Tuesday, January 13, 2015

Karena Hidup Serba Drama (Day #4)

Ada banyak ketololan yang terjadi dalam hidup, tanpa diduga. Seringnya semua hal kurang penting bahkan cenderung tak penting ini terjadi dalam kos. Seperti hari ini, hari dimana sebagian besar warga kampus sudah mengungsi pulang kampung ke rumah masing-masing, saya dan tiga orang pria macho masih terjebak di belantara kos. Tiga pria gateli ini adalah Nyong, Esa dan Reza (sebenarnya ada juga Mugsan Al Gazali tapi nyatanya dia sering sekali ngilang dan tidur di sisi manapun di kampus). Kosan jadi sepi sekali. Hampir tak ada kehidupan. Agak aneh ketika saya yang mandi dengan pintu terbuka demi mendapat penerangan karena lampu rusak tanpa ada sedikitpun bocah yang salah masuk atau mengira kamar mandi kosong karena memang tak ada siapapun. Agak aneh ketika saya berteriak-teriak tanpa dosa, menjerit-jerit tak jelas tanpa ada yang misah-misuh terganggu karena memang penghuni kos yang tersisa hanya tinggal sedikit. Agak aneh ketika saya ganti pakaian dengan pintu terbuka tanpa ada yang iseng memotret atau menyoraki aneh-aneh karena memang hampir semuanya telah pulang dan tinggallah saya disini bersama para jomblo sejati.

- Nyong: jomblo sejak lahir (pengakuannya sendiri)
- Reza: jomblo sejati (tak pernah membahas sedikitpun tentang cewek, bahkan dia tetap bermuka datar melihat Chelsea Islan ngangkang)
- Esa: jomblo sok playboy (sudahlah, pastinya dia satu-satunya cowok keren yang tersisa di muka bumi--menurut gestur dan gerak-geriknya)
- Saya: terpaksa menjadi bagian dari kehinaan mereka

Ketololan yang saya maksud diatas adalah ketika Esa dan Reza memutuskan pergi ke PTC dengan jalan kaki. Dengan jarak yang tak terlalu jauh dari kos, tapi juga gak bisa dibilang dekat ini, saya pikir mereka hanya omong kosong saja (seperti dulu-dulu). Saya baru pulang dari kampus sekitar jam lima sore, makan sebentar kemudian pulang ke kos. Motor saya nganggur jadi saya selalu welcome bagi siapa saja yang ingin pinjam. Tapi tumbenan Esa ini tak meminjam dan tetap memutuskan untuk jalan kaki saja. 

Di kosan kehebohan terjadi saat Nyong yang sedang asyik nonton Naruto tiba-tiba mulai parno dan khawatir tak jelas.

"ESA AMBEK REZA KOK GAK MOLEH2!"

Saya pun bingung. Ada apa dengan Nyong. 

"HEH! NANGNDI AREK LORO IKU! AKU KUATIR!"

Saya semakin bingung dengan Nyong.

"Mosok Esa diantemi satpam soale ngutil barang ndek PTC? Mosok Reza kesrempet truk?"

Nyong semakin parno. Saya semakin gila.

"Sikile kecepit eskalator beke!" Saya berkata ngawur saja.

"IYO COK! K*NT*LE KECEPIT ESKALATOR BEKE!"

Dan saya sekarang sudah mengetahui bahwasanya sindrom kesepian di kos sudah melanda otak bocah ini. 


***

Cukup sudah ketololan absurd di kos. Sedari tadi, kegiatan saya di kampus hanyalah bermain peran, bermain drama. Sepertinya saya sudah mendapat feel yang pas demi peran ini. Saya jadi mudah saja masuk dalam peran ini tanpa merasa seperti alien. Latihan di hari-hari sebelumnya memang cukup mampu memberi banyak pelajaran. Dan hari ini adalah hari terakhir latihan karena besok pentas sudah dibuka, siap atau tidak siap. 

Berawal dari bangun tidur klise pagi hari saya yang selalu bodoh dan kesiangan, semua berjalan sebagaimana mestinya. Termasuk drama kehidupan Rojak yang sukses membuat mbulet dengan mengajak saya melakukan hal-hal diluar nalar orang normal seperti:

1. Makan di gang 7, tapi dengan manuver ekstrem menyusuri jalanan tak jelas hingga berpotensi menghabiskan bensin.
2. Terobsesi dengan jemuran, bahkan sampai mengorbankan apa saja demi mengangkat jemuran.
3. Saya yang rutin menjemputnya di kos selalu berlagak aneh karena menunggunya lama tak keluar-keluar dari kos. Ia hobi memakai sepatu selama empat puluh lima menit.

Di kampus ia juga hobi wifi-an mengunduh suara burung WTF dengan mencari lokasi yang sulit dijangkau, jauh, sepi dan tak terjamah manusia. Ketidakjelasan aneh ini berakhir setelah kami dihubungi berbagai pihak lantaran latihan akan segera dimulai dan semuanya diharap berkumpul secepatnya di kelas.

Mas Ilham, pakar drama terkece abad ini memulai dengan latihan seperti biasa. Tapi di tengah-tengah, beliau mulai menunjukkan taringnya sebagai pelatih pro. Dengan gerakan-gerakan fisik yang bertujuan meningkatkan performa, melemaskan badan dan melatih vokal, saya sukses ngos-ngosan dengan entah syaraf di bagian mana yang terjepit. Hal terberat terjadi saat beliau menyuruh saya menunduk posisi rukuk dengan telunjuk ditaruh lantai, saya harus berputar 360 derajat mengitarinya dengan mata fokus selama 20 kali dan setelah itu saya disuruh mengambil botol yang terletak persisi di depan dan menyerahkannya pada Mas Ilham yang berdiri nun jauh disana. Awalnya saya pede aja halah fisik gue lagi fit neeeh. Tapi setelah berputar-putar agak lama, dunia serasa jancuk banget, goyang, pusing, mual: saya ingat betul rasanya mirip dengan efek ciu tradisional yang dibawa Bima di kos-kosan beberapa waktu lampau. Saya sempat ambruk dan muntah-muntah hampir lima kali setelah menenggak beberapa gelas. Dan latihan fisik ini pun sukses membuat saya ambruk dan memuntahkan isi perut yang sebenarnya belum terisi. Sucks!

Oke saya sudah capek cerita. Saya akan ke warung kopi saja karena Esa mulai berteriak-teriak aneh di kamarnya, bernyanyi paling fals dalam sejarah peradaban semesta raya. Wasuh! (bersambung)

Monday, January 12, 2015

Karena Hidup Serba Drama (Day #3)

Latihan drama semakin intens, dan sepertinya siap tidak siap saya akan tetap tampil.

Hari yang sibuk, terlepas dari tadi ketemuan terus sama mbak-mbak lucu, menumpahkan Cola di asrama putri waktu debat cowok gak jelas sampai ngeband pertama kali di 2015--setelah di tahun sebelumnya pun sebenarnya juarang sekali--dan masih dengan kebiasaan ngeband lama: gonta-ganti instrumen dan selalu ditutup saya sebagai vokal menye-menye, yang pasti drama dan latian masih jadi yang paling mengganjal. Oke saya gak mau menampilkan alasannya panjang lebar tapi yang pasti medioker macam saya yang disuruh main drama pertama kalinya sepanjang sejarah--sebagai peran utama--tentu saja grogi ndul! Tapi setelah jerit-jerit di studio saya bisa sedikit menumpahkan kegelisahan dan juga sepertinya mulai menyadari bahwa suara saya kok jadi enak sekali hahahahahahahahaha. Klise band yang saat latihan di studio gak ngerti mau ngapain karena baru pertama adalah jamming lagu-lagu J-Rocks dan untungnya bukan Bagindaz. Dan saya bisa memastikan suara saya lebih cempreng dari Iman--tapi juga lebih indah. Huahahaha.

Tak ada perkembangan mencolok dari latihan kecuali tentu saja memantapkan apa-apa yang telah dilatih kemarin. Saya yang berperan sebagai preman diharuskan bisa menampilkan sosok kejam, kasar dan suka marah. Disini saya gak bisa sama sekali marah tanpa alasan yang jelas. Memikirkan siapapun agar marah rasanya juga agak ganjil. Dengan bayangan orang macam begitu hanyalah Tio Pakusadewo, bos mafia di The Raid 2 Berandal, maka saya jadi punya referensi. Tapi untuk lebih marah-marah lagi, saya selalu percaya pepatah bahwa musik selalu bisa menyelamatkan apa saja. Disini awalnya saya memilih untuk mendengar musik-musik death metal, grindcore dan sejenisnya agar bisa memacu urat marah. Setan, iblis, cacing, anjing, bakar, bunuh, fuck you adalah hal lumrah yang bisa dijumpai saat dengar band beraliran itu. Tapi, entah karena kuping sudah terlalu tua untuk dengar metal, referensi musik saya beralih pada kolektif hip-hop provokatif Bandung, Homicide yang sukses membuat saya marah dengan sendirinya tanpa saya sadari. Dipancing dengan ungkapan provokatif dari Munir di awal lagu "Rima Ababil":

Mereka berebut kuasa//Mereka menenteng senjata//Mereka menembak rakyat//Tapi mereka bersembunyi di balik benteng kuasa.

Dan memang Homicide selalu punya semangat untuk membakar. Tambah lagi dosis di instrumentalia hitam "Terra Angkara" yang sungguh bikin merinding. Saya pernah mendengarkannya sambil baca kumpulan puisi Wiji Thukul "Para Jendral Marah-Marah", dan tak pernah ada kombinasi yang seseram ini dimana kamu langsung ingin melempari kantor polisi dengan tai, melempari gedung DPR dengan molotov. Wuiihhhhh! (Dan tentu saja saya tak sedangkal itu mencerna lirik musik, ini adalah tentang kesan saja secara sekilas). Jadi dalam drama ini saya agak sedikit terbantu. (Bersambung)

Sunday, January 11, 2015

Karena Hidup Serba Drama (Day #2)

Saya masih perlu berpikir ulang apakah saya mampu tampil memuaskan di hari Rabu.

Hari ini setelah nongkrong berkedok evaluasi di Coffe Toffe JX dengan harga kopi Rp. 29.500 (faaakkk larange!) dan kesalahan memesan kopi dimana saya pesan white capuccino dengan rasa yang keterlaluan pahitnya, saya terbangun diantara matahari pagi yang mulai menanjak pukul 08.30 WIB. Wajar saja karena saya baru sampai kos sekitar pukul tiga pagi dan itupun masih diselingi mengapresiasi Humi Dumi sekali lagi via handsfree hingga akhirnya tertidur pas saat azan subuh. Jika kalian kader PKS kalian pasti sudah melempari saya dengan sendal tapi persetan karena it's a fun night. Terlepas dari betapa hinanya geng sopir truk dari situs musik so called indie www.ronascent.biz yang membully saya habis-habisan karena alasan klasik sepanjang masa: JOMBLO, dan saya resmi menerima wejangan absurd dari Bang Awik, seorang wartawan lifestyle Jawa Pos yang mempunyai kecenderungan gila, dimana dengan kantor Graha Pena Surabaya yang cukup dekat dengan tempat nongkrong tersebut, orang gila ini berencana mengenalkan saya dengan temannya sesama wartawan yang--menurut semua yang hadir--cukup imut dan manis deh. Teman Bang Awik ini sudah setuju dan akan keluar dari kantor untuk menemui saya (yang dengan bodohnya saya sempat difoto oleh Bang Awik dan dikirimkan pada mbak-mbak ini). Tapi untung hal tolol tersebut tak sampai kejadian karena pihak Coffe Toffe sudah pasang sikap mengusir dengan menutup tirai dan mematikan lampu. Saya resmi pulang dan enyah dari forum webzine yang mempersyaratkan pacar sebagai syarat keanggotaan utama. Saya hanya bisa pasrah dan mengangguk-angguk saja, betapa hinanya menjadi jomblo.

"Kuliah jomblo iku ngenes to! Pokoke Juni iki awakmu kudu wes gak jomblo lho ha-ha-ha!" 

Tapi saya sebagai lelaki jantan let it flow aja lah menghadapi tekanan amoral yang gak penting-penting amat ini. Bah wes jomblo cuk hahaha!

Dengan mata terkantuk-kantuk saya terbangun--ya masih bodoh seperti biasanya--dan langsung tancap gas menuju kampus. Masih dengan t-shirt MCR yang sempat dikomen Mini.

"Wee kamu suka MCR tah?"
"Lumayan!"
"Aku yok suka!"

Biasanya model percakapan macam beginilah yang saya suka. Sama-sama memfavoritkan band dan akhirnya membahas secara komprehensif bagaimana efek yang dialami jutaan pemuda sok emo saat Gerard Way akhirnya membubarkan band ini, atau bagaimana album studio full terakhir MCR yang tak lebih dari sampah, atau dimana letak inti keseruan Three Cheers For Sweet Revenge sehingga mampu menjadi soundtrack remaja labil di masa lampau (kalian cukup menyedihkan jika tak pernah mengenal MCR semasa SMP), atau bagaimana band ini bisa menjadi lebih ngehype dibanding The Used atau Saosin yang secara musikalitas lebih ciamik, atau dan atau-atau yang lain. Percakapan berlanjut. 

"Wih sip iku Min! Favoritmu album yang apa?"
"Aku nggak apal kalo album!"
"Yawes kamu suka lagu yang apa?"
"Aku nggak apal lagu-lagunya."
"..."

Dan semuanya masih berakhir klise seperti biasanya. Sulit menemukan kawan ngobrol musik seintim itu kecuali dengan para kru Ronascent.

Latihan drama hari ini bisa dibilang melelahkan. Lebih amburadul dibanding tulisan ini. Hal ini karena di suatu scene, saya yang minim kemampuan drama macam begini diharuskan menjadi seorang dengan deskripsi:

1. Bos preman 
2. Suka mabok
3. Suka main cewek
4. Kasar
5. Suka memaki istri 
6. Dan hal-hal lain yang menjadi inspirasi lirik lagu sendu Betharia Sonata

Dengan istri yang diperankan Merpati yang notabene adalah cewek yang lemah lembut, saya hanya bisa meminta maaf saat diharuskan membentak-bentaknya.

"KAREPMU OPO RENE MORO-MORO CERAMAH! LEK CERAMAH KONO LOH NANG MASJED! NDEK KENE IKI KALI, NGGENE WONG NGESENG AMBEK GOLEK PASIR GAWE MAKANI RAIMU IKULO (COK!)" 

Dan Merpati pergi dan menangis entah kemana.

Kemudian datanglah manusia-manusia yang berperan sebagai anak buah saya. Dengan klise peran anak buah sebagai orang yang tolol dan goblok, it's easy untuk membentak-bentak mereka, menggertak mereka, memukul kepala mereka dan hal-hal lain yang jika dilakukan di dunia nyata berujung pada sodomi. Untungnya Sony ataupun Rojak sebagai pria beruntung yang memerankan ini bukan simpatisan Jonru atau Felix Siauw.

Beberapa tambahan scene juga mulai diungkap Mas Ilham. Dan saya juga sudah kelaparan untuk sekedar bercerita, tugas Karya Ilmiah juga belum disentuh sama sekali, jadi cerita gak jelas ini sampai disini dulu. Yang paling penting cerita ini adalah saya yang barusan mandi seperti kembali ke jaman batu, jaman Mansur, jaman Ibung, jaman Bagus, dimana lampu kamar mandi kos error dan jadilah saya bergelap-gelapan saat mandi--dengan pintu terbuka. (Bersambung)

Saturday, January 10, 2015

Karena Hidup Serba Drama (Day #1)

Saya masih belum benar-benar yakin akan kemampuan pentas saya.

Dengan keputusan Bu Ririe, dosen apresiasi prosa fiksi yang menunjuk kelas sastra 2013 untuk memainkan drama dengan lakon yang tidak main-main "Bidadariku Harapanku", ini berarti kelas dengan mahasiswa--yang seperti dibilang Pak Najid--kebanyakan salah masuk jurusan sastra ini harus berlatih dengan cukup keras dalam waktu yang sangat tidak sesuai dengan waktu normal orang berlatih drama untuk pentas--menurut Mas Ilham Sendratasik, pelatih senior kami-- yakni 6 bulan dan seluruh penghuni kelas tanpa kecuali harus melakukan latihan mulai Sabtu, Minggu, Senin dan Selasa, kira-kira 4 hari untuk kemudian melaksanakan tugas suci memainkan lakon drama itu di hari Rabu. Yieeehhh! 

Sabtu ini adalah hari pertama saya dan kawan-kawan berlatih. Dengan jam molor yang sudah terlampau biasa bagi kelas sekece ini, janji berkumpul pukul 8.30 pun meleset hingga pukul 9.30 dengan saya yang baru datang seusai ketiduran karena kelelahan menempuh perjalanan yang sebenarnya gak jauh-jauh amat sih Pandaan-Surabaya. Hanya dengan menyantap sari roti keju favorit saya langsung tancap gas ke kampus dengan kostum paling nyantai dan easy going kaos metal dan celana pendek plus beanie. Fuck the mainstream dimana seluruh kawan-kawan memakai baju yang sopan tapi apa daya pesona Sabtu pagi yang sudah terprogram di otak sebagai liburan membuat saya tetap memakai kostum yang bisa dikatakan seperti orang yang belum mandi. 

Langsung saja setelah briefing yang saya juga gak ngerti karena masih ngantuk, Mas Ilham memulai dengan sebuah sandal yang gantian dilemparkan pada kawan-kawan. Sandal itu harus diubah menjadi benda lain sesuai imajinasi (ngerti gak?). Dan pasti ada sedikit momen canggung, jika tak tolol dimana sandal dipraktekkan dengan khusyuk menjadi setrika, handphone, sikat WC dan saya dengan idiotnya menggunakan sandal tersebut sebagai sikat gigi dan raket tenis. But it's doesn't matter 'cause it's fun. 

Dan dimulailah latihan drama dimana datanglah ibu-ibu desa yang sedang cuci-cuci di sungai sebagai pembuka drama. Dengan banyaknya peran yang diisi oleh geng super that called Oplosan (atau Ops dalam versi lebih dramatik), pembuka drama menjadi hidup. Tanpa adanya teks dan aturan-aturan kaku khas drama, mereka sukses membukanya dengan gaya lenong dan karena ini adalah memang drama komedi. Mereka bisa-lah ngomong apa aja ngalor-ngidul di atas panggung, sedikit mengingatkan pada OVJ atau YKS deh versi goblok-goblokannya. Dengan ini kami merasa yakin akan membuat penonton terbahak-bahak. Tapi dengan ini juga kami tak yakin apakah kami akan melakukan hal yang sama persis dengan latihan saat drama berlangsung. (Bersambung)

Wednesday, December 3, 2014

Menghilangkan Kehilangan

Kami memulai dengan semangkuk indomie, kemudian menyusul extra joss dan marimas. Malam itu remang. Hujan baru usai. Aspal jalanan masih basah. Sinar bulan kekuningan hinggapi bercak hujan. Sejuk. Kami memulainya dengan mengaduk-urap bumbu dengan indomie yang baru tersaji. Warung kopi sederhana gang 7: malam resmi membisik pilu.

"Sakjane piye yo. Aku yo sek sayang nang arek'e, aku yo sek pengen perhatian. Tapi arek'e wingi ngomong jujur nang aku: de'e wes bosen LDR-an. Gak enak. Gak isok ketemuan bendino. Gak isok cidek bendino. De'e yo ngaku lek nang kono de'e wes nemu wong lanang liyo. Malah de'e ngomong 'aku lho udah bahagia sama dia disini'. Koyok piye ngono rasane. Sesek nang ati. Tapi yoweslah aku sabar ae. Ngalah. Engkok lek ngamuk-ngamuk kuliahku nang kene malah keteteran. Sakno wong tuwoku."

Salah satu sahabat saya. Teman ngopi walaupun tak sering-sering amat. Dia teman satu kosan. Sambil terus melahap indomie-nya, dia bercerita sambil sesekali menahan kegundahan. Saya bisa merasakan, ada hal yang membuatnya tak tenang. Sampai indomie habis dan menyisakan sisa bumbu di mangkuk, rasa itu masih menggantung di kelopak matanya yang kurang tidur: malamnya adalah malam panjang, memikirkan pujaan hati yang jauh disana. Diambilnya kretek. Dinyalakannya pelan-pelan. Memburai saja pikiran, melayang jauh ke malam-malam sebelumnya...

"Doakan ae yo bro. Ben langgeng. Aku iki wes serius ambek arek iki." 

Dia berujar suatu hari saat sedang bersama saya menunggu pesanan penyetan. Waktu itu saya baru saja putus dari pacar saya. Tak ada rasa iri. Saya turut senang. Mendoakan walaupun hanya dengan ucapan.

"Mayak kon pacaran ae! Ha-ha! Aku ae mari putus he-he. Oke wes moga langgeng, dan dapat restu dari orang tuane, Amin." 

"Seng sabar tah cuk! Mariki lak oleh maneh ha-ha! Masalah restu wong tuwo seh aku lek ndelok ayah'e rodok piyeee ngunu, tapi yo gak popo seh jare arek'e. Pokok'e aku iki wes serius nemen, walaupun LDR tetep tak jogo."

Berbahagialah kawan. Batin saya ketika itu. Pulang ke kos dan langsung menyambar penyetan. Dia kembali melanjutkan telfonan dengan sang wanita. Saya kembali bingung harus berbuat apa. Kesepian. Ide lama kembali muncul: menjahili anak kamar sebelah.

"Juancok, To! Wasu tenan we iki! Urip nggak genah gianggu uwong ae! Jiancok!" 

Kurang etis menjelaskan apa yang telah saya perbuat. Hanya kata-kata itu yang pantas ditulis. Sementara teman saya di ujung sana, sempat-sempatnya berkomentar dalam percengkramaannya.

"Opo to dul dul kok rame pisan! Gibeng ndasmu kon engkok!"

Dengan hati yang awesome karena berhasil menuntaskan aksi jahat pengusir sepi, saya kembali turun ke jalan, duduk-duduk sok sangar, melihat kendaraan lalu lalang. Jomblo always feel lonely--oh my god i'm not alay person, this real.

***
Dua malam sebelum malam pilu milik kawan kos saya. Masih di tempat yang sama. Masih indomie dengan racikan yang sama. Masih extra joss, masih marimas. Gorengan juga tak kalah seru. Kretek terbakar. Malam yang berat. Kawan sekelas saya memulai nostalgia bersama mantannya. Bercerita.

"To kon lek ero yo, aku biyen iku gak ero opo-opo To! gara-gara aku pacaran ambek de'e, aku dadi koyok ngene, gara-gara de'e iku To!"

"Podo aku pisan."

"Aku wes pacaran telung taun To! Bayangno, telung taun! Terus putus! Jancuk!"

"Podo aku pisan."

"Aku ambek arek'e wes koyok ngono, aku gak mikir aneh-aneh sampek tibak'e de'e mengkhianati aku ambek arek Jakarta! Jiancookk! Bayangno To yaopo rasane!"

"WIh iyo a? Wah ceritomu terlalu nemen cuy, ceritoku ae gak sampek koyok ngunu, bersyukur aku. Terus-terus?"

"Yowes. Arek'e tak putus. Tak delcont. Tak blokir FB-ne. Arek'e lek nghubungi aku gak tau tak respon."

"Oalah seng sabar ae men. Eh awakmu nanges gak biyen?"

"Iyo. Tapi akhir-akhir iki wes enggak?"

"..."

"Lapo cuk salah ta lek aku nanges?"

"Enggak. Podo, aku pisan..."

Indomie ludes. Kisah masih berlanjut. Menenggak extra jos di malam hari adalah keniscayaan. Tubuh jadi segar dan dengan sendirinya mata jadi melek. Ia mengambil gorengan untuk yang kedua kali. Saya menanyakan apa dia sudah bisa move-on atau tidak. Oke, dia memilih jomblo selama hampir dua tahun. Move-on tak segampang yang kalian kira. 

"Tapi aku saiki cidek ambek arek Bahasa Jepang, To! Wes kroso nyaman aku!"

"Yo ndang ditembak tah."

"Lho ojok sek. Nunggu momen seng pas."

"Saiki tembak'en lho nggak masalah."

"Lewat opo? BBM? Kupingmua! Aku lek nembak ngomong langsung yo!"

"Mayak! Aku ae gak tau nembak langsung. Nembak mek pisan ikupun lewat SMS. Ajarono tah."

"Cuk mosok? Arek model koyok kon ngene lak luweh pengalaman seh timbang aku To To!"

"Lho jancuk iki dikandani kok! Sumpah ilo!"

Kawan saya membeberkan tips klise yang sebenarnya bisa saya dapat lewat google ataupun situs kegemaran saya saat ini: hipwee.com. Saya banyak mendapat ilmu dari pertemuan indomie malam ini. Tapi masih belum ada niatan untuk mencoba semua yang ia sarankan di malam itu. Biarkan berlalu. 

***

Saya menulis ini diantara tumpukan tugas yang saya-pun belum tahu sudah selesai apa belum saking banyaknya. Hampir pukul 12 malam. Ada kalimat paling lucu malam ini: ini tugas apa kasih ibu, kok panjang buangeet! Sudah tertebak kalian tidak tertawa. Malam ini cukup dingin. Hujan sore hari tadi lumayan deras. Sebelum pulang kampus tadi, saya sempat diajak kawan sekelas yang biasanya jadi teman ngopi untuk mampir ke penyetan langganan yang sudah lama tutup dan kini buka kembali. Mampirlah bila ke kampus saya, warung kecil dekat gang 7A. Fuck nyus banget rasanya. Awesucks!--dalam konotasi paling positif tentunya. Minggu depan saya dan teman-teman akan penelitian ke Bali. Saya mengkhawatirkan motor. Kawan saya menanggapi santai sekali. 

"Tak titipno kos'e pacarku ae sepeda-ku."

"Lho cukkkkkk kon moro-moro pacaran ae? Ambek sopo? Arek Jepang iku a?"

"Iyoohhhhhhhh."

"Gathel. Mbok tembak nangndi? Gawe trik seng wingi ta?"

"Yoiyoseh! Nang Danau Unesa. Sip kon lek nembak ndek kunu!"

"Danau Lidah?"

"Duduk! Danau Unesa seng Ketintang! Bengi-bengi tapi, marine magrib! So swit kon jus'e mek limangewu."

"Aku yo tau mrunu seh ambek adek kelasku."

"Jam piro?"

"Moleh kuliah sampek arep magrib!"

"Halahh wes tah arek'e jak'en mrunu bengi-bengi! Apik wes percoyo'o aku!"

Sumpah demi dewa tendang-pantat, bajingan beruntung ini sudah dapat pacar baru. Move-on-move-on-move fuckin' on! Bitchessss! Saya tak pernah iri, tapi sore ini saya sungguh tak menyangka. Semuanya cepat sekali. So fast so furious!


***

Hidup saya tak pernah jauh-jauh dari penyetan. So sebelum mengerjakan tugas barusan saya membeli penyetan dan menyantapnya rame-rame (apakah makan berdua bisa dikatakan rame-rame? jika bisa berarti istilah saya sudah tepat horraaayy!--Ah, salah ya?) Disitu saya bertemu kawan yang dulunya sempat satu kos. Dia pacaran dengan sahabat saya. Kemarin sepulang kuliah kami tak sengaja bertemu di parkiran, dan saya iseng mengajaknya cangkruk di kos. Iseng-iseng berhadiah. Barangkali saja ia mentraktir saya jus. Tapi nyatanya dia belum dapat kiriman jadi sayalah yang mentraktirnya. All is fine for friend, allright? Jus ditenggak.

"He piye iki To, aku wes gak betah LDR ambek koncomu kuwi. Uabot eram (fakk! eram ini bahasa Magetan, artinya kurang lebih 'bingits') Aku iki gak disetujui wong tuwoku lek LDR. Mak-ku ae ngongkon aku golek pacar seng sak fakultas ben penak isok ketemuan terus."

"Jancuk lha salahmu ndeng nembak arek'e! Gateli kon!"

"Lha piye iki To terusan?"


"Cewekmu iku curhat'e nang aku ndul, sering. Aku sampek bingung ngrasakno gak lapo-lapo bengi-bengi di BBM, isine duwowooooo koyok... manukmu dowo nggak? Em, koyok ulo wes dowone. Lha iku isine koyok novel kon lek ero, aku gak paham opo tapi intine de'e nggolek'i kon cuk! Nangndi ae toh le le! Aku kok maleh terlibat jiangkrek hare!"

"Hahahaha, mosok To! Yo ngapuro tah! Tugasku akeh tenan iki!"

"Ndasmua wong kon yo chattingan ambek koncoku arek Bahasa Inggris ae lho, arek'e wingi cerito ndul!"

"Lho mosok?"

'Arek iku lek onok hubungan ambek lanang kadang-kadang yo cerito nang aku ndeng!"

"Gak onok opo-opo lho To, sumpah!"

"Bajingan kon iki cuk hahahahaha! Padahal raimu yo ngene-ngene ae seh le hahaha!"

"Wes tah aku serius ikiii. Piye enak'e?"

"Ngomong jujur ae nang arek'e: lek pengen putus yo putus, gak betah yo gak betah. Tapi alon-alon ae disamping cewek arek'e yo koncoku. Tapi yo sak karepmu seh!"

"Iyo wes To tapi emboh kapan aku ngomonge saiki aku dorong sempet. Sek bingung nugas."

"Sakarepmu leeee...."

Dan memang dunia ini serba mengejutkan. Malam ini sebelum pulang dan menyantap penyetan, saya sempat menemui bajingan satu ini. Berkata sepatah dua-patah kata jorok dan dilanjut straight to the point:

"Wingi pacarmu bengi-bengi BBM aku: 'aku udah putus.' KON KOK CUEPET MEN LEK MUTUSNO AREK CUK!"

Dia hanya tertawa-tawa tanpa beban. Dan disini, 00.19 WIB: tugas menanti lagi. Huaaahhhh ngantukkkkk Buuu! 

Thanks Rocket Rockers "Akhiri Sepi" yang diputer terus sampai mampus: "Hampa terasaaa dan sepi pun menyapaaa~

Thursday, November 20, 2014

Headset Plug On: Belai-Belai Melankolia

Dan di posting sebelumnya jujur saya akui saya galau hehe. Dan saya tak peduli-laaahhhh. Dan disini saya berencana pamer playlist yang ultra frekuentif saya putar di pemutar musik saya. Dan tanpa banyak bacot inilah playlist saya minggu ini yang kebanyakan berisi lagu-lagu so called pop dan jujur, lagu-lagu berikut cukup menyentuh perasaan saya. Jangan terharu. Plis!

1. Sherina "Sebelum Selamanya"
Dari album Tuna, Sherina bernyanyi ringan di lagu berdurasi hampir lima menit ini. Baik, "Sebelum Selamanya" agaknya menjadi lagu yang harus saya camkan baik-baik saat nanti ingin menjalani hubungan lagi (entah kapan itu entah kapan!). Pesan yang ingin disampaikan lagu ini adalah bahwasanya Sherina sudah kebelet kawin. Tapi sesungguhnya sebelum berikrar selamanya ada baiknya membicarakan dulu soal komitmen ke depan. Dan sebelum saya jadi makin sok pakar dan sok tahu masalah percintaan, sebaiknya baca lirik dibawah baik-baik. 

Jaga hati yang kuserahkan untukmu
Jangan lupa rasa jatuh cinta pertama kita
Dan tali asmara kita yang tlah diuji waktu
berjanjilah sayangku, sebelum selamanya...

2. Dewi Lestari "Malaikat Juga Tahu"
Dee adalah penulis idola saya meski saya hanya pernah baca Supernova Petir saja, itupun meminjam paksa dari teman. Tapi film Rectoverso menurut saya adalah satu dari banyak film drama keren Indonesia yang juga diadaptasi dari kumpulan cerpen Dee yang berjudul sama. Dengan unduh pdf saya sudah dapat itu semua plus album musik bagus berisi lagu-lagu dengan suara melankolis Dee yang mempunyai benang merah dengan isi cerpen. "Malaikat Juga Tahu" adalah satu-satunya lagu yang saya dengar di album ini, juga satu-satunya lagu yang mungkin paling ultra frekuentif saya putar saat sedang melamun. Dee mengolah lagu ini dengan magis, tanpa ratapan cengeng dan menye-menye lagu ini bahkan bisa membuatmu meraung-raung. Dengan kapasitas Dee sebagai penulis jempolan, urusan lirik dalam lagu ini bagaikan sebuah jurang di dasar lautan. Dalam. Dalam sekali. Hiks. Jangan nangis. Hiks.

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu
Ada cinta yang nyata
Setia, hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri...

3. Mocca "Twist Me Around"
Saya menyesal tak menonton Mocca minggu lalu di ICE2014 dan malah menonton Rosemary faaakkkk! Tapi tak mengapa toh saya juga baru mengerti indahnya lagu-lagu Mocca sebulan sebelum ICE2014 digelar. Ya ya saya brengsek karena saya mengunduh hanya album My Diary saja dan itupun lewat bebas unduh karena internet jaman sekarang murah sekali. Tapi Mocca, oh Mocca. Musikmu memang mempesona. Dalam lagu ini khususnya, ada sebuah momen entah di menit ke berapa saya malas ah untuk menghitung dimana suara vokal Arina Epiphania--dan dia adalah adik Dee you know--yang seringan kapas dan seperti hembusan angin yang siap membawamu terbang. Ah, jangan dibayangkan. Vokal 'terbang' itu menyanyikan larik ini:

Twist me around
All i need is someone who's
Willing to stroke my hair
Like a soft blowing breeze
My poor sentimental side
Twist me around...

4. The Titans "Seandainya"
Lagu ini sesungguhnya merusak tatanan playlist diatas dimana semua penyanyinya adalah wanita. Saya pun sudah lupa band apa The Titans ini dan bagaimana nasib mereka sekarang. Pun apakah lagu-lagu mereka yang lain layak dengar atau tidak saya juga tidak tahu. "Seandainya" adalah satu-satunya hal yang saya tahu mengenai band ini. Dan iya benar lagu ini memang easy listening dan saya yakin pernah berseliweran di Inbox. Entah mengapa saya suka lagu ini. Mungkin karena musiknya memang sederhana, liriknya jujur dan ada sesuatu dalam lagu ini yang membuat saya teringat masa SMP. Maaf The Titans saya baru searching di Google dan saya baru ingat bahwa kalian adalah pecahan dari Peterpan. Jangan terkejut.

Seandainya ku dapat menemanimu malam ini
Hilangkan sepi
Seharusnya ku ada di sisimu dan ku terjaga
Hingga kau terlelap mimpi...

5. Efek Rumah Kaca "Melankolia"
Duh, ini band besar. Band indie kesayangan Indonesia. Band dengan kekuatan diatas rata-rata. Lagu ini mengubah kegalauan yang seolah panas di padang tandus menjadi beku dibawah 0 derajat. Entah kegalauan akan menjadi lebih galau atau malah akan berkurang yang pasti tak ada perumpamaan yang lebih pas selain kalimat di atas. Dengan kharisma vokal Cholil yang sendu dan terasa amat sangat mengiris perasaan, lagu ini sungguh menjadi ultra frekuentif dalam playlist terutama saat saya sedang di kampus dengan suasana mendung yang mendukung. Dalam liriknya, ada hawa murung yang indah, juga hawa gelap yang mesra. Melankolia. 

Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi
Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah...

Begitulah, hanya ini yang mampu saya pamerkan. Dan secemen-cemennya saya yang mengaku metalhead tapi malah bermenye-menye ria, saya hanya bisa berkata: iyo bener seh hehe! :D

Friday, October 10, 2014

Biaskan Semu, Semua yang Tersisa

Saat ini kita duduk di tepian danau. Kamu berharap imajinasimu kali ini tak jadi nyata. Seolah-olah sesudah kamu bercerita bahwa apa yang kamu pikirkan—hal-hal tabu, tak masuk akal, sulit dinalar—selalu saja jadi kenyataan, ular besar sebesar naga yang kau bayangkan akan muncul dari dasar danau dan mencelakai kita semua: termasuk orang memancing, muda-mudi yang berpacaran juga ayah yang menggendong anaknya sambil menatap danau. Tapi aku justru berharap ular itu muncul dan kita akan terkejut; biar kamu yakin bahwa imajinasimu selalu jadi nyata. Karena sejujurnya aku berharap bahwa aku ada dalam jutaan imajinasimu.

Waktu berlalu. Kita hanya duduk. Menatap danau jernih seluas tiga kali lapangan bola, dan melamun. Kita sudah membicarakan banyak hal. Aku tahu kamu gelisah menunggu nilai test-mu diumumkan. Kamu tahu aku gelisah banyak deadline yang harus dikerjakan. Semua menumpuk. Tapi tumpah seketika saat kita bicara. Sore ini bebanku terbagi. Kita selalu seperti ini. Membagi semua. Biaskan semua. Tanpa sisa. Aku tahu kamu ingin berjumpa adik bayiku yang baru berusia tiga tahun—atau empat tahun aku lupa?—dan kamu akan menggendongnya, mengajaknya bermain, meninabobokannya, tapi kamu bingung saat dia minta mimik. Sementara kamu tahu aku masih mengharapkan ular besar itu muncul dari dasar. Dan di sore itu, genap dua puluh kali kamu mencubit pipiku. “Ih, aku takut lho. Jangan ular-ularan terus!” katamu. Aku semakin menggila. Dua puluh satu cubitan mendarat. Aku kesakitan dan entah mengapa juga kegirangan.

Senja mulai turun. Pukul lima lebih sekian menit. Ada sesuatu di angkasa yang membuat kita terus memandanginya. Langit mulai kekuningan. Indah. Aku melihat sorot matamu lembut menatap pendar sinar, sedikit menyilaukan retina. Air danau mulai bergerak tertiup angin. Membentuk gelombang elok. Begitu pula kita. Bersamaan dengan itu aku menunjuk tengah danau. “Hey liat, danaunya kayak kekuning-kuningan gitu. Keren nggak?” Kamu mengangguk sambil tersenyum. Aku menantikannya sedari tadi. Senyuman termanis di penghujung senja. Senyuman terlembut di antara bayang-bayang nilai test, tumpukan deadline dan ular sebesar naga. Senyuman terhangat, yang entah untuk senja, atau untuk aku.

Keniscayaan yang muncul pasca senja adalah gelap. Tapi bukan gelap yang membutakan mata. Aku masih bisa melihat daun tertiup angin, sinar lampu kota yang mulai nampak, penjual cilok yang duduk menghisap kretek, dan, aku masih bisa melihatmu. “Nggak pengen senyum? Cantik kayaknya kalo senyum.” Dan kamu pun tersenyum. Melengkapi langit orange-keungu-unguan yang sedang terjadi. Soreku sempurna.

"Diam
Tatap wajahku perlahan
Derukan, derukan
Angin panjang
Sisakan bebas
Bebas yang tertinggal
Huuhu…"

Danau Lidah, October, 2014
Title and quotes taken from Humi Dumi’s song “Ceria Cerita”
It’s just fiction or reality? Who cares.