Wednesday, October 12, 2016

Surabaya Mencintai Kita Kala Akhir Pekan

burem kamera hape hoam
Kita pernah—dan mungkin hampir setiap waktu—menghadapi hari-hari busuk. Pekerjaan menumpuk. Jalanan mengajari kita menjadi babi yang bergerak lamban sambil menghitung sudah berapa total usia kita menemui lampu merah, serobotan angkot, truk tinja, dan taksi, berhenti sambil melamun menunggu magrib yang, mengutip Silampukau, mengambang, lirih dan terabaikan. Setengah lima sore kebiadaban itu dimulai. Kendaraan melambat dengan sendirinya, tanpa kewajiban dan ketakutan absurd seperti mobil yang harus melambatkan kecepatannya sampai 5 km/jam saat melewati patung Kim Jong Il di Pyongyang sana. Surabaya. Melambat atau terhenti, sama saja. Yang penting langsung pacu seganas kijang saat ada celah sedikit, terobos, memungkinkan untuk sampai rumah lima detik lebih cepat. Setelah itu kita akan mampir ke warung-warung kopi, giras-giras andalan tepian jalan. Meneguk kopi creamer, membakar kretek, mencomot tahu garam, duduk sambil mencharge ponsel, memanfaatkan lagi koneksi wifi, menghubungkan lagi pada maya yang sempat terlupa kala sibuk mengerem aspal. Berkali-kali. Terus seperti itu. Kerja, pulang, ngopi, tidur lalu mati. Tidak tenang di kuburan, menyesal, mewek, karena sebenarnya ada hidup yang lebih hidup dibanding hidup yang sempat dijalani sewaktu masih hidup. Hidup yang tidak setegang lagu Dragonforce. Hidup yang tidak serapuh kresek kerupuk. Hidup yang tidak sebabi ini.

Pahit kopi adalah satu-satunya kontemplasi. Dua jika ditambah nyala kretek. Tiga jika kita punya peralatan memadai untuk memutar koleksi musik terbaik, dengan CD-CD mutu tinggi yang bisa didengarkan sambil tiduran dan membaca Thus Sprach Zarathustra—atau jika terlalu berat, Komik Petualangan Doraemon—dan kemudian ketiduran lagi, sampai esok harus bangun tergopoh, dikejar setan waktu lagi, dan sekali lagi, Silampukau keterlaluan benar. Demi Tuhan, atau Demi Setan, pekerjaan menyita harapan. Belum lagi tuntutan hidup. Jodoh, atau kapan kawin, kapan punya momongan. Padahal skripsi belum juga kelar. Padahal dosen pembimbing skripsi belum menjelma warung penyetan yang mudah ditemu. Untungnya hari dihitung tujuh hari. Dan jam kerja dihitung lima hari. Sisa dua hari di akhir pekan, kita berkesempatan menjadi manusia lagi. Dan Surabaya, menyediakan jalannya.

Surabaya punya pemusik-pemusik indie terbaik, dan kita tidak perlu susah-susah lagi mencari suaka sampai jadi hipster yang mencari musik-musik ekletik dari Hungaria atau Afrika Selatan. Surabaya menyediakannya lengkap beserta tempatnya. Surabaya mencintai kita semua kala akhir pekan. Banyak acara-acara indie rutin mingguan/bulanan yang mulai bermunculan (lagi). Penikmat musik yang semakin apresiatif dengan tidak duduk dan ikutan bergoyang lenggak-lenggok. Penikmat musik semakin suportif dengan membeli CD atau Tape beserta t-shirt band-band lokal. Gairah indie kota jadi semakin kondusif. Semakin hari semakin berkembang. Musik-musik menjadi beragam dan banyak pilihan referensi untuk kita yang sudah keseringan mendengar Carly Ray Jepsen. Dan bahkan tempat-tempat yang dulu tidak pernah dibayangkan akan jadi lahan bagi muda-mudi hip untuk berkumpul dan bernyanyi bersama, kini sudah semakin membuka diri, menampilkan sikap dukungannya dengan membuat gigs, yang meskipun tidak besar, tetap bisa menampung band-band lokal untuk tampil membawakan lagu sendiri, berinteraksi dengan penonton, menjajakan CD dan merchandise—dan kita semua membutuhkan itu.

Alhasil sebelum isi otak kita gempar akan pemberitaan Agus Yudhoyono dan Aa’ Gatot Brajamusti season 2, kita sudah di depan stage yang meskipun ada jarak karena kursi-kursi berjejer mengitar, memotret suasana panggung temaram yang belum benar-benar hidup karena pengisi acara masih berupa sampling DJ somehow antah-berantah yang tidak akan pernah cocok bermain di nuansa seperti ini, sambil mengamati foodtruck yang berjejer menjajakan sosis dua puluh lima ribuan, atau semurah-murahnya Teh Gopek enam ribuan, untuk kemudian tahu bahwa suasana di sini sungguh memanjakan mata dengan laju mobil dengan kita yang sedang tidak berada di dalamnya, mengisi udara remang pukul tujuh malam yang kian prosaik andai saja ada lampion dan tangan yang menggandeng. Tapi teman-teman saja sudah lebih dari cukup untuk menikmati acara di Graha Fairground ini. Sebuah acara balada hiperrealitas nan hangat sehingga dinamai Hyper Ballad pun tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah bila Hyper Ballad berhenti entah di edisi keempat, ketiga, atau kedua yang dengan ini berarti pupus sudah obsesinya untuk menjadi acara gigs rutin.

Ada obsesi dari DJ-DJ yang meramu sampling di kanan panggung, semacam keinginan untuk memanasakan malam yang saat itu sedang mendung. Tapi aksi dari komplotan Layung Temaram-lah yang berhasil, setidaknya membuat kita terpaku entah sampai beberapa menit. Lagu-lagu terbaik mereka dilempar, mengingatkan kita semua bahwasanya ada soft spot di dalam hati yang membutuhkan melodi macam ini. Tidak berlebihan bahwasanya pada akhirnya kita akan melunak dan mencintai pop, perlahan-lahan dan tidak tergesa seperti menali sepatu sendiri. Mungkin ini band baru, tapi itu urusan lain. Graha Fairground lewat Hyper Ballad menyediakan sound yang mumpuni. Tidak masalah apakah hafal lagunya atau tidak, termasuk juga saat Sinletto, yang kita semua mengira ini adalah band pemuda kelebihan skill yang memainkan pop rock—dan untungnya berusaha tidak generik. Beberapa hentakan kemudian DJ mengisi lagi jeda antar band. Kali ini Ayren Mayden—dan bukan Iron Maiden, entah apa ini parodi—DJ yang terakhir kali kita dengar bermain bersama Lawless Youtube Squad-nya Arian13 dan Sammy dari ibukota. Tidak semuanya menyukai yang begini karena nyatanya ini bukan pesta rave. Nikmati semampunya saja.

Lalu berduyun-duyun datanglah punggawa dari Timeless, dengan Fajri Armstrong, sang gitaris yang sedang dalam kondisi kurang fit. “Ada teh panas?” tanyanya pada salah satu penjaja minuman di stan. Sayangnya tidak ada. “Lagi kurang fit ini badan, butuh teh panas.” Ujarnya. Ronascent sempat menemuinya dan bertanya padanya akan kemungkinan tur nasional debut terbaru mereka, Beetwen And Beyond. “Nanti, ini masih direncanakan, masih dibahas sama temen-temen juga.” Ujarnya. “Suwun loh ya, sudah beli albumnya.” Tambahnya. Untuk Beetwen And Beyond sendiri, track-track seperti Golden Age yang dikeluarkan sebagai single sudah banyak riwa-riwi di soundcloud. Motown Crush, salah satu track dari album ini, adalah andalan Ronascent: lick-lick yang gawat dan gatal di telinga, jelas Timeless menjadi semakin matang dan berbahaya. “Kami main jam delapan, habis ini.” pungkasnya.

Seperti biasa, acara musik akan berlipat garingnya bila ada host atau MC atau apapun itu yang dilibatkan. Meski tidak mengapa juga karena dalam rangka promosi foodtruck, tapi tidak perlu sampai heboh sendiri dan berteriak-teriak layaknya besok kiamat. Memang sudah tugasnya, dan kita sudah terbiasa mendengarkan celotehan kurang penting apapun itu yang keluar dari industri musik odong-odong. Untungnya Timeless tidak suka berlama-lama. Energi yang kelihatan meluap-luap dari Bimantarah, Anggra, Ferry dan juga Fajri—yang terlihat amat segar bugar di atas panggung. Hampir seluruh track di Beetwen And Beyond dimuntahkan, mulai dari—jika tidak lupa judul dan urutannya—Living Free Living Easy, Free From The Universe, Fine, Pills, Golden Age, dan Motown Crush. Mungkin banyak penonton awam yang belum ngeh karena album yang terhitung masih sangat baru. Meski begitu suasana Graha Fairground langsung mendadak ramai saat mereka main. Kursi-kursi langsung penuh. Yang berdiri berjajar juga lumayan. Puja-puji untuk suara Bimantarah yang jika boleh menyebutkan sosok, mirip seperti Eddie Vedder, di era-era album Ten, sempat terlontar. Juga sound yang mendekati paripurna, meski mereka bermain sedikit ugal-ugalan khsusunya Ferry pada drum—sosok perfeksionis yang selalu tepat memperhitungkan pukulan. Atmosfer berubah saat Golden Age dimainkan karena bisa jadi inilah lagu yang sudah cukup dikenal. Tidak ada lingkaran moshing karena seputaran panggung adalah kursi. Pun juga tidak ada yang sampai dekat-dekat panggung dan bertindak gila karena akan sangat terlihat rock snob. Yang ada hanya sedikit tembakau dan headbang tipis-tipis, mengiringi mendung yang makin menjadi dan mungkin akan segera turun hujan. Satu-satunya lagu dari EP We Believe For What We Do Is Timeless yang kemungkinan besar dihafal oleh semua yang hadir, Cold Summer, dimainkan dan menjadi penutup. Dari Cold Summer yang sepertinya banyak mendapat pengaruh dari Foo Fighters ditambah sejumput kebengalan punk rock, kita akan mengetahui bahwa tidak terlalu banyak perbedaan mencolok dari EP dan debut album baru mereka. Mereka sudah memperhitungkan dan terlihat menuju ke arah sana. Meski EP terdengar lebih ngebut dan raw, sementara Beetwen And Beyond adalah tata kelola yang lebih rapih dan fresh—mengurangi senyawa-senyawa oktan knalpot dengan tetap menggunakan amplifier Orange sebagai senjata.

Setelah semuanya berkumpul dengan riang gembira, dan waktu belum terlalu malam untuk pulang dan bercinta, Humi Dumi datang dengan membawa serangkaian kenangan—atau yang lebih melankolik dari itu. Para personilnya sempat membaur bersama penonton, dan seperti tipikal pemirsa musik di Surabaya, tidak ada yang tahu bahwa orang-orang itu, vokalis imut itu, si bassist cantik itu, yang akan naik panggung dan menghibur mereka. Jadi tidak ada tekanan menjadi selebritas meski terkadang itu ironis. Dengan gelap yang semakin jadi mendung, tidak butuh waktu lama bagi band yang melabeli dirinya sebagai innocence folk pop ini untuk mengalunkan nada. Tidak banyak yang bisa diingat mengingat syahdunya permainan mereka—seperti yang sudah-sudah. Kita akan mengumpat ngeri karena di intro yang sengaja dibuat berbelit namun untungnya amat manis—seperti yang sudah-sudah—kemudian terlantun Sleep yang teduh surgawi. Bisa-bisanya band ini tidak mencuat ke blantika pop nasional? Kita akan membahasnya lain waktu. Riuh tepuk tangan penonton yang memang tidak terlalu ramai sehingga berkesan hangat dan intim seakan ingin mengapresiasi meskipun Qanita Hasinah si vokalis sempat berujar di tengah sapaannya, “Kalian pengen aku atau Irna yang ngomong?’’ yang tidak terdengar ironis malah terdengar seperti guyonan meski tiada penonton yang tertawa—walau ada juga begundal yang berteriak ‘Irna!’ Tentang Irna sendiri (nama lengkapnya Irna Kurnia R, dan tersedia di Instagram) adalah jelita cantik kekinian dulunya berambut sebahu kini sudah agak panjangan, dengan senyum manis dan dia memainkan bas pula. Iya benar, satu kata: bergetar. Bisa jadi betotan bas dia membetot hati penonton laki-laki juga yang kesengsem dan terusan ambil potret. Tapi sudahlah bahas musik saja. Sudah bisa ditebak lagu-lagu dari EP I Am Ij Sin A-lah yang diputar, minus Walking In The Pillow yang—seperti yang sudah-sudah—jarang mereka mainkan saat off air. Tambahan lagi satu lagu yang seperti tidak asing tapi juga tidak terlalu familiar. Mungkin ini single terbaru atau cover version, terserah saja. Ada gimmick-gimmick sederhana yang ditawarkan Humi Dumi di Hyper Ballad, sesederhana menambahkan gemericik gitar sebelum awal lagu, atau suara synth, atau bebunyian yang sudah disiapkan sebelumnya, mengalun mengawang di sisi sound saat Ceria Cerita, Bella In 79 Seconds, dan Mirror sebagai lagu pamungkas dimainkan. Kita tidak bisa melupakan saat asyik-asyiknya duduk dan memejam mata menikmati indahnya duniawi, tiba-tiba turun gerimis yang meluap menjadi hujan. Semuanya menyingkir dan berlindung di balik atap sound engineer yang sedang bekerja—dan untungnya tidak merasa terganggu. Humi Dumi tetap tampil atraktif dan elegan meski penonton menjauh, dan ajaibnya saat hujan berubah jadi rintik, penonton menyemut lagi, kali ini tidak duduk-duduk karena bangku sudah kepalang basah, melainkan berdiri merapat panggung, Terima kasih hujan sudah menghidupkan penonton. Dengan berdiri kita lebih leluasa bergoyang, menyulut tembakau, mengangguk kepala, mengamati Irna, apapun. Dan walau hujan datang lagi setelahnya, tetap saja penonton akan menyemut kembali kala ia mulai mereda. Yang tidak bisa terkatakan adalah bagaimana ajaibnya Mirror—sebagai lagu terbaik Humi Dumi sejauh ini—dimainkan saat gerimis turun. Pendar lampu kekuningan menerpa hujan dan jadilah ini malam yang magis. Ini adalah momen terbaik penampilan Humi Dumi dari yang sudah-sudah. Suasanya yang tidak terkatakan namun akhirnya terkatakan juga. Dan saat hampir memungkasi lagunya, dimana itu adalah part-part yang menunjukkan kejeniusan mereka sebagai penghayat sejati, langit sedikit-demi-sedikit mulai cerah, dan Humi Dumi perlahan meninggalkan gemerlap lampu panggung, dengan gimmick outro Mirror yang di remix ala-ala chillout yang terus berkumandang. Surabaya memberkahimu.

Penampilan pamungkas datang dari band yang disebut-sebut sebagai saudara Humi Dumi—dimana mereka selalu ada di tiap gigs yang mengundang Humi Dumi—dengan vokalis perempuan yang lebih terlihat berhawa gelap dan murung. Senandung Sore memainkan lagu-lagu terbaik mereka, mencoba memaknai sisa-sisa bau hujan, mengajak penonton menyesapi sisa-sisa malam, dan saat Sadrah—yang masuk dalam kompilasi terbaru Ronascent Outtatime—kita akan menguap dengan amat panjang. Bukan mengantuk. Bukan lelah. Terlalu banyak hal-hal yang patut disyukuri di malam ini. Ternyata hidup masih amat menyengangkan. Dan Surabaya, nyatanya masih mencintai kita kala akhir pekan.

*Versi edit (tapi kayaknya nggak diedit hehe) bisa dibaca di Ronascent Webzine di link ini. 

Tuesday, October 11, 2016

Drs. Sayuti, Sarjana Sastra, Mengoceh Tentang Arti Hidup

Tulisan ini adalah sebagian kecil dari hasil dari transkripsi materi Drs. Sayuti, SS, saat mengisi kuliah umum dengan tema ‘Peluang Menjadi Sastrawan Warung Kopi dengan Teknik Menguasai Minimal Dua SPG Rokok Mild,’ hari Sabtu, 9 Oktober 2098, di TPS Fakultas Bahasa dan Seni, Unesa. Pak Sayuti kini sibuk menyelesaikan buku kumpulan esai teori terbarunya yang berjudul ‘Eureka! Dan Sejarah Kejantanan.”

*** 

Akhirnya, setelah ratusan purnama, setelah Cinta dikecup Rangga, saya menemukan arti hidup. Tidak ada dalam kamus. Tidak ada dalam Perjanjian Baru. Tidak ada dalam bunyi klakson truk tinja. Saya pure menemukan arti hidup ini—baru saja setelah berkata hal ini—setelah sebelumnya melewati berbagai lampu merah datang bulan, tambal ban monyet dan orang udik bersepeda di tengah jalanan Surabaya yang padat merayap. Setelah puluhan video ‘Hati2 Di Internet’ saya tuntaskan sampai subuh, Awkarin atau Anya Geraldine yang bahkan saya ikuti perkembangan tobatnya (dan tingkahnya), dan yang terakhir, jangan terharu, jangan bergidik, Kyai Dimas Kanjeng Taat Pribadi sebagai nabi baru di televisi; calon pengganti Tukul di acara Empat Mata, pengganti Ali Zaenal di (Masih) Dunia Lain, pengganti Eko Patrio di kursi wakil ketua pemenangan Agus Harimurti Yudhoyono (atau Anies Baswedan, saya lupa), dan menjadi admin blog mahasiswa saya, Tito Hilmawan yang payah ini untuk selama-lamanya. Thanks Aa’ Gatot Brajamusti, saya musti menuliskan ini karena ini musti mustinya akan menjadi sebuah hal yang, mengutip Pram saat duduk di kamar mandi, byur. Lenyap. Lenyap. Tak berbekas. Tanpa arti. Menguap. Menyublim. Menjadi fungi. Menjadi serial Supernova ke-7. Menjadi Mirna sebelum mengudap sianida. Menjadi orang-orangan sawah di Tuyul dan Mbak Yul. Menjadi bedak Herocin di selangkangan ahli kubur. Menjadi random. Menjadi abusrdisme. Menjadi di block Google. Menjadi blog berpenghasilan dua koma hanya dalam waktu seabad. Menjadi dot com odong-odong. Menjadi tahi babi. Mati. Lalu sudah. Sudahlah.

Saya—dan tentunya juga Anda, kaum pencinta sandal Swallow—menyukai sebuah ketidakjelasan sebelum segalanya menjadi benar-benar jelas, dan Anda akan mencintai kodok seketika. Tampar saya. Apakah Anda sudah mengerti arti hidup yang saya maksudkan di atas. Ataukah saat ini Anda masih jomblo dan mengutuk Jokowi? Ataukah, masih betah balapan dengan angkot plat L? Benar, arti hidup milik saya dengan milik Anda tentulah berbeda. Seperti isi kepala Dedy Corbuzier dan Mario Teguh. Yesus dan Karl Marx. Saipul Jamil dan Sartre. Jelas berbeda dan tak perlu dimirip-miripkan. Tapi, sekali lagi, arti hidup saya tetap perlu saya publikasikan. Seperti koar-koar para Youtubers cilik tukang cover Young Lek. Viva manusia YouTube!

Arti hidup:

Hidup adalah kejutan yang berkelanjutan.

Bagaimana, Anda sudah mengerti jenis-jenis tanaman hias yang hidup di Zaman Mezolithikum yang berawalan huruf D?

Kejutan! Tepat sekali!

Dari mana Anda berasal itu adalah dari mana Anda berawal!

Itu saja untuk kuliah hari ini. Matilah semiotika!

Tuesday, October 4, 2016

14 Hari Untuk Selamanya (Bagian 3)

pemalas, tukang madat, pemokel
ketok manis kabeh padahal ga adus
mokel gak mokel seng penting ngumpul
bersama panita pemenangan lurah sidowangi 2098
deklarasi lurah sidowangi 2098 - kiamat
III.
Balada Pendosa dan Kelelawar

Saya sempat bingung tatkala memesan seporsi mie ayam. Mie ayam versi emak beda dengan versi yang saya kenali: mie ayam Emak adalah mie tanpa mie gepeng, tanpa irisan daging ayam, tanpa kuah yang berminyak, tanpa irisan acar, tanpa potongan-potongan kerinduan, tanpa kaldu kenangan—dan Emak masih menyebutnya mie ayam. Tapi mie ayam ini setidaknya selalu membuat orang-orang sejenak pikun. Mereka lupa jika siang itu bulan Ramadan. Mereka lupa apa yang wajib dilakukan di bulan ini agar lebaran yang tinggal beberapa hari bisa disebut afdol. Dan bahkan mereka lupa bahwa mie ayam yang sedang mereka makan bukanlah benar-benar mie ayam.*

Siklusnya dimulai beberapa saat menjelang bedug dhuhur, sampai jelang bedug ashar: mendahului waktu berbuka yang telah disepakati milyaran umat sedunia. Saya tersadar bahwa ternyata memakan mie ayam juga termasuk pemberontakan. Ini ramadan paling heavy metal.

Hengki, wakil ketua, juga adalah pendosa amatir nomor satu. Dia yang menemukan tempat kecil disebelah gang, yang kemudian kita namai sebagai warung emak. Disini malaikat pencatat amal keburukan bekerja dengan ekstra keras karena tidak ada satupun yang menjalankan kewajiban berpuasa. Saya sempat takut kalau-kalau ada pasukan putih-putih nasi bungkus yang gemar membawa pentungan dan razia warung saat puasa tiba-tiba saja menyergap dan mengkafirkan kami; dan mungkin kami akan dijuluki sebagai bangsat liberal, komunis, antek-antek PKI, yahudi, gay, lesbi, penyembah LaVey dan sebagainya. Tapi untungnya tidak pernah ada. Terimakasih Mojokerto sudah menghormati kaum-kaum bingung yang belum sanggup berpuasa seharian penuh.

Hengki—yang mengaku sebagai pegawai Matahari Surabaya untuk menutupi kedok mokel—pernah dan seringkali mokel di jam-jam yang tidak semestinya. Waktu mokel yang disepakati bajingan pada umumnya adalah di pertengahan hari, saat waktu sedang terik-teriknya dan semua orang berpikiran bahwa pemandangan paling indah adalah es teh berwarna kecoklatan dan suara paling ditunggu adalah denting sendok bertemu gelas saat mengaduknya. Tapi Hengki bukanlah orang pada umumnya.

“Rusuh tenan to, tempat iki! Perlu diberesin!” ujar Hengki di suatu hari di pukul setengah delapan pagi.

Teman-teman tentu saja tidak mempedulikan dengan serius; beberapa masih tidur. Ini pukul setengah delapan pagi dimana balas dendam bangun sahur dilampiaskan dengan tidur tak peduli waktu. Hengki mengulang-ulang terus pernyataannya untuk membereskan dan limabelas menit kemudian kita akan sadar: bakul nasi, piring, dan wadah makanan sisa sahur telah raib. Para perempuan yang ditugasi memasak nasi di magic com sewaktu sahur untuk makan para perempuan yang tidak sedang berpuasa—you know what-lah—tiba-tiba geger.

“Lho, segone maeng penuh loh! Sek akeh. Kok berkurang?” ujar Ayuk, salah satu pemegang tampuk kuasa seksi konsumsi yang berbakat mengolah tempe menjadi beraneka macam sajian utama. Yoi, tempe!

Kita flashback sejenak, mengundurkan waktu dan tempat, karena Hengki memang membereskan makanan-makanan itu, membawanya ke dalam kamar: membereskan versi Hengki bisa juga memulai sarapan di saat pagi bulan Ramadan. Asu. Selanjutnya tanpa rasa berdosa sedikitpun ia juga pernah mengajak saya—kedoknya disuruh mengantar—mencari makan di pukul tiga sore. Saya belum batal hari itu, seharian tiduran dan tidak ada aktivitas berarti. Energi masih tersisa dan seharusnya cukup sampai berbuka. Saya bisa puasa full hari ini. Persetan mokel. Enyah kau setan. Tapi tak dinyana setannya menjelma di tubuh kerempeng anak ini.

“Ayo, peseno sisan! Tak bayari.” Hengki menawari saya saat di warung bakso. Sialan. Anjing.

Saya tentu saja menggeleng. Iman saya kuat bung. Bakso Hengki kemudian sudah ada di meja saja. Bundar-bundar, banyak. Pentol ajaib. Asoy. Tambah saos, kecap, sambal. Memuaskan cacing di perutmu. Sialan. Saya, tiba-tiba kehilangan kesadaran.

“Heng, aku pesen sisan wis yo!” dan saya melakukan kebodohan dan dosa di pukul tiga sore—tinggal dua jam setengah lagi waktu berbuka. Kambing. Puasa saya remuk berkeping-keping.

Hengki, tertawa menjadi-jadi. Ini aib seorang yang mencoba alim yang dirusak perusuh cacingan tak bermoral.

Astagfirullah...

***
Aktivitas siang hari dari Tim KKN 145 adalah istirahat seusai kegiatan. Biasanya karena ini bulan puasa, teman-teman memanfaatkannya dengan tidur berpahala. Tapi bagi bocah-bocah tak tahu diuntung macam saya, Hengki, Ikbal, Tyo, dan Breng, ini adalah saat yang tepat untuk berbuka puasa.

“Wis bedug! Ayo nge-pom!” ujar Breng.
“Sekarang ta Breng? Tunggu, aku mandi dulu!” jawab Ikbal

Istilah ngepom dikenal sebagai motor diisi bensin di SPBU terdekat. Tapi bagi kaum pendosa macam kami, ngepom bisa berkonotasi bukan hanya pada sepeda motor: tapi juga pada perut. Cara penjahat untuk menyamarkan apa yang akan dilakukannya. Biasanya teman-teman akan bertanya.

“Pada mau kemana ini?”
“Ngepom!” jawab kami.

Orang awam akan berpikir kami mengisi bensin untuk motor di pom dekat situ. Tapi bagi yang sudah paham akan segera menyahut.

“Iyo, pom weteng!” ujar Mak Lay—atau Layla, ibu tiri cerewet kami di 145.
“Isien pertamax, ojo sego campur!” ujar some random friends di ujung sana.
“Aku titip bungkusno!” ujar pendosa abu-abu yang tak mau repot.

Kami biasa berboncengan ke ‘pom’ kami: warung emak. Dan seperti dituliskan diatas, salah satu menunya adalah ‘so called’ mie ayam atau pangsit—whatever! Kita selalu disana berlama-lama. Memesan minum dengan porsi jumbo—emak sudah hapal sekali pada hal ini—dan kemudian kadang juga menu nasi dengan lauk yang kadang, karena saking baik hatinya emak, digorengkan live di tempat kejadian perkara.

“Mak, lauk telur ada?” tanya Ikbal.
“Endog? Dorong nggoreng! Opo gelem tak gorengno sek a diluk?” jawab Emak.

Ikbal tentu mengangguk kegirangan.

Kretek atau udud atau apapun itu yang penting bukan racun vaporizer kami bagi disitu. Kecuali Tyo yang tidak merokok, aktivitas penuh asap di tengah bulan Ramadan adalah ritual kami yang konstan dilakukan sewaktu KKN. Saya sempat berpikir akan nikmat menikmati Dji Sam Soe di tempat sesejuk Mojokerto—terutama waktu malam. Ternyata tetap tidak ada yang bisa mengalahkan Gold Lights Marlboro. Tentu saja. kadang ini juga digilir dengan kretek atau mild yang cukup untuk membunuh malam.

Setidaknya seperi itulah aktivitas siang hari. Karena setelah itu kita bobo-bibi sampai jelang maghrib. Dan malamnya, khususnya saya dan Ikbal, menjadi kelelawar. Ikbal mencari tempat untuk bermain Dota, dan tentu saja harus ada wifi-nya. Akhirnya di daerah Canggu kami menemukan satu warkop yang memenuhi kebutuhan: wifi-nya sengebut serigala bahkan sama dengan Surabaya atau kadang malah lebih cepat. Tempat yang asoy dengan TV kabel. Meski minumanya biasa-biasa saja. Saya dan Ikbal biasa disana mulai pukul sebelas-dua belas malam, sampai jam tiga lebih disaat sahur. Aktivitas nokturnal yang tak jauh beda dengan kehidupan kuliah sialan sehari-hari.

***
Saya dan Ikbal juga sempat mengunjungi salah satu desa di Mojokerto tempat pacar Ikbal KKN. Kami melewati hutan galak yang bahkan sudah amat gelap di pukul tujuh malam. Anjing. Saya yang waktu itu bertugas membaca peta sempat ketar-ketir: takut kena begal penjahat-penjahat ninja disana. Tapi toh karena memang nekat, dan Ikbal sudah kangen berat dengan si doi, kami berkunjung di basecamp tim KKN yang ternyata lebih busuk dan anjing dari tempat KKN kami: desa terbelakang, jalan bergelombang, hawa pengap, anjing seanjing-anjingnya. Disana saya bertemu dengan Adelia dan Shom, sobat sejurusan sastra yang juga sekelompok dengan pacar Ikbal. Tapi, waktu reuni kami tidak bisa berlama-lama. Begitu pula waktu kencan Ikbal. Ada rapat dadakan membahas hal yang ‘amat sangat penting’ kata ketuanya sehingga kita hanya lima belas menitan menemui handaitaulan itu. selebihnya kita ngaplo—dan untung saja disuguhi kopi—dan saya kembali berdua menghitung nyamuk dengan Ikbal. Setelah sejam setengah lebih menunggu dan rapat belum usai juga sementara waktu menunjukkan pukul sembilan, kita tahu kiranya apa yang harus dilakukan sekarang mengingat ada hutan keparat yang kemungkinan besar berisi bajingan-bajingan yang siap mengintai jika saja kita pulang terlalu malam.

Alhasil saya dan Ikbal pun pamit, memacu motor dengan beringas lagi, sampai di hutan, terkaget karena rintik-rintik gerimis mulai terasa. Asu. Ini tidak boleh terjadi. Hujan sekarang adalah petaka. Bisa mampus kalau harus berhenti. Bisa bahaya juga kalau terus melaju. Tapi toh Tuhan menyayangi para perjaka. Ia tidak menurunkan Mikail di hutan. Ia menurunkannya tepat saat hutan selesai kita lewati, dan kita akan menuju ke basecamp dimana kita tinggal. Lebih ajaib lagi, kita berhenti dan terpaksa berteduh di warung kopi—yang jujur awalnya saya kira diskotik atau rumah bordil—yang ngehip dengan lampu mencolok warna-warni. Perkenalkan, penjualnya bernama, ehm, saya lupa, tapi dia selalu bilang ‘Beta’ terus menerus (yang berarti ‘saya’), dan mari kita tebak kira-kira dari mana asalnya. Beta, orang Nusa Tenggara!

Malam yang sulit. Hujan sederas air susu ibu menyapu kerongkongan bayi. Warung Beta tidak seramai kerlip lampunya: yang ada hanyalah pria botak yang memesan kopi hitam dan kretek, sepertinya anggota marinir. Dan kami berdua yang sedang kedinginan efek udara dan gerimis. Untung Ikbal mengambil Surya, dan jadilah kita berasap bersama dengan kopi yang sudah dipesan. Alamat nanggung, kami menyerah dan memesan Indomie juga. Dan  memprihatinkannya, saya juga sempat eek di toilet belakang warung Beta. Benar-benar.

Hujan mereda. Kami sadar bahwasanya gelas kopi kami telah kosong. Pun Surya yang tinggal beberapa batang. Ada saatnya kita harus pamit setelah membayar.

“Oom, kita balik dulu, yah!” ujar saya.
“Oh, Okey! Kapan-kapan main kesini lagi, ya! Beta tunggu!” ujar Beta.
“Siapppp, Om!” jawab saya.

Tinggal hanya memacu motor karena Ikbal sudah menstarter. Tapi Beta keluar warung seperti ingin melakukan perpisahan terakhir, mengantar sampai ke depan. Dia melihat plat motor saya.

“Plat N? Lho kamu dari Malang?” ia bertanya.
“Oh endak Oom, dari Surabaya, mahasiswa KKN Oom.” jawab saya sekenanya.
“Oh dari kampus mana? Saya suka anak KKN, disini juga banyak anak KKN, mereka biasanya ngopi disini. Saya kenal mereka semua. Mereka dari universitas mana, saya lupa. Tapi mereka selalu mampir kesini!” ujar Beta. Antusiasmenya tiba-tiba saja melonjak.
“Oh, masak Oom?” jawab saya. Mau basa-basi apalagi. Ikbal belum mematikan mesinnya padahal idola Ambon ini sedang bercerita.

“Iya, hampir tiap hari mereka kemari. Ini saja tidak datang, mungkin hujan. Aku selalu respect sama mahasiswa, harga-harga disini semuanya kuturunkan. Jadi beda antara orang biasa yang minum kopi, dengan mahasiswa. Kopi untuk orang biasa, lima ribu. Tapi untuk mahasiswa, aku bilang sama istriku juga, agar menjualnya tiga ribu saja. Pun mie goreng, dan menu lain. Kasian, mereka belum bekerja.”

Bangsat. Kenapa tidak bilang dari tadi Beta. Tahu begitu aku bilang kalau aku ini mahasiswa, jadi harga bisa sedikit lebih murah. Tapi barusan kamu sudah tahu Beta kalau aku ternyata mahasiswa, kenapa tak kau kembalikan separuh uangku. Ah gimana kau Beta!

“Kalian KKN deket sini-kah?” Beta melanjutkan. “Biar aku kasih tahu, rumahku itu di gang depan sebelah kanan, kiri jalan ada namanya Salon Bunda. Kalian aku undang buka puasa besok kerumah, tiap hari pun, kalau kalian sempat, silakan buka puasa disini. Anak-anak KKN pelanggan warkopku ini kemarin sering buka puasa dirumah. Aku tidak apa-apa, istriku juga, malah senang bisa saling berbagi.” Ujar Beta.
“Wah, siap Om! Kalau sempat tak mampir.” Jawab saya.
“Harus itu! Salon Bunda ya. Inget!” tanya Beta.
“Oh, sip-sip! Inget. Suwun Om!” saya berkata sambil naik motor. 

Ini adalah gestur untuk memulai berpisah. Tapi gobloknya saya basa-basi lagi.

“Kalau ini Ikbal, temen saya, anak Pamekasan, Oom!” ujar saya sambil menepuk pundak Ikbal. Dia hanya tertawa sambil sibuk mengepul Surya.

“Oh Pamekasan!” ujar Beta seperti menemukan harta karun. “AKU PERNAH DISANA DUA TAHUN, KERJA DI PABRIK GULA!”

Bajingan. Ikbal tiba-tiba langsung mematikan mesin motor. Seperti menemukan satu teman dengan topik paling menarik sedunia. Dan dimulailah sesi curhat jilid dua. Tak ada pilihan lain: nyalakan sejumput tembakau. Busshhhhhhhh!

Malam ini sepertinya akan panjang.

*mengadopsi Martin Suryajaya dalam Kiat Sukses Hancur Lebur, di sebuah bab tentang pecel lele.

(bersambung)

Friday, September 16, 2016

14 Hari Untuk Selamanya (Bagian 2)

merencanakan kegiatan mokel bersama
II.
Welcome To Sidowangi, Baby!

Matahari menyengat tepat di ubun-ubun, menghajar apapun yang ditimpa, kekuning-keningan, silau. Membara. Membakar kepala-kepala yang walaupun terlindung helm berbentuk apapun, tetap akan terasa pening. Dan anjingnya, siapapun tahu ini masih Bulan Ramadan. Tidak akan ada kesempatan untuk menyiramnya dengan Cola, atau Radler macam apapun. Tidak juga soda. Atau teh campur es batu. Bir dingin apalagi. Panas tetaplah panas. Puasa tetaplah puasa. Siang bolong tetaplah neraka. Tiada toleransi tentu saja.

Tapi bagi Hengki, selalu ada toleransi.

“Pantesan maeng sampek kene keri dewe, lah wong mampir mokel sek!” ujar Wiendo, punggawa motor box tambun yang membongkar isi tas kecil Hengki—yang dibawanya selain tas kresek biadab itu—sesaat seusai salat Jumat. Dia menemukan dua buah Sari Roti coklat. Andai saja ini bukan siang hari bulan puasa, Wiendo tidak perlu sungkan dan berpikir lama untuk mencomot dua-duanya sekaligus.

Saya hanya tertawa menelan ludah sembari mendinginkan badan di lantai masjid dusun yang untungnya lumayan dingin.

Bayangan nasi padang dan es teh, tampak di awang-awang...

***

Kami sedang berada di sebuah dusun antah-berantah, dan akan begitu terus hingga 14 hari ke depan. Dusun yang entah, tidak pernah kami bayangkan dalam fantasi atau mimpi. Dusun yang akhirnya kami tahu bernama Sidowangi. Dusun, tempat segalanya bermula.

Kami sampai disini pada Jumat siang, setelah drama hujan badai dan kegopohan. Perjalanan kurang lebih 50 km Surabaya - Mojokerto mendadak membuat saya tidak ingat apakah saya sahur tadi pagi. Saya rasa tidak karena perut rasa-rasanya hanya berisi angin. Untuk urusan perut saya memang masih bisa tahan, tapi untuk urusan kerongkongan, rasa-rasanya air wudhu itu tadi begitu segar untuk diteguk barang sekali atau dua. Tapi saya sudah berjanji terlebih dulu untuk tidak melakukan dosa di hari pertama di tempat KKN—takut apes dan tidak diridhoi. Dan tidak akan melanggarnya atas nama toleransi sekalipun.

Tapi godaan, Ya Tuhan. Entah, tanpa sadar tahu-tahu saja saya sudah berada di sebuah warung kecil pinggir jalan. Dengan segelas es teh gelas besar di depan mata. Bersama si bos besar, perusuh utama di GTA San Andreas dalam versi nyata, Thug Life baby boy: Eko a.k.a Tyo.

Saya hanya niat memesan segelas es teh saja. Sepertinya masih cukup kuat untuk tidak makan sampai berbuka nanti. Tapi Tyo membuat hari bulan Ramadan jadi seperti hari-hari biasa saja.

“Kulo pecel setunggal!”

Bangsat. Dia malah memesan sepiring. Tahu begitu saya pesan juga. Tapi sudah kepalang gengsi dengan bibi-bibi penjualnya. Saya geledah saja isi tas, menyulut tumbuh-tumbuhan yang tinggal beberapa batang. Sementara Tyo makan dengan lahapnya, saya mengasap sendirian. Menyalakan dupa beraroma.

Seusai melakukan aktivitas berbuka sebelum magrib, saya dan Tyo kembali menuju basecamp. Sepatu saya yang basah kuyup kena hujan keparat tadi pagi sempat saya jemur sebelum salat Jumat. Dan sulit dipercaya, sepatu tersebut sudah kering tanpa sisa lembab sedikitpun padahal hanya saya jemur tidak lebih dari dua jam. Keajaiban. Pantas orang zaman dulu sempat beramai-ramai menyembah matahari. Sementara itu, teman-teman yang ada di basecamp terlihat sudah roboh, terkapar dengan mulut memutih dan kerongkongan yang mencekik perih. Balai dusun tempat kami bermalam untuk dua minggu kedepan tidak sempat diperhatikan lebih dalam lagi. Ada lantai dingin, ada bantal tergeletak, persetan tas dan tetek bengek lainnya yang berserakan, langsung saja tiduri demi membunuh lemas dan mata kunang-kunang. Saya saja yang sempat meneguk es sudah sedemikian tidak tahan untuk segera tiduran, apalagi teman-teman yang masih menjaga puasanya. Beberapa anak terlihat masih membereskan barang-barangnya, beberapa lainnya melamun di pojokan, beberapa lainnya sibuk mengutak-atik gadgetnya, beberapa pemalas seperti saya dan Aminul, tentu saja sudah rebah dengan mulut terbuka. Tyo malah terlihat membongkat tas gunungnya, mengeluarkan bantal balon anak pendaki, meniupnya sampai jadi empuk, dan secepat itulah dia pergi ke alam nirwana.

“Kadal, wareg sego pecel langsung tepar!” batin saya.

Kami terbangun tidak terlalu lama dari waktu kami tidur. Dua jam cukup untuk tidur siang, setidaknya bagi saya. Sementara bagi si jangkung yang saya baru kenal beberapa menit sebelum berangkat kesini, tidur sampai hampir mampus sekalipun mungkin tetap terasa kurang. Ikbal, bocah Pamekasan, salah satu tukang pukul jurusan, bajingan tidak tahu adat, pemalas cungkring gemar ngorok yang bisa tidur hampir seharian, mengajari saya trik mendominasi bantal orang.

“Liyane turu bantal siji gawe wong telu, Bajingan Ikbal iki bantal siji diijeni dewean.” Gumam saya. Tentu saja karena Ikbal memencar jauh dari gerombolan tukang tidur, menjauh demi mendominasi gumpalan kapuk.

Badan sudah segar kembali. Tinggal menunggu adzan maghrib dan kita resmi berbuka di desa orang untuk pertama kalinya. Siapa pemegang tampuk kuasa dapur sudah tidak penting: yang penting makan, kenyang dan ‘hidup kembali.’ Tim dapur yang saya tahu adalah Ayuk dan Nila: keduanya sama-sama kurus (atau cungkring, atau langsing? Saya bingung mendefinisikannya), kecil, imut-imut, tapi jadi paling berkuasa atas hidup matinya anak KKN dari siapapun yang berada disitu. Bila keduanya tidak bisa memberi jaminan, serahkan saja pada koki dadakan Wiendo, yang sepertinya sudah teruji dan terbukti dengan badannya yang jumbo: tipikal orang macam begini biasanya ahli urusan perut dan penggorengan. Yah meski tiap hari tempe lagi-tempe lagi. Tempe goreng, siap. Tumis tempe, siap. Orak-arik tempe, siap. Tempe balado, siap. Soto tempe, siap. Soto tempe sodara!

Hari ini tiada kegiatan apapun yang berarti—kecuali permainan tebak-tebak buah manggis dari tim SDM dimana awalnya kalian diberi nama palsu nan busuk (saya mendapat nama Entong entah bagaimana asal muasalnya), disuruh menghafalkan, dan akan tiba gilirannya kamu akan disuruh menyebut nama asli dan nama palsu seluruh temanmu atas nama kekompakan, dan hukuman menyedihkan dicelonteng di muka bila salah menebak: saya seperti sedang berada di diklat pramuka saja—dan untuk itu saya kemudian hanya melihat-lihat dan mengamati seperti apa desa tempat saya berada ini.

Mendeskripsikan Sidowangi agaknya tampak seperti desa pada umumnya saja. Cenderung sepi dan kondusif. Tetangga sekeliling juga tampaknya baik dan welcome, apalagi Pak RT yang tinggal bersebelahan dengan balai dusun dimana beliau sudah turut membantu memasangkan pelindung atap sampai tanjakan parkir khusus untuk kami. Dari balai desa, Dusun Sidowangi tempat kami berada ini dapat ditempuh dengan jarak hanya 5 menit, dengan melewati hamparan sawah tebu nan luas yang sepertinya jadi mata pencaharian utama warga sini. Desa yang kami tempati juga hanya 20 menit saja dari pusat kota, jadinya tidak bisa dibilang terpencil dan bahkan ada loundry kiloan dan minimarket juga. Tak kalah penting ada pom bensin yang menandakan desa ini bukan seperti desa primitif di pedalaman Zimbabwe. Dan yang paling krusial, sinyal, juga tak mengecewakan. Jaringan H+ lancar-lancar saja, cukup ngebut untuk melihat YouTube sekalipun (mengingat saya sering melakukannya karena waktu itu sedang penasaran seperti apa lagu di album terbaru Blink 182 dan The Strokes). Lupakan miss komunikasi dengan pacar karena jaringan desa yang busuk; jaringan disini bahkan lebih dari mampu untuk melakukan Skype. Meski di sehari-dua hari ada gangguan resmi dari Indosat, tapi selebihnya tidak ada, lancar jaya aman sentosa.

Tempat tinggal kami sendiri (atau sebut saja basecamp biar keren) mungkin awalnya terlihat payah. Bayangkan, kami tampak seperti pengungsi yang harus tidur di balai dusun; sebuah ruangan terbuka berbentuk joglo dimana disitulah kami melakukan aktivitas sehari-hari: makan, tidur, rapat, ngelamun, ngerasani, dan lain-lain. Ada tiga ruang tersisa memang di dalam: satu kamar mandi (sepertinya tempat memandikan mayat dimana di dalamnya berisi peralatan dan juga payung jenazah menyeramkan), satu ruang kosong untuk menaruh barang-barang; tas, beras, sandal, sarung, make up, boneka, dingdong, dan lain sebagainya, dan satu lagi ruang untuk tidur, ganti baju dan dandan para perempuan (mengingat hanya dua orang perempuan yang tidur di luar yakni Ayuk dan Manda, sisanya meringkuk di dalam dengan enjoynya). Bisa dibayangkan kami seperti jemaah sekte sesat yang terusir, untuk kemudian tinggal di barak pengungsian dengan seluruh aktivitas tumplek blek di pelataran balai desa. Kita terbiasa untuk tidur dengan nyaman di tempat dimana kita sebelumnya makan dan masak dengan berkotor-kotor ria. Seluruh laki-laki tidur di luar tanpa kecuali (mau dimana lagi). Dengan dua perempuan yang kami kelilingi: Ayuk dan Manda dengan kasur lipat, bantal empuk, dan selimut, sementara kaum lelaki hanya bermodalkan sarung, kadang hanya lantai tanpa alas. Itulah sebabnya mengapa para lelaki jadi kalap dan sering berebut untuk tidur di sisi Ayuk dan Manda: berangkali bisa mencicipi selimut, kasur atau sedikit bantal—atau, ehm, kapanlagi coba tidur di sebelah cewek—kan lumayan.

Tapi entah mengapa saya selalu tidak kebagian jatah. Selalu saja Anugrah, Breng dan Aminul, tiga bajingan beruntung yang kebagian kebahagiaan tersebut. Gerombolan lelaki lain cukup hanya tidur di lantai—kadang beralas karpet kadang tidak—dengan bantal, jika ada—seringkali dengan berbantal tangan sendiri atau pantat teman. Dan mau tak mau kami harus menyusun rencana demi kemaslakhatan dan kesejahteraan bersama.

Dan, Fitra, ceblong murah senyum, teknisi mesin keparat, tukang tertawa cekikik dengan nada paling menghina ini, membuka jalan kesejahteraan itu.

Problematika utama tidur di luar adalah udaranya yang dingin. Apalagi saat hujan turun di malam hari. Tanganmu serasa beku. Telapak kakimu mati rasa. Dan, ehm, kamu jadi ingin kencing melulu. Bangsat. meskipun sudah ada jaket tapi toh sama saja, dinginnya bak bandeng presto, menembus melunakkan tulang. Lucky bastard Anugrah, Aminul dan Breng masih cukup beruntung karena tidur mereka selalu mengelilingi para perempuan yang dengan begitu mereka masih kebagian hangat—dan sensasi bobo sama gadis. Tetapi 76% lelaki tetap akan menyumpah serapah dan memaki betapa bangsatnya udara, dan menyesali kebodohan kenapa tidak membawa selimut atau tenda saja saat berangkat.

Di saat situasi macam itu, saya kebetulan mendapat satu panggilan masuk, yang membuat saya terpaksa harus bangun dan mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol sekaligus ngudud. Di luar sungguh bajingan, terlalu dingin untuk tidur apalagi untuk telfonan. Saya memutuskan memasuki ruangan dimana tempat penyimpanan barang berada. Tempat yang penuh sesak oleh barang gawanane arek-arek. Penuh tas, koper, beras, elpiji, cucian kotor, sampah, dan lain sebagainya. Saya tertegun sejenak. Sesosok jin tomang dengan mulut terbuka, tergeletak tepat di depan mata saya.

Naaah, yoikiiiiii sing digoleki...

Ternyata itu adalah Fitra yang sedang tertidur dengan pulasnya. Berbantal tas, berselimut sarung-sarung yang bergeletakan, di tengah udara ruangan yang tentu saja cukup hangat dibanding salju di luar. Pintar juga ini musang, pikir saya. Ide bagus. Brillian. Meski kaki-kakinya menyerobot barang-barang anak-anak, ah tidak peduli, yang penting hangat dan nyaman.

Dan, setelah itu kami mengenal ruangan itu sebagai kandang macan. Ruang tidur lima orang begundal yang ogah merasakan dingin dan gaduh di luar. Tidak pernah ada yang tidur di dalam selain kami: saya, Fitra, Hengki, Tyo dan Ikbal; gerombolan penolak dingin, para pemuda menye yang butuh belai kehangatan, sekumpulan jablay haus kasih sayang yang tak pernah dapat kesempatan ‘bobo sama gadis.’

Kamar baru nan nyaman untuk dua minggu ke depan sudah ditemukan. KKN ini sepertinya akan terus berlanjut.

Welcome To Sidowangi, Baby!

penghuni tetap kandangxmacan
yoiki
(bersambung)

Tuesday, August 30, 2016

14 Hari Untuk Selamanya (Bagian 1)

rundown perdana di hari jumat: tepar!
I.
Jumat Keparat

Jumat pagi dengan suhu kurang dari 30 derajat celcius. Bisa apa selain meringkuk di kasur sembari—mungkin—mengigau tentang KKN dimana hari ini adalah keberangkatannya. Untung saja keberangkatan yang hanya kurang sejam lagi ini tidak menjadi mimpi buruk—secara harfiah. Jadi nikmati sedikit waktumu di kos sebelum berpisah selama dua minggu ke depan. Saya akan makin erat memeluk guling jika saja seorang bernama Nila tidak menelepon di pagi dimana sang surya saja enggan untuk menampakkan diri.

“Tito, Halo? Bisa ikut upacala nggak hari ini? Sekalang, kutunggu di rumah ya!”

Sial. puluhan kali mengucek mata tetap tidak bisa menguasai keadaan. Air putih, mana air putih. Mungkin butuh seteguk baru bisa konsentrasi. Karena setelah itu saya sadar bahwasanya saya menghadapi Nila dalam kondisi setengah sadar: mungkin hanya kata 'upacala' dan ‘sekalang’ yang bisa membuat saya sedikit ngeh bahwa yang mengontak benar-benar si cadel ini.

“Hey! Halo! Tito! Kamu sadal nggak sih ini?”

Anjing. Ternyata sudah pukul enam kurang. Dan matahari masih belum membias di jendela. Tumben. Mungkin hari mendung. Sebenarnya saya sudah sempat sadar antara beberapa menit yang lalu: saat bocah-bocah kos berpamitan untuk upacara pembukaan KKN. Pagi benar mereka berangkat, pikir saya. Sedangkan saya, pemalas yang tak kebagian ikut upacara, santai-santai saja: mungkin berangkat agak siangan. Lagipula semalam grup BBM—yang khusus berisi kawan-kawan KKN—sudah ramai: kami belum mendapat topi (sebagai atribut wajib upacara), dan itu berarti kami tidak wajib upacara. Disepakati, disetujui oleh ketua dan beberapa kawan bahwa besok kelompok kami tidak menghadiri upacara, dan akan berangkat bersama-sama menuju tempat KKN sehabis upacara, yang itu berarti tidak perlu pagi-pagi benar.

Tapi telfon dari Nila dan nada pemberitahuan BBM yang deras membuat saya semakin sadar bahwa handuk sudah tak perlu lagi diraih dari jemuran. Bahkan mandi sudah tidak penting. Setelah beberapa tegukan Aqua, saya sadar-sesadar-sadarnya untuk segera menjemput Hengki: dia wakil ketua, orang penting di dalam kelompok, dan mungkin tidak bisa bangun pagi hari ini. Tugas saya membangunkannya secara mendadak. Ya, mendadak. Grup membuat keputusan tiba-tiba setelah mendapat info yang entah darimana rimbanya: boleh tidak memakai topi saat upacara. Semua tergopoh. Semua berjingkat. Yang ditugaskan ikut upacara pun menjadi fleksibel: siapa yang bisa berangkat boleh ikut. Termasuk pemalas seperti saya yang jika saja tidak ditelfon oleh Nila, masih meringkuk di bawah selimut kedamaian kasur.

Hengki saya jemput setelah saya PING!!! Tiga kali berturut-turut. Dan ditengah carut-marut, saya yang juga belum packing dan mandi menunggu Hengki di depan kosnya dengan perasaan amburadul. Grup semakin gaduh. Upacara sekitar sejam lagi. Hengki sialan entah berada dimana—apa buang air memakan waktu begitu lamanya. Hingga ia muncul di depan pagar kosnya. Tanpa tas. Tanpa sesuatu yang secara harfiah bisa digunakan untuk membawa barang saat bepergian. Tanpa rasa malu. Tanpa ekspresi. Hengki membawa kresek loundry, dan disitulah semua barangnya berada.

“Temenan ta arek iki KKN mek sangu kresek?” batin saya dalam hati.

Tapi saya sudah tidak mampu melanjutkan kata-kata lagi. Mungkin Hengki sudah menitipkan barang-barangnya di rumah Nila (yang ternyata tidak dan Hengki benar-benar KKN hanya bermodal kresek bekas loundry, he’s really live a thug life). Hengki segera saya ajak menuju kos saya. Gantian. Dia yang menunggu saya packing dan cuci muka sebentar. Jumat sesejuk ini sungguh tega membiarkan saya berangkat KKN tanpa mandi dan buang air—tidak seperti kebiasaan umum bahwa saat berangkat orang mestinya kudu ganteng, harum dan memiliki sex appeal tinggi.

Dan akhirnya tanpa banyak doa dan nuansa duka akan menghadapi dua minggu di desa orang, saya berangkat. Jalanan menjadi agenda kami selanjutnya. Hengki memegang alih kemudi motor saya yang dalam sekali sentak, sudah berada di titik krusial dimana motor seharusnya dipacu lebih dari 60 km/jam. Saya pikir Hengki tahu kita akan berkumpul dimana.

Ternyata tidak.

“Lho, nangndi Heng! Bukane kumpul di rumah Nila sik, terus berangkat bareng-bareng?” Ujar saya saat Hengki mulai melewati tempat dimana seharusnya meeting point kelompok berada.

“Lho aku langsung cus Mojokerto iki! Kumpul omahe Nila sik ta?” Hengki bertanya seperti kesetrum.

“Yo iyolah mbut!” saya mengumpat lagi sambil mengiyakan.

Sambil menahan dongkol, Hengki berputar-balik. Kami sampai di rumah Nila sebelum berjalan terlalu jauh. Disana sudah ada Anugrah, si ketua, dan tentu saja Nila, si empunya rumah.

“Ngenteni sopo?” tanya saya. Itu karena waktu menunjukkan titik dimana keputusan untuk segera berangkat sudah saatnya dilakukan.

“Sik diluk, To! Nunggu Aminul sama yang lain. Fitra juga.” Ujar Anugrah. Matanya terlihat mengantuk—oh apa karena dia sipit? Dan beberapa saat kemudian si bajingan Fitra memamerkan gambar mobil di grup; entah mobil siapa dan kami tentu saja tidak peduli. apa-apaan?

“Woy, cuk!” terdengar sapaan dari dalam rumah. Saya tidak melihat si penyapa, tapi dari kadar suaranya, itu adalah suara-suara yang hanya dimiliki oleh biadab tak tahu sopan santun.

Sulit menduga bahwa ada salah satu bromocorah di kelompok KKN saya. Eko Setyo Budi, mahasiswa teknik mesin sandal jepit dengan tinggi badan amat proporsional, ternyata sudah disitu terlebih dahulu. Entah sembunyi dimana dia sampai tiba-tiba bisa datang. Saya memanggilnya Eko sebelum tahu bahwa ia tidak mau dipanggil Eko.

“Dia nggak mau dipanggil Eko. Maunya Tyo!” ujar Anugrah sambil tersenyum saat rapat di rumah Nila beberapa waktu silam. Ada nada prihatin dari senyumnya. Saya tidak bisa berkomentar.

Oke baik, jadi keadaan di rumah Nila dalam posisi aman terkendali. Tinggal menunggu beberapa orang lagi dan kemudian berangkat ke Mojokerto—tempat KKN kelompok kami—dan langsung ikut upacara. Tapi Jumat, lagi-lagi membuat gempar. Hujan, tiba-tiba turun dengan derasnya.

“Coookkkkkkk udan faakkkkkkk!” saya mengumpat lagi.

Keparat. Sama sekali tidak barokah dan bahkan beberapa teman berkomentar: ‘KKN yang tidak diridhoi’. Tapi saya lebih kepada kenapa harus hujan di pagi sesakral ini: padahal hari sebelum-sebelumnya belum pernah turun hujan di pagi hari. Cobaan hari pertama KKN berupa air bah turun dari langit: siapa yang menyangka kehendak Mikail. Dengan hujan yang tidak tanggung-tanggung, seperti tumpah ruah dari angkasa, kita tidak mungkin melawan badai dengan hanya bermodalkan jas hujan. Sneakers saya bisa basah. Itu haram hukumnya. Setidaknya dalam kitab tak resmi Conversehead abal-abal.

Tidak ada pilihan lain selain menunggu. Saya mengikuti Eko, ehm maksud saya, Tyo, menuju lantai dua. Jadi rumah Nila juga dihuni sepupu cowoknya yang berkamar di lantai dua. Kebetulan sepupunya adalah teman sekelas Tyo (dan untung saja tidak sama belelnya). Ada televisi dan kasur: pilihan yang sulit, tapi saya memilih rebahan saja. TV kemudian disetel oleh si empunya ruangan: berita bola yang sama sekali tidak terdengar karena hujan turun begitu jancuknya.

Tiba-tiba Wisnu, kawan KKN yang sudah ada di Mojokerto lebih dulu, mengontak saya.

“Piye, Bro! Wis budal durung?” tanyanya.
“Hujan badai, Pakdhe! Dueres!” jawab saya.
“Lho, mosok? Ndek Mojokerto terang-benderang bos!” timpal Wisnu seperti melupakan teritori, letak awan, curah hujan, takdir, dan penugasan Malaikat Mikail.

Sementara itu, beberapa kawan yang mau berangkat juga akhirnya batal.

“Arep berangkat bos entas, eh udan, deres. Nunggu redaan syek!” Aminul, ceking afro ini juga menguhubungi saya.

Saya hanya bisa membalas kira-kira dengan kata yang berkonotasi sama: santai, tenang, woles, selaw, calm, and whatever that have the same fucking meaning. Tapi apa yang saya balaskan itu sepertinya tidak berlaku karena tiba-tiba Anugrah berteriak dari depan pintu.

“Sepatunya siapa rek di depan! Basah!”

Anjing! Anjing! Anjing!

Dan cobaan kedua dari Jumuah keparat ini terjadi sudah: sepatu saya basah sebasah-basahnya.

Yakin ingin melanjutkan KKN?

(bersambung)

rundown kedua hari jumat: tepar!
*judul dicomot serampangan dari judul film mbak Adinia Wirasti, 3 Hari Untuk Selamanya.

The Strokes – Future Present Past (EP): Empat Lagu Tanpa Banyak Kejutan


Julian Casablancas—atau Jules—seperti tidak banyak berubah sejak Is This It (2001) menyeruak ke permukaan dan mengubah tatanan rock dunia. Ia bersama empat temannya yang tergabung dalam The Strokes bertanggung jawab penuh atas ramainya kembali garage rock 60-an yang sudah lama padam ke seantero dunia. Grunge mati di tahun 1994, dan penggantinya hadir di era 2000-an: indie rock yang mengembalikan fitrah rock and roll pada kekuatan drum, gitar, bas, vokal, alkohol 5% ABV, dan linting tembakau merah. Era itu tentu saja sudah berlalu: lihat saja sekitar. Tapi Jules, masih saja tampil dengan potongan rambut, gaya, suara cuek dan kostum yang sama. Meski sudah terhuyung-huyung di dua album terakhir: Angles (2012) dan Comedown Machine (2014) yang seolah menandai kemunduran The Strokes – di banyak review negatif yang ditulis tentang kedua album ini – mereka masih betah bermain di ranah ini. Dan akhirnya, di tahun ini setelah melewati banyak isu dan masalah internal, mereka menelurkan Future Present Past dalam bentuk EP. Empat lagu, dengan satu lagu versi remix, yang dirilis oleh Cult Records (setelah sebelumnya RCA). Future Present Past seperti tidak berusaha atau bersusah payah menjadi seperti Is This It, Room On Fire, dan First Impression On Earth: tiga album awal The Strokes yang sangat dipuja-puji khalayak. Di track pertama Drag Queen, itu saja kadang masih terdengar membingungkan pada awalnya. Dengan efek gitar yang mengawang, juga vokal Jules yang amat sangat cuek dengan gaya vokal perokok alkoholik yang malas bernyanyi, membuat butuh lebih dari sekali untuk menikmati lagu ini. Mungkin The Strokes tidak menghasilkan banyak kejutan; seperti menjelang akhir lagu tampak ceracau vokal bak anak-anak pengidap cacat mental bernyanyi dengan sengaknya. Atau pada Oblivion dimana gitar Nick Valensi (yang dikabarkan juga akan segera membuat proyek baru) dan Albert Hammond Jr. (sudah membuat proyek baru yang kurang sukses) kembali saling mengisi dan tumpang tindih. Single perdana yang dilempar Threats Of Joy mungkin yang paling mendekati The Strokes yang sempat menjadi kesayangan semua orang di era awal: memakai banyak lick-lick klasik dan tentu saja beratmosfer 70-an. Track terakhir adalah Oblivion versi remix: entah mengapa kami rasa ini tidak perlu terlalu banyak ditulis karena kami trauma dengan Jules dan instrumen remix; seperti saat ia berduet dengan Daft Punk di Random Access Memories, atau di proyek aneh Julian Casablancas and The Voidz. Kami mungkin belum sepenuhnya mendengar influence mereka seperti misal The Velvet Underground atau Television—kesemuanya punk avant garde yang makin kesini dianggap cult dan jenius. Tapi dengan mendengar The Strokes di album ini saja kami sudah bisa menebak bagaimana musik yang dimainkan oleh influence mereka: rock purba dengan formula sederhana, cenderung cult, tak tertebak, namun tetap punya hulu ledak berbahaya.

versi edit dari ronascent webzine bisa dibaca disini