Tuesday, May 13, 2014

Suatu Sore Dan Web-cam

Berdoa, mulai!
Yang tengah lebih mirip Armstrong era Dookie atau DeLonge era Enema Of The State? :D
Boy Fukkin' Ba(n)d!
Haha, Fukk You!
Nggateli, haha!
"Terus lek aku mayak kon kate lapo cuuukkk!!!" Haha!
Bosan upload di Facebook, ribet tweet-pic di Twitter, malas share di Instagram, ogah ngurus BBM, Path, Line, Whats App, We Chat and many fuckin' app, saya memilih untuk mengupload foto-foto suram paling nggateli di blog saja. Di-shot dengan web-cam yang untungnya lumayan bening di balkon eksotis kampus. Hey, ternyata aku imut banget ya :D

Karena Burung Dara Itu Dianggap Setia Hanya Karena Ia Tak Pernah Lupa Tempat Asalnya

“Ih pulangan! Kayak burung dara!”

Sebagai mahasiswa yang ‘kupu-kupu’ (kuliah-pulang-kuliah-pulang), saya sering diejek oleh teman-teman dengan kata-kata itu. But, who cares? Saya tidak peduli karena saya tidak tahu menahu soal burung dara. Sampai pada suatu sore, saya diajak oleh Bang Joko, bocah asli Surabaya yang sering bermalam di kosan, untuk membawa burung daranya (dalam makna harfiah) pergi sejauh mungkin dari bakupon (nama rumah burung dara—terdapat di buku Pepak Bahasa Jawa kelas 5) untuk kemudian diterbangkan lagi. Kami menuju ke kawasan Pakuwon untuk melakukan aksi itu, yang berarti jarak antara bakupon dan tempat kami berada sekarang cukup jauh. Bang Joko mulai menerbangkan burung daranya. Komentar saya:

“Loh! Gendeng a bang! Lapo kok diculno manuk’e? Amblas la’an engkok” --sekali lagi ‘manuk’ dalam makna harfiah.

Joko Tingkir inipun hanya tertawa.

“Mariki lak yo moleh dewe seh to!” ujarnya.

Bagaimana mungkin burung dara ini bisa menemukan rumahnya yang terletak amat sangat jauh dari peradaban sementara manusia beserta mobil canggih dengan GPS pun masih sering nyasar hingga ‘nyemplung’ jurang? Saya pun tak mempercayai kata-kata Bang Joko. Tapi setelah memacu motor dan mengecek kembali rumah bakupon burung dara itu, Ajaib! Ia sudah kembali disana.

“Hewan paling setia adalah burung dara. Sejauh apapun pergi ia pasti kembali menuju sarangnya.”

Saya baru tahu, ternyata kata-kata itu benar! Thanks Bang Jok!

Notes: Pulang adalah hal yang sakral; bertemu keluarga, tidur di kamar tercinta hingga makan masakan ibunda. Semuanya sekaligus sebagai pengisi energi psikis yang mungkin hilang oleh panasnya kota rantau. Dan, burung dara mengajarkan pelajaran penting: bahwasanya setiap manusia, cepat atau lambat, mau atau tidak, pasti akan kembali ke tempat asalnya, sejauh apapun ia beranjak dari tempat itu. Dan tentang kesetiaan burung dara? Bahwa burung dara itu dianggap setia hanya karena ia tak pernah lupa dan selalu kembali ke tempat orang-orang yang menyayanginya :)

Saturday, May 3, 2014

Go Ahead, Let It Flow...


"Mana yang akan dijalani
Arah mana yang akan dituju
Pilihan salah, terkadang membawa kita ke arah yang benar
Pilihan yang benar, membuka jalan menuju pengalaman
Saat dihadapkan pilihan, pilih untuk menjalani"
(Iklan Go Ahead 2014 - Split Version)

"Terkadang, semua bisa didapatkan, jika semua dilepaskan"
(Iklan Go Ahead 2014 - Lake Version)

Cuplikan narasi keren dari iklan A-Mild Go Ahead ini mungkin bisa menginspirasi. Ceritanya tentang seorang backpacker yang mencoba mencari makna hidup di suatu tempat antah berantah. Di versi terbaru, iklan ini menggambarkan sosok backpacker yang dihadapkan banyak pilihan, tanpa tahu pilihannya salah atau benar, yang pasti ia memilih untuk terus menjalani pilihannya, just go ahead karena benar-salah-pun sebenarnya tak masalah. Di versi lama, lebih fokus pada sosok backpacker yang ingin mencari kebebasan dalam arti yang sebenar-benarnya. Akhirnya ia membuang semua barang miliknya demi mendapat kebebasan itu. Sarat pesan. Backpacker ini sudah tak peduli akan semua barang miliknya dan hidup tanpa beban dan tangggungan. Ini mungkin yang disebut ikhlas. Life Free!

Adegan paling dramatis di iklan ini adalah ketika si backpacker tak sengaja bertemu dengan serigala putih nan gagah di lereng pegunungan yang luar biasa indah. Saling menatap selama sekian detik dan anehnya, serigala itu tak sedikitpun sampai menyentuh si backpacker. Beruntung si backpacker tak sampai dimangsa atau dicakar. Mungkin karena sudah ikhlas kali ya. Awesome scene deh.


Executive Creative Director : Hendra Lesmono
Creative Director : Iyan Susanto

Courtesy: Youtube.com

Friday, April 18, 2014

Cinta Itu Buta

Mansur: Endi yo toko seng dodol boneka ndek sekitar Wiyung kene, aku tau ndelok onok loh!
Aku: Yo tutup cuk bengi-bengi!
Mansur: Digolek'i sek tah. Aku kate nggolek boneka gawe cewekku iki, mumpung onok duwek.
Aku: Cuk! Aku iri! Aku yo pengen nukokno cewek boneka. Sayange sek jomblo!
Mansur: Wah yo iyo seh! Salahmu jomblo! Aku pingin nggolek seng gak terlalu larang. Budgetku mek seket ewu.
Aku: Nggateli cuk!
Mansur: Cuk seng penting berkesan. Masalah'e bukan mahal-murahnya hadiah, tapi sering-nggak-nya kita ngasih'e. Percuma mahal kalo ngasih'e setahun sekali. Bener toh?
Aku: Iyo se. Tapi lek gawe cewek yo gak popo se cuk mesisan larang.
Mansur: Jancuk aku biyen yo tau nukokno cewekku sampek entek rong-atus ewu! Cuk!
Aku: Hahaha iyo ta? CINTA IKU ANCEN BUTA!
Mansur: Iyo cuk! BUTA! Lek wes cinta iku kene MEREM! Gak tau MELEK wes, MEREM TOK!!!

Cakap-cakap tak penting di atas motor bersama Mansur, teman satu kos yang sedang sibuk menempuh skripsi tapi tetap menyempatkan waktu membelikan boneka untuk pacarnya. Pelajaran yang bisa diambil: love is blind ~ cinta itu memang buta, ya?

Friday, April 11, 2014

Hidup Ini Adalah Film Terbaik

Mumpung telinga saya masih panas-panasnya menyimak album Better Season dari Rocket Rockers yang rilis kira-kira tahun 2008, sekedar memberi referensi saja bahwa di album yang pertama kali saya tahu dari MTV pas masih SMP ini ada track yang 'cool as fuck'. Track ini diletakkan di nomor satu alias didaulat sebagai pembuka, judulnya "Hidup Ini Adalah Film Terbaik." Unsur pop-punk yang kental memang sudah jadi signature RR tapi di lagu yang satu ini saya sempat terkagum dengan intro yang suasananya mirip dengan opening sound/motion picture di film-film: alunan melodi yang apik ditambah suara-suara ala choir --terdengar megah. Liriknya juga tak kalah keren! Ini seperti mengumpamakan bahwasanya kehidupan yang kita jalani sekarang itu tak jauh beda dengan apa yang biasa kita lihat di drama atau film. Jadi jangan melulu anggap Spiderman atau Batman dalam film superhero favorit yang selalu jadi peran utama, kita juga sebenarnya adalah peran utama dalam film kehidupan kita sendiri. 

"Aku kamu dan mereka
Adalah peran utama

Bukan sekedar figuran
Sandiwara ini nyata
Hingga pada saatnya mati"

Dilanjut...

"Adegan demi adegan
Setiap detik 'kan terekam
Takkan dapat 'tuk di rewind
Mari trus kita jalankan..."

Dan, kutipan favorit saya ada pada akhir lagu.

"Saat nafas pertama, hidup kita dimulai
Kamera tlah berputar 'tuk mengambil gambar
Maka berbahagialah, karena kita semua
Menjadi yang terpilih dan mendapatkan peran..."

Jadi, mulai sekarang tunjukkan 'akting' terbaik dalam layar film kehidupan, atau kalian akan di CUT! :)

"Planet Bumi adalah, panggung kita termegah,
Maka lakukan pertunjukan yang terbaik..."

gambar: deathbytheflow.blogspot.com

Tuesday, March 25, 2014

Comeback Kid - Die Knowing: Hardcore Gelap Tanpa Basa-Basi


Dibuka dengan “Die Knowing,” track yang berjudul sama dengan tajuk album terbaru dari unit Hardcore Punk paling disegani dari Kanada, Comeback Kid ini seketika langsung menggiring ke arah sound yang cenderung gelap dan muram. Upaya distorsi yang dimuntahkan Jeremy Heibert dan Stu Ross pada track pembuka di album ketujuh ini cenderung lambat dan mengacu pada musik ala stoner/doom. Tapi jangan lupakan teriakkan kencang yang dihasilkan kerongkongan vokalis bengal Andrew Neufeld yang tetap mempertahankan tradisi Hardcore Punk. Seperti memecah balon dengan tongkat baseball ketika track berikutnya “Lower The Line” berkumandang. Lega. Pelepasan hormon andrenaline ini berhasil dengan ketukan yang beringas dan sungguh cepat setelah di track sebelumnya seakan ditahan. Album ini adalah usaha yang bagus karena Comeback Kid berusaha menjadi lebih berat dan cenderung gelap yang bila diamati dalam tiap track-nya seperti mempunyai sisi kelam. Sing along yang bertalu dan menggema ditambah sound gitar yang lagi-lagi, mengkombinasikan efek berat yang dicabik dengan penuh emosi dan tempo yang intens tampil di track terbaik di album ini, “Should Know Better.” Ada kenikmatan tersendiri saat tubuh mulai tak tahan untuk bergoyang liar bahkan memecah kaca mobil mantan pacar yang menyebalkan saat refrain “Why you let me, why you let me down!” diteriakkan, –hardcore yang benar memang mengajari untuk beranarkhi meluapakan emosi. Ada kalanya dalam video klip band-band Hardcore, muncul scene dimana para penonton yang sedang bergoyang pogo saat menyaksikan band kesayangan ditampilkan dalam slow motion atau gerak lambat. “Unconditional,” adalah track yang sesuai dengan scene semacam itu. Cipratan, tubrukan dan luapan emosi menghangat dalam tempo melambat. Walau track ini cenderung metalcore dan amat catcy untuk tampil di MTV, penyikapan Hardcore Punk dalam medium apapun yang diciptakan oleh band yang pernah meledak lewat rilisan “Wake The Dead” ini tak patut sedikitpun untuk diremehkan. 12 track hardcore tanpa basa-basi: setidaknya Die Knowing adalah album yang bagus.

*Pernah dimuat di Ronascent dengan penyuntingan seperlunya.

Deadsquad - Profanatik: Epik Brutal yang Melaju Kencang Dengan Pita Analog


Tak ada teori yang mampu menjelaskan musik Deadsquad; kecuali teori kebrutalan, berdesak-desakan, rapat dan kereta api yang melaju amat kencang dengan rel penuh kerikil. Bising. Horror Vision, mahakarya mereka di tahun 2008 adalah pembuktianya. Menjurumuskan pendengar ke arah kualitas death metal tingkat internasional dengan lirik berlapis sarkastis-filosofis, mengujam tanpa ampun ke dasar lubang pendengaran dan eksplorasi mati-matian hingga ada sedikit instrumentalia jazzy di belantara kelamnya musik mereka (“Dominasi Belati,” “Manufaktur Replika Baptis”). Kini, sangkakala kembali berbunyi, para awak pasukan mati kembali menggali lubang pusara hingga ke dasar neraka; Profanatik. Tak kalah seru dibanding Horror Vision yang dapat menghancurkan sound sytem radio mobil, Profanatik sungguh lebih dari mampu untuk menghancurkan mobilnya seketika. Pameran skill klasik dari duo gitaris Deadsquad, yang hebatnya juga gitaris mainstream Indonesia: Stevie Morley Item (Andra & The Backbone) dan Coki Bollemeyer (Netral), mengalun lembut saat album mulai berputar. Mengiring pemakaman yang suram diiringi orchestra yang menyayat, “Ode Kekekalan Pusara,” membuka album dengan kesedihan pelepasan jenazah di pusara yang berujung pada adanya siksa kubur diiringi gerauan maut sang pencabut nyawa bernama Daniel Madhany. Sistem rekaman analog yang dipakai di album ini–walaupun sulit dan harus mengulang take jika salah; tak seperti digital–terasa  memuaskan telinga hingga beberapa kali terjadi eargasm bahkan walau masih track pertama. Percikan api-api liang kubur yang sadis dimuntahkan oleh Andyan Gorust yang mengunyah ketukan-ketukan hyperblast, grinding dan juga siksaan terhadap double pedal yang amat rapat, bersama dengan Bonny Sidharta yang mencabik bass seperti menggali kubur dengan tangan. Liar. Adanya orchestra di lagu ini, seperti menjadi pembuktian bahwa death metal bisa juga terdengar megah, gagah sekaligus gelap. Tensi musik tak sedikitpun diturunkan, “Anatomi Dosa,” track selanjutnya, seperti membedah atom, neutron dan proton dari “dosa” dengan gerinda musik yang maksimal, berlanjut dengan makian gerauan tanpa ampun di “Natural Born Nocturnal,” lagu menarik dengan eksplorasi yang sungguh epik dan dramatis. Melody gitar dan ketukan drum di tengah lagu tiba-tiba saja berubah menjadi amat jazzy. Membius. Sungguh momen yang menyegarkan. Perubahan progresi yang sempurna terjadi di “Merakit Sakit” yang meracau dengan kecepatan roller coaster menuruni rel-rel berlumuran oli. Terlampau cepat namun menyenangkan; pertunjukan akrobatik Stevie dan Coki adalah hiburanya. “Patriot Moral Prematur,” single yang tak asing lagi karena beredar sebelum album ini meluncur dan menjadi video klip kedua Deadsquad setelah “Manufaktur Replika Baptis.” Kaum fasis sayap kanan; ormas-ormas sok patriot yang sesungguhnya hanyalah kempulan barbar seperti ditampar dengan telak saat Daniel menyenandungkan “Lawan! Kita adalah lawan!” Lagu ini menambah daftar playlist anti fasis dari beberapa band yang sudah muak akan kicau ormas sok suci. Ganas. “Altar Eksistensi Profan” sepertinya adalah lanjutan dari “Patriot Moral Prematur,” yang mungkin mengindikasikan pemilihan judul Profanatik; bahwa para fanatik, para fasis, atas nama apapun tak jauh beda dengan profan. Selanjutnya, “Misantropis” dan “Jurnal Gagak,” yang masih kental ciri khas Deadsquad: brutal, cepat, rapat, menghantam. Ciri yang membuat Jimi Hendrix bangkit lagi dari pusaranya lewat salah satu lagu klasik legendarisnya “Fire,” lagu terakhir di album ini, yang tak disangka dapat menjadi kejam dan berhawa jahat saat di cover dengan cabikan-gerauan maut ala Deadsquad. Secara keseluruhan, Profanatik membuktikan bahwa Deadsquad masih yang terdepan di kancah peradaban death metal nusantara, walaupun cover albumnya terasa kurang sesuai dengan lagu-lagunya yang mewah dan berkelas; mirip design sablon kaos-kaos metal ketat murah yang dipajang di depan pasar-pasar buah. 

*Pernah dimuat di Ronascent dengan penyuntingan seperlunya.