Saturday, November 7, 2015

Stars And Rabbit - Constellation: Konstelasi Bintang Kelinci



Dengar dan nikmati. Rebah dan hayati. Pejamkan mata dan ulang sekali lagi: cara terbaik menikmati konstelasi sendu dari duo Stars And Rabbit. Penampilan yang tidak akan terlupakan di Folk Music Festival di Sutos beberapa waktu silam menjelma menjadi audio berkelas yang menemani sendunya hari; saat bangun tidur, akan tidur, dan bangun tidur lagi. Like It Here menjadikan kita manusia lagi. Tidak peduli betapapun capeknya kerja atau kuliah, selama musik macam begini masih ada dan bisa diputar saat melepas lelah, segalanya tampaknya akan baik-baik saja. Suara Elda bercorak khas; kekanakan, manja, renyah, gurih, kenyal seperti cimol. Membuat beban dimarahi bos atau dosen menyebalkan hilang seketika. Atau The House, dimana racauan Elda yang malu-malu manja membuat anda hanya butuh memandangi langit-langit kamar, merasakan synthetizer yang berjalan teriring petikan serius dari teman Elda yang bermain gitar. Catch Me yang bernuansa reggae dan soul juga bisa jadi pilihan. Will you catch me... ujar Elda, dan tentu kita akan mengangguk-angguk cepat. Tapi unsur funky-nya dilebur lagi dengan kesenduan di tengah. Kegelisahan not balok, kemuraman chord, tapi juga ceria dengan reggae patah-patah. Benar-benar. Semua track disini penting. Meski terdengar sederhana sekalipun. Misal, Worth It. Ini malah track yang bernilai. Lagi-lagi suara Elda. Kami tidak begitu peduli dengan genjrengan atau iringan. Elda dan Elda. Ringan. Seperti mengunyah Chiki Balls. Balon udara. Puncak gunung. Tapi ini juga masih sendu, sekuat apapun usaha kita untuk menjadi ceria. Nah kita baru bisa benar-benar gembira bak anak kecil dikasih balon saat Rabbit Run berkumandang. Lucuk, imut, marmut berputar, Hamtaro, macaroni panggang, pesta kebun, dan... kelinci. Rabbits run! Menyenangkan. Mengapresiasi tabuhan perkusi yang bermain tipis-tipis tapi pas. Dan sekali lagi Elda: dengarkan ceracauannya saat akan memungkasi lagu. Kita digiring kembali ke playgroup bersama kelinci putih peliharaan pemberian nenek.

Cry Little Heart, persetan dengan makna. Itu urusan belakangan. Yang penting kami dan anda-anda sekalian suka lagu ini. Dan bahkan bisa menangis. Teringat dibedaki oleh mama di suatu sore yang cerah sehabis mandi saat kita masih lima tahun dan belum bisa mandi sendiri. I’ll Go Along dibawakan kemudian dengan elegan. Intro hamster berputar. Refrain menggigiti cone es krim. Sekali lagi kemagisan album yang kabarnya direkam di London ini tak perlu diragukan lagi. Atau You Were The Universe: astronot pesawat ulang-alik, bintang bergemelapan. Sejauh ini tidak pernah ada band bersuara perempuan yang menyanyikan luar angkasa dengan sebaik ini. Padahal ini sederhana. Tapi Elda memungkasi lagunya dengan memberi klimaks yang total. Kita bisa mendengar sisi lain dari suara gadis eksentrik asal Jogja ini. Dalam, serak, kuat, magis, mengademkan. Untuk lagu-lagu lainnya silahkan dengar sendiri. Tapi jangan lewatkan track paling penting di album ini. Inilah intinya. Man Upon The Hill yang epik. 9,97 dari 10. Jagoan. Jika kesepuluh track sisanya yang ada di album ini digabung, maka kekuatannya bisa diwakili oleh lagu ini. Can i fall into your constellation... dan desahan sensual Elda yang membuat kita kehilangan akal sehat. Penghayatan yang gila. Lagu yang membuat kita kembali menjadi manusia. Yang punya nurani. Punya hati. Punya kebahagiaan. Inilah lagu yang paling membekas dari penampilan mereka di Folk Music Festival beberapa waktu silam. Lagu yang dibutuhkan semua orang yang ingin segera waras dari kejenuhan akan dunia. Mengobati kebosanan akan musik pop ataupun folk yang makin generik. Stars And Rabbit. Bintang dan Kelinci. Entah apa korelasi keduanya. Tapi apapun itu, konstelasi keduanya berhasil.

Pagi yang Asu Selalu

Sudah tertebak apa yang akan diputar oleh Esa Si Manusia Drama – drama queen berpenis – dengan pemutar musik atau sound kecil bututnya yang membuat iba itu. Bayangkan sound seukuran kotak cincin dengan kondisi remuk sana-sini, mesin lepas tak berbentuk, namun masih bisa menyala dan – Dewa Sound Maha Baik – memutar lagu-lagu dari Five Minutes. Baik ini adalah menit-menit ternorak dalam hidup; Five Minutes, band jebolan Inbox dengan vokalis yang berusaha menjadi Ariel – dalam konteks ini Duta SO7 kurang relevan. Dan Esa, mahasiswa pribumi asal Jombang, penganut NU sejati, Gus Dur tulen, Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Tebu Ireng, Hadratus Syaikh, mulai melakukan aksi yang paling tidak relevan dengan itu semua: menambah volume tanpa peduli tetangga kamar kos sebelahmu sedang ngorok. Kemudian berteriak, meniru pitch Ricky FM, dan tentu saja gagal total. Bahwa sesungguhnya suara Esa adalah bukti konkrit betapa dunia sudah hampir kiamat. Kompor meleduk, LPG pecah, Roy Suryo ketipu olshop, Rahmad Gobel dicopot jadi menteri: seperti itulah rasanya. Tapi apa daya, saya adalah tetangga kamar kosnya yang sedang ngorok itu – dan kini terbangun. Jancuuuukkk!

Esa si manusia drama adalah manusia yang unik. Anda membutuhkan acara Ripleys Believe It Or Not versi Indonesia untuk bisa menggalinya lebih dalam. Dia eksentrik. Seniman sejati. Paku payung disulap jadi komponen elektronika. Lempeng kaleng jadi penghantar listrik. Karet gelang jadi penyelamat charger laptop dia yang rusak. Benar-benar. Mendeskripsikan Esa adalah paradoks yang tak berkesudahan. Tubuhnya ceking—bobot kira-kira kurang dari 50 kg. Tapi nafsu makannya mengalahkan kuli bangunan proyek yang kerja lembur siang sampai pagi. Kaya raya bocah ini. Dulu seminggu sekali selalu mengajak ke Matahari—kadang dua sampai tiga kali. Mencomot dua sampai tiga pasang kemeja diskonan untuk dipakai kuliah. Persetan celana pinsil atau skinny fuckin jeans. Esa tidak suka. Celananya masih saja pakai celana berpotongan norak seperti yang dihadiahi tantemu sewaktu kamu khitan. Jelek. Kampungan. Semacam bukan jeans, bukan pula kain, apalagi khaki. Entah itu bahan apa. Seperti celana petualang di gunung tertinggi di dunia. Entah namanya apa. Tapi bila kau anti skinny seharusnya kau pakai slim fit sehingga pas badanmu. Tapi entahlah, saya hanya bisa berkomentar, Esa yang menjalankan.

Entah kenapa saya menulis tentang manusia mutan ini. Apa karena saya belum makan, ataukah karena sudah terlalu iba. Tapi yang pasti, dia adalah sahabat saya—tetangga sebelah kamar yang suaranya benar-benar mampu membuat jembutmu rontok satu persatu.

Sunday, November 1, 2015

Bergegas Apatis

Kelas, kampus dan politik: bagaimana sikap apatis terkadang bisa menyelamatkanmu.

Yang pasti siang ini sudah terlalu gerah. 34 derajat Celcius Surabaya bahkan di ruang kelas ber-AC sekalipun—dua keping pongah di depan dan belakang kelas. Entah mengapa. Tapi mungkin karena daya jangkau AC – yang mungkin perlu direparasi atau diganti lagi – tidak menjangkau seluruh sudut kelas. Kursi dosen terletak di sebelah kanan kelas. Dan saya – sebagai satu dari tiga laki-laki di kelas yang didominasi perempuan – hanya punya sedikit opsi untuk menentukan dimana posisi duduk terbaik. Jika menuruti letak yang pasti terkena dingin AC, itu ada di posisi depan sebelah kiri. Dan belakang sebelah kiri. Tapi apa daya, depan sudah dihuni mahasiswa – atau mahasiswi – berotak cemerlang, tahan banting, mampu menatap mata dosen lebih dari tiga detik untuk selanjutnya sanggup dihujani berbagai pertanyaan yang bersumber dari buku teori. Kalaupun ada kursi kosong – satu atau dua saja – kemungkinan besar saya juga tidak akan duduk disana. Mata ini terlalu mengantuk untuk terjaga barang empat puluh lima menit saja. Menatap papan tulis tanpa menggerakkan tangan untuk mencoreti buku catatan dengan gambar-gambar absurd sepertinya tidak akan pernah bisa saya lakukan. Jadi, yang paling masuk akal adalah saya duduk di pojokan kanan – tentu saja bukan di depan sendiri: sudah ada penghuni saingan dari pojok kiri; geng-geng kece modis dan sekumpulan anak geek yang selalu diandalkan oleh anggota geng. Duduk di pojokan kiri belakang yang terkena efek dingin AC sebenanarnya bisa saja dilakukan. Tapi entahlah, saya pernah mencoba beberapa kali. Dan kalian tahu tatapan dosen yang merasa ganjil. Ataukah menganggap saya mahasiswa tak tahu diri karena sengaja menjauh dari dirinya. Ataukah menganggap saya sebagai lelucon di kelas yang sengaja menjauh dari teman-teman karena bully dari teman perempuan jauh lebih destruktif dibanding teman laki-laki.

Duduk di sebelah kanan belakang akhirnya sudah tidak jadi masalah lagi – masalah yang berbeda akan muncul bila kita rolling class dan mendapati ruang kelas pengap dengan AC sekarat. Sudah mendarah daging juga bila kami – sekumpulan bebal berjenis kelamin pria ini sukanya memenuhi ruang di pojok belakang; terlepas dari tujuh orang pria penghuni kelas yang kini hanya tinggal tiga. Mungkin dulu sempat ada satu-dua pria yang duduk di depan, bergabung bersama perempuan-perempuan diktat, tapi setelah beberapa tragedi (atau mungkin kata ini terlalu hiperbolik), maka tinggallah tiga orang laki-laki yang kesemuanya sukar menahan kantuk lama-lama. Minder menahun. Menganggap fokus kuliah itu tabu. Lebih suka didongengi dibanding mendengar ceramah dosen muda tentang teori dongeng Levi Strauss – dalam hal ini kami sempat salah orang karena kami pikir Levi Strauss adalah tokoh pencipta Levis, celana jeans favorit kita bersama. Dan jadilah kami, penghuni pojok kanan belakang sejati.

Tapi untuk saat ini kelas sudah usai. Dosen sudah pergi. Tinggal hanya kami dan selangkah lagi menuju pintu ke luar, pulang ke tempat pertapaan masing-masing. Perempuan-perempuan geek akan menuju ruang Himpunan Mahasiswa. Atau perpustakaan. Perempuan-perempuan modis abad ini; geng hampir sosialita dengan akun Instagram, akan segera menuju tempat kuliner favorit mereka. Membahas kelanjutan geng ke depan atau mungkin akan ada proyek lain yang bisa mempererat persahabatan juga menjaga eksistensi mereka. Jikalau membuat girlsband tampaknya masih terlalu dini, maka mereka adalah petarung olshop yang tinggal beberapa langkah lagi untuk sukses. Dan kami – para perjaka yang kadang berpikiran bahwa kuliah di tempat macam begini adalah kesalahan terbesar – akan nimbrung di giras favorit kita bersama. Menyesap jeruk-jerukan Nutrisari. Menimbun energi Hemaviton. Atau kafein medioker Good Day. Semuanya diberi es batu karena gerah. Kemudian mulai menyalakan korek api untuk membakar dupa tembakau. Surya adalah pilihan terbaik; atau bisa juga Sampoerna Mild. Sejuta kali lebih mengasyikkan dibanding menggauli papan tulis, di pojok kanan kelas dengan kaki yang terus bergerak menahan bosan. Giras adalah pahlawan. Giras dengan free-wifi: mendekati Tuhan.

Di giras kami bisa bermain apa saja. Menjauhkan tas dari jangkauan karena benda ini mampu membangkitkan ingatan tentang tugas hari Senin. Menyebut kata giras mungkin asing bagi kalian. Baiklah, ini adalah tempat yang rada luas dengan banyak meja kursi – termasuk bila kalian tipe yang suka meluruskan kaki, disediakan lesehan. Menyediakan minuman-minuman ringan dengan es batu yang berlimpah. Atau bila kalian lapar, sudilah memanggil mas-mas sebentar untuk pesan Indomie. Bisa pakai nasi. Atau tambah telor dadar bila kalian mau – dan uang saku kalian memadai. Tapi persetan dengan menu. Generasi paket data seperti kami sudah tidak terlalu peduli dengan semuanya selama gadget android kami dalam genggaman. Mencaplok bandwitch untuk menjajal aplikasi-aplikasi terbaru Play Store. Atau hanya untuk meneruskan Clash Of Clans – yang kini sudah jadi permainan nomor wahid di Play Store, tapi kabarnya pamornya tergeser oleh Duel Otak. Dengan intensitas angin yang membunuh panas, maka memilih giras untuk melepas lelah kuliah dibanding mushola sudah tak perlu diperdebatkan lagi.

Tapi lagi-lagi. Selalu saja ada halangan untuk pulang. Tinggal selangkah lagi menuju pintu keluar dan kami sudah ancang-ancang dengan kontak motor di tangan kanan. Kita perlu menahan nafsu untuk pulang dan memasukkan kontak kembali ke saku. Agen penyelamat kelas – dalam hal ini adalah para calon aktivis, ataukah anggota Hima, ataukah hanya yang sekedar memajang giginya – mulai menyampaikan pengumuman.

Adalah Devi. Kami semua mengenalnya dengan baik – atau bahkan terlalu baik. Kita boleh menganggapnya begini: anggota geng yang paling banyak dibully, tapi sekaligus orang nomor satu di dalamnya. Mungkin dia adalah orang yang paling banyak punya julukan di kelas – dan tentunya hanya dipahami oleh para perempuan. Kami – tiga orang pria culun dan bisanya hanya manggut-manggut saja menghadapi apapun di kelas – memahami jikalau dia pernah berujar bahwa motto hidupnya tak lain tak bukan ialah bebas dari lelaki: siapapun itu. Tapi entah mengapa, laki-laki dan Devi adalah satu paket bully-an yang tidak dapat dipisah. Apalagi bila melihatnya diserang oleh anggota gengnya yang beringas. Devi pantas malu. Tapi urat malunya seperti sudah hilang. Maju di depan kelas tanpa peduli nyinyiran gengnya sendiri – entah guyon atau tidak. Dan dia adalah master dengan kuasa penuh: baik kurangnya penghormatan dari anggota gengnya sendiri atau tidak adanya respon dari kami sudah tidak jadi masalah. Yang penting propaganda tersampaikan. Dan kini, tubuh gempalnya yang sekilas mirip laki-laki pekerja keras – dengan tambahan kumis tipis sekaligus cambang malu-malu, ia menyampaikan rencana keberangkatan menuju daerah yang dikehendaki dosen untuk melakukan yoga aneh penggali inspirasi: Pacet, Mojokerto.

Dominasi perempuan ini tidak muncul begitu saja. Saya pribadi pernah memangku jabatan dalam kelas, yang walaupun tidak saya inginkan, tetapi akhirnya jadi juga. Diundang rapat kesana-kemari. Berteman dengan ketua dan anak-anak BEM-F. Mengikuti propaganda mereka untuk disampaikan pada anak-anak sekelas. Politk. Sekilas saya tidak berbuat apa-apa untuk kelas, tapi percayalah, saya – bersama wakil-wakil dari jurusan lain – berusaha memperjuangkan anak-anak di dalam kelas itu sendiri. Bagaimana saya seorang diri berburu bahan-bahan demonstasi fakultas: cat, spidol, kertas gambar, kain putih panjang, untuk mendemo pihak kampus yang seenak udel menaikkan UKT beberapa waktu silam sudah saya alami. Bagaimana pihak Bidikmisi apatis menggembosi semangat kami dengan seolah merasa bahwa demo itu tidak penting bla-bla-bla sudah saya terima. Dan nyatanya menjadi penggerak untuk kompak tidak semudah yang saya kira. Demo berhasil – walau kelas kami tidak mengikuti karena sedang UAS – dan UKT berhasil diturunkan. Panjang diceritakan. Tapi saat menjabat itu, saya memang lebih sering melawan. Ikut gerombolan pendemo dengan BEM-F. Mencoba membantahi apa-apa saja yang dikatakan anggota Hima tentang pertunjukkan sastra – dengan membawa nama kelas – dan nyatanya argumen saya malah dibantah teman-teman sastra sendiri – padahal saya mewakili mereka, mencoba mencari titik tengah agar kebijakan itu tidak memberatkan nantinya. Dan yang berat adalah berdiskusi berkedok ngobrol dengan kalian satu-persatu, mencoba mendengar pendapat kalian, dan untuk kemudian berusaha memperjuangkannya. Tapi entah karena apa, saya tidak pernah mendapatkan apa yang saya inginkan saat menjabat posisi itu di kelas. Ditambah lagi dengan sikap bebal dan sok saya. Kebrengsekan terhadap dosen. Tidak lulus mata kuliah. Lebih sering membangkang dibanding mengayomi. Dan akhirnya, it’s better been burn than fade away: apa-apa yang saya perjuangkan dari dan untuk kelas hanya mendapat nyinyiran dari sekumpulan geek yang justru mereka tidak pernah saya tahu berjuang untuk kelas; saya lebih baik padam daripada memudar sedikit-demi-sedkit. Saya tidak menonjolkan diri pada kalian, tapi kalian sudah saatnya tahu bahwa saya bekerja dalam diam. Intinya adalah melawan; saya ingin menjadikan kalian semua tidak berempati lagi pada ketidakadilan. Proyek-proyek Hima yang absurd. Maaf. Tapi sekali lagi nyinyiran tersebut membuat saya malas. Jadilah yang nyinyir yang berkuasa. Saya salah karena menyerah. Meskipun si nyinyir juga tidak melakukan apa-apa dan bahkan, jauh lebih menyedihkan dibanding saya. Tapi sudahlah. Saya akhirnya memilih untuk menjalankannya lepas; biarkan saja, sudah lelah berjuang sendiri. Tinggal menanti-nanti saat yang tepat untuk mengundurkan diri. Persetan dengan pamor. Persetan dengan nyinyiran kalian. Saya tidak peduli. Membanggakan bisa berjuang demi kalian. Bisa turut menyumbang peran untuk kalian – dan kau si nyinyir – bisa merasakan turunnya uang kuliah. Membanggakan bisa membuat denda absurd 50 ribu untuk kelas yang tidak mengikuti drama-dramaan jurusan bisa dihilangkan – meski sekarang ada lagi. Membanggakan bisa menjemput Mas Ilham untuk pertama kali– sebagai pelatih drama kalian hingga kalian memboyong piala berkali-kali – meskipun saya sendiri tidak ikut tampil karena saya penyakitan gagap. Silakan remeh temehkan saya sudah tidak peduli lagi. Ikutlah arus, jangan dilawan. Jangan ikut saya – pecundang kelas berat, plagiator ulung yang membuat kelas jadi jelek di mata Pak Budi, dosen linguistik. Tukang nongkrong gaduh yang membuat kelas kalian jadi sarang marah-marah dosen. Sekali saya diusir dari kelas dan seketika itu pula saya mundur teratur. Saya tidak tertarik menjadi pemimpin kalian yang maunya main aman, ikut arus, dan secara teratur-periodik nyinyir terhadap sikap orang macam saya yang cenderung kiri. Ikutlah arus saja, patuhi nasihat dosen, dengarkan kata Hima. Saya memang tak punya peran bagi kalian. Nyinyiri saja. Menanglah. Banggalah. Dan persetan dengan semua: ketua kelas cemen, omong besar doang, pecundang, penakut, tidak berbuat apa-apa, labil, pemarah, kafir, pemabuk—terserah congor kalian. Lebih baik apatis dan tidak turut campur, memelihara persepsi dan idealisme sendiri, menghindari yang banal, untuk selanjutnya cepat-cepat lulus kabur dari kampus hutan. Seperti itu.

Hal diatas sejujurnya tidak akan saya bagikan—biarkan saya dan segelintir anak yang tahu: termasuk Tri Nanang, sahabat yang sepemikiran dengan saya, meski dia selalu mengkritik sikap saya saat menjadi ketua yang bebal keras kepala dan seenaknya sendiri. Tapi karena rasa-rasanya sudah terlampau terbawa emosi, izinkan saya membaginya. Saya kini lebih banyak diam di kelas. Dinyinyiri dan disudutkan sudah cukup membuat saya malas untuk bergerak. Memang saya salah karena menyerah, tapi saya juga tidak mau buang-buang waktu untuk mereka yang tidak sepersepsi—sekeras apapun saya membicarakan opini saya. Toh kepala orang memang berbeda-beda. Lagipula ketua kelas macam apa yang jadi biang keladi plagiasi, dibenci dosen, dimusuhi banyak anak, dianggap sok padahal bodoh, dinyinyiri anggota Hima, tidak lulus mata kuliah, dan diusir dari kelas. Saya tahu diri. Dan persetan dengan apapun pendapat kalian – terutama yang bilang bahwa saya tidak pernah bekerja untuk kelas – saya sudah tidak peduli lagi. Sama sekali. Lagipula perjuangan tampaknya akan sia-sia: tidak ada yang namanya mengembangkan diri di kampus hutan; menjadi apapun adalah kehendak kalian sendiri, jangan terlalu bergantung pada kegiatan jurusan dan kelas. Mencari aktivitas di luar kampus jauh lebih bermakna: saya sudah melakoninya sejak semester pertama, dan tampaknya berhasil. Selamat wahai kau tukang nyinyir; apa kabarmu?

Dan inilah. Apa-apa yang saya jawab saat ditanya sewaktu jerit malam ospek jurusan benar-benar saya terapkan. Kemungkinan besar yang bertanya adalah  – saya tidak sebut nama – mantan kamtib super judes yang kini sibuk mengurus bisnis. Karena malam sangat pekat tanpa penerangan hingga saya tak mampu lihat sebatang hidungpun. Jadi saya juga agak ragu, apakah benar dia yang bertanya.

“Tito! Menurut kamu, kamu sendiri termasuk orang yang peduli atau apatis?”

Saya tak mempedulikan pertanyaannya. Buat apa. Bahkan saat pertanyaan ditanyakan saya sudah mulai apatis. Bodoh besar bila menganggap pertanyaan macam begini bisa menginspirasi atau menyadarkan kami – sesuai dengan tujuan ospek jurusan. Apalagi yang perlu diketahui. Sudah jelas kami disini: menggerutu dengan kantuk, dengan jaket tebal, dini hari, dikerubuti hewan-hewan malam, dehidrasi, bangsat, karena kami peduli dengan acara jurusan. Basa-basi. Sudah sejak lama jika misal kami apatis, kami akan memilih menjadi, katakanlah sahabat-sahabat saya, Ruben dan Ardi, yang tidak pernah menampakkan kepala seharipun di acara-acara miskin manfaat tersebut. Tapi kami – ya sudahlah.

Dan kembali ke kelas sendiri, di penghujung 2014 silam. Bayangkanlah bila segala kenyinyiran sudah disiapkan sedari awal bahkan sebelum saya memulai berbuat sesuatu. Segala cap sudah distempel di jidat: kamu sampah, tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kelas sendiri di dominasi oleh mahasiswa-mahasiswa yang entah kenapa, lebih mudah termakan hasutan bohong dari si Krisna – teman sekaligus pengkhianat paling mutakhir abad ini – dibanding dengan pemikiran yang rasional. Krisna sendiri sudah membusuk di awal semester tiga. Tiba-tiba sok pindah kuliah ke Jogja dengan alasan tahi kucing. Ibu meninggal, mata bengkak karena donor retina, kerja di Jepang. Tengik. Saya tidak percaya apapun yang keluar dari mulutnya. Babi. Dan lagipula saya tahu dia mengadu domba saya dengan berbagai macam pihak. Mungkin itu salah satu sebabnya saya jadi dinyinyiri. Hanya saja saya cukup tahu diri dan menganggap bahwa mengurus itu semua hanyalah kind of wasting time. Lebih baik mundur teratur, berdiam diri, dan mulai tidak peduli. Menjadi apatis terkadang menyelamatkanmu.

Lain cerita bahwa setelah Sony – sahabat saya – menjadi ketua semuanya serba aman-aman saja dan terkendali. Tanpa huru-hara. Tanpa keributan. Tapi lihat, perbandingan cekcok antara saya atau Sony dengan penghuni kelas. Sony adalah orang baik, tidak pernah ada masalah dengan teman atau cekcok apapun. Sementara saya, kurang lebih beberapa anak sempat tidak bertegur sapa dengan saya, menyinyiri saya diam-diam, karena saya dianggap terkutuk. Terserah. Tapi yang jelas, saya melawan. Sony tidak. Meskipun dia juga ingin melawan, tapi apa daya, lebih baik ikut arus. Karena sekali lagi, berenang melawan arus lebih berat dibanding ikut arus. Pun apakah Sony benar-benar menjalankan peran sebagai ketua. Saya kira tidak. Segalanya ditentukan oleh dominasi perempuan-perempuan dalam lingkaran yang tentu saja itu-itu melulu. Lelaki hanya tiga orang, sedangkan perempuan dua pulahan orang. Tentu saja sudah jadi bulan-bulanan. Mereka menuntut lelaki berada di garda depan sekaligus berteriak soal feminisme bahwa perempuan juga bisa berada di depan. Mereka masih patriarki tapi sekaligus sok feminis. Menyuruh bergerak sekaligus menjajah. Entah siapa – saya tak mau sebut nama – tapi siapapun itu saya sudah tidak terlalu memusingkannya. Juga tidak perlu terlalu diperpanjang lagi karena itu usang dan lama. Silakan nyinyiri tulisan ini sepuasnya, bencilah dengan saya, persetan. Saya menuliskan uneg-uneg lama saya yang sudah lama saya simpan sendiri. Kalau-kalau saya mati muda setidaknya saya tidak membawa cerita ini dalam liang lahat sendirian. Sekali lagi, ini uneg-uneg lama. Saya sudah berdamai dengan itu semua, menjadi apatis tulen yang berusaha tak terpengaruh kebusukan orang. Lebih baik jadi orang brengsek daripada pura-pura baik. Kepura-puraan itu kehinaan. Atau kalian akan jadi manusia macam Krisna, si penyeleweng pemfitnah fakta sejarah yang matanya pura-pura buta, untuk kemudian sembuh di waktu kurang dari dua minggu, dan kalian hey para dosen yang percaya dengan itu semua, ternyata daya fungsi nalar kalian mudah tertipu oleh rasa iba.

Baik. Setelah Devi sudah mengumumkan sesuatu, kini giliran Neva. Perempuan baik-baik yang cocok jadi remaja masjid. Dia tekun salat lima waktu – posturnya yang kecil mungil dengan bicaranya yang santun membuat kita yakin bahwasanya masih ada perempuan berakhlak mulia. Tapi sepertinya ia sudah terlalu sering, dalam artian, sudah mulai terobsesi dengan talkshow politik Najwa Shihab. Sering adu genderang argumen dengan Sony – yang kita juga tahu siapa yang masih hijau siapa yang sudah matang. Dalam hal ini Sony, pengagum berat BJ Habibie (dia menganggap Habibie sebagai Presiden Terbaik Indonesia, apa engkau lupa Soekarno, Bung?), penyimak channel berita politik, pendukung Risma, pembenci Bakrie dan Harry Tanoe. Apalagi Prabowo Subianto. Pengamat Lumpur Lapindo sejak kecil – dia berumah di Tanggulangin, beberapa kilometer dari pusat semburan lumpur. Argumen terbarunya: KompasTV dimasuki antek Koalisi Merah Putih; karena TV ini menyudutkan Jokowi dari segala sisi. Sialnya Sony adalah pendukung Jokowi pula. Sementara Neva. Mohon maaf. Negara tak seringan pertanyaan talkshow. Meski saya tak memihak Neva, bukan berarti saya juga memihak Sony. Saya juga punya pandangan sendiri soal politik – dan kalian tidak harus tahu. Adu argumen yang berujung pada penyampaian Personal Message BBM dari Neva ini dimulai saat dia mengajukan usul: ngamen untuk menggalang dana korban asap Riau.

“Ini sebagai bentuk kepedulian kita sebagai anak bangsa, kepada Saudara-Saudara kita. Dengan ngamen ini nantinya kita akan meminta sumbangan seikhlasnya, untuk nantinya diberikan pada korban asap Riau.” Ujar Neva. Ngamen disini adalah istilah. Disini kalian bebas ingin melakukan apa saja: baca puisi, gitaran jrang-jreng-jrang-jreng, nyanyi keras, debus, pamer jurus karate, drama mini, segalanya bisa kalian lakukan – kecuali debus, kalian mungkin harus puasa dahulu. Harusnya dia sudah mendapat dukungan dari seluruh kelas: bantu orang, okelah, berangkat. Apalagi untuk kaum gila eksistensialis dan suka cari perhatian manusia sekitar, segera berangkatlah tanpa berpikir. Tapi dua orang manusia bodoh di kelas, Saya dan Sony, tidak terlalu setuju. Sebelumnya kami sempat membahas ini via WhatsApp – ya, kegiatan saya selain rutin cangkruk adalah WhatsApp Sony, diskusi masalah pelik yang terjadi sampai masalah yang cemen misal berantem dengan pacar.

Sony, bocah berambut Pomade Gatsby 25 ribuan belah pinggir sebulan sekali cukuran ini mendekati Neva. Mencoba menyanggah pelan-pelan usulan dia.

“Sekarang gini Nev. Korban kabut asap itu sudah tidak butuh apa-apa lagi selain asap ilang. Mereka cuman butuh udara segar. Mereka nggak keilangan harta benda. Jadi sebenarnya kita mau nyumbang apa ke mereka. Indomie? Mereka nggak ngungsi. Butuhnya mereka cuman obat sama masker. Itu udah diurusin pemerintah. Beres. Tinggal asapnya aja yang belum ilang. Saranku Nev, kalo kita emang niat ngebantu, ya kita terjun disana sebagai relawan, madamin api, bukan dengan ngamen terus nyumbang.”

Pendapat Sony cukup masuk akal. Neva manggut-manggut. Tapi dia juga punya pendapat lain.

“Yaudah Son yang penting kita niat ngebantu. Perkara bantuannya nyampek atau enggak itu urusan belakangan, yang penting kita udah ada usaha buat bantu. Udah mau bergerak demi bangsa.”

Tipikal penonton setia Najwa Shihab. Soundtrack Creed ‘One Last Breath’—parodi grunge sampah favorit Najwa—berputar dalam hati saya saat menyaksikan Neva bicara.

Tapi saya punya pemikiran sendiri. Dalam artian, oke kamu boleh ngamen, nyari dana, toh itu juga bisa buat nambahin dana pemerintah buat beli obat, masker sama oksigen. Kamu boleh kayak gitu, asal uang sumbangan kasih ke pemerintah – perkara korupsi tai anjing semoga saja tidak terjadi – atau bisa juga kamu kasih ke badan-badan yang kredibel. Untuk Neva sendiri, kita tidak tahu uang akan dikasih ke siapa dan dalam bentuk apa bantuannya. Juga siapa yang akan menyalurkan. Terasa tidak jelas. Bukannya kita tidak peduli, tapi bukan seperti itu caranya. Karena ini hanyalah asap: bukan tsunami atau longsor. Menurut saya, nyari dana nyumbang boleh aja, asal jelas, enggak juga nggak apa-apa, kan udah dihandle pemerintah, dan beres. Problemanya sekarang hanya tinggal kabut asap yang belum ilang. Titik api yang belum padam. Itu saja. Bantuan yang lebih pas untuk diberikan adalah bantuan berupa tenaga untuk membantu pemadaman dan mengisi pos-pos kesehatan. Lagipula, Najwa Shihab pun tidak melakukan agenda meminta sumbangan – tidak seperti saat bencana-bencana lain dimana televisi-televisi sibuk menampilkan rekening mereka di layar kaca, dengan tujuan pemirsa akan iba dan menyumbang untuk kemudian didonasikan ke korban. Tapi nyatanya tidak ada. Jelaslah ini bukan bencana besar seperti yang kalian bayangkan.

Dan menjadi apatis bukan berarti tidak peduli dengan apapun yang terjadi di dunia ini: menjadi apatis adalah tidak mempedulikan apapun yang membuang-buang waktu dan tenaga tapi tidak menghasilkan apa-apa. Apatis justru sangat peduli pada hal-hal yang dirasa bermanfaat bagi dirinya ataupun masyarakat. Dan untuk perkara asap Riau yang dihadapi dengan ngamen ala sastra atau gerakan apapun itulah namanya, saya – dan Sony – memilih menjadi apatis. Tapi bila diterjunkan langsung ke Riau untuk membantu bencana, kami sudah siap menali tali sepatu erat. Berangkat.

Sebenarnya yang lebih membutuhkan bantuan berupa dana adalah kasus Salim Kancil di Lumajang kemarin. Temannya – yang sialnya saya lupa namanya – masih dirawat intensif di rumah sakit dan butuh biaya. Mungkin dengan ngamen kita bisa memberinya sedikit bantuan. Tapi – apa mungkin saya yang tidak dengar – tidak ada gerakan macam itu di lingkup jurusan, bahkan fakultas. Atau bila ada, kurang terdengar gemanya. Saya sendiri – sebagai orang yang notabene bekerja di lingkup media – sudah menemui Mas Bayu (vokalis Fraud, aktivis) untuk ngobrol-ngobrol panjang. Obrolan itu terjadi beberapa hari sebelum diadakannya acara Mas Bayu dkk  yakni penggalangan dana untuk Salim Kancil di Museum Kanker Surabaya. Sebagai perwakilan media saya diminta mendukung, dan it’s okay. Media tempat saya bernaung meworo-worokan acaranya. Lewat website. Tweet. Dan walaupun saya yang waktu itu sempat mau datang tapi karena urusan keluarga sehingga tak jadi datang, diwakili oleh teman wartawan lain di media yang sama untuk memberitakan reportasenya. Pun juga obrolan bersama Mas Bayu yang rencananya akan saya publikasikan di majalah. Jelas ini merupakan dukungan. Silakan nyinyiri saya sebagai tukang kibul omong besar, terserah. Intinya saya sudah berbuat sesuatu. Dan tidak hanya diam. Dan tidak hanya diam sambil nyinyir. Dan tidak hanya diam sambil nyinyir sambil merasa sok paling benar.

Dan setelah Neva melepas argumennya, pun juga Sony, yang keduanya bahkan belum menyepakati apapun, kelas mendadak langsung sepi. Penghuninya lari – ya seperti itulah. Saya yang sudah ancang-ancang pulang bahkan sebelum mereka berpikir untuk pulang, nyatanya malah terperangkap di kelas didahului oleh mereka. Menyaksikan adu argumen Neva-Sony. Tentu tidak ada menang kalah. Berani berpendapat lebih baik daripada, hai nyinyir... dimana kamu?

Sebenarnya ada satu orang lagi dari gerombolan siberat ini: Saya, Sony serta yang terakhir, Rojak. Maniak burung dari Madura. Sudahlah, mendeskripsikan dirinya memang serumit pertanyaan bagaimana sebuah apel bisa membuat Newton mencipta rumus gravitasi. Tapi sepatu bootsnya – kami menebak ia menemukannya di salah satu pusat pakaian bekas di Surabaya. Tapi dia baik. Oh, hampir baik. Pengertian. Ah, hampir juga. Sedikit pemarah dan emosinya tinggi. Itu sudah jelas. Jiwa Madura. Siap tempur tanpa golok sekalipun. Dari kami bertiga: Rojak yang paling apatis. Panutan setia saya saat mulai jengah dengan congor-congor kelas yang berisik. Dari kami saat sempat bertujuh – plus Ruben, Ardi, Ardan, Krisna: dia termasuk yang paling apatis juga – urutan ketiga setelah Ardi dan Ruben. Urutan keempatnya saya. Kelima Ardan. Keenam Sony. Krisna? Entah dia peduli atau pura-pura peduli, tapi – ah sudahlah, biarkan dia tenang di pulau pribadnya.

Di kelas dia super cool. Atau mungkin cold. Hanya diam. Hanya mengangguk. Meski jiwanya pembangkang seperti saya. Sudah berkali-kali saya bolos dari kegiatan kurang bermanfaat bersama dia. Dan jangan lupa, dia partner in crime saya dalam plagiasi Linguistik Umum. Hingga mengulang empat SKS yang entah kapan akan terjadi. Dia rajin shalat, ngaji – sekaligus maksiat. Ah apalah ini, anggap saja bercanda. Lagipula tak lucu kalau sampai dibaca kekasihnya. Hentikan.

Setelah debat argumen politik Neva-Sony, dengan tentu saja tanpa menghasilkan apapun: Neva tetap melanjutkan aksinya, sementara Sony dan saya lebih baik menyingkir—karena punya persepsi masing-masing. Tapi yang saya salut adalah Rojak. Parlente. Kalian tahu nama lengkapnya Abdur Rozzak. Entah karena tidak mengerti masalah gituan, atau terlalu banyak beban pikiran, Rozzak tidak pernah turut runding. Cukup keren: mengurusi urusan diri sendiri dulu, baru setelah itu orang lain. Logikanya, kalian bisa ngamen sampai mampus demi gerakan sosial dan lain sebagainya, tapi jika kalian sendiri—atau daerah kalian sendiri—sebenarnya punya masalah yang belum tuntas, kenapa harus mati-matian ikut gerakan daerah lain: urus dirimu sendiri dulu, baru orang lain. Seperti saat pertemuan dengan Mas Bayu kemarin. Sambil menenggak Chocolate Ice, dia seperti memendam uneg-uneg.

“Lhaiyo, sekarang ini lho, kok banyak anak-anak Surabaya ikut-ikutan gerakan tolak reklamasi Bali kek dan sebagainya. Ya boleh-boleh aja, tapi seenggaknya masalah kotamu dulu itu lho urusen. Baru masalah kota lain. Surabaya begini masalah sosialnya udah banyak. Nah kalau itu udah selesai, baru kamu bisa urus masalah lain. Intinya kita nggak bersikap cuek sama kota sendiri, tapi peduli sama kota lain!”

Tapi lain Bayu, lain Rojak. Kegemarannya berwisata berburu baju bekas membuat dia sampai di Tugu Pahlawan. Di hari Minggu pagi, setidaknya ada tiga titik konsentrasi muda-mudi. Pertama tentu saja Car Free Day Darmo (Taman Bungkul), kedua Tugu Pahlawan, dan ketiga, sudah bisa ditebak: kasur empuk sambil memeluk bantal guling. Untuk Tugu Pahlawan sendiri memang bisa dikatakan ramai di Minggu pagi. Pedagang barang bekas segala jenis: kaus, jaket, topi, sepatu bahkan sampai tas pun dijual dengan harga miring—istilahnya rombengan. Saya baru sekali kesana dan memang, untung-untungan. Jangan terlalu ngoyo mencari barang. Santai saja. Nanti juga nemu. Kalau tidak nemu-nemu pulang saja. Jangan memaksa membeli barang jelek. Percuma. Kalian akan menyesal nantinya. Tapi biasanya setelah berkeliling kalian akan nemu pakaian bekas yang masih bagus, bermerek mahal dan dijual dengan harga super miring. Jika kalian bukan tipe orang yang norak, kalian tentu tidak akan pilih barang aneh-aneh atau yang terlihat sekali bekasnya. Memilih tidak perlu terlalu serius. Cukup lihat merek saja, dan ukuran setelah itu kondisi. Dan di suatu Minggu, Rojak—entah bersama siapa—sedang berburu di seputaran Tugu Pahlawan itu. Pukul 6 pagi. Cuaca sudah panas. Berjalan terburu-buru, memegangi tas agar tak kena copet, berdesak-desakan, bertubrukan, sudah biasa. Jalan saja. Sampai menemukan pedagang lumpia panjang. Tandaskan sebentar. Tambah seledri, cabe dan saus. Kunyah itu remahan. Telan itu minyak. Berburu lagi. Sampai di sebuah lapak yang ramai dikunjungi orang: tua-muda, pria-wanita, berjilbab-terbuka; semua ada. Hari itu adalah hari yang aneh. Rojak memandang seorang pria. Dia botak. Tinggi. Besar. Memakai masker. Tiba-tiba membuka celananya sambil ditutupi tas—tapi Rojak melihatnya detil. Sampai kemudian mengeluarkan penisnya dan menggesek-geseknya di pantat seorang perempuan seksi berbaju ketat dengan rambut sebahu “seperti pramugari” kata Rojak, dan seolah menikmati gesekan tersebut. Rojak hanya terpaku. Dia tidak tahu harus bagaimana. Jangan bayangkan seperti apa ekspresi dia melihat eksibionis tulen tersebut beraksi. Yang pasti si perempuan sadar ada yang aneh di pantatnya, dan dia langsung kabur. Pria ini—tentu saja menggesekkan ke pantat lain. Yang mungkin lebih empuk atau lebih kenyal, saya tidak tahu. Rojak hanya terdiam. Dan kemudian pergi.

“Ga ngurusi jak! Lek aku menyingkir ae! Nyari masalah ntar!” Ujar Sony saat mendengar ceritanya. Masuk akal. Saya membayangkan bagaimana bila saya membawa pacar kesana, dan melihat seperti itu. Tentu saja berusaha tidak peduli dan menyingkir dari situ bisa dilakukan. Ataukah langsung menghakimi si eksibionis, membogemnya mentah-mentah, dan kalian akan jadi pusat perhatian, pacar kalian menganggapnya jago. Tapi itu bila si pelaku tersebut roboh. Bila ternyata dia kuat, nekat, maka kalian yang jadi korbannya. Bukannya takut, tapi buat apa. Toh dia tidak menganggu kita. Hanya saja kasihan yang jadi korban. Kalau saya, sebisa mungkin mencoba memberi tahu si gadis korban itu, atau menariknya, atau bisa juga menghalanginya melakukan hal tersebut—lain masalah kalau dia eksibionis homoseks, maka saya juga bisa kena. Dan cara terakhir adalah menyingkir, tidak perlu dipedulikan. Buang-buang waktu. Orang yang sudah seperti itu terkadang bisa nekat. Ya itu tadi, tarik si korban, ajak dia menyingkir. Atau kasih tahu orang-orang sekitar. Itu lebih ampuh.

Dan konklusinya adalah, terkadang kita memang perlu apatis, tidak mau tahu, mencoba tidak peduli, karena itu bisa menyelamatkan diri kita sendiri. Tapi menjadi apatis bukan berarti harus pada segalanya. Intinya: ada hal-hal yang perlu kita pedulikan (fokuskan), ada pula hal-hal dimana kita perlu menjadi apatis. Fleksibel saja. Toh hidup adalah pilihan. Tapi tentu saja saya terheran; kalian sudah membaca sampai tulisan penutup ini, berarti kalian tidak apatis-apatis amat terhadap pendapat orang begajulan macam saya. Tapi, apa saya peduli?

Tuesday, August 18, 2015

Konsumsi Puasa Selain Fanta Merah

Ini adalah beberapa benda bertuah yang jadi konsumsi saya selama puasa kemarin. Saya share disini sebelum emak marah lagi karena meja ruang tamu lantai dua dipenuhi benda-benda ini—dengan kondisi gak rapi blas. Setelah itu baru saya ringkes-ringkes.

Rolling Stone Indonesia (Edisi 122 Juni 2015)
Kurt Cobain sebagai cover sampul (lagi). Patut dibaca bagi siapupun umat flannel kumal dan jeans belel yang tersisa. Sisi lain tuhan kalian diungkap langsung oleh putri kandungnya, Frances Bean Cobain dengan sangat hangat. Ada pula feature panjang tentang ISIS, yang tentunya lebih mencerahkan dibanding website PKS Piyungan.

Tabloid Rock (All Issues 1-34)
Bacaan adiktif bagi pemuja musik berisik kumur-kumur. Log Zhellebour—promotor rock hasil didikan arek-arek Suroboyo—dan Wenz Rawk—kini jadi jurnalis metal majalah Rolling Stone—adalah beberapa orang dibalik tabloid berumur pendek ini. Menemukan seluruh isu tabloid lawas era 2000-an ini di gudang secara tidak sengaja adalah berkah ramadan yang menjadikan puasa lebih heavy varokah.

Esquire (Anniversary Issues, Maret 2015)
Esquire pertama saya. Memuat a must have items pria dewasa yang juwancuk mahalnya—dan nggak penting-penting juga. Kurang memenuhi ekspekstasi. Pertama: tidak ada feature seperti Playboy. Kedua: model-model wanitanya kurang ngena—dengan pengecualian mbak Sigi Wimala: you’re always the badass!

Unfold Zine 2015
Zine untuk korporasi Bakrie tai. Jerit hati korban lumpur disuarakan lepas di zine anak-anak Porong, Sidoarjo ini. Sebagai dukungan saya berhenti nonton TvOne, atau Tv O’on—penyiarnya nggak cakep sih nggak kaya Metro—dan memilih setia dengan Youtube (dan Jav68).

10 Dosa Besar Soeharto
Kemungkinan besar buku ini tidak dijual bebas. Hanya dimiliki orang-orang tertentu saja. Saya nemu buku ini di lemari oom dan langsung mencomotnya gitu aja. Kesimpulannya sih cukup masuk akal bila ada jutaan orang yang ingin menggantung Pak Harto hidup-hidup (sayangnya udah meninggal duluan). Saya suka gaya provokasi di buku ini. Urat marah cepet kebakar. Yang diungkap pun juga fakta dan dari sumber-sumber yang sangat bisa dipercaya. Untuk itu, tidak ada ide lain yang lebih gegabah selain menjadikan Harto pahlawan nasional.

Selain menikmati majalah dan buku, puasa juga menjadikan saya pendengar musik yang lebih khusyuk.

Keane – The Best Of Keane
Cukup dengan mengganti gitar dengan piano dan memainkannya seemosional mungkin, jadilah rock era baru yang lebih cocok didengarkan sambil merangkul pacar. The Best Of Keane memuat kurang lebih tiga puluh lagu terbaik mereka. Percayalah, tidak hanya Coldplay yang pandai meramu musik sendu secara jenius. Keane juga patut diperhitungkan.

Alice - Konsorsium Humaniora (EP)
Alice (atau A.L.I.C.E) adalah band baru asal Bandung yang dalam sebuah wawancara berkeinginan jadi band cult – dan untuk itu rela mengeksplorasi hardcore, memadunya dengan stoner sampai melodic death metal. Untuk jadi cult saya rasa masih belum, eits tapi tunggu dulu, ini baru rilisan EP perdana. Akan lain pendapat mungkin jika nanti menyimak rilisan selanjutnya.

Chunk! No, Captain Chunk! – Get Lost, Find Yourself
Judul album setengik slogan acara travelling konyol itu. Tidak bagus-bagus amat, yang melekat hanya track pertama (lupa judulnya juga) dan lagu yang berjudul sama dengan album – satu-satunya lagu berformat akustik. Pop punk yang jadi agak berat karena dicampur unsur breakdown – hardcore (terdengar amat sangat di-pak-sa-kan dan itu nggak ma-suk). Tapi vokalis Chunk! Kayaknya lebih cocok menggantikan Tom DeLonge di Blink, cempreng-cempreng nikmat.

Black Sabbath – Paranoid
“Yang nyiptain metal padahal bukan Metallica, tapi Black Sabbath, ini patut diluruskan biar arek-arek yang baru ngerti metal nggak sok!” Mas Bison dari rombongan GRIBS saat berbincang santai di backstage jelang perform mereka. Dengan itu sepertinya tidak ada lagi alasan bagi kalian untuk tidak mendengar Sabbath, khususnya di album-album awal.

Buku dan musik. Kurang lengkap bila tak ditambah satu lagi: film/serial TV.

Silicon Valley (Season 1)
Serial HBO paling konyol. Bahwa jenius dan bodoh itu beda tipis. Menceritakan kumpulan programmer Silicon Valley yang bekerja untuk aplikasi yang diberi nama Pied Piper. Dibalut kata-kata sarkastis, cabul, rusuh, tak bermoral, tapi cerdas dan membuat terpingkal (saya sampe cegukan). Cocok bagi kalian yang muak dengan sitkom Tetangga Kok Gitu.

Silicon Valley (Season 2)
Melanjutkan kebodohan season pertama. Menjadi semakin serius karena Pied Piper sudah berharga jutaan dollar. Tapi tentu saja semakin serius serial komedi, semakin tolol pula adegan dan dialog yang terjadi.

Kurt Cobain: Montage Of Heck
Dokumenter rock terpenting tahun ini. Tidak berlebihan bahkan saat menceritakan sisi kegemilangan atau kejatuhan Cobain sekalipun—emosi yang ditampilkan pun cukup konstan. Dengan tambahan animasi visual yang seolah menyatu dengan dokumen-dokumen Cobain (khusunya diary atau catatan), kita diajak untuk memahami sisi manusiawi Cobain secara utuh dan mendalam. Saya resmi berhenti menganggap Cobain tuhan setelah menonton dokumenter ini. Ternyata dia manusia.

All Ages Party
Dokumenter hardcore ibukota mulai dari era 90-an. Menyenangkan: di dalamnya banyak berisi rekaman-rekaman gigs lawas dan hardcore kids yang nyanyi bareng, selain wawancara tokoh-tokoh legendaris di subgenre metal paling bergengsi ini. Jika kalian penasaran kenapa scene hardcore tak pernah mati, sebaiknya tonton dokumenter penting ini. 

Thursday, August 13, 2015

Dengar Dan Kecewa

Hobi mendengarkan musik ternyata tak semenyenangkan yang kalian kira. Beberapa band beserta lagunya dibawah ini cukup membuat saya kecewa. Tidak berlebihan karena mereka cukup jauh dari ekspekstasi awal. Intinya mereka gagal memenuhi harapan kuping saya untuk memberikan lebih. Alhasil, saya gagal eargasm dan bahkan jadi ilfeel dengan bandnya--ini khusus untuk BMTH. Sedangkan yang lain kebanyakan saya hanya kecewa karena lagu yang diaransemen ulang tidak jauh lebih baik dari versi lawas, atau cenderung melenceng dan mengurangi feel. Berikut daftar singkatnya.

cover yang mengilustrasikan 'di bangku taman'
1. Pure Saturday “Di Bangku Taman” (Time For A Change, Time To Move On, 2007)
Bandingkan dengan versi album Utopia (1999). Sebenarnya tak ada perbedaan mencolok yang membuat saya harus repot-repot menuliskan ini (kecuali tentu saja instrumen yang lebih segar dan lebih jelas karena direkam ulang).  Tapi simak kira-kira semenit terakhir menjelang lagu usai; sungguh keterlaluan Pure Saturday menghilangkan outro surga berisi melodi yang sempat membuat saya menitikkan air mata dan menggantinya dengan iringan khas akhir lagu yang standar. Entah apa yang ada di benak mereka padahal salah satu kekuatan “Di Bangku Taman” justru terletak pada outronya yang magis. Biasanya saya akan terenyuh dan meneteskan air mata di awal atau pertengahan lagu, tapi di lagu ini perasaan terenyuh yang nyes itu baru hadir di semenit terakhir; sebuah outro yang sentimentil. Dengan rekam ulang yang lebih baik serta musikalitas PS yang makin dewasa di album kompilasi ini, ekspesktasi saya pada “Di Bangku Taman” versi baru cukup tinggi. Setelah track pertama “Elora” yang cukup memuaskan, saya langsung terbuai pada “Di Bangku Taman” yang penuh perenungan, tapi jelang semenit lagu saya hanya bisa bilang ‘lho kok?!’ Ini adalah kesalahan terbesar PS di kompilasi ini.

2. Bring Me The Horizon “Shadow Moses” (Sempiternal, 2013)
Cukup jauh dari ekspekstasi. Saya berharap Sempiternal akan menjadi sekuel dari There Is A Hell—album puncak dari eksplorasi BMTH di dua album sebelumnya. BMTH sudah menemukan pakem yang pas di There Is A Hell: hawa yang gelap, murung, lirik yang dalam, dengan balutan hardcore yang berpadu dengan melodic death metal. Tapi “Shadow Moses” sebagai single pertama Sempiternal sudah menunjukkan tanda-tanda kekalahan. BMTH ibarat sudah jadi penis yang habis pipis; lunak dan empuk. Sementara BMTH yang saya kenal adalah penis konsumsi ginseng yang tegang, alot, keras; siap untuk melewati ronde pertama. Ironisnya lagu ini malah bisa merangkul penggemar-penggemar baru yang bahkan masih bau kencur dan baru mengenal musik pipis macam Asking Aleksanderia. Penggemar lama dikorbankan; BMTH gagal jadi band yang konsisten. Gagal jadi band harapan kita bersama. Gagal jadi band penis keras. Boikot saja BMTH dari gigs-gigs metal—sebelum mengkonsumsi Hormoviton dan siap tempur kembali.

3. Green Day “Oh Love” (iUno!, 2012)
Green Day adalah band tanpa cacat. Seluruh katalog lagunya sudah saya lahap habis mulai dari kelas tujuh SMP, beberangan dengan masa dimulainya nonton bokep pertama. Album puncak mereka menurut saya bukan Dookie, yang meskipun bagus sekali tapi saya masih dalam kandungan saat album tersebut menetas. 21st Century Breakdown adalah puncaknya, yang dirilis kira-kira saat saya hampir memasuki kelas 9. Covernya mengajari saya bagaimana ciuman terlihat cukup rock and roll—hingga akhirnya kepingin. Musiknya keras. Mengambil pakem dari Dookie yang masih berlandaskan fuckin’ three chord dan skill urakan itu dengan kedewasaan mereka sendiri yang mencoba menjelajah, memainkan opera rock fantastis yang belum pernah dicoba sebelumnya—menjadikan album ini begitu istimewa. Rock kelas stadium dengan penonton lebih dari 50 ribu. Kemudian mereka vakum, berhenti sejenak kira-kira sampai lima tahun dan terdengar kabar mereka kembali merekam album baru. Tidak tanggung-tanggung: trilogi! Tapi yang mengecewakan, single pertama dari trilogi ini “Oh Love” cukup jauh sekali dari ekspekstasi kuping. Padahal mereka dalam sebuah wawancara sempat berkata bahwa di ketiga album baru ini kami akan kembali ke masa-masa sebelum Dookie. Pikir saya ini akan terdengar bengal dan brengsek, tapi lewat "Oh Love" saya meyakini satu hal: saat sudah dewasa kita tidak bisa seenak udel kembali ke masa remaja dan memolesnya semirip mungkin; hasilnya akan aneh. Saya tidak menemukan kegaharan Green Day lagi disini—kecuali lagu “Dirty Rotten Bastard”, yang walaupun masih kurang ngena tapi tetap yang terbaik dari semua lagu di trilogi Uno, Dos, dan Tres!

4. Slank “Ku Tak Bisa” (I Slank U, 2012)
Saya mengapresiasi puisi-puisi ‘cinta itu...’ yang dibacakan king Bimbim (kayaknya) di awal tiap lagu dalam mini album yang bekerja sama dengan restoran ayam ini. Tapi versi asli “Ku Tak Bisa” dengan melodi gitar Abdee Negara yang merintih sekali itu sejuta kali lebih bagus dari versi ini: yang cenderung renyah, ringan--super ringan bahkan--dan tanpa penghayatan. Saya berasumsi seperti ini karena “Foto Dalam Dompetmu” versi I Slank You bisa sangat bagus, jauh melebihi versi awalnya. "Foto Dalam Dompetmu" lebih cocok dibawakan dalam versi I Slank U: bahkan ini terdengar seperti lagu baru, punya nyawa sendiri, feelnya bisa lain—hingga seringkali saya menitikkan air mata cengeng. Lain halnya dengan “Ku Tak Bisa” yang terkesan dipaksakan. Versi  yang ini memang cocok sekali untuk dibawakan di acara akustikan live, tapi tidak untuk direkam dalam versi baru dan masuk dalam katalog Slank. Silahkan tidak setuju dengan saya.

Sebenarnya masih banyak kekecewaan yang saya sempat saya rasakan, cuman karena lupa lagu apa saja yang bikin kecewa itu jadi hanya empat ini dulu yang bisa ditulis. Kemungkinan besar kekecewaan yang lain akan berlanjut. 

Tuesday, August 11, 2015

Sakit Sendiri

dua minggu lalu tiba-tiba saja pak dokter secara dadakan tanpa banyak cincong langsung menyarankan operasi.

"operasi nanti pukul setengah delapan."

alkisah lambung saya terkena infeksi atau luka atau apapun itu. itu berpengaruh pada kelenjar getah bening yang terdapat di sekitar leher. alhasil leher saya sedikit memar, atau bengkak sedikit karena pengaruh infeksi tersebut. diagnosis ini sebenarnya sudah lama dan saya hanya disarankan untuk menjalani pola hidup teratur (makan, istirahat, olahraga) juga mengkonsumsi obat dan rutin check up. tapi entah kondisi saya yang lagi buruk-buruknya atau drop, kemarin saya langsung opname dan menjalani sesi operasi. ini yang ketiga kalinya bagi saya (keempat kalinya jika khitan juga masuk hitungan). momen-momen operasi adalah momen yang sebaiknya kalian hindari. jaga kesehatan kalian sebelum menyesal nantinya masuk ke ruangan lima kali lima meter tersebut sendirian, berjibaku dengan gunting, perban, bius, lampu sorot dan tentunya maut. semakin dewasa kalian, semakin besar kalian akan merasakan ketakutan. seperti saya.

kecelakaan sewaktu SD sempat membuat saya operasi. awalnya di rumah salah satu dokter langganan bapak--yang juga teman baiknya--dan beliau tidak mampu mengatasinya. disana saya cukup sadar dan masih mengingat persis jika saya muntah, perihnya ditusuk jarum suntik, sakitnya pendarahan dan rasa-rasa yang lain yang begitu menyiksa. kemudian saya dirujuk ke salah satu rumah sakit terbesar di surabaya. berasa terbang sekaligus aneh dengan bius. untuk kemudian dioperasi tanpa merasakan apa-apa: bius total.

untuk yang kedua kecelakaan motor sewaktu SMP. ini adalah kejadian yang super traumatis. membuat saya takut mati. takut jalan raya. takut ngebut. untuk kecelakaan parah yang mengharuskan saya opname seminggu di malang dan sempat mengalami koma ini, saya cukup sadar saat didorong masuk melalui ruang operasi. prosedur operasi kepala adalah tidak boleh menggunakan bius total karena dikhawatirkan akan kebablasan--secara langsung mempengaruhi syaraf otak. maka dari itu saya hanya dibius lokal. saya sudah tidak bisa bercerita banyak bagaimana rasanya, atau lebih tepatnya, sakit yang saya rasakan. perasaan super berantakan. intinya bagi saya ini adalah siksaan. satu momen yang dapat saya ungkap adalah bagaimana kemudian--mungkin pengaruh bius juga--saya merasa melihat lorong berwarna orange dengan sekeliling hitam. berputar-putar. kemungkinan besar itu adalah lampu sorot--kemungkinan besar. tapi setelah itu saya seperti didorong masuk kesana. sangat kuat. kuat sekali. setelah itu saya melihat banyak sekali tokoh kartun. jujur waktu itu saya sangat suka menonton kartun. dan serasa amat riang disana. ada taman yang dominan berwarna hijau. saya ingat betul. seolah saya sedang berada di dunia fantasi. setelah sadar pun--walaupun bius lokal tapi masih membuat saya tidak sadarkan diri--perasaan itu masih membayang. ibuk yang menemani saya usai kurang lebih tiga jam lamanya operasi berkata bahwa kata pertama yang saya sebut sewaktu siuman adalah "Taro", itupun saya juga tidak ingat. mungkin mengingau. yang saya maksud mungkin adalah kartun jepang Taro yang gemar sekali saya tonton waktu itu. dan kesalahpahaman terjadi saat ibuk mulai bercerita ke keluarga besar bahwa saya mengucap Taro. seketika itu juga mulai dari kakek, paman, mbak dan mas membeli banyak sekali Snack Taro besar dengan berbagai macam rasa dan ditaruh di kamar saya. Tapi anehnya snack itu lenyap begitu saya pulang, entah ibuk mungkin membagikannya kepada para perawat. dan legenda Taro ini berlanjut karena hampir semua yang menjenguk saya yang sudah pulang ke rumah, selalu membawa Snack Taro.

"ini ya Tit, Taro Keju. biar cepet sembuh. ada rasa rumput laut sama berbeque juga kok di plastik.

gile aje.

tapi untuk operasi dadakan kemarin, saya sempat menangis saat berada di ruang isolasi (atau apa itu namanya tempat pasien didiamkan sebentar sembari diinfus sebelum dioperasi). saya kembali terbayang operasi-operasi beberapa tahun sebelumnya. bukan apa-apa, saya takut mati. apalagi ini rasa-rasanya tidak menyangka gitu. memasuki ruang operasi seperti biasa dokter selalu mampu mencairkan suasana.

"biar ndang sembuh ya le, ndang dioperasi bentar lagi."
"oh enggeh pak. mumpung libur panjang pisan ini kebetulan."
"wah ya pas itu, jadi ndak kebeban sama pekerjaan."
"kulo kuliah, pak."

cukuplah dokter hanya sotoy di bagian itu saja karena bisa bahaya kalau sotoy saat operasi bayi prematur.

"baik dok, kita angkat bayinya."
"sebentar, kamu ini ndak bisa, masih magang, biar saya saja!"
"loh-loh dok, mau apa! loh dok kok itu yang diambil!"
"lah, sampeyan ini gimana, ini udah tak ambil bayinya!"
"matamu dok, itu usus dua belas jari!"

setelah basa-basi sedemikian rupa dan melucuti saya sampai tinggal celana dalam saja (untung saya pakai cd bermerek mahal), beliau langsung cengengesan sendiri di samping infus. ada kira-kira lima sampai enam orang yang mengililingi saya. dengan sorotan lampu yang diarahkan cukup terang pada saya. saya masih cukup sadar--sangat sadar sekali bahkan--tapi si cengengesan itu terlihat menyuntikkan sesuatu melalui infus. nadi saya agak berdenyut. kaki saya gemetar. tiba-tiba langsung amblas. saya tak sadarkan diri.

yang saya ingat kemudian hanyalah suara gunting dan ketegangan dokter, juga suara ramai-ramai, tapi semua terlihat seperti batman. serasa seperti kota gotham. mencekam. saya kembali tidak sadar. setelah itu berada di bukit. bersama siapa lagi kalau bukan kartun. kartun lagi. yang ini versi gelap. cukup menyeramkan. absurd. magic. hiperbolis. psychedelic, mengawang-awang. inilah tokoh kartun kesayangan anak-anak indonesia dalam versi otak yang sedang operasi: spongebob squarepants dan patrick star. ye! otak saya masih tak jauh-jauh dari beginian.

setelah itu saya sadar sewaktu didorong menuju kamar. ibuk sebenarnya mau kamar yang bagus tapi karena sudah penuh jadilah saya dibawa ke kamar yang standard. 

"nde endi aku?"
"nde kamar kak, ibuk maeng wis pesen kamar sing apik tapi penuh, ya terpaksa nde sini, gapapa ya, sabar ya."

tapi tidak jadi masalah besar karena besoknya, sekitar pukul lima sore saya sudah boleh pulang. rumah sakit sih sebagus apapun kamarnya tetap tak enak, namanya juga sakit. makanya jaga kesehatan itu penting, tapi tidak terlalu ekstrem-ekstrem juga sih. pak dokter aja ngisep marlboro putih dulu sambil tangannya ada bekas darah dan agak gemeter gitu di ruang kecil depan toilet pas saya kebelit pipis lima menit sebelum operasi. tegang mungkin dia habis operasi ibu hamil. haha.


tulisan ini didedikasikan untuk pak dokter dan mbak perawat yang mirip cita citata. judul dicomot dari salah satu lagu band indie pop kenamaan asal jakarta yang kebetulan bernama rumahsakit.