi melihat bocah lelaki kurus hitam sok kaya dan sok baik mondar-mandir kesana kemari, mencari empati dengan berpura-pura mendonorkan retina mata atau tangan yang diperban, mencari topik dengan berpura-pura mengendus dan bertanya siapa yang memakai AXE coklat, atau berusaha jadi keren dengan kedok menonton indie clothing saat Seringai main sampai selesai tapi tidak tahu apa-apa kejadian di TKP—dan sialnya ia sok kenal personil Seringai: Arian13 mungkin akan meludahi matamu cok! Dan gobloknya banyak dosen yang percaya. Ah, anjing! Empati mengalahkan logika dosen-dosen yang padahal mereka adalah master di bidangnya. Oke berhenti membicarakan dosen karena bisa-bisa ada yang... ah sudahlah. Saya yang jancok, saya yang keparat, saya yang tolol, bukan dosen, bukan Krisna.

Daftar anak yang pernah difitnah Krisna:
1) Sony Ferdianjancok.
“Sony iku kerjo tukang, ibuke akeh utange!” – dan saya membandingkannya dengan muka Sony yang memang seperti tukang batu.
“Sony iku ditolak cewek terus!” – fitnah yang cukup bisa dipercaya walaupun tidak benar adanya.
Dan banyak lagi yang saya tidak tega mengumbarnya di sini.
2) Ardan Homo Huda
“Mase Ardan mbukak lawang ngidek tanganku getihen!” – cukup sulit dan cukup psycho. Krisna berkata ini sambil menunjukkan tangannya yang berdarah. Sementara Ardan menyangkal bahwa Krisna tadi berada bersamanya.
“Ardan seneng Ellysia.” – saya tidak peduli juga andaikata ini nyata. Ellysia sempat menjadi primadona di mata Ardan dan saya saat kami sedang kebanyakan Guinness. Namun Ardan menyangkal gairah terbesarnya ini.
3) Saya
“Tito kafir nggak seneng solat.”
“Tito kafir nggak nduwe agama.”
“Tito habis ke Bandung.”
“Tito habis ke Jogja.”
Dan taek-taek lain yang kadang bahkan sampai mengadu domba saya dengan Kidut, selaku wakil saya sebagai ketua. Krisna bangsat tengik ini lebih baik tidak usah dianggap apapun lagi; bagi Liyana atau Irma Kidut atau Sandra lugu polos atau Mer super baik hatinya, jangan biarkan hati kalian dipermainkan oleh sandiwara itil Krisna.

For your information: kebohongan Krisna ini, tanpa saya bermaksud sombong, saya yang pertama kali menyadari, dan selanjutnya bilang ke Ardan. Kami berdua menawarkan argumen ini pada anak-anak tapi tidak ada yang percaya. Baru setelah beberapa kejadian, semua ngeh bahwa Krisna memang betul-betul bangsat tengik sakit jiwa. Jika ada yang tidak terima pengakuan saya ini, atau mungkin Krisna sendiri yang berkeberatan, saya siap menerima segala risikonya. Ayo lek lanang majuo cok!

Krisna (kanan depan). Selamatan Rujak Sastra. 2014