Sunday, January 3, 2016

Karena 2016 Kemungkinan Besar Adalah Milik Anda

Kebodohan pertama di 2016 adalah bangun siang dan menyadari bahwa pesta kembang api semalam sudah usai. Kebodohan berlanjut karena anda akan kembali merapatkan selimut meski jam di ponsel keparat anda menunjukkan angka 8.30. Tetapi persetan, 30 menit kemudian anda akan bangun. Mendapat sedikit geleng-geleng kepala dari ibunda tercinta—oh anakku segeralah mandi ataukah sarapan, ini hari sudah siang dan dikau baru bangun—dan anda belum juga sepenuhnya sadar sampai segelas susu coklat panas (fuck you Hilo love you Milo) mendarat di mulut anda. Melumerkan sisa-sisa bakteri di mulut, hasil fermentasi pembusukan dari indomie iga penyetan dan ayam bakar-bakaran kemarin malam. Dan 2016 resmi dimulai di pukul 9.30—seusai anda onani dan mandi. Kemudian anda akan mengambil nasi goreng dan telur ceplok di meja makan, mengunyahnya pelan dengan kerupuk udang oleh-oleh dari nenek anda. Nasi goreng anda akan sedikit terasa keasinan—karena ibunda tercinta tergopoh-gopoh memasaknya, sudah terlalu lelah karena di malam tahun baru ia masih menikmati liburan di Banyuwangi, dan baru sampai rumah beberapa jam lalu. Ibunda tercinta sudah tertidur karena kelelahan. Dan ayahanda yang biasanya menemani anda makan di depan televisi juga sudah balik bekerja—meski malam tahun baru kemarin juga lembur karena tamu hotel sedang ramai-ramainya; risiko orang yang kerja di bidang pariwisata. Yang tersisa hanyalah adik anda, yang ternyata sudah hilang entah kemana. Warnet game online tidak pernah libur bahkan saat tanggal merah. Tibalah saatnya anda sarapan sendirian, dan untungnya ada Warkop DKI yang disiarkan televisi swasta—meski mungkin sudah ribuan kali diputar—dan anda bisa terbahak-bahak sendiri meski sudah hafal semua adegannya. Penyesalan pertama di 2016 terjadi. Mengapa anda belum menemukan jawaban siapakah yang lebih lucu: Dono, Kasino, atau Indro, karena ketiganya pernah membuat anda tertawa. Jika ada mitos yang berkata bahwa pelawak yang mati duluan adalah yang paling lucu, maka Kasino-lah pemenangnya. Tetapi Dono-pun lucu. Indro juga. Perdebatan yang tak pernah usai ini membawa anda pada penyesalan kedua di 2016: mengapa dulu tak mencomot buku Warkop: Main-main Jadi Bukan Main saat mampir di Gramedia. Buku yang anda anggap main-main itu ternyata bagus nian isinya. Dan anda masih sering menyesal karena Gramedia yang anda kunjungi malah makin banyak memajang lego Avengers—dan bukannya buku-buku bagus terbitan agak lama. Tapi penyesalan itu lenyap tanpa perlu lama-lama saat anda menyendokkan nasi goreng bersama potongan telur ke mulut anda. Jangan lupa, anda juga telah menambahkan saus tomat sebagai penawar keasinan. Alhasil, itu adalah nasi pertama yang masuk perut anda di 2016. Dan baiklah, akui saja. Anda belum benar-benar mandi. 7 menit di kamar mandi anda tidak menggosokkan sabun dan kemudian mengguyurkan air seperti mandi konvensional pada umumnya. Semua orang malas mandi di hari libur, tentu anda juga. Dan dari 7 menit itu 6 menit anda gunakan di closet dan melakukan hal paling menjijikkan pertama di 2016. Anda tidak lupa cebok karena setelah itu anda memencet wadah Garnier—sabun muka pria urban Indonesia yang penuh polusi udara—dan inilah, cuci muka pertama di 2016. Wajah anda terlihat lebih segar dari tahun lalu. Anda siap memulai tahun yang baru dengan gempita.

Anda kemudian membuka laptop, membaca ucapan-ucapan happy new yeah dari 98% pengguna sosial media. Juga hal konyol pertama yang anda baca di 2016: perdebatan bahwa merayakan tahun baru itu haram, beserta dalil-dalil dan sekelompok orang ‘kilafah’ yang menghujat perayaan malam tahun baru kemarin. Anda ingin tertawa tetapi tidak jadi. Pacar anda sudah lebih dulu mengagetkan anda dengan ucapan tahun baru. Hal yang lebih penting dibanding memikirkan perkataan Al-Mokarrom Utadzku Felix Siauw. Anda kemudian mulai sadar bahwa anda harus membuat resolusi. Jika di tahun 2015 kemarin resolusi anda untuk vakansi sudah terwujud sebagian, maka di 2016 ini anda mungkin sudah sebegitu cueknya sampai tidak kepikiran soal resolusi. Hidup no future ala Sex Pistols sepertinya sedang anda terapkan. Tetapi anda tidak mau berlarut-larut. Bahwasanya di lubuk hati anda terdapat kata mutiara yang berkata bahwa hidup musti punya tujuan biar terarah. Alhasil anda—yang tahun 2015 lalu sempat militan menjadi haters para motivator dan sering berkata bahwa urip ga segampang cocote Mario Teguh—pun kembali mencoba menyusun harapan-harapan hidup anda sendiri. Bahwa persetan motivator, anda tidak pernah membutuhkannya. Karena untuk sukses anda hanya butuh diri anda sendiri, dan bukan motivator. Anda pun kemudian menuliskan apa-apa saja yang anda inginkan di 2016 ini. Anda menyadari bahwa anda masih terikat orang tua dan bangku kuliah, jadi harapan untuk segera menikah, keliling dunia, memborong mobil sport ataupun melunasi cicilan rumah masih terlalu dini untuk anda. Anda akhirnya menyusun harapan-harapan realistis untuk tahun ini saja. Dan disaat tahun baru 2017, anda akan menepuk dada anda, tersenyum dan berbangga: beberapa harapan sudah mewujud.

1. Menulis buku
Anda sudah bertahun-tahun menulis tentang ketidakjelasan di sebuah blog pribadi yang anda sendiripun tidak tahu anda menuliskan apa. Sumpah serapah, ketololan hidup atau uneg-uneg curhatan anda-lah yang banyak terposting tanpa anda peduli mau dibaca orang atau tidak. Anda juga betah nulis di webzine musik yang berjuang menegakkan skena kota rantau anda, dan anda tidak pernah sepeserpun dibayar untuk hal itu—kecuali album dan tiket gratis. Dan tahun ini adalah tahun kebangkitan anda setelah sekian lama. Anda baru menyadari bahwa hal paling puncak dari seorang penulis bukanlah blog atau webzine atau zine, melainkan sebuah buku. Buku yang tercetak dan ada nama anda di covernya. Buku yang membuat anda menjadi bagian kecil literasi yang digemborkan manusia-manusia sok bahasa di kampus anda. Buku yang dituliskan sebagai karya yang bisa dibaca kawan-kawan anda, ataukah orang-orang lain, untuk kemudian mereka merasa terinspirasi, atau setidaknya terhibur terhadap karya anda. Meski anda tidak mengetahui sedikitpun seluk-beluk perbukuan, penerbitan, atau bahkan karya apa yang akan anda susun, tetapi anda percaya, dewa buku selalu menyertai penulis abal-abal yang kebingungan. Dan meski terdengar bak pungguk yang merindukan bulan, anda berharap buku anda diterbitkan penerbit besar dan diedarkan dalam skala nasional. Tapi bila tak seperti itu, cukuplah buku indie, dan karya anda juga bisa dinikmati siapa saja. Ataukah karya anda akan jadi cult—tidak banyak yang tahu tapi dari yang tahu itulah justru yang paling militan dan menunggu buku-buku anda selanjutnya. Sudahlah, anda tidak pernah tahu buku anda akan jadi seperti apa jika belum memulai halaman pertama dan menuliskannya.

2. Kembali mengumpulkan mainan
Anda menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan hakiki dari hidup anda ada di masa saat anda masih betah menyusun kepingan lego, atau menubrukkan action figure superhero satu sama lain. Anda adalah kolektor mainan sekoper yang tak dikenal. Anda adalah bocah lelaki beruntung karena mulai bayi sampai usia anda SD, anda tidak pernah berhenti mendapat kiriman mainan dari tante anda yang kaya-kaya. Pun juga uang saku anda yang selalu disisihkan, pergi ke toko mainan untuk sekedar beli yoyo atau gasing. Kini anda sudah menginjak dewasa. Kesumpekan hidup tak ayal membawa anda pada hal-hal yang menolak bahagia. Tapi pacar anda adalah perempuan paling pengertian. Dia memberi hadiah lego superhero di ulang tahun anda—sesuatu yang belum pernah anda bayangkan sebelumnya. Dan inilah yang memicu anda untuk kembali mengumpulkan mainan apapun di masa kecil anda, dan kemudian memainkannya kembali, pelan-pelan, dan anda akan kembali ke usia 5 tahun lagi, sewaktu kamar anda masih berada di rumah nenek, ataukah kembali ke tahun-tahun sebelumnya, saat anda masih berada di Malang dengan dikelilingi manusia-manusia rasa yang tak kenal hal lain selain memanja.

3. Mendalami masak-memasak
Anda adalah calon koki keluarga. Simbah buyut anda adalah juru masak andal. Penemu resep rawon legendaris. Ataupun ayam kecap dengan rasa yang sempurna. Dan nenek anda—yang biasa anda panggil Mama—adalah master di dunia per-dapur-an. Nasi goreng buatannya adalah surga yang hakiki. Indomie yang dimasak di tangannya serasa anda tidak butuh apa-apa lagi untuk merasakan nikmat duniawi. Tante anda adalah penemu 78 resep kue yang tak pernah sekalipun memasak sesuatu yang tidak enak. Oom adalah penikmat masakan Eropa yang tak sungkan memamerkan keahlian memasak spagetinya, membuat anda betah di rumahnya. Dan kakak anda—dikenal sebagai Bang Gobes—adalah koki jalanan sejati yang pernah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di sebuah kedai nan ramai yang kini telah roboh tertiup badai. Dan prestasi tertinggi keluarga anda adalah saudara jauh anda yang mengusai bisnis restoran ayam dan menjadikan namanya seperti sinonim dengan frasa ayam bakar. Tetapi apa yang bisa anda sombongkan jikalau anda sendiri mentok hanya bisa membuat tempe goreng dan telur dadar? Itupun masih jauh dari sempurna hingga masakan yang benar-benar anda kuasai hanyalah Indomie rebus. Tetapi anda sudah mencium bakat anda sendiri. Pun ibunda yang awalnya melarang anda—pria jahil yang hobi rusuh—untuk memasuki dapur, menjadi sering menyuruh anda memasak untuk makan malam. Anda memang sering berbuat onar di dapur, tetapi anda sudah biasa dengan penggorengan. Anda sudah tahu fungsi tambahan gula pada telur dadar. Anda sudah merasa Masterchef walaupun anda masih medioker. Tetapi anda tidak peduli. Anda suka di dapur. Anda hobi membuat sesuatu. Anda suka makan. Anda cinta masak-memasak. Anda adalah penerus keluarga besar anda yang jago membuat lidah bergoyang. Anda harus beralih profesi dari pemasak semua jenis Indomie—termasuk Indomie My Noodlez untuk adik balita anda—dan beralih ke tingkatan yang lebih tinggi lagi: Mie Burung Dara. Dan anda sudah harus lebih jeli memerhatikan koleksi buku resep ibunda anda—biar tidak seperti beliau yang banyak teori masak tapi sedikit prakteknya.

4. Main drum lagi, masuk studio lagi
Tidak pernah ada tahun sesepi tahun kemarin dalam hidup anda. Meski puluhan gigs telah anda datangi dan anda cukup apresiatif. Persetan juga polisi skena. Anda sungguh mengidolakan Hasief Ardiasyah apapun yang terjadi. Tetapi kesepian tentu saja bukan karena anda berjoget atau tidak saat konser berlangsung, tapi karena band itu, bukannya anda, yang berada di panggung, memainkan musik. Padahal anda adalah drummer paling abal-abal yang pernah ada di semesta. Penggemar John Bonham dan hobi mukul bangku di sekolah. Meski begitu anda meyakini satu hal: fuck skill, rock and roll! Dan di tahun ini anda ingin membuang perasaan kesepian itu dengan lebih banyak masuk studio, dan memuntahkan semua kegilaan dan dendam akan hidup. Fuck sikil!

5. Vakansi
Anda cukup sadar untuk secepatnya berhenti menuliskan hal ini karena anda—dan manusia-manusia pejalan tanpa alasan lainnya—pasti akan kalah dengan bocah yang hobi majang foto gunung di Instagram dan kemudian memperbanyak tagar #mytripadventure. Anda sudah seharusnya berhenti menuliskan ini sebelum menjadi manusia yang merasa paling keren sendiri dari orang lain hanya karena memakai baju Natgeo dan kemudian memamerkan berbagai pose dengan label #trip. Dan karena perjalanan menjadi semakin kekinian dan kehilangan esensinya, anda tidak perlu menggunakan kata travelling—karena anda sudah muak mendengarkannya.

6. Berbagi
Anda sadar bahwa hidup tidak akan selamanya. Anda juga semakin mengerti bahwa hidup tidak untuk dinikmati sendiri. Dan karena itu anda sudah seharusnya berbagi di 2016 ini. Berbagi untuk membantu, bukan untuk eksistensi. Berbagi bukan untuk balasan, tapi sebagai bentuk kepedulian. Dan saat ini anda tidak perlu memberi tahu anda akan membagikan apa-kepada siapa karena anda merasa itu semua tidak perlu digembar-gemborkan.

Anda menuliskan resolusi ini begitu saja, tanpa pikir panjang. Tentu anda tidak hanya bergantung pada langit: langkah kaki anda sendirilah yang akan menentukan sejauh mana semua ini bisa terwujud. Kecuali tentu saja mainan yang ingin anda koleksi ulang. Anda musti bergantung pada uang jajan tambahan dari orangtua anda.

Sunday, December 13, 2015

Review Wenak

sumber: Orange Cliff Record
kemarin cangkruk warung kopi sama mugsan sambil dengerin crimson eyes-nya sigmun. mendapatkan album ini tidak sesulit yang dibayangkan karena tentu saja ada teman yang mau berbagi setelah beli albumnya. mau berkabar dengan mas bob tapi bonus sms saya habis. pulsa juga tidak memungkinkan untuk berkirim pesan. jadilah saya menikmati album debut band yang pernah main di kantin feb unair ini sendirian. untung headset baru jadi rada manteb dah suaranya. sambil mesen kopisusu yang rada pahit-pahit nikmat, sensasi yang ditimbulkan sungguh yahud sekali. saya ngaceng sampai sekian menit.

anda warga univ. lidah wetan pasti tahu ini dimana
sambil nyambi dengerin saya iseng-iseng buka official instagramnya orangecliff--label yang menaungi sigmun. juga ig bandnya sendiri (sigmun_). selain kabar release party album ini berupa konser bertajuk in the wake of crimson eyes di IFI bandung, ada sebuah foto yang membuat saya tanpa banyak dikomando langsung membuka dan mengunduhnya. crimson eyes sudah di review oleh rolling stone edisi desember ini (dengan cover adele) dan tentu saja, empat bintang. tinggal satu bintang lagi untuk bisa menyamai suharto si jendral bintang lima. karena kondisi keuangan yang lagi pelit-pelitnya dikeluarin jadilah saya nggak beli itu majalah. tidak seperti dugaan, crimson eyes di review oleh senior editor wening gitomartoyo, dan bukannya reno nismara (reno sempet mereview cerebro soalnya mengingat seleranya yang cult). alhasil, seperti review-review kebanyakan yang ditulis mbak wening: selalu menarik, simpel dan tidak berbelit-belit. beliao ini sudah jadi suhu, atau bisa dibilang patokan saya dalam menulis review album yang wenak.

struktur dan dinamika lagu tak tertebak, hanya mereka dan Tuhan yang tahu akan belok kemana selanjutnya. tugas pendengar adalah berserah dan percaya bahwa kuping kita akan direndam oleh bebunyian yang demikian nikmat. (wening gitomartoyo)

Portofolio

sudah sekitar 2 tahunan nyambi jadi jurnalis musik abal-abal di webzine ronascent. webzine indie surabaya yang makin lama makin gede karena anak-anak di dalamnya--yang walaupun hanya berjumlah 6 orang termasuk saya--punya passion yang gede banget sama musik. cukup bersyukur bahwasanya sampai di tahun kedua ini masih mendapat banyak pengalaman baru selain tugas liputan atau nongkrongin backstage buat interview. ribet ngurusin komplasi cd dan majalah juga jadi pembelajaran yang nggak akan pernah bisa didapet di kursus manapun: mulai dari nol, learning by doing, kadang salah juga tapi it's okay buat belajar. juga dapet banyak referensi-referensi musik baru (juga album gratis hihi) yang cukup sebagai bukti bahwa ternyata musik itu amat luas cakupannya meski hanya berdiri di tujuh nada. dan portofolio tulisan saya--kumpulan review, artikel, feature atau yang lainnya--di webzine ini dapat dibuka-baca di tautan berikut:


meski kadang nggak puas sama hasil tulisan yang menurut saya kurang gimana gitu--apakah saya perfeksionis?--tapi nggak pedulilah yang penting nulis terus aja entar juga keren dengan sendirinya hehehe.

Bring Me The Horizon - That's The Spirit: Menemukan Jatidiri Baru


Mimpi apa band ini bisa bertahan dari paceklik jatidiri dan kemudian menelurkan satu lagi hal yang membuat kita sulit untuk melupakan mereka—lagipula selain itu siapa pula yang bisa melupakan kharisma Oli Sykes sebrengsek apapun dia. Terserah Alternative Press dan webzine-webzine alternatif lain  yang memberi nilai sempurna (atau hampir!) pada album ini. That’s The Spirit tidak sesempurna itu, tapi juga tidak secacat Sempiternal. Ada dua kemungkinan bagi kalian dua tipe pendengar musik: yang berpikiran fanatik dan yang cenderung berpikiran terbuka—dan diantara keduanya tidak ada yang paling benar. Fanatik deathcore/hardcore punk akan segera mencaci album ini. Pengkhianat scene. Tidak konsisten. Buruk. Melacur pop. Dan segala komentar nyinyir lainnya. Sementara kalian penikmat musik yang tidak pernah terlalu mempermasalahkan siapa band yang bermain tetapi apa yang mereka mainkan akan menganggap ini adalah hal baru. Segar. Segar sekali. secara kualitas bisa dibilang jempolan. BMTH lebih kurang berhasil. Dan pantas mendapat tepuk tangan yang paling kencang. Juga ada dua kemungkinan lain bagi dua tipe penggemar BMTH: penggemar sejak awal dan penggemar baru. Penggemar sejak awal yang cinta mati death metal, gagah dan masih bertahan dengan musik geraman, bisa dipastikan sudah melupakan band ini karena mereka berhenti mendengarkannya bahkan mulai album busuk Sempiternal. Tapi bagi penggemar baru, sudahlah. Ini adalah hal termetal yang pernah didengar. Terlepas dari metal yang maknanya sendiripun semakin lama semakin kabur (dan untuk itu lepaskan saja stigma kalian tentang metal yang baik dan benar ke tong sampah), kami sendiri sepakat untuk berpikir seterbuka mungkin tentang salah satu album paling menarik tahun ini: That’s The Spirit. Tanpa berusaha mempedulikan dan kemudian membandingkan dengan BMTH-BMTH zaman dulu karena dulu dan sekarang sudah berjarak terlalu jauh bagai pucuk langit dan inti bumi.

Benang merah That’s The Spirit seperti kita ketahui bersama, masih dipegang oleh Oli Sykes. Dengan gaya vokal khas dan lirik yang berusaha sekalam mungkin. Oleh karena itu jangan heran bila Oli hengkang nasib BMTH tidak akan selamat. Tidak masalah gitaris Jona Weinhofen memilih pulang ke Australia dan bermain di I Killed A Prom Queen. Jordan Fish masuk sebagai keyboardis, mengubah semuanya. Memegang peranan sebagai produser, dia juga berperan menambah unsur-unsur elektronika yang membuat That’s The Spirit menjadi benar-benar lepas dari belenggu album-album terdahulu. Untuk track Doomed, kita semua benci lagu itu. Apa lagi yang paling menjengkelkan selain mendengar lagu yang seolah duet Justin Bieber dan Skrillex. Tapi selanjutnya ada Happy Song yang membuat kita kembali optimis. Kalian akan menganggukan kepala saat suara bocah-bocah kecil berteriak lantang: S-P-I-R-I-T! Dan memang jantung album ini terletak pada lagu ini. Pukulan drum memang kencang tetapi tidak sekencang bayangan kalian (untuk itu dengar albumnya jangan hanya baca!). Ada kontrol pada lagu ini. Ada yang ditahan. Tapi seketika itu pula terjadi pelepasan. Tipe-tipe rock stadium yang mampu membuat ribuan orang melonjak bersama.

Baiklah jujur saja kita akan membenci banyak lagu lagi di album ini. Lagu yang kadang terlalu membingungkan seperti Blasphemy—terkesan seperti memaksakan untuk elegan—dan Follow You—terdengar seperti Maroon V dengan Adam Levine yang kehilangan kemampuan untuk ceria. Dengarkan saja Throne yang bagus. Ada semangat modern rock ala 30 Second To Mars di lagu ini. Dua puluh langkah lebih maju pula dibanding Linkin Park (ini untuk kalian yang menganggap BMTH masa kini adalah jelmaan Linkin Park!). Nu Metal sudah jadi sampah dan tentu saja BMTH tidak memainkan renik-renik lama. Jadi bisa dibilang ini adalah evolusi rock generasi Z yang cukup segar didengar telinga. Throne cocok sebagai pemancing kerusuhan di konser-konser langganan mereka—Reading Festival, atau konser puluhan ribu manusia di Wembley Stadium.

Terakhir adalah Drown. Meluncur sebagai single dan sudah dipastikan lagu ini akan disukai semua golongan—terlepas dari VEVO mereka yang terlalu melucu dengan surealis dimana drummer berubah jadi manusia kera dan darah yang mengucur berwarna hijau. Drown memakai formula baru yang tidak pernah dipakai di Count Your Blessings (2006), Suicide Season (2008), There Is A Hell (2010)... dan Sempiternal (2013). Suara Oli yang terdengar lebih alami tanpa paksaan ataupun teriakkan omong kosong. Dari segi musik BMTH sudah jadi sedemikian matang. Kharisma Oli Sykes justru semakin kuat dalam format seperti ini. Menarik minat bocah-bocah belasan yang harus tahu bahwa ada banyak band rock bagus di luar sana. Meskipun semua orang fanatik bilang cemen, barbie, rendah, tai kucing, dan sejenisnya tapi kami percaya bahwa BMTH akan terus bereksplorasi sampai menemukan pakemnya yang benar-benar epik. Tetapi meski begitu, kami berani menjamin bahwa di tahun-tahun mendatang BMTH tidak akan pernah berevolusi menjadi One Direction.

sila buka www.ronascent.biz untuk membaca versi editnya. juga ada banyak review dan cacimaki band-band terbaru.

Tuesday, November 24, 2015

Sudikah Kalian Membikin Buku?

Mimpi apa kemarin diajak cangkruk oleh artis macam Alan Maulana—saya lupa nama aslinya yang panjang. Calon news anchor berpenampilan mentereng dan gemar broadcast kaus My Trip Adventure di BBM ini tiba-tiba komen DP saya yang majang foto cerpen terakhir bukunya Lan Fang Sonata Musim Kelima. Dipikirnya itu buku bikinan saya ah apa-apaan ini orang. Saya sudah sejak lama takzim dengan suhu macam Alan. Lulusan 3,5 tahun dan dia adalah juga seorang aktivis di Universitas Lidah Wetan kesayangan kita bersama. Saya lupa nanya dia cum laude atau tidak tapi yang pasti lulusan 3,5 tahun itu keinginan semua mahasiswa yang terhampar di kampus-kampus di seluruh dunia. Biasanya orang eksis, hits, dan berpengaruh macam Alan lama lulusnya entah karena kepingin nampang dulu di kampus mumpung masih muda atau betah-betah saja jadi seleb kampus tapi Alan tidak. Dia langsung ngajar di SMP anak-anak Chinese di daerah Citraland. Kurang baik apa Tuhan sama dia. Sudah di SMP Chinese dengan gaji yang menurut saya terjaminlah. Dan murid-murid China perempuan yang masyaallah, SMP apalagi sedang sejuk-sejuknya. Tapi kalau menurut filsafat eksistensialisme sih itu ya karena kerja keras Alan sendiri yang membuahkan hasil. Terlepas dari bagaimana penulisan namanya yang saya lupa menggunakan double L atau tidak (Alan Maulana atau Allan Maullana?), dan pak guru baik hati ini mentraktir saya nasi goreng terenak di Lidah Wetan dan membuat saya agak sedikit sungkan tapi sebenarnya senang karena bisa ngirit, perbincangan dengan Allan ini membuka pemahaman baru yang saya tidak pernah terpikir untuk serius.

Saya kudu bikin buku!

Alkisah blog ini sudah ada sejak 2011. Sejak itulah saya selalu nulis segala bentuk ketidakjelasan hidup, pemujaan terhadap bir, penyembahan terhadap Indomie, menganggap rock and roll sebagai nabi dan jalan hidup, kenistaan warga kos-kosan, kebiadaban cerita cinta dan lain-lain yang saya mah tidak peduli dibaca orang atau tidak. Nulis saja menumpahkan uneg-uneg. Lagipula saya lega setelah nulis dan posting di blog, butuh apa lagi selain itu? Saya selama ini hanya berpikiran akal hal itu. Belum muluk-muluk. Mungkin hal paling serius yang pernah saya lakukan adalah di dunia literasi (bangsat entah kenapa saya benci menggunakan istilah ini) adalah menerbitkan zine bersama Bob. Zine sastra yang tidak sastrawi. Zine musik yang tidak kredibel. Zine ilustrasi yang tidak punya juntrungan. Intinya zine abal-abal. Juga antologi rada serius bersama yang mulia Tri Nanang dan tentu saja, penulis langganan saya, Bobby Habib. Tapi karena kurangnya publikasi akhirnya mandek di tengah jalan (Oya saya dan teman-teman sastra mau bikin lagi tunggu saja). Alan memicu saya untuk bergerak. Bahwa nulis itu kudu diseriusi. Tidak hanya buat pajangan di blog. Atau zine. Atau webzine. Mungkin orientasi bukan duit dulu. Tapi karya. Dalam bentuk yang paling purba sekaligus paling puncak dari tulis-menulis... buku!

Orang bernama Alan ini benar juga.

Karena itulah sepanjang jalan pulang diantara dinginnya malam saya jadi kepikiran untuk langsung nyemplung saja sebagai penulis. Ya nulis buku. Bukan abal-abal. Tapi total. Bukan orientasi duit dulu tetapi punya karya dulu. Mr. Alan juga memamerkan novel milik temannya sendiri yang dirilis self publishing alias buku indie. Menarik. Padahal dia dokter gigi. Kuliahnya di FKUI. Nyemplungnya di sastra pula. Dan dia bisa. Alan kepingin seperti dia. Saya juga. Dan kami sedang dalam proses mengumpulkan ide, inspirasi dan naskah untuk kemudian terbit jadi sebuah buku. Buku yang menurut Alan, ya pokoknya nulis dulu, diterbitin, laku atau enggak urusan belakang, minimal kita sudah berkarya. Tapi... eits!

Semua ada ilmunya. Semua ada triknya. Dan salah satu trik itu adalah... Personal Branding.

Saya menangkap intisari pembelajaran Personal Branding dari seorang Alan. Bagi yang ingin ngobrol lebih jauh lagi sila kontak saya untuk sekedar ngopi-ngopi. Ilmu-ilmu Bang Alan yang cukup mumpuni akan saya sharing juga ke kalian. Di Personal Branding sendiri adalah ilmu yang mengajari bagaimana kita menjual diri kita sendiri (sudahlah kita sudah dewasa dan saatnya serius, menjual diri tidak berarti melacur cuk), membuat orang lain mengerti apa bakat kita, kemudian kita akan beruntung karena hal itu. Alan mencontohkan triknya saat mulai membuat lapak Olshop: Alan Shop—atau apa itu namanya.  Menjual kaus-kaus pegunung, My Trip Adventure, Nike, Adidas dan lain-lain. Dia langsung personal branding dengan broadcast ke kontak BBM, majang DP, mengganti nama dengan kontak person, buat akun IG: pokoknya semua orang kudu tahu kalau dia jualan. Tidak hanya itu, jualannya juga kudu dipercaya alias kredibel, biar laku dan dipercaya konsumen. Alhasil, jadilah. Alan Shop kini semakin besar saja, termasuk pagi ini dia broadcast list apa-apa aja yang tersedia di tokonya. Karena saya bukan maniak barang-barang gituan jadi agak tidak tertarik tapi tidak mengapa karena di luar sana, barangnya laku keras dan banyak yang pesan. Sama juga saat dia jadi MC atau host, dia bukan siapa-siapa awalnya. Percayalah. Tapi ya itu tadi, kerja keras plus tekad, plus personal branding. Sama halnya dengan karir sebagai penulis buku, pertama-tama kita harus membangun personal branding yang pas dulu.

Jadi sekarang kita tidak melihat Alan sebagai manusia yang terlahir ganteng dan berkulit putih dengan dandanan kekinian: tetapi Alan sudah naik enam puluh tingkat dari itu karena prestasi-prestasinya yang bisa diraihnya di usia muda. Juga keinginannya untuk menginspirasi orang-orang bebal yang belum tercerahkan macam saya.

Suwun Oom!

Saturday, November 7, 2015

Stars And Rabbit - Constellation: Konstelasi Bintang Kelinci



Dengar dan nikmati. Rebah dan hayati. Pejamkan mata dan ulang sekali lagi: cara terbaik menikmati konstelasi sendu dari duo Stars And Rabbit. Penampilan yang tidak akan terlupakan di Folk Music Festival di Sutos beberapa waktu silam menjelma menjadi audio berkelas yang menemani sendunya hari; saat bangun tidur, akan tidur, dan bangun tidur lagi. Like It Here menjadikan kita manusia lagi. Tidak peduli betapapun capeknya kerja atau kuliah, selama musik macam begini masih ada dan bisa diputar saat melepas lelah, segalanya tampaknya akan baik-baik saja. Suara Elda bercorak khas; kekanakan, manja, renyah, gurih, kenyal seperti cimol. Membuat beban dimarahi bos atau dosen menyebalkan hilang seketika. Atau The House, dimana racauan Elda yang malu-malu manja membuat anda hanya butuh memandangi langit-langit kamar, merasakan synthetizer yang berjalan teriring petikan serius dari teman Elda yang bermain gitar. Catch Me yang bernuansa reggae dan soul juga bisa jadi pilihan. Will you catch me... ujar Elda, dan tentu kita akan mengangguk-angguk cepat. Tapi unsur funky-nya dilebur lagi dengan kesenduan di tengah. Kegelisahan not balok, kemuraman chord, tapi juga ceria dengan reggae patah-patah. Benar-benar. Semua track disini penting. Meski terdengar sederhana sekalipun. Misal, Worth It. Ini malah track yang bernilai. Lagi-lagi suara Elda. Kami tidak begitu peduli dengan genjrengan atau iringan. Elda dan Elda. Ringan. Seperti mengunyah Chiki Balls. Balon udara. Puncak gunung. Tapi ini juga masih sendu, sekuat apapun usaha kita untuk menjadi ceria. Nah kita baru bisa benar-benar gembira bak anak kecil dikasih balon saat Rabbit Run berkumandang. Lucuk, imut, marmut berputar, Hamtaro, macaroni panggang, pesta kebun, dan... kelinci. Rabbits run! Menyenangkan. Mengapresiasi tabuhan perkusi yang bermain tipis-tipis tapi pas. Dan sekali lagi Elda: dengarkan ceracauannya saat akan memungkasi lagu. Kita digiring kembali ke playgroup bersama kelinci putih peliharaan pemberian nenek.

Cry Little Heart, persetan dengan makna. Itu urusan belakangan. Yang penting kami dan anda-anda sekalian suka lagu ini. Dan bahkan bisa menangis. Teringat dibedaki oleh mama di suatu sore yang cerah sehabis mandi saat kita masih lima tahun dan belum bisa mandi sendiri. I’ll Go Along dibawakan kemudian dengan elegan. Intro hamster berputar. Refrain menggigiti cone es krim. Sekali lagi kemagisan album yang kabarnya direkam di London ini tak perlu diragukan lagi. Atau You Were The Universe: astronot pesawat ulang-alik, bintang bergemelapan. Sejauh ini tidak pernah ada band bersuara perempuan yang menyanyikan luar angkasa dengan sebaik ini. Padahal ini sederhana. Tapi Elda memungkasi lagunya dengan memberi klimaks yang total. Kita bisa mendengar sisi lain dari suara gadis eksentrik asal Jogja ini. Dalam, serak, kuat, magis, mengademkan. Untuk lagu-lagu lainnya silahkan dengar sendiri. Tapi jangan lewatkan track paling penting di album ini. Inilah intinya. Man Upon The Hill yang epik. 9,97 dari 10. Jagoan. Jika kesepuluh track sisanya yang ada di album ini digabung, maka kekuatannya bisa diwakili oleh lagu ini. Can i fall into your constellation... dan desahan sensual Elda yang membuat kita kehilangan akal sehat. Penghayatan yang gila. Lagu yang membuat kita kembali menjadi manusia. Yang punya nurani. Punya hati. Punya kebahagiaan. Inilah lagu yang paling membekas dari penampilan mereka di Folk Music Festival beberapa waktu silam. Lagu yang dibutuhkan semua orang yang ingin segera waras dari kejenuhan akan dunia. Mengobati kebosanan akan musik pop ataupun folk yang makin generik. Stars And Rabbit. Bintang dan Kelinci. Entah apa korelasi keduanya. Tapi apapun itu, konstelasi keduanya berhasil.

Pagi yang Asu Selalu

Sudah tertebak apa yang akan diputar oleh Esa Si Manusia Drama – drama queen berpenis – dengan pemutar musik atau sound kecil bututnya yang membuat iba itu. Bayangkan sound seukuran kotak cincin dengan kondisi remuk sana-sini, mesin lepas tak berbentuk, namun masih bisa menyala dan – Dewa Sound Maha Baik – memutar lagu-lagu dari Five Minutes. Baik ini adalah menit-menit ternorak dalam hidup; Five Minutes, band jebolan Inbox dengan vokalis yang berusaha menjadi Ariel – dalam konteks ini Duta SO7 kurang relevan. Dan Esa, mahasiswa pribumi asal Jombang, penganut NU sejati, Gus Dur tulen, Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Tebu Ireng, Hadratus Syaikh, mulai melakukan aksi yang paling tidak relevan dengan itu semua: menambah volume tanpa peduli tetangga kamar kos sebelahmu sedang ngorok. Kemudian berteriak, meniru pitch Ricky FM, dan tentu saja gagal total. Bahwa sesungguhnya suara Esa adalah bukti konkrit betapa dunia sudah hampir kiamat. Kompor meleduk, LPG pecah, Roy Suryo ketipu olshop, Rahmad Gobel dicopot jadi menteri: seperti itulah rasanya. Tapi apa daya, saya adalah tetangga kamar kosnya yang sedang ngorok itu – dan kini terbangun. Jancuuuukkk!

Esa si manusia drama adalah manusia yang unik. Anda membutuhkan acara Ripleys Believe It Or Not versi Indonesia untuk bisa menggalinya lebih dalam. Dia eksentrik. Seniman sejati. Paku payung disulap jadi komponen elektronika. Lempeng kaleng jadi penghantar listrik. Karet gelang jadi penyelamat charger laptop dia yang rusak. Benar-benar. Mendeskripsikan Esa adalah paradoks yang tak berkesudahan. Tubuhnya ceking—bobot kira-kira kurang dari 50 kg. Tapi nafsu makannya mengalahkan kuli bangunan proyek yang kerja lembur siang sampai pagi. Kaya raya bocah ini. Dulu seminggu sekali selalu mengajak ke Matahari—kadang dua sampai tiga kali. Mencomot dua sampai tiga pasang kemeja diskonan untuk dipakai kuliah. Persetan celana pinsil atau skinny fuckin jeans. Esa tidak suka. Celananya masih saja pakai celana berpotongan norak seperti yang dihadiahi tantemu sewaktu kamu khitan. Jelek. Kampungan. Semacam bukan jeans, bukan pula kain, apalagi khaki. Entah itu bahan apa. Seperti celana petualang di gunung tertinggi di dunia. Entah namanya apa. Tapi bila kau anti skinny seharusnya kau pakai slim fit sehingga pas badanmu. Tapi entahlah, saya hanya bisa berkomentar, Esa yang menjalankan.

Entah kenapa saya menulis tentang manusia mutan ini. Apa karena saya belum makan, ataukah karena sudah terlalu iba. Tapi yang pasti, dia adalah sahabat saya—tetangga sebelah kamar yang suaranya benar-benar mampu membuat jembutmu rontok satu persatu.