Monday, August 15, 2016

Seperti Seharusnya, Noah dan Playlist Abadi


Kurang lebih saya mengenal Ariel dkk di usia SD. Tidak begitu fanatik, malah saya lebih interest pada Dewa 19. Bapak saya pertama kali beli kaset Peterpan di pasar, juga kakak yang punya kaset tape Bintang di Surga. Itu jadi konsumsi sehari-hari akhirnya. Beberapa lagu cukup lumayan untuk diikuti, tapi saya tidak candu-candu amat. Saya berpikir Peterpan adalah band biasa-biasa saja. Yah keren lagunya, tapi belum cukup untuk membuat saya jatuh cinta. Sewaktu SMP saya sempat menonton Insert di Trans TV, waktu itu host-nya masih Indra Herlambang sama Cut Tari. Itu sekitar kelas 9. Disitu diberitakan bahwa Ariel, vokalis Peterpan, terlibat kasus video porno bersama Luna Maya. Yang memberitakan adalah Cut Tari. Tapi host seksi yang cukup sintal dan menggemaskan ini berkomentar di akhir berita:

“Masak sih itu Ariel? Itu bukan Ariel, tapi Andhika Kangen Band!”

Minggu depannya Cut Tari sudah tidak ada lagi di acara Insert. Sekarang dia yang ganti diberitakan media gosip karena video kedua Ariel ternyata nyebar juga, dan itu pemainnya Cut Tari. Mungkin dia terkena kutukan Andhika Kangen Band karena ‘orang nggak salah malah dibawa-bawa.’ Saya ingat betul juga di zaman itu. Zaman Peterpen buat reality show pencarian nama baru di Trans 7. Nama Peterpan memang milik Andika, mantan kibordisnya, jadi dia ngerasa Ariel dkk. tidak berhak lagi memakai nama itu. Saya berpikir bahwasanya  baru kali ini band indonesia mau ganti nama saja begitu hebohnya; masalahnya Ariel dkk tidak tahu akan memakai nama apa. Alhasil ada banyak usul, dan dibikinkan reality show pula. Dag-dig-dug tiap ada yang membahas nama baru Peterpan, selalu saja mikir, nama apa ya yang jadi dipakai. Tapi pas lagi genting-gentingnya nyari nama itu, Ariel kena skandal, jadi tersangka, dan akhirnya dipenjara. Berhenti sudah drama Peterpan. Berhenti sudah urusan ganti nama. Uki dkk, yang tidak ikutan main bokep jadi berjalan sendiri. Sempat membuat proyek Peterpan On Piano oleh David yang kemudian dikembangkan menjadi album Suara Lainnya dimana lagu Peterpan dicover jadi instrumental tanpa vokal.

Di titik inilah, saya mulai interest dengan Peterpan. Ketertarikan ini sebenarnya diawali saat mereka membuat album Sebuah Nama Sebuah Cerita—saya lupa periode pembuatan album itu kapan, sesudah skandal Ariel atau sebelumnya, seingat saya sebelumnya. Disitu ada lagu yang ‘Cobain’ sekali menurut saya: “Walau Habis Terang.” Saya suka liriknya. Itu seperti ‘it’s better been burn than fade away,’; lebih baik kamu padam daripada memudar sedikit-demi-sedikit. Ada satu punch yang saya ingat: peluk tubuhku untuk sejenak, dan biarkan kita memudar dengan pasti.’ Itu adalah salah satu bait terbaik di lirik Indonesia menurut saya. Dan saya berpikir, siapa lagi yang membuat ini jika bukan Ariel. Saya ingat di era ini Ariel tidak lagi berambut sebahu ala-ala Luke Skywalker. Tapi sudah lebih cepak. Dan tidak hanya rambut yang berubah, tapi juga kedewasaan musik di lagu-lagu mereka, sound yang lebih terasa, lirik yang lebih memukau juga influence mereka yang lebih terdengar melebur bersama orisinalitas Peterpan. Itu semua mulai tampak jelas di album Hari yang Cerah, dimana lewat lagu “Cobalah Mengerti” yang sempat saya simak klipnya di MTV, jauh berbeda secara kualitas dengan lagu macam “Mungkin Nanti” yang menye atau “Ada Apa Denganmu” yang terlalu sakarin—dengan intro mirip “Am I Wry” dari Mew. Bandingkan sendiri.

Saya benar-benar suka dengan Peterpan di album Sebuah Nama Sebuah Cerita, yang memuat seluruh hits besar Peterpan dari era debut sampai album terakhir. Melihat tajuknya kita akan segera tahu bahwa ini semacam obituari; album terakhir mereka dengan memakai nama Peterpan. Tapi karena memang berkonsep ‘kompilasi’ atau kumpulan lagu-lagu lawas yang saya tidak pernah terlalu interest, saya hanya mengamati dua lagu baru saja yang jujur, menurut saya lagu baru itu, alias lagu terakhir Ariel dkk saat menggunakan nama Peterpan, adalah lagu terbaik Peterpan sejak awal karir. Mungkin ada satu lagu baru lagi yakni “Kisah Cintaku” yang juga dibawakan bagus tapi itu cover dari Chrisye. “Walau Habis Terang” -lah yang saya maksud. Lepas dari lirik paling puitis yang pernah diciptakan Ariel seperti saya jelaskan diatas, nuansa kelam dan gelap, lesu darah, dari lagu ini begitu menghipnotis. Simak bagian:

“Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya cinta ‘tuk terangi jalanmu...”

Dan lagu ini sudah menjadi abadi, kapanpun, ini tidak akan lekang dimakan zaman, akan selalu relevan dengan telinga saya. Ada semacam kepasrahan yang elegan, entahlah, dalam lagu ini yang membuatnya patut masuk salah satu lagu pop terbaik Indonesia. Ini pulalah yang membuat saya menunggu Ariel dibebaskan, mengutuk orang-orang sialan yang sok moralis dengan mengkafirkan dia, dan secara tidak langsung, pro terhadap Ariel karena dia tidak bersalah; penyebar viedo-nya yang bersalah. Lagipula tanpa bokep Ariel masa SMP saya tidak akan berkesan: setiap hari membayangkan Cut Tari sebagai bahan fantasi dan akhirnya muncul video saat dia sedang main seks dan memamerkan lekuk tubuh sensitifnya; apapun itu, Peterpan, Ariel dan segala skandalnya adalah hal yang indah untuk dikenang.

Hari demi hari berlalu, Ariel akhirnya bebas. Kembali berkumpul bersama Peterpan yang belum ganti nama. Uki sudah makin brewokan, Reza semakin gemuk, Lukman semakin cacingan, dan muncul satu bocah yang kelihatannya jenius bernama David; kembali berkumpul bersama sang frontman. Menjalankan fitrah sebagai anak band, kembali lagi ke studio, menggodok materi-materi yang tertunda. Dan jadilah, nama baru mereka resmi memakai Noah, dan setelahnya album Ariel dkk dengan nama Noah dirilis dengan tajuk Seperti Seharusnya. Saya ingat betul waktu itu saya kelas 12 SMA. Mungkin menjelang akhir kelulusan. Single “Separuh Aku” dilepas dan benar, saya yakin-seyakin-yakinnya, Noah sudah bukan Peterpan dengan sound busuk itu lagi. Mereka berkontemplasi dan bertransformasi menjadi band berkualitas tinggi dengan sound mumpuni dan ya, apa yang saya tunggu akhirnya datang juga. Saya jatuh cinta dengan lagu mereka. Jujur saja waktu itu saya sedang banyak dikepung aliran hardcore, rock and roll dan sejenisnya. No time for menye, no time for pop. Tapi disaat Noah datang, itu semua tidak saya hiraukan. Satu hal yang saya catat adalah kedewasaan Noah ini tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran David. Give applause for him, dan karenanya “Separuh Aku” mempunyai melodi yang menggoda.

Album Seperti Seharusnya rilis juga via KFC, dan keluarga yang memang biasanya makan disana saat keluar kota kedapatan mendapat album gratis dari pembelian ayam. Tidak butuh waktu lama saya langsung menunjuk Noah, fuck you Judika, fuck you pop generic, fuck you all chicken musicians: saya hanya cinta Noah dan tentu saja akan memilihnya tanpa berpikir panjang. Album ini akhirnya menjadi album sehari-hari. Semacam playlist wajib yang pagi, sore, atau malam selalu saya dengarkan. Saya me-rip kasetnya sehingga bisa didengarkan lewat ponsel—apalagi pemutar musik yang lebih baik bagi generasi Z macam kami selain headset menancap di ponsel. Noah juga sempat menjadi backsound pernikahan kakak saya, Rina, yang waktu itu mengadakan acara satu hari dua malam. Di tengah gempuran campursarian orang tua yang membosankan, koplo yang memuakkan, dan pop-pop Betharia Sonata yang sudah seharusnya masuk tempat sampah, saya memboyong kaset Noah untuk kemudian diputar seantero kampung. Bayangkan apa yang terjadi: itu pukul tujuh malam, dan “Raja Negeriku” sebagai track pertama berkumandang. Lagu yang banyak meminjam pengaruh dari U2 dan Angels And Airwaves ini adalah track terkeras di album ini, juga paling distortif. Pidato Bung Karno yang meledak-ledak di pertengahan lagu adalah efek kejut bagi para veteran keluarga saya yang sedang merokok kretek: mereka mengingat kembali nasionalisme yang ternyata bisa juga dihempas oleh anak muda. Rina pun enjoy-enjoy saja saya putarkan Noah, begitupun orang-orang yang hadir kondangan. Soundtrack prasmanan nasigoreng dan rawon yang memacu testosteron! Meski kakek saya ngedumel terus karena menganggap lagunya terlalu ‘keras’; yeah, if it’s too loud you’re too old. Kakek memang sudah tua, bahkan untuk Noah sekalipun. Untung saya tidak putar Seringai.

Setelah “Raja Negeriku” yang ngeri, sound system nikahan Rina menampilkan lagu-lagu manis yang mulai track dua dan seterusnya, membuat perasaan terbawa dan suasana kondangan jadi romantis. Saya hanya duduk, mengamati operator di seberang sana menjalankan tugasnya dengan baik, sambil sesekali mencomot lemper dan lumpia. “Jika Engkau” mengalun, dengan opening gamelan jawa yang benar-benar diekspos sewaktu Noah konser. Sekali lagi kedewasaan terdengar; ini adalah pop dengan persenyawaan terbaik. Uki dan Lukman saling mengisi dengan sound gitar yang melankolis, plus suara Ariel yang tidak ada tangingannya. Lalu “Hidup Untukmu Mati Tanpamu” yang diciptakan Rian D’Masiv—dan untung saja tidak dinyanyikan band-nya—memulai lagi mengumbar pop rock yang walaupun tanpa gitar delay ala-ala The Edge seperti “Raja Negeriku,” tapi cukup menyentak saat memasuki refrain. Lagi-lagi kita bisa mengamati sound gitar berkelas yang ditampilkan Uki dan Lukman. Jangan pula lupakan isi-isian dari si jenius David. Peterpan naik jutaan tingkat lewat track ini.

Untuk track satu ini, saya pikir inilah lagu terbaik di Seperti Seharusnya. Sungguh subjektif, namun “Ini Cinta,” yang seperti bercerita tentang Ariel yang melakukan segalanya karena cinta dan bukan nafsu, sungguh tidak bisa saya enyahkan, atau saya dengarkan sekali-dua kali. “Ini Cinta” entah bagaimana selalu ada dalam playlist saya dimulai saat acara nikahan Rina. Salah satu lagu romantis terbaik yang pernah dinyanyikan musisi Indonesia. Lirik yang tidak terlalu puitis, ringan, sederhana, namun punya melodi yang membuat siapapun rela hanyut dalam pusaran. “Ini Cinta” tidak bertendensi menjadi megahits seperti “Separuh Aku” dan “Jika Engkau”, tapi dengan permainan David yang minimalis di lagu ini, sungguh lagu ini tidak boleh disepelekan. Termasuk underrated juga karena kalah dengan “Hidup Untukmu Mati Tanpamu” ataupun “Tak Lagi Sama”. Saya membayangkan saat mereka ngejam lagu ini, diiringi rintik hujan di luar studio, dan secangkir teh diletakkan diatas ampli: lagu penting kadang hadir begitu sederhana. Simak menit magis: 1:38, dimana David melempar sebuah alunan disambut kesenduan backing vokal tipis-tipis yang serasa diambil dari surga. Seterusnya terus begitu, David, backing vokal, Ariel, sampai saya yang sudah berkali-kali menemukan letak keindahannya tidak bosan-bosannya untuk terus mendengarkannya.

Track lain yang menurut saya haram dilewatkan adalah cover dari Chrisye, “Sendiri Lagi.” Entah bagaimana jika Ariel dkk, dalam Peterpan ataupun Noah, mengcover Chrisye, hasilnya selalu diatas rata-rata, menyamai kualitas lagu aslinya. Tapi untuk “Sendiri Lagi” versi Noah, saya kira mereka melampaui lagu aslinya. Ini adalah upaya David, yang menjadikannya begitu berkesan dan banyak warna—padahal aslinya hanya sewarna: sendu. Saya suka lagu pop dengan banyak isian manis seperti ini, dan tetap terdengar minimalis. Memasuki menit ke 3.00, saat itulah Noah dengan Uki, Lukman dan Reza hadir, mengiringi David dan Ariel. Memuncak sempurna, berhasil dan saya menunggu Noah mengcover lagu dari Chrisye lagi tanpa harus terdengar sepertinya.

Terakhir, “Puisi Adinda.” Lagu yang cukup lama saya lewatkan karena berada di track terakhir. Tapi nyatanya ini adalah harta karun, benar-benar harta karun. Suara denting piano beradu dengan suara malaikat di intro. Dengan durasi yang cukup singkat, dan vokal Ariel yang biasa saja dan tidak berusaha memberikan gaya terbaiknya: track paling menyentuh di Seperti Seharusnya. Dan seperti inilah seharusnya lagu pop Indonesia: mulai memasuki menit 1:50 ada bermacam isian yang seperti dipinjam dari langit. Track yang surgawi. Dan nyatanya, setelah sekian tahun menjadi playlist, Noah dengan Seperti Seharusnya belum pernah bisa hilang dari playlist saya: semua lagu di album ini penting, dan inilah pencapaian tertinggi Ariel dkk mulai dair awal karir mereka: dan bahkan ini adalah album terbaik mereka, baik dengan nama Peterpan atau Noah. Saya masih menunggu Noah membuat album penuh lagi, bukan album tak penting semacam Second Chance atau yang terbaru, Sings Legend: siapa yang ingin mendengar yang seperti itu. Buatlah yang seperti seharusnya. Meski kaset saya sudah raib diembat seseorang bernama Roni yang ternyata adalah adik ipar Rina: bajingan bertampang lebih cabul dari Andhika Kangen Band yang jika saya tanya mana kaset Noah, selalu menjawab sedang dibuat mainan anaknya dirumah.

Tapi meski begitu, Noah tetap abadi, dalam playlist dan dalam ingatan, seperti seharusnya.

Blink 182 – California: Memaknai Pop Punk Setelah DeLonge Hengkang


Sempat sinis dan berpendapat bahwa Blink 182 seharusnya bubar saja. Atau ganti nama. Atau segera reuni: Tidak ada yang pernah bisa menggantikan punkers futuristik bernama Tom DeLonge, dan bahkan walaupun dua personil yang tersisa mencoba mengkloning begundal-bedundal punk rock dari seluruh dataran Los Angeles sekalipun. Tapi nyatanya tidak. Blink hidup kembali. Tak ada ganti nama. Tak ada upaya reuni. Tak ada bubar. Tak ada kloningan DeLonge: yang ada hanyalah Mark Hoppus, Travis Barker, plus Matt Skiba dari Alkaline Trio sebagai kudahitam baru yang bermain lepas dan seolah menjadi The New Blink 182, merilis album penuh bertajuk sebuah kota penuh dosa di daratan Amerika: California.

Jutaan orang sudah jadi pendengar Blink sejak usia mereka masih belia: saat toilet jokes yang tidak lucu-lucu amat seringkali mereka tampilkan. Saat betapa cueknya mereka bugil, entah dalam videoklip atau sekedar foto. Saat seenak-udel mengubah kemarahan punk menjadi selucu dan seusil buang air di celana. Saat mereka menguasai MTV dan membuat industri hiburan melirik pop-punk sebagai sesuatu yang menjanjikan: ini era Blink dimana hits seperti All The Small Things, sampai Stay Together For The Kids menjadi langganan radio mainstream. Ini era Blink dimana lagu macam Miss You atau Always menjadi teman mereka yang sedang belajar berciuman lidah waktu ABG. Blink 182, tanpa disadari, adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi generasi muda yang akhirnya gemar bertopi terbalik dengan celana tiga-perempat dan memakai sneakers dengan kaus kaki tinggi-tinggi. Haram hukumnya pergi ke sekolah tanpa pakai items dari Macbeth. Efek yang sebegitunya.

Tapi pahlawan generasi itu tidak lagi tampak harmonis. Hubungan personil Blink tiba-tiba saja memanas. Merenggang. Makin kesini makin rumit. Proyek supergrup Angels And Airwaves milik Tom, dikatakan seperti punya pengaruh terhadap pertikaian ini. “Tom ingin membuat musik Blink seperti Angels And Airwaves,” ujar Mark di sebuah wawancara. Alhasil, Tom dipecat dari band, sementara Mark dan Travis terus berjalan, merekrut Matt Skiba dari Alkaline Trio. Berpuluh sesi jamming dan shift, dan akhirnya... muncullah California.

Ini bukan yang terbaik dari Blink 182. Dan tidak akan pernah bisa menyaingi album-abum Blink di era sebelumnya. Tapi juga tidak bisa dipandang remeh. Matt Skiba bukanlah Tom DeLonge dengan segala ciri khasnya, dan bagusnya dia sadar akan hal itu. Alhasil, Matt menjadi dirinya sendiri dan bermain tanpa tekanan. California sendiri masih mempertahankan benang merah Blink 182 yang dijaga oleh gaya vokal Mark dan permainan drum khas Travis: sementara Matt, memberi kesegaran dan nafas baru. Mungkin secara teknik juga tidak kalah dibanding Tom.

Dalam California, pembuka Cynical mungkin sedikit membosankan dan kurang ‘uh!’—sebagai pembuka yang biasaya diisi oleh lagu yang ‘grrr!’. Tapi track selanjutnya, Bored To Death memberi kesegaran baru: meskti tidak ada perubahan drastis, juga tidak terlalu berpatokan pada gaya lama. Semua normal saja meski harus diakui era pop punk selalu berada di titik sulit. Bila dibandingkan dengan Neighborhood sebagai album terakhir dengan Tom, California mempunyai lagu yang agak sedikit lebih pelan dan ‘sopan’. Tapi tidak mengapa toh keriput di wajah Mark Hoppus tidak bisa lagi berbohong: Blink 182 sudah menjadi bapak-bapak berumur. Simak Home Is Such A Lonely Place yang kontemplatif. Segarang apapun punkers di masamudanya, kegelisahan paruh baya tidak dapat ditutup-tutupi. Tapi lagu-lagu ala masamuda yang tak pernah berakhir pun masih terasa ugal-ugalan di Built This Pool dan Brohemian Rhapsody—sempat mengira ini cover Queen ternyata hanya lelucon. Beberapa track mengingatkan pada era Blink 2000-an seperti Left Alone yang menggabungkan awalan gula-gula di awal, dan jadi keras di intro. Tapi Rabbit Hole menampilkan bagaimana seharusnya pop-punk dimainkan: menghentak dan membuat cewek-cewek kegerahan. Satu hal yang dicatat—dan mungkin bisa diamati sendiri—adalah berkurangnya hook-hook cantik yang dilempar Travis yang biasanya gemar beratraksi dibalik drum set-nya. Ketukan-ketukan standar yang kebanyakan mengisi album ini, dan itu sepertinya bukan gaya dari jagoan kita.

Beruntungnya Blink 182 bukan tipe band dengan satu frontman yang menentukan arah band: selain Tom, mereka juga punya Mark. Jadi tidak terlalu aneh saat mereka merekam California tanpa Tom: Mark masih ada sebagai benang merah dan kita masih bisa merasakan hawa ‘Blink’ di dalamnya. Lain halnya misal Green Day ditinggal Billie Joe atau Rancid ditinggal Tim Armstrong; pastilah akan jadi aneh saat mereka album baru. Jelas tampak bahwa tiang penyangga utama Blink bukan hanya terletak pada Tom, tapi juga Mark. Bahkan Travis. Jadi sebenarnya Blink 182 dapat diibaratkan seperti sebuah segitiga yang untuk bisa tergambar sempurna harus diisi oleh Tom, Mark dan Travis. Tapi dengan Matt Skiba; mungkin masih berbentuk segitiga walaupun tidak lagi sama sisi.

versi edit bisa dibaca disini

Wednesday, June 15, 2016

Apa-Apa Yang Saya Konsumsi Akhir-Akhir Ini, Dan Bagaimana Itu Bisa Membuat Saya Sedikit Tersenyum Lega Sambil Bergumam Bahwa Hidup Tak Melulu Berisi Hal Buruk


Rolling Stone ‘40 Tahun Ramones + Lists 40 Album Punk Terbaik Sepanjang Masa’
Setelah edisi-edisi sebelumnya tidak cukup menarik untuk dibeli, Rolling Stone Indonesia akhirnya membuat saya membeli majalahnya lagi. Cover yang greget, lebih greget dari Isyana Sarasvati sebagai cover bulan lalu (walaupun saya akui foto Isyana paling cakep ada di cover RSI). Rolling Stone seperti menghormati Ramones dengan menampilkan ilustrasi cover Ramones karya John Varvatos tanpa diubah sedikitpun, berbeda dengan tradisi Rolling Stone yang selalu memproduksi cover ekslusif nan artistik. Tapi toh inilah semangat punk itu: orisinal dan tidak perlu banyak polesan. Cukup taruh logo Ramones berisi Joey, Johnny, Dee Dee, dan Tommy, dengan ornamen khas dan hanya nuansa hitam putih, jadilah cover ini membuat Rolling Stone berbahaya lagi. Isu yang diangkat adalah 40 tahun Ramones, berisi feature panjang tentang bagaimana Ramones, band yang akhirnya diakui Rolling Stone sebagai band punk pertama dan paling berpengaruh – dan bukannya Sex Pistols – menjalani hari-hari mereka sebagai band: di panggung dan di dunia nyata. Lists 40 album punk terbaik juga disabet Ramones dengan The Ramones sebagai urutan pertama, dan jika kalian menebak Nevermind The Bollock’s sebagai urutan dua, sama seperti saya, anda salah besar karena Sex Pistols berada di urutan ketiga. Urutan keduanya mungkin sudah tidak asing lagi tapi saya persilahkan kalian membaca sendiri. Satu album Green Day Dookie, muncul di urutan yang saya lupa, beberapa nomor setelah Nevermind dari Nirvana. Muncul di urutan hampir terakhir, Blink 182 dengan Enema Of The State. Menjadi punk memang sebegitu asyiknya.


National Geographic Indonesia ‘Ganja Apa Benar Bermanfaat?’
Uang lebih dan usil mengambilnya dari rak toko buku. Mencerahkan dan berhasil. Seperti yang kita duga, ganja ternyata punya banyak manfaat medis dan apabila dimanfaatkan secara benar, bukan hanya giting yang didapat tapi juga terapi kesehatan. Saya lupa di edisi berapa Natgeo berhasil membodohi saya untuk membeli isunya (kalau tidak salah tentang kebohongan pendaratan Neil Armstrong), saya pikir Natgeo menulis artikel tentang kebohongan itu, ternyata malah membantah. Saya pikir edisi ganja ini juga sama, bakalan membantah khasiat ganja, ternyata tidak. Saya jadi berkesimpulan bahwa Natgeo yang bagus adalah yang memancing rasa penasaran. Dengan cover yang bertanya-tanya: benar-atau-salah, iya-atau-tidak. Dan kita akan menerima mentah-mentah apa yang dikatakannya. Natgeo sudah tidak perlu diragukan lagi sebagai referensi ilmiah terpercaya.

Deafheaven – ‘Sunbather’ (Album)
Black metal lucu yang saya dengar bertahun silam adalah Hellgods dengan Kabut Keabadian (masuk kompilasi Metalik Klinik I tahun 1999), setelah itu tidak ada lagi. Nyaris saya tidak punya keterkaitan dengan genre ini, dibandingkan dengan hardcore, grindcore atau deathmetal dimana saya sudah cukup akrab semenjak jaman sekolah. Saya pikir black metal adalah musik yang cukup epik, berkecepatan satu hempasan cangkul ke kepala, lirik beraroma anyir darah kelelawar, filosofi main band penyembah syaithon, Anton Lavey, The Satanic Verse, dhemit, genderuwo, menjual jiwa pada iblis, Ghost Rider, dan bayangan-bayangan kelam lainnya. Tapi ini seperti didekonstruksi saat saya mendengarkan band super cult bernama Bvrtan dengan albumnya Pemuja Sawah Tebu. Kalian akan terpingkal sampai dasar sumur tatkala mendengar lagu dengan judul macam Ritual Menanam Singkong di Kebun Kegelapan, Cangkul Pusaka Dari Pak Kades, dan bukan karena iramanya yang seperti Teamlo, tapi ya memang lucu saja karena membahas sawah tebu dari perspektif yang ultra gelap, lebih gelap dari cerita-cerita pembantaian PKI di sawak tebu. Citra black metal yang ‘negatif’ tersebut nyatanya bisa berubah tatkala mendengarkan Deafheaven. Sebelumnya album metal yang terakhir saya dengar dengan intens adalah Profanatik dari Deadsquad, jujur saja, setelah itu vakum dan tidak intens mendengarkan metal lagi. Kadang memang masih berburu dan mendapat kiriman album dari band-band metal yang katanya bagus, tapi selalu saja, bosan. Begitu-begitu terus. Sampai akhirnya Deafheaven lewat Sunbather memberi saya harapan baru untuk mendengar metal. Perpaduan antara blackmetal, shoegaze dan post-rock, dimana saya kebetulan sedang mendalami dua musik terakhir, membuat blackmetal dari Deafheaven mudah diterima dan dicerna. Hebatnya lagi stigma miring tentang blackmetal hilang seketika. Blackmetal nyatanya cukup keren, apalagi vokalis Deafheaven begitu total dalam bersuara seperti iblis, dalam, menyayat dan mencekam. Gayanya juga tidak norak: pakai jubah hitam-hitam dan make up bak lucifer. Cukup biasa saja, kemeja, atau kaus dan fantofel. Dengan rambut yang tidak tipikal blackmetal yang gondrong menjuntai kuntilanak, tetapi biasa saja, pendek rapi. Apalagi dengan cover album yang berwarna pink, hhm. Saya pikir band ini akan terdengar seperti band so called hardcore yang sok-sok-an mengawinkan musiknya dengan pop, atau EDM, atau RnB dan jadinya malah lagu emo tai yang merusak telinga. Track pertama Dream House adalah kebrutalan yang bisa dibilang manis, saya menemukan kembali kenikmatan mendengar metal. Ada rasa-rasa beautiful chaos pada musiknya, membuat saya terpukau dan sanggup headbang dengan mata terpejam, sambil merasakan emosi kesedihan yang dipancarkan. Jika terlalu menghayati mungkin bisa saja sampai menitikkan air mata, walaupun ini blackmetal sekalipun. Track lainnya sila dengar sendiri. Rekomendasinya Irrestible, yang bisa dibilang warming up dan cukup kontemplatif, dan Sunbather (lagu) yang masih bagus sekali sebagai teman saat sendirian di kamar (saya merindukan variasi gitar semacam ini seperti di album BMTH saat masih diisi Jona Weinhofen). Rekomendasi lain yang penting dan fardhu ‘ain adalah Dream House yang direkam live di entah apa lupa namanya, dimana di video hitam putih tersebut terlihat seorang fans berat yang sepertinya seorang geek atau gamer, memakai kaca mata, dan bukan tipikal anak metal, tetapi bisa amat sangat menikmati Dream House seolah seperti kerasukan saat headbang sambil merapal lirik. Video lain yang dapat disaksikan di YouTube adalah Deafheaven yang bermain fullset di Pitchfork Musik Festival 2015 lalu. Versi live yang tak kalah hebat dengan album, termasuk suara vokal yang lebih kentara dan menggetarkan ulu hati.

Yusi Avianto Pareanom ‘Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi’
Fuck! Adakalanya kita muak terhadap novel-novel rekomendasi, yang justru setelah dibaca malah terlalu berat dan kita tidak paham cara untuk menikmatinya. Novel-novel bagus kebanyakan keluar dari jalur pemikiran orang-orang dengan patokan bahwa bagus itu harus begini-begitu. Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 (biasa disingkat Dilan 1 dan Dilan 2), adalah salah satu buku yang tidak memenuhi prasarat mahasiswa (atau dosen juga?) yang berkata bahwa karya sastra itu harus ‘sastra’, berat, feminis, antropologis, atau apalah itu, semuanya serba dikotak-kotakkan. Saya tidak memungkiri bahwa seluruh novel yang disuruh baca oleh dosen saya masih kalah jauh dibanding Dilan, entah karena masalah selera, saya yang bodoh, saya yang tidak nyastra, terserah. Intinya buku ini bagus luar dalam. Itu tahun lalu, dan tahun ini juga sama. Mungkin semuanya menggembor-gemborkan O karya Eka Kurniawan, yang jujur entah mengapa saya tidak tertarik membeli bukunya (atau belum tertarik), meski beberapa bukunya sudah go international. Pada saatnya saya akan baca, tapi untuk saat ini saya lebih suka membaca Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom. Novel nir pesan moral dan seperti mengobrak-abrik legenda yang sudah mapan ini tidak seberat yang kalian kira. Tapi juga tidak remeh-temeh. Intinya bisa dinikmati oleh kelas cupu macam saya. Banyak punch-line yang menyentil (seperti anjing menyantap tahi teman anjingnya atau hukuman mati yang unik dimana pesakitan dilempar telur sampai mampus), dan bahasanya yang tidak terlalu sopan seperti buku so called dongeng pada umumnya membuat buku ini amat sangat menarik. Bahwa mengumpat dalam novel ini adalah budaya juga (anjing, kutu busuk, tapir buntung, melegakan sekali untuk diucapkan). Novel yang sepertinya juga menggabungkan deskripsi ala penulisan food writer sehingga daging sapi, yang digambarkan dalam novel ini, bisa begitu membuat kalian tergiur dan ingin segera memesan tengkleng. Atau babi guling masakan keahlian si Loki Tua, yang dari awal hingga akhir cerita, selalu membuat penasaran seperti apa rasanya.

Seandainya Saya Wartawan Tempo
Mungkin saya tidak terlalu jago dalam menulis, hingga akhirnya butuh buku teknik menulis. Beberapa ebook dari AS Laksana kiriman Mas Faris JMC (jmcnation.blogspot.com) sudah saya baca seluruhnya (syuwun mas!). Dan sudah banyak bermanfaat mengubah mindset atau pandangan saya mengenai menulis, dalam hal ini karena AS Laksana sendiri sepertinya berkecimpung di dunia hypnotherapy. Juga teknik-teknik ringan yang bisa digunakan untuk pacu ide. Seandainya Saya Wartawan Tempo sendiri merupakan buku terbitan lama, dan tidak jauh beda dengan ebook AS Laksana, sama-sama teknis. Hanya saja AS Laksana untuk fiksi, sedangkan Tempo untuk nonfiksi. AS Laksana bicara mental dan mindset, Tempo lebih pada teknik menulis feature agar menarik. Cukup menarik membaca keduanya, dan kemudian menggabungkan ilmunya jika memungkinkan. Itu mungkin bisa diterapkan pada tulisan saya yang kebanyakan nonfiksi, sekaligus proyek buku fiksi saya.

#NARASI: Antologi Prosa Jurnalisme
#NARASI adalah proyek Pindai.org yang mengumpulkan karya-karya prosa jurnalisme dari beberapa penulis jempolan. Beberapa nama yang saya tahu seperti Yusi Avianto Pareanom, Raka Ibrahim, Nody Arizona dan Puthut EA juga turut menyumbang naskah prosa jurnalisme. Sebenarnya ini bukan genre baru dalam kepenulisan nonfiksi: karya jurnalistik dengan unsur sastra di dalamnya. Penjelasan simpelnya adalah kita membaca sebuah cerpen atau novellette, tetapi kisah di dalamnya benar-benar terjadi tanpa tambahan bumbu penyedap apapun, real, tidak dibuat-buat dan tidak ngarang. Antologi macam begini sebelumnya pernah dibuat oleh Pantau berjudul Jurnalisme Sastrawi, dimana jurnalis kenamaan seperti Andreas Harsono – yang juga berkontribusi dalam #NARASI – mengajak penulis-penulis nonfiksi untuk mengembangkan genre ini. Di kampus, gaya tulisan macam begini masih belum banyak orang yang tahu. Dua dosen yang saya tanyai tentang genre ini masih kebingungan: apakah ada? Memang jurnalistik dan sastra seperti saling bertolak belakang karena satu nonfiksi sementara satunya fiksi. Tetapi jika dipadukan akan menghasilkan tulisan bagus dengan panjang kira-kira sampai 15.000 kata. Tulisan terpanjang saya tidak pernah sampai puluhan ribu karakter; mentok 5000 itu juga sudah syukur-syukur. Bagi kalian yang tertarik dengan genre ini mungkin kita bisa berdiskusi.

Musik Terbaik 2015

Hidup di Surabaya dengan ritme kejamnya membuat saya terkadang rentan emosi. Panik berkepanjangan, gugup, gelisah, paranoid dan gejala jiwa lainnya. Apalagi kerjaan yang menumpuk, deadline yang memuakkan dan tugas kuliah yang seperti tak pernah berhenti. Ini adalah tahun yang mengesalkan. Kuliah sudah sampai puncaknya dan itu berarti beban tugas juga makin di luar nalar. Begitu pula pekerjaan yang sesantai-santainya tetap menyisakan banyak kebuntuan dan ceceran deadline. Amit-amit bisa vakansi, selonjoran dengan tenang saja susahnya minta ampun. Tapi saya tidak pernah terlalu khawatir. Pemutar musik selalu menjadi jawabannya. Membuat saya bisa lupa ocehan dosen, tekanan editor, dan hal-hal lain yang melelahkan. Di kondisi malam hari saat suntuk sudah di ambang batas, tidak ada salahnya meninggikan volume sound system, menyalakan album-album terbaik yang rilis di 2015 ini, sembari makin mempercayai satu hal: bahwa ternyata musiklah yang membuat semua orang bisa bertahan di dunia yang semakin riuh—sekaligus menikmati perihnya.

Sigmun – Crimson Eyes
Orange Cliff Record, 2015
Mengenal band ini sejak pertama kemunculannya di 2011. Kuartet asal Bandung ini telah merilis sebuah Demo berisi empat lagu—sebagai teman malam kelam saya yang penuh kegalauan. Tak lama mereka merilis Cerebro, batu meteorit dari cincin Saturnus dalam wujud piringan hitam. Kental pengaruh stoner yang berat: merokok dengan asapnya yang ditelan semua. Nyegrak. Seperti Marlboro merah. Tapi yang terbaik mereka luncurkan tahun ini. Debut Crimson Eyes adalah Led Zeppelin dengan hawa Black Sabbath, ataukah kegelapan Ozzy Ousborne dipadukan kegilaan Pink Floyd. Surealisme era Syd Barret, Jimmy Page, atau apapun itu patokan mereka. Sigmun tetaplah Sigmun yang dingin, mencekam, sekaligus transenden. Persetan dengan metal, inilah blues, tapi blues yang stoner, stoner yang heavy, ah apalah itu. Tapi memang ini adalah musik yang berhubungan langsung dengan kejiwaan, seperti halnya asal-usul nama mereka: Sigmund Freud.

Stars & Rabbit – Constellation
Green Island Music, 2015
Berhentilah mendengar Ungu. Sudahlah. Band norak. Atau kalian merasa selera musik kalian bagus hanya karena hapal lirik Isyana Sarasvati. Ataukah lagu-lagu noir lawas milik Nike Ardila. Berhentilah jadi kurator musik kampung yang gemar nyetel lagu keras-keras via gawai. Ataukah hanya berharap pujian dari suara berisik yang kalian banggakan. Cuih. Jika kalian tidak kenal band ini maka itu berarti dua atau tiga tahun lagi selera musik kalian masih sama buruknya. Stars and Rabbit adalah keajaiban yang benar-benar nyata di alam raya. Bagaimana bagusnya vokal Elda, menghubungkan kalian langsung ke pusat alam semesta (“You Were The Universe”), ataukah ternyata musik pop folk tidak melulu palsu dan generik (“Man Upon The Hill”) yang membuat kebiasaan menuang teh panas di sore hari menjadi sebuah perjalanan dengan bintang dan bulan dalam genggaman. Constellation adalah salah satu yang terbaik tahun ini. Saya tidak suka Raisa.

Silampukau – Dosa, Kota, & Kenangan
Moso’iki Records, 2015
Berkuliah di Surabaya bisa berarti menjalani ritme kotanya yang cepat. Lalu-lalang. Bus kota. Angkot seenaknya. Suara-suara mesin dan umpatan. Tetapi bagaimana bila semuanya tersebut dinyanyikan dengan jujur, hanya dengan gitar bolong dan sedikit bebunyian ekletik? Tanyakan pada Silampukau dan kalian seharusnya sudah mendengarkan album penuhnya. Bahkan Felix Dass-pun terus-terusan memuji mereka: Kharis Junandharu dan Eki Trisnowening, sebagai penggerak baru skena Surabaya yang telah lama pingsan. Kita akan diajak menuju Dolly, menenggak bergelas-gelas bir dalam kafir, ataukah menuju kemacetan Ahmad Yani yang beringas di 17.15. Atau bagaimana kegilsahan arek-arek indie yang takut norak seperti Ahmad Dhani. Mereka seperti melucu, tapi humor tidak segetir ini. Dan lagipula bila hidup memang keras, apa salahnya menjual miras?—sekali lagi hanya Silampukau-lah yang dapat menyanyikan semua itu dalam sebentuk Dosa, Kota, dan Kenangan.

*Dimuat juga di IMAJI MAGZ first issues (ever)

tentang IMAJI MAGZ:
sebenarya ini majalah yang disuruh bikin buat tugas jurnalistik. ribet, anak-anak dari awal sudah sepakat untuk menyewa jasa layouter dari anak design grafis, tiba-tiba saja dibatalkan karena harga jasa yang rada mahal. saya sih setuju-setuju saja, memang jasa layouter itu sulit, jadinya wajar sih rada mahal. tapi anak-anak sudah sepakat akan bikin layout sendiri--saya sih oke-oke saja. ternyata malamnya saya dihubungi bahwa mereka tidak bisa bikin layoutnya, sulit katanya. saya jadi bingung. sudah membatalkan menyewa jasa anak design pula. akhirnya dengan tekad dan nekat, saya bilang ke anak-anak akan menghandle seluruh layout majalah sendirian. dua malam tidak tidur, dan butuh bergelas-gelas minuman berenergi, jadilah majalah IMAJI dan mendapat nilai A-. Cover dan beberapa bagian ditambahi oleh anak-anak, dan ini adalah proyek kedua saya sebagai pemimpin redaksi--setelah proyek surabaya footnote magazine diundur perilisannya (yang entah saya masih dicantumkan sebagai pemred atau tidak karena sibuk sekali dan tidak sempat kongkow bersama tim subfootnote). Mungkin IMAJI akan saya jadikan file pdf. dan bisa kalian unduhbebas disini.

Tuesday, May 10, 2016

Tentang Proses Awal Buku Fiksi Kami

Bukan fiksi yang mempertemukan kami. Saya dan Tri Nanang lebih dulu disatukan saat pentas drama musikal di acara penutupan ospek fakultas 2013 lalu. Kami tidak sekelompok dan hanya kenal beberapa hari untuk kemudian bisa menggarap drama musikal bertema sosial politik yang saya ingat betul, menggunakan lagu “Bongkar” sebagai backsound-nya. Tahun-tahun berlalu. Tri Nanang masih menekuni dunia drama dan aktif di unit teater kampus. Kabar terbaru adalah dia memenangi lomba penulisan naskah tingkat nasional. Sementara saya, masih begini-begini saja: menulis ceracau di blog, terobsesi pada musik, dan selalu ingin membuat zine sendiri. Kami sama-sama berasal dari dua dunia yang berbeda—mungkin kalimat barusan amat klise, sampah dan norak sekali, lebay dan sudah sepantasnya dihapuskan dari sistem perkalimatan di bumi ini. Tetapi memang seperti itulah kami.

Awalnya kami yang seringkali berdiskusi di warung kopi tentang teologi dan pertanyaan-pertanyaan apakah-tuhan-ada dan semacamnya hingga akhirnya menghasilkan ide juga untuk mendokumentasikan karya—yang saking sumpeknya di awal-awal bahkan sempat terbersit konsep kumpulan karya yang ‘mencaci tuhan’. Tak lama kemudian lahirlah zine fiksi perdana—dengan tambahan kontribusi dari penyair Twitter Habib Syafaat alias Bob. Tetapi kami masih belum merasa puas. Ada rasa yang belum tertuntaskan—rasanya seperti katakanlah mimpi basah yang terpaksa harus terhenti karena alarm sialan yang diletakkan di pinggir kasur buru-buru berbunyi. Atau untuk perumpaan yang lebih brengsek—saya lebih suka yang ini—adalah di detik-detik terakhir dimana kalian sudah merasa berdenyut dan akan semburat, tiba-tiba saja pacar gadis yang kalian tiduri membuka pintu dan langsung melampiaskan kekesalannya dengan mendorong kalian ke jendela hingga memecahkan kaca dan tahu-tahu kalian sudah berada di rumah sakit dikelilingi polisi dengan orgasme yang belum tuntas (sungguh sebuah perumpamaan yang bagus). Dan didasari ketidakpuasan itu, terbitlah ide—yang sesungguhnya saya ragu brilian atau tidak—untuk membikin buku. Ide ini tentu saja juga akibat pengaruh dari kakak-kakak tingkat, sebut saja Mas Hasan alias Simon yang sudah menerbitkan novel berjudul I’m Israel But I Love Falastine (sebuah epik perang Israel-Palestina yang mengharu-biru dan bisa didapatkan di penerbit indie NulisBuku atau bisa juga hubungi saya sebagai makelar kodok), dimana Mas Hasan mendorong saya untuk bikin buku juga demi mematahkan sarkasmenya bahwa ‘masak anak sastra tidak ada yang bikin buku,’ dan kemudian Mas Alan Maulana, yang saya ingat betul, di malam yang cerah itu menjemput dan kemudian mentraktir saya minum kopi dan sepiring nasi goreng untuk membahas rencana bikin buku.

Puji tuhan akhirnya ilham itu datang juga sekitar 52 jam setelah tahun baru, dimana saya merasa blog, zine dan webzine yang menampung karya saya sudah harus ditingkatkan lagi ke level yang lebih tinggi: level para penulis tentu saja, yakni mempunyai sebuah buku. Tapi saya yakin-seyakin-yakinnya bahwa penggelisah medioker macam saya belum punya kapasitas apapun untuk bikin buku—apalagi fiksi, dimana mungkin saya akan dicecar dan dicaci-maki banyak orang—dan untuk alasan itulah saya tanpa sengaja—dan ini mungkin murni dorongan impulsif—menghubungi Tri Nanang, berbicara tentang ide ini, dan akhirnya kami sepakat untuk membikin buku kumpulan cerpen.

Dan perjuangan kami—sebenarnya tidak berjuang-berjuang amat karena penulisan cerpen ini dilakukan di waktu luang saat kami sama-sama tidak sibuk dengan kegiatan di luar dan kuliah, juga oh ya jangan lupa, menunggu mood menulis saya yang sedikit manja dan tak bisa ditekan—ini menghasilkan kira-kira dua cerpen sampai saat ini. Dua cerpen! Luar biasa! Saya mengapresiasi diri saya sendiri meski cerpen yang saya bikin itu dicaci-maki Tri Nanang sebagai tai, sampah peradaban dan klise masa kini dimana adiknya saja juga bisa jika bikin yang murahan sendal jepit kayak begini. Sementara itu cerpen karya Tri Nanang sendiri juga membuat saya sebagai penikmat sekaligus pembaca awam harus berpikir panjang dan berpusing ria lagi karena filosofinya yang njelimet minta ampun dan kadang terlalu dalam sampai-sampai saya hampir meyakini bahwa patokannya dalam membuat cerpen adalah Zarathustra-nya Nietzsche, tetapi sudah kabur terlebih dulu karena ketidakmampuan pembaca menangkap etika dan estetikanya. Mungkin akan sedikit lebih bisa dicerna bila tidak terjebak pada gaya penulisan ala kitab suci.

Itu yang mungkin dinamakan proses. Sebuah proses awal dari pembuatan buku—yang membuat saya agak meragukan apa buku antologi cerpen kami bisa terbit—yang mungkin dengan proses ini bisa muncul karya yang tidak tai dan terlalu langit alias bagus dan berkesan bagi pembaca. Proses ini bisa saja panjang dan melelahkan. Tapi tidak mengapa. Pelan-pelan, dan sambil mengendapkan cerita atau konsep yang kita punya dengan Djarum Coklat, kopi pekat, dan pukul satu dini hari yang berujung curhat. Mungkin buku ini akan meluncur secepatnya, mungkin pula tidak. Mungkin akan menjadi buku seperti harapan kita semua—dalam konteks ini saya dan Tri dan bukan kalian karena saya ragu kalian punya harapan terhadap kami—ataukah tidak. Segalanya sudah tidak penting dan tidak terlalu kami pusingkan karena seperti yang saya rasakan, proses ini sungguh nikmat.

Mbah Nobeng dan amunisinya. Mencaci-maki cerpen sampai lubang dubur terdalam!
Dan pertanyaan yang sama akan saya ajukan lagi kepada kalian, mahasiswa sastra, penggemar fiksi, ataukah penulis partikelir Tumblr:

Sudikah kalian membikin buku sekarang?

Tuesday, March 29, 2016

Cerita Pulang Kampung yang Kampungan


Apa daya, masih ada kuliah hingga siang. Si dosen yang mengincar saya; mengincar cowok-cowok di kelas yang jumlahnya hanya tiga untuk unjuk diri dan “nggak hanya numpang duduk saja disini.” Sialan. Kami penghuni tetap bangku belakang. Pun jarang memperhatikan. Serba ruwet. Apa itu semantis fisiologis atau blah-blah-blah lah itu. Kami belum paham. Bukan tidak paham, tapi belum. Be-lum. Andai saja kami belajar di malam hari. Bukan sibuk download film Ganool di Warkop Arjuna, tentu kami bisa ngerti. Atau andai saja dosen ini seenak Pak Najid, atau Pak Anas misalnya, tentu saya akan mudeng dan manggut-manggut. Sayangnya ada jarak. Ya, selalu ada jarak antara bahasa dan sastra. sastra dan bahasa. Kenapa dibikin berjarak sih. Kesannya musuhan. Padahal aslinya nyambung erat. Siapa yang salah? Ah sudahlah. Penting selesaikan ini dulu. Selesaikan kecurigaan dosen bermata empat ini. Tatap balik matanya. Manggut-manggut lihat papan tulis. Perhatikan ujaran temanmu. Berusaha tidak diremehkan. Itu saja. Walau, duh, cemas juga karena minggu depan giliran saya presentasi. Sudah diincar. “Kapan cowok-cowok ini presentasi, kok pada diam saja!” ujar beliau. Anjing. Lihat saja minggu depan.

Kuliah siang hari membuat saya tak bisa pulang cepat. Pulang kemana? Pulang kampung. Tiap hari pulang ke kost tidak berefek baik bagi kondisi psikologis. Apalagi letaknya di Surabaya. Uh, tak bisa berkata-kata lagi. “Suroboyo panase  ora umum, fak, aku keringeten pol gobyos!” Ganyong, sahabat saya berkata begitu kemarin hari. Dia tak bawa motor. Kuliah jalan. Sebenarnya kasihan. Jalan pukul dua belas siang. PHP dosen. Janji datang ternyata tidak. Di jadwal ada ternyata alpa. Apa mau dikata. Ia kudu balik kos siang-siang. “Mateng dikau! Mampus kau dikoyak panas Suroboyo!” saya hanya bisa berkata itu. Saya yang motoran saja masih sering kebakar sendiri. Rojak si kacong Madura pun—teman sekelas saya—memakai helm dengan tutup kaca hitam, sarung tangan, dan jaket tebal ala Go-Jek. Padahal, jarak kost-nya dan kampus hanya seupil. Mungkin tiap orang punya mekanisme pertahanan dirinya masing-masing. Kecuali bila alasannya takut kulit jadi hitam. Itu berarti kamu plastik. Terlalu banyak dibodohi Ponds White dan Vaseline.

Dan karena kuliah hingga siang. Sekitar pukul satu baru kelar. Maka saya cukup sabar. Ndilalah dosen ada rapat. Jadi selesai pukul dua belas. Ini baru keberuntungan. Tak pakai banyak cincong. Langsung kebut kost. Cari makan. Belum makan sedari pagi. Oh mungkin sudah Indomie kuah pas ngopi tadi. Blangsak. Bisa gendut. Tapi tak apa. Energi. Saya makan bersama Nita Anda. Dia mantan pacar saya. Tapi masih sering keluar bareng. Atau mungkin bisa balik, atau tidak. Atau sahabatan saja. Enaknya apa, terserah. Kita maunya dijalanin saja. Daripada tiap hari ricuh melulu, tak ada bagus-bagusnya buat kejiwaan. Di warung nasi saya ingin ngobrol hal-hal yang pribadi. Sayangnya ada teman saya di warung yang sama. Hm sudah, kalau saya tulis disini takutnya ada yang baca. Saya jadi dicincang di kelas. Jadi anggaplah semua orang—di dalam kelas—itu baik-baik saja. I love them very much! Seriously!

Akhirnya setelah makan, saya dan Nita terpaksa muter dulu ke danau. Kampus saya punya danau. Walau danaunya goblok karena masih banjir bandang juga kemarin. Ngobrol sebentar, ya sekitar sepuluh menit. Saya balik kost, langsung cus kampung halaman. Panas yang keparat. Kesalahan menaruh motor di tempat yang tak rindang. Sialan. Lagi tak memakai celana dalam pula. Anjing. Pantat saya terasa digoreng. Sensasi anal tanpa dildo. Teknik anal laser untuk sadomasokis. Apalah itu, tapi mungkin seperti ini rasanya. Otak kebanyakan bokep. Dasar. Langsung saja tancap gas. Pukul satu kurang sepuluh.  Dan hidup saya terpaku di motor sekarang.

Saya menuju Pasuruan. Oh bukan, rumah saya bukan disitu. Bukan di Kota Pasuruan yang penuh dengan orang-orang ehm—ya begitulah. Juga bukan Bangil. Hey mati saja kau yang mengidentikkan Pasuruan dengan Kota Pasuruan atau Kota Bangil.  Pasuruan saya beda. Beda jauh. Kamu melintasi Jalan Surabaya – Malang. Rumahku terletak di tengah-tengahnya.  Jadi begini skemanya: Surabaya – Rumahku – Malang. Begitulah jalurnya. Camkan. Kubunuh kau bila masih nanya-nanya dan berlagak ndeso. Tipikal orang kepo sotoy. Saya perjelas. Biar saya tak hanya menyalahkan kalian. Rumah saya terletak di Tretes, oh bukan, Prigen. Eh, Tretes juga bisa sih. Fuck. Kalian bingung kan. Ini adalah ambiguitas sepanjang zaman. Tretes itu nama desa. Tapi gaungnya di dunia seperti sudah seolah nama kota saja. Enggak bego. Tretes itu desa. Nah, Prigen itu kecamatannya. Jadi Tretes itu termasuk Kecamatan Prigen. Jadi, Prigen itu juga desa. Tuh kan kalian jadi bingung lagi. Memang saya sukanya kalian bingung. Jadi kalian mikir. Dan membenturkan kepala ke tembok. Terus menari perut. Dan masturbasi. Saya hafal siklus otak kalian. Nah, ambuguitas itu memang banyak bertebaran dimana-mana. Saya ingin sekali menjelaskannya secara detail pada kalian—jujur, sumpah demi paduka raja. Tapi itu bisa kapan-kapan saja. Karena rumah saya berada di daerah Pandaan. Tuh kan, kalian akan bingung lagi. Daripada ruwet, mending menyamaratakan daerah tapal kuda itu sebagai Pandaan saja. Damn.

Saya menuju Pandaan. Sudah,  jangan bingung. Kalian sudah hafal dengan nama daerah ini. Sialan, belum pernah ke Malang dari Surabaya? Atau ke Surabaya dari Malang? Atau belum pernah kena lempar batu saat Persebaya kalah melawan Arema, atau dihadang orang di tengah jalan saat Arema kalah melawan Persebaya? Jika sudah berarti Pandaan sudah ada dalam sejarah hidup kalian. Kota ini tak seberapa besar, hanya saja jika mengidentikkan Pandaan dengan Pasuruan mungkin terlalu buru-buru. Beda kultur. Kami sama tapi beda. Dan kenapa tak dinamai saja dulu Kabupaten Pandaan dengan ibu kota Kota Pandaan. Ayolah. Tapi sama saja ngobrol dengan tembok. Perjalanan dari Surabaya menuju Pandaan kira-kira memakan waktu satu setengah jam. Atau hanya satu jam jika kau mulai perjalanan sewaktu subuh atau pukul setengah satu dinihari—resiko begal tanggung sendiri. Dan dari Surabaya pukul satu siang, kita akan sampai paling cepat pukul dua. Setengah tiga, itu jika kalian menghadapi truk busuk sialan yang ngadat sembarangan. Jalan  jadi macet. Atau mobil-mobil sombong yang serampangan nerobos jalur. Asu. Ludahi saja kacanya jika menjumpai yang seperti itu. Tapi kalian harus punya jurus kabur yang baik. Tambah jurus balap motorcross untuk menghadapi kejar-kejaran dengan dia. Atau hafalkan jalur alternatif. Dan nyasarlah ke Probolinggo.

Memulai perjalanan pukul satu siang adalah ide bagus yang terburuk. Ide buruk yang terbagus. Kita bisa cepat sampai rumah. Belum sore. Dan masih ada kesempatan mbangkong. Nyantai. Menghabiskan isi kulkas. Tiduran di kamar sambil telanjang. Seenaknya di depan TV. Tak masalah. Surga adalah rumah. Tak ada lagi, tentu.  Pulang awal berarti mengurangi beban. Sampai di rumah lebih awal berarti waktu istirahat akan jadi lebih panjang. Tapi buruknya adalah suhu. Ya, brengsek. Suhu jalanan yang pelan-pelan membuat kulit melepuh. Mengering. Keemasan jadi kecoklatan. Lembab jadi kering. Tapi karena kita adalah golongan orang-orang django yang jantan, itu tak pernah jadi masalah besar. Permasalahannya adalah pakaian yang saya kenakan, rangkap tiga. Pertama kaus. Walaupun cotton 30s, tapi panas tetaplah panas. Meski saya akui kemampuan menyerap keringatnya lebih elegan dibanding kaus pasaran yang kaku dan hm, agak sedikit gatal—padaha habis mandi. Kedua, kemeja. Ini kemeja klasik pemberian tante. Sudah agak lama. Tapi tetap nyaman. Dan cukup keren. Masalahnya, jika kau rangkap, keringat dari kaus akan menguap kembali ke kemejamu. Dan jadi agak kecut. Rangkap ketiga: jaket. Tak perlu banyak dijelaskan. Inilah penyebab adanya neraka. tapi tanpa jaket, kulitmu bisa iritasi, dan tak nyaman juga karena dadamu akan sesak terkena angin dari perjalanan jauh—dan saya tak mau ambil risiko.

Kata siapa perjalanan naik motor itu semriwing, adem, terkena angin sepoi jalanan. Itu Bandung bung yang kau maksud. Atau Bogor. Atau Malang. Tapi hentikan asumsi macam begitu lagi karena ini Surabaya. Selanjutnya Sidoarjo. Hm mau bicara apa lagi. Semakin kau memacu motor, semakin panas rasa aspal. Sial. Atau helm yang menguap. Jaket yang mengering. Dan jika kamu menaruh panci berisi air di atas helm, dengan telur mentah di dalamnya, mungkin ia sudah matang saat kamu sampai, dan kamu bisa memakannya. Telur jalanan. Dan jalanan. Sungguh, kita mau membahas jalanan? Ayolah.  Jika kamu diberi pertanyaan apa-apa saja yang menyebalkan di jalanan, kalian mungkin akan kehabisan napas jika menjawab semuanya. Ini bukan berlebihan. Tapi ironi. Jalanan ramai pukul satu siang saat matahari mengganas? Tanyakan pada Alfamart. Dan dia akan mengobati suntukmu.

Pilihan saya melipir sebentar ke Indomaret, maaf, maksud saya Alfamart adalah pilihan yang cukup bijak. Otak saya masih jalan untuk sejenak beristirahat dari aktivitas neraka dan meneduhkan badan dari gerah. Saya mampir di Alfamart besar di SPBU Jenggolo. Kalian tahu jembatan layang Sidoarjo. Persis beberapa meter setelahnya ada sebuah surga dengan label Pertamina. Saya sampai hafal kasirnya. Ia dulu seksi. Manis juga. Dadanya, ehm. Tapi entah kenapa karena baju kekecilan atau insiden beberapa malam sebelumnya, perutnya jadi kelihatan membuncit. Tapi daripada ribut-ribut masalah seks disini, mending menuju ke kulkas pendingin dan wow, saya sudah tak butuh apa-apa lagi selain ini. Tentu sebagai garis keras softdrink saya langsung mengenyahkan pandangan dari Big Cola rasa melon. Atau jeruk—sama anehnya. Pilihan Bear Brand—sebagai satu-satunya susu steril terserius menurut saya—cukup masuk akal juga mengingat kondisi badan sedang flu, batuk dan menurut mitos kalsium susu bisa memulihkannya. Tebs. Hm. Ini susah sekali dilawan. Bukan Tebs Maroon. Itu buruk. Ambil Tebs original saja, tujuh atau delapan ribu rupiah, dan dengan kurang dari sepuluh ribuan kamu bisa duduk sejenak dan dimanja soda. Tapi mata rupanya membimbing hal lain. Hal yang menjadi favorit saat memilih minuman di kulkas minimarket. Benar, lemon. Big Cola Fress saya akui mampu memberikan sensasi itu, dan bahkan mengalahkan Sprite!  Tapi saya sedang melihat Radler. Produk dari Bintang yang menyala terang di depan mata. Tidak ada pilihan lagi. Comot, lihat mbak kasir, sedikit membelalak, lalu bayar.

Bintang Radler adalah bir dan lemon. Tapi ini Alfamart. Dan peraturan masih milik Rahmat Gobel—meski tolol itu sudah lengser. Jadi peraturan nol alkohol tetap berlaku. Jika kalian sempat melihat Bintang Zero, maka ini adalah Bintang Radler 0.0%. Sama-sama menggelikan. Harganya setengah dari harga yang beralkohol. Lain lagi jika beli di pengecer. Botol literan hanya menghabiskan kurang dari lima puluh ribu. Tapi tak mengapa. Tak menyesal meski tiga belas ribu. Buka kaleng, dan sesap lemonnya. Segar. Ada rasa malt ala Bintang di dalamnya. Dan cukup unik. Nagih untuk diteguk lagi-dan-lagi. Kerongkongan sudah menemukan pemuasnya. Menyentuh kaleng, tangan kalian akan merasakan dingin dari Radler tersebut. Sensasi apa lagi yang akan timbul. Selain malt Bintang yang dikenal punya banyak buih bak soda, juga lemon asam segar yang seperti membuat otakmu bekerja lebih pelan, lebih santai, dan lebih dingin. Cobalah. Toh 0.0% alkohol. Jika ingin yang lebih, silakan berburu sendiri lain waktu—dan ingat ungkapan don’t drink and drive.

Rasa-rasanya memang begitu. Dengan beristirahat, psikologis kita merasakan bahwa perjalanan kita jadi cepat. Tahu-tahu sudah sampai Porong. Dan betul, sebentar lagi lumpur gulita. Hei kita sudah bisa main bola diatasnya. Atau mendirikan rumah baru dari pondasi lumpur. Ulah Bakrie. Lapindo sudah seharusnya dibubarkan. Atau diboikot. Atau gantung semua korporat uang disana. Rendam kepalanya ke lumpur. Jangan kambing. Jangan sapi. Tapi Bakr... ah sudahlah. Daripada tulisan ini kena sensor. Atau saya yang dipenjara. Atau dibully netizen jika nyebar. Tapi blog kecil jelek gini mah siapa yang baca. Kecuali kalian-kalian saja tentu saja. Dan setelah menopang tubuh beberapa jauhnya, saya sampai di Arteri. Ini adalah pintu utama menuju kampung halaman. Sudah dekat saja rasanya, padahal masih jauh.

Dan... itulah perjalanan pulang kampung saya yang kampungan. Ini, saya sedang bersama adik-adik kecil. Ada Abi dan Lia. Dia dua jagoan saya. Yang satu kelas tiga SD. Yang satu belum sekolah. Ada kegembiraan tersendiri sih saat kedua bocah yang beratnya makin hari makin ‘antep’ ini menaiki tubuh saya dan tidur seenaknya di atasnya. Dua-duanya. Sekaligus. Ugh, berat. Hm tapi, lebih berat perjalanan tadi tentu saja. Ya, nggak?

Sunday, January 3, 2016

Karena 2016 Kemungkinan Besar Adalah Milik Anda

Kebodohan pertama di 2016 adalah bangun siang dan menyadari bahwa pesta kembang api semalam sudah usai. Kebodohan berlanjut karena anda akan kembali merapatkan selimut meski jam di ponsel keparat anda menunjukkan angka 8.30. Tetapi persetan, 30 menit kemudian anda akan bangun. Mendapat sedikit geleng-geleng kepala dari ibunda tercinta—oh anakku segeralah mandi ataukah sarapan, ini hari sudah siang dan dikau baru bangun—dan anda belum juga sepenuhnya sadar sampai segelas susu coklat panas (fuck you Hilo love you Milo) mendarat di mulut anda. Melumerkan sisa-sisa bakteri di mulut, hasil fermentasi pembusukan dari indomie iga penyetan dan ayam bakar-bakaran kemarin malam. Dan 2016 resmi dimulai di pukul 9.30—seusai anda onani dan mandi. Kemudian anda akan mengambil nasi goreng dan telur ceplok di meja makan, mengunyahnya pelan dengan kerupuk udang oleh-oleh dari nenek anda. Nasi goreng anda akan sedikit terasa keasinan—karena ibunda tercinta tergopoh-gopoh memasaknya, sudah terlalu lelah karena di malam tahun baru ia masih menikmati liburan di Banyuwangi, dan baru sampai rumah beberapa jam lalu. Ibunda tercinta sudah tertidur karena kelelahan. Dan ayahanda yang biasanya menemani anda makan di depan televisi juga sudah balik bekerja—meski malam tahun baru kemarin juga lembur karena tamu hotel sedang ramai-ramainya; risiko orang yang kerja di bidang pariwisata. Yang tersisa hanyalah adik anda, yang ternyata sudah hilang entah kemana. Warnet game online tidak pernah libur bahkan saat tanggal merah. Tibalah saatnya anda sarapan sendirian, dan untungnya ada Warkop DKI yang disiarkan televisi swasta—meski mungkin sudah ribuan kali diputar—dan anda bisa terbahak-bahak sendiri meski sudah hafal semua adegannya. Penyesalan pertama di 2016 terjadi. Mengapa anda belum menemukan jawaban siapakah yang lebih lucu: Dono, Kasino, atau Indro, karena ketiganya pernah membuat anda tertawa. Jika ada mitos yang berkata bahwa pelawak yang mati duluan adalah yang paling lucu, maka Kasino-lah pemenangnya. Tetapi Dono-pun lucu. Indro juga. Perdebatan yang tak pernah usai ini membawa anda pada penyesalan kedua di 2016: mengapa dulu tak mencomot buku Warkop: Main-main Jadi Bukan Main saat mampir di Gramedia. Buku yang anda anggap main-main itu ternyata bagus nian isinya. Dan anda masih sering menyesal karena Gramedia yang anda kunjungi malah makin banyak memajang lego Avengers—dan bukannya buku-buku bagus terbitan agak lama. Tapi penyesalan itu lenyap tanpa perlu lama-lama saat anda menyendokkan nasi goreng bersama potongan telur ke mulut anda. Jangan lupa, anda juga telah menambahkan saus tomat sebagai penawar keasinan. Alhasil, itu adalah nasi pertama yang masuk perut anda di 2016. Dan baiklah, akui saja. Anda belum benar-benar mandi. 7 menit di kamar mandi anda tidak menggosokkan sabun dan kemudian mengguyurkan air seperti mandi konvensional pada umumnya. Semua orang malas mandi di hari libur, tentu anda juga. Dan dari 7 menit itu 6 menit anda gunakan di closet dan melakukan hal paling menjijikkan pertama di 2016. Anda tidak lupa cebok karena setelah itu anda memencet wadah Garnier—sabun muka pria urban Indonesia yang penuh polusi udara—dan inilah, cuci muka pertama di 2016. Wajah anda terlihat lebih segar dari tahun lalu. Anda siap memulai tahun yang baru dengan gempita.

Anda kemudian membuka laptop, membaca ucapan-ucapan happy new yeah dari 98% pengguna sosial media. Juga hal konyol pertama yang anda baca di 2016: perdebatan bahwa merayakan tahun baru itu haram, beserta dalil-dalil dan sekelompok orang ‘kilafah’ yang menghujat perayaan malam tahun baru kemarin. Anda ingin tertawa tetapi tidak jadi. Pacar anda sudah lebih dulu mengagetkan anda dengan ucapan tahun baru. Hal yang lebih penting dibanding memikirkan perkataan Al-Mokarrom Utadzku Felix Siauw. Anda kemudian mulai sadar bahwa anda harus membuat resolusi. Jika di tahun 2015 kemarin resolusi anda untuk vakansi sudah terwujud sebagian, maka di 2016 ini anda mungkin sudah sebegitu cueknya sampai tidak kepikiran soal resolusi. Hidup no future ala Sex Pistols sepertinya sedang anda terapkan. Tetapi anda tidak mau berlarut-larut. Bahwasanya di lubuk hati anda terdapat kata mutiara yang berkata bahwa hidup musti punya tujuan biar terarah. Alhasil anda—yang tahun 2015 lalu sempat militan menjadi haters para motivator dan sering berkata bahwa urip ga segampang cocote Mario Teguh—pun kembali mencoba menyusun harapan-harapan hidup anda sendiri. Bahwa persetan motivator, anda tidak pernah membutuhkannya. Karena untuk sukses anda hanya butuh diri anda sendiri, dan bukan motivator. Anda pun kemudian menuliskan apa-apa saja yang anda inginkan di 2016 ini. Anda menyadari bahwa anda masih terikat orang tua dan bangku kuliah, jadi harapan untuk segera menikah, keliling dunia, memborong mobil sport ataupun melunasi cicilan rumah masih terlalu dini untuk anda. Anda akhirnya menyusun harapan-harapan realistis untuk tahun ini saja. Dan disaat tahun baru 2017, anda akan menepuk dada anda, tersenyum dan berbangga: beberapa harapan sudah mewujud.

1. Menulis buku
Anda sudah bertahun-tahun menulis tentang ketidakjelasan di sebuah blog pribadi yang anda sendiripun tidak tahu anda menuliskan apa. Sumpah serapah, ketololan hidup atau uneg-uneg curhatan anda-lah yang banyak terposting tanpa anda peduli mau dibaca orang atau tidak. Anda juga betah nulis di webzine musik yang berjuang menegakkan skena kota rantau anda, dan anda tidak pernah sepeserpun dibayar untuk hal itu—kecuali album dan tiket gratis. Dan tahun ini adalah tahun kebangkitan anda setelah sekian lama. Anda baru menyadari bahwa hal paling puncak dari seorang penulis bukanlah blog atau webzine atau zine, melainkan sebuah buku. Buku yang tercetak dan ada nama anda di covernya. Buku yang membuat anda menjadi bagian kecil literasi yang digemborkan manusia-manusia sok bahasa di kampus anda. Buku yang dituliskan sebagai karya yang bisa dibaca kawan-kawan anda, ataukah orang-orang lain, untuk kemudian mereka merasa terinspirasi, atau setidaknya terhibur terhadap karya anda. Meski anda tidak mengetahui sedikitpun seluk-beluk perbukuan, penerbitan, atau bahkan karya apa yang akan anda susun, tetapi anda percaya, dewa buku selalu menyertai penulis abal-abal yang kebingungan. Dan meski terdengar bak pungguk yang merindukan bulan, anda berharap buku anda diterbitkan penerbit besar dan diedarkan dalam skala nasional. Tapi bila tak seperti itu, cukuplah buku indie, dan karya anda juga bisa dinikmati siapa saja. Ataukah karya anda akan jadi cult—tidak banyak yang tahu tapi dari yang tahu itulah justru yang paling militan dan menunggu buku-buku anda selanjutnya. Sudahlah, anda tidak pernah tahu buku anda akan jadi seperti apa jika belum memulai halaman pertama dan menuliskannya.

2. Kembali mengumpulkan mainan
Anda menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan hakiki dari hidup anda ada di masa saat anda masih betah menyusun kepingan lego, atau menubrukkan action figure superhero satu sama lain. Anda adalah kolektor mainan sekoper yang tak dikenal. Anda adalah bocah lelaki beruntung karena mulai bayi sampai usia anda SD, anda tidak pernah berhenti mendapat kiriman mainan dari tante anda yang kaya-kaya. Pun juga uang saku anda yang selalu disisihkan, pergi ke toko mainan untuk sekedar beli yoyo atau gasing. Kini anda sudah menginjak dewasa. Kesumpekan hidup tak ayal membawa anda pada hal-hal yang menolak bahagia. Tapi pacar anda adalah perempuan paling pengertian. Dia memberi hadiah lego superhero di ulang tahun anda—sesuatu yang belum pernah anda bayangkan sebelumnya. Dan inilah yang memicu anda untuk kembali mengumpulkan mainan apapun di masa kecil anda, dan kemudian memainkannya kembali, pelan-pelan, dan anda akan kembali ke usia 5 tahun lagi, sewaktu kamar anda masih berada di rumah nenek, ataukah kembali ke tahun-tahun sebelumnya, saat anda masih berada di Malang dengan dikelilingi manusia-manusia rasa yang tak kenal hal lain selain memanja.

3. Mendalami masak-memasak
Anda adalah calon koki keluarga. Simbah buyut anda adalah juru masak andal. Penemu resep rawon legendaris. Ataupun ayam kecap dengan rasa yang sempurna. Dan nenek anda—yang biasa anda panggil Mama—adalah master di dunia per-dapur-an. Nasi goreng buatannya adalah surga yang hakiki. Indomie yang dimasak di tangannya serasa anda tidak butuh apa-apa lagi untuk merasakan nikmat duniawi. Tante anda adalah penemu 78 resep kue yang tak pernah sekalipun memasak sesuatu yang tidak enak. Oom adalah penikmat masakan Eropa yang tak sungkan memamerkan keahlian memasak spagetinya, membuat anda betah di rumahnya. Dan kakak anda—dikenal sebagai Bang Gobes—adalah koki jalanan sejati yang pernah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di sebuah kedai nan ramai yang kini telah roboh tertiup badai. Dan prestasi tertinggi keluarga anda adalah saudara jauh anda yang mengusai bisnis restoran ayam dan menjadikan namanya seperti sinonim dengan frasa ayam bakar. Tetapi apa yang bisa anda sombongkan jikalau anda sendiri mentok hanya bisa membuat tempe goreng dan telur dadar? Itupun masih jauh dari sempurna hingga masakan yang benar-benar anda kuasai hanyalah Indomie rebus. Tetapi anda sudah mencium bakat anda sendiri. Pun ibunda yang awalnya melarang anda—pria jahil yang hobi rusuh—untuk memasuki dapur, menjadi sering menyuruh anda memasak untuk makan malam. Anda memang sering berbuat onar di dapur, tetapi anda sudah biasa dengan penggorengan. Anda sudah tahu fungsi tambahan gula pada telur dadar. Anda sudah merasa Masterchef walaupun anda masih medioker. Tetapi anda tidak peduli. Anda suka di dapur. Anda hobi membuat sesuatu. Anda suka makan. Anda cinta masak-memasak. Anda adalah penerus keluarga besar anda yang jago membuat lidah bergoyang. Anda harus beralih profesi dari pemasak semua jenis Indomie—termasuk Indomie My Noodlez untuk adik balita anda—dan beralih ke tingkatan yang lebih tinggi lagi: Mie Burung Dara. Dan anda sudah harus lebih jeli memerhatikan koleksi buku resep ibunda anda—biar tidak seperti beliau yang banyak teori masak tapi sedikit prakteknya.

4. Main drum lagi, masuk studio lagi
Tidak pernah ada tahun sesepi tahun kemarin dalam hidup anda. Meski puluhan gigs telah anda datangi dan anda cukup apresiatif. Persetan juga polisi skena. Anda sungguh mengidolakan Hasief Ardiasyah apapun yang terjadi. Tetapi kesepian tentu saja bukan karena anda berjoget atau tidak saat konser berlangsung, tapi karena band itu, bukannya anda, yang berada di panggung, memainkan musik. Padahal anda adalah drummer paling abal-abal yang pernah ada di semesta. Penggemar John Bonham dan hobi mukul bangku di sekolah. Meski begitu anda meyakini satu hal: fuck skill, rock and roll! Dan di tahun ini anda ingin membuang perasaan kesepian itu dengan lebih banyak masuk studio, dan memuntahkan semua kegilaan dan dendam akan hidup. Fuck sikil!

5. Vakansi
Anda cukup sadar untuk secepatnya berhenti menuliskan hal ini karena anda—dan manusia-manusia pejalan tanpa alasan lainnya—pasti akan kalah dengan bocah yang hobi majang foto gunung di Instagram dan kemudian memperbanyak tagar #mytripadventure. Anda sudah seharusnya berhenti menuliskan ini sebelum menjadi manusia yang merasa paling keren sendiri dari orang lain hanya karena memakai baju Natgeo dan kemudian memamerkan berbagai pose dengan label #trip. Dan karena perjalanan menjadi semakin kekinian dan kehilangan esensinya, anda tidak perlu menggunakan kata travelling—karena anda sudah muak mendengarkannya.

6. Berbagi
Anda sadar bahwa hidup tidak akan selamanya. Anda juga semakin mengerti bahwa hidup tidak untuk dinikmati sendiri. Dan karena itu anda sudah seharusnya berbagi di 2016 ini. Berbagi untuk membantu, bukan untuk eksistensi. Berbagi bukan untuk balasan, tapi sebagai bentuk kepedulian. Dan saat ini anda tidak perlu memberi tahu anda akan membagikan apa-kepada siapa karena anda merasa itu semua tidak perlu digembar-gemborkan.

Anda menuliskan resolusi ini begitu saja, tanpa pikir panjang. Tentu anda tidak hanya bergantung pada langit: langkah kaki anda sendirilah yang akan menentukan sejauh mana semua ini bisa terwujud. Kecuali tentu saja mainan yang ingin anda koleksi ulang. Anda musti bergantung pada uang jajan tambahan dari orangtua anda.