Saturday, November 25, 2017

23

Twenty three years, i still haven't clue
Stop thinking the past, i don't think i'll ever do
Driving through the town in black and blue
Maybe today i'll catch a glimpse of you

Jujur orang macam apa yang bisa lupa dengan umurnya sendiri, kecuali orang itu benar-benar penat dan sibuk--atau orangnya benar-benar ngehek minta ampun. Saya mungkin termasuk golongan pertama, tapi tidak menutup kemungkinan masuk ke golongan dua juga. Sejam lagi saya ulang tahun, tapi saya lupa berapa pastinya umur saya. 22 atau 23? Atau jangan-jangan 24? Apakah saya sudah betul-betul kehilangan jatidiri maknawi sampai-sampai tidak sadar usia? 

Saya selalu ingat hari ulang tahun saya sendiri. Ini bukan karena saya pengingat yang baik, atau tukang lihat kalender setiap saat. Mungkin karena Bapak di rumah sudah lebih dulu mengingatkan tadi sore: besok ulang tahun ke 23, ya?--Bapak selalu WhatsApp sehari sebelum saya ultah, memberi ucapan langsung juga sehari sebelum ultah. Entah kenapa. Bapak memang orang yang tidak suka menunda-nunda saat melakukan sesuatu. Selagi ingat dan ada kesempatan, harus segera dilaksanakan. Tapi ya masak itu harus diterapkan saat mengucap ulang tahun juga.

Mengingat ulang tahun adalah mengingat momen; bukan umur. Umur tidak mendefinisikan hidup, tapi momen, suasana. Bukan seberapa lama kita hidup, tapi sudah berapa banyak yang kita alami saat hidup, berapa banyak yang kita lakukan saat hidup. Pertanyaan sulit. Saya pun belum melakukan apa-apa. Tapi beruntungnya, saya selalu mendapat momen-momen, kejadian-kejadian, yang membuat hidup saya tetap hidup. Entah itu sedih, bahagia, keparat, menyenangkan, kepalang brengsek: intinya saya selalu berusaha merayakan semuanya. Hidup untuk hidup.

Kurang dua tahun lagi usia saya sudah seperempat abad. Selanjutnya apa? Menikah? Tuhan berencana, manusia yang menentukan. Tapi saya belum tentukan apa-apa, jadi biarkan Tuhan bereksperimen dengan rencana-rencananya, di lab kimia semesta raya.

Toh di 23 tahun ini, masih banyak kebingungan yang berseliweran di kepala. Siapa saya, siapa Tuhan, apa tujuan hidup saya, saya harus melakukan apa? Mungkin saya akan menemukan titik terangnya, saat saya memilih untuk terus menikmati perjalanan. Perjalanan panjang.

Gone are the days of youth
I'm left with nothing but the truth
And yet i'm stumble and fall trying to find something real
The clock keeps on ticking, time doesn't heal

Seringai pernah bilang kalimat ngehek: saat pertama kali kamu mendengar musik keras, saat itulah usiamu berhenti. Saya pertama kali dengar Burgerkill di usia 14 tahun (atau mungkin Bluequthuq di usia 12 tahun). Jadi usia saya sekarang masih 14, masih SMP. Semangat itu masih ada di sini (menunjuk hati), tapi lama kelamaan saya tidak bisa bohong juga. Yang dimaksud Seringai adalah sisi senang-senang. Bahwa kesenangan orang tidak boleh berhenti. Tapi kedewasaan? Jelas, setiap orang pasti mau tidak mau harus dewasa. Umur 23 mungkin adalah sisa-sisa terakhir masa muda, sebelum segalanya menjadi tampak serius dan old. Sebelum masa banter-banternya cari uang dan mikir kawin. Sebelum hidup harus dirombak habis-habisan, dari akhlak, moral sampai relijiustas. 23 adalah batas antara muda dan tua: beberapa langkah menuju seperempat abad hidup. Beruntunglah kalian yang pernah jadi bengal dan ugal-ugalan. Viva alkohol murah dan substansi halusinogen. Viva hidup punk rock porak-poranda. Usia 23 sudah hampir memotong semua, meskipun kesenangannya masih terasa. 23 sisakan kebenaran-kebenaran yang makin lama makin tampak, keputusan-keputusan yang mau tidak mau harus kita pilih dan jalankan. Walaupun banyak halang rintang, batu kerikil tajam, terjatuh, berdiri lagi, tersandung, tunggang-langgang. Usia 23, waktu dimulai lagi. Terus berjalan, tidak bisa dihentikan. Usia 23, selamat ulang tahun untuk diri saya.

tulisan bercetak tebal dicomot dari Vague - "23" 

Nuran Wibisono: Menulis Musik Adalah Mimpi Basah

Oleh: Redaksi Ronascent
bisa dibaca di sini

Nuran Wibisono: kedua dari kiri
Nice Boys Don’t Write Rock And Roll; judul buku terbaru Nuran Wibisono ini menyatakan sesuatu yang sejak dulu kala jadi perdebatan: seperti apakah kapasitas seseorang untuk bisa jadi penulis rock and roll? Apakah harus sangar—‘honest and unmerciful’—seperti Lester Bangs di Almost Famous—mengingat William Miller, jurnalis rock cilik di film kesayangan kita itu, sungguh mewakili term ‘nice boys’. Seperti apa seharusnya? Nuran tidak menjawab pertanyaan kita, tapi sudah melakukannya. Whatever, nice boys or bad guys—rock and roll, or anything music in your pocket playlist; semua bisa menulis musik. Nuran bukan tipikal bajingan tengik seperti Bangs atau Thompson—merokok saja tidak. Bukan juga sosok yang terlampau imut untuk bisa dikatakan ‘nice boys’. Nuran sebagai orang biasa-biasa saja, tanpa kepentingan dan pretensi apapun, tanpa beban dan tanggungan apapun, menulis musik hanya sebagai bentuk kecintaannya mendengarkan Guns N’ Roses, The Doors, dan ribuan band favoritnya. Nuran tidak bisa (atau tidak mau?) dicap sebagai jurnalis musik. Dirinya mungkin bisa disebut pengulas musik ugal-ugalan (sempat baca 5 Album Terburuk Indonesia 2009 dan 2010 di JakartaBeat?). Tapi, disitulah letak serunya buku ini: puluhan esai yang ditulis dengan kecintaan pada musik yang ceplas-ceplos, apa adanya, minim saringan, dan kaya akan kesenangan. Buku ini sangat worthed untuk dimiliki dengan satu alasan bagus: siapapun yang membacanya dipastikan terinspirasi untuk menulis musik juga. Apapun kapasitas mereka.

Tito Hilmawan Reditya, salah satu penulis di Ronascent, berkesempatan menanggapi buku ini di acara bedah buku bersama Nuran, di c2o Library Surabaya, akhir Oktober kemarin. Tito—yang mengaku terinspirasi untuk mulai menulis musik dan membuat zine sesudah membaca esai Nuran yang berjudul “30 Lagu yang Membuat Jembutmu Rontok Satu Persatu”—harus mengakui kalau buku babon ini bisa memicu terbitnya buku-buku sejenis. Selama ini rilisan buku musik di Indonesia amat sangat jarang. Mungkin divisi Elevation Books milik Taufiq Rahman, adalah angin segar untuk permulaan. Elevation sudah merilis tiga buku esai musik, yang salah satunya ditulis Herry Sutresna—pentolan Homicide. Nuran kemudian mulai menyusul, dengan gaya tulisannya sendiri. Kalau Taufiq lebih menyorot hubungan musik dan sosial politik—pun juga Ucok, tapi tulisan Nuran terasa lebih personal dan ringan.

Esai-esai musik dalam Nice Boys dibuka dengan nama bab yang mengutip lagu-lagu kegemaran Nuran—tentu saja seputaran hair metal dan ‘Almighty’ The Doors. Di bab pertama Nuran menuliskan dengan hangat awal perjumpaannya dengan musik, lalu mengenal jurnalisme musik, lalu bagaimana semua itu bisa mengubah arah hidupnya. Phillips Vermonte—founder Jakarta Beat—tidak sengaja membaca tulisan Nuran saat sedang mencari kontributor untuk website barunya. Perkenalan dengan Nuran dituliskan Phillips di Kata Pengantar buku ini. Lalu di bab kedua dan seterusnya, lebih fokus pada satu bahasan. Membahas hair metal, slank, musik Indonesia—itu diantaranya. Beberapa tulisan tentang Slank belum pernah dimuat dimanapun. Nuran mengaku, proyek menulis Slanknya batal, entah karena apa. Padahal dia sudah selesaikan separuh tulisan.

Untuk tulisan lain kebanyakan sudah dimuat di blog Nuran—nuranwibisono.net—dan di beberapa media. Tito, yang sudah jadi pembaca blog Nuran sejak SMA, menganggap tulisan Nuran selalu tampil apa adanya; ringan, sedikit slebor, agak urakan, dan sangat menyenangkan. Nuran dianggapnya setara Rudolf Dethu, dalam konteks propagandis hair metal nusantara. Keyword hair metal di Google entah bagaimana caranya bisa langsung mendeteksi blog Nuran. Tulisannya tentang Sangkakala ataupun GRIBS atau siapa saja dedengkot rocker gondrong Indonesia sangat-sangat energik. Ada perasaan meluap-luap, dan kecintaan yang tinggi pada objek tulisan.

Ayos Purwoaji moderator diskusi sempat bertanya pada Nuran: apakah ada otokritik untuk buku ini? Nuran menjawab, kekurangannya mungkin buku terlalu tebal: tulisan terlalu banyak. Nuran mengaku terlalu malas untuk mengkurasi, atau mengedit tulisan-tulisannya. Alhasil, buku perdananya terkesan tumplek blek. Sedangkan menurut Tito, buku Nuran mungkin bisa jadi semacam kitab suci bagi pencinta hair metal—atau musik apapun. Atau kalau frasa kitab suci terlalu berat, anggaplah buku ini sebagai buah cinta dari Nuran, pada siapapun yang masih percaya kalau rock and roll belum mati, masih berusaha menggondrongkan rambut, pakai banyak gelang, dan setia pakai DocMart—atau Converse. Meskipun saat bedah bukunya Nuran pakai kaus Seringai, tapi bolehlah itu dimaknai sebagai tanda kalau penulis musik seharusnya terbuka. Nuran sudah membuktikannya: dalam buku yang berlabel rock and roll dan bernuansa sangat glam metal, terselip satu dua tulisan tentang Peter Pan dan... Ahmad Dhani.

Menutup tulisan, Kharis Junandharu dari Silampukau yang sempat hadir di diskusi bertanya pada Nuran dan Tito, tentang pengalaman terbaik yang pernah dialami saat jadi penulis musik. Tapi entah, sepertinya pertanyaan tidak terjawab. Keduanya malah tersenyum dan kemudian tertawa bahagia. Karena seperti kata Nuran:

Bagi orang yang mencintai dunia musik, bekerja sebagai penulis musik adalah mimpi basah... Tapi namanya juga mimpi basah, ketika terbangun setelah merasakan nikmat, kamu akan berdecak kesal. Celana dalammu basah dan lengket. Dan kamu harus mandi besar...” 


Thursday, November 16, 2017

GAUNG - Opus Contra Naturam: Berada Di Ambang Sakit Jiwa


Opus Contra Naturam. Melawan alam, bla-bla-bla. Khusus untuk duo bernama GAUNG, post-rock meluap-luap, bahaya laten ampli Orange, menabuh genderang sekeras-kerasnya, sampai lampu mati, sampai gerah, sampai biadab, sampai sekarat. Menulis album berhulu ledak tinggi—naik, naik, naik, sampai panik dan hancur sendiri—adalah keasyikan dan ego pribadi. Jangan dengarkan album ini di motor pakai headset jelek kalian, atau di audio mobil, atau dimanapun yang berpotensi melabrak dan menabrak orang sampai mati. Semenyeramkan yang kalian kira, semenghanyutkan yang kalian bayangkan. Dengan cover mata lebar yang siap menusuk mata kalian. Secara pribadi, lagi-lagi kami tekankan, ada banyak bahaya berkeliaran di album ini. Secara halus seperti Crimson Eyes-nya Sigmun tapi nir vokal, dengan tetambahan sound-sound gaib yang dipinjam dari air got neraka. Terdengar kasar lagi berisik, kadang apa adanya pula, monoton mempermainkan jalan pikiran. Filsuf Wikipedia. Puisi-puisi liris Amerika Latin. Paha montok dan empuk dalam daya khayal paling brutal di dimensi kelainan seksual yang diidap pekerja-pekerja yang siang kepanasan dan malam tersembur angin. Menyemburit gulita. Tenang, ini baru beberapa track. Lucidae—seperti mimpi buruk orang keparat, sesudah minum obat batuk kemenyan. Eridanus Supervoid—jika tidak salah eja—terkapar sambil memintal besi dengan gigi geraham, tembus lambung terkoyak jadi tinja timah panas. Menantikan si beruntung yang bisa dapatkan sisi halusinatif dalam tepar mabuk ciu saat hampir subuh. Persetan jurnalisme musik paten, persetan Almost Famous—dan impian menjudge semua rockstar di dunia semau gue. Apa bedanya pendengaran dengan puisi; kalau nyatanya GAUNG tidak bisa diperjelas dengan bahasa-bahasa abjad manusia. Ini melampaui alam pikir, tanpa berniat hiperbolis.

Kami menghalau berbagai bahasa-bahasa yang digunakan umat manusia, baik buruk atau ceracau-ceracau talkshit di media sosial. Ini adalah kegelisahan yang tidak baik-baik amat buat ditumpahkan. Ada tanggung jawab buat pembaca—kalian-kalian, pemalas pemadat yang baru bangun usai dhuhur lalu digempur kewajiban lagi dan lagi, tanpa henti, dan akhirnya berhenti sejenak, pakai komputer kantor untuk membunuh malam, streaming gratis album ini. Berusaha menemui kekosongan namun susah karena tidak biasa tirakat, jadilah empuk-empuknya gendang telinga—dan anggur merah yang tinggal seperempat botol—merampok kesadaran sambil menggigit ujung guling, dengan layar streaming komputer, berusaha menghibur diri dengan mengulang-ulang Annie Hall-nya Woody Allen. Itu sudah sampai pada Killing With Virtue yang sok kepedean. Entah harus berbuat apa lagi di malam yang sepekat ikan asin di tenggorok. Sound yang kalian kencangkan kalian kecilkan lagi karena ada bapak-bapak berumur pengemudi taksi online, tepat di sebelah kamar pondokan kos kalian baru selesai berwudu atau sembahyang. Jadilah dalam seolah-olah senyap, sound murah 80 ribuan, menggergaji jins-jins kalian yang kumal dan belum tersentuh sajadah.

Old Masters: A Comedy—mau ngomel apalagi? Orang gila, penulis gila bodoh yang dengan gobloknya meracau demi review sisipan, demi mengabadikan apa yang tidak bisa diabadikan oleh waktu?—atau harus mengalah dan jadi budak kehampaan mimpi, tidur sambil ngaceng, dionani oleh pantat-pantat dalam lelap. Bibir-bibir kering yang bau asbak, selama dua ribu empat ratus tiga belas abad, hanya merokok dan merokok, menabung umur di pejagalan nikotin. Lembab, dan hanya esok yang tahu akan seperti apa jadinya.

Evidence Of Extraordinary Bliss. Muak sudah jadi keseharian. Di sini kegoblokan bertebaran di manapun, menyentuh sisi kemanusian yang kadang bikin menangis. Ingin rasanya gorok diri sendiri, putus asa. Namun lebih baik dihunuskan ke perut kalian, wahai fasis, wahai tukang cobek tengik, yang bersenjata. Ancaman dan intimidasi—kuncinya. Jurnalis CNN Indonesia melaporkan apa-apa yang perlu dilaporkan dan nantinya akan diolah oleh GAUNG jadi bahasa Filipina dengan backsound monoton. Siapa yang sudah belajar bahasa Filipina—atau baiklah tidak usah belajar. Dengarkan irama sudut bibirnya: dia wartawan yang melihat temannya digebuki sampai mati. “Kehidupan sebagai jurnalis tidak pernah tenang,” kata si pembawa berita, melaporkan. Di Filipina sana nasibmu akan empuk seperti pantat Harto yang doyan mengunyah kebebasan. Saat kemanusiaan telah mati, saat nilai-nilai jurnalistik berada di asam lambung yang berkuasa, saat itulah kita butuh mengocok batang kontol kencang-kencang, membayangkan hal-hal paling busuk tentang sadomasokis, lelah karena apapun yang sudah diperjuangkan, apapun yang sudah dilawan, tidak benar-benar mewujud jadi apa yang dinamakan kesetaraan. Kehidupan murah dengan moncong peluru, atau uppercut petugas yang—sudahlah... nyatanya kita tidak sekuat Marconi Navales, di perjalanan menuju Mindanao yang jadi ladang pembantaian berbahaya dalam lagu ini.

"Saya melihat rekan-rekan saya terkapar di tanah, tewas bersimbah darah. Bulu kuduk saya berdiri, air mata saya mengucur. Saya terpukul dan saat itu saya tahu bahwa tidak ada jurnalis yang aman di sini,"

Mau apa wahai manusia? Dengarkan saja ini, sampai anggurmu tinggal tetesan yang tak mungkin kau sikat di ujung botol. Lempar botol ke tempat sampah, dan meleset, pecah jadi lima. Tarik nafas dalam-dalam, tidurlah sampai mati...

*dimuat di ronascent webzine, dengan perjalanan panjang editor (mas rona) mengedit dan memperhalus racauan.  haha

Sunday, October 1, 2017

Feel Alive Adalah Segalanya

Sedikit lupa waktu tidak apa-apa asal tidak diperbudak waktu. Umur harusnya panjang karena kebahagiaan tidak mungkin datang dalam dua puluh empat jam. Rehatlah sejenak, rawat ingatanmu, bacalah buku-buku. Kembalilah waras, jadilah manusia, putar album favoritmu sampai ketiduran. Berkumpullah dengan teman-temanmu, tanpa perlu berpikir akan membahas apa dibalik meja kopi. Berbicaralah, keluarkan gelisahmu, jujurlah tentang semua yang terjadi, akui kelemahanmu. Hidup tidak perlu tergesa-gesa, terburu-buru, rutinitas itu tahi, kamu bukan ayam yang harus selalu bangun pagi. Makan Indomie sepuasmu, jangan berpikir aneh-aneh, makanan sehat itu menyebalkan, makanlah apapun yang kamu mau. Dunia sudah terlalu banyak aturan, kamu seharusnya tidak perlu terlalu mengatur diri. Banyak kejutan di luar meja kerja, dan kalau definisi hidup adalah kejutan yang berkelanjutan, mengapa kamu harus terus terjebak tumpukan pekerjaan?

Karena hidup tidak begitu penting kalau kamu tidak merasa hidup. 

from Breaking Bad: season 5 - episode terakhir

Sunday, September 24, 2017

MBV, Hujan, Kegelisahan: Sedikit Catatan

Album kedua My Bloody Valentine; sesudah 22 tahun penantian
Sialan sudah mau Maghrib saja. Lampu-lampu kota mulai hidup, seiring langit yang makin redup. Saya sedari tadi membuka YouTube, mengulang-ulang album MBV dari My Bloody Valentine. Rilis 2013 lalu, sekitar dua puluh dua tahun pasca rilis album pertama Loveless tahun 1991. Album ini sangat cantik, kelam dan gelap. Semuanya bisa timbulkan keindahan yang tidak bisa diukur. My Bloody Valentine adalah unit shoegaze/indie-pop, yang menurut saya pribadi, paling jenius. Band terbesar yang jadi cetak biru genre shoegaze. Kevin Shields gitars MBV adalah nabi besar yang menerima wahyu suci dari seperangkat efek gitar berjejer yang menyala-nyala, dengan sound dan tune yang diutak-atik sedemikian rupa. Saya merasakan banyak keberkahan dapat menemukan album ini. Sekitar 2014 lalu, saya memohon-mohon pada Ardan, bajingan tengik sobat kental saya, untuk diunduhkan album ini. Dia punya banyak waktu dan energi untuk mendownload apapun rekomendasi saya. Hasilnya: Loveless dan MBV, dua dari ratusan album bagus yang pernah saya dengar. Saya dalam kondisi hancur-lebur luar biasa saat itu. Meranggas seperti daun di pelataran kampus. Patah hati sedalam-dalamnya dan merasa bingung, mau dilanjut apa tidak hidup ini. MBV salah satu penyelamat terpenting saya. Dengan headset murahan, dan mata yang rasanya selalu kurang tidur, saya selalu menyetel ini di dalam kelas saat kuliah usai namun masih ada banyak anak yang bacot dan membahas hal-hal goblok luar biasa tidak penting. Momen sureal adalah saat di luar hujan benar-benar deras sekali, sementara saya terbaring di ruang lab sastra yang bentuknya lesehan. Saya rebah, sambil memandangi langit-langit. Ruangan gelap dan muram. Bunyi hujan bergemeletak di genteng dan jendela. Hati saya sedang kacau dan lecet-lecet karena putus cinta. Sejak tombol play itulah saya tahu, "She Found Now" - track pertama album ini,  adalah salah satu lagu terindah yang pernah saya dengar dalam hidup. Lagu terbaik di album MBV. Karya terbaik yang pernah dibuat Kevin Shields dan gerombolannya. Saya berhutang budi pada hujan, dan MBV. Sampai saat ini.


Semenjak itu saya belajar bahwa kesedihan harus dirayakan. Belajar menyembuhkan diri sendiri setiap hari. Belajar menertawakan tangisan. Belajar untuk hidup lagi. MBV membantu saya melalui semua tanpa perlu banyak usaha. Hanya perlu menyediakan telinga, dan kita akan segera tahu, noise gitar Kevin Shields bisa lebih agung dan spiritual dari apapun.

Saturday, September 23, 2017

Malam Liar

Ingin menulis hal-hal yang sedikit provokatif, atau mencaci-maki siapa saja di dunia yang kepalang goblok ini, tapi buat apa. Sudah terlalu capek juga, ngos-ngosan keparat. Botolan habis, eceran tinggal sebatang. Demi apa coba hidup ini? Baru pulang kerja, tidak bisa mengeluh ke sembarang orang, dikira cemenlah, gak bersyukur lah, apalah. Goblok. Saya pengen punya tembok besar sebesar Tembok Berlin, dan crayon yang sebesar penis kuda, buat corat-coret tiap sedang sumpek dan bosan. Menggambar binatang-binatang dengan sentuhan ekspresionisme atau impresionisme seperti Van Gogh--ah mustahil saya bisa melukis sebagus itu. Palingan jadinya gambar yang saking abstraknya sampai keterlaluan jelek. Robohkan saja tembok itu. Saya akan cari pelampiasan lain, seperti misal... ah sudahlah. Mengapa membahas hal seperti ini? Seperti tidak ada hal lain yang lebih berfaedah saja. Ah memang ada, ya? Di hari-hari suram seperti orang yang kemungkinan depresi dan goblok menahun macam saya ini, semua tampak tolol dan tidak ada faedahnya sama sekali. Tidak berguna dan hanya berusaha isi perut masing-masing saja. Atau uang. Ya, begitu-begitu terus berputar-putar seperti bola karambol yang harus dikasih tepung biar licin--tapi tanganmu bakalan kotor goblok. Saya tidak tahu benar-benar, apa esensi hidup ini. Untuk apa tujuan saya lalu-lalang bekerja cari duit. Menikah saja belum, membiayai orang tua mereka sudah lebih dari mapan. Cari untuk keperluan diri sendiri? Keperluan makan kenyang, sebatang dua batang, botolan, bayar kamar, dan lain sebagainya? Saya kira saya tidak nemu hal yang maknawi disini. Saya kurang dekat dengan Tuhan? Ayolah. Tuhan siapa lagi. Bukannya saya atheis atau agnostik dan lain sebagainya, tapi selalu menyenangkan bertemu dengan tuhan tanpa perlu ritual-ritual apalah. Selalu menyenangkan dengan kejutan-kejutan tak terduga yang saya yakin itu adalah perwujudan tuhan seperti: nemu kulit di suapan soto ayam panas, gurih dan surgawi mengercap-ercap di mulut, jalan yang tiba-tiba jadi sepi dan tidak panas membakar padahal sebelumnya seperti neraka, menemukan uang lima puluh ribuan tanpa sengaja di saku jaket jeans yang akan di laundry, ketiduran dan bangun pukul sembilan kemudian ketiduran lagi lalu bermimpi basah, nonton YouTube dan nemu video Sounds Of The Corner baru, makan roti Indomaret dengan isi keju di luar ekspekstasi, download bokep atau film dengan kecepatan yang tidak diduga sebelumnya, ketemu teman lama  tanpa disengaja yang dulu sempat kemana-kemana bareng terus tapi karena kegoblokan dan lain hal seperti kerja, jarak dan waktu akhirnya pisah tanpa perpisahan, makan sate ayam lima belas ribuan banyak kulitnya, merasa badan tiap hari makin ringan dan sesudah bercermin muka terlihat tidak nyempluk dan merasa bobot sudah turun 8 kilogram, cek Instagram ada kaus band keren dan kebetulan ada uang melimpah dalam ATM, nonton film di bioskop tiba-tiba dapat ciuman dari teman kencan, apapun hal-hal sepele yang penuh kejutan adalah cara paling menyenangkan untuk bertemu tuhan. Saya tidak perlu hal yang besar-besar, kalau hal kecil seperti ini saya tidak dapatkan. Beruntung saya masih sering mendapatkan hal-hal kecil seperti ini, jadi masih ada alasan untuk membuka mata, tidak tidur lagi dan berharap tidak bangun-bangun sampai delapan ribu tujuh ratus empat puluh tiga abad kemudian. Dan ujung-ujungnya, seperti klise penulis musik ember seperti saya, selalu musik, musik, dan musik. Hidup adalah film Quentin Tarantino, full soundtrack entah kelabu atau lagi happy atau boring atau mentok kepengin mati. Seperti biasa lagu-lagu dari mp3 bajakan yang jumlahnya ribuan di hardisk tua saya, bisa dipilih kemudian diputar, lalu diputar lagi, begitu terus sampai otak rasanya jadi agak bego. Penulis musik ember yang baik dan benar tidak pernah digaji karena menulis musik hanya untuk pamer ketololannya jadi penggemar musik pada dunia. Menulis musik bisa jadi enak karena saya bisa ngalor-ngidul bicara di luar musik, dan sok-sok menghubungkannya dengan musik seperti situs JakartaBeat. Saya tidak benar-benar paham istlah hipster maknanya seperti yang bagaimana. Bila bekerja pakai totebag dan Jack Purcell dan kemeja batik sudah cukup hipster, silakan lempari saya dengan batu karena saya tidak peduli apapun itu yang jadi pendapat publik. Saya sedang bingung dan menatap sound lelah di sebelah mesin ketik tua ini, memegang-megang membrannya rasanya bergetar seperti dada perempuan saja. Akhirnya dengan sedikit keterpaksaan karena harus selesaikan tulisan di pukul setengah tiga pagi ini, saya membuka file musik saya. Saya ingin dengar sebuah lagu yang bisa buat orgasme hebat tapi itu nyaris mustahil kecuali lagu Via Vallen mungkin. Dasar otak cabul. Pornografi internet. Tukang unduh JAV. Hacker Brazzer, sialan ah. Mata sudah ngantuk berat dan pelir sudah mengambrolkan ompol barusan. Lalu nyamuk-nyamuk keparat busuk yang saya tidak mengerti mengapa tuhan ciptakan satu hewan goblok seperti ini. Atau jangan-jangan dia mata-mata tuhan? Saya terus mengoceh tanpa arah dan tujuan. Ada hewan di tubuh saya. Mungin gorilla atau Baloo-nya Jungle Book. Ah palingan juga setan yang katanya sempat diusir tuhan dari neraka. Saya agak bingung juga soalnya di negara super mistis dan kurang rasional dengan makhluk lucu-lucu tolol ini, saya mengkonotasikan setan dengan fenomena kesurupan. Tapi ya sudahlah, saya terlalu banyak berfikir tanpa tahu juga hasil panen pikiran apakah ada yang mewujud di dunia nyata atau tidak. Saya tiap hari berpikir bisa leha-leha punya rumah dengan kamar langsung di dekat kolam renang. Mana tidak ada ih. Bullshit lah. Ceramahi saya terserah buat pembaca yang kebetulan kecelakaan nyasar di gudang sumpah serapah saya ini. Saya sambut dengan adzan di kuping kiri panjenengan, dan pisuhan jancok-taek-asu di kuping kanan panjenengan. Apakah matahari sudah terbit jam setengah tiga sialan seperti ini? Persetan. Saya putar Christabel Annora dengan debutnya yang pekat piano dan tuts-tuts hitam putih itu, memperkosa otak saya untuk menerjang galaknya pikiran yang minta ampun membawa saya beratus-ratus kilometer ke Malang sana. Sound keparat agak menyendat goblok. Bajingan tengik kenangan seperti cegukan usai minum soda, terasa membuat hidung dan tenggorokan jadi berdenging dan kita seperti orang tolol yang tidak bisa mengontrol hadirnya. Ingin saya misuh-misuh sampai mati tapi ya sudahlah, betapapun kacaunya hidup saya akan melanjutkan... dengan tidur. Atau pilih lagi lagu ngentot yang lain, album paling kacau dan bersinar dari seluruh katalog band berisik saya yang najisnya minta ampun. Deafheaven, bajingan tengik, Sunbather kotor dan membekas, sekeruh jiwa yang kering kerontang, ranting-ranting pohon perdu di sora hari kampus yang menentramkan bulu kuduk; romantismenya, aromanya. Ah betapa senangnya jadi bebal yang bodoh, tertawa di pojokan lantai jorok kampus, mengeluarkan sebatang dan headset dari saku jins belel tengik yang sudah tiga minggu tidak dicuci. Membayangkan hal-hal mesum seperti cerita-cerita stensil dengan objek anak jurusan sebelah. Menolak jadi tua karena hidup ini nihil sekali. Membingungkan dan Dream House membuat air mata tua kalian menetes ke jantung, lalu ngompol lagi, sumpek menahan mata perih dari kipas angin hasil colongan yang membuat perut jadi betah masuk angin. Persetan, saya hanya ingin bermimpi. Mimpi. Mimpi. Mimpi. Kata Deafheaven, sebegitulah adanya. Kenyataan hidup tidak akan pernah sesuai harapan, dan mimpi adalah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh. Belajarlah sampai bisa kuasai teknik mimpi seperti Inception-nya Nolan. Atau kalau dirasa mustahil dan buang-buang waktu, bekerjalah sampai tua dan jika beruntung, mimpi-mimpi itu tiba-tiba hadir tepat di lubang hidung tanpa disadari. Baiklah semuanya segera ingin coli, ingin tuntas. Penutupnya bisa dari Song Of Leonard Cohen, dari kisaran tahun 60-an, di mana romantisme jalan tanpa kendaraan goblok seperti sekarang tidak terjadi. Hidup indah mungkin, bila pada timingnya. Mungkin kita salah berada di zaman sekarang, di negara ini, dengan sekeliling seperti ini. Halleluyah. Biarkan Leonard Cohen membuat kita ingin minum air putih satu galon saking pekatnya. Perasaan rindu yang membunuh dan tidak teratasi. Perasaan kantuk yang membunuh dan serasa ingin tidur selama seribu enam ratus juta abad. Master Song, lagu perosotan masa kecil kita yang sepertinya indah, dan kita rindu ciuman itu, pelukan itu, dalam foto yang dibingkai di atas meja makan. Sejarah, andai bisa kita hentikan. Kita tidak butuh apapun lagi. Tidak akan butuh apapun. Kabur dari waktu, kembali ke lalu. Andaikata, andaikata. Kita tidak terpenjara, seperti ini...

Monday, August 28, 2017

Fungsi Libur: Perbaiki Badan Ringsek

Bagaimana kabar kalian? Apakah baik-baik saja?

Hidup begitu naik turun akhir-akhir ini. Seperti rollercoaster. Sama-sama menjerit, tentu saja. Naik jerit, turun jerit. Upayakan kandung kemih ditahan biar ompol tidak muncrat. Saya sendiri sudah menahan-nahan dari kemarin, ya tapi akhirnya muncrat juga, tidak kuat. Naik turunnya seperti cuaca dan hawa Surabaya, panas menyengat lalu tiba-tiba berangin. Tidak ekstrem tapi membunuh pelan-pelan. Kata Awing, pegiat teater telanjang saat nonton Ikrab Teater Institut bareng saya kemarin, 

"Cuacanya enggak enak, dingin tapi panas, panas tapi dingin, anginya kenceng. Ada arak nggak di belakang?"

Kopi seperti tidak mampu redam cuaca yang entah sudah akan masuk pancaroba atau belum. Badan jadi amburadul. Meliuk-liuk seperti daun di kantor yang berputar terkena angin, ataukah ini efek Badai Harvey di Texas? Semoga jangan. Tujuh hari dalam seminggu, dan saya tidak libur sama sekali! Luar biasa, kawan! Hari pertama bekerja badan dalam kondisi fit sekali, meskipun angin perlahan-lahan menusuk, mempreteli kebugaran fisik saya. Tergoda Glico Wings di kantin koperasi kantor, saya ambil beberapa batang, selama beberapa hari. Lalu terjadilah muncratan itu, squirt itu, dari hidung. Awalnya saya merasa cukup prima, sampai Esa (seorang murid McGregor), mengajak saya ke warung untuk beli wedang jahe hangat. Saya cuek saja sambil terus bermain hape.

"Aku batuk pilek, ayo beli jahe panas."

Saya menyumpah serapah Esa sebagai makhluk yang lemah, dilahirkan dalam keadaan cacat imun, brengsek penyakitan yang tidak bakal hidup lama, jika hidup lama, pasti sengsara dan tubuhnya ditumbuhi penyakit yang akan muncul saban detik--tentu saja semua dalam konteks bercanda biasa. Lalu seketika SROP!

Jancok.

Tiba-tiba hidung saya keluar lendir brengsek itu. Cairan seperti sperma bening, encer, membuat hidung terasa becek, basah. Keparat. Saya berdoa moga-moga saja tidak pilek, soalnya jika pilek pasti berefek di batuk, dan lalu... serak. Ini  ganggu pekerjaan saja. Besoknya saya membeli seperangkat Tolak Angin dan Enervon untuk melawan gangguan imun ini, manjur, saya berasa sehat. Tapi kembali ringsek di malam hari. Waktu banyak saya pergunakan untuk tidur. Saya juga beli Bodrex Flu di apotek. Sedikit mendingan, walaupun masih srop, setidaknya tidak sampai parah. Dan mumpung besok libur kerja, ya sekalian saja saya pulang ke rumah, pulihkan badan, istirahat banyak, dan sedikit lari-lari pagi biar fit.

Kabar paling buruk dari semuanya: bobot saya nambah tiga kilo dalam upaya menanggulangi turunnya imun ini. Nafsu makan saya tidak terbendung. Tiap ada kesempatan selalu makan. Biar tubuh kuat, dan cepat pulih. Persetan gendut deh, yang penting saya sehat dulu, nanti dikurusin lagi. Gampang. Bukankah hidup seperti rollercoaster, kadang gendut kadang kurus.

Eh tapi pengecualian buat Si Devi. Dia diapain juga bakal tetap gendut sih.