di semesta yang entah. di bumi yang entah. di kehidupan yang entah, seorang manusia biasa-biasa saja sedang melamun parah di balkon rumahnya. ia tidak tahu harus menunggu siapa lagi setelah hujan yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. ia membayangkan peti mati dan kematian, bau busuk mayat-mayat katak dan tempurung-tempurung neraka. pikirannya kalut. kedamaiannya terusik. hujan tidak menyembuhkan apapun yang ia rasa. balkon rumahnya serasa pahit dan berisik. hujan turun menggebuki atap. membunyikan suara-suara cacian tanpa henti. membuat ia membutuhkan buku-buku psikologi. membuat ia membutuhkan campuran malt dan ethanol. tembakau dan kebohongan. jamur tahi kerbau dan kedunguan.
ia telah menamatkan seluruh koleksi film tarantino. dan tinggal tunggu waktu untuk mengulang-ulangnya lagi di tengah kepedihan. dan jadilah dia kegilaan yang payah. ia telah puluhan kali melihat vincent vega, django, sampai pembunuh-pembunuh bodoh nan keji di hateful eight. ada kegembiraan yang terus menerus membesar setiap kali melihat adegan-adegan penjahat menembak muka penjahat lain sampai meledak isi kepalanya. ada kepuasaan yang tidak terlukiskan saat uma thurman menghabisi samurai-samurai brengsek di kill bill dan menyiksanya seolah kiamat sudah terjadi. ada gerak lambat di otaknya saat menyimak seluruh caci maki samuel l. jackson yang dilempar lewat ceramah dan obrolan tidak penting dengan sumpah serapah paling kasar dan terkutuk, nyaris dalam semua film-film nigger quentin tarantino. ada gangguan dalam hidupnya yang membuatnya harus terus menurus menonton tarantino, berulang-ulang, terus-menerus.
dan malam ini, entah kebetulan apa yang mempertemukan saya dengan dia. tepat saat dia sedang keluar dan mendorong pintu minimarket dengan empat botol bir dingin di tangan kanan dan kiri. bir yang kemudian kami tenggak semalaman. dan dia menceritakan ulang seluruh kisah kelam hidupnya sejak lahir. tambahan dua botol bombay saphire. dan kita mampus seharian di sofa tengik dalam apartemen miliknya. seperti yang bisa dibayangkan, cerita tentang kepedihan tidak afdol bila tidak ditemani musik-musik pembangkit arwah kubur. musik-musik sensitif yang bisa membuat nyaman sekaligus panik. musik-musik hiburan tengah malam bagi jiwa yang tumpul dan tidak ada hal yang lebih bagus untuk dilakukan selain mabuk keparat.
"putar morrisey kawan!" pintanya saat aku sedang menyusun file-file lagu yang berantakan di komputer tuanya yang nyawanya tinggal separuh.
"there is a light that never goes out!" saya berteriak sekencang mungkin saat menemukan lagu tersebut.
"itu the smiths, bodoh!" jawabnya.
dan kemudian tersusunlah sepuluh puluh lagu pilihanku, yang kesemuanya berputar semalaman, terus berulang-ulang, sampai pagi hanya tinggal menyisakan sisa-sisa alkohol yang berceceran, abu rokok menggunung, dan sisa dedaunan yang kami tak tahan untuk tak mengusiknya di dalam lemari penyimpanan. kita tidak bosan-bosannya menyimak lagu-lagu indah. walapun kesemuanya cuman tujuh buah.
1. The Smiths "There Is A Light That Never Goes Out"
aku menyimak ceritanya sambil terus mendendangkan lagu ini di otakku. pengaruh sapphire, ya ampun. dia hampir tersedak kacang dan asap marlboro di ujung ceritanya, dan kemudian memaki, johhny marr bangsat. entah kenapa marr yang dimaki dan bukannya morrisey. tapi setelah itu, dia kembali tenang, menyesap bir pelan-pelan, menikmati reff lagu, yang seakan rela mendekap kesedihannya selamanya.
2. The Smashing Pumpkins "Disarm"
ia kemudian mengajakku bermain catur. aku berkata "aku lelah, kawan. aku akan mendengarkan ceritamu saja." tapi ia seperti sudah menyudahi ceritanya. ia tidak ingin bercerita lagi mengenai perempuan brengsek yang membuat hatinya tergores-gores pecahan kaca. aku paham. kita paham. rokok terus menyala. kami terdiam. billy corgan, malam ini, terdengar begitu pilu. dia tak kuasa menitikkan air mata. aku menyediakan dekapanku. juga bir dingin yang baru terbuka.
3. The Doors "Light My Fire"
"kita kembali ke morrison, kita kembali ke morrison!" ujar dia. aku maklum. kita semua sudah biasa menyebut nama tuhan. bersama-sama. sambil mengumpat dan tertawa. sambil melamun dan bersedih. "tapi aku sedikit meragukan ketuhanan morrison di lagu ini," ia tiba-tiba memotong. "bagaimana bila ternyata tuhan yang sebenarnya adalah ray manzarek?" aku melamun. masuk ke dalam lorong manzarek. begitu tua dan menyedihkan bunyi tuts itu.
4. The Corrs "All I Have To Do Is Dream"
ia bercerita tentang mimpinya, mimpi masa depannya, bersama margareta. "aku ingin memiliki rumah di pegunungan, dengan kopi yang kutenggak setiap pagi, adalah hasil petikan sendiri di kebun kami tiap sore hari." aku tidak dapat menahan gejolak mataku. saat menceritakan itu semua, dia seperti mengawang. jauh. gunung itu berada di pelupuk matanya. dream, dream, dream. keluarga corr mengawal itu semua dengan halus. dan semuanya menangis.
5. The Beatles "With A Little Help From My Friend"
aku kemudian yang menyeka air matanya. mengusap dengan sisa sapu tangan yang kupunya. dia sahabatku. aku tidak akan membiarkannya sendiri. bahkan aku akan menangis semalaman, bila perlu. hanya ini bantuan kecil yang bisa aku berikan. hanya ini bantuan yang bisa aku berikan, sebagai sahabat.
6. Silverchair "Ana's Song (Open Fire)"
dia membelalakkan mata. dia tidak boleh sekalut ini. dia kemudian tertawa keras. memuji-muji australia. "aku muak grunge di luar seattle, tetapi aku bisa jatuh cinta pada lagu ini." aku terbahak. begitu cepatnya dia terbahak. apa kami menenggak semuanya terlalu kencang. saya kira tidak. dia baru saja menyuruh saya membongkar isi lemari. dan waktunya dedaunan. kami memaklumi semuanya. botol baru sudah dibuka.
7. Joy Division "Atmosphere"
matanya memerah. aku rasa aku juga. jam dinding sudah tidak jelas menunjuk pukul berapa. kesedihan sudah berlarut. dalam film control (2007), aku ingat ian curtis gantung diri dan setelah itu lagu ini mengalun. ian mati di usia 23 tahun. usia kita saat ini. sejurus kemudian kepalaku serasa pengar. amat pengar. bergemericik suara botol obat-obatan di meja. saatnya berbuat onar. tenggak sekaligus.
dan usailah...
Sunday, November 20, 2016
Tuesday, November 8, 2016
Playlist Minggu Ini
Tidak banyak lagu yang saya dengar minggu ini. kebanyakan
lagu dari album-album yang itu-itu saja. memang ada juga yang baru, tapi tidak
bisa dibilang baru juga karena sebenarnya itu band atau album lama, hanya saja
saya yang baru tahu. Berikut—dengan tendensi pamer tingkat tinggi tentu saja,
seribu persen ujub dan riya’—saya bagikan playlist saya khusus berisi lagu-lagu
yang saya baru tahu dan langsung suka.
1. Banda
Neira – “Derai-Derai Cemara” (1949,
Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)
Selalu ada
hari dalam seminggu dimana saya akan bangun dengan kebingungan, bertanya-tanya
dimanakah ini, karena malam sebelumnya sungguh melelahkan, atau jika tidak
begitu mungkin kebanyakan konsumsi ethanol atau mabuk lem kayu. Dan minggu ini
saya bangun pukul delapan lebih sepersekian menit di sebuah tempat
antah-berantah, dan di samping saya adalah Mas Abu Wafa, sastrawan penyair
kebanggaan kita semua. Segera saja saya mengingat-ingat—dan kadang ingatan
memang sungguh payah—bahwa Sabtu malamnya saya memang bersama Mas Wafa nonton
Scaller dan UTBBYS (oh nama band ini sungguh panjang makanya disingkat), di
Marvel City, dan kemudian cangkruk di Klutik sebentar, dan kemudian karena
terlalu malas pulang ke kos dan waktu itu kebetulan sedang tidak bawa kunci
gerbang, saya menginap di kosan Mas Wafa yang jalan masuknya mirip kandang
celeng. Tidak ada parkiran, geletakkan begitu saja motor di depan gang, maling
pun ogah menjelajahi tempat macam begini (letaknya di gang bernama gang buntu).
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Mas Wafa, memang beginilah adanya,
sebuah bronx yang pertama kali saya jumpai di Lidah Wetan. Masuk ke ruangan
kamar Mas Wafa untung saja mendingan dan ya, tipikal kos-kosan mahasiswa sastra
dengan banyak buku menumpuk sana-sini, koran-koran minggu dikliping di tembok,
lukisan absurdisme, kutipan kata-kata bijak entah Sapardi atau Yesus, intinya
ya begini ini kamar sastrawan. Saya sudah memesan buku Cara Menghitung Anak
karya Abu Wafa dan kini berkesempatan bermalam di tempatnya menggodok karya.
Warbiyasah. Satu hal yang ekletik dari kamarnya selain banyak sekali buku—dan
kebanyakan belum dibaca—adalah sound system yang langsung diputar begitu kami
memasuki ruangan. Dan itu mengalun terus, tiada pilihan lagu, flash disk itu
tertancap disana, memutar mulai dari lagu-lagu pop kekinian sampai Efek Rumah
Kaca (seingat saya, saya tertidur sesaat setelah eksekusi lagu Menjadi Indonesia yang sungguh
menggetarkan itu). Besoknya setelah bangun, melamun, dan mengambil udud, saya
mendengarkan alunan folk, sayup-sayup, dan kemudian Wafa yang masih tidur
seketika bangun, mengucek mata, dan seperti kebiasaan lulusan sastra pada
umumnya, langsung bergairah mendengarkan karya sastra. “Enak lagu iki,
musikaliasi puisine Chairil Anwar, iki lho tak dudui,” saya masih melompong
kosong dan Wafa sudah bergerak menuju lemari, mencari buku, ketemu, dan
diberikan pada saya. Aku Ini Binatang Jalang, kumpulan puisi Chairil Anwar.
Saya membuka halaman yang ditunjuk Mas Wafa, puisi berjudul Derai-Derai Cemara,
dengan salah satu bait yang membuat saya langsung melek: hidup hanya menunda
kekalahan. “Iki lagune Banda Neira, aku kadang nangis ngerungokno iki.” Saya
kembali melompong, melamun. Saya tidak pernah benar-benar menghayati puisi
Chairil, hanya baru kali ini. Ditunjang musikalisasi yang sungguh, memang agak
sedikit seperti nyanyi-nyanyi sedih (ya seperti suasana pusinya kan begitu).
Dan ini saya bawa sampai pulang, lagu ini, puisi ini, entah kenapa benar-benar
membekas. ‘Hidup hanya menunda kekalahan,’ anjing, kalimat yang sungguh,
benar-benar mendalam jika dipikirkan.
‘Sebelum pada akhirnya kita menyerah.’ Dan di saat itulah, saat hampir menuju
klimaks itulah, suara vokalis Banda Neira (saya kurang mengerti namanya yang perempuan),
seperti sesenggukan, atau menghembuskan nafas panjang. Mendalam. Momen terbaik
lagu ini ada pada menit 6:21, saat suara nafas itu betul-betul menandakan akhir
Derai-Derai Cemara, yang menyerah, secara elegan.
2. Barefood
– “Deep and Crush”
Yang saya
tahu Barefood adalah unit alternative rock dari Jakarta, dan sempat menontonnya
di televisi bobrok kos-kosan saat mereka main di acara Taman Buaya Beat Club
TVRI. Tentu saja mengecewakan karena TV yang busuk, antenanya pun juga bejat.
Jadi yang terdengar hanya bunyi kemresek anjing dan gambar yang pecah-pecah.
Jingan! Dengan terpaksa saya mengganti channel ke Tukang Bubur Naik Haji—ya
tidak apa-apalah yang penting bening daripada nonton semut moshing kemresek
fak. Lagu ini kemudian saya dapat dari download gratisan secara tidak sengaja,
dan saya mendengarnya agak seperti... apa ya, pokoknya saya pernah dengar yang
macam begini. Bukan Nirvana, bukan Pearl Jam, meski saya tahu pengaruh mereka
dari sana, tidak jauh-jauh dari 90’s. Ini terdengar lebih cuek dan terasa
seperti Slank, atau... o yaa, /rif. Suaranya mirip Andy /rif. Sialan. Lagu ini
mantap juga didengarkan, tidak kencang-kencang amat dan cocok untuk pencinta
rock kelas medium seperti saya. Bagi anak-anak band pemula yang bingung cari
referensi dan ingin tetap terdengar keren, dengar saja Barefood lalu cover. Ya,
setidaknya daripada Nirvana lagi Nirvana lagi.
3.
Christabel Annora – "Sunshine Talks"
Lagu ini
menurut penafsiran pribadi saya terasa seperti Terminal Arjosari pukul tujuh
pagi, saat matahari mulai terasa, dan kegiatan warga Kota Malang mulai
berjalan. Saya mendapat kopi review album Talking Days dari Ronascent, dan
betapa terkejutnya saya bahwa Christabel ternyata arek ngalam sam. Mau tidak
mau, ini mengembalikan memori saya tentang Malang saat mendengarkan Talking
Days. Jika di lagu ini bicara tentang Arjosari di pagi hari (menurut nuansa
yang saya tangkap), maka di track pembuka Early Reflections, ini seperti
mengajak saya kembali ke masa kecil, di daerah Bumiayu, Kabupatan Malang, saat
Ibuk masih berkuliah disana, dan saya belum genap dua tahun. Sungguh memori
yang membahagiakan, dan agak melankoli nggak sih? Tidak peduli, yang pasti saya
menantikan kedatanganmu di Surabaya mbak. Yuk kita nyanyi bersama sambil
diiringi hujan. Saya pernah mendengarkan Frau, tapi kayaknya Christabel ini
lebih masuk feelnya menurut saya. Meski sama-sama memakai keyboard dan vokal,
gitu doang.
4. Efek
Rumah Kaca – "Jangan Bakar Buku"
Selalu ada
jalan untuk menyukai Efek Rumah Kaca. Perlahan-lahan. Tidak perlu terburu-buru.
Tidak perlu dipaksa. Saking indahnya. Kamu mungkin akan kebingungan
mendengarkan lagu macam begini untuk pertama kali, tidak usah dipaksa. Biarkan
saja. lama-kelamaan kamu akan mendengarkannya lagi, dan merasa lagu ini begitu
indah. Itu memang efek dari Efek Rumah Kaca. Saya tidak bisa menyukai band ini
cepat-cepat, dan saya biarkan saja menemukan jalannya sendiri. Pun lagu ini,
Jangan Bakar Buku, yang selalu saya lewati saat memutar Kamar Gelap, entah,
karena begitu muram, dan belum sesuai mood, atau lagu lainnya yang begitu indah
dan ingin segera diputar. Intinya saya biarkan dulu, entar lama-lama pasti akan
didengarkan tanpa sengaja, dan bisa jadi akan suka. Saya selalu begitu di
seluruh lagu Efek Rumah Kaca yang tidak terlalu terkenal (bahkan di lagu yang
jadi lagu wajib dan hits seperti Desember atau Cinta Melulu pun kadang masih
begitu). Nyatanya, benar-benar indah. Efek Rumah Kaca, benar kata Rolling
Stone, adalah salah satu band paling penting yang pernah berdiri di dekade ini.
5. Katy
Perry – "Teenage Dream"
Katy Perry
adalah bentuk kesempurnaan seorang perempuan. Anda harus banyak melihat
foto-fotonya di Rolling Stone Amerika Serikat jika tidak percaya. Tapi lepas
dari itu, ada satu lagunya yang menurut saya asyik sekali untuk didengarkan di
waktu sedang sumpek: ‘we young forever!’ kata dia dalam Teenage Dream yang
tidak norak dan mengumbar banyak EDM overrated. Menit favorit adalah
menit-menit awal lagu: suara Katy Perry bercorak khas sekali, sengau-sengau
cantik, duh. Kemungkinan besar history YouTube saya akan kembali lagi search
tentang mbak satu ini.
6. Scaller –
“Dreamer”
Track kedua
dari EP 1991 yang rilis tahun 2013. Fak mengapa saya tidak tahu ada album
sebagus ini. Selain Live And Do yang jadi hits, lagu ini juga tak kalah
menarik. Bercerita tentang orang yang pengen jadi ini-itu, dalam konteks
hubungan, pengen jadi istri, pengen jadi sesorang yang nggak bisa ditinggalin,
tapi nyatanya dia cuman pemimpi dan nggak bakal nyata. Gimana dong? Stella
Gareth dan Rene Karamoy menjawabnya, masih dalam penampilan minimalis ala-ala
alternative rock, dan belum mengumbar synth seperti The Youth, single mereka
yang rilis tahun ini.
7. Sonic
Youth – “Bull in The Heather”
Tidak usah
banyak deskripsi. Band legendaris dalam kamus hidup anak-anak noise atau
sejenisnya. Band ini saya baru dapat album the best nya. Cukup seru buat
didengarkan, meski kawan-kawanmu akan memaki jancok band opo iki, lagu opo iki
cok. Padahal nggak berisik. Temponya lambat. Dan memang cukup ganjil sih. Tapi
keganjilannya yang bikin ketagihan. Nikmat.
Tuesday, November 1, 2016
Jejak Sang Begawan
Langsung dari
Pulau Dewata, begawan tata bahasa Unesa mengungkapkan sejumlah besar
rahasianya. Betapa hidup memang serba kebetulan dan penuh perjuangan: Diding
Rohaedin bercerita apa adanya dibalik balkon hotel kelas melati. Oleh Tito Hilmawan Reditya
Perawakannya kecil. Tubuhnya agak tambun.
Kumisnya tipis-tipis. Tatapan matanya lurus-lurus saja. Bijaksana ia dari
bahasa dan gaya bicara. Asli Jawa Barat, Bandung tepatnya. Menetap di Surabaya
lebih dari tiga puluh tahun. Begawan bahasa Unesa yang paling banyak malang
melintang mendampingi penelitian mahasiswa di luar pulau: Diding Rohaedin.
“Rokok sekarang berapa harganya?”
Ia bertanya
sesaat setelah mengamati bungkus rokok putih Lucky Strike yang berserakan di
meja. Kami berada di balkon salah satu hotel kelas melati dekat stasiun Ubung,
Bali. Duduk berdampingan menatap apapun yang terhalang pohon dan bangunan Pulau
Dewata yang tak pernah terlalu tinggi itu. Hanya dibatasi meja.
“15-ribuan, Pak.” Saya menyahut. Pecandu
Indomaret lain juga tahu akan hal ini. Kecuali penggemar eceran, Indomaret dan
15-ribu untuk sebungkus rokok sudah jadi tabu.
“Bapak nggak ngerokok?” Saya bertanya.
“Hahah, saya nggak ngerokok.” Ia
melanjutkan. Ceritanya straigt edge lifestyle.
“Dulu, jaman dulu sekali saya pernah ngerokok,
iseng aja itu. Di dalam kereta waktu itu temen-temen saya banyak yang ngerokok.
Ah, saya pikir daripada saya hanya menghirup asapnya saja, mending saya
ikutan.” Kenangnya.
Di jaman dulu rokok yang sedang nge-hype adalah merek kretek dari
Djarum, bukan rokok mild murah dengan kemasan ngejreng yang digemari muda-mudi.
“Kretek itu saya coba. Enggak kuat saya, rasanya
merokok kok seperti ini. Nggak enak, jadinya saya nggak pernah merokok setelah
itu.”
Acap kali yang keluar dari mulut Pak Diding beda
jauh dengan apa yang ia ajarkan dalam kelas. Tata bahasa baku, kalimat
sempurna, morfologi, fonologi, morfem dan apa itu namanya yang mungkin hanya
dihafal mahasiswa tingkat akhir yang mengambil tema kebahasaan dengan buku
diktat setebal kitab Sun Go Kong. Tapi saat perbincangan, tak pernah ada
hal-hal kaku membosankan semacam itu. Pak Diding adalah tokoh fleksibel yang
mudah kita ajak bicara. Layaknya teman-teman lama yang kita temui saat
nongkrong di warung kopi sederhana tepi jalan. Enjoy, rileks, menyenangkan.
Tiada batas dosen-mahasiswa. Begawan-medioker. Berumur-masih hijau. Sekat itu
meluntur sejak awal perbincangan.
“Dji Sam Soe juga dulu banyak yang suka. Banyak
yang ngerokok itu.” ujarnya.
Beliau juga paham menjelaskan bahwa Dji Sam Soe
adalah rokok tanpa filter. Sementara kebanyakan merek rokok memakai filter.
“Itu pasti rasanya beda.”
Dari beberapa kamar di sebelah yang sebagian
berisi mahasiswa Unesa yang besoknya akan menuju daerah Penglipuran, Bali untuk
melakukan penelitian, saya dan Pak Diding kembali berbincang. Kemeja flannel
saya masih menggantung, dan beliau hanya memakai singlet putih. Kegerahan.
Hotel kecil yang saya tempati tak memberi dampak kebahagiaan ataupun kesenangan
apa-apa. Kasur yang tak seberapa empuk, pendingin ruangan yang bermasalah,
selimut ala kadarnya juga paling membuat kami—saya dan Pak Diding—tak betah
adalah siaran televisi antenna dengan channel kampungan yang hanya berisi pemujaan
berlebih terhadap Mahabarata.
Dari kejauhan tampak temaram. Malam datang begitu
cepat. Banyak hal yang dilalui seharian ini yang membuat mulut menguap, cepat.
Perlahan tapi pasti rasa kantuk itu datang. Tapi tidak dengan cerita-cerita Pak
Diding. Malam masih panjang. Dan ini baru saja dimulai.
Dari balkon tempat kami berada, terlihat banyak muda-mudi
sedang asyik berduaan. Mengukir kisah tak peduli di gang-gang Kuta, pantai
penuh turis, sampai malam ini, depan kamar hotel.
“Itu seneng banget keliatanya, cowok menghampirin
cewek.” Beliau membuka percakapan. Ada rasa Sunda dari logat dan suaranya.
“Saya dulu tak pernah seperti itu. Tak pernah ada
pacar-pacaran gitu.”
Waktu Indonesia Bagian Timur seakan melambat
dengan cerita Pak Diding. Saya semakin tertarik.
Pak Diding adalah dosen muda. Di era generasi
bunga 70-an, matinya Beatles dan gegap gempitanya Zeppelin dan Stones, beliau
menjalani hidup ala lelaki jantan yang penuh semangat rock and roll. Di
tahun-tahun kisaran 70-an inilah Pak Diding mulai hijrah ke Surabaya. Waktu itu
kampus jurusan Bahasa Indonesia masih berada di Ketintang. Bisa kita bayangkan
suasana Surabaya waktu itu masih amat panas, menggebu-gebu dan bising dengan
AKA maupun SAS—unit rock indopahit kebanggaan Surabaya. Sebagai dosen muda, Pak
Diding waktu itu masih indekost. masih mencari-cari kehidupan yang pas. Dan
ternyata, menjadi dosen tata bahasa adalah jalan yang ia tempuh sampai hari
ini.
“Waktu itu setelah saya selesai kuliah di
Bandung, saya pindah mengajar di Surabaya.” kenangnya. “Dari situ banyak
berjuangnya.”
Suatu hari, di daerah sekitar Ahmad Yani, Pak
Diding sedang mengendarai motor. 70-an adalah masa dimana memegang kendali
mesin dan melepas-tekan kopling adalah sesuatu yang jantan. Safety riding sudah
berlaku. Tapi kejadiaan itu diawali saat motor yang ditumpanginya harus
mengerem mendadak karena suatu hal. Motor beliau oleng ke kanan dan...
Brak!
Beliau resmi mengalami kecelakaan perdana di
Surabaya.
“Tangan saya rasanya kok gak enak gitu” (menunjuk
tangan kanan) “Digerak-gerakkin kok kayak susah. Wah ini pasti patah.” ujarnya.
Beliau cepat tanggap mengetahui bahwa tangannya
patah. Dulunya Pak Diding sempat bermain bola dan mengalami cidera. Tangannya
patah.
“Dulu sewaktu di Bandung saya pernah patah tangan
saat main bola. Jadi saya ngerti rasanya patah tuh gimana.” jelasnya.
Mungkin ini adalah alasan tak langsung mengapa
jalan hidup beliau tak menjadi pemain Persib. Tapi semangat bobotoh sejati
tetap ada dalam nafas, juga logat bicara.
Dari situlah kisah romansa Begawan tata bahasa
dimulai. Saat sebelum peristiwa kecelakaan naas itu, Pak Diding sempat
mendampingi mahasiswi untuk skripsi. Ada satu mahasiswi asal Ngawi waktu itu
yang mengambil bahan skripsi penelitian bahasa Sunda. Ternyata sanak kerabatnya
juga berasal dari Bandung. Atas dasar kesamaan daerah dan karena memang Pak
Diding cukup paham bahasa Sunda, bimibingan pun terjadi. Tapi setelah beliau
kecelakaan dan beritanya menyebar di kampus, segalanya seperti tak akan pernah
sama lagi.
“Waktu itu saya sudah tak bisa melakukan apa-apa.
tangan kanan saya tak bisa digerakkan. Berita kecelakaan saya sudah menyebar di
dosen-dosen dan para mahasiswa. Saya bingung juga harus bagaimana. Makan
sendiri tidak bisa. Cuci baju tidak bisa.
Pokoknya sudah tak bisa ngapa-ngapain.”
“Emang keluarga ibuk kos pada kemana, Pak?”
“Masak minta tolong mereka. Ha-ha. Pokoknya waktu
itu saya sedang bingung-bingungnya.”
Pak Diding tinggal di sebuah indekost yang
menyatu bersama rumah ibu dan bapak kost-nya. Waktu kecelakaan itu bapak kost
jugalah yang membawa beliau berobat.
“Waktu itu saya minta diantar Bapak kos, ‘pak
antarkan saya berobat’. Saya mintanya ke Rumah Sakit Dokter Sutomo, Karang Menjangan
situ.” Beliau menjelaskan sambil menerawang masa-masa itu. “Tapi biayanya mahal
sekali waktu itu. Dokter menyuruh operasi. Wah saya tak mau.”
Akhirnya Pak Diding hanya di gips dan disuruh
istirahat. Ini adalah masa sulit. Pak Diding seakan tak berdaya. Tangan kanan
sebagai penopang tak bisa dibuat apa-apa. Bahkan untuk menanak nasi pun
kesulitan. Di saat itulah muncul sosok malaikat. Tanpa menyebutkan nama, Pak
Diding menceritakan awal kisah cinta dengan istrinya, yang telah dinikahinya
hingga saat ini.
“Sebelumnya saya sempat membimbing skripsi
mahasiswi. Anaknya asal Ngawi. Ngambil skripsi tentang bahasa Sunda. Sedikit
banyak saya mengerti lah. Jadilah saya pembimbingnya.” Terang Pak Diding.
Berita tentang musibah yang menimpa Pak Diding
akhirnya sampai juga di lingkungan kampus. Mulai dosen, sampai mahasiswa,
banyak yang tahu musibah itu. Termasuk juga mahasiswi yang kebetulan dibimbing
skripsi oleh Pak Diding tersebut.
“Waktu itu saya bingung. Nggak bisa
ngapa-ngapain. Apa saya pulang ke Bandung saja? Begitu pikir saya. Tapi tak berapa
lama, mahasiswi saya itu datang ke kos. Seorang diri.”
Mahasiswi inilah kemudian yang merawat Pak
Diding. Segala keterbatasan Begawan tata bahasa ini praktis dibantu oleh
mahasiswi itu. Lingkungan kos Pak Diding yang menyatu dengan rumah keluarga yang
punya kos membuat kunjungan tersebut aman-aman saja dan tak menimbulkan masalah
berarti.
“Kosan saya itu gabung sama rumah bapak sama ibuk
kos. Jadi walaupun nerima tamu cewek gitu ya masih bisa diawasi.” Jelasnya.
Dari awal tak pernah ada perasaan apapun. Hanya
sebatas dosen dan mahasiswa. Tapi ketelatenan mahasiswi itu membantu Pak Diding
mulai dari makan, mengambil sesuatu sampai mencuci membuat hubungan mereka
semakin akrab.
“Saya belum pernah pacaran. Ha-ha. Bagaimana
rasanya pacaran itu saya juga tak mengerti.” Ia berkata sambil terus memandangi
muda-mudi depan hotel kami yang sedang asyik bercengkrama.
“Asyik kelihatannya.” katanya sambil tertawa.
Saya tersenyum pahit saja. Kesendirian ini begitu busuk, batin saya.
Keakraban Pak Diding dengan Mahasiswi itu makin
terasa saat Pak Diding memutuskan untuk pulang saja ke Bandung, berkunjung ke
rumah keluarganya. Karena tangan kanan di gips, otomatis Pak Diding perlu
bantuan. Jadilah mahasiswi tersebut ikut mengantar Pak Diding ke Bandung.
Kereta menjadi pilihan mereka berdua menuju Kota Parahiyangan.
Pak Diding juga sempat bercerita bahwasanya
mahasiswi ini adalah orang yang taat—alim istilahnya.
“Waktu itu saya tak sengaja menyentuh tangannya.
Ia langsung menghindar dan bilang bukan muhrim. Jadi kesimpualnnya ini gadis
baik-baik.”
Setibanya di Bandung dan ramah-tamah dengan
keluarga besar, ada sedikit masalah.
“Saya menceritakan semuanya ke keluarga saya,
termasuk si cewek itu. Dan mungkin ada sedikit tekanan bahwa hal seperti itu
kurang pantas. Perempuan bersama laki-laki yang bukan muhrim. Akhirnya daripada
menjadi aib, mending nikah siri saja. Hanya untuk menutupi aib.”
Pak Diding setuju, begitu pula si mahasiswi.
Dilangsungkanlah pernikahan siri itu. Hanya sebagai formalitas karena setelah
itu, si mahasisiwi kembali ke Ngawi dan Pak Diding masih di Surabaya.
“Saya nikah ya nggak ngapa-ngapain. Istri saya di
Ngawi, saya di Surabaya sini. Jadi jauh-jauhan. Di Ngawi kata istri, banyak
lelaki yang menghampiri dia. Tapi saya percaya saja, pasrah saja. Terserah dia
mau pilih lelaki itu atau saya. Kalau jodoh kan emang nggak kemana. Makanya
saya pasrah.”
Proyek nikah Pak Diding ini ternyata lebih
sederhana dibanding mata kuliah yang biasa beliau beri di kelas. Andaikata
nikah semudah itu, tentu kuliah akan jadi nomor dua. Istrinya ternyata masih
menjaga ikatan perkawinannya, tak hanya di masa itu, tapi juga hingga saat tulisan
ini ditulis. Cinta sejati, siapa yang mampu menolaknya?
“Ternyata dia tak menghiraukan lelaki-lelaki yang
datang. Dia sadar sudah punya suami. Ha-ha. Ya sudah, baguslah. Saya juga dari
awal percaya dia nggak bakal macam-macam, di Ngawi itu kan banyak kelaurganya,
ada kakak-kakaknya, jadi pasti bisa menjaga adiknya yang udah kawin itu he-he.”
tambah Pak Diding.
Lika-liku kisah cinta Pak Diding yang sudah
diresmikan dan bertahan hingga sekarang mungkin akan terasa sedikit aneh jika
diceritakan di masa kini. Saya hanya tertawa-tawa saja mendengar cerita beliau.
Bagi saya—dan pastinya kebanyakan muda-mudi—hidup terasa begitu anjing tanpa
pacar. Tapi Pak Diding membongkar mitos itu, mendekonstruksi ulang makna
pacaran dan membuat konsep baru bahwasanya tanpa pacaran pun hidup
normal-normal saja. Saya tersadar.
Kisah cinta ini berlanjut di Bandung. Entah bisa
disebut kisah cinta atau tidak karena segalanya berjalan seperti guyonan.
Seperti di film-film Warkop dimana kisah-kisah cinta malah terasa menggelikan.
Dono dan Eva Arnaz adalah contoh yang baik dalam mengajarkan bahwa cinta
sebenarnya hanyalah permainan dan iseng belaka. Tapi contoh yang lebih real
hadir di samping saya sekarang: cerita legendaris Pak Diding.
Di Bandung pun mereka masih jauh-jauhan. Pak
Diding di rumah keluarganya, sementara istrinya, tinggal di rumah sanak
saudaranya di Bandung.
“Di Surabaya jauh-jauhan, di tempat yang sama,
Bandung pun, masih jauh-jauhan. Ha-ha-ha.”
Kehidupan menyenangkan. Pak Diding menceritakan
tanpa beban. Mengenang kisah kecelakaan tak pernah semenarik ini. Biasanya ada
bumbu-bumbu sedih klise. Tapi beliau malah mengungkapnya di level kebahagiaan
tingkat tinggi. Jelas mahasiswi inilah pemicunya. Dari sini saya bisa tahu,
dari awal memang ada cinta yang terselip di hati keduanya, meski mereka tak
pernah sadari itu.
Betapa hidup hanya iseng. Keisengan yang penuh
perjuangan. Sekembalinya Pak Diding ke Surabaya, kos mungkin sudah terlalu
lapuk bagi dosen muda seperti beliau. Ada tawaran yang menggiurkan di kalangan
para dosen: punya rumah sendiri. Yang menggiurkan bukan itu, tapi hal
dibaliknya: rumah dengan cicilan rendah.
“Waktu itu Pak Mulyono yang menyerankan saya
punya rumah sendiri. Akhirnya lama-lama tergiur juga.”
Selanjutnya, Pak Diding memiliki rumah sederhana
yang waktu itu masih dibangun dengan batako, bukan batu bata seperti rumah
kebanyakan. Tiada barang. Rumah masih kosong. Dekorasi masih jelek. Banyak
cerita dari rumah itu. Sampai-sampai Pak Diding merenovasi ulang rumah itu
untuk ditinggali sanak saudaranya dari Bandung yang kebetulan kuliah di
Surabaya.
“Setelah saya renovasi, saudara saya yang dari
Bandung saya suruh tinggal disitu. Kebetulan banyak yang kuliah di Surabaya.
Akhirnya rumah itu ada yang menempati.”
Perjuangan Diding tak berhenti disitu. Sempat
juga beliau bercerita tentang mobil pertamanya. Mungkin waktu itu memilik mobil
sudah dianggap tajir, kaya, dan berkelas. Sementara Pak Diding sebagai dosen
muda sudah memilik mobil. Tentu ini menjadi perbincangan di kalangan dosen.
“Contohnya pas saya beli mobil itu. Banyak yang
ngomongin di kampus, yang beginilah, yang begitulah.”
Pak Diding memiliki mobil bukan untuk pamer, bukan
juga untuk alasan muluk-muluk.
“Waktu itu ‘kan lagi musim hujan, wah saya nggak
bisa ini kalau naik motor hujan-hujan. Nah, akhirnya saya beli mobil aja,
walaupun hujan tetep bisa kerja, nggak basah-basah.”
Mobil pertama itu memiliki banyak kenangan. Diantaranya
adalah cerita legendaris perjalanan pertama beliau dari Surabaya menuju Malang
menggunakan mobil. Mobil tersebut mogok karena kehabisan bensin. Dan setelah
kejadian itu Pak Diding mungkin menganggap Surabaya memang kota yang keras.
Entah mobil itu masih ada apa tidak. Saya yang
beberapa kali sempat berkunjung ke rumah beliau di kawasan Driyorejo sempat
melihat sejenis mobil klasik terparkir di teras yang disulap jadi garasi. Belum
jelas apakah benar itu mobil bersejarah itu atau bukan. Tapi yang pasti, tidak
bisa tidak, saya harus mengakui satu hal.
Cerita Pak Diding lebih klasik ketimbang mobil
apapun.
***
Catatan Penulis:
Tidak terasa waktu berlalu sedemikian cepat. Saya
masih semester awal saat tulisan ini ditulis. Sengaja tidak cepat-cepat dipublikasi.
Saya memilih menggodoknya dan menambahkan cerita-cerita lain tentang Pak
Diding. Salah satu mahasiswa kesayangannya, Tri Nanang dari PA 2013 juga sempat
‘didongengi’ beliau saat melakukan penelitian di Bandung. Ceritanya sama persis
dengan apa yang disampaikan beliau di Bali. Jadilah saya dan Tri kemudian juga
tertarik berburu kisah pelengkap. Saya ingin menggali lebih dalam mengenai Pak
Diding, lewat mungkin mahasiswa-mahasiswanya, atau bahkan keluarganya.
Tapi waktu, sekali lagi bergerak amat cepat. Pak
Diding kini sudah menjadi Ketua Jurusan Sastra di Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia Unesa. Saya juga sudah mulai harus berpusing-ria dengan skripsi. Duh.
Obesesi saya untuk menggali kisah Pak Diding sepertinya harus diredam. Keputusan
awal untuk mengendapkannya dan berharap ini akan jadi sempurna mungkin belum
atau bahkan tidak akan pernah terwujud. Jadi, selagi ada waktu dan belum
dikhianati lupa, saya memutuskan untuk meluncurkan cerita ini. Setidaknya meski
belum sempurna, saya sempat menulis dan merekam secuil jejak Sang Begawan Tata
Bahasa ini.
Akhirnya, tulisan lama di tahun 2014 terpublikasi
juga. Terima kasih untuk Pak Diding dan rekan-rekan Sastra Indonesia 2013.
Tanpa kalian, tulisan ini tidak akan pernah ada.
| WAKTU HIJAU DULU: BALI, 2014. BERSAMA PAK DIDING MINUS ARDAN HUDA DAN BEGUNDAL-BEGUNDAL YANG MENYINGKIR |
Sunday, October 16, 2016
14 Hari Untuk Selamanya (Bagian 4)
IV.
Bagaimana
Pos Daya Ekonomi dan Jins Robek Membuat Kemaluanmu Berpindah
| TEKNIK MEMEGANG MICROFONE ALA-ALA VOKALIS SERINGAI DI DEPAN IBU-IBU PKK: TUTORIAL BESERTA GAMBAR |
| aku merindukan berdiri di ubin ini |
| Ajo Kawir dan Si Tokek, calon kades Sidowangi 2098 |
| Bersama Pak Polo membahas pentingnya caption pada sebuah foto. |
Segalanya adalah omong
kosong, pikir saya. Jadi apa saja yang terjadi, lekaslah setuju; daripada lama
dan berbelit-belit. Pun saat saya ditunjuk—dengan sebelumnya celingukan
kesana-kemari mencari sasaran yang pas—oleh si ketua, Anugrah, untuk menjadi
ketua Pos Daya Ekonomi. Mungkin sebaiknya saya menolak habis-habisan: saya
tidak pernah terlalu mengerti apa itu neraca, anggaran, analisis SWOT,
bla-bla-bla meski dirumah, Ibu adalah lulusan fakultas ekonomi. Ekonomi memang
penting, Orde Baru saja sampai memuja-mujanya. Tapi saya tidak terlalu paham
dengan yang semacam itu—kecuali tentu saja uang. Tapi ya sudahlah. Hari sudah
tampak pekat. Saya bosan. Gerah. Ikuti saja maunya dia. Dan masuklah
siapa-siapa yang tidak hadir ke dalam Pos Daya yang terakhir dibahas ini.
Kelompok sisa-sisa? Mereka menyisakan sisa-sisa untuk Pos Daya Ekonomi? Kurang
ajar! Tapi tidak mengapa toh Nila, bendahara paling loyal sepanjang sejarah dan
Sylvia, pakar dari Jurusan Ekonomi, masuk ke dalam tim ini. Sisanya: dua
bajingan yang tidak masuk hari itu, Tyo dari Teknik Mesin dan Wisnu dari Bahasa
Jawa. Ketuanya? Saya dari Sastra Indonesia. Jangan bayangkan bagaimana
anjingnya; ini tim ekonomi tersolid sekaligus terbusuk sepanjang sejarah.
Pos daya ekonomi terus
terang adalah yang paling mblendes dari pos daya yang ada. Saya tidak pernah
membuat terobosan, saya biarkan mengalir saja. Saat beberapa ketua pos daya
mempresentasikan proyek apa yang akan mereka kerjakan, saya hanya akan bilang
sepatah-dua patah kalimat:
“Mohon
maaf, mungkin ini Pos Daya yang paling mbeler, silakan aja kalian-kalian kasih
masukan apa yang harus dikerjakan pos daya ini, mengingat saya dan kawan-kawan
sudah buntu.”
Dan tolong jangan
tafsirkan kebuntuan ini sebagai sikap seorang pemalas. Itu tolol. Saya hanya
beranggapan bahwa KKN kadangkala harus diselingi sedikit improvisasi; membaur
bersama warga, menjadi warga sana setidaknya selama dua minggu, dan melebur
dalam masyarakat. Semua proyek atau proposal rencana kegiatan boleh saja
dikerjakan, tapi jangan lupakan: ini adalah kuliah kerja nyata, jadi kehidupan
disana berbeda dengan kehidupan kuliah yang teoretis. Jika rencana sudah
sedemikian dipakemkan—bahkan sampai terlalu rinci—lalu apa yang menarik dari
KKN? Untuk tim ekonomi sendiri, ada upaya untuk membuat proyek dimana kami
membuat suatu produk, atau sejenis UMKM (atau whatever you name it), untuk
kemudian diajarkan kepada warga sana. Usulan ini saya terima. Dan saya kemudian
berkoordinasi dengan beberapa teman—dan kemudian seluruhnya saat rapat
besar—manakala ada yang bisa membuat kerajinan, atau entahlah, barang yang bisa
meningkatkan taraf ekonomi warga, silakan tolong unjuk diri dan membantu pos
ekonomi. Mereka mungkin bisa mengajarkan ilmunya kepada warga, dan untuk
kemudian warga bisa membuat barang tersebut lalu menjualnya. Jadilah uang. Tapi
nyatanya tidak ada seorang pun yang unjuk diri. Jadi seolah beban ini hanya pos
daya ekonomi yang menanggung.
Lima orang anggota pos
ekonomi kemudian melakukan rapat kecil-kecilan. Nol besar. Kami tidak pandai
membuat kerajinan apapun. Bangsat. Saya anak sastra, mentok bikin puisi cabul
atau cerita dewasa, Tyo, mentok mempreteli mesin kulkas, Wisnu sibuk dengan
gamelan dan wayang goleknya. Sementara andalan pos ekonomi nyatanya juga
menguasai teknik ekonomi dan pemasarannya saja, bukan dengan membuat kerajinan.
Usulan lain pun masuk:
“Disana
itu ada orang bikin gelang-gelang gitu, mungkin kalian juga bisa bikin kayak
gitu terus nanti diajarkan ke mereka!”
Oke. Baik. Saya
mengerti. Mengerti sekali. mungkin jika kalian mengerti, usul diatas
teramat..., uh! Ada dua kemungkinan dari usul ini, yang kesemuanya bullshit
omong kosong dan layak disiram di lubang kakus. Pertama, pos daya ekonomi akan
membuat gelang-gelang juga, dan nantinya akan diajarkan ke warga yang kesehariannya
membuat gelang. Ada yang aneh dari kelimat tersebut? Sama saja kita yang
misalnya bengek disuruh belajar berlari untuk kemudian disuruh mengajari pelari
maraton 100 km yang memang sehari-harinya berlari. Kesia-siaan macam apa ini?
bukankah seharusnya orang yang lebih ahli mengajari orang yang baru belajar dan
bukan sebaliknya? Tidak ada botol-botol malam itu. Tapi saya sudah mabuk urat
syaraf.
Kemungkinan kedua sama
mabuknya: pos daya membuat gelang tapi lebih bagus dari gelang buatan mereka,
dan kemudian diajarkan. Ini seperti menyalahi kodrat, seperti kucing makan
rumput. Mereka bertahun-tahun menggeluti itu, sementara kami dengan kemampuan
teknik bau kencur, disuruh membuat lebih baik dari mereka. Sepertinya kita
melupakan apa yang paling jadi keniscayaan dalam penciptaan: yap, benar,
proses! Usulan tersebut melupakan hal itu. Dan bahkan bila dua kemungkinan itu
dijalankan, apa kami tidak merasa keminter, sotoy, songong, mengajari warga
desa seakan-akan kami lebih pintar saja—mentang-mentang kuliah. Justru kamilah
yang harus belajar dan melebur dengan warga, begitu pemikiran saya. Percuma
kalian kuliah, pinter, tapi nyatanya tidak bisa melebur bersama masyarakat.
Mending... ngopi saja sama dosen.
Lagipula saya tidak
percaya warga sana sebodoh itu. Jika ada warga yang pandai pastilah mau
berbagi. Pun urusan gelang yang menyangkut UMKM. Kue-kue ekonomi pastilah
dibagi secara guyub merata. Akhirnya saya dengan simpelnya saat ditagih program
ekonomi oleh Ketua Anugrah, menjelaskan dengan apa adanya.
“Oke,
kami nggak ada yang bakat kerajinan gitu-gituan. Kalian yo nggak ada. Kami
buntu harus gimana. Yasudah, kami manfaatin apa yang kami bisa aja, jadi pos
daya ekonomi disana cuman memaksimalin apa yang udah aja, kita ngebantu mereka,
kita diskusi bareng mereka, kalau mereka kesulitan masalah pemasaran, kita
bantuin.” Peduli
setan. Intinya improve saja. Jadi menyusun prokernya baru setelah dua-tiga hari
disana. Ide bagus sih. Menurut saya doang tapi.
Tapi Tuhan, tiba-tiba
Dini DR, kumis baplang bajingan, cecunguk brengsek Manukan, pria ceking
bercelana jins lebar, memamerkan tab-nya. Breng—nama panggilannya—membuat pos
daya ekonomi menemukan titik cerah; meski sebenarnya makin membuat otak saya
kesemutan, pun juga Wisnu, Tyo, Sylvi dan Nila.
Tab menampilkan YouTube.
“Kerajinan Tangan dari Ampas Tebu.” Dan saya baru sadar jika disana ladang tebu
menghampar dengan luasnya.
Selanjutnya saya bersama
Wisnu menggodok konsep dari Kerajinan Ampas Tebu ini. Uang dari bendahara Nila
cukup banyak, 300 ribu—dan padahal saya hanya minta kurang dari 100. Membeli
perlengkapan bersama Wisnu di H-2 jelang KKN. Mencari barang di toko bangunan,
mengitari stationery, dan sepertinya harus ada alokasi dana khusus untuk
bensin, yang kebetulan saat itu memakai motor Wisnu. Tapi tolong, jangan melulu
uang dan penggelapan. Tidak seperti itu, dan untungnya Wisnu adalah tipe yang
loyal juga.
“Halah,
gapapa wis bro santai! Bensin ae lho!”
saya mencium basah Wisnu di ubun-ubun.
KKN sudah resmi dimulai.
Hari itu hari Senin, yang berarti acara pertama akan dimulai, dimana tiap ketua
Pos Daya harus menyampaikan programnya. Dan brengseknya, tanpa saya duga, acara
itu dihadiri banyak tokoh: pak lurah, pak polo (semacam RW), pak RT, ketua
karang taruna, ibu-ibu PKK, ustadz, warga terpandang, dan sebagainya. Saya
benci yang semacam ini. Acara tiba-tiba menjadi resmi. Saya yang mengira akan
presentasi sambil duduk di mejakursi panjang yang telah disediakan di depan,
ternyata harus berdiri. Aturannya: mejakursi itu untuk duduk pak lurah dan para
birokrat desa. Tampak Bu Sekdes—yang berpenampilan glamour dan bermuka seperti
orang-orang kaya yang gemar memilih-milih mobil di dealer—dan juga anak
buahnya. Saya bisa apa.
Sambil menahan gemetar
di belakang—jujur ini adalah pengalaman yang menegangkan, belum pernah
sebelumnya saya berbicara di depan orang-orangso called, ‘penting—saya memilih
menyulut jumput rerumputan sembari menghembuskannya. Hengki yang berbakat
improvisasi dijadikan MC, dan benar, ia membawakan acara dengan percaya diri,
dan rapi. Jangan lupakan, Hengki semakin menjadikan acara ini resmi.
Satu-persatu ia mulai menampilkan lima orang ketua Pos Daya: Pendidikan, Agama,
Lingkungan Hidup, Kesehatan dan Ekonomi. Saya sudah berunding dengan Hengki si
MC—kebetulan sekali dia dan saya amat CS—dan disepakati Pos Daya Ekonomi yang
saya wakili—dan karena sayalah ketuanya—akan maju di urutan ketiga. Catat,
ketiga. Maju di urutan pertama mungkin cukup buruk: mereka langsung disuruh
bertindak tanpa tahu situasi sebelumnya. Tapi baiknya tiada perbandingan dengan
penampil sebelumnya, jadi baik buruk tidak jadi masalah. Yang pertama maju saya
ingat betul adalah Fitra, kawan angkatan 2012 dari jurusan Teknik Mesin. Dia
transfer dari D3 menuju S1. Kelihatannya begitu: Fitra yang anak teknik cukup
mampu menguasai mesin, tapi tampak pucat dan gugup di depan. Saya jadi semakin
tak karuan. Sebentar lagi giliran saya. Anjing. Selanjutnya Bang Syakur,
mewakili Pos Daya Agama. Tampangnya memang seperti motor combo dengan tiga box,
menumpuk di belakang. Besar, dan cukup percaya diri. Dia bicara dengan singkat
sekali. Dan disini saya mulai memikirkan sesuatu.
“Sek,
sek, aku iki engkok arep ngomong opo cok!”
Akhirnya saya sadar.
Saya langsung mengambil sebuah bagian di otak yang berfungsi untuk mencatat,
saya ulang-ulang, sedemikian rupa, sampai saya hafal poin-poin yang akan saya
baca. Tapi tetap saja.
“Sek,
sek, jancok lali arep ngomong opo!”
Fuck. Anjing. Sial! Saya
bingung sendiri dan makin bingung saat Hengki mengucapkan terima kasih karena
presentasi Syakur telah usai. Bangsat, giliran saya.
“Baiklah” ujar Hengki. “Selanjutnya adalah penampilan dari teman saya, yang cukup
berpengalaman dan menguasai bidangnya. Dia sudah bisa dibilang master di bidang
ini.” tambah Hengki.
Apa-apaan sialan.
Berlebihan. Saya tidak sedramatik dan sehiperbolis itu.
“Kita
panggil Mas Aminul dari Pos Daya Lingkungan Hidup!”
Anjing biadab! Tidak
sesuai rencana! Hengki mungkin lupa karena terlalu asyik dengan obrolan ngalor-ngidulnya—yang
sempat saya ‘rasani’ bareng Anugrah yang sedari tadi sepertinya ngelamun jorok di
belakang (‘jancok Hengki iki improve yo
improve, tapi lek ngene iki kebangeten improve, kesuwen cok!’) jadilah saya
yang semula sudah melobby Hengki untuk memanggil saya di urutan ketiga, menjadi
kembali sesuai urutan awal di catatan acara, yakni kelima alias terakhir. Asu.
Tidak ada cara lain. Saya mengabaikan pidato Aminul. Menyumbat kembali mulut
dengan rempah tumbuh-tumbuhan. Tapi bangsat, makin sialan saja rasanya. Apalagi
saat Hengki mulai memanggil salah satu kawan klop saya, Ikbal.
“Oke,
penampilan keempat, seorang kawan saya dari Madura, datang jauh-jauh kesini
hanya untuk mempresentasikan bidang kesehatan. Dia paling aktif di camp, dan
amat sangat sibuk sehingga tak sempat tidur, kita sambut Mas Ikbal!” ujar Hengki.
Bajingan ini makin
tengik. Semuanya tentu saja paham ironinya. Dan tertawa dan bertepuk tangan
keras. Andai saja hadirin-hadirat itu tahu bahwa Ikbal di camp dijuluki sebagai
‘raja tidur’—dia bisa tidur dari subuh hingga jelang magrib—maka mungkin Balai
Desa akan seramai reuni Keluarga Persaudaraan Om Monata. Hengki sungguh, si
anjing. Saya mulai tidak karuan. Tengik. Ikbal saja dipermalukan, bagaimana
saya. Asu!
Dan tibalah saatnya.
“Ya,
demikian bapak-bapakdan ibu-ibu presentasi dari Ikbal. Sekarang saatnya,
penampilan terakhir, yang ditunggu-tunggu...”
COK HENG!
“Penampilan
dari kawan saya, yang ini asal Pasuruan. Anak ini sudah pakar dan paham betul
tentang ekonomi. Baiklah, kita sambut Tito dari Pos Daya Ekonomi!”
JUANCOK!
Saya hanya bisa
menggelengkan kepala. Topi tetap saya pakai—dan persetan tidak ada yang memakai
topi atas nama sopan santun. Anjing. Saya sudah tidak peduli. dan kadang memang
ketidakpedulian memunculkan kepercayaan diri. Sialan. Tapi tetap saja tidak
bisa menutupi nervous busuk ini. Tapi mau tak mau saya harus maju, mencoba
senyum semanis mungkin, meraih microfon,
Dan... terjadilah.
Entah apa yang terjadi.
Mulut saya sialan. Saya rasa saya berbicara panjang lebar, dan... tertular gaya
improvisasi Hengki. Bangsat. Ini mungkin penampilan terlama di acara ini. Dan
saya masih berputar-putar pada cerita tidak jelas: balada tukang es tebu yang
tentu saja saya mengarang di tempat—memamerkan kemampuan anak sastra sebagai
tukang bual nomor satu. Tapi apapun itu tidak ada yang mengalahkan kejutan yang
telah saya persiapkan di saku.
“Jadi,
limbah ampas tebu itu bisa jadi sebuah karya seni kriya yang mengagumkan, penuh
estetika dan tidak lupa menambah nilai jual.” Saya berkata sok meyakinkan, kemudian mengeluarkan benda
itu dari saku.
Bangsat sialan. Mengapa
mereka tertawa. Salah satu ibu PKK mencoba jadi juru bicara keadaan.
“Oalah
mas, tak pikir sampean pamer kerajinane, tibake pamer ampas tebune!”
Ya Tuhan, buk! kami saja
baru memungut ampas kemarin sore, dan bahkan belum yakin akan apa yang akan
kami lakukan. Ini adalah proyek nekat sialan. Semoga berhasil. Maaf atas
presentasi tipuan tersebut. Toh tetap saja dipermalukan dan ditertawakan.
Dan... tidak berhenti
disitu...
Ibu Sekretaris Desa
berkomentar, di depan khalayak, di depan tokoh-tokoh penting desa, di depan
teman-teman, di balai desa, menggunakan micorofon dengan ampli menggelegar,
dengan muka sinis dan kerlingan ibu-ibu pemangsa.
“Mas,
boleh saya mengkritik sedikit?”
tanya Bu Sekdes.
Iya, bu, to the point
saja...
“MOHON
KALAU PRESENTASI DI ACARA SEPERTI INI JANGAN PAKAI CELANA SOBEK-SOBEK GITU YA!
MASAK JINS SOBEK SEMUA GITU DIPAKAI D ACARA SEPERTI INI...”
ANJING!!!
Saya rasa kemaluan saya telah
berpindah di muka. Terima kasih hadirin dan hadirat sekalian...
(Bersambung)
Wednesday, October 12, 2016
My Mother Is Hero – Midst: Begitu Berat dan Terukur
Surabaya bukan
kota rock, kata My Mother Is Hero pada Ronascent beberapa waktu lalu. Tapi toh
nyatanya di album kedua yang bertajuk Midst, mereka malah semakin brutal dan
liar meramu formula rock gelap dengan atmosfer stoner rock yang padat. Alhasil,
jadilah Midst mengubah image MMIH dari band pop rock pada umumnya menjadi
pemuja tahun 1974 dengan formulasi rock and roll tua, yang seperti mengawinkan
Zeppelin dengan distorsi Sabbath. Jika didengarkan dengan saksama, Midst secara
segi musikalitas dan sound juga tak jauh beda dengan album kedua The SIGIT,
Detourn (2013). Atau semacam Wolfmother tapi lebih rapat dan terukur, dengan
menomorduakan spontanitas dan lebih mementingkan keakuratan. Midst seperti
mencoba memberi warna baru bagi genre rock beringas di Surabaya yang ‘bukan
kota rock.’ Ingatan sial juga memberi tahu adanya warna seperti Eet Sjahranie
pada gitar di album 2010 mereka, Edan, khusus di nomor-nomor hardrock kencang
seperti Living Dead.
Dibuka dengan Sub-Urban Jam, intro yang ingin
menunjukkan kepada kita semua, para penyembah rock indopahit, bahwa Midst dari
MMIH adalah hardrock dengan kebul asap stoner yang pekat. Iringan drum yang
lambat dan berat, dengan atmosfer bar penuh asap rokok dari seksi bas dan
distorsi, menyempurnakan jamming ‘sub-urban’ ini. Pariah sebagai track kedua, menampilkan vokal Bonie yang berbeda
dengan album mereka sebelumnya, Sundial. Terdengar lebih berat dan serak: kotor!
Inilah musik yang ‘cowok banget.’ Tapi sayangnya di sampai di pertengahan
menjadi sedikit membosankan, meski ada beberapa part yang bisa dikatakan menarik
bila diolah lebih dalam. Track jagoan mereka, Guided Democracy yang sempat dibawakan di Live Session bulan Juni
lalu masih memakai formula yang sama. Rock bebatuan; boots limakilogram yang
menghantam kepala. Hampir kesuluruhan isi track di Midst punya formula yang
sama. Ksemuanya berdurasi rata-rata empat sampai lima menit. Mungkin dengan Hurt sebagai track paling penuh isian
dan emosi yang intens.
Sekali lagi
ini bukan album yang bisa dianggap main-main. MMIH begitu total dan terukur.
Namun sayangnya spontanitas rock and roll jadi agak kurang. Musik terasa begitu
kaku dan kering—atau memang seperti itu konsepnya?—dan jarang ada bagian yang
catchy dan gimmick-gimmick yang menyenangkan. Bahkan hampir tidak ada bagian
untuk sing-along. Dikhawatirkan musik yang keterlaluan serius akan
menghilangkan sikap senang-senang. Satu lagi, sepuluh track dalam Midst cukup
melelahkan untuk didengarkan secara utuh, karena sekali lagi, kurangnya bagian
yang membuat telinga merasa senang. Agaknya gempuran oktan macam beginian
menjadikan MMIH seperti menjadi band ekslusif yang hanya cocok bermain di
bar/pub sempit. Bukan lagi di lapangan sekolah yang luas: MMIH harus melepas
predikat raja pensinya jika memainkan rock dengan formula kaku macam begini.
Sayang sekali dengan artwork cover yang cukup impresif, musik yang ada begitu
melelahkan.
Baca disini juga bisa. Engga diedit cuman ditambahin editor dikit hehe.
Subscribe to:
Posts (Atom)
