Wednesday, January 24, 2018

Memahami Isi Otak Pencandu Mie Instan

Obrolan luar biasa berfaedah tentang fanatisme mie instan dan jalan hidup seorang ‘Indomie Snobs’.

Dalam satu adegan film 5 cm —diceritakan tokoh Ian yang diperankan Igor Saykoji punya penyakit kecanduan Indomie. Adegan yang ironis—satu di antara sedikit sekali adegan memorable  selain tatap-menatap canggung Riani – Zafran di Semeru diiringi lagu Nidji—adalah saat dia kepergok mamanya sedang masak mie instan tengah malam.

“Mau bikin teh, Ma!” teriak Igor ngeles.

Tapi saat dia membuka lemari dapur, dia seperti menemukan harta karun yang sudah dipendam tujuh turunan: berbungkus-bungkus Indomie berbagai rasa.  Saya, mungkin juga kamu semua pasti punya pemikiran sama dengan Ian. Menemukan bungkusan Indomie saat perut keroncongan tengah malam jelas tidak boleh disia-siakan.

Selain itu, dunia mie instan bukan hanya tentang upaya pemadam kelaparan, atau spesialis topping susu-keju di warung kekinian yang bisa menaikkan harga Indomie sampai lima kali lipat. Juga bukan hal terlalu serius seperti potensi usus melintir seorang Indomie Junkie, dari sudut pandang dunia spesialis pencernaan dan ahli gizi. Kita mungkin perlu membahas hal remeh-temeh seperti sejauh mana air rebusan mie instan mempengaruhi rasa mie, lebih nikmat mana makan mie pakai sendok, garpu, atau sumpit. Atau lebih asoy  mana mencampurkan bawang goreng langsung atau menaburkanya saat mie sudah jadi.

Saya akhirnya memutuskan untuk mewawancarai Pramudita Rah Mukti (Pram), food blogger  spesialis mie instan berbagai rasa, junk food crackers, dan makanan minimarket lainnya. Blognya, SundalDigital.com, adalah situs pelipur lara bagi orang-orang yang doyan konsumsi hal receh. Menolak kredo kalau blog makanan harus selalu mampir di resto mahal dan ternama.

Sundal Digital malah lebih membahas seperti nikmatnya konsumsi Chitato rasa Indomie Sate—sebuah rasa yang membingungkan karena menduplikasi rasa yang sudah di-duplikasi. Tidak ketinggalan, ulasan dan penilaian jujur tentang pengalaman makan mie instan. Membuat saya dan kamu semua merasa tertantang untuk membuat Fans Indomie Garis Keras.

Berikut hasil perbincangan saya.

tanda kiamat dalam keanehan rasa mie instan
courtessy: sundal digital
Saya: Sebagai konsumen abadi mie instan, kita harus mengakui kalau ada dua jenis merek ternama di Indonesia, Indomie dan Mie Sedaap. Kamu berada di pihak mana? #TeamIndomie atau #MieSedaap? Bagaimana kamu menanggapi klub fanatik mie tertentu yang mengata-ngatai mie lain? Seperti Liverpudlian yang doyan menjelek-jelekkan Manchunian.
Pram: Sebagai kelas menengah berbudaya tentu saja saya masuk dalam #TeamIndomie. Fanatisme sempit termasuk dalam hal selera memilih merek mie sampai menjelekkan merk lain seyogyanya harus dihindari.  Selera satu orang dengan orang lain tentu saja beda. Walau menurut saya orang yang gemar makan mie selain Indomie pasti memiliki selera makan yang buruk.

Lalu, bagaimana kamu memandang merek lain yang underdog, seperti ABC atau ehem, Mie Burung Dara?
Merek lain misal Mie ABC, Mie Sedaap, atau mie yang sudah punah semacam Salam Mie saya memandangnya ya biasa saja. Seperti saat kamu memakai pakaian, anggap saja Macbeth, lalu rekanmu memakai pakaian dengan brand Black-ID atau Skaters. Sama-sama pakaian tapi tetap terlihat tingkatannya bukan? Tapi, kadang mungkin merek-merek seperti itu ada dan masih eksis hingga sekarang karena konsumen yang edgy; bosan dengan rasa mie instan lain yang sudah jelas enak.

Sebagai pencandu mie instan, tingkatan paling ekstrem apa yang pernah kamu lakukan. Saya misalnya, pernah tiga minggu berturut-turut konsumsi Indomie.
Tidak terlalu ekstrem sih, cuma seminggu berturut-turut setiap hari makan mie instan. Pernah juga saat sahur hampir sebulan penuh makan mie instan.

Apakah kamu kadang pakai nasi kalau makan Indomie? Tentu pernah dong. Coba ceritakan, apakah kamu mencampur nasinya dengan mie. Ataukah memisahkannya? Atau nasinya dimakan dulu baru mie-nya. Atau nyampur random saja?
Nasi pakai Indomie adalah suatu keharusan. Terkadang kalau saya makan mie tanpa nasi, rasanya ingin menangis sambil berpikir "seharusnya ada nasi, pasti mie yang saya makan lebih enak dan nendang rasanya". Nasi juga tidak selalu nasi putih, kadang saya sengaja membeli nasi goreng di pinggir jalan, kemudian memasak mie instan sebagai lauknya. Sering juga menggoreng mie yang sudah ditiriskan, dicampur dengan nasi. Bumbu-bumbu saya masukkan saja ke wajan, supaya lezat dan harumnya bisa kunikmati dengan khidmat.

Apakah secara teknis, kamu memasak mie dalam wajan lalu mencampur bumbunya sekalian. Atau bumbu ditaruh piring dulu baru dicampur?
Sudah dijawab di pertanyaan sebelumnya ya. Saya pernah melakukan dua-duanya. Tapi kalau sedang banyak waktu luang, saya lebih memilih menggoreng mie, meskipun tanpa nasi, dan langsung mencampur bumbu di wajan. Menurutku cara ini bisa menimbulkan efek aromatik yang dahsyat. Bumbu bubuk yang bercampur dengan sedikit minyak panas ditambah bumbu minyak sayur dari mie instan,  akan terasa menguar lebih tajam aromanya jika kena wajan panas.

Saya sering kurang yakin saat akan mematikan kompor saat memasak mie. Apakah mie benar-benar matang atau tidak. Saya takut itu masih setengah matang, sekaligus takut itu akan terlalu matang seperti bubur. Kalau kamu bagaimana?
Lama waktu memasak yang sesuai dengan cara memasak di bungkus Indomie. ‘Kan lima menit tuh. Biasanya ya saya sesuaikan saja, nggak ada pola khusus, misal mie sudah kekuningan atau mie sudah amburadul dan nggak lengket.

Saya pernah ditegur Oma gara-gara makan mie keseringan. Mie punya micin yang bikin bodoh, katanya. Kalau pengalamanmu bagaimana?
Sudah ratusan kali ditegur oleh orang tua dan saudara. Mie punya micin, semua makanan yang biasa kita beli di luar juga pakai micin tuh. Gimana dong? Biarkan saja mereka menggonggong, Indomie tetap seleraku.

Sejauh ini setelah mencoba beberapa rasa mie, saya belum menemukan rasa mie terbaik selain Indomie Goreng Original. Menurut kamu sebagai penikmat mie, apa rasa mie terbaik sepanjang masa?
Yaaaa, Indomie Goreng original memang terbaik. Selain itu, saya juga suka Indomie goreng rasa sate. Untuk merek lain, saya sukanya mie pedas Samyang, Mie Bulnak juga enak karena kaya minyak alias oily. Selain mie tersebut rata-rata saya biasa saja dan nggak sampai kecanduan. Beberapa kali saya juga membeli mie instan dari Jepang. Rasanya pun tidak seenak Indomie. Terlalu light. Rasa minyak dan bumbunya malah cenderung hambar, meskipun di bungkusnya tertera mie pedas.

Ceritakan apa saja rasa mie instan paling nyeleneh dan unik yang pernah kamu makan. From bad to worst.
Saya bukan penggemar keju. Bukan tidak bisa makan keju, tapi nggak terlalu suka. Pernah makan mie instan rebus rasa keju dari Korea, rasanya sukses bikin muntah. Bumbunya beneran menohok, dan semua kuah yang ada menjadi keju. Ini juga saya alami ketika musim mie instan campur susu. Terjebak tren, saya ikutan deh. Suapan pertama langsung saya buang mie tersebut. Mie rebus campur susu totally worst. Core bumbu mie yang enak jadi amburadul ketika bercampur dengan susu yang manis. Entah kenapa orang-orang yang saya lihat di internet amat lahap dan bilang mie plus susu adalah paduan yang enak. Yiks.

Saya biasanya suka makan mie sambil minum kopi susu. Beberapa orang bilang itu bikin susah nelan. Bagaimana kalau kamu? Apa yang jadi minuman favorit kalau makan mie?
Saya sih bukan peminum kopi. Mungkin hanya sebulan sekali atau sebulan dua kali lah. Karena lambung gak kuat, termasuk mengkonsumsi cola dan sejenisnya. Ampun. Jadi saya lebih milih minum teh atau air putih saat makan mie.

Saya juga biasanya makan mie pas maraton nonton Breaking Bad atau 13 Reasons Why. Katanya sih itu bisa mengurangi fokus ke serial karena kenikmatan mie. Atau mie akan jadi kurang nikmat karena pikiran fokus ke serial. Kalau kamu biasanya makan mie sambil ngapain? Adakah waktu terbaik untuk makan mie?
 Makan sambil nonton TV amat saya hindari. Saya terbiasa makan sambil membaca berita olahraga, ataupun membaca koran. Membaca dalam artian bukan pure  membaca, karena membaca sambil makan termasuk ‘lauk’ buatku. Sulit menjelaskan, tapi rasanya ada yang aneh kalau makan tidak sambil membaca sesuatu. Jadi kalau kamu bertemu saya saat lagi makan, 99 persen pasti saya sedang membaca artikel lewat smartphone atau koran.

Terakhir, apa pesan kamu untuk kawan-kawan sekalian yang doyan mie instan di luaran sana? Mungkin ada tips topping mie, atau trik menggulung mie dengan garpu?
HINDARI makan mie instan menggunakan sayur! Hahaha. Ada beberapa orang yang merasa "aduh dosa nih makan mie terus nggak baik buat kesehatan, tambahin sayur ah biar sehat." BIG NO! Sayur nggak membuat penebusan dosa buatmu setelah makan mie. Selain itu, bumbu dan minyak mie akan lengket di sayur dan rasanya akan menjadi lain, tidak standar lagi. Rasa sayur anggap saja sawi atau yang lainnya juga akan menguar di bumbu rebusan, dan masuk ke dalam mie. Rasa mie jelas akan berbeda, berubah jauh. Berhentilah makan mie pakai sayur. Biar penikmat mie dan penikmat sayur happy dengan jalan masing-masing, tak perlu saling mencampuri. 

*tulisan saya tentang indomie lainnya, bisa dibaca disini.

2 comments:

  1. Gile... wawancara berbobot. Komperhensif, guys.. ngga nyangka mie instan bisa jadi diskusi sehebat ini. *salut

    ReplyDelete
  2. JobSide buat tambahan jajan .... Info { 5*E*E*8*0*A*F*E }

    ReplyDelete