Oleh Bili Sayuti*
Saya pernah punya pengalaman menjijikkan. Sebenarnya tidak etis diceritakan di sini, karena itu saya hanya akan melempar pertanyaan ini saja: pernahkah Anda-anda semua, terutama yang mengaku sebagai moralis tulen, suci tak ternoda, pendukung keras boikot pornographic, ke-gap orang tua anda saat melakukan hal-hal yang kurang senonoh?
Jika belum, sebaiknya Anda membaca cerita bersambung karya mahasiswa sableng saya ini. Atau kalau Anda memang punya pengalaman ke-gap serupa, Anda juga bisa menyimak dalam-dalam esensi cerita nir-faedah ini dan membandingkannya dengan hidup anda yang tidak kalah absurd.
Ini untuk kesekian kalinya saya disuruh membuat kata pengantar untuk proyekan fiksi mahasiswa saya yang sangat kurang ajar ini. Bagaimana tidak? Cerita ini, lagi-lagi dibagikan gratis di sebuah platform digital, dan terang-terangan mendokumentasikan kisah amoral nan jujur soal bagaimana sensasi menonton bokep pertama, atau pengalaman nyabun pertama di toilet sekolah karena tidak betah melihat bu guru magang yang aduhai tampilannya.
Karena itu, Anda direkomendasikan untuk menggantung moral Anda di balik pintu, dan mulai membaca bacaan senggang yang mengingatkan pada kejayaan Enny Arrow dan Freddy S. ini. Gaya penulisan Tito dalam ceritanya kali ini amat ringan, tidak berbelit-belit melilit seperti karyanya terdahulu. Juga tidak terlalu frontal dari segi pemilihan bahasa, meskipun tema yang diangkat terang-terangan berputar pada blue film, onani, dan seks pertama.
Sebagai pamungkas saya ingin bertanya satu hal lagi pada Anda: pernahkah Anda onani pakai balsem? Saran saya jangan. Teman saya pernah bermain yang begini ini, lalu tidak sadarkan diri selama dua setengah jam di ruang UKS. Panas.
Rekomendasi Pak Bili bisa dibaca gratis di sini.
*Pak Bili Sayuti, mantan dosen saya. Sekarang fokus menjadi slackers di rumahnya. Pasca menamatkan Breaking Bad rekomendasi saya, beliau kecanduan Netflix sampai hari ini.
Thursday, June 7, 2018
Wednesday, May 16, 2018
Bagaimana Jajan Rock Mempengaruhi Hidup Kita?
Lebih
bernilai mana kaus Joy Division atau My Bloody Valentine? Tape Utopia dari Pure
Saturday atau Rumahsakit? Plat Badai Pasti Berlalu atau Guruh Gipsy? CD album
terbaru Taylor Swift atau Coldplay? Susah kalau perkara selera. Apalagi hasrat
untuk jadi hipster kadang membuat selera jadi terkotak: harus cult, indie,
menyimpang: apapun yang disuka arus utama, kita sebisa mungkin harus
menghindarinya. Mau tidak mau ini berpengaruh pada hasrat belanja. Tapi musik
memang sebegitunya. Memaksa kita keluarkan duit tidak hanya untuk nada dan
irama: kaset dan sejenisnya. Musik juga bisa dipakai, dalam pernak-pernik
merchandise: kaus, bracelet, sampai gantungan kunci. Beberapa tahun terakhir
ini, beberapa penerbit juga mulai rilis buku-buku musik. Musik bisa dibaca.
Elevation Records, label milik Taufiq Rahman penulis musik kesayangan kita
semua—meluncurkan divisi ‘usaha kecil menengah’ bernama Elevation Books. Jadi
gebrakan lewat kumpulan esai musik karya Taufiq, disusul kumpulan tulisan Herry
Sutresna aka. Morgue Vanguard aka. Ucok Homicide – legenda hip hop yang doyan
menuliskan musik secara personal. Apalagi layanan musik streaming seperti
Spotify, yang harus dipaksa premium supaya bebas iklan. 50 ribu terlalu mahal
untuk sealbum penuh A Moon Shaped Pool plus jutaan lagu streaming lain? Atau
bagaimana dengan tiket konser—yang kini makin mudah karena bisa dipesan
virtual. DWP sudah jadi rutinitas, gigs-gigs kampus pakai band lokal juga sudah
ada ticketing, apalagi tur dari band-band rilisan Kolibri atau label-label luar
kota yang ajaib.
Ini
tidak bisa dibiarkan. Mau sampai kapan isi dompet kita dikoyak segala
pernak-pernik musik?
Mungkin
ada frase ‘jajan rock’—sebagai istilah belanja musik entah itu tape, CD, plat,
sampai kaus band. Kamu tidak harus mengerti frase itu buat njajan. Apapun
motivasinya, musik mungkin sudah jadi semacam candu yang terlalu seru untuk
tidak diusahakan. Kamu butuh, tidak hanya ingin. Hasrat yang menggebu-gebu
untuk tidak beli vinyl Rajasinga atau Taring-nya Seringai edisi splatter vinyl,
bisa disesali seumur hidup kalau tidak dituruti. Kamu ingin benar-benar
menikmatinya secara maksimal, dengan pemutar musik terbaik. Kaus juga harus
original merchandise, tidak boleh premium murah. Pengorbanan bukan hanya
sebagai bentuk dukungan pada musik dan musisi. Tapi lebih pada kenikmatan
pribadi.
Beberapa
orang bertanya ‘ngapain beli tiket konser mahal-mahal, pakai kaus band cotton
30’s mahal, beli vinyl di eBay, bla-bla-bla, sebenarnya mencari apa sih?
Karena
sesungguhnya manusia tidak pernah puas. Dan kepuasan dari musik, selalu harus
diperjuangkan.
Kaus
Band
Banyak
band di Surabaya sudah mulai produksi kausnya sendiri. Ada yang jadi barang
buruan seperti kaus Si Pelanggannya Silampukau. Atau kaus Timeless dengan font
album Beetwen And Beyond. Beberapa merasa ini perlu dibeli untuk mendukung
eksistensi band. Tapi lebih dari itu semua, ini juga bukti betapa cintanya kita
pada musik. Musik tidak hanya nempel di kuping, tapi juga di badan dan kulit.
Kurang cinta apalagi coba? Kita serahkan jiwa raga kita pada musik, karena kita
sadar begitu banyak peran musik di hidup kita.
Plat
Plat
bukan hanya untuk orang-orang berdoku dan tua. Ini masalah kualitas dan kamu
lebih baik kembali ke klasik. Lebih baik menabung tidak apa-apa, beli plat dulu
turntable-nya menyusul. Mungkin event Record Store Day bisa jadi awal yang
bagus. Ya beli plat-plat empat ratus ribuan dari album-album top 40’s yang
keren boleh juga dicoba. Lalu sesudah kamu mengerti ada banyak ‘suara lainnya’
yang bisa terdengar lewat layer-layer tersembunyi dalam lagu, kamu akan semakin
mengerti bedanya headset 18 ribuan dengan turntable. Plat punya perbandingan
1:2 dengan rekaman di studio. Turntable mahal ya? Pikir ulang dulu rencana
nikah pakai resepsi di gedung, lebih baik buat beli turntable, sisanya buat
beli mobil sport. Boleh jugalah.
CD/Tape
Tape
dulu baru kemudian CD. Tape menurut banyak orang lebih romantis, tapi beberapa
orang lebih memuja CD. Semuanya tergantung selera masing-masing—dan di zaman
apa kita bertumbuh. Sebagai genarasi mp3 mungkin memuja Spotify tidak kalah
romantis. Apapunlah buat konsumsi musik. Kita tidak tahu mau jadi apa umat
manusia kalau tidak ada benda bernama album. Mau jadi apa malam gelap gulita
tanpa Mellon Collie and Infinite Sadness? Mau jadi apa anak-anak muda yang
terasing di kelas tanpa Nevermind dan In Utero. Kebanyakan—atau mungkin semua
orang punya utang budi pada tape atau CD. Termasuk audio mobil butut ayahmu
yang doyan memutar sealbum penuh Sgt. Pepper-nya The Beatles dalam perjalanan
mengantarmu ke sekolah.
Buku
Ini
tidak kalah pentingnya, dan mungkin perlu diusahakan. Beberapa dari kalian
mungkin bingung cari dimana buku rilisan Continuum: 33 1/3 karangan Mike
McGonigal. Buku itu membahas semua album yang mungkin pernah masuk kuping
kalian, secara berkelas. Kalau lewat eBay atau Amazon terlalu asing dicoba dan
Bahasa Inggris kalian tidak bagus-bagus amat, mending mulai baca Setelah
Boombox Usai Menyalak karya Herry Sutresna, atau Nice Boys Don’t Write Rock And
Roll-nya Nuran Wibisono yang rilis tahun ini. Seperti kata Erie Setiawan
musikolog Jogja: teks musik membantu lagu atau album, mengatakan apa yang tidak
bisa dikatakan lagu dan lirik. Bacalah!
Tiket
Konser
Karena
musik gratisan berarti tidak segmented dan akan ada banyak penonton
non-penggemar yang nonton hanya untuk eksis belaka. Pernahkah kalian merasakan
sensasi teriak koor massal saat intro bas lagu I Wanna Be Adored dimulai? Kalau belum, buka website The Stone Roses,
cari kemungkinan kapan mereka Reuni lagi, segera booking tiket. Ya, semoga
harganya tidak separuh gaji kalian ya, wahai kelas menengah.
Naskah nan slebor ini pernah dimuat di Majalah SCG.
Deathwords – Abandon The Truth: Jenuh dan Terasing Dalam Buram Hitam Putih
Kita sering merasa
terasing tanpa tahu apa itu keterasingan; Marx menjelaskannya dengan agak
bertele-tele dan mungkin bagi saya yang berotak di bawah rata-rata ini cukup
membingungkan: manusia terasing dari dirinya sendiri, akibat dari sistem
kapitalis yang membuat manusia bekerja agar tidak kelaparan. Bla-bla-bla
selengkapnya bisa baca Manifesto--atau sekalian Das Kapital. Tapi kamu bisa
sedikit-sedikit belajar soal keterasingan dalam video klip baru Deathwords;
unit brutal stoner (begitu saya menyebutnya), berisi sobat-sobat SMA saya yang
sejak dulu jadi begundal. Kita digiring di situasi hitam putih: buram dan agak
sedikit menyeramkan. Kota Malang, tempat klip itu diambil, terasa seperti
Norwegia, atau kota di negara Eropa yang jadi tempat kelahiran Black Metal.
Padahal hanya menyorot sisi paling remeh dari Pasar Besar Malang, sampai daerah
Kayu Tangan. Keterasingan dalam klip bisa dilihat dari kusamnya Converse punya
Iqbal--si vokalis dengan geraman mematikan--lalu angan kita secara otomatis
memasuki situasi nihil. Bocah bahagia bermain ayunan tampak kelabu; mendung dan
melankoli. Jerit-jerit Iqbal yang ditampilkan berjalan di trotoar pertokoan
menunjukkan sisi muram kota. Busuk dan tidak indah. Bagaimana Iqbal menyiksa
pita suaranya diiringi berat knalpot distorsi Riki; membuat rasa tertohok dan
meradang dalam satu paket. Malang kota hujan, tampak ortodoks dan ragu. Denging
Tomi Iommi menekankan pengaruh Sabbath yang kuat. Klip mulai menggelinding
menyorot aspal keras, dan jalan yang mulai penuh dengan hal-hal yang
menggelisahkan. Meskipun sederhana, pikiranmu perlahan akan penuh deru. Seolah
ada asap dalam hisap Marlboro yang tertelan dan masuk ke otak. Linu dan pegal,
saya akui, tapi Deathwords sedang membangun nuansa. Split underground dengan
Band Singapura tampak perlu digembar-gembor sebagai hal yang luar biasa; hanya
saling berbagi keterasingan, kemuraman, kegelisahan--yang selalu ada di
gang-gang kotor penuh kecoak, asbak yang selalu pekat terisi, got penuh kadal
dan tikus coro: sudut suburb sebuah kota yang meskipun brengseknya minta ampun,
tetap nyaman untuk ditinggali. Terbiasa dengan keterasingan, lalu
sedikit-demi-sedikit mencicil kejenuhan dan lambat laun mencapai titik didih
keputus-asaan. Mengutip Nietzsche: aku bukan manusia, aku dinamit. Lamat-lamat
kita akan meledak sendiri. Meledek dan mengumpat pada hidup. Siaga pada
kesedihan yang bisa datang dalam hitungan menit. Segaring Indomie yang kita
makan mentah. Absurd, kosong, sekaligus renyah dan beracun. Mungkin
keterasingan tiada peduli situasi apapun: ia bersemayam dalam pikir bawah
sadar. Sistem pendingin dalam tubuh kita tidak berfungsi; seperti Malang yang
semakin penuh, sesak, dan tidak bisa dinginkan panas kotanya sendiri.
Deathwords menggambarkanya dalam klip berbudget rendah, tapi dengan kemasan
yang mengena.
Tulisan sebelumnya dimuat di Wayward Online Magz.
Saturday, May 5, 2018
Merayakan May the Fourth Be With You
![]() |
| source: wilx.com |
Demi memperingati empat Mei alias Star Wars Day, saya baru saja mengkhatamkan The Last Jedi via situs streaming gratisan. Saya memang bukan penggemar Star Wars yang taat, malah kadang sering lupa jalan cerita dan nama tokohnya. Tapi secara garis besarnya, saya tentu ingat karena sejak usia dini sudah dicekoki hal macam beginian via VCD rental. Star Wars Episode IV sampai VI sudah pernah saya tonton kira-kira di usia sebelum sekolah dasar. Membuat saya sempat trauma dan ketakutan pada sosok Darth Maul yang muncul di Phantom Menace. Sekuel selanjutnya, I sampai III sempat saya tonton di ANTV di hari-hari kecil saya. Meskipun sempat lupa dan harus menontonnya kembali saat kuliah; khusunya di 2015 akhir saat Star Wars Episode VII The Force Awakens membuat ramai jagad raya. Saya yang sudah lama menimbun memori perang bintang mau tidak mau harus menggalinya lagi. Alhasil, saya sudah menemukan titik terang dan jalan cerita yang jelas, seiring kedewasaan pikiran.
Star Wars memang menarik dan pantas ditonton meskipun saya bukanlah fans yang terlampau fanatik. Tapi memang manusia yang belum pernah menonton Star Wars seumur hidupnya sama saja seperti mengkhianati budaya pop; keterlaluan, kemana saja kalian selama ini? Lalu tibalah saatnya saat trailer The Last Jedi meluncur dan saya sungguh tidak sabar menunggu natal tahun lalu, saat film diputar serentak di seluruh bioskop kesayangan Anda. Tapi nyatanya hidup adalah sekumpulan tai kucing yang menyebar di jalanan; bisa terinjak tanpa diduga. Adaptasi dengan waktu kerja dan ketidaksesuaian agenda dengan pacar--rekan nonton waktu itu--membuat saya menunda-nunda terus menonton pemutaran The Last Jedi ini. Alhasil saat niatan untuk menonton mulai terlupakan karena banyaknya kesumpekan hidup, termasuk bertengkar dengan pacar dan remeknya badan di awal bekerja, The Last Jedi sudah hilang dari peredaran. Saya menggoblok-goblokkan diri karena menonton Star Wars memang punya kesenangan tersendiri; terutama saat bersama dengan fanatik Star Wars yang kebetulan menonton. Ada hawa-hawa nostalgik saat soundtrack John Williams berkumandang di pembuka; ada rasa haru, ingatan kolektif masa kecil. Seperti saat saya menyaksikan langsung saat pemutaran The Force Awakens--film Star Wars pertama sesudah sekitar sepuluh tahun penantian. Kemunculan Han Solo dari Millenium Falcon disambut riuh penonton, bahkan ada yang bertepuk tangan. Momen seperti ini sangat jarang, meskipun kadang bisa dijumpai di film yang punya banyak massa; seperti sekuel Marvel atau DC. Tapi saya tidak bisa merasakan momen itu di The Last Jedi, yang kabarnya jadi sekuel terakhir Star Wars. Dan saat perayaan May the Fourth inilah saya seperti diingatkan kembali untuk menamatkan Star Wars. Hasilnya adalah streaming via komputer kantor selama dua jam setengah, lalu teka-teki serta rasa penasaran saya hilang sudah.
Walaupun sangat telat, izinkan saya bercerita sejenak. The Last Jedi dibuka dengan adegan di luar angkasa; baku hantam antara First Order dan Pemberontak. Aksi sudah dimulai sedemikian dini. Tidak ada nafas yang terbuang sia-sia karena ketegangan di film ini bisa muncul di adegan hening sekalipun; saat Rey bertemu Luke Skywalker di suatu tempat indah nan antah berantah. Banyak spekulasi bermunculan yang akhirnya berbelok tajam; semacam twist yang tidak akan terduga oleh penebak manapun. Teka-teki siapakah Rey akhirnya terjawab. Alasan Luke memilih sembunyi juga bisa diterima nalar. Selebihnya adalah hal-hal mengejutkan lain yang berpotensi jadi spoiler saat saya ocehkan di sini.
Tapi toh mungkin semua sudah nonton The Last Jedi, jadi istilah spoiler tadi sepertinya tidak relevan. Intinya yang paling menarik adalah pertemuan Rey dan Kylo Ren (Ben Solo) via Force, yang saling melempar pengaruh dan kekuatan. Juga pertemuan sekaligus duel terakhir antara Luke Skywalker, ksatria Jedi terakhir, dengan Kylo Ren, anak cucu Darth Vader. Nafas dibuat berhenti saat menyaksikan film yang katanya jadi akhir dari Star Wars. Meskipun kita semua tahu pada akhirnya kalau tiga sekuel lanjutan akan segera diproduksi. Ini berarti The Last Jedi bukanlah sekuel terakhir. Tebakan kalian salah semua. Tapi masih mending daripada saya yang telat menonton dan baru bisa menjawab semuanya, saat dunia mulai disibukkan dengan spoiler Infinity War. Karena itu saya ingin membagi satu spoiler penting kalau di The Last Jedi, Jenderal Snoke, pak tua pimpinan First Order, tewas dibantai Rey, dan nasib Luke Skywalker... silahkan tebak sendiri.
Friday, April 20, 2018
Menyetujui Rejeki
Manusia memang doyan sambat. Sedikit-sedikit menyalahkan keadaan, ngedumel dan ngomel sendiri. Walaupun tahu dan sadar kalau semua tidak akan bisa membalik keadaan. Manusia gudangnya ngomel, dan parahnya isi omelan dan sumpah serapahnya tidak habis-habis. Kemarin saat obrolan via chat dengan Mas Rona, saya seperti kembali diingatkan untuk tidak terus merengek-rengek akan nasib. Rona sebagai jurnalis musik paling berpengaruh di Surabaya (sejauh mata memandang), banyak memakai kata rejeki dalam chat. Inilah yang membuat saya tiba-tiba sadar kalau saya tidak pernah memakai kata ini. Rejeki atau rezeki dalam versi baku KBBI, memang kata yang ajaib. Tidak heran kalau para orang tua banyak menyelipkan kata rizki untuk nama anak mereka. Selama ini saya belum sadar kalau sudah diberi rejeki yang melimpah ruah. Tidak pernah kekurangan uang untuk ngopi, selalu bisa makan cukup, dan membeli tetek bengek remeh temeh yang sebenarnya juga saya tidak butuh-butuh amat. Selama ini saya menganggap kerja adalah kewajiban, just for money. Ini membuat saya berasa seperti robot uang yang bekerja dengan satu motivasi: duit. Tapi tentu saja hati ini rasanya tiap hari gundah gulana. Anjing, pekerjaan gini amat. Tapi terus dipacu demi duit, duit, duit. Dengan mengganti kata duit dengan rejeki, konotasi dan maknanya sepertinya berubah. Jadi bekerja memang tujuannya mencari rejeki. Kalian tahu rejeki menurut versi Ibunda saya itu seperti apa? Rejeki bukan hanya sekadar uang, tapi juga koneksi, pengalaman, dan ilmu yang tidak ternilai. Selama saya bekerja ini, tidak terhitung kenikmatan rejeki yang saya peroleh, dan itu benar-benar priceless. Perenungan saya malam ini akhirnya membawa saya pada berbagai pertanyaan, sebelum akhirnya bingung sendiri dan akhirnya memilih melanjutkan membaca Dilarang Gondrong terbitan Marjin Kiri yang aduhai ciamik itu. Ya, semoga saja tulisan dan perenungan ini ada guna manfaatnya yaa.
Monday, April 2, 2018
10 Pertanyaan Tak Kunjung Ada Jawabnya
1. Kenapa ada orang yang suka Fourtwenty?
Gelombang folk Indonesia menghasilkan sejumlah band dengan tiga tipe; luar biasa bagus, biasa saja, dan buruknya minta ampun. Fourtwenty; tidak termasuk ketiganya.
2. Kenapa harus bangun pagi?
Kalau jawabannya buru-buru kerja biar rejeki tidak dipatok ayam, saya menyerah dan tidak akan bertanya lagi.
3. Kenapa harus kerja delapan jam sehari enam kali seminggu (dan di beberapa perusahaan, tanggal merah dan weekend tidak libur)?
Uang? Masa depan? Membedakan diri dari hewan? Betapa lelahnya.
4. Kenapa hampir semua orang merasa dirinya benar?
Saya harap saya salah karena sudah mempertanyakan ini.
5. Kenapa outro di lagu "Di Bangku Taman" dihilangkan di album Time For A Change?
Hanya Tuhan dan Pure Saturday yang tahu.
6. Kenapa orang harus mempertanyakan sesuatu?
Saya tidak puas dengan quote Phytagoras: pertanyaan yang bagus mendorong hidup Anda semakin progresif.
7. Kenapa harus nyoblos?
Nyoblos lima menit untuk menentukan lima tahun? Sepertinya ada yang aneh.
8. Kenapa harus menjilat bos dan terlihat baik di mata semua orang?
Opsi pertama: Karena hidup cuman sekali, berpura-puralah. Opsi kedua: be your fucking self like a Kurt Cobain eksistensialism quote.
9. Kenapa dalam setiap pertemuan ada perpisahan?
Kecuali karena maut, perpisahan dalam konteks apapun selalu membuat kita penasaran, menduga-duga, lalu berdamai dengan perasaan. Mungkin jawabannya supaya mendidik kita lebih dewasa. Mungkin.
10. Kenapa kita tidak jadi anak kecil selamanya?
Karena tiap hari bulu-bulu di organ tubuh kita selalu bertumbuh. Tapi saya yakin itu bukan jawabannya.
Gelombang folk Indonesia menghasilkan sejumlah band dengan tiga tipe; luar biasa bagus, biasa saja, dan buruknya minta ampun. Fourtwenty; tidak termasuk ketiganya.
2. Kenapa harus bangun pagi?
Kalau jawabannya buru-buru kerja biar rejeki tidak dipatok ayam, saya menyerah dan tidak akan bertanya lagi.
3. Kenapa harus kerja delapan jam sehari enam kali seminggu (dan di beberapa perusahaan, tanggal merah dan weekend tidak libur)?
Uang? Masa depan? Membedakan diri dari hewan? Betapa lelahnya.
4. Kenapa hampir semua orang merasa dirinya benar?
Saya harap saya salah karena sudah mempertanyakan ini.
5. Kenapa outro di lagu "Di Bangku Taman" dihilangkan di album Time For A Change?
Hanya Tuhan dan Pure Saturday yang tahu.
6. Kenapa orang harus mempertanyakan sesuatu?
Saya tidak puas dengan quote Phytagoras: pertanyaan yang bagus mendorong hidup Anda semakin progresif.
7. Kenapa harus nyoblos?
Nyoblos lima menit untuk menentukan lima tahun? Sepertinya ada yang aneh.
8. Kenapa harus menjilat bos dan terlihat baik di mata semua orang?
Opsi pertama: Karena hidup cuman sekali, berpura-puralah. Opsi kedua: be your fucking self like a Kurt Cobain eksistensialism quote.
9. Kenapa dalam setiap pertemuan ada perpisahan?
Kecuali karena maut, perpisahan dalam konteks apapun selalu membuat kita penasaran, menduga-duga, lalu berdamai dengan perasaan. Mungkin jawabannya supaya mendidik kita lebih dewasa. Mungkin.
10. Kenapa kita tidak jadi anak kecil selamanya?
Karena tiap hari bulu-bulu di organ tubuh kita selalu bertumbuh. Tapi saya yakin itu bukan jawabannya.
Saturday, March 31, 2018
Ridho Riblisiandi Putra (1994 - 2018)
Sekali lagi aku menulis obituari, dan berharap ini jadi yang terakhir. Tapi kau tahu, kematian tidak pernah berhenti, selalu mendadak, dan seringkali mengagetkan. Aku tidak tahu kenapa kau meninggalkan kami semua begitu cepat, Mas San. Terlalu banyak ingatan yang meski kubuka saat membuka memori tentangmu. Tentang hidup yang masih polos saat kita sama-sama rajin mengaji di TPQ pukul dua siang, saat kau membimbingku--anak bawang ingusan yang selalu apes dalam permainan kejar-kejaran--untuk menjauhi teman yang kau anggap sengak dan kaku. Atau saat kau begitu mudah membeberkan standar warna favorit--dan saat itu kau masih kelas lima SD--dan yang terlambat aku sadari, bahwa Caroline--cinta pertamamu sewaktu masih di sekolah dasar--benar-benar cantik dan mempesona. Aku langsung mencari-carinya di semua akun media sosial saat kabar kematianmu datang, tapi entah tidak kutemukan--termasuk juga media sosialmu.
Kita sudah lama, lama sekali tidak bercengkrama. Lebih kurang enam atau tujuh tahun semenjak kau lulus SD dan memilih melanjutkan studi keluar kota. Sementara aku, disini-sini saja, masih dengan bekas nasehat dan kegilaanmu. Aku ingat momen di mana kamu menyobek satu lembar ayat suci, melipatnya jadi 32 bagian dan menambalnya dengan plakban. Kamu namakan itu jimat dan menyuruhku membawanya supaya sakti. Hanya saja aku terlalu polos hingga cerita ini mudah menyebar. Akhirnya kamu sempat kecewa padaku, kekecewaan anak bau kencur yang sehari-dua hari sudah berganti rupa. Kita kembali berkumpul di pos ronda, bermain karambol, kelereng, dan perang lempar-lemparan mangga yang masih bayi dengan anak gang sebelah. Padahal kau anak gang sebelah juga tapi yang aku ingat, kau membela gang kami, dan dengan nyala mata yang penuh kebahagiaan, menyasar wajah Kloneng--tokoh terpandang di gang sebelah--untuk dilempari mangga. Dan saat mangga itu tepat mengenai matanya, kamu seolah jadi anak kecil paling bahagia sedunia.
Masa kecil yang indah dan aku tidak pernah tahu cara untuk kembali ke sana. Kamu pergi begitu saja meninggalkan bekas ingatan yang tidak pernah rampung. Bahkan aku harus mengakui ini: kalau di semester kedua kelas empat SD aku sangat mengidolakanmu dan berusaha menyamai kegilaanmu. Hasilnya adalah Bu Tutik yang marah-marah di depan kelas, membuatku dipanggil dan dihardik karena meludahi Yunus--seorang bocah tidak naik kelas yang sebelumnya jadi temanmu.
Kalau ada satu kenang yang harus aku bawa dan rawat, adalah kegilaan TPQ kita dibawah naungan Ustadzah Ulfa. Bagaimana di suatu hari, kita berlomba mencuri rambutan dan besoknya Ustadzah kesayangan kita itu menangis sejadi-jadinya, lalu membelikan semua pencuri tadi, termasuk aku, kau, Samsul Suhendro, Herlly Prakoso, Diki Diantono, dan semua kawan seangkatan kita, satu plastik rambutan supaya kami tidak mencuri lagi.
Ada sedikit air yang kuusap di sudut mata saat mengingat ini. Terutama Mbak Olin--Caroline--yang ada di lokasi saat kami membuat Ustadzah Ulfa menangis. Tapi semua ini tentangmu, Mas. Tentang masa kecilku. Tentang begitu cepatnya larimu saat bermain kejar-kejaran. Tentang aku yang selalu kau rangkul dan kau anggap adik sendiri. Menolong aku saat jatuh dari sepeda, membela aku saat dihadang bajingan gendut jelek hitam bernama Djaya, memberi tahuku cara mudah memainkan permainan tazoz Chiki, atau mobil krek-krekan sebelum Hot Wheels booming.
Only good die young, mas. Aku selalu percaya hal itu, dan kau harus tahu, dimanapun dirimu berada, masa kecilku akan terus berlarian bersamamu; dalam ingatan yang akan kubawa dan kuceritakan ke anakku nanti.
"Dulu Papa punya sahabat baik, namanya Mas Sandi..."
Subscribe to:
Posts (Atom)


