Tuesday, March 28, 2017

Radiohead: A Moon Shaped Pool: Meminggirkan Elektronik dan Menjadi Klasik

Semua orang pasti pernah menyukai Radiohead. Entah itu “Creep,” “Fake Plastic Trees,” “Karma Police,” atau formula rock alternative manis lain dengan falsetto menakjubkan Yorke. Album-album awal Radiohead begitu menyenangkan, rock yang tidak terlalu bising seperti Smashing Pumkins ataukah Nirvana, sendu lembut membuat terlena dan ajaibnya tidak kehilangan sisi gahar. Album Pablo Honey hampir menggeser eksistensi The Beatles dalam kategori penjualan album terlaris di UK Chart. Tapi dengan kejeniusan mereka, kita kira-kira sudah bisa segera menebak bahwa apa yang akan dikeluarkan oleh Radiohead di album-album selanjutnya adalah apa-apa yang belum pernah terpikirkan bahkan oleh pengamat musik kapiran sekalipun. Greenwood dan kawan-kawan menjelajahi apa itu musik rock, memadukannya dengan berbagai macam bunyi-bunyian, menantang diri mereka sendiri secara simultan. Alhasil lahirlah Ok Computer dengan Paranoid Android yang terdengar ganjil dan gelisah, disusul dengan Kid A, sebuah mahakarya yang membuat kita yakin bahwa Radiohead akan memasuki lorong gelap nan panjang, entah dimengerti ataupun tidak, melibas semua aturan musik, membuatnya benar-benar esensial. Kid A tidak dimengerti oleh sebagian besar kalangan, Kid A terlalu agung dan adilihung pada masa itu. Pitchfork, yang sudah merumuskan album-album terbaik di era 90an, tidak terlalu mengejutkan apabila menobatkan Kid A yang rilis di awal 2000an sebagai yang nomor satu. Menyimak Kid A, sampai seterusnya mulai dari Hail To The Thief, In Rainbows sampai The King Of Limbs kita tidak berani memastikan apakah Thom Yorke dan kawan-kawan sedang tersesat atau tidak, sementara musik yang dimainkan makin membingungkan namun makin jenius. Dentum elektronika dan bebunyian aneh dengan pakem lagu yang absurd menggema membuat kita sempat lupa bahwa Radiohead dulu adalah yang menyanyikan ‘i’m a creep, i’m a weirdo’ dengan berbekal distorsi amuk dan falsetto.

Lalu setelah semuanya itu, setelah kita dibuai oleh kejeniusan mereka yang memusingkan, sesuatu yang terdengar baru tetapi tidak asing bagi kita muncul ke permukaan. A Moon Shaped Pool, album baru mereka adalah sebuah titik balik, kembali ke jalan yang lurus, lepas dari belenggu kesesatan, ataukah mengurangi kadar jenius—tapi nyatanya yang ini tidak pernah. A Moon Shaped Pool terdengar begitu organik dan indah, seperti dimainkan oleh manusia. “Burn The Witch” sebagai track pembuka, langsung menghadirkan string section tajam nan memukau arahan Johhny Greenwood (di konser live Greenwood memainkan gitarnya menggunakan alat gesek biola!), membuat kita kembali merasakan kehangatan dari apa yang dulu pernah ditawarkan band yang terbentuk di awal 90an ini. Bukan tipikal lagu dansa sedih seperti In Rainbows, tetapi ini adalah kebahagiaan murni. Lalu masuklah “Dayreaming”  pelan-pelan, dan merasuk. Sentuhan sederhana nan minimalis bisa sebegitu menusuk. Pelan tapi pasti, Thom Yorke belum kehilangan kejeniusannya menciptakan lagu seperti ini bahkan setelah lewat beberapa fase proses kreatif. Ini adalah salah satu lagu terbaik Radiohead, dari sisi kesederhanaan, kontemplasi, nuansa, musikalitas, apapun. Megah dan berkilauan.

Lalu dalam “Decks Dark” kita belum bisa menyudahi lamunan. Radiohead berhasil menyeimbangkan kebingungan elektronika era silam dengan permainan organik seorang manusia. Jadilah sebuah balada manis dengan suara Yorke yang semakin matang dan tidak hanya melulu falsetto. Dalam “Desert Island Disk” muncul rasa-rasa psychedelia-blues George Harrison yang murung dan mengawang yang tampak dalam lagu-lagu Beatles. “Glass Eyes” tidak kalah murung dan lirih dari balada-blada sebelumnya. Sementara ‘The Numbers’ setidaknya mengingatkan pada 70s rock: lagu-lagu mabuk Led Zeppelin yang blues-y, vintage, namun tetap dibawakan dalam pakem Yorke yang tenang dan terang. “True Love Waits”, didaulat sebagai penutup yang lebih dari mampu membuat kita menitikkan air mata. Lagu klasik yang tercipta tahun 1995 dan hanya dimainkan secara akustik, diperam begitu lama untuk kemudian dipermak menjadi balada murung nan indah. “I’m not living, i’m just killing time.”, Yorke bernyanyi lirih dan menggetarkan. Menutup A Moon Shaped Pool dengan sempurna, menjadikannya salah satu album terbaik di 2016.

Tuesday, January 3, 2017

Litera Obscura (Buku I)

Saya pernah terlibat di suatu chat random dengan Rahma, lulusan Sastra Inggris UB yang kini berdomilisi di Jogja setelah bertahun-tahun di Malang. Kita yang sudah sejak dulu kala gemar tukar-tukar zine dan referensi, sepakat untuk bikin zine kolaborasi. Saya sempat punya Throwzine dan Yeah Yeah Zine, sementara Rahma sendiri aktif di zine pribadinya, Robby yang sudah masuk edisi ketiga kalau tidak salah. Rahma kebetulan adalah kutu buku khususnya buku-buku cult yang jarang ada di peredaran, istilahnya obscure. Sementara saya adalah mahasiswa sastra bodoh yang kemampuan membacanya masih hijau dan medioker. Alhasil kami sepakat buat zine yang membahas buku, khususnya buku-buku obscure, underrated dan di bawah radar. Proyek ini juga melibatkan teman-teman Rahma, anak-anak design dan juga Mas Ardi Wilda--salah satu penulis Jakbeat di masa jayanya. Di dalam zine ini saya berkontribusi menyumbangkan tulisan tentang c2o library, perpustakaan paling ngehip di Surabaya. So, jika kalian punya minat besar terhadap dunia buku, mungkin zine ini bisa jadi referensi bacaan untuk awal tahun.

Litera Obscure Zine bisa dilihat dan diunduh gratis dalam format pdf, disini:

Tunggu edisi selanjutnya...

Rilisan Bagus 2016

Susah menuliskan apa-apa saja album lokal Surabaya terbaik yang muncul di 2016 ini, terlebih hampir semua rilisan memiliki candu dan daya tariknya masing-masing. Skena lokal Surabaya memang sedang bagus-bagusnya. Untuk itu, anggap saja rilisan-rilisan di bawah ini adalah rilisan terfavorit kami: yang setia menemani lelah penat usai kerja, teman melamun di jalanan lengang, dan alasan mengapa kami masih bertahan di tengah hiruk-pikuk kota. Masalah terbaik atau tidak, itu urusan kalian. Setuju?

1. Timeless – Beetwen And Beyond
Bapak-bapak berumur membawakan musik yang sedapnya tidak terdengar seperti memaksakan jiwa muda. Terdengar pure, orisinil dan bijaksana. Murni rock senang-senang tanpa perlu mengulang-ulang formula kritik sosial usang atau lirik absurd nir makna. No more. Suara Bimantarah pada vokal mengingatkan pada Eddie Vedder dengan gaya lebih flamboyan. Terdengar renyah, jantan sekaligus bijak. Amarah terkontrol dengan baik sehingga—kembali ke kalimat pembuka—tidak terdengar seperti bapak-bapak berumur yang membawakan musik seperti memaksakan jiwa muda. Hasilnya adalah kematangan dan kerapian, terutama dari segi sound. Yang paling penting: band ini selalu punya intro ciamik.

2. Indonesian Rice – Prolog
Bagi orang yang tidak suka reggae pun, Indonesian Rice akan tetap terasa menyenangkan. Roots tetap dari Jamaica, nabi masih Marley—siapa lagi—tapi mereka tetap punya ciri khas. Di tengah kebingungan eksistensial muda-mudi masa kini dalam membedakan mana reggae mana ska, Indonesian Rice berada di area yang tidak terlalu reggae tidak juga terlalu ska tidak juga terlalu tengah-tengah. Alhasil kita bisa menyimpulkan bahwa ada banyak formula musik lain yang mereka comot sana-sini, seperti nuansa psychedelic, atau bumbu-bumbu jazz, surf rock (?), atau apapun itu yang mungkin tidak benar-benar penting karena album ini adalah ‘prolog’ dimana tentu saja Indonesian Rice belum mengeluarkan keseluruhan performa terbaik mereka.

3. Dopest Dope – Close To Death
Setidaknya sebelum teori bumi datar menjadi kebenaran yang dipercaya manusia-manusia depresi, menyimak Close To Death dari Dopest Dope bisa dianggap sebagai nostalgia luar angkasa. Tidak terlampau futuristik ala-ala space rock motherfucker band all around the world that influence by Tom DeLonge and his AVA band, tapi cenderung muram dan sendu, kesepian antariksa, mungkin dengan hawa-hawa khas Pink Floyd era Syd Barret kisaran tahun 1969 dengan tambahan bunyi-bunyian modern. Sulit mendedahkan musik macam begini jika kalian tak mendengarkannya sendiri di tengah malam. Dan entah memang otak si penulis lagu terlalu berfantasi terhadap luar angkasa atau efek kebanyakan konsumsi jamur halusinogen, yang pasti Close To Death berhasil membuat kami terdampar nun jauh di nebula dalam kosmik waktu yang tidak terbatas, menuju putaran lubang gargantua tak berujung.

4. Egon Spengler – Ecto 1
Surabaya gudangnya band hardcore. Brutal, keras, lempar bom dan meledak. Formula yang sama dipakai oleh Egon Spengler—dicomot dari Ghostbusters yang berjaya di era 1990an—hanya saja ditambah sedikit aura brengsek dan bajingan, dan banyak nuansa ugal-ugalan persetan aturan. Berisik saja tidak cukup bagi lima berandalan ini, terutama bagi vokalis yang hanya gemar pakai kolor saat manggung. Alhasil jadilah album Ecto 1 yang mawut, liar dan otak kita akan dipaksa mencerna apapun emosi yang tumpah. Enyahkan tetek bengek sound yang diutak-atik. Polosan. Back to basic, tendang, pukul, bonyok, kelar.

5. Hi Mom! – The Youth Is The Real Time Bomb
Dalam beberapa kesempatan, menyimak “Penghuni Telinga,” single baru Hi Mom! dalam album The Youth seperti membawa kesegaran baru. Jika Hi Mom! dikenal condong pada musik ala-ala The Temper Trap dengan falsetto melingking nan indah, maka “Penghuni Telinga” menawarkan situasi baru dengan dentum yang lebih rancak dan dance-able. Ada rasa-rasa The Stone Roses era Second Coming (1994) yang membuatnya begitu berwarna dan artistik, meski butuh waktu lebih untuk melakukan pendekatan secara audio dan menikmatinya. Meski Hi Mom! sudah cukup berumur tapi tajuk ‘The Youth Is The Real Time Bomb” masih bisa relevan: sebagai penolak takdir umur atau ajakan bersuka ria bagi jiwa-jiwa muda lelah yang ingin segera tua.

Honorable Mention:
Tidak hanya album lokal Surabaya, beberapa rilisan berikut mungkin bisa jadi tambahan referensi, setidaknya sebagai bahan retrospeksi bahwa 2016 nyatanya tahun yang indah juga.

1. Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti
Album terbaik Banda Neira sekaligus album terakhir mereka sebelum bubar akhir 2016. Tidak ada yang salah, album ini sudah memberi sinyal lewat tajuknya, juga “Derai-Derai Cemara.”

2. Bring Me The Horizon – Live At Royal Albert Hall
BMTH plus String Section plus paduan suara. Lebih dari sekadar band rock, metal, emo, hardcore, whatever: Oli Cs. sudah menjadi lebih bermakna.

3. Green Day – Revolution Radio
Menua untuk kemudian kontemplatif adalah sebuah kewajaran. Album punk yang meski tidak bagus-bagus amat tapi jadi titik balik setelah empat tahun vakum—meski keputusan Billie Joe unuk main di film jelek Ordinary World (2016) tidak dapat dimaafkan.

4. Radiohead – A Moon Shaped Pool
Thom Yorke sudah tidak terlalu murung dan membingungkan. Album terbaik mereka setelah sekian lama terdampar dalam dunia-entah-apa-namanya.

Monggo dibaca versi editnya untuk Kaleidoskop Ronascent Webzine 2016 disini
Kaleidoskop musik lokal Surabaya yang lain, mulai dari momen penting sampai band lokal terbaik, bisa dibaca disini, disini dan disini.

Tuesday, November 29, 2016

Timeless – Beetwen And Beyond: Menyenangkan!


Review untuk Ronascent Webzine. Versi edit bisa dibuka disini

Rilisan yang spesial karena band ini sudah sebegitu dinanti. Sebelumnya EP We Believe For What We Do Is Timeless yang rilis 2014 cukup banyak mengumbar lick-lick akar rumput dari Pearl Jam. Di Beetwen And Beyond kecenderungan mereka untuk sedikit lebih rapi dan teratur sekilas terdengar seperti Foo Fighters. Tapi memang sulit untuk tidak membandingkan suara Bimantarah dengan Eddie Vedder: renyah dan bijak. Secara kualitas tidak perlu banyak dipertanyakan lagi. Dalam Motown Crush, misalnya, mengembalikan esensi musik rock senang-senang yang tidak urakan. Seksi tapi tidak ngawur dan ugal-ugalan. Meminjam istilah pegiat Instagram, Motown Crush adalah track paling fashionable di album ini. Punya gaya dan trendi. Timeless suka bermain-main dengan intro, dan pembuka lagu ini adalah salah satu yang terbaik. Single pertama Golden Age juga tidak kalah seru. Ada kebahagiaan murni saat mendengarkan rock berjenis seperti ini. Tidak melulu harus kebut-kebutan atau jadi bajingan ampli. Tidak juga harus mengkotor-kotorkan sound atau berusaha sementah mungkin. Timeless tampil pure dan sebegitu adanya, dan itu terdengar sangat orisinil. Bahkan untuk ‘single paling ngebut Timeless’ Ride Into The Sun, bukan kemarahan oi-oi atau nuansa pemberontakan yang muncul, tapi kesan gagah, bernyali dan berwibawa, seperti judulnya sendiri; berkendara menuju matahari. Menyenangkan juga mendengarkan wahana modern rock dalam Fine, dimana vokal Bimantarah seperti sudah sangat matang, prima dan bercorak. Kesimpulannya: Beetwen And Beyond adalah album rock muda-mudi yang sudah muak dengan lagu lama, kritik sosial pencitraan, kata-kata nir perjuangan. Timeless murni rock senang-senang, dan kita suka itu. Seperti salah satu bait mereka: i wanna be free from the universe. Bebaskan!

Wednesday, November 23, 2016

Tata-cara Penggunaan Blender Otak

aku mabuk dalam keterpukauan. pohon-pohon mangga. menguning dan berbuah. diriku mesin. hidup dan berputar. di dalam jangkauanmu. di dalam puisi-puisi absurd malam hari. di dalam kantung mata berisi tidur. di dalam tatanan dunia baru. di dalam tempat tisu dan penampungan wudhu. di pagi sebelum subuh. di kokok jago jantan. di getar alarm musik dansa elektronik. di segalanya yang tidak kau mengerti. segalanya yang asing. segalanya yang bodoh. segalanya yang berakhir tanpa pernah berawal. segalanya yang berawal tanpa pernah berakhir. pengemis-pengemis kasih sayang. pegiat-pegiat aksi bunuh diri massal. bedebah-bedebah bau amis yang menggelepar dalam selokan. kutu busuk penghuni buku diktat. esok hari dalam mangkuk indomie. sisa acar dalam bak sampah. peloncat kegirangan jongkok di toilet terminal. pikiranku yang mengutuk otak semua orang. batinku yang mengencingi setiap lubang pada gigi ikan paus. kuburan. setir bengkok. dunia dalam sachet kopi murah. stop kontak. lubang kabel. ternak cacing. sepanjang apapun makam nabi monyet. ukuran tutup botol minuman berkarbonasi. kremi. kredo. kremasi. kura-kura pembunuh ninja. hantu di jam dua siang. tenggak lalu mampus. artis-artis sehabis keramas. fiksi. diksi. bunuh diri. sampai jam empat subuh. lalu kau kubangunkan dan hari akan tampak sangat panjang. istana presiden dalam sedotan. kupu-kupu bersisik. ikan-ikan bersayap. kabut-kabut bertelinga. awan-awan basah. kerudung tahlilan. mesin jahit tukang sulap. pesta kawinan bujang tengik. ikan asin. kaki kerbau. frasa-frasa keparat. kaus kaki basah. kau tidak pernah mengerti segala seperti aku tidak pernah mengerti jalannya jari. lubang hidung berisi tahi. mandilah. ada naga di tubuhmu. harumlah. tidak ada apa-apa di alam kubur. barisan tentara yang melamun menunggu cacing rumput. pusat kendali pusar. air minum dalam kemasan. apakah ada takdir. mari melamun. mari menggelar pesta-pesta jamuan ginjal kuda. mari berbisik. tentang gang-gang tak berlampu. tentang hidup. tentang mati. tentang hidup mati. tentang hidupnya mati. tentang matinya hidup. tentang tentang menentang. tentang keributan jejaring daun-daunan. aku belum menyerah. belum berkabung menjadi belatung. belum pucat dan keriput. belum berkedip dan menguap. tidak akan menyerah. panas perih. rusuk babi. anjing. kerbau menginjak tikus. tanah warga negara. kupersembahkan: sejenis puisi tak berfaedah. untukmu.

Sunday, November 20, 2016

Many Little Songs For An Hardly Long Long Night

di semesta yang entah. di bumi yang entah. di kehidupan yang entah, seorang manusia biasa-biasa saja sedang melamun parah di balkon rumahnya. ia tidak tahu harus menunggu siapa lagi setelah hujan yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. ia membayangkan peti mati dan kematian, bau busuk mayat-mayat katak dan tempurung-tempurung neraka. pikirannya kalut. kedamaiannya terusik. hujan tidak menyembuhkan apapun yang ia rasa. balkon rumahnya serasa pahit dan berisik. hujan turun menggebuki atap. membunyikan suara-suara cacian tanpa henti. membuat ia membutuhkan buku-buku psikologi. membuat ia membutuhkan campuran malt dan ethanol. tembakau dan kebohongan. jamur tahi kerbau dan kedunguan.

ia telah menamatkan seluruh koleksi film tarantino. dan tinggal tunggu waktu untuk mengulang-ulangnya lagi di tengah kepedihan. dan jadilah dia kegilaan yang payah. ia telah puluhan kali melihat vincent vega, django, sampai pembunuh-pembunuh bodoh nan keji di hateful eight. ada kegembiraan yang terus menerus membesar setiap kali melihat adegan-adegan penjahat menembak muka penjahat lain sampai meledak isi kepalanya. ada kepuasaan yang tidak terlukiskan saat uma thurman menghabisi samurai-samurai brengsek di kill bill dan menyiksanya seolah kiamat sudah terjadi. ada gerak lambat di otaknya saat menyimak seluruh caci maki samuel l. jackson yang dilempar lewat ceramah dan obrolan tidak penting dengan sumpah serapah paling kasar dan terkutuk, nyaris dalam semua film-film nigger quentin tarantino. ada gangguan dalam hidupnya yang membuatnya harus terus menurus menonton tarantino, berulang-ulang, terus-menerus.

dan malam ini, entah kebetulan apa yang mempertemukan saya dengan dia. tepat saat dia sedang keluar dan mendorong pintu minimarket dengan empat botol bir dingin di tangan kanan dan kiri. bir yang kemudian kami tenggak semalaman. dan dia menceritakan ulang seluruh kisah kelam hidupnya sejak lahir. tambahan dua botol bombay saphire. dan kita mampus seharian di sofa tengik dalam apartemen miliknya. seperti yang bisa dibayangkan, cerita tentang kepedihan tidak afdol bila tidak ditemani musik-musik pembangkit arwah kubur. musik-musik sensitif yang bisa membuat nyaman sekaligus panik. musik-musik hiburan tengah malam bagi jiwa yang tumpul dan tidak ada hal yang lebih bagus untuk dilakukan selain mabuk keparat. 

"putar morrisey kawan!" pintanya saat aku sedang menyusun file-file lagu yang berantakan di komputer tuanya yang nyawanya tinggal separuh. 

"there is a light that never goes out!" saya berteriak sekencang mungkin saat menemukan lagu tersebut.

"itu the smiths, bodoh!" jawabnya. 

dan kemudian tersusunlah sepuluh puluh lagu pilihanku, yang kesemuanya berputar semalaman, terus berulang-ulang, sampai pagi hanya tinggal menyisakan sisa-sisa alkohol yang berceceran, abu rokok menggunung, dan sisa dedaunan yang kami tak tahan untuk tak mengusiknya di dalam lemari penyimpanan. kita tidak bosan-bosannya menyimak lagu-lagu indah. walapun kesemuanya cuman tujuh buah.

1. The Smiths "There Is A Light That Never Goes Out"
aku menyimak ceritanya sambil terus mendendangkan lagu ini di otakku. pengaruh sapphire, ya ampun. dia hampir tersedak kacang dan asap marlboro di ujung ceritanya, dan kemudian memaki, johhny marr bangsat. entah kenapa marr yang dimaki dan bukannya morrisey. tapi setelah itu, dia kembali tenang, menyesap bir pelan-pelan, menikmati reff lagu, yang seakan rela mendekap kesedihannya selamanya.

2. The Smashing Pumpkins "Disarm"
ia kemudian mengajakku bermain catur. aku berkata "aku lelah, kawan. aku akan mendengarkan ceritamu saja." tapi ia seperti sudah menyudahi ceritanya. ia tidak ingin bercerita lagi mengenai perempuan brengsek yang membuat hatinya tergores-gores pecahan kaca. aku paham. kita paham. rokok terus menyala. kami terdiam. billy corgan, malam ini, terdengar begitu pilu. dia tak kuasa menitikkan air mata. aku menyediakan dekapanku. juga bir dingin yang baru terbuka.

3. The Doors "Light My Fire"
"kita kembali ke morrison, kita kembali ke morrison!" ujar dia. aku maklum. kita semua sudah biasa menyebut nama tuhan. bersama-sama. sambil mengumpat dan tertawa. sambil melamun dan bersedih. "tapi aku sedikit meragukan ketuhanan morrison di lagu ini," ia tiba-tiba  memotong. "bagaimana bila ternyata tuhan yang sebenarnya adalah ray manzarek?" aku melamun. masuk ke dalam lorong manzarek. begitu tua dan menyedihkan bunyi tuts itu.

4. The Corrs "All I Have To Do Is Dream"
ia bercerita tentang mimpinya, mimpi masa depannya, bersama margareta. "aku ingin memiliki rumah di pegunungan, dengan kopi yang kutenggak setiap pagi, adalah hasil petikan sendiri di kebun kami tiap sore hari." aku tidak dapat menahan gejolak mataku. saat menceritakan itu semua, dia seperti mengawang. jauh. gunung itu berada di pelupuk matanya. dream, dream, dream. keluarga corr mengawal itu semua dengan halus. dan semuanya menangis.

5. The Beatles "With A Little Help From My Friend"
aku kemudian yang menyeka air matanya. mengusap dengan sisa sapu tangan yang kupunya. dia sahabatku. aku tidak akan membiarkannya sendiri. bahkan aku akan menangis semalaman, bila perlu. hanya ini bantuan kecil yang bisa aku berikan. hanya ini bantuan yang bisa aku berikan, sebagai sahabat. 

6. Silverchair "Ana's Song (Open Fire)"
dia membelalakkan mata. dia tidak boleh sekalut ini. dia kemudian tertawa keras. memuji-muji australia. "aku muak grunge di luar seattle, tetapi aku bisa jatuh cinta pada lagu ini." aku terbahak. begitu cepatnya dia terbahak. apa kami menenggak semuanya terlalu kencang. saya kira tidak. dia baru saja menyuruh saya membongkar isi lemari. dan waktunya dedaunan. kami memaklumi semuanya. botol baru sudah dibuka.

7. Joy Division "Atmosphere"
matanya memerah. aku rasa aku juga. jam dinding sudah tidak jelas menunjuk pukul berapa. kesedihan sudah berlarut. dalam film control (2007), aku ingat ian curtis gantung diri dan setelah itu lagu ini mengalun. ian mati di usia 23 tahun. usia kita saat ini. sejurus kemudian kepalaku serasa pengar. amat pengar. bergemericik suara botol obat-obatan di meja. saatnya berbuat onar. tenggak sekaligus. 

dan usailah...

Tuesday, November 8, 2016

Playlist Minggu Ini

Tidak banyak lagu yang saya dengar minggu ini. kebanyakan lagu dari album-album yang itu-itu saja. memang ada juga yang baru, tapi tidak bisa dibilang baru juga karena sebenarnya itu band atau album lama, hanya saja saya yang baru tahu. Berikut—dengan tendensi pamer tingkat tinggi tentu saja, seribu persen ujub dan riya’—saya bagikan playlist saya khusus berisi lagu-lagu yang saya baru tahu dan langsung suka.

1. Banda Neira – “Derai-Derai Cemara”  (1949, Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)
Selalu ada hari dalam seminggu dimana saya akan bangun dengan kebingungan, bertanya-tanya dimanakah ini, karena malam sebelumnya sungguh melelahkan, atau jika tidak begitu mungkin kebanyakan konsumsi ethanol atau mabuk lem kayu. Dan minggu ini saya bangun pukul delapan lebih sepersekian menit di sebuah tempat antah-berantah, dan di samping saya adalah Mas Abu Wafa, sastrawan penyair kebanggaan kita semua. Segera saja saya mengingat-ingat—dan kadang ingatan memang sungguh payah—bahwa Sabtu malamnya saya memang bersama Mas Wafa nonton Scaller dan UTBBYS (oh nama band ini sungguh panjang makanya disingkat), di Marvel City, dan kemudian cangkruk di Klutik sebentar, dan kemudian karena terlalu malas pulang ke kos dan waktu itu kebetulan sedang tidak bawa kunci gerbang, saya menginap di kosan Mas Wafa yang jalan masuknya mirip kandang celeng. Tidak ada parkiran, geletakkan begitu saja motor di depan gang, maling pun ogah menjelajahi tempat macam begini (letaknya di gang bernama gang buntu). Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Mas Wafa, memang beginilah adanya, sebuah bronx yang pertama kali saya jumpai di Lidah Wetan. Masuk ke ruangan kamar Mas Wafa untung saja mendingan dan ya, tipikal kos-kosan mahasiswa sastra dengan banyak buku menumpuk sana-sini, koran-koran minggu dikliping di tembok, lukisan absurdisme, kutipan kata-kata bijak entah Sapardi atau Yesus, intinya ya begini ini kamar sastrawan. Saya sudah memesan buku Cara Menghitung Anak karya Abu Wafa dan kini berkesempatan bermalam di tempatnya menggodok karya. Warbiyasah. Satu hal yang ekletik dari kamarnya selain banyak sekali buku—dan kebanyakan belum dibaca—adalah sound system yang langsung diputar begitu kami memasuki ruangan. Dan itu mengalun terus, tiada pilihan lagu, flash disk itu tertancap disana, memutar mulai dari lagu-lagu pop kekinian sampai Efek Rumah Kaca (seingat saya, saya tertidur sesaat setelah eksekusi  lagu Menjadi Indonesia yang sungguh menggetarkan itu). Besoknya setelah bangun, melamun, dan mengambil udud, saya mendengarkan alunan folk, sayup-sayup, dan kemudian Wafa yang masih tidur seketika bangun, mengucek mata, dan seperti kebiasaan lulusan sastra pada umumnya, langsung bergairah mendengarkan karya sastra. “Enak lagu iki, musikaliasi puisine Chairil Anwar, iki lho tak dudui,” saya masih melompong kosong dan Wafa sudah bergerak menuju lemari, mencari buku, ketemu, dan diberikan pada saya. Aku Ini Binatang Jalang, kumpulan puisi Chairil Anwar. Saya membuka halaman yang ditunjuk Mas Wafa, puisi berjudul Derai-Derai Cemara, dengan salah satu bait yang membuat saya langsung melek: hidup hanya menunda kekalahan. “Iki lagune Banda Neira, aku kadang nangis ngerungokno iki.” Saya kembali melompong, melamun. Saya tidak pernah benar-benar menghayati puisi Chairil, hanya baru kali ini. Ditunjang musikalisasi yang sungguh, memang agak sedikit seperti nyanyi-nyanyi sedih (ya seperti suasana pusinya kan begitu). Dan ini saya bawa sampai pulang, lagu ini, puisi ini, entah kenapa benar-benar membekas. ‘Hidup hanya menunda kekalahan,’ anjing, kalimat yang sungguh, benar-benar  mendalam jika dipikirkan. ‘Sebelum pada akhirnya kita menyerah.’ Dan di saat itulah, saat hampir menuju klimaks itulah, suara vokalis Banda Neira (saya kurang mengerti namanya yang perempuan), seperti sesenggukan, atau menghembuskan nafas panjang. Mendalam. Momen terbaik lagu ini ada pada menit 6:21, saat suara nafas itu betul-betul menandakan akhir Derai-Derai Cemara, yang menyerah, secara elegan.

2. Barefood – “Deep and Crush”
Yang saya tahu Barefood adalah unit alternative rock dari Jakarta, dan sempat menontonnya di televisi bobrok kos-kosan saat mereka main di acara Taman Buaya Beat Club TVRI. Tentu saja mengecewakan karena TV yang busuk, antenanya pun juga bejat. Jadi yang terdengar hanya bunyi kemresek anjing dan gambar yang pecah-pecah. Jingan! Dengan terpaksa saya mengganti channel ke Tukang Bubur Naik Haji—ya tidak apa-apalah yang penting bening daripada nonton semut moshing kemresek fak. Lagu ini kemudian saya dapat dari download gratisan secara tidak sengaja, dan saya mendengarnya agak seperti... apa ya, pokoknya saya pernah dengar yang macam begini. Bukan Nirvana, bukan Pearl Jam, meski saya tahu pengaruh mereka dari sana, tidak jauh-jauh dari 90’s. Ini terdengar lebih cuek dan terasa seperti Slank, atau... o yaa, /rif. Suaranya mirip Andy /rif. Sialan. Lagu ini mantap juga didengarkan, tidak kencang-kencang amat dan cocok untuk pencinta rock kelas medium seperti saya. Bagi anak-anak band pemula yang bingung cari referensi dan ingin tetap terdengar keren, dengar saja Barefood lalu cover. Ya, setidaknya daripada Nirvana lagi Nirvana lagi.

3. Christabel Annora – "Sunshine Talks"
Lagu ini menurut penafsiran pribadi saya terasa seperti Terminal Arjosari pukul tujuh pagi, saat matahari mulai terasa, dan kegiatan warga Kota Malang mulai berjalan. Saya mendapat kopi review album Talking Days dari Ronascent, dan betapa terkejutnya saya bahwa Christabel ternyata arek ngalam sam. Mau tidak mau, ini mengembalikan memori saya tentang Malang saat mendengarkan Talking Days. Jika di lagu ini bicara tentang Arjosari di pagi hari (menurut nuansa yang saya tangkap), maka di track pembuka Early Reflections, ini seperti mengajak saya kembali ke masa kecil, di daerah Bumiayu, Kabupatan Malang, saat Ibuk masih berkuliah disana, dan saya belum genap dua tahun. Sungguh memori yang membahagiakan, dan agak melankoli nggak sih? Tidak peduli, yang pasti saya menantikan kedatanganmu di Surabaya mbak. Yuk kita nyanyi bersama sambil diiringi hujan. Saya pernah mendengarkan Frau, tapi kayaknya Christabel ini lebih masuk feelnya menurut saya. Meski sama-sama memakai keyboard dan vokal, gitu doang.

4. Efek Rumah Kaca – "Jangan Bakar Buku"
Selalu ada jalan untuk menyukai Efek Rumah Kaca. Perlahan-lahan. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu dipaksa. Saking indahnya. Kamu mungkin akan kebingungan mendengarkan lagu macam begini untuk pertama kali, tidak usah dipaksa. Biarkan saja. lama-kelamaan kamu akan mendengarkannya lagi, dan merasa lagu ini begitu indah. Itu memang efek dari Efek Rumah Kaca. Saya tidak bisa menyukai band ini cepat-cepat, dan saya biarkan saja menemukan jalannya sendiri. Pun lagu ini, Jangan Bakar Buku, yang selalu saya lewati saat memutar Kamar Gelap, entah, karena begitu muram, dan belum sesuai mood, atau lagu lainnya yang begitu indah dan ingin segera diputar. Intinya saya biarkan dulu, entar lama-lama pasti akan didengarkan tanpa sengaja, dan bisa jadi akan suka. Saya selalu begitu di seluruh lagu Efek Rumah Kaca yang tidak terlalu terkenal (bahkan di lagu yang jadi lagu wajib dan hits seperti Desember atau Cinta Melulu pun kadang masih begitu). Nyatanya, benar-benar indah. Efek Rumah Kaca, benar kata Rolling Stone, adalah salah satu band paling penting yang pernah berdiri di dekade ini.

5. Katy Perry – "Teenage Dream"
Katy Perry adalah bentuk kesempurnaan seorang perempuan. Anda harus banyak melihat foto-fotonya di Rolling Stone Amerika Serikat jika tidak percaya. Tapi lepas dari itu, ada satu lagunya yang menurut saya asyik sekali untuk didengarkan di waktu sedang sumpek: ‘we young forever!’ kata dia dalam Teenage Dream yang tidak norak dan mengumbar banyak EDM overrated. Menit favorit adalah menit-menit awal lagu: suara Katy Perry bercorak khas sekali, sengau-sengau cantik, duh. Kemungkinan besar history YouTube saya akan kembali lagi search tentang mbak satu ini.

6. Scaller – “Dreamer”
Track kedua dari EP 1991 yang rilis tahun 2013. Fak mengapa saya tidak tahu ada album sebagus ini. Selain Live And Do yang jadi hits, lagu ini juga tak kalah menarik. Bercerita tentang orang yang pengen jadi ini-itu, dalam konteks hubungan, pengen jadi istri, pengen jadi sesorang yang nggak bisa ditinggalin, tapi nyatanya dia cuman pemimpi dan nggak bakal nyata. Gimana dong? Stella Gareth dan Rene Karamoy menjawabnya, masih dalam penampilan minimalis ala-ala alternative rock, dan belum mengumbar synth seperti The Youth, single mereka yang rilis tahun ini.

7. Sonic Youth – “Bull in The Heather”
Tidak usah banyak deskripsi. Band legendaris dalam kamus hidup anak-anak noise atau sejenisnya. Band ini saya baru dapat album the best nya. Cukup seru buat didengarkan, meski kawan-kawanmu akan memaki jancok band opo iki, lagu opo iki cok. Padahal nggak berisik. Temponya lambat. Dan memang cukup ganjil sih. Tapi keganjilannya yang bikin ketagihan. Nikmat.