Thursday, November 20, 2014

Headset Plug On: Belai-Belai Melankolia

Dan di posting sebelumnya jujur saya akui saya galau hehe. Dan saya tak peduli-laaahhhh. Dan disini saya berencana pamer playlist yang ultra frekuentif saya putar di pemutar musik saya. Dan tanpa banyak bacot inilah playlist saya minggu ini yang kebanyakan berisi lagu-lagu so called pop dan jujur, lagu-lagu berikut cukup menyentuh perasaan saya. Jangan terharu. Plis!

1. Sherina "Sebelum Selamanya"
Dari album Tuna, Sherina bernyanyi ringan di lagu berdurasi hampir lima menit ini. Baik, "Sebelum Selamanya" agaknya menjadi lagu yang harus saya camkan baik-baik saat nanti ingin menjalani hubungan lagi (entah kapan itu entah kapan!). Pesan yang ingin disampaikan lagu ini adalah bahwasanya Sherina sudah kebelet kawin. Tapi sesungguhnya sebelum berikrar selamanya ada baiknya membicarakan dulu soal komitmen ke depan. Dan sebelum saya jadi makin sok pakar dan sok tahu masalah percintaan, sebaiknya baca lirik dibawah baik-baik. 

Jaga hati yang kuserahkan untukmu
Jangan lupa rasa jatuh cinta pertama kita
Dan tali asmara kita yang tlah diuji waktu
berjanjilah sayangku, sebelum selamanya...

2. Dewi Lestari "Malaikat Juga Tahu"
Dee adalah penulis idola saya meski saya hanya pernah baca Supernova Petir saja, itupun meminjam paksa dari teman. Tapi film Rectoverso menurut saya adalah satu dari banyak film drama keren Indonesia yang juga diadaptasi dari kumpulan cerpen Dee yang berjudul sama. Dengan unduh pdf saya sudah dapat itu semua plus album musik bagus berisi lagu-lagu dengan suara melankolis Dee yang mempunyai benang merah dengan isi cerpen. "Malaikat Juga Tahu" adalah satu-satunya lagu yang saya dengar di album ini, juga satu-satunya lagu yang mungkin paling ultra frekuentif saya putar saat sedang melamun. Dee mengolah lagu ini dengan magis, tanpa ratapan cengeng dan menye-menye lagu ini bahkan bisa membuatmu meraung-raung. Dengan kapasitas Dee sebagai penulis jempolan, urusan lirik dalam lagu ini bagaikan sebuah jurang di dasar lautan. Dalam. Dalam sekali. Hiks. Jangan nangis. Hiks.

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu
Ada cinta yang nyata
Setia, hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri...

3. Mocca "Twist Me Around"
Saya menyesal tak menonton Mocca minggu lalu di ICE2014 dan malah menonton Rosemary faaakkkk! Tapi tak mengapa toh saya juga baru mengerti indahnya lagu-lagu Mocca sebulan sebelum ICE2014 digelar. Ya ya saya brengsek karena saya mengunduh hanya album My Diary saja dan itupun lewat bebas unduh karena internet jaman sekarang murah sekali. Tapi Mocca, oh Mocca. Musikmu memang mempesona. Dalam lagu ini khususnya, ada sebuah momen entah di menit ke berapa saya malas ah untuk menghitung dimana suara vokal Arina Epiphania--dan dia adalah adik Dee you know--yang seringan kapas dan seperti hembusan angin yang siap membawamu terbang. Ah, jangan dibayangkan. Vokal 'terbang' itu menyanyikan larik ini:

Twist me around
All i need is someone who's
Willing to stroke my hair
Like a soft blowing breeze
My poor sentimental side
Twist me around...

4. The Titans "Seandainya"
Lagu ini sesungguhnya merusak tatanan playlist diatas dimana semua penyanyinya adalah wanita. Saya pun sudah lupa band apa The Titans ini dan bagaimana nasib mereka sekarang. Pun apakah lagu-lagu mereka yang lain layak dengar atau tidak saya juga tidak tahu. "Seandainya" adalah satu-satunya hal yang saya tahu mengenai band ini. Dan iya benar lagu ini memang easy listening dan saya yakin pernah berseliweran di Inbox. Entah mengapa saya suka lagu ini. Mungkin karena musiknya memang sederhana, liriknya jujur dan ada sesuatu dalam lagu ini yang membuat saya teringat masa SMP. Maaf The Titans saya baru searching di Google dan saya baru ingat bahwa kalian adalah pecahan dari Peterpan. Jangan terkejut.

Seandainya ku dapat menemanimu malam ini
Hilangkan sepi
Seharusnya ku ada di sisimu dan ku terjaga
Hingga kau terlelap mimpi...

5. Efek Rumah Kaca "Melankolia"
Duh, ini band besar. Band indie kesayangan Indonesia. Band dengan kekuatan diatas rata-rata. Lagu ini mengubah kegalauan yang seolah panas di padang tandus menjadi beku dibawah 0 derajat. Entah kegalauan akan menjadi lebih galau atau malah akan berkurang yang pasti tak ada perumpamaan yang lebih pas selain kalimat di atas. Dengan kharisma vokal Cholil yang sendu dan terasa amat sangat mengiris perasaan, lagu ini sungguh menjadi ultra frekuentif dalam playlist terutama saat saya sedang di kampus dengan suasana mendung yang mendukung. Dalam liriknya, ada hawa murung yang indah, juga hawa gelap yang mesra. Melankolia. 

Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi
Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah...

Begitulah, hanya ini yang mampu saya pamerkan. Dan secemen-cemennya saya yang mengaku metalhead tapi malah bermenye-menye ria, saya hanya bisa berkata: iyo bener seh hehe! :D

Friday, October 10, 2014

Biaskan Semu, Semua yang Tersisa

Saat ini kita duduk di tepian danau. Kamu berharap imajinasimu kali ini tak jadi nyata. Seolah-olah sesudah kamu bercerita bahwa apa yang kamu pikirkan—hal-hal tabu, tak masuk akal, sulit dinalar—selalu saja jadi kenyataan, ular besar sebesar naga yang kau bayangkan akan muncul dari dasar danau dan mencelakai kita semua: termasuk orang memancing, muda-mudi yang berpacaran juga ayah yang menggendong anaknya sambil menatap danau. Tapi aku justru berharap ular itu muncul dan kita akan terkejut; biar kamu yakin bahwa imajinasimu selalu jadi nyata. Karena sejujurnya aku berharap bahwa aku ada dalam jutaan imajinasimu.

Waktu berlalu. Kita hanya duduk. Menatap danau jernih seluas tiga kali lapangan bola, dan melamun. Kita sudah membicarakan banyak hal. Aku tahu kamu gelisah menunggu nilai test-mu diumumkan. Kamu tahu aku gelisah banyak deadline yang harus dikerjakan. Semua menumpuk. Tapi tumpah seketika saat kita bicara. Sore ini bebanku terbagi. Kita selalu seperti ini. Membagi semua. Biaskan semua. Tanpa sisa. Aku tahu kamu ingin berjumpa adik bayiku yang baru berusia tiga tahun—atau empat tahun aku lupa?—dan kamu akan menggendongnya, mengajaknya bermain, meninabobokannya, tapi kamu bingung saat dia minta mimik. Sementara kamu tahu aku masih mengharapkan ular besar itu muncul dari dasar. Dan di sore itu, genap dua puluh kali kamu mencubit pipiku. “Ih, aku takut lho. Jangan ular-ularan terus!” katamu. Aku semakin menggila. Dua puluh satu cubitan mendarat. Aku kesakitan dan entah mengapa juga kegirangan.

Senja mulai turun. Pukul lima lebih sekian menit. Ada sesuatu di angkasa yang membuat kita terus memandanginya. Langit mulai kekuningan. Indah. Aku melihat sorot matamu lembut menatap pendar sinar, sedikit menyilaukan retina. Air danau mulai bergerak tertiup angin. Membentuk gelombang elok. Begitu pula kita. Bersamaan dengan itu aku menunjuk tengah danau. “Hey liat, danaunya kayak kekuning-kuningan gitu. Keren nggak?” Kamu mengangguk sambil tersenyum. Aku menantikannya sedari tadi. Senyuman termanis di penghujung senja. Senyuman terlembut di antara bayang-bayang nilai test, tumpukan deadline dan ular sebesar naga. Senyuman terhangat, yang entah untuk senja, atau untuk aku.

Keniscayaan yang muncul pasca senja adalah gelap. Tapi bukan gelap yang membutakan mata. Aku masih bisa melihat daun tertiup angin, sinar lampu kota yang mulai nampak, penjual cilok yang duduk menghisap kretek, dan, aku masih bisa melihatmu. “Nggak pengen senyum? Cantik kayaknya kalo senyum.” Dan kamu pun tersenyum. Melengkapi langit orange-keungu-unguan yang sedang terjadi. Soreku sempurna.

"Diam
Tatap wajahku perlahan
Derukan, derukan
Angin panjang
Sisakan bebas
Bebas yang tertinggal
Huuhu…"

Danau Lidah, October, 2014
Title and quotes taken from Humi Dumi’s song “Ceria Cerita”
It’s just fiction or reality? Who cares.

Saturday, September 20, 2014

Mereka Yang Muter-Muter Terus Di Kepala Saya Akhir-Akhir Ini

Di tengah pembodohan dan omong kosong korporasi TV milik politikus yang makin memperkeruh suasana politik Indonesia pasca terpilihnya presiden metalhead pilihan saya dan jutaan orang Indonesia Pak Joko Widodo, fokus saya terhadap TV pun berubah. Pemberitaan bernada positif kalah dengan berita tentang kesialan Indonesia. Prediksi rapuhnya pemerintahan Jokowi-JK dihembus secara militan. Tambah lagi dengan news anchor yang membawakan tema yang itu-itu terus. Mereka memberi makan para pengamat politik yang kian hari makin banyak order. TV berita pun lama kelamaan bisa bikin sesak napas. Saya yang biasanya selalu nonton berita akhirnya memilih lepas sejenak dari keruhnya ini-itu dan mulai menemukan hal baru. Tapi hal-hal ini justru malah jadi muter-muter terus di kepala. Inilah!

Haruka
"Hah? Masak sih? Oya?"
Saya bukan penggemar fanatik yang gemar pakai kaus JKT48 versi hardcore yang sempat nghype itu—‘tampang heavy metal, hati heavy rotation’—yang baru-baru ini muncul juga versi death metalnya dan dijual di distro berjajar dengan kaus Dimmu Borgir. Tapi mbak Haruka (atau Dik Haruka ya?) yang imut-imut menggemaskan itu heavy rotation melulu di kepala saya. Haruka ini asli Jepang jadi wajar bahasa Indonesia-nya amburadul sekali di INI Talkshow. Anak ini konyolnya minta ampun, bloon pula. Tapi kerennya, semua itu tak dibuat-buat alias alami. Tak seperti artis-artis medioker yang baru sekali dua kali muncul di TV tapi lagaknya sudah sok keren berlagak superstar. Hina sekali kau para artis kacangan. Media gosip secara mengenaskan juga menampilkan artis gadungan ini berkali-kali walau minim prestasi, hanya modal tampang dan sensasi. Gaya bicara, tingkah laku, bahkan semua yang menempel di diri si artis sepertinya dibuat-buat alias settingan. Tapi Haruka ini berani jadi diri sendiri tanpa peduli—persetan lah!—dengan pendapat orang lain. Mau konyol lah, bloon lah, malu-maluin lah, terserah gue keleus, yang penting gue fun jadi diri gue sendiri. Itu sih yang saya suka. He-he. Jadi kapan nih mbak main ke rumah?

Prilly
Sekarang para vampir jadi sering nongol siang bolong lho mbak. Nggak takut?
Oke sebelum hingar-bingar media gosip yang selalu ditonton anak-anak di TV kosan yang tiap hari memberitakan cinta monyet Prilly-Aliando saya sudah terlebih dulu melamunkan Prilly. Bangsat kau Aliando tapi tidak mengapa karena sinetronmu makin hari makin absurd saja. Saya menonton Ganteng Serigala bukan karena jalan ceritanya yang super-duper amburadul dan pantas dicaci maki tapi karena Prilly semata. Sekali lagi karena Prilly semata (diulang dua kali karena saya tak mau jatuh dalam lubang kenistaan sinetron penjiplak serial keren True Blood dengan vampir yang bisa nongol siang-siang tanpa terbakar, OMG Helloooow!). Terbukti saya selalu ganti channel jika tak ada Prilly dalam adegan. Saya bingung kenapa ini anak terus muter-muter di kepala mungkin karena mimiknya yang imut-imut dan cerewetnya yang kebangetan kali ya. Tapi belum lama ini sepertinya saya sudah mulai bosan melihat ini anak. Entah kenapa. Mungkin karena Prilly makin hari makin sering nongol di acara gosip pagi yang tak penting-penting amat. Jadi maaf ya mbak, foto-foto di hape saya yang nyolong dari Instagram pribadi mbak sudah saya hapus.

The Strokes
"Minggir! Berandalan New York mau lewat neeh!"
Album Is This It (2001) dari The Strokes baru saya dengar kira-kira sebulan lalu. Jadi saya baru tahu band ini. Musiknya primitif, 60-an ala-ala band garage rock/punk yang dipatenkan Velvet Underground. Saya juga belum pernah dengar Lou Reed bahkan VU sekalipun, jadi kalimat sebelumnya saya tulis berdasarkan baca-baca referensi saja. Terima kasih untuk The Strokes karena berkat mereka saya jadi tahu bagaimana serunya musik garage 60-an. Julian Casablancas dkk. ini pernah saya tonton di YouTube saat mereka membawakan set konser. Dan langsung saja, mereka jadi muter-muter terus di kepala saya selama berhari-hari, dalam artian lagu dan lirik mereka di Is This It—yang konon katanya masuk daftar album terbaik sepanjang masa versi banyak media musik terhormat—selalu mengalun baik di headset, speaker, maupun playlist YouTube. Favorit saya di album ini: “New York City Cops”, “The Modern Age” dan “Hard To Explain”. Sementara track lain saya juga suka tapi tak masuk daftar favorit.Yang sabar mas Julian walau banyak yang mencela album terakhir sampean dan kawan-kawan tak sebagus Is This It. Saya masih medioker kok mas. Baru dengar Is This It saja jadi belum berani nyela yang aneh-aneh. He-he.

Cerpen Kompas
Ini judul kumcer atau grup WhatsApp?
Saya tak mementingkan siapa pengarangnya untuk itu saya tak sebutkan disini—walaupun sebenarnya itu modus karena saya selalu lupa nama para penulisnya he-he—tapi intinya kumpulan Cerpen Kompas yang menyebar di dunia maya dan saya unduh PDF-nya mulai dari yang tahun 2000-an sampai yang terakhir 2013 ini sukses membuat saya merinding sendiri bahkan ketika saya sedang boker di WC. Jalan ceritanya yang agak suram di beberapa cerpen muter-muter terus di kepala saya. Untung yang muter-muter itu tak saya siram juga bersama feses karena saya akhirnya ketagihan membaca Cerpen Kompas berkali-kali dan tak pernah bosan. Tuh kan saya jadi ingin membacanya lagi. Cerpen Kompas ini secara keseluruhan memang bagus dan berkualitas dari segi sastra dan gaya bahasa. Itulah sebabnya bagi para penulis yang cerpennya sudah dimuat bisa langsung berbangga hati sambil sujud syukur tujuh hari tujuh malam karena Cerpen Kompas ini sudah jadi salah satu barometer cerpen bermutu Indonesia.

Berpacu Dalam Melodi
"Satu hari kita berpisah, satu hari pula usia kita bertambah!"
Sejak kecil Naif sudah menjadi salah satu band Indonesia favorit saya. David, Jarwo, Pepeng dan Emil dengan gaya klasik dan musiknya yang asyik membuat saya mengidolakan mereka apalagi bang David. Semenjak workout, David yang dulu gondrong dan tambun sekarang menjadi sixpack dan keren dengan rambut jambul. Terakhir saya tahu David saat baca artikel panjang di Rolling Stone Indonesia dengan cover Agnes Monica. Siapa sangka ia kemudian jadi host kocak yang membawakan Berpacu Dalam Melodi dengan bagus. Dari pertama saya lihat kuis ini begitu meriah dan banyak nyanyinya. Apalagi ada kepuasan tersendiri saat berhasil menebak apa judul lagu, band atau foto wajah yang ditampilkan. Sering gemas juga saat lagu yang dibawakan terlalu asing bagi telinga. Kuis ini pun muter-muter terus di kepala saya Senin-Jumat usai salat maghrib. Rumah jadi ramai. Kosan jadi ricuh. Berebut tebak lagu. Berebut nyanyi. Lepas dari itu, David Bayu sebagai host—yang pernah dicaci di Twitter karena menurut si tweeps David ini terlalu kampungan dan norak—berhasil membawakan acara ini dengan seru bingit walau memang masih perlu banyak belajar sih keleus. Ho-ho-ho!

Yeah Yeah Zine #1: Editorial Hura-Hura

Pengalaman pertama membaca zine sejujurnya saya dapat sewaktu SD. Kakak saya punya setumpuk koleksi zine lokal di meja kamarnya, selain koleksi kaset pita band-band underground. Masa SD yang biasanya diisi dengan mengisi LKS, mencongak atau menggambar gunung di buku gambar A4 mendadak berubah usai membaca salah satu zine. Saya tanpa ragu minta dibelikan sepatu Converse, tiba-tiba anti Mc-Donald, benci Bush dan invasi Amerika, serta mulai tertarik dengan kompilasi punk lawas rilisan Proton Records ‘Berpacu Dalam Melodic.’
Pengalaman tersebut membawa saya hingga masa SMA. Masa dimana mulai ada luapan rasa bosan, muak, kesal dan kecenderungan untuk melawan. Trend hipster menjamur, anti-mainstream merebak, pergaulan bawah tanah mulai masuk. Dan lagi-lagi, saya bertemu dengan zine punk sebagai bahan bacaan: semangat ugal-ugalan, lempar molotov, dan bersenang-senang sampai mampus. Saya pun kembali temukan kesenangan disitu.
Dan akhirnya sampai pada masa kuliah. Bersama beberapa kawan seperjuangan, muncul kesepakatan untuk mulai merangkum karya dalam konsep zine ini. Masih berlandaskan semangat do-it-yourself yang dibuat seenak udel, kami tak berharap lebih selain bisa menyalurkan energi dan membagi inspirasi.
Oke, bahasa kami memang masih buruk, media kami masih awut-awutan, proses kami masih ugal-ugalan dan tulisan kami masih absurd; tapi tak mengapa atas nama gairah, hura-hura dan senang-senang semata. Jangan heran dengan nama zine kami, Yeah Yeah Zine memang dicomot langsung  tanpa tedeng aling-aling dan beban moral sedikitpun dari nama band art punk asal New York, Yeah Yeah Yeahs! Trims berat Mbak Karen O. Oh Yeah!

Yeah Yeah Zine #1 format PDF bisa kalian unduh bebas DISINI.

Antichrist Demoncore (ACxDC) – Antichrist Demoncore: Grindcore Mengerikan Para Pemuja Setan


Singkirkan kata perlahan, persetan kata woles. Antichrist Demoncore bermain tak sopan disini: merangsak cepat, tempo brutal, isian-isian kejam. Ini bukan pesta lagi namanya, tapi penghancuran. Newschool Grindcore, atau apapun yang ingin kalian sebut tentang band ini, yang pasti mereka tak segan mengajakmu berhura-hura sambil melonjak-lonjak kesetanan. Bersiaplah headbang sampai salah urat. “Destroy//Create” –track pertama: penuh amarah, putus asa, kesakitan tiada tara; lagu yang membuat ungkapan ‘urip gak segampang cocot’e Mario Teguh’ benar adanya. “Misled” selanjutnya. Lebih kejam. Hyperblast menjadi-jadi. Kalian mungkin tanpa sadar akan memaki: ‘Anjing, ini kacau sekali!’ Buang lagu-lagu metal kekinian dari band-band sok cadas milik kalian karena ini jauh lebih mengerikan. “Paid In Full”: iringan breakdown ala hardcore dipadukan jerit keji dari sang vokalis. Hardcore sepertinya kurang pantas disebutkan karena ini jauh lebih edan. Nikmatilah sembari menyeringai dan tonjok muka sendiri. Mutilasi gendang telinga, bombardir denyut jantung dan oke, kalian akan segera berlumur dosa. “Holmes” adalah mampus, setengah mati, minta ampun atau apapun ungkapan yang menggambarkan kepala pecah. Band ini kemungkinan besar menelan pil koplo sampai hampir overdosis saat rekaman. Tak karuan tapi lama-kelamaan rasanya mengasyikkan. It’s Really Party Chaos! “Cheap Punks” adalah murni grindcore tanpa ba-bi-bu. Kalian akan seperti mendengar ‘Aaarrrggh!’ 41 detik tanpa interupsi. Saran: segera beli Bodrex di warung sebelah. Hingga sampai pada “Savior Complexxx,” track bengis, kasar dan liar. Jangan sekali-kali mendengarkannya dekat penderita asma.

Melihat konten album penuh pertama mereka, jangan sungkan untuk bilang bahwa Antichrist Demoncore adalah band para pendosa bahagia dan para pemuja iblis sesungguhnya. Suguhan manifestasi kekerasan dalam bentuk album. Dari gaya vokal growl senapan mesin, scream pengiris daging, sampai teriakkan antah berantah penuh murka semuanya ada. Dari down-tunned, hyperblast, grinding, riff kasar, hook jahat, tempo palu godam, dan seluruh istilah dalam kamus grindcore segalanya lengkap. Kurang apalagi? Kurang ajar! 16 track penuh kesakitan. Pendengar berpotensi paranoid. Kaca pecah, tembok retak, gedung runtuh: perumpamaan yang menyebalkan karena tak ada kata lain yang lebih pas. Grindcore ganas memang selalu begitu. Camkan!

Dimuat juga di Ronascent.

Tuesday, August 19, 2014

Tuan Tanah - A Thousand Different Moving Pictures Can’t Describe This Feeling: Mendeskripsikan Thriller Dengan Instrumentalia Elektronika


Ketika coba mendeskripsikan A Thousand Different Moving Pictures Can’t Describe This Feeling, EP teranyar dari trio asal Surabaya yang mengaku memainkan post-rock instrumental Tuan Tanah, bisa jadi imajinasi akan langsung tergiring menuju lembah Timur Tengah dengan konflik tak berkesudahan dan kecamuk rasa kesepian. Menurut Tuan Tanah tentang konsep EP berisi lima lagu ini: “Kami membayangkan seorang ibu yang sedang hamil tua lalu menjadi tahanan tentara perang. Mulai dari disiksa, melahirkan bayinya, sampai meninggal dunia setelah melahirkan.”—sebuah konsep ala film bergenre thriller yang mau tak mau akan membuat denyut jantung naik turun. Masih dengan formula yang sama: suguhan elektronik-instrumental yang menyembur dari sayatan gitar yang terdengar miris, melodis sampai melankolis dibalut ketukan-ketukan elektronik, Tuan Tanah meramu genre musik yang masih terdengar asing di Surabaya ini dengan sound yang mendekati prima. Berbekal laptop dan efek-soundcard tercanggih, mereka memaksimalkan apa yang ada. Tak hanya merekamnya, mixing sekaligus mastering-pun juga dilakukan sendiri. Meski haslinya masih kurang dibanding musisi-musisi luar yang bergenre sama seperti Robot ataupun Lorelei, upaya mereka tetap patut disimak. 

Track pertama “Shopping With Dilated Eyes On Ghost Market” adalah introduksi yang pelan, lembut namun membunuh—khas film thriller. Berlanjut ke “A Farewell To Arms”, materi memusingkan dengan iringan gitar repetitif yang dibalut ketukan-ketukan elektronika. Memusingkan disini adalah dalam artian perasaan kesepian yang amat dalam; tepat menggambarkan adegan seorang ibu yang terkurung sendirian dalam penjara dengan perut membesar. Repetisi musik terus terdengar dengan tempo yang semakin intens. Rasa optimis hadir pada “Samsara’s Night” dimana kemungkinan besar sang ibu akan terus berjuang melahirkan bayinya walau sedang dalam penyiksaan sekalipun. Sekali lagi, nuansa repetitif kembali hadir. Namun disini Tuan Tanah terdengar lebih mengeksplor permainan gitar. Bayi yang dinanti pun akhirnya lahir dengan “Requiem” sebagai iringan. Tangis tersedu-sedu, kulit yang masih memerah dan tali pusar yang belum terlepas adalah murni kebahagiaan diantara kemuraman yang ada. Bertempo lebih lambat dari dua track sebelumnya, “Requiem” coba tawarkan harapan. Tapi thriller yang baik adalah yang mampu membuat bergidik bahkan ketika hampir berakhir. Mempersetankan happy ending, Tuan Tanah lebih memilih memainkan “Synthesizer Opus No. 1 on G# Major” sebagai ode kematian untuk sang ibu. Yang ada kini hanya tembok penjara gelap nan berlumut di tengah senja yang mulai datang. Sang ibu menghembuskan nafas terakhir dengan bayi masih di pangkuan. Film pun berakhir dingin. 

Secara keseluruhan, EP ini cukup berkesan walaupun di beberapa part terasa monoton. Dengan melihat potensi yang ada, besar kemungkinan Tuan Tanah bisa mengeksplorasi lebih dalam lagi musik mereka di album-album selanjutnya. Tapi lepas dari itu semua, thriller ala Tuan Tanah ini sungguh patut untuk diapresiasi: mereka berhasil bercerita hanya dengan instrumentalia sederhana yang direkam di kamar mereka sendiri.

Dimuat juga di Ronascent. dengan penyuntingan seperlunya. Thanks @fajroboy @TuanTanahExp

Tuesday, July 1, 2014

Linkin Park – The Hunting Party: Bahwa Linkin Park Bukanlah Sebuah Band Elektronik, Setidaknya Untuk Saat Ini

On The Cover: Linkin Park kembali memburu euforia 'nu-metal'?
  Linkin Park bukanlah band elektronik. Pernyataan ini mungkin akan segera disanggah habis-habisan, jika mengacu pada A Thousand Suns dan Living Things –album keempat dan kelima mereka; yang meramu habis-habisan sound dubstep kencang, hardrock futuristik dan eksplorasi bebunyian elektronika megah. Tapi sanggahan itu sepertinya harus kembali dipikirkan masak-masak ketika tahun ini LP memutuskan untuk merilis album keenam mereka, The Hunting Party. Mari tinggalkan pesta DJ penuh taburan lampu warna-warni dalam kedua album sebelumnya; saatnya kembali menginjak lumpur dan menggempur arena-arena rock, melonjak bersama. The Hunting Pary adalah sekuel dari Hybrid Theory; rap rock eksperimental penuh distorsi kencang, teriakkan penuh amarah dan musik jauh lebih gahar dibanding band rock langganan radio mainstream. Gitar Brad Delson kembali mengerang, kali ini dibantu Daron Malakian (System Of A Down) dalam track seru “Rebellion” – gabungan distorsi gelap berisi tindak-tanduk melawan dunia, dan Tom Morello (Rage Against The Machine, Audioslave) dalam instrumentalia ‘Drawbar” yang sedingin salju. 
  Bagaimana rockstar-rockstar berusia hampir 40 tahun tahun membuat sekuel dewasa dari album marah-marah mereka saat usia 20-an? Semuanya terangkum di The Hunting Party. Mengagetkan. “Keys To The Kingdom” cukup bisa membangunkan kalian dari tidur untuk kemudian bertanya-tanya: “It’s really Linkin Park?” Tak ada yang lebih bisa diapresiasi kecuali teriakkan vokalis yang kini juga tergabung di Stone Temple Pilots, Chester Bennington, yang tetap memiliki daya kejut yang prima –setelah sekian lama mengisi vokal main aman di A Thousand Suns dan Living Things. Dalam “Guilty All The Same,” nuansa nu-metal yang rancak hadir bersama rapper Rakim yang tak kalah seru dengan MC Shinnoda. Juga Page Hamilton yang menawarkan hardrock pada “All For Nothing.” Perlu juga dicatat bahwa kalian sedang mendengarkan Linkin Park, bukan Bad Religion ataupun Rancid saat track “War” mengumandang: nomor punk rock bengal ugal-ugalan; energi urakan tingkat maksimal. Dan, mengacu pada makna The Hunting Party yang berarti mencoba memburu kembali pesta-pesta rock layaknya masa lalu; bisa dibilang ini adalah Hybrid Theory 2.0 –album penuh kedewasaan untuk merayakan nostalgia nu-metal. Meski tak sebagus sekuel pertamanya, album ini lebih dari mampu untuk menyanggah pernyataan bahwa Linkin Park adalah band elektronik. Setidaknya untuk saat ini.

*Dimuat juga di Ronascent. dengan penyuntingan seperlunya.