Showing posts with label Random Notes. Show all posts
Showing posts with label Random Notes. Show all posts

Sunday, July 19, 2020

Sambil Selonjoran

Sudah lamaaa sekali tidak menulis di sini. Rindu tak terkira. Tapi saya kira, blog ini memang sudah sepantasnya dimuseumkan. Terlalu banyak kisah, baik yang berdarah-darah, sampai banjir air mata. Anggap saja blog ini merekam semuanya. Sebagai pengingat yang bisa dibuka baca kembali demi nostalgia. Kini, saatnya memulai hal baru.

Saya punya satu halaman Tumblr yang sudah lama sekali, yang mungkin kalian pernah menemukannya. Update daily sambat, diary ecek-ecek tanpa makna seringkali saya bagikan di situ. Tapi untuk blog yang lebih spesifik tentang buku, film, musik, series, dan lain sebagainya, kalian bisalah mampir-mampir di:

sambilselonjoran.wordpress.com

Gitu aja ya. Dadah Blogger. . .

Thursday, July 19, 2018

Menyembah YouTube

Pertanyaan pertama, mengapa manusia harus bekerja. Pertanyaan kedua, mengapa saya mempertanyakan pertanyaan macam pertanyaan pertama. Pertanyaan ketiga, bisakah saya berhenti ngedumel?

Ringkas saja. Ini hari jelang pukul sembilan malam. Saya masih di kantor dan terkepung entah apa itu namanya yang lebih bajingan dari kebosanan. Brengsek. Tapi tahukah Anda bahwa internet selalu menyediakan caranya sendiri untuk menyelamatkan hidup. Tahu-tahu saya sudah berada di YouTube--dengan mungkin milyaran orang yang juga mengakses situs yang sama. Bahkan mungkin pencarian yang sama. Lebih ekstrem lagi, video yang sama!

Luar biasa. Kita semua ternyata terkoneksi secara tidak langsung dengan YouTube! 

Ngomong-ngomong, gerakan self-healing di lingkungan pekerjaan yang membuat kita jadi batu, bisa dilakukan secara sederhana. Sesederhana membuka tab baru, mengetikkan platform video-sharing kesayangan, dan mulailah berselancar sampai mabuk.

Tapi apa guna link kalau tidak dibagi? Apa guna fungsi teknologi bernama hyperlink? Apa guna selera manusia kalau tidak dipamerkan? Maka dari itu saya berkenan membagikan sejumlah video yang saya putar random dan berurutan, dan saya harap kalian juga berkenan mengontak saya, membagikan video yang sekiranya bisa menyelamatkan hari-hari saya dari kondisi ekstra boring.

Deafheaven - "You Without End" (Full Album Stream)


Saya sedang berada tepat di samping editor musik kenamaan Surabaya saat memamerkan track ini kemarin malam. Dalam posisi rebah di waktu jelang hampir subuh hari dengan kondisi badan yang payah dan tenggorokan yang sengak kebanyakan nikotin, mendengarkan album baru Deafheaven adalah keindahan tiada tara. Kata Yang Mulia Editor: "Gini ini black metal? Yang bener?" Saya menanggapinya dengan semakin mengencangkan volume. Kemudian mengulang-ulang satu album Ordinary Corrupt Human Love di Spotify semenjak tadi siang, dan kembali mendengarkannya lagi di YouTube dengan komputer kantor yang sepertinya sudah sangat lelah. Satu pendapat saya: bagaimana mungkin sebuah album metal--ehm, black metal--bisa membuat perasaan saya perih dan tiba-tiba ingin menitikkan air mata? Jawabannya: pemakaian kadar bumbu post-rock, emotive hardcore, dan shoegaze yang begitu proporsional. YouTube hanya selingan. Anda harus mendengarkan albumnya via pemutar yang lebih jernih.

PENDAKIAN GUNUNG KERINCI Part I - What's in My Bag #DindaDimana




"She's so cute i'm gonna die!" - tulis salah satu komentar di vlog perdananya mbak ini. Bener juga sih. Saking tidak fokusnya, saya bahkan enggak tahu Adinda Thomas ngomong dan menjelaskan apa saja, tahu-tahu video kelar. "Kak terbuat dari apa kok manis banget?" - komen selanjutnya yang saya baca--yang walaupun rada anjing tetap saya amini juga.

rumahsakit - Hilang - Lirik



Adinda Thomas mungkin adalah penggemar Rumahsakit garis keras karena menampilkan dua lagunya--satu lagu lama yang luar biasa mahadahsyat sampai level menyembah-nyembah, dan satu lagu barunya yang biasa-biasa saja--dalam vlog imut-imutnya di atas. Siapa bisa menahan godaan Dinda? Akhirnya saya menyerah dan mengikuti alur selera Dinda. Dan lagu luar biasa mahadahsyat sampai level menyembah-nyembah dan punya lirik yang beneran ikonik ini akhirnya terputar juga.

jangan biarkan aku jangan hilang, Mbak Dinda... 

Saturday, July 7, 2018

Tuan Marah: "Pekerjaan Ini Membuatku Alami Keterbelakangan Mental!"

"Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia yang membuat bumi seolah melambat dan lebih santai karena para manusia bisa asyik memantengi televisi sampai jelang subuh padahal besok kerja, aku terpuruk dan seolah berada di ambang batas kebosanan. Menonton pertandingan apapun--kecuali Spanyol lawan Rusia kemarin--belum ada yang membuatku berteriak wow dan melupakan gelapnya jiwa. Ah, aku memang Si Raja Sambat. Tapi apa kegunaan kau, sahabatku, kalau tak kugunakan menampung rewelan dan cerewetanku, tanpa perlu proses dan sok menasehati untuk bersyukur dan bersabar. Semua tukang ceramah adalah tai anjing ngentot babi yang tidak tahu apa yang sebenanya  kualami. Semuanya tidak jauh lebih baik dari gorong-gorong... ah sudahlah. Kenapa aku jadi semakin melantur dan mengata-ngatai orang begini. Kenapa juga orang-orang tidak ada yang mengerti aku. Melarangku sambat seolah-olah Mario Teguh hidup kembali dan memasuki pembuluh darah vena orang itu via dubur. Ah bangsat. Mengapa aku mengoceh. Mengapa aku ngotot. Mengapa aku jadi bangkai di tempat kerja yang hidup hanya demi perut dengan mata panas dan lelah, dingin AC goblok dan deru mesin ketik yang membuatku tertahan delapan jam sehari dengan alokasi 70 persen waktu berpikiran untuk terbang seperti burung, lepas ke alam bebas, melupakan hidup penjara yang no life dan anjing-anjing aturan yang mengharuskan kita untuk bersedih-sedih dahulu bersenang-senang kemudian. Goblok. Ini semua membuatku sedikit demi sedikit, alami keterbelakangan mental!"

***
Itu tadi adalah tulisan kawan saya, yang harus saya samarkan nama terangnya di sini dan bisa dipanggil Tuan Marah saja. Dia menuliskannya via WhatsApp--lagi-lagi dengan panjang sekali. Saya juga terpaksa memotong, mengedit, dan memperhalus beberapa bagian tulisan ini yang menyebut nama, instansi, atau kata-kata yang terlampau kasar. Pemuatan tulisan ini dalam blog ini murni karena apa yang dialami Tuan Marah ini, agak identik dengan apa yang saya dan ribuan pekerja lain rasakan. Saya berjanji pada Tuan Marah untuk membalas tulisannya ini di blog. Tapi karena kebingungan membalas dengan apalagi--jujur stok cacian dan umpatan saya untuk bumbu tulisan seperti tenggelam ditelan kejemuan pekerjaan. Jadi saya akan bagikan saja materi berat yang berpotensi membuat hidup makin ruwet dan semakin alami mental-breakdown. Atau bisa juga malah bisa melepaskan hormon kelegaan dari dalam diri kita; manusia-manusia pemalas yang diperas korporat sampai keluar ampas dan akhirnya melupakan diri sendiri karena harus melulu palsu di tempat kerja.

Materi berat yang saya maksud langsung teringat begitu saja saat Tuan Marah menuliskan 'keterbelakangan'. Segera saja saya mencari-cari album yang saya simpan di Spotify dan menemukan Tyranation, satu lagi mahakarya dari unit death metal bintang lima Deadsquad. Jujur akhir-akhir ini saya jarang mendengar lagu metal baru. Apalagi yang serapat death metal. Tapi Deadsquad memang punya pesona sendiri. Materinya sejak Horror Vision dilanjutkan Profanatik, selalu saya simpan dan putar. Tidak ketinggalan album baru Tyranation, yang digarap bersama musisi-musisi ternama, seperti Dewa Budjana, Andra Ramadhan, Coki Bollemeyer, bahkan Sudjiwo Tedjo untuk track pembuka berjudul "Jancuk." 

Album ini epik dan menggambarkan dunia pasca-apokaliptik yang tanpa harapan, gelap, dan kotor. Diksi Daniel Mardhany si lirikus sekaligus yang menggeramkannya memang tidak jauh berbeda dari lagu-lagu lain. Penuh benci, kesumat, dan kesakitan. Sangat relevan dengan kondisi Tuan Marah. Karena itu saya membalas gundah-gulana Tuan Marah tadi dengan "The Comfort Of Retardation"; track iblis mati yang mau tidak mau harus nyaman di dunia yang busuk dan alami keterbelakangan. Daniel menggeram: 

We still need an education
Teach us how to sold the world Teach us how to erase your soul Teach us how to kiss the fear!

Anjing Setan!


Thursday, June 7, 2018

Cerita Dewasa Untuk Pemula: Sebuah Pengantar

Oleh Bili Sayuti*
Saya pernah punya pengalaman menjijikkan. Sebenarnya tidak etis diceritakan di sini, karena itu saya hanya akan melempar pertanyaan ini saja: pernahkah Anda-anda semua, terutama yang mengaku sebagai moralis tulen, suci tak ternoda, pendukung keras boikot pornographic, ke-gap orang tua anda saat melakukan hal-hal yang kurang senonoh?

Jika belum, sebaiknya Anda membaca cerita bersambung karya mahasiswa sableng saya ini. Atau kalau Anda memang punya pengalaman ke-gap serupa, Anda juga bisa menyimak dalam-dalam esensi cerita nir-faedah ini dan membandingkannya dengan hidup anda yang tidak kalah absurd. 

Ini untuk kesekian kalinya saya disuruh membuat kata pengantar untuk proyekan fiksi mahasiswa saya yang sangat kurang ajar ini. Bagaimana tidak? Cerita ini, lagi-lagi dibagikan gratis di sebuah platform digital, dan terang-terangan mendokumentasikan kisah amoral nan jujur soal bagaimana sensasi menonton bokep pertama, atau pengalaman nyabun pertama di toilet sekolah karena tidak betah melihat bu guru magang yang aduhai tampilannya.

Karena itu, Anda direkomendasikan untuk menggantung moral Anda di balik pintu, dan mulai membaca bacaan senggang yang mengingatkan pada kejayaan Enny Arrow dan Freddy S. ini. Gaya penulisan Tito dalam ceritanya kali ini amat ringan, tidak berbelit-belit melilit seperti karyanya terdahulu. Juga tidak terlalu frontal dari segi pemilihan bahasa, meskipun tema yang diangkat terang-terangan berputar pada blue film, onani, dan seks pertama. 

Sebagai pamungkas saya ingin bertanya satu hal lagi pada Anda: pernahkah Anda onani pakai balsem? Saran saya jangan. Teman saya pernah bermain yang begini ini, lalu tidak sadarkan diri selama dua setengah jam di ruang UKS. Panas.

Rekomendasi Pak Bili bisa dibaca gratis di sini.

*Pak Bili Sayuti, mantan dosen saya. Sekarang fokus menjadi slackers di rumahnya. Pasca menamatkan Breaking Bad rekomendasi saya, beliau kecanduan Netflix sampai hari ini.

Friday, April 20, 2018

Menyetujui Rejeki

Manusia memang doyan sambat. Sedikit-sedikit menyalahkan keadaan, ngedumel dan ngomel sendiri. Walaupun tahu dan sadar kalau semua tidak akan bisa membalik keadaan. Manusia gudangnya ngomel, dan parahnya isi omelan dan sumpah serapahnya tidak habis-habis. Kemarin saat obrolan via chat dengan Mas Rona, saya seperti kembali diingatkan untuk tidak terus merengek-rengek akan nasib. Rona sebagai jurnalis musik paling berpengaruh di Surabaya (sejauh mata memandang), banyak memakai kata rejeki dalam chat. Inilah yang membuat saya tiba-tiba sadar kalau saya tidak pernah memakai kata ini. Rejeki atau rezeki dalam versi baku KBBI, memang kata yang ajaib. Tidak heran kalau para orang tua banyak menyelipkan kata rizki untuk nama anak mereka. Selama ini saya belum sadar kalau sudah diberi rejeki yang melimpah ruah. Tidak pernah kekurangan uang untuk ngopi, selalu bisa makan cukup, dan membeli tetek bengek remeh temeh yang sebenarnya juga saya tidak butuh-butuh amat. Selama ini saya menganggap kerja adalah kewajiban, just for money. Ini membuat saya berasa seperti robot uang yang bekerja dengan satu motivasi: duit. Tapi tentu saja hati ini rasanya tiap hari gundah gulana. Anjing, pekerjaan gini amat. Tapi terus dipacu demi duit, duit, duit. Dengan mengganti kata duit dengan rejeki, konotasi dan maknanya sepertinya berubah. Jadi bekerja memang tujuannya mencari rejeki. Kalian tahu rejeki menurut versi Ibunda saya itu seperti apa? Rejeki bukan hanya sekadar uang, tapi juga koneksi, pengalaman, dan ilmu yang tidak ternilai. Selama saya bekerja ini, tidak terhitung kenikmatan rejeki yang saya peroleh, dan itu benar-benar priceless. Perenungan saya malam ini akhirnya membawa saya pada berbagai pertanyaan, sebelum akhirnya bingung sendiri dan akhirnya memilih melanjutkan membaca Dilarang Gondrong terbitan Marjin Kiri yang aduhai ciamik itu. Ya, semoga saja tulisan dan perenungan ini ada guna manfaatnya yaa.

Monday, April 2, 2018

10 Pertanyaan Tak Kunjung Ada Jawabnya

1. Kenapa ada orang yang suka Fourtwenty?
Gelombang folk Indonesia menghasilkan sejumlah band dengan tiga tipe; luar biasa bagus, biasa saja, dan buruknya minta ampun. Fourtwenty; tidak termasuk ketiganya.

2. Kenapa harus bangun pagi?
Kalau jawabannya buru-buru kerja biar rejeki tidak dipatok ayam, saya menyerah dan tidak akan bertanya lagi.

3. Kenapa harus kerja delapan jam sehari enam kali seminggu (dan di beberapa perusahaan, tanggal merah dan weekend tidak libur)?
Uang? Masa depan? Membedakan diri dari hewan? Betapa lelahnya.

4. Kenapa hampir semua orang merasa dirinya benar?
Saya harap saya salah karena sudah mempertanyakan ini.

5. Kenapa outro di lagu "Di Bangku Taman" dihilangkan di album Time For A Change?
Hanya Tuhan dan Pure Saturday yang tahu.

6. Kenapa orang harus mempertanyakan sesuatu?
Saya tidak puas dengan quote Phytagoras: pertanyaan yang bagus mendorong hidup Anda semakin progresif.

7. Kenapa harus nyoblos?
Nyoblos lima menit untuk menentukan lima tahun? Sepertinya ada yang aneh.

8. Kenapa harus menjilat bos dan terlihat baik di mata semua orang?
Opsi pertama: Karena hidup cuman sekali, berpura-puralah. Opsi kedua: be your fucking self like a Kurt Cobain eksistensialism quote.

9. Kenapa dalam setiap pertemuan ada perpisahan?
Kecuali karena maut, perpisahan dalam konteks apapun selalu membuat kita penasaran, menduga-duga, lalu berdamai dengan perasaan. Mungkin jawabannya supaya mendidik kita lebih dewasa. Mungkin.

10. Kenapa kita tidak jadi anak kecil selamanya?
Karena tiap hari bulu-bulu di organ tubuh kita selalu bertumbuh. Tapi saya yakin itu bukan jawabannya.

Saturday, March 31, 2018

Ridho Riblisiandi Putra (1994 - 2018)


Sekali lagi aku menulis obituari, dan berharap ini jadi yang terakhir. Tapi kau tahu, kematian tidak pernah berhenti, selalu mendadak, dan seringkali mengagetkan. Aku tidak tahu kenapa kau meninggalkan kami semua begitu cepat, Mas San. Terlalu banyak ingatan yang meski kubuka saat membuka memori tentangmu. Tentang hidup yang masih polos saat kita sama-sama rajin mengaji di TPQ pukul dua siang, saat kau membimbingku--anak bawang ingusan yang selalu apes dalam permainan kejar-kejaran--untuk menjauhi teman yang kau anggap sengak dan kaku. Atau saat kau begitu mudah membeberkan standar warna favorit--dan saat itu kau masih kelas lima SD--dan yang terlambat aku sadari, bahwa Caroline--cinta pertamamu sewaktu masih di sekolah dasar--benar-benar cantik dan mempesona. Aku langsung mencari-carinya di semua akun media sosial saat kabar kematianmu datang, tapi entah tidak kutemukan--termasuk juga media sosialmu.

Kita sudah lama, lama sekali tidak bercengkrama. Lebih kurang enam atau tujuh tahun semenjak kau lulus SD dan memilih melanjutkan studi keluar kota. Sementara aku, disini-sini saja, masih dengan bekas nasehat dan kegilaanmu. Aku ingat momen di mana kamu menyobek satu lembar ayat suci, melipatnya jadi 32 bagian dan menambalnya dengan plakban. Kamu namakan itu jimat dan menyuruhku membawanya supaya sakti. Hanya saja aku terlalu polos hingga cerita ini mudah menyebar. Akhirnya kamu sempat kecewa padaku, kekecewaan anak bau kencur yang sehari-dua hari sudah berganti rupa. Kita kembali berkumpul di pos ronda, bermain karambol, kelereng, dan perang lempar-lemparan mangga yang masih bayi dengan anak gang sebelah. Padahal kau anak gang sebelah juga tapi yang aku ingat, kau membela gang kami, dan dengan nyala mata yang penuh kebahagiaan, menyasar wajah Kloneng--tokoh terpandang di gang sebelah--untuk dilempari mangga. Dan saat mangga itu tepat mengenai matanya, kamu seolah jadi anak kecil paling bahagia sedunia.

Masa kecil yang indah dan aku tidak pernah tahu cara untuk kembali ke sana. Kamu pergi begitu saja meninggalkan bekas ingatan yang tidak pernah rampung. Bahkan aku harus mengakui ini: kalau di semester kedua kelas empat SD aku sangat mengidolakanmu dan berusaha menyamai kegilaanmu. Hasilnya adalah Bu Tutik yang marah-marah di depan kelas, membuatku dipanggil dan dihardik karena meludahi Yunus--seorang bocah tidak naik kelas yang sebelumnya jadi temanmu.

Kalau ada satu kenang yang harus aku bawa dan rawat, adalah kegilaan TPQ kita dibawah naungan Ustadzah Ulfa. Bagaimana di suatu hari, kita berlomba mencuri rambutan dan besoknya Ustadzah kesayangan kita itu menangis sejadi-jadinya, lalu membelikan semua pencuri tadi, termasuk aku, kau, Samsul Suhendro, Herlly Prakoso, Diki Diantono, dan semua kawan seangkatan kita, satu plastik rambutan supaya kami tidak mencuri lagi.

Ada sedikit air yang kuusap di sudut mata saat mengingat ini. Terutama Mbak Olin--Caroline--yang ada di lokasi saat kami membuat Ustadzah Ulfa menangis. Tapi semua ini tentangmu, Mas. Tentang masa kecilku. Tentang begitu cepatnya larimu saat bermain kejar-kejaran. Tentang aku yang selalu kau rangkul dan kau anggap adik sendiri. Menolong aku saat jatuh dari sepeda, membela aku saat dihadang bajingan gendut jelek hitam bernama Djaya, memberi tahuku cara mudah memainkan permainan tazoz Chiki, atau mobil krek-krekan sebelum Hot Wheels booming.

Only good die young, mas. Aku selalu percaya hal itu, dan kau harus tahu, dimanapun dirimu berada, masa kecilku akan terus berlarian bersamamu; dalam ingatan yang akan kubawa dan kuceritakan ke anakku nanti.

"Dulu Papa punya sahabat baik, namanya Mas Sandi..."

Long Weekend Nan Mantap Anjing

Ini adalah hari kesekian saya bekerja di suatu media berita di mana karyawan on air-nya tetap masuk meskipun tanda di kalender menunjukkan tanggal merah. Long weekend dimulai Jumat ini hanya saja saya sebagai pekerja pantang merasakannya. Sesudah dibombardir tugas kantor yang menumpuk sejak pukul sembilan pagi, saya akhirnya bisa rehat selepas pukul lima sore. Sobat saya, Jonip, merencanakan untuk membunuh stres barang sebentar nanti malam. Entah itu memperingati hari film nasional di bioskop terdekat, main ke gereja merayakan Jumat Agung Paskah, atau sekadar ngopi rasan-rasan dengan jutaan rutukan dan luapan perasaan tertekan atas ritme kerja yang membuat kehidupan kaum somplak seperti kami amburadul jaya. Tapi apa daya badan sudah terlalu keras dihantam teks-teks berita. Kepala sudah sedemikian puyeng dan sedang malas dihantam paracetamol. Akhirnya sesudah mengisap bunga saya rebah sejenak, sambil mencoba membuka mulut, melemaskan otot-otot. Saya membayangkan adegan dalam Spongebob Squarepants di mana salah satu tokoh antagonis kesayangan kita, Squidward, sedang berusaha melepaskan diri dari gangguan Si Kuning dan mengafirmasi dirinya dengan berkata "santai, santai, santai." Tapi sesudah membayangkan adegan itu saya malah terbang entah ke mana, mengalami pertempuran luar biasa di alam mimpi, dan bangun dengan bermacam-macam umpatan karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Brengsek bajigur. Saya langsung mengecek ponsel dan ada ribuan message dan telfon. Salah satunya dari Jonip yang saya duga sedang marah tidak karuan, menganggap saya seorang terkutuk yang menyalahi janji dan rencana. Dan yang sureal adalah suasana di luar sedang hujan begitu derasnya. Satu hal lagi, kawan baik saya, Mas Nirwana, menyampaikan kesedihan dalam sebuah kiriman share location di WhatsApp. Saya langsung mendadak bodoh karena selepas pulang kerja tadi mengajak Nirwana ini ngopi-ngopi juga di daerah Ketintang. Saya langsung merasa berdosa dan iba tapi tidak mau berlarut-larut. Akhirnya saya kembali menumpuk guling di atas kepala, menikmati badan yang sudah segar sesudah tidur tiga jam, dan ingin merasakan kembali kesyahduan. Mata yang masih sepet begitu asoy dipejam-pejamkan. Hawa yang dingin karena hujan, sungguh mantap anjing karena biasanya Surabaya selalu gerah dan panasnya minta ampun. Terbersit keinginan untuk makan karena perut terakhir kali diisi pentol pukul lima sore tadi. Tapi sedihnya di luar hujan dan saya sedang sedemikian enjoynya menikmati suasana asoy geboy ini.

Friday, March 30, 2018

Sebuah Kiriman Kegelisahan Kaum Pekerja

Sepulang kerja (ini pukul setengah dua dini hari), saya mendapat kiriman puisi, atau prosa, atau apalah ini, dari sobat dekat saya. Beberapa waktu sebelumnya saya merekomendasikannya untuk menonton Captain Fantastic, film manusia yang menolak modernitas. Nyatanya dia keterusan dan sedikit nyandu dengan film sejenis. Dilahap pula Into The Wild dan film yang diangkat dari novel Nick Hornby (dia memberi saya tebak-tebakan tapi saya belum tahu judulnya). Bahkan, bocah ini terlalu keterusannya sampai menonton pula George Of The Jungle. Mungkin ini yang membuatnya merasa agak sedikit nge-blank dan menuliskan tulisan ini. Dia mengirimi saya via WhatsApp sesudah telepon selama sekitar limabelas menitan membahas rencana ngopi karena dia sedang butuh cerewet dan curhat; membahas masalah kerjaan yang semakin asu--katanya. Tulisannya saya taruh sini, selain sekadar untuk mengisi blog yang sudah lama tidak terisi, apa yang dia tulis sepertinya sama dengan apa yang saya rasakan sekarang. Anggap saja penulisnya bernama Tuan Marah. Sorry kalau kau membaca prosa penuh amarahmu di blog cihuy kesayanganku. 

Selamat membaca, handai taulan!

***

Seharusnya, kita punya waktu untuk diri kita sendiri. Sebentar saja, jangan lama-lama. Dua-tiga hari, tanpa harus dihantui suara khas dari keyboard saat dipencet, tetikus yang kita gerakkan kesana-kemari, klik laman, software, folder, mata yang menatap ruang maya dibalik LCD. Tambah lagi dinginnya pendingin ruangan 16 derajat Celcius, televisi berita keparat yang terus menjerit, kursi yang tidak pernah nyaman, tertawa palsu, bodoh dan tidak lucu, sikap sok asyik, sok dekat, sok jaim, sok akrab antar rekan kerja. Profesionalisme kepentingan pribadi, peduli hanya sebagai basa-basi, keuntungan dalam roda bernama industri yang tidak pernah berhenti.

Kita seharusnya tidak melulu terpenjara waktu semacam ini. Kita seharusnya, seharusnya, seharusnya, membuat peta perjalanan kita sendiri. Kita seharusnya tidak jadi babu, diperas seperti kanebo, sampai kering dan kaku, lalu tua dan dibuang. Kita adalah urat-urat penis yang menegang tanpa pernah merasa puas, tanpa pernah merasa klimaks.

Kita memenjarakan diri kita sendiri dalam semu kesuksesan omong kosong berbalut rutinitas harian busuk yang sebenarnya membunuh kita dari dalam. Kita menjadi mesin, budak, yang terus menerus mempersenjatai nyawa dengan vitamin, nikotin, kafein, menggenjot produktivitas sekaligus membunuh kreativitas demi rupiah yang tidak seberapa. Kita kuda liar yang dijinakkan gara-gara perut. Kita dikutuk bernasib sial gara-gara semua orang mewacanakan kerja, kerja, kerja, tapi tidak pernah peduli pada arti bahagia. 

Bahagia tidak boleh dicari tapi dirasa tapi apa daya hati sudah sedemikian mati, kelu, menghitam dan dengan sendirinya obatnya hanya alkohol murah yang susah didapat, pemerintah banyak bacot dan aturan, membuat kita yang awam jadi kebingungan.

Pada siapa kita bergantung selain pada murah hati pemilik modal, yang sialnya hanya ongkang-ongkang kaki. Tidak bisa. Tidak bisa begini. Tidak mau begini. Besok pagi kita tetap bangun pagi dan menunda aktivitas mengoles nutella di roti, karena waktu dan weker sudah mengubah alur hidup kita, jadi kencang dan terburu-buru, mandi terbirit-birit, dikejar telat, dikejar kemarau goblok, umpatan tidak berguna, profesionalisme babi buduk.

Anjing!

Monday, January 1, 2018

Semenit Sebelum 30: Sebuah Pengantar

Oleh: Bili Sayuti*



Malam belum betul-betul dingin saat pesan pendek--atau lebih cepatnya WhatsApp--dari mahasiswa saya membuat saya sedikit kaget dan mendelik. Tito Hilmawan, mahasiswa yang pernah saya ajar setengah semester di Fakultas Bahasa dan Seni Unesa, mengaku sudah menulis novel. Saya mendelik bukan dalam artian novel itu begitu monumental melampaui Tere Liye, wong saya juga belum baca. Juga bukan dalam artian novel itu jeleknya minta ampun melampaui Tere Liye, wong saya--sudah saya bilang sebelumnya--belum mbaca sama sekali. Jadi kenapa saya mendelik kaget mungkin karena saya belum update Grab Taxi di Galaxy Note baru saya--iya baru beli. Jadi tiba-tiba ada notifikasi kalau aplikasi butuh pembaruan. Atau mungkin karena--kembali ke awal--Tito Hilmawan, mahasiswa saya mengabari saya dengan bahasa yang lincah dan tergesa-gesa, khas anak milenial yang doyan dianggap gesit, kalau dia bikin novel dengan tokoh utama seperti nama saya.

Sebagai dosen pengampu mata kuliah penulisan kreatif antara tahun Januari sampai April 2016, saya sudah menyadari potensi seorang Tito. Bukan potensi dalam hal penciptaan karya yang indah sekaligus busuk luar biasa seperti Tere Liye (saya mungkin bisa dipidana atas statement barusan), bukan juga dalam hal apapun tentang sastra super idiot, idiot, jenius, dan super jenius (empat tingkatan sastra menurut saya, ada dalam buku Sastra Mukjizatku yang saya tulis kisaran tahun 2001 silam tapi tidak laku karena dianggap buku rohani), tapi Tito berpotensi membuat hal-hal yang bebal.

Tito ini sempat menolak mendalami sastra, begitu pengakuannya saat mengajak ngopi saya di sore yang cerah-secerah-cerahnya, di Warkop Klutik Lidah Wetan. Begitu kurang ajarnya mahasiswa bau kencur mengajak seorang dosen untuk ngopi di warkop pinggir jalan. Tito yang awalnya ingin menggali ilmu dan pengalaman saya, justru seperti keasyikan membagi kisah hidupnya yang muram dan tidak baik-baik amat. Saya berusaha tidak peduli kisahnya tentang perempuan karena hanya berisi hal-hal receh, atau mungkin di beberapa nama agak terlalu berat dan terlalu privasi untuk disebar.

Tito mengaku sudah ngebet jadi penulis sejak dia mulai membaca Rolling Stone. Saya sedikit heran kenapa dan bagaimana seorang manusia bisa begitu biadabnya sampai yang menginspirasinya menulis bukanlah Shakespeare atau Hemingway, tapi malah David Fricke atau Lester Bangs. Saya tidak mengerti pola pikir seperti itu sampai akhirnya saya tahu, saat Tito semester empat, sewaktu saya belum dipercaya Kajur untuk memegang mata kuliah dan hanya jadi asisten dosen yang makan gaji buta: Tito ini bodohnya minta ampun soal sastra. Ini makin bikin saya geleng-geleng kepala. Kelakuan mahasiswa macam apa yang ingin jadi penulis fiksi tapi belum baca karya-karya hebat dunia. 

Tito kemudian memberi saya beberapa kertas bekas (yang sungguh bobrok dan tidak bisa digambarkan keadannya), lusuh dan fotokopian. Saya ingat betul kertas itu ketinggalan di Klutik karena memang saya tidak tahu kalau itu nantinya bisa berguna, dan memang tidak ada gunanya. Tito - si pemberi kertas bekas cebok, menyatakan kalau kertas itu berisi karyanya. Dia menyebutnya sebagai zine (kalau saya tidak saya tulis). Dia seperti melawan sastra itu sendiri tapi tidak keren, cenderung goblok dan saya memandangnya hanya pemalas tukang tidur saja. Sesudah mengambil kretek saya dari meja, saya hanya mengambil kertas karyanya dan membolak-baliknya, terlalu malas berbasa-basi sore itu, apalagi cangkir kopi gelas potel itu tidak kunjung dingin. Asu. Saya lalu memberinya beberapa wejangan, lalu menyamakan persepsi tentang apa sebenarnya yang diinginkan bocah tengil ini. Dia mengajak saya berdikusi dan mengumbar cita-citanya jadi penulis fiksi, tapi karyanya hanya bungkus gorengan semacam ini? Saya bisa saja mengusap tangan sisa minyak goreng saya ke kertas itu, tapi tidak kuasa karena dia begitu berapi-api.

Tito terus berkata zine, zine, zine, zine. Bebas, bebas, bebas, bebas. Free, fuck copyright, whatever, rock and roll, remeh-temeh tai kucing lainnya. Di depan muka dosennya sendiri. Biadab benar. Saya semakin tidak mudeng. Satu yang saya pahami, seorang penulis fiksi harus bikin buku. Titik. Saya puritan. Bukan nulis di sobekan kertas, atau majalah sekalipun. Tito lalu memamerkan blognya (mungkin tulisan ini akan dimuat disitu juga), tapi saya ogah membacanya, Bagaimanapun, Pramoedya Ananta Toer terkenal justru karena dia bikin buku, bukan nulis di Wordpress. Atau seheboh-hebohnya blog Raditya Dika, ia akan tetap dipandang sebelah mata kalau buku Kambing Jantan tidak terbit (bangsat lihat sekarang nasibnya). Tapi Tito keukeuh dengan jalannya. Ia terus baca majalah musik kapitalis, kecanduan, dan jadi goblok sendiri karena doyan habiskan waktu berjam-jam berburu album gratisan. Dasar miskin. Dia mau jadi penulis atau anak band. Satu lagi aktivitasnya adalah dia doyan menulis musik, di media-media lokal yang kecilnya minta ampun. Saya tidak tahu faedahnya apa bagi seseorang yang bercita menulis fiksi seperti Tito.

Awal kenal Tito terjadi saat saya dipercaya mengajar (walaupun saya mundur beberapa bulan sebelum UAS). Saya dipercaya menggantikan Pak--(saya tidak bisa sebut namanya di sini karena ada sedikit ketegangan pribadi) yang sedang ada urusan di Kyoto - Jepang. Saya mengajar mata kuliah Penulisan Kreatif sekitar empat bulan. Di situ saya tahu kalau anak-anak sastra angkatan 2013 kebanyakan gobloknya minta ampun. Bahkan yang bisa disebut pintar pun sebenarnya bodohnya amit-amit di mata saya. Bagaimana tidak? Anak sastra tapi tidak ada yang sastrawi. Membuat puisi seperti jadi hal yang mudah, lalu hasilnya kacangan. Mana prosesmu, mana mata kurang tidurmu, mana perjalananmu untuk hasilkan karya tulis, karya sastra. Semuanya terlihat tolol di mata saya, apalagi gerombolan biadab yang duduk di bangku belakang: Tito dan Rozzak. Ada satu lagi anak laki-laki tapi saya tidak hafal namanya. Tapi melihat mukanya sebentar saja saya tahu dia ini sama gobloknya. 

Perkenalan dengan Tito tentu saja terjadi saat saya mengajar. Saya bertanya dengan serampangan, menunjuk dua anak yang terlihat ngantuk, ada di pojokan seperti sedang nonton bokep dari ponsel. Brengsek. Satunya malah pakai headset di telinganya. Tito seperti kelimpungan, megap-megap, dan bertanya: 'aku ta yang ditanya?' Ini anak benar-benar jancok maksimal. Sudah celananya robek parah, dan kelihatannya tidak pernah dicuci. Teman-temannya yang ditanya Tito aku-ta aku-ta tadi juga kelimpungan, panik. Belum pernah saya menemukan kelas sesopral ini. Maafkan bahasa saya yang kurang mengindahkan tata krama. Tapi saya sudah resmi tidak jadi dosen, jadi bebas misah-misuh seenaknya. Saya lupa bertanya apa ke Tito--pastinya pertanyan mudah. Tapi jawabannya bikin mendelik: begitu koprol dan tidak penting sepanjang masa. Bahkan indra pendengaran saya harusnya tidak mendengar pernyataan tidak berkualitas semacam itu.

Lalu sesudah kelas yang berantakan, saya masih duduk di meja, entah malas sekali untuk sekadar melangkah ke luar pintu. Saya agak sedikit pusing entah karena kebanyakan kopi atau jawaban tahi kucing Tito tadi. Brengseknya saat saya duduk, mahasiswa saya justru pada pulang duluan! Mana sopan santun sebagai anak didik. Saat saya mengumpat dalam hati itulah muncul sosok Tito di hadapan saya. Saya bingung, dia kelihatan seperti campuran orang belum mandi, baru saja kumur benzoat, atau habis giting kemarin malam. Tanpa diduga dia mencium tangan saya. Tindakan yang sopan benar. Tapi sesudah itu langsung mengajak saya ngopi. Tindakan yang kurang ajar benar.

"Saya ingin berguru, pak." Ujar Tito. Saya melihat arloji. Istri saya baru pulang jam tujuh nanti. Baiklah, tidak ada salahnya ikut bajigur ini. Dari situlah dimulailah kedekatan saya dengan Tito. Sampai akhirnya disuruh memberi komentar pada draft novelnya yang belum selesai, dan masih teramat panjang untuk mencapai garis akhir. Saya sebenarnya sudah menolak permintaan Tito, karena saya diharuskan menuliskan komentar untuk ditaruh di blognya. Saya lebih suka cerewet dan mengobrol. Tapi setelah saya membaca kalau tokoh utama dalam draftnya pakai nama saya tanpa izin (baru izin setelah beberapa hari minta tolong, dengan alasan lupa), maka sebagai beban moral saya turuti permintaanya.

Tapi saya juga kaget sesudah Tito bilang kalau draftnya sudah diposting di salah satu platform online. Bebas diakses siapapun dan kapanpun, bebas dicaci-maki. Kalau penulis lain simpan draftnya rapat-rapat sebelum dicetak dalam bentuk buku, Tito malah dengan entengnya membiarkan semua orang bisa membaca karya-karyanya yang cenderung urakan dan tidak beraturan.

(bersambung)
***
*Penulis adalah dosen mata kuliah penulisan kreatif saya tahun lalu. Sekarang, Pak Bili berdomisili di (entah, saya disuruh merahasiakannya), bersama istri tercintanya. Sedang selesaikan buku kumpulan puisi terbarunya. Untuk draft novel yang dimaksud Pak Bili, bisa dibaca di sini: 

Saturday, November 25, 2017

23

Twenty three years, i still haven't clue
Stop thinking the past, i don't think i'll ever do
Driving through the town in black and blue
Maybe today i'll catch a glimpse of you

Jujur orang macam apa yang bisa lupa dengan umurnya sendiri, kecuali orang itu benar-benar penat dan sibuk--atau orangnya benar-benar ngehek minta ampun. Saya mungkin termasuk golongan pertama, tapi tidak menutup kemungkinan masuk ke golongan dua juga. Sejam lagi saya ulang tahun, tapi saya lupa berapa pastinya umur saya. 22 atau 23? Atau jangan-jangan 24? Apakah saya sudah betul-betul kehilangan jatidiri maknawi sampai-sampai tidak sadar usia? 

Saya selalu ingat hari ulang tahun saya sendiri. Ini bukan karena saya pengingat yang baik, atau tukang lihat kalender setiap saat. Mungkin karena Bapak di rumah sudah lebih dulu mengingatkan tadi sore: besok ulang tahun ke 23, ya?--Bapak selalu WhatsApp sehari sebelum saya ultah, memberi ucapan langsung juga sehari sebelum ultah. Entah kenapa. Bapak memang orang yang tidak suka menunda-nunda saat melakukan sesuatu. Selagi ingat dan ada kesempatan, harus segera dilaksanakan. Tapi ya masak itu harus diterapkan saat mengucap ulang tahun juga.

Mengingat ulang tahun adalah mengingat momen; bukan umur. Umur tidak mendefinisikan hidup, tapi momen, suasana. Bukan seberapa lama kita hidup, tapi sudah berapa banyak yang kita alami saat hidup, berapa banyak yang kita lakukan saat hidup. Pertanyaan sulit. Saya pun belum melakukan apa-apa. Tapi beruntungnya, saya selalu mendapat momen-momen, kejadian-kejadian, yang membuat hidup saya tetap hidup. Entah itu sedih, bahagia, keparat, menyenangkan, kepalang brengsek: intinya saya selalu berusaha merayakan semuanya. Hidup untuk hidup.

Kurang dua tahun lagi usia saya sudah seperempat abad. Selanjutnya apa? Menikah? Tuhan berencana, manusia yang menentukan. Tapi saya belum tentukan apa-apa, jadi biarkan Tuhan bereksperimen dengan rencana-rencananya, di lab kimia semesta raya.

Toh di 23 tahun ini, masih banyak kebingungan yang berseliweran di kepala. Siapa saya, siapa Tuhan, apa tujuan hidup saya, saya harus melakukan apa? Mungkin saya akan menemukan titik terangnya, saat saya memilih untuk terus menikmati perjalanan. Perjalanan panjang.

Gone are the days of youth
I'm left with nothing but the truth
And yet i'm stumble and fall trying to find something real
The clock keeps on ticking, time doesn't heal

Seringai pernah bilang kalimat ngehek: saat pertama kali kamu mendengar musik keras, saat itulah usiamu berhenti. Saya pertama kali dengar Burgerkill di usia 14 tahun (atau mungkin Bluequthuq di usia 12 tahun). Jadi usia saya sekarang masih 14, masih SMP. Semangat itu masih ada di sini (menunjuk hati), tapi lama kelamaan saya tidak bisa bohong juga. Yang dimaksud Seringai adalah sisi senang-senang. Bahwa kesenangan orang tidak boleh berhenti. Tapi kedewasaan? Jelas, setiap orang pasti mau tidak mau harus dewasa. Umur 23 mungkin adalah sisa-sisa terakhir masa muda, sebelum segalanya menjadi tampak serius dan old. Sebelum masa banter-banternya cari uang dan mikir kawin. Sebelum hidup harus dirombak habis-habisan, dari akhlak, moral sampai relijiustas. 23 adalah batas antara muda dan tua: beberapa langkah menuju seperempat abad hidup. Beruntunglah kalian yang pernah jadi bengal dan ugal-ugalan. Viva alkohol murah dan substansi halusinogen. Viva hidup punk rock porak-poranda. Usia 23 sudah hampir memotong semua, meskipun kesenangannya masih terasa. 23 sisakan kebenaran-kebenaran yang makin lama makin tampak, keputusan-keputusan yang mau tidak mau harus kita pilih dan jalankan. Walaupun banyak halang rintang, batu kerikil tajam, terjatuh, berdiri lagi, tersandung, tunggang-langgang. Usia 23, waktu dimulai lagi. Terus berjalan, tidak bisa dihentikan. Usia 23, selamat ulang tahun untuk diri saya.

tulisan bercetak tebal dicomot dari Vague - "23" 

Sunday, October 1, 2017

Feel Alive Adalah Segalanya

Sedikit lupa waktu tidak apa-apa asal tidak diperbudak waktu. Umur harusnya panjang karena kebahagiaan tidak mungkin datang dalam dua puluh empat jam. Rehatlah sejenak, rawat ingatanmu, bacalah buku-buku. Kembalilah waras, jadilah manusia, putar album favoritmu sampai ketiduran. Berkumpullah dengan teman-temanmu, tanpa perlu berpikir akan membahas apa dibalik meja kopi. Berbicaralah, keluarkan gelisahmu, jujurlah tentang semua yang terjadi, akui kelemahanmu. Hidup tidak perlu tergesa-gesa, terburu-buru, rutinitas itu tahi, kamu bukan ayam yang harus selalu bangun pagi. Makan Indomie sepuasmu, jangan berpikir aneh-aneh, makanan sehat itu menyebalkan, makanlah apapun yang kamu mau. Dunia sudah terlalu banyak aturan, kamu seharusnya tidak perlu terlalu mengatur diri. Banyak kejutan di luar meja kerja, dan kalau definisi hidup adalah kejutan yang berkelanjutan, mengapa kamu harus terus terjebak tumpukan pekerjaan?

Karena hidup tidak begitu penting kalau kamu tidak merasa hidup. 

from Breaking Bad: season 5 - episode terakhir

Sunday, September 24, 2017

MBV, Hujan, Kegelisahan: Sedikit Catatan

Album kedua My Bloody Valentine; sesudah 22 tahun penantian
Sialan sudah mau Maghrib saja. Lampu-lampu kota mulai hidup, seiring langit yang makin redup. Saya sedari tadi membuka YouTube, mengulang-ulang album MBV dari My Bloody Valentine. Rilis 2013 lalu, sekitar dua puluh dua tahun pasca rilis album pertama Loveless tahun 1991. Album ini sangat cantik, kelam dan gelap. Semuanya bisa timbulkan keindahan yang tidak bisa diukur. My Bloody Valentine adalah unit shoegaze/indie-pop, yang menurut saya pribadi, paling jenius. Band terbesar yang jadi cetak biru genre shoegaze. Kevin Shields gitars MBV adalah nabi besar yang menerima wahyu suci dari seperangkat efek gitar berjejer yang menyala-nyala, dengan sound dan tune yang diutak-atik sedemikian rupa. Saya merasakan banyak keberkahan dapat menemukan album ini. Sekitar 2014 lalu, saya memohon-mohon pada Ardan, bajingan tengik sobat kental saya, untuk diunduhkan album ini. Dia punya banyak waktu dan energi untuk mendownload apapun rekomendasi saya. Hasilnya: Loveless dan MBV, dua dari ratusan album bagus yang pernah saya dengar. Saya dalam kondisi hancur-lebur luar biasa saat itu. Meranggas seperti daun di pelataran kampus. Patah hati sedalam-dalamnya dan merasa bingung, mau dilanjut apa tidak hidup ini. MBV salah satu penyelamat terpenting saya. Dengan headset murahan, dan mata yang rasanya selalu kurang tidur, saya selalu menyetel ini di dalam kelas saat kuliah usai namun masih ada banyak anak yang bacot dan membahas hal-hal goblok luar biasa tidak penting. Momen sureal adalah saat di luar hujan benar-benar deras sekali, sementara saya terbaring di ruang lab sastra yang bentuknya lesehan. Saya rebah, sambil memandangi langit-langit. Ruangan gelap dan muram. Bunyi hujan bergemeletak di genteng dan jendela. Hati saya sedang kacau dan lecet-lecet karena putus cinta. Sejak tombol play itulah saya tahu, "She Found Now" - track pertama album ini,  adalah salah satu lagu terindah yang pernah saya dengar dalam hidup. Lagu terbaik di album MBV. Karya terbaik yang pernah dibuat Kevin Shields dan gerombolannya. Saya berhutang budi pada hujan, dan MBV. Sampai saat ini.


Semenjak itu saya belajar bahwa kesedihan harus dirayakan. Belajar menyembuhkan diri sendiri setiap hari. Belajar menertawakan tangisan. Belajar untuk hidup lagi. MBV membantu saya melalui semua tanpa perlu banyak usaha. Hanya perlu menyediakan telinga, dan kita akan segera tahu, noise gitar Kevin Shields bisa lebih agung dan spiritual dari apapun.

Saturday, September 23, 2017

Malam Liar

Ingin menulis hal-hal yang sedikit provokatif, atau mencaci-maki siapa saja di dunia yang kepalang goblok ini, tapi buat apa. Sudah terlalu capek juga, ngos-ngosan keparat. Botolan habis, eceran tinggal sebatang. Demi apa coba hidup ini? Baru pulang kerja, tidak bisa mengeluh ke sembarang orang, dikira cemenlah, gak bersyukur lah, apalah. Goblok. Saya pengen punya tembok besar sebesar Tembok Berlin, dan crayon yang sebesar penis kuda, buat corat-coret tiap sedang sumpek dan bosan. Menggambar binatang-binatang dengan sentuhan ekspresionisme atau impresionisme seperti Van Gogh--ah mustahil saya bisa melukis sebagus itu. Palingan jadinya gambar yang saking abstraknya sampai keterlaluan jelek. Robohkan saja tembok itu. Saya akan cari pelampiasan lain, seperti misal... ah sudahlah. Mengapa membahas hal seperti ini? Seperti tidak ada hal lain yang lebih berfaedah saja. Ah memang ada, ya? Di hari-hari suram seperti orang yang kemungkinan depresi dan goblok menahun macam saya ini, semua tampak tolol dan tidak ada faedahnya sama sekali. Tidak berguna dan hanya berusaha isi perut masing-masing saja. Atau uang. Ya, begitu-begitu terus berputar-putar seperti bola karambol yang harus dikasih tepung biar licin--tapi tanganmu bakalan kotor goblok. Saya tidak tahu benar-benar, apa esensi hidup ini. Untuk apa tujuan saya lalu-lalang bekerja cari duit. Menikah saja belum, membiayai orang tua mereka sudah lebih dari mapan. Cari untuk keperluan diri sendiri? Keperluan makan kenyang, sebatang dua batang, botolan, bayar kamar, dan lain sebagainya? Saya kira saya tidak nemu hal yang maknawi disini. Saya kurang dekat dengan Tuhan? Ayolah. Tuhan siapa lagi. Bukannya saya atheis atau agnostik dan lain sebagainya, tapi selalu menyenangkan bertemu dengan tuhan tanpa perlu ritual-ritual apalah. Selalu menyenangkan dengan kejutan-kejutan tak terduga yang saya yakin itu adalah perwujudan tuhan seperti: nemu kulit di suapan soto ayam panas, gurih dan surgawi mengercap-ercap di mulut, jalan yang tiba-tiba jadi sepi dan tidak panas membakar padahal sebelumnya seperti neraka, menemukan uang lima puluh ribuan tanpa sengaja di saku jaket jeans yang akan di laundry, ketiduran dan bangun pukul sembilan kemudian ketiduran lagi lalu bermimpi basah, nonton YouTube dan nemu video Sounds Of The Corner baru, makan roti Indomaret dengan isi keju di luar ekspekstasi, download bokep atau film dengan kecepatan yang tidak diduga sebelumnya, ketemu teman lama  tanpa disengaja yang dulu sempat kemana-kemana bareng terus tapi karena kegoblokan dan lain hal seperti kerja, jarak dan waktu akhirnya pisah tanpa perpisahan, makan sate ayam lima belas ribuan banyak kulitnya, merasa badan tiap hari makin ringan dan sesudah bercermin muka terlihat tidak nyempluk dan merasa bobot sudah turun 8 kilogram, cek Instagram ada kaus band keren dan kebetulan ada uang melimpah dalam ATM, nonton film di bioskop tiba-tiba dapat ciuman dari teman kencan, apapun hal-hal sepele yang penuh kejutan adalah cara paling menyenangkan untuk bertemu tuhan. Saya tidak perlu hal yang besar-besar, kalau hal kecil seperti ini saya tidak dapatkan. Beruntung saya masih sering mendapatkan hal-hal kecil seperti ini, jadi masih ada alasan untuk membuka mata, tidak tidur lagi dan berharap tidak bangun-bangun sampai delapan ribu tujuh ratus empat puluh tiga abad kemudian. Dan ujung-ujungnya, seperti klise penulis musik ember seperti saya, selalu musik, musik, dan musik. Hidup adalah film Quentin Tarantino, full soundtrack entah kelabu atau lagi happy atau boring atau mentok kepengin mati. Seperti biasa lagu-lagu dari mp3 bajakan yang jumlahnya ribuan di hardisk tua saya, bisa dipilih kemudian diputar, lalu diputar lagi, begitu terus sampai otak rasanya jadi agak bego. Penulis musik ember yang baik dan benar tidak pernah digaji karena menulis musik hanya untuk pamer ketololannya jadi penggemar musik pada dunia. Menulis musik bisa jadi enak karena saya bisa ngalor-ngidul bicara di luar musik, dan sok-sok menghubungkannya dengan musik seperti situs JakartaBeat. Saya tidak benar-benar paham istlah hipster maknanya seperti yang bagaimana. Bila bekerja pakai totebag dan Jack Purcell dan kemeja batik sudah cukup hipster, silakan lempari saya dengan batu karena saya tidak peduli apapun itu yang jadi pendapat publik. Saya sedang bingung dan menatap sound lelah di sebelah mesin ketik tua ini, memegang-megang membrannya rasanya bergetar seperti dada perempuan saja. Akhirnya dengan sedikit keterpaksaan karena harus selesaikan tulisan di pukul setengah tiga pagi ini, saya membuka file musik saya. Saya ingin dengar sebuah lagu yang bisa buat orgasme hebat tapi itu nyaris mustahil kecuali lagu Via Vallen mungkin. Dasar otak cabul. Pornografi internet. Tukang unduh JAV. Hacker Brazzer, sialan ah. Mata sudah ngantuk berat dan pelir sudah mengambrolkan ompol barusan. Lalu nyamuk-nyamuk keparat busuk yang saya tidak mengerti mengapa tuhan ciptakan satu hewan goblok seperti ini. Atau jangan-jangan dia mata-mata tuhan? Saya terus mengoceh tanpa arah dan tujuan. Ada hewan di tubuh saya. Mungin gorilla atau Baloo-nya Jungle Book. Ah palingan juga setan yang katanya sempat diusir tuhan dari neraka. Saya agak bingung juga soalnya di negara super mistis dan kurang rasional dengan makhluk lucu-lucu tolol ini, saya mengkonotasikan setan dengan fenomena kesurupan. Tapi ya sudahlah, saya terlalu banyak berfikir tanpa tahu juga hasil panen pikiran apakah ada yang mewujud di dunia nyata atau tidak. Saya tiap hari berpikir bisa leha-leha punya rumah dengan kamar langsung di dekat kolam renang. Mana tidak ada ih. Bullshit lah. Ceramahi saya terserah buat pembaca yang kebetulan kecelakaan nyasar di gudang sumpah serapah saya ini. Saya sambut dengan adzan di kuping kiri panjenengan, dan pisuhan jancok-taek-asu di kuping kanan panjenengan. Apakah matahari sudah terbit jam setengah tiga sialan seperti ini? Persetan. Saya putar Christabel Annora dengan debutnya yang pekat piano dan tuts-tuts hitam putih itu, memperkosa otak saya untuk menerjang galaknya pikiran yang minta ampun membawa saya beratus-ratus kilometer ke Malang sana. Sound keparat agak menyendat goblok. Bajingan tengik kenangan seperti cegukan usai minum soda, terasa membuat hidung dan tenggorokan jadi berdenging dan kita seperti orang tolol yang tidak bisa mengontrol hadirnya. Ingin saya misuh-misuh sampai mati tapi ya sudahlah, betapapun kacaunya hidup saya akan melanjutkan... dengan tidur. Atau pilih lagi lagu ngentot yang lain, album paling kacau dan bersinar dari seluruh katalog band berisik saya yang najisnya minta ampun. Deafheaven, bajingan tengik, Sunbather kotor dan membekas, sekeruh jiwa yang kering kerontang, ranting-ranting pohon perdu di sora hari kampus yang menentramkan bulu kuduk; romantismenya, aromanya. Ah betapa senangnya jadi bebal yang bodoh, tertawa di pojokan lantai jorok kampus, mengeluarkan sebatang dan headset dari saku jins belel tengik yang sudah tiga minggu tidak dicuci. Membayangkan hal-hal mesum seperti cerita-cerita stensil dengan objek anak jurusan sebelah. Menolak jadi tua karena hidup ini nihil sekali. Membingungkan dan Dream House membuat air mata tua kalian menetes ke jantung, lalu ngompol lagi, sumpek menahan mata perih dari kipas angin hasil colongan yang membuat perut jadi betah masuk angin. Persetan, saya hanya ingin bermimpi. Mimpi. Mimpi. Mimpi. Kata Deafheaven, sebegitulah adanya. Kenyataan hidup tidak akan pernah sesuai harapan, dan mimpi adalah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh. Belajarlah sampai bisa kuasai teknik mimpi seperti Inception-nya Nolan. Atau kalau dirasa mustahil dan buang-buang waktu, bekerjalah sampai tua dan jika beruntung, mimpi-mimpi itu tiba-tiba hadir tepat di lubang hidung tanpa disadari. Baiklah semuanya segera ingin coli, ingin tuntas. Penutupnya bisa dari Song Of Leonard Cohen, dari kisaran tahun 60-an, di mana romantisme jalan tanpa kendaraan goblok seperti sekarang tidak terjadi. Hidup indah mungkin, bila pada timingnya. Mungkin kita salah berada di zaman sekarang, di negara ini, dengan sekeliling seperti ini. Halleluyah. Biarkan Leonard Cohen membuat kita ingin minum air putih satu galon saking pekatnya. Perasaan rindu yang membunuh dan tidak teratasi. Perasaan kantuk yang membunuh dan serasa ingin tidur selama seribu enam ratus juta abad. Master Song, lagu perosotan masa kecil kita yang sepertinya indah, dan kita rindu ciuman itu, pelukan itu, dalam foto yang dibingkai di atas meja makan. Sejarah, andai bisa kita hentikan. Kita tidak butuh apapun lagi. Tidak akan butuh apapun. Kabur dari waktu, kembali ke lalu. Andaikata, andaikata. Kita tidak terpenjara, seperti ini...

Monday, August 28, 2017

Fungsi Libur: Perbaiki Badan Ringsek

Bagaimana kabar kalian? Apakah baik-baik saja?

Hidup begitu naik turun akhir-akhir ini. Seperti rollercoaster. Sama-sama menjerit, tentu saja. Naik jerit, turun jerit. Upayakan kandung kemih ditahan biar ompol tidak muncrat. Saya sendiri sudah menahan-nahan dari kemarin, ya tapi akhirnya muncrat juga, tidak kuat. Naik turunnya seperti cuaca dan hawa Surabaya, panas menyengat lalu tiba-tiba berangin. Tidak ekstrem tapi membunuh pelan-pelan. Kata Awing, pegiat teater telanjang saat nonton Ikrab Teater Institut bareng saya kemarin, 

"Cuacanya enggak enak, dingin tapi panas, panas tapi dingin, anginya kenceng. Ada arak nggak di belakang?"

Kopi seperti tidak mampu redam cuaca yang entah sudah akan masuk pancaroba atau belum. Badan jadi amburadul. Meliuk-liuk seperti daun di kantor yang berputar terkena angin, ataukah ini efek Badai Harvey di Texas? Semoga jangan. Tujuh hari dalam seminggu, dan saya tidak libur sama sekali! Luar biasa, kawan! Hari pertama bekerja badan dalam kondisi fit sekali, meskipun angin perlahan-lahan menusuk, mempreteli kebugaran fisik saya. Tergoda Glico Wings di kantin koperasi kantor, saya ambil beberapa batang, selama beberapa hari. Lalu terjadilah muncratan itu, squirt itu, dari hidung. Awalnya saya merasa cukup prima, sampai Esa (seorang murid McGregor), mengajak saya ke warung untuk beli wedang jahe hangat. Saya cuek saja sambil terus bermain hape.

"Aku batuk pilek, ayo beli jahe panas."

Saya menyumpah serapah Esa sebagai makhluk yang lemah, dilahirkan dalam keadaan cacat imun, brengsek penyakitan yang tidak bakal hidup lama, jika hidup lama, pasti sengsara dan tubuhnya ditumbuhi penyakit yang akan muncul saban detik--tentu saja semua dalam konteks bercanda biasa. Lalu seketika SROP!

Jancok.

Tiba-tiba hidung saya keluar lendir brengsek itu. Cairan seperti sperma bening, encer, membuat hidung terasa becek, basah. Keparat. Saya berdoa moga-moga saja tidak pilek, soalnya jika pilek pasti berefek di batuk, dan lalu... serak. Ini  ganggu pekerjaan saja. Besoknya saya membeli seperangkat Tolak Angin dan Enervon untuk melawan gangguan imun ini, manjur, saya berasa sehat. Tapi kembali ringsek di malam hari. Waktu banyak saya pergunakan untuk tidur. Saya juga beli Bodrex Flu di apotek. Sedikit mendingan, walaupun masih srop, setidaknya tidak sampai parah. Dan mumpung besok libur kerja, ya sekalian saja saya pulang ke rumah, pulihkan badan, istirahat banyak, dan sedikit lari-lari pagi biar fit.

Kabar paling buruk dari semuanya: bobot saya nambah tiga kilo dalam upaya menanggulangi turunnya imun ini. Nafsu makan saya tidak terbendung. Tiap ada kesempatan selalu makan. Biar tubuh kuat, dan cepat pulih. Persetan gendut deh, yang penting saya sehat dulu, nanti dikurusin lagi. Gampang. Bukankah hidup seperti rollercoaster, kadang gendut kadang kurus.

Eh tapi pengecualian buat Si Devi. Dia diapain juga bakal tetap gendut sih.

Wednesday, July 19, 2017

Rexa Delfi Asmaradini (1995-2017)

Yang aku tahu, only good die young, hanya yang terbaik yang mati muda. Kamu Rex—atau entah, tiada cara lain lagi untuk memanggil namamu walau ‘x’ di akhir sungguh melelahkan—sudah berada di dunia yang benar-benar berbeda. Entah di mana, ada ataupun tidak kehidupan sesudah kamu pergi, aku tidak jadikannya masalah. Satu yang aku yakini, kamu bahagia: lepas, bebas, damai dan tenang.

Kamu adalah butir peluru—aku hampir haru saat menuliskan ini—yang menunjukkan pada semua orang, termasuk sekeras batu seperti aku, bahwa sejatinya kelemahlembutan adalah kekuatan. ‘Ayok!’ katamu. Aku ingat. Saat kamu kuajak setengah bercanda setengah kurangajar dan setengah gila, untuk menemui seseorang di kelas paling ujung sana. Sering seperti itu, hanya saja jarang berhasil dan kita hanya berputar-putar, atau kamu mengawasi dari jauh, atau kamu yang akhirnya bertemu, atau aku sendiri—seringkali dan pada akhirnya—lalu aku harus mengakui: sejujurnya nyaliku ada saat kamu bersedia mengantarkannya.

Tidak ada memori yang lazim, Rex. Kita sudah bersama sejak suaramu sepelan pus meong pada pagi yang dingin dan mendung; nyaris tidak terdengar dan aku seperti tidak mendengar ada diafragma dalam tenggorokanmu. Tapi, kamu akan ingat, jelaslah. Bu Nik—ibu negara, begawan dan mahaguru kita—yang membimbing kita semua, pun aku saat dikutuk menjadi pesajak tolol, dan kamu—pendiam yang kemudian menjadi orator paling brillian dari kita semua, dua puluh sembilan cecunguk bahasa—berhasil mengubah kodrat, menyaringkan suara yang nyaris tak terpekikkan itu, membuat kita semua berpikir bahwasanya kebiasaan adalah jalan paling mudah untuk berubah. Kamu peluru, Rex. Diam dan senyap. Tapi saat revolver itu terisi, pelatuk ditarik; kamu melesat jauh. Ganas. Tanpa peredam dan terus memekik. Bunyi tembakan itu masih terdengar Rex, kamu tahu. Dan aku—kita semua, bahkan Bu Nik pun—masih akan terus bertepuk tangan dan memperingatinya.

Tidak ada memori yang lazim, Rex. Hanya desing-desing peluru suaramu yang luruh. Waktu seperti menonton pentas drama; tepuk tangan lalu usai, dan kita berdiri kemudian kembali pada tempat masing-masing. Aku yang bertepuk tangan paling lama. Pada renyahmu saat kepalaku terkantuk dalam kelas dingin dan beku, atau aku tahu kita pernah jadi teman sebangku dalam sistem acak seminggu. Pada musim di mana kawan dan lawan hanya dipisah napas yang tak tampak. Pada aroma-aroma fitnah masa lampau yang hadir menghardik kursi-kursi tempat bercumbu di ujung-ujung kelas. Pada anyir darah lelah dari kumpulan dalam sarafku yang tidak terkontrol dan menghantam neraka aspal. Pada Matematika, Bahasa Prancis, atau batu-batu Candi, atau batik Hari Kartini, atau memori mungil—semungil tubuhmu—yang kupercaya telah melesap dalam denyut nadi teman-teman kita; kujuluki serigala tanpa bulu domba; wolfpack yang seiring meski kadang hampir bunuh; kamu ada di situ Rex, sampai petang hari. Sampai detik ini.

Aku tidak bisa menuliskan ini lama-lama. Lampau seringkali menyakitkan, dan kini tidak kalah sesaknya. Adakah waktu yang tepat untuk mengenang yang telah hilang? Cukup sebutir peluru, kau tembakkan erat. Dan aku masih mendengar letupan itu; semangat itu, suara-suara kerasmu yang sebelumnya lirih bersahutan dalam telinga.

Kamu menang, Rex. Pelantang suara ini untukmu.


Tuesday, June 20, 2017

Tadarus Breaking Bad, Takjil Barefood dan Menu Buka Puasa Menyenangkan Lainnya


Berpuasa di rumah adalah seperti kutukan: mata baru bisa merem, lalu suara-suara berisik dari bocah-bocah TPQ membuat saya melek lagi. Kadang di pukul tiga sore, puasa menjadi neraka. Menyiksa dan saya pun tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang bisa diperbuat jika jarak Musola dan kamar saya hanya dibatasi tembok? Bahkan letak bantal saya persis di samping microfon yang digunakan untuk adzan dan aktivitas koar-koar lain termasuk pengajian Malam Jumat dan tadarus saat puasa. Bukan saya menghina agama atau apapunlah—saya tidak ada sedikitpun tendensi itu, dan bila ada kalian yang tersinggung dan masih terbawa-bawa urusan Ahok, go to hell, membusuklah di neraka, saya tidak peduli dan hanya menyampai uneg-uneg yang ngeganjel ini saja. Sebenarnya saya tidak pernah ada masalah dengan aktivitas apapun di Musola itu, selama itu digunakan pure untuk ibadah dan tidak menganggu orang lain. Pure untuk ibadah berarti tidak bertujuan untuk pamer ataupun menunjukkan identitas sebagai umat yang taat. Tidak mengganggu orang lain itu cukuplah bila ada aktivitas ibadah menggunakan sound system, seyogyanya volume speaker diatur agar tidak terlalu keras—atau mungkin tidak usah memakai speaker toa langgar yang amat keras itu. Atau bila memang keras, saya berharap para pemburu surga dan keutamaan di balik bau mulut orang puasa—anak-anak TPQ itu—bisa sedikit lebih santailah jika ngaji. Saya tahu semua orang berhak membaca kitab suci, baik sudah kelas kakap ataupun medioker sekalipun. Tapi ya tuhan, Ya Allah, Ya Allah, Tuhan YME, selama beberapa hari puasa ini entah mengapa yang mengaji di sebelah rumah sungguh sangat tidak bisa menentramkan hati. Mereka mengaji dengan asal-asalan, kadang ada cekikik-cekikik busuk, lalu bercanda internal yang sungguh, seperti semua orang sekampung harus tahu saja. Mengaji pun seperti orang teriak-teriak, keras sekali, seperti orang lain yang mendengarnya tidak punya aktivitas lain saja selain mendengarkan mereka. Bagaimana bila Mbah saya sedang mendengarkan tauziah di televisi, yang karena suara ampun-ampunan mereka, jadi tidak bisa dengar. Bagaimana bila Ibuk menyuruh saya membeli terang bulan dan sop buah untuk berbuka, sampai harus teriak-teriak dan saya masih tidak mendengarkan karena gaduhnya suara ngaji di sebelah. Saya berharap mereka bisa lebih sopan saat mengaji, lebih memelankan suara (kalau bisa volume dikecilkan, kalau tidak bisa ya minimal lebih kalemlah). Saya pernah sekali waktu mendengar suara orang mengaji di sebelah, suaranya lembut dan sopan, menghayati setiap bacaan, tidak tergopoh-gopoh segera usai. Ini nyaman, tidak berisik dan saya masih bisa mendengarkan sekitar. Lah bocah-bocah TPQ yang kebanyakan tetangga saya yang berusia puber ini, malah menjerit-jerit tidak karuan membawakan ayat-ayat Allah. Sebagai seseorang yang kamarnya berada persis sebelah mikrofon, kadang saya ingin mengingatkan, tapi siapalah saya, saya kadang merasa serba salah sendiri. Padahal tetangga Musola lain yang juga berada persis adalah orang Nasrani. Saya tidak tahu apa hukumnya orang yang mengaji dengan toa sedemikian berisik dan mengganggunya. Mungkin MUI atau FPI bisa bantu menjawab, atau bisa juga menuduh saya komunis bangsat liberal kafir pendukung Ahok karena saya seperti anti dengan ngaji. Terserah. Saya tidak peduli. bila kalian cerdas mungkin kalian bisa melihat bahwa saya tidak anti ritual ibadah, yang saya tekankan adalah apakah proses ibadah itu menganggu orang lain atau tidak. Benar kata antah-berantah yang banyak dikutip orang yang sudah muak akan cap-cap kafir dangkal dari sekitar: agama itu seperti kontol, kamu punya sembunyikan saja, nggak perlu dipamerkan ke orang lain, siapa pula yang tidak terganggu kalau kamu pamer jembutmu ke muka orang.

Baiklah, lepas dari uneg-uneg Ramadhan tersebut, dan saya yang masih mengumpulkan cara menegur yang baik agar tidak ada yang salah sangka, lebih baik saya menghibur diri kembali sambil ngabuburit menunggu datangnya adzan Maghrib. Puasa akhir-akhir ini memang lumayan cepat. Saya jarang tidur malam hari sampai sahur, dan baru tidur pagi sampai agak siang, kemudian bangun, menunggu berbuka sambil memasrahkan diri pada layar tua, menonton serial, film atau apapun. Setelah itu terkadang saya memasrahkan pada speaker rumah; mencolokkan pemutar musik dan menghibur diri sendiri dari lapar dan dahaga, untuk kemudian kembali ngaplo di pukul tiga sore sampai dua jam kemudian karena gangguan dari akhwat-akhwat TPQ yang tidak tahu aturan tersebut. Di sela ngaplo saya kembali membuka-baca koleksi baru, atau juga lama. Berupa buku-buku baru yang menurut saya bagus, buku-buku lama yang tidak bosan diulang, juga koleksi majalah-majalah rare dan langka yang baru saya dapatkan akhir-akhir ini, tak lupa suntikan kebengalan dari zine-zine baik baru maupun lama. Berikut beberapa yang saya konsumsi: tadarus, takjil dan buka puasa saya selama bulan puasa tahun ini.

Breaking Bad Season 1-5
Serial TV yang katanya terbaik sepanjang masa. Rolling Stone sempat membahasnya di Editor Playlist dan itu langsung mengganggu rasa penasaran saya selama bertahun-tahun. Premisnya seperti ini: seorang guru kimia yang didiagnosa mempunyai kanker dan akhirnya memutuskan terjun dalam bisnis narkoba demi mengumpulkan uang untuk keluarganya saat dia meninggal nanti. Serial ini sudah tayang di AMC sejak 2008, hanya saja saya baru benar-benar punya waktu untuk melihatnya kali ini. Hati-hati, Breaking Bad tiap episodenya selalu membawa hal-hal yang tidak terduga, dan kita akan kecanduan untuk terus menontonnya sampai akhir. Daya tahan saya masih bisa sampai Season 3, dan kadang harus menyerah karena satu Season punya kira-kira 13 episode dengan durasi hampir 50 menitan. Serial yang membuat dag-dig-dug tidak karuan ini tiap seasonnya semakin memuncak dan membawa pada masalah yang semakin kompleks—dan kalian harus tahu bahwa ipar Mr. Walter White, si guru yang bisnis narkoba, adalah anggota DEA alias polisi yang mengurusi masalah narkoba. Betapa repot menyembunyikan semuanya. Salah satu yang sangat memorable adalah saat White dan partner bodoh yang juga merupakan bekas muridnya, Jesse Pinkman, memproduksi meth berjumlah besar-besaran di gurun pasir. Banyak adegan tolol di situ (Season 2 Eps. 9) yang saya rasa seperti komedi getir Tarantino di mana kita akan merasa miris dan tertawa di saat bersamaan. Sebelum Breaking Bad saya sempat menonton Game Of Thrones namun hanya kuat sampai Season 1. Entah kenapa serial ini walaupun bagus dan membuat penasaran, tidak membuat saya cukup sreg untuk melanjutkannya ke Season 2 (sekarang di HBO akan segera premiere Season 7). Terlalu memusingkan dan banyak intrik. Atau latar jaman kerajaan mungkin saya tidak terlalu suka, mengingat selera saya cenderung tontonan yang punya muatan latar American Lifestyle era 90’s atau 20’s. Selain GoT saya juga sempat menonton The Walking Dead, namun hanya kuat sampai Season 1 juga dan tidak ada niatan lanjut. Serial ini tidak seram-seram amat, namun saya rasa ketegangan yang ditampilkan di Walking Dead amat sangat gelap dan suram sampai-sampai saya merinding-merinding sendiri. Selain itu, True Detective juga sempat saya tonton, ini cuma hanya sampai pada Episode 1 Season 1 saja. Entahlah, terlalu memusingkan dan saya kurang tertarik. Yang terakhir adalah serial Netflix yang tersohor dan sedang hits akhir-akhir ini Thirteen Reasons Why. Saya sempat menonton dan lumayan menarik. Tapi di Episode 2, saya kok mulai bosan, dan arah cerita tidak bisa saya mengerti—kadang terlalu bertele-tele. Saya juga tidak tahu mengapa serial seperti ini bisa jadi sangat hits: semacam serial remaja yang berkisah tentang perempuan bunuh diri dan salah seorang teman (juga teman main seks-nya), berusaha mencari tahu alasannya lewat mixtape. Mungkin selain Breaking Bad, serial yang saya ikuti dan masih betah menonton adalah Silicon Valley, yang Season 4-nya sudah tayang di HBO musim ini. Breaking Bad sendiri juga memunculkan satu tokoh pengacara yang akhirnya dibuatkan spin-off serial sendiri yakni Saul Goodman. Saya berencana menonton serial bertajuk Better Call Saul tersebut setelah menuntaskan Breaking Bad ini. Kurang 2 Season lagi, saya harap kelar sebelum Lebaran.


Barefood – Sullen (EP 2013), Barefood (EP 2014), Milkbox (LP 2017)
Menyimak duo collage rock asal Jakarta ini membuat kuping saya digempur distorsi 90-an setiap hari. Dua EP, Sullen dan Barefood, juga satu debut full length album Milkbox yang baru saja rilis tahun ini, adalah jawaban yang tepat jika ada yang bertanya seperti apakah musik rock yang easy listening tapi tetap gagah dan tidak banci itu. Rio Tantomo sempat menuliskan romantika menonton konser Barefood yang dilarang untuk menyulut rokok; menampilkan Barefood sebagai band rock lurus nan pendiam di mana anak-anak cupu dan culun, berkacamata dan kutubuku di kampus atau sekolah akhirnya punya penyaluran yang satu visi dan bisa moshing. Dari ketiga album itu, saya memfavoritkan Sullen yang dirilis tahun 2013. Dibuka oleh “Perfect Colour” yang renyah dan manis, serta punya sisi getir tersendiri yang sukar dijelaskan. Bagi yang belum pernah mendengar Barefood, “Perfect Colour” adalah pintu gerbang yang tepat. Semua orang akan menyukai lagu ini, termasuk yang masih awam alternative rock sekalipun. Seperti kata Devi Ardian, kritikus musik spesialis Chainsmoker dan Nia Daniati ini, saat saya memberi dengar lagu ini. “Lagu kaya gini enak didengerin makai headset!” Sayangnya, dia tidak punya headset dan saya ogah meminjami. Tidak hanya “Perfect Colour,” Sullen juga punya track lain yang tidak kalah legit. Sebut saja “Grey Skies” yang sangat melodius, “Teenage Daydream” yang bersemangat, dan “Sullen” yang menampilkan vokal perempuan malu-malu tapi cukup renyah dan catchy, cukup nyaman dan enteng. Untuk album Milkbox sendiri, deretan-dereran track matang siap menggempur telinga. Milkbox menjadi album Barefood yang mendewasa. Saya memfavoritkan track nomor 7, “Sugar” dengan sound gitar ala Kevin Shields, semacam eksplorasi ke arah shoegaze yang soft dan muram pekat. Tipikal My Bloody Valentine. Selebihnya semuanya bagus, walaupun sebaik-baik Barefood tetaplah Sullen.


Rumahsakit – 1+2
Mencintai Rumahsakit dengan segala kuranglebihnya—di album ini kekurangannya (atau justru daya tariknya?) ada pada vokal Andri Lemes yang masih tetap... lemes. Siapapun menyukai Rumahsakit dengan Arief (kalau tidak salah) sebagai vokalis baru yang barusan meluncurkan album Timeless. Saya juga suka sih. Suaranya bagus. Cuman lebih suka corak vokal monoton dan malas dari Andri. Bila menyimak album Rumahsakit rilisan lampau, era 90-an, suaranya malah makin kacau meski musiknya tetap indah (hanya saja saya download mp3-nya dengan kualitas lo-fi nan mengecewakan). Ada sebuah pendapat bahwa hanya segelintir orang yang kenal Rumahsakit, dan mereka betul-betul fanatik. Saya mungkin salah satunya. Jika tidak kenal Rumahsakit, sebaiknya ya begitu saja tidak perlu memaksa. Tapi jika ingin kenal, mungkin akan ada dua tipe manusia setelah mendengarkan Rumahsakit era Lemes, khususnya di album 1+2 ini: merasa aneh dan tergila-gila sekali, dan yang kedua mengatakannya sebagai musik lempeng, aneh dan tidak punya daya seni—mengutip pendapat Tri Nanang Budi Santoso, sobat kepompong saya saat saya pamerkan lagu “Hilang.” Sambil mengata-ngatai dengan sembrono bahwa selera saya nggak mbois, tidak punya sense of music atau apalah—enak saja. Saya mencintai Rumahsakit secara tidak sengaja saat memutar lagu “Hilang” di YouTube, yang itu juga secara tidak sengaja pula. Nama band ini adalah nama yang mungkin paling unik dalam jagad musik tanah air; lebih menegaskan keabsurdan ketimbang katakanlah GiGi, atau Padi. Rumahsakit, saya ingin sekali terbahak saat mendengar namanya. Nyatanya lagu “Hilang” yang saya dengarkan membuat saya terus-terusan meratap di depan speaker: indah sekali, tuhan. Intro yang menyayat, dan terkesan sok keren, membius dengan gaya vokal paling ngehek; perpaduan yang memukau dan menghasilkan musik yang begitu bagus dan jujur. Gila. Rumahsakit bagi sebagian orang dianggap nabi (simak SFTC band ini di YouTube). Bahkan meskipun sudah berganti dengan vokalis yang sangat merdu dan bisa bernyanyi, tetat saja orang-orang merindukan Rumahsakit dengan Lemes sebagai vokalis. “Kuning”, membuat kita seolah merasakan hamparan mentari di kening, “Bernyanyi Menunggu”, mengusik naluri kejantanan dengan musik adem ayem, “Pop Kinetik”, yang absurd dan bernada jenaka, “Mati Suri” yang gurih, “Anomali” yang mungkin merupakan suguhan terbaik pada musik pop Indonesia, dan “Sakit Sendiri” yang menyayat dan kosong. FYI, saya sering mengentikan guyuran gayung, atau aktivitas menggosok gigi di pagi hari, saat intro lagu “Hilang” berkumandang dari sound murahan`di kamar. Bukan apa-apa, keindahan itu sayang sekali untuk diacuhkan.


Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie – Semua Ikan Di Langit (2017)
Ziggy meramu sebuah keabsurdan tingkat dewa menjadi fiksi yang manis, tanpa adanya konflik bertele-tele atau ending yang menendang kepala. Novel pemenang juara 1 sayembara Dewan Kesenian Jakarta, sekaligus mungkin juara 2 dan 3 karena pihak juri sengaja tidak memberikan juara untuk urutan 2 dan 3 dengan alasan perbedaan kualitas yang jauh. Semua Ikan Di Langit memang bagus, dari segi gagasan juga tokoh-tokoh yang dimainkan. Mungkin jika ini film bisa dapat nilai 9,8 dari Rotten Tomatoes. Bayangkan tokoh utama novel ini adalah bus. Benar, bus Damri jelek yang biasa kalian jumpai di Bungurasih ataupun—dalam latar novel ini entah saya lupa tepatnya terminal apa. Bus ini secara ajaib berkendara di langit, dengan ikan julung-julung ajaib yang dikendalikan oleh sosok bernama Beliau. Sulit menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya karena alurnya benar-benar tidak tertebak, keluar dari batas kewarasan dan imajinasi. Ada pemikiran bahwa ini merujuk pada kisah Tuhan dan malaikat, dan proses penciptaan dunia. Tapi Ziggy—benar-benar—mengisahkannya secara ajaib dan absurd, tidak sakral dan sama seperti gaya penceritaan anak kecil lugu yang tidak tahu apa-apa di Di Tanah Lada (2013). Ada balutan ilustrasi epik karya Ziggy sendiri yang juga menambah nilai lebih di sekujur tubuh buku ini. Ada kutipan-kutipan haru yang jujur cukup absurd karena diucapkan oleh bus. Bila perasaan kita sudah terasah, atau sudah mempelajari teori semiotika, kita akan segera tahu pesan halus yang disampaikan Ziggy dalam adegan-adegan yang meloncat-loncat, dari situasi perang sampai toko roti di belahan dunia lainnya. Ziggy melemparkan kritik dan pesan tidak dengan gaya keras, tidak pula lembut romantis. Ia menyampaikannya dengan gaya ketidakjelasan yang sebenarnya cukup jelas bila kita mengerti maksudnya. Saya penasaran akan naskah-naskah yang tersodor di meja juri DKJ: seburuk itukah sampai hanya Ziggy yang memperoleh juara 1—dengan juara 2 dan 3 yang kosong, selebihnya diisi juara harapan? Mungkin dari semua puja-puji di atas, saya belum menemukan satu titik cela lagi: ini sastra ringan yang sebenarnya cukup berat. Ini sastra dengan pembahasan paling liar dan fantastis yang pernah saya baca. Cukup berbobot dan tinggi. Mungkin Semua Ikan Di Langit bisa dibayangkan sebagai cerita-cerita Disney; sama seperti itu dan hanya saja ini jauh lebih berbobot dan melampaui imajinasi manusia manapun. Karya Ziggy yang sepertinya sedang main-main tapi ia sangat serius melakukan main-main itu. Mungkin Wening Gitomartoyo dari Rolling Stone Indonesia berpikiran serupa saat mengulas Ziggy—yang oleh majalah ini menerima Editor Choice Awards tahun ini kategori The Phenomenal


Sabda Armandio – 24 Jam Bersama Gaspar (2017)
Dio adalah juara harapan 3 dari Sayembara Novel DKJ. Jujur, saya lebih menikmati membaca ini dibanding Semua Ikan Di Langit—meski memang tidak bisa membandingkannya karena Semua Ikan memang punya gagasan yang cukup fantastis. Novel Dio yang kedua seteleh Kamu (yang sudah lama saya ingin membacanya tetapi tidak pernah ada di toko buku ini) membawa cerita detektif yang mengejek detektif itu sendiri, menurut keterangannya. Tapi saya akan bilang bahwa novel ini lebih ke arah kriminal. Detektif tidak dikenal itu hanya melakukan dialog penyelidikan yang selalu ada di bagian tiap bab. Tokoh sentral dalam novel ini adalah Gaspar, yang sejak awal digambarkan sebagai bajingan yang akan merampok kotak hitam di sebuah toko emas. Upaya Gaspar ini secara kebetulan membuatnya mendapatkan partner merampok: saya lupa tokohnya satu-persatu. Kalian pernah membaca novel 5cm sebelum ia jadi ngehip karena dibuat filmnya? Novel terbaik versi Goodreads itu membawa banyak sekali tokoh dalam novelnya. Apakah kalian kebingungan membedakan dan menghafal tokoh ini dan itu, Arial dan Zafran misalnya. Meski Donijantoro meramunya pelan-pelan, tapi entah kenapa saya sulit sekali untuk melakukan pendekatan dengan imajinasi. Untung saja tertolong filmnya—yang juga masih jelek pula. Tapi Dio berhasil membuat pembaca hanya perlu membaca tanpa perlu membolak-balik halaman awal demi mengingat sang tokoh. Karakternya kuat, ada pembeda dan seolah kita mengenalnya. Yang hebat lagi adalah, kita bisa tahu karakter tersebut dan hafal walaupun mereka menggunakan nama samaran. Begitulah Dio. Saya tidak tahu dan tidak penting untuk tahu apakah isi kotak hitam tersebut. Memang bukan itu tujuan penulis. Saya mungkin akan membacanya lagi untuk menemukan hal itu. Tapi yang menarik dan saya fokuskan adalah, kecerewetan Gaspar sebagai tokoh aku, yang cukup komunikatif dan memakai banyak pendekatan budaya pop dalam novelnya. Ada ciri seorang geek-nerd yang tidak memaksakan memakai pendekatan ini. Cerpenis dan novelis Hami Badjingan (nama samaran) sempat berkata bahwa ia juga seperti itu dalam sebuah percakapan tapi saya hampir muntah mendengarnya. Hanya Dio yang bisa seperti itu. Saya ulangi, hanya orang tengil yang benar-benar tengil yang bisa seperti itu. Bukan yang sok tengil.

Taufiq Rahman - Pop Kosong Berbunyi Nyaring (2017)
Dalam buku ini akan dijumpai 19 hal yang tidak perlu diketahui tentang musik. Taufiq sebagai hipster sejati menuliskan grup musik, album, dan lagu-lagu underrated alias di bawah radar yang tidak banyak diketahui dan disukai orang. Menarik membaca esai-esai di buku ini, menghubungkan pengalaman pribadi penulis atau fenomena sosial, dengan musik. Secara mengejutkan, Chris Cornell vokalis Soundgarden ditemukan meninggal beberap bulan setelah buku yang memuat esai tentangnya di halaman depan ini dirilis. Membuat saya yang buta grunge selain Nirvana dan Pearl Jam (serta Ello Tahitoe jika dia layak disebut grunge), langsung mengonsumsi Soundgarden saat itu juga. Juga banyak artis yang saya tidak pernah tahu seperti Brian Eno atau Minutemen atau bahkan Bandempo (!) Ada banyak informasi yang tidak perlu diketahui namun amat menarik bila kita tahu. UKM penerbitan buku Elevation Books milik Taufiq Sepertinya akan konstan mengisi rak buku saya dengan buku-buku musik yang jarang ada di Indonesia. Saya menunggu rilisan-rilisan selanjutnya. Rock and Roll tidak hanya menyenangkan untuk didengarkan, tapi juga untuk dibaca.

Playboy Indonesia Edisi Januari 2007
Singkat cerita di suatu siang yang terik di bulan puasa, saya memutuskan mampir ke Jl. Semarang untuk berburu harta karun: majalah dan buku bekas. Tapi kenyataannya saya seringkali kesini dengan tangan kosong. Saya tidak tahu lagi harus ke mana saat tiba-tiba terpikir bahwa jarak Blauran dengan Jl. Semarang tidaklah terlalu jauh. Saya iseng mampir meski parkir bangsat 3000 rupiah. Ternyata benar adanya: satu Playboy Indonesia saya memang didapat dari Jl. Semarang, juga Rolling Stone Indonesia edisi pertama yang oleh penjualnya ditaruh sembarangan sebagai tadah hujan—sialan—tetapi di Blauran saya selalu menemukan harta karun: dua Playboy Indonesia saya dapat di sini, juga beberapa Rolling Stone, juga selusin National Geographic Indonesia. Lokasi perburuan saya pun berpindah ke Pasar Blauran. Saya sempat bertemu dengan Rafika, jurnalis senior Zetizen di tempat ini. “Aku nemu harta karun,” pamer saya padanya. Rafika yang waktu itu sedang bersama ibundanya penasaran. “Mana lihat?” saya langsung menyeretnya ke tempat agak jauh, membuka tas, dan “astaghfirullahalaziim, mas....” ujar Rafika. Saya terkekeh dan tidak peduli stereotip orang akan Playboy. Ini bagi saya adalah majalah terbaik dan paling memuaskan yang pernah saya baca, lepas dari foto nude-nya. Playboy membuat saya klimaks berulang kali tanpa bosan membacanya; feature yang jempolan, gaya bahasa yang sok songong dan sengak tapi saya suka (khususnya di Playboy Advice). Satu lagi, Playboy punya sikap yang jarang dipunyai media lain. Saya berharap Playboy Indonesia hadir kembali, dengan Pemred Erwin Arnada, penulis Alfred Pasifico, Soleh Solihun dan Arian Arifin Wardiman. Cerpen-cerpen yang dilempar juga sarat akan mutu. Cukup kenyang dan puas, setidaknya sudah mendapat tiga edisi. Kurang tujuh lagi dan saya mungkin akan bahagia. Khususnya edisi perdana dengan cover Andhara Early dan Playmate Kartika. Saya penasaran, sungguh.