Friday, September 16, 2016

14 Hari Untuk Selamanya (Bagian 2)

merencanakan kegiatan mokel bersama
II.
Welcome To Sidowangi, Baby!

Matahari menyengat tepat di ubun-ubun, menghajar apapun yang ditimpa, kekuning-keningan, silau. Membara. Membakar kepala-kepala yang walaupun terlindung helm berbentuk apapun, tetap akan terasa pening. Dan anjingnya, siapapun tahu ini masih Bulan Ramadan. Tidak akan ada kesempatan untuk menyiramnya dengan Cola, atau Radler macam apapun. Tidak juga soda. Atau teh campur es batu. Bir dingin apalagi. Panas tetaplah panas. Puasa tetaplah puasa. Siang bolong tetaplah neraka. Tiada toleransi tentu saja.

Tapi bagi Hengki, selalu ada toleransi.

“Pantesan maeng sampek kene keri dewe, lah wong mampir mokel sek!” ujar Wiendo, punggawa motor box tambun yang membongkar isi tas kecil Hengki—yang dibawanya selain tas kresek biadab itu—sesaat seusai salat Jumat. Dia menemukan dua buah Sari Roti coklat. Andai saja ini bukan siang hari bulan puasa, Wiendo tidak perlu sungkan dan berpikir lama untuk mencomot dua-duanya sekaligus.

Saya hanya tertawa menelan ludah sembari mendinginkan badan di lantai masjid dusun yang untungnya lumayan dingin.

Bayangan nasi padang dan es teh, tampak di awang-awang...

***

Kami sedang berada di sebuah dusun antah-berantah, dan akan begitu terus hingga 14 hari ke depan. Dusun yang entah, tidak pernah kami bayangkan dalam fantasi atau mimpi. Dusun yang akhirnya kami tahu bernama Sidowangi. Dusun, tempat segalanya bermula.

Kami sampai disini pada Jumat siang, setelah drama hujan badai dan kegopohan. Perjalanan kurang lebih 50 km Surabaya - Mojokerto mendadak membuat saya tidak ingat apakah saya sahur tadi pagi. Saya rasa tidak karena perut rasa-rasanya hanya berisi angin. Untuk urusan perut saya memang masih bisa tahan, tapi untuk urusan kerongkongan, rasa-rasanya air wudhu itu tadi begitu segar untuk diteguk barang sekali atau dua. Tapi saya sudah berjanji terlebih dulu untuk tidak melakukan dosa di hari pertama di tempat KKN—takut apes dan tidak diridhoi. Dan tidak akan melanggarnya atas nama toleransi sekalipun.

Tapi godaan, Ya Tuhan. Entah, tanpa sadar tahu-tahu saja saya sudah berada di sebuah warung kecil pinggir jalan. Dengan segelas es teh gelas besar di depan mata. Bersama si bos besar, perusuh utama di GTA San Andreas dalam versi nyata, Thug Life baby boy: Eko a.k.a Tyo.

Saya hanya niat memesan segelas es teh saja. Sepertinya masih cukup kuat untuk tidak makan sampai berbuka nanti. Tapi Tyo membuat hari bulan Ramadan jadi seperti hari-hari biasa saja.

“Kulo pecel setunggal!”

Bangsat. Dia malah memesan sepiring. Tahu begitu saya pesan juga. Tapi sudah kepalang gengsi dengan bibi-bibi penjualnya. Saya geledah saja isi tas, menyulut tumbuh-tumbuhan yang tinggal beberapa batang. Sementara Tyo makan dengan lahapnya, saya mengasap sendirian. Menyalakan dupa beraroma.

Seusai melakukan aktivitas berbuka sebelum magrib, saya dan Tyo kembali menuju basecamp. Sepatu saya yang basah kuyup kena hujan keparat tadi pagi sempat saya jemur sebelum salat Jumat. Dan sulit dipercaya, sepatu tersebut sudah kering tanpa sisa lembab sedikitpun padahal hanya saya jemur tidak lebih dari dua jam. Keajaiban. Pantas orang zaman dulu sempat beramai-ramai menyembah matahari. Sementara itu, teman-teman yang ada di basecamp terlihat sudah roboh, terkapar dengan mulut memutih dan kerongkongan yang mencekik perih. Balai dusun tempat kami bermalam untuk dua minggu kedepan tidak sempat diperhatikan lebih dalam lagi. Ada lantai dingin, ada bantal tergeletak, persetan tas dan tetek bengek lainnya yang berserakan, langsung saja tiduri demi membunuh lemas dan mata kunang-kunang. Saya saja yang sempat meneguk es sudah sedemikian tidak tahan untuk segera tiduran, apalagi teman-teman yang masih menjaga puasanya. Beberapa anak terlihat masih membereskan barang-barangnya, beberapa lainnya melamun di pojokan, beberapa lainnya sibuk mengutak-atik gadgetnya, beberapa pemalas seperti saya dan Aminul, tentu saja sudah rebah dengan mulut terbuka. Tyo malah terlihat membongkat tas gunungnya, mengeluarkan bantal balon anak pendaki, meniupnya sampai jadi empuk, dan secepat itulah dia pergi ke alam nirwana.

“Kadal, wareg sego pecel langsung tepar!” batin saya.

Kami terbangun tidak terlalu lama dari waktu kami tidur. Dua jam cukup untuk tidur siang, setidaknya bagi saya. Sementara bagi si jangkung yang saya baru kenal beberapa menit sebelum berangkat kesini, tidur sampai hampir mampus sekalipun mungkin tetap terasa kurang. Ikbal, bocah Pamekasan, salah satu tukang pukul jurusan, bajingan tidak tahu adat, pemalas cungkring gemar ngorok yang bisa tidur hampir seharian, mengajari saya trik mendominasi bantal orang.

“Liyane turu bantal siji gawe wong telu, Bajingan Ikbal iki bantal siji diijeni dewean.” Gumam saya. Tentu saja karena Ikbal memencar jauh dari gerombolan tukang tidur, menjauh demi mendominasi gumpalan kapuk.

Badan sudah segar kembali. Tinggal menunggu adzan maghrib dan kita resmi berbuka di desa orang untuk pertama kalinya. Siapa pemegang tampuk kuasa dapur sudah tidak penting: yang penting makan, kenyang dan ‘hidup kembali.’ Tim dapur yang saya tahu adalah Ayuk dan Nila: keduanya sama-sama kurus (atau cungkring, atau langsing? Saya bingung mendefinisikannya), kecil, imut-imut, tapi jadi paling berkuasa atas hidup matinya anak KKN dari siapapun yang berada disitu. Bila keduanya tidak bisa memberi jaminan, serahkan saja pada koki dadakan Wiendo, yang sepertinya sudah teruji dan terbukti dengan badannya yang jumbo: tipikal orang macam begini biasanya ahli urusan perut dan penggorengan. Yah meski tiap hari tempe lagi-tempe lagi. Tempe goreng, siap. Tumis tempe, siap. Orak-arik tempe, siap. Tempe balado, siap. Soto tempe, siap. Soto tempe sodara!

Hari ini tiada kegiatan apapun yang berarti—kecuali permainan tebak-tebak buah manggis dari tim SDM dimana awalnya kalian diberi nama palsu nan busuk (saya mendapat nama Entong entah bagaimana asal muasalnya), disuruh menghafalkan, dan akan tiba gilirannya kamu akan disuruh menyebut nama asli dan nama palsu seluruh temanmu atas nama kekompakan, dan hukuman menyedihkan dicelonteng di muka bila salah menebak: saya seperti sedang berada di diklat pramuka saja—dan untuk itu saya kemudian hanya melihat-lihat dan mengamati seperti apa desa tempat saya berada ini.

Mendeskripsikan Sidowangi agaknya tampak seperti desa pada umumnya saja. Cenderung sepi dan kondusif. Tetangga sekeliling juga tampaknya baik dan welcome, apalagi Pak RT yang tinggal bersebelahan dengan balai dusun dimana beliau sudah turut membantu memasangkan pelindung atap sampai tanjakan parkir khusus untuk kami. Dari balai desa, Dusun Sidowangi tempat kami berada ini dapat ditempuh dengan jarak hanya 5 menit, dengan melewati hamparan sawah tebu nan luas yang sepertinya jadi mata pencaharian utama warga sini. Desa yang kami tempati juga hanya 20 menit saja dari pusat kota, jadinya tidak bisa dibilang terpencil dan bahkan ada loundry kiloan dan minimarket juga. Tak kalah penting ada pom bensin yang menandakan desa ini bukan seperti desa primitif di pedalaman Zimbabwe. Dan yang paling krusial, sinyal, juga tak mengecewakan. Jaringan H+ lancar-lancar saja, cukup ngebut untuk melihat YouTube sekalipun (mengingat saya sering melakukannya karena waktu itu sedang penasaran seperti apa lagu di album terbaru Blink 182 dan The Strokes). Lupakan miss komunikasi dengan pacar karena jaringan desa yang busuk; jaringan disini bahkan lebih dari mampu untuk melakukan Skype. Meski di sehari-dua hari ada gangguan resmi dari Indosat, tapi selebihnya tidak ada, lancar jaya aman sentosa.

Tempat tinggal kami sendiri (atau sebut saja basecamp biar keren) mungkin awalnya terlihat payah. Bayangkan, kami tampak seperti pengungsi yang harus tidur di balai dusun; sebuah ruangan terbuka berbentuk joglo dimana disitulah kami melakukan aktivitas sehari-hari: makan, tidur, rapat, ngelamun, ngerasani, dan lain-lain. Ada tiga ruang tersisa memang di dalam: satu kamar mandi (sepertinya tempat memandikan mayat dimana di dalamnya berisi peralatan dan juga payung jenazah menyeramkan), satu ruang kosong untuk menaruh barang-barang; tas, beras, sandal, sarung, make up, boneka, dingdong, dan lain sebagainya, dan satu lagi ruang untuk tidur, ganti baju dan dandan para perempuan (mengingat hanya dua orang perempuan yang tidur di luar yakni Ayuk dan Manda, sisanya meringkuk di dalam dengan enjoynya). Bisa dibayangkan kami seperti jemaah sekte sesat yang terusir, untuk kemudian tinggal di barak pengungsian dengan seluruh aktivitas tumplek blek di pelataran balai desa. Kita terbiasa untuk tidur dengan nyaman di tempat dimana kita sebelumnya makan dan masak dengan berkotor-kotor ria. Seluruh laki-laki tidur di luar tanpa kecuali (mau dimana lagi). Dengan dua perempuan yang kami kelilingi: Ayuk dan Manda dengan kasur lipat, bantal empuk, dan selimut, sementara kaum lelaki hanya bermodalkan sarung, kadang hanya lantai tanpa alas. Itulah sebabnya mengapa para lelaki jadi kalap dan sering berebut untuk tidur di sisi Ayuk dan Manda: berangkali bisa mencicipi selimut, kasur atau sedikit bantal—atau, ehm, kapanlagi coba tidur di sebelah cewek—kan lumayan.

Tapi entah mengapa saya selalu tidak kebagian jatah. Selalu saja Anugrah, Breng dan Aminul, tiga bajingan beruntung yang kebagian kebahagiaan tersebut. Gerombolan lelaki lain cukup hanya tidur di lantai—kadang beralas karpet kadang tidak—dengan bantal, jika ada—seringkali dengan berbantal tangan sendiri atau pantat teman. Dan mau tak mau kami harus menyusun rencana demi kemaslakhatan dan kesejahteraan bersama.

Dan, Fitra, ceblong murah senyum, teknisi mesin keparat, tukang tertawa cekikik dengan nada paling menghina ini, membuka jalan kesejahteraan itu.

Problematika utama tidur di luar adalah udaranya yang dingin. Apalagi saat hujan turun di malam hari. Tanganmu serasa beku. Telapak kakimu mati rasa. Dan, ehm, kamu jadi ingin kencing melulu. Bangsat. meskipun sudah ada jaket tapi toh sama saja, dinginnya bak bandeng presto, menembus melunakkan tulang. Lucky bastard Anugrah, Aminul dan Breng masih cukup beruntung karena tidur mereka selalu mengelilingi para perempuan yang dengan begitu mereka masih kebagian hangat—dan sensasi bobo sama gadis. Tetapi 76% lelaki tetap akan menyumpah serapah dan memaki betapa bangsatnya udara, dan menyesali kebodohan kenapa tidak membawa selimut atau tenda saja saat berangkat.

Di saat situasi macam itu, saya kebetulan mendapat satu panggilan masuk, yang membuat saya terpaksa harus bangun dan mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol sekaligus ngudud. Di luar sungguh bajingan, terlalu dingin untuk tidur apalagi untuk telfonan. Saya memutuskan memasuki ruangan dimana tempat penyimpanan barang berada. Tempat yang penuh sesak oleh barang gawanane arek-arek. Penuh tas, koper, beras, elpiji, cucian kotor, sampah, dan lain sebagainya. Saya tertegun sejenak. Sesosok jin tomang dengan mulut terbuka, tergeletak tepat di depan mata saya.

Naaah, yoikiiiiii sing digoleki...

Ternyata itu adalah Fitra yang sedang tertidur dengan pulasnya. Berbantal tas, berselimut sarung-sarung yang bergeletakan, di tengah udara ruangan yang tentu saja cukup hangat dibanding salju di luar. Pintar juga ini musang, pikir saya. Ide bagus. Brillian. Meski kaki-kakinya menyerobot barang-barang anak-anak, ah tidak peduli, yang penting hangat dan nyaman.

Dan, setelah itu kami mengenal ruangan itu sebagai kandang macan. Ruang tidur lima orang begundal yang ogah merasakan dingin dan gaduh di luar. Tidak pernah ada yang tidur di dalam selain kami: saya, Fitra, Hengki, Tyo dan Ikbal; gerombolan penolak dingin, para pemuda menye yang butuh belai kehangatan, sekumpulan jablay haus kasih sayang yang tak pernah dapat kesempatan ‘bobo sama gadis.’

Kamar baru nan nyaman untuk dua minggu ke depan sudah ditemukan. KKN ini sepertinya akan terus berlanjut.

Welcome To Sidowangi, Baby!

penghuni tetap kandangxmacan
yoiki
(bersambung)

Tuesday, August 30, 2016

14 Hari Untuk Selamanya (Bagian 1)

rundown perdana di hari jumat: tepar!
I.
Jumat Keparat

Jumat pagi dengan suhu kurang dari 30 derajat celcius. Bisa apa selain meringkuk di kasur sembari—mungkin—mengigau tentang KKN dimana hari ini adalah keberangkatannya. Untung saja keberangkatan yang hanya kurang sejam lagi ini tidak menjadi mimpi buruk—secara harfiah. Jadi nikmati sedikit waktumu di kos sebelum berpisah selama dua minggu ke depan. Saya akan makin erat memeluk guling jika saja seorang bernama Nila tidak menelepon di pagi dimana sang surya saja enggan untuk menampakkan diri.

“Tito, Halo? Bisa ikut upacala nggak hari ini? Sekalang, kutunggu di rumah ya!”

Sial. puluhan kali mengucek mata tetap tidak bisa menguasai keadaan. Air putih, mana air putih. Mungkin butuh seteguk baru bisa konsentrasi. Karena setelah itu saya sadar bahwasanya saya menghadapi Nila dalam kondisi setengah sadar: mungkin hanya kata 'upacala' dan ‘sekalang’ yang bisa membuat saya sedikit ngeh bahwa yang mengontak benar-benar si cadel ini.

“Hey! Halo! Tito! Kamu sadal nggak sih ini?”

Anjing. Ternyata sudah pukul enam kurang. Dan matahari masih belum membias di jendela. Tumben. Mungkin hari mendung. Sebenarnya saya sudah sempat sadar antara beberapa menit yang lalu: saat bocah-bocah kos berpamitan untuk upacara pembukaan KKN. Pagi benar mereka berangkat, pikir saya. Sedangkan saya, pemalas yang tak kebagian ikut upacara, santai-santai saja: mungkin berangkat agak siangan. Lagipula semalam grup BBM—yang khusus berisi kawan-kawan KKN—sudah ramai: kami belum mendapat topi (sebagai atribut wajib upacara), dan itu berarti kami tidak wajib upacara. Disepakati, disetujui oleh ketua dan beberapa kawan bahwa besok kelompok kami tidak menghadiri upacara, dan akan berangkat bersama-sama menuju tempat KKN sehabis upacara, yang itu berarti tidak perlu pagi-pagi benar.

Tapi telfon dari Nila dan nada pemberitahuan BBM yang deras membuat saya semakin sadar bahwa handuk sudah tak perlu lagi diraih dari jemuran. Bahkan mandi sudah tidak penting. Setelah beberapa tegukan Aqua, saya sadar-sesadar-sadarnya untuk segera menjemput Hengki: dia wakil ketua, orang penting di dalam kelompok, dan mungkin tidak bisa bangun pagi hari ini. Tugas saya membangunkannya secara mendadak. Ya, mendadak. Grup membuat keputusan tiba-tiba setelah mendapat info yang entah darimana rimbanya: boleh tidak memakai topi saat upacara. Semua tergopoh. Semua berjingkat. Yang ditugaskan ikut upacara pun menjadi fleksibel: siapa yang bisa berangkat boleh ikut. Termasuk pemalas seperti saya yang jika saja tidak ditelfon oleh Nila, masih meringkuk di bawah selimut kedamaian kasur.

Hengki saya jemput setelah saya PING!!! Tiga kali berturut-turut. Dan ditengah carut-marut, saya yang juga belum packing dan mandi menunggu Hengki di depan kosnya dengan perasaan amburadul. Grup semakin gaduh. Upacara sekitar sejam lagi. Hengki sialan entah berada dimana—apa buang air memakan waktu begitu lamanya. Hingga ia muncul di depan pagar kosnya. Tanpa tas. Tanpa sesuatu yang secara harfiah bisa digunakan untuk membawa barang saat bepergian. Tanpa rasa malu. Tanpa ekspresi. Hengki membawa kresek loundry, dan disitulah semua barangnya berada.

“Temenan ta arek iki KKN mek sangu kresek?” batin saya dalam hati.

Tapi saya sudah tidak mampu melanjutkan kata-kata lagi. Mungkin Hengki sudah menitipkan barang-barangnya di rumah Nila (yang ternyata tidak dan Hengki benar-benar KKN hanya bermodal kresek bekas loundry, he’s really live a thug life). Hengki segera saya ajak menuju kos saya. Gantian. Dia yang menunggu saya packing dan cuci muka sebentar. Jumat sesejuk ini sungguh tega membiarkan saya berangkat KKN tanpa mandi dan buang air—tidak seperti kebiasaan umum bahwa saat berangkat orang mestinya kudu ganteng, harum dan memiliki sex appeal tinggi.

Dan akhirnya tanpa banyak doa dan nuansa duka akan menghadapi dua minggu di desa orang, saya berangkat. Jalanan menjadi agenda kami selanjutnya. Hengki memegang alih kemudi motor saya yang dalam sekali sentak, sudah berada di titik krusial dimana motor seharusnya dipacu lebih dari 60 km/jam. Saya pikir Hengki tahu kita akan berkumpul dimana.

Ternyata tidak.

“Lho, nangndi Heng! Bukane kumpul di rumah Nila sik, terus berangkat bareng-bareng?” Ujar saya saat Hengki mulai melewati tempat dimana seharusnya meeting point kelompok berada.

“Lho aku langsung cus Mojokerto iki! Kumpul omahe Nila sik ta?” Hengki bertanya seperti kesetrum.

“Yo iyolah mbut!” saya mengumpat lagi sambil mengiyakan.

Sambil menahan dongkol, Hengki berputar-balik. Kami sampai di rumah Nila sebelum berjalan terlalu jauh. Disana sudah ada Anugrah, si ketua, dan tentu saja Nila, si empunya rumah.

“Ngenteni sopo?” tanya saya. Itu karena waktu menunjukkan titik dimana keputusan untuk segera berangkat sudah saatnya dilakukan.

“Sik diluk, To! Nunggu Aminul sama yang lain. Fitra juga.” Ujar Anugrah. Matanya terlihat mengantuk—oh apa karena dia sipit? Dan beberapa saat kemudian si bajingan Fitra memamerkan gambar mobil di grup; entah mobil siapa dan kami tentu saja tidak peduli. apa-apaan?

“Woy, cuk!” terdengar sapaan dari dalam rumah. Saya tidak melihat si penyapa, tapi dari kadar suaranya, itu adalah suara-suara yang hanya dimiliki oleh biadab tak tahu sopan santun.

Sulit menduga bahwa ada salah satu bromocorah di kelompok KKN saya. Eko Setyo Budi, mahasiswa teknik mesin sandal jepit dengan tinggi badan amat proporsional, ternyata sudah disitu terlebih dahulu. Entah sembunyi dimana dia sampai tiba-tiba bisa datang. Saya memanggilnya Eko sebelum tahu bahwa ia tidak mau dipanggil Eko.

“Dia nggak mau dipanggil Eko. Maunya Tyo!” ujar Anugrah sambil tersenyum saat rapat di rumah Nila beberapa waktu silam. Ada nada prihatin dari senyumnya. Saya tidak bisa berkomentar.

Oke baik, jadi keadaan di rumah Nila dalam posisi aman terkendali. Tinggal menunggu beberapa orang lagi dan kemudian berangkat ke Mojokerto—tempat KKN kelompok kami—dan langsung ikut upacara. Tapi Jumat, lagi-lagi membuat gempar. Hujan, tiba-tiba turun dengan derasnya.

“Coookkkkkkk udan faakkkkkkk!” saya mengumpat lagi.

Keparat. Sama sekali tidak barokah dan bahkan beberapa teman berkomentar: ‘KKN yang tidak diridhoi’. Tapi saya lebih kepada kenapa harus hujan di pagi sesakral ini: padahal hari sebelum-sebelumnya belum pernah turun hujan di pagi hari. Cobaan hari pertama KKN berupa air bah turun dari langit: siapa yang menyangka kehendak Mikail. Dengan hujan yang tidak tanggung-tanggung, seperti tumpah ruah dari angkasa, kita tidak mungkin melawan badai dengan hanya bermodalkan jas hujan. Sneakers saya bisa basah. Itu haram hukumnya. Setidaknya dalam kitab tak resmi Conversehead abal-abal.

Tidak ada pilihan lain selain menunggu. Saya mengikuti Eko, ehm maksud saya, Tyo, menuju lantai dua. Jadi rumah Nila juga dihuni sepupu cowoknya yang berkamar di lantai dua. Kebetulan sepupunya adalah teman sekelas Tyo (dan untung saja tidak sama belelnya). Ada televisi dan kasur: pilihan yang sulit, tapi saya memilih rebahan saja. TV kemudian disetel oleh si empunya ruangan: berita bola yang sama sekali tidak terdengar karena hujan turun begitu jancuknya.

Tiba-tiba Wisnu, kawan KKN yang sudah ada di Mojokerto lebih dulu, mengontak saya.

“Piye, Bro! Wis budal durung?” tanyanya.
“Hujan badai, Pakdhe! Dueres!” jawab saya.
“Lho, mosok? Ndek Mojokerto terang-benderang bos!” timpal Wisnu seperti melupakan teritori, letak awan, curah hujan, takdir, dan penugasan Malaikat Mikail.

Sementara itu, beberapa kawan yang mau berangkat juga akhirnya batal.

“Arep berangkat bos entas, eh udan, deres. Nunggu redaan syek!” Aminul, ceking afro ini juga menguhubungi saya.

Saya hanya bisa membalas kira-kira dengan kata yang berkonotasi sama: santai, tenang, woles, selaw, calm, and whatever that have the same fucking meaning. Tapi apa yang saya balaskan itu sepertinya tidak berlaku karena tiba-tiba Anugrah berteriak dari depan pintu.

“Sepatunya siapa rek di depan! Basah!”

Anjing! Anjing! Anjing!

Dan cobaan kedua dari Jumuah keparat ini terjadi sudah: sepatu saya basah sebasah-basahnya.

Yakin ingin melanjutkan KKN?

(bersambung)

rundown kedua hari jumat: tepar!
*judul dicomot serampangan dari judul film mbak Adinia Wirasti, 3 Hari Untuk Selamanya.

The Strokes – Future Present Past (EP): Empat Lagu Tanpa Banyak Kejutan


Julian Casablancas—atau Jules—seperti tidak banyak berubah sejak Is This It (2001) menyeruak ke permukaan dan mengubah tatanan rock dunia. Ia bersama empat temannya yang tergabung dalam The Strokes bertanggung jawab penuh atas ramainya kembali garage rock 60-an yang sudah lama padam ke seantero dunia. Grunge mati di tahun 1994, dan penggantinya hadir di era 2000-an: indie rock yang mengembalikan fitrah rock and roll pada kekuatan drum, gitar, bas, vokal, alkohol 5% ABV, dan linting tembakau merah. Era itu tentu saja sudah berlalu: lihat saja sekitar. Tapi Jules, masih saja tampil dengan potongan rambut, gaya, suara cuek dan kostum yang sama. Meski sudah terhuyung-huyung di dua album terakhir: Angles (2012) dan Comedown Machine (2014) yang seolah menandai kemunduran The Strokes – di banyak review negatif yang ditulis tentang kedua album ini – mereka masih betah bermain di ranah ini. Dan akhirnya, di tahun ini setelah melewati banyak isu dan masalah internal, mereka menelurkan Future Present Past dalam bentuk EP. Empat lagu, dengan satu lagu versi remix, yang dirilis oleh Cult Records (setelah sebelumnya RCA). Future Present Past seperti tidak berusaha atau bersusah payah menjadi seperti Is This It, Room On Fire, dan First Impression On Earth: tiga album awal The Strokes yang sangat dipuja-puji khalayak. Di track pertama Drag Queen, itu saja kadang masih terdengar membingungkan pada awalnya. Dengan efek gitar yang mengawang, juga vokal Jules yang amat sangat cuek dengan gaya vokal perokok alkoholik yang malas bernyanyi, membuat butuh lebih dari sekali untuk menikmati lagu ini. Mungkin The Strokes tidak menghasilkan banyak kejutan; seperti menjelang akhir lagu tampak ceracau vokal bak anak-anak pengidap cacat mental bernyanyi dengan sengaknya. Atau pada Oblivion dimana gitar Nick Valensi (yang dikabarkan juga akan segera membuat proyek baru) dan Albert Hammond Jr. (sudah membuat proyek baru yang kurang sukses) kembali saling mengisi dan tumpang tindih. Single perdana yang dilempar Threats Of Joy mungkin yang paling mendekati The Strokes yang sempat menjadi kesayangan semua orang di era awal: memakai banyak lick-lick klasik dan tentu saja beratmosfer 70-an. Track terakhir adalah Oblivion versi remix: entah mengapa kami rasa ini tidak perlu terlalu banyak ditulis karena kami trauma dengan Jules dan instrumen remix; seperti saat ia berduet dengan Daft Punk di Random Access Memories, atau di proyek aneh Julian Casablancas and The Voidz. Kami mungkin belum sepenuhnya mendengar influence mereka seperti misal The Velvet Underground atau Television—kesemuanya punk avant garde yang makin kesini dianggap cult dan jenius. Tapi dengan mendengar The Strokes di album ini saja kami sudah bisa menebak bagaimana musik yang dimainkan oleh influence mereka: rock purba dengan formula sederhana, cenderung cult, tak tertebak, namun tetap punya hulu ledak berbahaya.

versi edit dari ronascent webzine bisa dibaca disini

Monday, August 15, 2016

Seperti Seharusnya, Noah dan Playlist Abadi


Kurang lebih saya mengenal Ariel dkk di usia SD. Tidak begitu fanatik, malah saya lebih interest pada Dewa 19. Bapak saya pertama kali beli kaset Peterpan di pasar, juga kakak yang punya kaset tape Bintang di Surga. Itu jadi konsumsi sehari-hari akhirnya. Beberapa lagu cukup lumayan untuk diikuti, tapi saya tidak candu-candu amat. Saya berpikir Peterpan adalah band biasa-biasa saja. Yah keren lagunya, tapi belum cukup untuk membuat saya jatuh cinta. Sewaktu SMP saya sempat menonton Insert di Trans TV, waktu itu host-nya masih Indra Herlambang sama Cut Tari. Itu sekitar kelas 9. Disitu diberitakan bahwa Ariel, vokalis Peterpan, terlibat kasus video porno bersama Luna Maya. Yang memberitakan adalah Cut Tari. Tapi host seksi yang cukup sintal dan menggemaskan ini berkomentar di akhir berita:

“Masak sih itu Ariel? Itu bukan Ariel, tapi Andhika Kangen Band!”

Minggu depannya Cut Tari sudah tidak ada lagi di acara Insert. Sekarang dia yang ganti diberitakan media gosip karena video kedua Ariel ternyata nyebar juga, dan itu pemainnya Cut Tari. Mungkin dia terkena kutukan Andhika Kangen Band karena ‘orang nggak salah malah dibawa-bawa.’ Saya ingat betul juga di zaman itu. Zaman Peterpen buat reality show pencarian nama baru di Trans 7. Nama Peterpan memang milik Andika, mantan kibordisnya, jadi dia ngerasa Ariel dkk. tidak berhak lagi memakai nama itu. Saya berpikir bahwasanya  baru kali ini band indonesia mau ganti nama saja begitu hebohnya; masalahnya Ariel dkk tidak tahu akan memakai nama apa. Alhasil ada banyak usul, dan dibikinkan reality show pula. Dag-dig-dug tiap ada yang membahas nama baru Peterpan, selalu saja mikir, nama apa ya yang jadi dipakai. Tapi pas lagi genting-gentingnya nyari nama itu, Ariel kena skandal, jadi tersangka, dan akhirnya dipenjara. Berhenti sudah drama Peterpan. Berhenti sudah urusan ganti nama. Uki dkk, yang tidak ikutan main bokep jadi berjalan sendiri. Sempat membuat proyek Peterpan On Piano oleh David yang kemudian dikembangkan menjadi album Suara Lainnya dimana lagu Peterpan dicover jadi instrumental tanpa vokal.

Di titik inilah, saya mulai interest dengan Peterpan. Ketertarikan ini sebenarnya diawali saat mereka membuat album Sebuah Nama Sebuah Cerita—saya lupa periode pembuatan album itu kapan, sesudah skandal Ariel atau sebelumnya, seingat saya sebelumnya. Disitu ada lagu yang ‘Cobain’ sekali menurut saya: “Walau Habis Terang.” Saya suka liriknya. Itu seperti ‘it’s better been burn than fade away,’; lebih baik kamu padam daripada memudar sedikit-demi-sedikit. Ada satu punch yang saya ingat: peluk tubuhku untuk sejenak, dan biarkan kita memudar dengan pasti.’ Itu adalah salah satu bait terbaik di lirik Indonesia menurut saya. Dan saya berpikir, siapa lagi yang membuat ini jika bukan Ariel. Saya ingat di era ini Ariel tidak lagi berambut sebahu ala-ala Luke Skywalker. Tapi sudah lebih cepak. Dan tidak hanya rambut yang berubah, tapi juga kedewasaan musik di lagu-lagu mereka, sound yang lebih terasa, lirik yang lebih memukau juga influence mereka yang lebih terdengar melebur bersama orisinalitas Peterpan. Itu semua mulai tampak jelas di album Hari yang Cerah, dimana lewat lagu “Cobalah Mengerti” yang sempat saya simak klipnya di MTV, jauh berbeda secara kualitas dengan lagu macam “Mungkin Nanti” yang menye atau “Ada Apa Denganmu” yang terlalu sakarin—dengan intro mirip “Am I Wry” dari Mew. Bandingkan sendiri.

Saya benar-benar suka dengan Peterpan di album Sebuah Nama Sebuah Cerita, yang memuat seluruh hits besar Peterpan dari era debut sampai album terakhir. Melihat tajuknya kita akan segera tahu bahwa ini semacam obituari; album terakhir mereka dengan memakai nama Peterpan. Tapi karena memang berkonsep ‘kompilasi’ atau kumpulan lagu-lagu lawas yang saya tidak pernah terlalu interest, saya hanya mengamati dua lagu baru saja yang jujur, menurut saya lagu baru itu, alias lagu terakhir Ariel dkk saat menggunakan nama Peterpan, adalah lagu terbaik Peterpan sejak awal karir. Mungkin ada satu lagu baru lagi yakni “Kisah Cintaku” yang juga dibawakan bagus tapi itu cover dari Chrisye. “Walau Habis Terang” -lah yang saya maksud. Lepas dari lirik paling puitis yang pernah diciptakan Ariel seperti saya jelaskan diatas, nuansa kelam dan gelap, lesu darah, dari lagu ini begitu menghipnotis. Simak bagian:

“Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya cinta ‘tuk terangi jalanmu...”

Dan lagu ini sudah menjadi abadi, kapanpun, ini tidak akan lekang dimakan zaman, akan selalu relevan dengan telinga saya. Ada semacam kepasrahan yang elegan, entahlah, dalam lagu ini yang membuatnya patut masuk salah satu lagu pop terbaik Indonesia. Ini pulalah yang membuat saya menunggu Ariel dibebaskan, mengutuk orang-orang sialan yang sok moralis dengan mengkafirkan dia, dan secara tidak langsung, pro terhadap Ariel karena dia tidak bersalah; penyebar viedo-nya yang bersalah. Lagipula tanpa bokep Ariel masa SMP saya tidak akan berkesan: setiap hari membayangkan Cut Tari sebagai bahan fantasi dan akhirnya muncul video saat dia sedang main seks dan memamerkan lekuk tubuh sensitifnya; apapun itu, Peterpan, Ariel dan segala skandalnya adalah hal yang indah untuk dikenang.

Hari demi hari berlalu, Ariel akhirnya bebas. Kembali berkumpul bersama Peterpan yang belum ganti nama. Uki sudah makin brewokan, Reza semakin gemuk, Lukman semakin cacingan, dan muncul satu bocah yang kelihatannya jenius bernama David; kembali berkumpul bersama sang frontman. Menjalankan fitrah sebagai anak band, kembali lagi ke studio, menggodok materi-materi yang tertunda. Dan jadilah, nama baru mereka resmi memakai Noah, dan setelahnya album Ariel dkk dengan nama Noah dirilis dengan tajuk Seperti Seharusnya. Saya ingat betul waktu itu saya kelas 12 SMA. Mungkin menjelang akhir kelulusan. Single “Separuh Aku” dilepas dan benar, saya yakin-seyakin-yakinnya, Noah sudah bukan Peterpan dengan sound busuk itu lagi. Mereka berkontemplasi dan bertransformasi menjadi band berkualitas tinggi dengan sound mumpuni dan ya, apa yang saya tunggu akhirnya datang juga. Saya jatuh cinta dengan lagu mereka. Jujur saja waktu itu saya sedang banyak dikepung aliran hardcore, rock and roll dan sejenisnya. No time for menye, no time for pop. Tapi disaat Noah datang, itu semua tidak saya hiraukan. Satu hal yang saya catat adalah kedewasaan Noah ini tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran David. Give applause for him, dan karenanya “Separuh Aku” mempunyai melodi yang menggoda.

Album Seperti Seharusnya rilis juga via KFC, dan keluarga yang memang biasanya makan disana saat keluar kota kedapatan mendapat album gratis dari pembelian ayam. Tidak butuh waktu lama saya langsung menunjuk Noah, fuck you Judika, fuck you pop generic, fuck you all chicken musicians: saya hanya cinta Noah dan tentu saja akan memilihnya tanpa berpikir panjang. Album ini akhirnya menjadi album sehari-hari. Semacam playlist wajib yang pagi, sore, atau malam selalu saya dengarkan. Saya me-rip kasetnya sehingga bisa didengarkan lewat ponsel—apalagi pemutar musik yang lebih baik bagi generasi Z macam kami selain headset menancap di ponsel. Noah juga sempat menjadi backsound pernikahan kakak saya, Rina, yang waktu itu mengadakan acara satu hari dua malam. Di tengah gempuran campursarian orang tua yang membosankan, koplo yang memuakkan, dan pop-pop Betharia Sonata yang sudah seharusnya masuk tempat sampah, saya memboyong kaset Noah untuk kemudian diputar seantero kampung. Bayangkan apa yang terjadi: itu pukul tujuh malam, dan “Raja Negeriku” sebagai track pertama berkumandang. Lagu yang banyak meminjam pengaruh dari U2 dan Angels And Airwaves ini adalah track terkeras di album ini, juga paling distortif. Pidato Bung Karno yang meledak-ledak di pertengahan lagu adalah efek kejut bagi para veteran keluarga saya yang sedang merokok kretek: mereka mengingat kembali nasionalisme yang ternyata bisa juga dihempas oleh anak muda. Rina pun enjoy-enjoy saja saya putarkan Noah, begitupun orang-orang yang hadir kondangan. Soundtrack prasmanan nasigoreng dan rawon yang memacu testosteron! Meski kakek saya ngedumel terus karena menganggap lagunya terlalu ‘keras’; yeah, if it’s too loud you’re too old. Kakek memang sudah tua, bahkan untuk Noah sekalipun. Untung saya tidak putar Seringai.

Setelah “Raja Negeriku” yang ngeri, sound system nikahan Rina menampilkan lagu-lagu manis yang mulai track dua dan seterusnya, membuat perasaan terbawa dan suasana kondangan jadi romantis. Saya hanya duduk, mengamati operator di seberang sana menjalankan tugasnya dengan baik, sambil sesekali mencomot lemper dan lumpia. “Jika Engkau” mengalun, dengan opening gamelan jawa yang benar-benar diekspos sewaktu Noah konser. Sekali lagi kedewasaan terdengar; ini adalah pop dengan persenyawaan terbaik. Uki dan Lukman saling mengisi dengan sound gitar yang melankolis, plus suara Ariel yang tidak ada tangingannya. Lalu “Hidup Untukmu Mati Tanpamu” yang diciptakan Rian D’Masiv—dan untung saja tidak dinyanyikan band-nya—memulai lagi mengumbar pop rock yang walaupun tanpa gitar delay ala-ala The Edge seperti “Raja Negeriku,” tapi cukup menyentak saat memasuki refrain. Lagi-lagi kita bisa mengamati sound gitar berkelas yang ditampilkan Uki dan Lukman. Jangan pula lupakan isi-isian dari si jenius David. Peterpan naik jutaan tingkat lewat track ini.

Untuk track satu ini, saya pikir inilah lagu terbaik di Seperti Seharusnya. Sungguh subjektif, namun “Ini Cinta,” yang seperti bercerita tentang Ariel yang melakukan segalanya karena cinta dan bukan nafsu, sungguh tidak bisa saya enyahkan, atau saya dengarkan sekali-dua kali. “Ini Cinta” entah bagaimana selalu ada dalam playlist saya dimulai saat acara nikahan Rina. Salah satu lagu romantis terbaik yang pernah dinyanyikan musisi Indonesia. Lirik yang tidak terlalu puitis, ringan, sederhana, namun punya melodi yang membuat siapapun rela hanyut dalam pusaran. “Ini Cinta” tidak bertendensi menjadi megahits seperti “Separuh Aku” dan “Jika Engkau”, tapi dengan permainan David yang minimalis di lagu ini, sungguh lagu ini tidak boleh disepelekan. Termasuk underrated juga karena kalah dengan “Hidup Untukmu Mati Tanpamu” ataupun “Tak Lagi Sama”. Saya membayangkan saat mereka ngejam lagu ini, diiringi rintik hujan di luar studio, dan secangkir teh diletakkan diatas ampli: lagu penting kadang hadir begitu sederhana. Simak menit magis: 1:38, dimana David melempar sebuah alunan disambut kesenduan backing vokal tipis-tipis yang serasa diambil dari surga. Seterusnya terus begitu, David, backing vokal, Ariel, sampai saya yang sudah berkali-kali menemukan letak keindahannya tidak bosan-bosannya untuk terus mendengarkannya.

Track lain yang menurut saya haram dilewatkan adalah cover dari Chrisye, “Sendiri Lagi.” Entah bagaimana jika Ariel dkk, dalam Peterpan ataupun Noah, mengcover Chrisye, hasilnya selalu diatas rata-rata, menyamai kualitas lagu aslinya. Tapi untuk “Sendiri Lagi” versi Noah, saya kira mereka melampaui lagu aslinya. Ini adalah upaya David, yang menjadikannya begitu berkesan dan banyak warna—padahal aslinya hanya sewarna: sendu. Saya suka lagu pop dengan banyak isian manis seperti ini, dan tetap terdengar minimalis. Memasuki menit ke 3.00, saat itulah Noah dengan Uki, Lukman dan Reza hadir, mengiringi David dan Ariel. Memuncak sempurna, berhasil dan saya menunggu Noah mengcover lagu dari Chrisye lagi tanpa harus terdengar sepertinya.

Terakhir, “Puisi Adinda.” Lagu yang cukup lama saya lewatkan karena berada di track terakhir. Tapi nyatanya ini adalah harta karun, benar-benar harta karun. Suara denting piano beradu dengan suara malaikat di intro. Dengan durasi yang cukup singkat, dan vokal Ariel yang biasa saja dan tidak berusaha memberikan gaya terbaiknya: track paling menyentuh di Seperti Seharusnya. Dan seperti inilah seharusnya lagu pop Indonesia: mulai memasuki menit 1:50 ada bermacam isian yang seperti dipinjam dari langit. Track yang surgawi. Dan nyatanya, setelah sekian tahun menjadi playlist, Noah dengan Seperti Seharusnya belum pernah bisa hilang dari playlist saya: semua lagu di album ini penting, dan inilah pencapaian tertinggi Ariel dkk mulai dair awal karir mereka: dan bahkan ini adalah album terbaik mereka, baik dengan nama Peterpan atau Noah. Saya masih menunggu Noah membuat album penuh lagi, bukan album tak penting semacam Second Chance atau yang terbaru, Sings Legend: siapa yang ingin mendengar yang seperti itu. Buatlah yang seperti seharusnya. Meski kaset saya sudah raib diembat seseorang bernama Roni yang ternyata adalah adik ipar Rina: bajingan bertampang lebih cabul dari Andhika Kangen Band yang jika saya tanya mana kaset Noah, selalu menjawab sedang dibuat mainan anaknya dirumah.

Tapi meski begitu, Noah tetap abadi, dalam playlist dan dalam ingatan, seperti seharusnya.

Blink 182 – California: Memaknai Pop Punk Setelah DeLonge Hengkang


Sempat sinis dan berpendapat bahwa Blink 182 seharusnya bubar saja. Atau ganti nama. Atau segera reuni: Tidak ada yang pernah bisa menggantikan punkers futuristik bernama Tom DeLonge, dan bahkan walaupun dua personil yang tersisa mencoba mengkloning begundal-bedundal punk rock dari seluruh dataran Los Angeles sekalipun. Tapi nyatanya tidak. Blink hidup kembali. Tak ada ganti nama. Tak ada upaya reuni. Tak ada bubar. Tak ada kloningan DeLonge: yang ada hanyalah Mark Hoppus, Travis Barker, plus Matt Skiba dari Alkaline Trio sebagai kudahitam baru yang bermain lepas dan seolah menjadi The New Blink 182, merilis album penuh bertajuk sebuah kota penuh dosa di daratan Amerika: California.

Jutaan orang sudah jadi pendengar Blink sejak usia mereka masih belia: saat toilet jokes yang tidak lucu-lucu amat seringkali mereka tampilkan. Saat betapa cueknya mereka bugil, entah dalam videoklip atau sekedar foto. Saat seenak-udel mengubah kemarahan punk menjadi selucu dan seusil buang air di celana. Saat mereka menguasai MTV dan membuat industri hiburan melirik pop-punk sebagai sesuatu yang menjanjikan: ini era Blink dimana hits seperti All The Small Things, sampai Stay Together For The Kids menjadi langganan radio mainstream. Ini era Blink dimana lagu macam Miss You atau Always menjadi teman mereka yang sedang belajar berciuman lidah waktu ABG. Blink 182, tanpa disadari, adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi generasi muda yang akhirnya gemar bertopi terbalik dengan celana tiga-perempat dan memakai sneakers dengan kaus kaki tinggi-tinggi. Haram hukumnya pergi ke sekolah tanpa pakai items dari Macbeth. Efek yang sebegitunya.

Tapi pahlawan generasi itu tidak lagi tampak harmonis. Hubungan personil Blink tiba-tiba saja memanas. Merenggang. Makin kesini makin rumit. Proyek supergrup Angels And Airwaves milik Tom, dikatakan seperti punya pengaruh terhadap pertikaian ini. “Tom ingin membuat musik Blink seperti Angels And Airwaves,” ujar Mark di sebuah wawancara. Alhasil, Tom dipecat dari band, sementara Mark dan Travis terus berjalan, merekrut Matt Skiba dari Alkaline Trio. Berpuluh sesi jamming dan shift, dan akhirnya... muncullah California.

Ini bukan yang terbaik dari Blink 182. Dan tidak akan pernah bisa menyaingi album-abum Blink di era sebelumnya. Tapi juga tidak bisa dipandang remeh. Matt Skiba bukanlah Tom DeLonge dengan segala ciri khasnya, dan bagusnya dia sadar akan hal itu. Alhasil, Matt menjadi dirinya sendiri dan bermain tanpa tekanan. California sendiri masih mempertahankan benang merah Blink 182 yang dijaga oleh gaya vokal Mark dan permainan drum khas Travis: sementara Matt, memberi kesegaran dan nafas baru. Mungkin secara teknik juga tidak kalah dibanding Tom.

Dalam California, pembuka Cynical mungkin sedikit membosankan dan kurang ‘uh!’—sebagai pembuka yang biasaya diisi oleh lagu yang ‘grrr!’. Tapi track selanjutnya, Bored To Death memberi kesegaran baru: meskti tidak ada perubahan drastis, juga tidak terlalu berpatokan pada gaya lama. Semua normal saja meski harus diakui era pop punk selalu berada di titik sulit. Bila dibandingkan dengan Neighborhood sebagai album terakhir dengan Tom, California mempunyai lagu yang agak sedikit lebih pelan dan ‘sopan’. Tapi tidak mengapa toh keriput di wajah Mark Hoppus tidak bisa lagi berbohong: Blink 182 sudah menjadi bapak-bapak berumur. Simak Home Is Such A Lonely Place yang kontemplatif. Segarang apapun punkers di masamudanya, kegelisahan paruh baya tidak dapat ditutup-tutupi. Tapi lagu-lagu ala masamuda yang tak pernah berakhir pun masih terasa ugal-ugalan di Built This Pool dan Brohemian Rhapsody—sempat mengira ini cover Queen ternyata hanya lelucon. Beberapa track mengingatkan pada era Blink 2000-an seperti Left Alone yang menggabungkan awalan gula-gula di awal, dan jadi keras di intro. Tapi Rabbit Hole menampilkan bagaimana seharusnya pop-punk dimainkan: menghentak dan membuat cewek-cewek kegerahan. Satu hal yang dicatat—dan mungkin bisa diamati sendiri—adalah berkurangnya hook-hook cantik yang dilempar Travis yang biasanya gemar beratraksi dibalik drum set-nya. Ketukan-ketukan standar yang kebanyakan mengisi album ini, dan itu sepertinya bukan gaya dari jagoan kita.

Beruntungnya Blink 182 bukan tipe band dengan satu frontman yang menentukan arah band: selain Tom, mereka juga punya Mark. Jadi tidak terlalu aneh saat mereka merekam California tanpa Tom: Mark masih ada sebagai benang merah dan kita masih bisa merasakan hawa ‘Blink’ di dalamnya. Lain halnya misal Green Day ditinggal Billie Joe atau Rancid ditinggal Tim Armstrong; pastilah akan jadi aneh saat mereka album baru. Jelas tampak bahwa tiang penyangga utama Blink bukan hanya terletak pada Tom, tapi juga Mark. Bahkan Travis. Jadi sebenarnya Blink 182 dapat diibaratkan seperti sebuah segitiga yang untuk bisa tergambar sempurna harus diisi oleh Tom, Mark dan Travis. Tapi dengan Matt Skiba; mungkin masih berbentuk segitiga walaupun tidak lagi sama sisi.

versi edit bisa dibaca disini

Wednesday, June 15, 2016

Apa-Apa Yang Saya Konsumsi Akhir-Akhir Ini, Dan Bagaimana Itu Bisa Membuat Saya Sedikit Tersenyum Lega Sambil Bergumam Bahwa Hidup Tak Melulu Berisi Hal Buruk


Rolling Stone ‘40 Tahun Ramones + Lists 40 Album Punk Terbaik Sepanjang Masa’
Setelah edisi-edisi sebelumnya tidak cukup menarik untuk dibeli, Rolling Stone Indonesia akhirnya membuat saya membeli majalahnya lagi. Cover yang greget, lebih greget dari Isyana Sarasvati sebagai cover bulan lalu (walaupun saya akui foto Isyana paling cakep ada di cover RSI). Rolling Stone seperti menghormati Ramones dengan menampilkan ilustrasi cover Ramones karya John Varvatos tanpa diubah sedikitpun, berbeda dengan tradisi Rolling Stone yang selalu memproduksi cover ekslusif nan artistik. Tapi toh inilah semangat punk itu: orisinal dan tidak perlu banyak polesan. Cukup taruh logo Ramones berisi Joey, Johnny, Dee Dee, dan Tommy, dengan ornamen khas dan hanya nuansa hitam putih, jadilah cover ini membuat Rolling Stone berbahaya lagi. Isu yang diangkat adalah 40 tahun Ramones, berisi feature panjang tentang bagaimana Ramones, band yang akhirnya diakui Rolling Stone sebagai band punk pertama dan paling berpengaruh – dan bukannya Sex Pistols – menjalani hari-hari mereka sebagai band: di panggung dan di dunia nyata. Lists 40 album punk terbaik juga disabet Ramones dengan The Ramones sebagai urutan pertama, dan jika kalian menebak Nevermind The Bollock’s sebagai urutan dua, sama seperti saya, anda salah besar karena Sex Pistols berada di urutan ketiga. Urutan keduanya mungkin sudah tidak asing lagi tapi saya persilahkan kalian membaca sendiri. Satu album Green Day Dookie, muncul di urutan yang saya lupa, beberapa nomor setelah Nevermind dari Nirvana. Muncul di urutan hampir terakhir, Blink 182 dengan Enema Of The State. Menjadi punk memang sebegitu asyiknya.


National Geographic Indonesia ‘Ganja Apa Benar Bermanfaat?’
Uang lebih dan usil mengambilnya dari rak toko buku. Mencerahkan dan berhasil. Seperti yang kita duga, ganja ternyata punya banyak manfaat medis dan apabila dimanfaatkan secara benar, bukan hanya giting yang didapat tapi juga terapi kesehatan. Saya lupa di edisi berapa Natgeo berhasil membodohi saya untuk membeli isunya (kalau tidak salah tentang kebohongan pendaratan Neil Armstrong), saya pikir Natgeo menulis artikel tentang kebohongan itu, ternyata malah membantah. Saya pikir edisi ganja ini juga sama, bakalan membantah khasiat ganja, ternyata tidak. Saya jadi berkesimpulan bahwa Natgeo yang bagus adalah yang memancing rasa penasaran. Dengan cover yang bertanya-tanya: benar-atau-salah, iya-atau-tidak. Dan kita akan menerima mentah-mentah apa yang dikatakannya. Natgeo sudah tidak perlu diragukan lagi sebagai referensi ilmiah terpercaya.

Deafheaven – ‘Sunbather’ (Album)
Black metal lucu yang saya dengar bertahun silam adalah Hellgods dengan Kabut Keabadian (masuk kompilasi Metalik Klinik I tahun 1999), setelah itu tidak ada lagi. Nyaris saya tidak punya keterkaitan dengan genre ini, dibandingkan dengan hardcore, grindcore atau deathmetal dimana saya sudah cukup akrab semenjak jaman sekolah. Saya pikir black metal adalah musik yang cukup epik, berkecepatan satu hempasan cangkul ke kepala, lirik beraroma anyir darah kelelawar, filosofi main band penyembah syaithon, Anton Lavey, The Satanic Verse, dhemit, genderuwo, menjual jiwa pada iblis, Ghost Rider, dan bayangan-bayangan kelam lainnya. Tapi ini seperti didekonstruksi saat saya mendengarkan band super cult bernama Bvrtan dengan albumnya Pemuja Sawah Tebu. Kalian akan terpingkal sampai dasar sumur tatkala mendengar lagu dengan judul macam Ritual Menanam Singkong di Kebun Kegelapan, Cangkul Pusaka Dari Pak Kades, dan bukan karena iramanya yang seperti Teamlo, tapi ya memang lucu saja karena membahas sawah tebu dari perspektif yang ultra gelap, lebih gelap dari cerita-cerita pembantaian PKI di sawak tebu. Citra black metal yang ‘negatif’ tersebut nyatanya bisa berubah tatkala mendengarkan Deafheaven. Sebelumnya album metal yang terakhir saya dengar dengan intens adalah Profanatik dari Deadsquad, jujur saja, setelah itu vakum dan tidak intens mendengarkan metal lagi. Kadang memang masih berburu dan mendapat kiriman album dari band-band metal yang katanya bagus, tapi selalu saja, bosan. Begitu-begitu terus. Sampai akhirnya Deafheaven lewat Sunbather memberi saya harapan baru untuk mendengar metal. Perpaduan antara blackmetal, shoegaze dan post-rock, dimana saya kebetulan sedang mendalami dua musik terakhir, membuat blackmetal dari Deafheaven mudah diterima dan dicerna. Hebatnya lagi stigma miring tentang blackmetal hilang seketika. Blackmetal nyatanya cukup keren, apalagi vokalis Deafheaven begitu total dalam bersuara seperti iblis, dalam, menyayat dan mencekam. Gayanya juga tidak norak: pakai jubah hitam-hitam dan make up bak lucifer. Cukup biasa saja, kemeja, atau kaus dan fantofel. Dengan rambut yang tidak tipikal blackmetal yang gondrong menjuntai kuntilanak, tetapi biasa saja, pendek rapi. Apalagi dengan cover album yang berwarna pink, hhm. Saya pikir band ini akan terdengar seperti band so called hardcore yang sok-sok-an mengawinkan musiknya dengan pop, atau EDM, atau RnB dan jadinya malah lagu emo tai yang merusak telinga. Track pertama Dream House adalah kebrutalan yang bisa dibilang manis, saya menemukan kembali kenikmatan mendengar metal. Ada rasa-rasa beautiful chaos pada musiknya, membuat saya terpukau dan sanggup headbang dengan mata terpejam, sambil merasakan emosi kesedihan yang dipancarkan. Jika terlalu menghayati mungkin bisa saja sampai menitikkan air mata, walaupun ini blackmetal sekalipun. Track lainnya sila dengar sendiri. Rekomendasinya Irrestible, yang bisa dibilang warming up dan cukup kontemplatif, dan Sunbather (lagu) yang masih bagus sekali sebagai teman saat sendirian di kamar (saya merindukan variasi gitar semacam ini seperti di album BMTH saat masih diisi Jona Weinhofen). Rekomendasi lain yang penting dan fardhu ‘ain adalah Dream House yang direkam live di entah apa lupa namanya, dimana di video hitam putih tersebut terlihat seorang fans berat yang sepertinya seorang geek atau gamer, memakai kaca mata, dan bukan tipikal anak metal, tetapi bisa amat sangat menikmati Dream House seolah seperti kerasukan saat headbang sambil merapal lirik. Video lain yang dapat disaksikan di YouTube adalah Deafheaven yang bermain fullset di Pitchfork Musik Festival 2015 lalu. Versi live yang tak kalah hebat dengan album, termasuk suara vokal yang lebih kentara dan menggetarkan ulu hati.

Yusi Avianto Pareanom ‘Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi’
Fuck! Adakalanya kita muak terhadap novel-novel rekomendasi, yang justru setelah dibaca malah terlalu berat dan kita tidak paham cara untuk menikmatinya. Novel-novel bagus kebanyakan keluar dari jalur pemikiran orang-orang dengan patokan bahwa bagus itu harus begini-begitu. Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 (biasa disingkat Dilan 1 dan Dilan 2), adalah salah satu buku yang tidak memenuhi prasarat mahasiswa (atau dosen juga?) yang berkata bahwa karya sastra itu harus ‘sastra’, berat, feminis, antropologis, atau apalah itu, semuanya serba dikotak-kotakkan. Saya tidak memungkiri bahwa seluruh novel yang disuruh baca oleh dosen saya masih kalah jauh dibanding Dilan, entah karena masalah selera, saya yang bodoh, saya yang tidak nyastra, terserah. Intinya buku ini bagus luar dalam. Itu tahun lalu, dan tahun ini juga sama. Mungkin semuanya menggembor-gemborkan O karya Eka Kurniawan, yang jujur entah mengapa saya tidak tertarik membeli bukunya (atau belum tertarik), meski beberapa bukunya sudah go international. Pada saatnya saya akan baca, tapi untuk saat ini saya lebih suka membaca Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom. Novel nir pesan moral dan seperti mengobrak-abrik legenda yang sudah mapan ini tidak seberat yang kalian kira. Tapi juga tidak remeh-temeh. Intinya bisa dinikmati oleh kelas cupu macam saya. Banyak punch-line yang menyentil (seperti anjing menyantap tahi teman anjingnya atau hukuman mati yang unik dimana pesakitan dilempar telur sampai mampus), dan bahasanya yang tidak terlalu sopan seperti buku so called dongeng pada umumnya membuat buku ini amat sangat menarik. Bahwa mengumpat dalam novel ini adalah budaya juga (anjing, kutu busuk, tapir buntung, melegakan sekali untuk diucapkan). Novel yang sepertinya juga menggabungkan deskripsi ala penulisan food writer sehingga daging sapi, yang digambarkan dalam novel ini, bisa begitu membuat kalian tergiur dan ingin segera memesan tengkleng. Atau babi guling masakan keahlian si Loki Tua, yang dari awal hingga akhir cerita, selalu membuat penasaran seperti apa rasanya.

Seandainya Saya Wartawan Tempo
Mungkin saya tidak terlalu jago dalam menulis, hingga akhirnya butuh buku teknik menulis. Beberapa ebook dari AS Laksana kiriman Mas Faris JMC (jmcnation.blogspot.com) sudah saya baca seluruhnya (syuwun mas!). Dan sudah banyak bermanfaat mengubah mindset atau pandangan saya mengenai menulis, dalam hal ini karena AS Laksana sendiri sepertinya berkecimpung di dunia hypnotherapy. Juga teknik-teknik ringan yang bisa digunakan untuk pacu ide. Seandainya Saya Wartawan Tempo sendiri merupakan buku terbitan lama, dan tidak jauh beda dengan ebook AS Laksana, sama-sama teknis. Hanya saja AS Laksana untuk fiksi, sedangkan Tempo untuk nonfiksi. AS Laksana bicara mental dan mindset, Tempo lebih pada teknik menulis feature agar menarik. Cukup menarik membaca keduanya, dan kemudian menggabungkan ilmunya jika memungkinkan. Itu mungkin bisa diterapkan pada tulisan saya yang kebanyakan nonfiksi, sekaligus proyek buku fiksi saya.

#NARASI: Antologi Prosa Jurnalisme
#NARASI adalah proyek Pindai.org yang mengumpulkan karya-karya prosa jurnalisme dari beberapa penulis jempolan. Beberapa nama yang saya tahu seperti Yusi Avianto Pareanom, Raka Ibrahim, Nody Arizona dan Puthut EA juga turut menyumbang naskah prosa jurnalisme. Sebenarnya ini bukan genre baru dalam kepenulisan nonfiksi: karya jurnalistik dengan unsur sastra di dalamnya. Penjelasan simpelnya adalah kita membaca sebuah cerpen atau novellette, tetapi kisah di dalamnya benar-benar terjadi tanpa tambahan bumbu penyedap apapun, real, tidak dibuat-buat dan tidak ngarang. Antologi macam begini sebelumnya pernah dibuat oleh Pantau berjudul Jurnalisme Sastrawi, dimana jurnalis kenamaan seperti Andreas Harsono – yang juga berkontribusi dalam #NARASI – mengajak penulis-penulis nonfiksi untuk mengembangkan genre ini. Di kampus, gaya tulisan macam begini masih belum banyak orang yang tahu. Dua dosen yang saya tanyai tentang genre ini masih kebingungan: apakah ada? Memang jurnalistik dan sastra seperti saling bertolak belakang karena satu nonfiksi sementara satunya fiksi. Tetapi jika dipadukan akan menghasilkan tulisan bagus dengan panjang kira-kira sampai 15.000 kata. Tulisan terpanjang saya tidak pernah sampai puluhan ribu karakter; mentok 5000 itu juga sudah syukur-syukur. Bagi kalian yang tertarik dengan genre ini mungkin kita bisa berdiskusi.

Musik Terbaik 2015

Hidup di Surabaya dengan ritme kejamnya membuat saya terkadang rentan emosi. Panik berkepanjangan, gugup, gelisah, paranoid dan gejala jiwa lainnya. Apalagi kerjaan yang menumpuk, deadline yang memuakkan dan tugas kuliah yang seperti tak pernah berhenti. Ini adalah tahun yang mengesalkan. Kuliah sudah sampai puncaknya dan itu berarti beban tugas juga makin di luar nalar. Begitu pula pekerjaan yang sesantai-santainya tetap menyisakan banyak kebuntuan dan ceceran deadline. Amit-amit bisa vakansi, selonjoran dengan tenang saja susahnya minta ampun. Tapi saya tidak pernah terlalu khawatir. Pemutar musik selalu menjadi jawabannya. Membuat saya bisa lupa ocehan dosen, tekanan editor, dan hal-hal lain yang melelahkan. Di kondisi malam hari saat suntuk sudah di ambang batas, tidak ada salahnya meninggikan volume sound system, menyalakan album-album terbaik yang rilis di 2015 ini, sembari makin mempercayai satu hal: bahwa ternyata musiklah yang membuat semua orang bisa bertahan di dunia yang semakin riuh—sekaligus menikmati perihnya.

Sigmun – Crimson Eyes
Orange Cliff Record, 2015
Mengenal band ini sejak pertama kemunculannya di 2011. Kuartet asal Bandung ini telah merilis sebuah Demo berisi empat lagu—sebagai teman malam kelam saya yang penuh kegalauan. Tak lama mereka merilis Cerebro, batu meteorit dari cincin Saturnus dalam wujud piringan hitam. Kental pengaruh stoner yang berat: merokok dengan asapnya yang ditelan semua. Nyegrak. Seperti Marlboro merah. Tapi yang terbaik mereka luncurkan tahun ini. Debut Crimson Eyes adalah Led Zeppelin dengan hawa Black Sabbath, ataukah kegelapan Ozzy Ousborne dipadukan kegilaan Pink Floyd. Surealisme era Syd Barret, Jimmy Page, atau apapun itu patokan mereka. Sigmun tetaplah Sigmun yang dingin, mencekam, sekaligus transenden. Persetan dengan metal, inilah blues, tapi blues yang stoner, stoner yang heavy, ah apalah itu. Tapi memang ini adalah musik yang berhubungan langsung dengan kejiwaan, seperti halnya asal-usul nama mereka: Sigmund Freud.

Stars & Rabbit – Constellation
Green Island Music, 2015
Berhentilah mendengar Ungu. Sudahlah. Band norak. Atau kalian merasa selera musik kalian bagus hanya karena hapal lirik Isyana Sarasvati. Ataukah lagu-lagu noir lawas milik Nike Ardila. Berhentilah jadi kurator musik kampung yang gemar nyetel lagu keras-keras via gawai. Ataukah hanya berharap pujian dari suara berisik yang kalian banggakan. Cuih. Jika kalian tidak kenal band ini maka itu berarti dua atau tiga tahun lagi selera musik kalian masih sama buruknya. Stars and Rabbit adalah keajaiban yang benar-benar nyata di alam raya. Bagaimana bagusnya vokal Elda, menghubungkan kalian langsung ke pusat alam semesta (“You Were The Universe”), ataukah ternyata musik pop folk tidak melulu palsu dan generik (“Man Upon The Hill”) yang membuat kebiasaan menuang teh panas di sore hari menjadi sebuah perjalanan dengan bintang dan bulan dalam genggaman. Constellation adalah salah satu yang terbaik tahun ini. Saya tidak suka Raisa.

Silampukau – Dosa, Kota, & Kenangan
Moso’iki Records, 2015
Berkuliah di Surabaya bisa berarti menjalani ritme kotanya yang cepat. Lalu-lalang. Bus kota. Angkot seenaknya. Suara-suara mesin dan umpatan. Tetapi bagaimana bila semuanya tersebut dinyanyikan dengan jujur, hanya dengan gitar bolong dan sedikit bebunyian ekletik? Tanyakan pada Silampukau dan kalian seharusnya sudah mendengarkan album penuhnya. Bahkan Felix Dass-pun terus-terusan memuji mereka: Kharis Junandharu dan Eki Trisnowening, sebagai penggerak baru skena Surabaya yang telah lama pingsan. Kita akan diajak menuju Dolly, menenggak bergelas-gelas bir dalam kafir, ataukah menuju kemacetan Ahmad Yani yang beringas di 17.15. Atau bagaimana kegilsahan arek-arek indie yang takut norak seperti Ahmad Dhani. Mereka seperti melucu, tapi humor tidak segetir ini. Dan lagipula bila hidup memang keras, apa salahnya menjual miras?—sekali lagi hanya Silampukau-lah yang dapat menyanyikan semua itu dalam sebentuk Dosa, Kota, dan Kenangan.

*Dimuat juga di IMAJI MAGZ first issues (ever)

tentang IMAJI MAGZ:
sebenarya ini majalah yang disuruh bikin buat tugas jurnalistik. ribet, anak-anak dari awal sudah sepakat untuk menyewa jasa layouter dari anak design grafis, tiba-tiba saja dibatalkan karena harga jasa yang rada mahal. saya sih setuju-setuju saja, memang jasa layouter itu sulit, jadinya wajar sih rada mahal. tapi anak-anak sudah sepakat akan bikin layout sendiri--saya sih oke-oke saja. ternyata malamnya saya dihubungi bahwa mereka tidak bisa bikin layoutnya, sulit katanya. saya jadi bingung. sudah membatalkan menyewa jasa anak design pula. akhirnya dengan tekad dan nekat, saya bilang ke anak-anak akan menghandle seluruh layout majalah sendirian. dua malam tidak tidur, dan butuh bergelas-gelas minuman berenergi, jadilah majalah IMAJI dan mendapat nilai A-. Cover dan beberapa bagian ditambahi oleh anak-anak, dan ini adalah proyek kedua saya sebagai pemimpin redaksi--setelah proyek surabaya footnote magazine diundur perilisannya (yang entah saya masih dicantumkan sebagai pemred atau tidak karena sibuk sekali dan tidak sempat kongkow bersama tim subfootnote). Mungkin IMAJI akan saya jadikan file pdf. dan bisa kalian unduhbebas disini.