Monday, July 15, 2013

Apa Kabar Kantin Smanda?

Waktu belum terlampau siang, sekitar hampir mendekati pukul sembilan. Lonceng istrahat belum berbunyi. Di kelas masing-masing, pelajaran masih berlangsung khidmat. Pintunya tertutup rapat. Hari itu, para guru mengajar dengan semangat. Beberapa siswa juga terlihat antusias, meski beberapa diantaranya dengan damainya meniduri bangku. Mengantuk.
“Rek, luweh. Gurune kok gak metu-metu seh?” Ucapan berbahasa jawa ngoko keluar dari mulut Rusdi, salah seorang siswa yang sepertinya belum melahap nasi dan meneguk susu, singkatnya: belum sarapan. “Iyo, aduh, sampek seneb wetengku!” Salah seorang siswa lain menanggapi. Zack namanya. Dengan memegangi perut dan sedikit menyeringai, tingkah polah bocah itu mengindikasikan dua hal; belum sarapan atau belum menunaikan hajat penting di ruangan paling pojok di sekolah; kamar mandi. Dari hal tersebut, kita bisa tahu kemana kedua orang ini akan meluncur saat bel berbunyi, atau paling tidak, saat gurunya pergi.
Kekhusyukan pembelajaran, keintiman guru dan murid serta durasi yang cukup lama untuk waktu belajar demi kualitas dan mutu siswa adalah hal yang bisa kita lihat secara gamblang di SMA Negeri 1 Pandaan. Gerbang sekolah yang megah; dengan konstruksi layaknya sebuah buku besar yang terbuka, adalah pintu masuk bagi itu semua, terutama bagi siswa yang gila belajar, juga guru yang gila mengajar. Tapi, efek yang mengandung semacam isyarat bahwa ada sedikit beban dari siswa juga tak dapat dipungkiri. Seperti cerita Rusdi dan Zack diatas contohnya.
“Masuknya jam enam bila ada tambahan pelajaran. Kita istirahat sebentar jam tujuh, lanjut pelajaran lagi sampai waktu isirahat pertama, jam sepuluh.” Salah satu guru di SMAN 1 Pandaan memberi komentar. “Saat istirahat jam tujuh, para  siswa bisa memanfaatkan waktu, baik untuk sarapan, ataupun aktivitas yang lain.” Papar guru tersebut. Tapi agaknya Rusdi dan Zack tak memanfaatkan waktu istirahat tersebut dengan baik. Bisa dibayangkan keadaan antara jam tujuh sampai jam sepuluh bagi orang yang belum sarapan. “Wetengku loro, luweh!” jelas Rusdi mencoba mendeskripsikan kondisinya.
Sementara itu, di bagian belakang sekolah, lelaki tua berkepala plontos yang terlihat sudah berumur, sibuk menghangatkan rantang besar berisi soto ayam yang sepertinya isinya bisa lebih dari lima puluh porsi soto. Disajikan dalam mangkok, soto itu cukup terkenal di kalangan siswa SMAN 1 Pandaan, semacam masakan legend yang mendarah daging. “Soto Pak No,” begitu para siswa menyebutnya. Dan benar, lelaki yang menjual soto di kantin itu memang bernama Pak No.
“Lumayan rame, Alhamdulillah. Kadang belum sampai bel pulang, sotonya udah habis,” Ujar Pak No menceritakan sotonya yang laris manis. Dengan harga yang cukup terjangkau bagi kalangan pelajar, ditambah dengan porsi pas yang tak mengecewakan, Soto Ayam Pak No sepertinya jadi primadona. Urusan perut para siswa seakan dimanjakan oleh Pak No; soto dengan daging ayam yang tak bisa dibilang sedikit, nasi yang lumayan mengenyangkan, juga air kuah yang seolah-olah bisa membuat kita makan tanpa memesan minum.
“Untuk seporsi soto, biasanya dijual tiga ribu rupiah untuk porsi biasa dan tiga setengah untuk porsi pull,” terang Pak No. Di porsi yang biasa disebut pull, yang merupakan sedikit plesetan khas orang jawa dari kata full, kita bisa mendapatkan nasi dan irisan ayam yang lebih banyak dibanding porsi biasa. Cukup dengan menambah lima ratus rupiah saja. Dan ini adalah salah satu solusi terbaik bagi siswa yang belum sempat sarapan. Bahkan, ada siswa yang setiap harinya mengandalkan Pak No sebagai solusi.
Salah satu penikmat setia soto Pak No adalah Galley, siswa yang paling dulu ada di kantin saat bel berbunyi, bahkan terkadang saat bel belum berbunyi. Menurutnya, hanya dengan bermodal lima ribu rupiah, lambungnya bisa terisi penuh. Kenyang.
“Soto pull regane telu setengah, ditambah es teh regane sewu mangatus, Pak No ancen paling sip. Tapi kelarangen koyok’ane es teh-ne, aku maleh gak iso ngecer kerupuk, limangatusan. Duek ku mek limangewu Jo!” kata Galley pada teman-temannya saat sedang menyantap seporsi soto panas. Tempat makan Galley dan teman-temannya, yang notabene anak laki-laki, memang cukup eksotis. Area yang terletak di sebelah ruang guru (baru) ini memang difungsikan sebagai salah satu jalan menuju kantin, semacam koridor beratapkan pohon-pohon besar yang menjulang rindang. Para siswa yang beruntung bisa makan disana dengan duduk di kursi porselen yang tersedia di bawah pohon. Sementara yang lainnya, lebih memilih duduk ala lesehan di ruangan yang agak tinggi di sebelah ruang guru. Suasananya cukup luas dan menyenangkan. Disitulah sepertinya tempat berkumpulnya para siswa dari segala kelas dan jurusan. Sehingga boleh dikata, bahwa tempat makan disini adalah tempat yang cukup merakyat. Salah satu contohnya adalah budaya satu gelas untuk semua yang kerap kali terjadi. Siswa yang membawa minuman, semisal es teh atau jus, tak sungkan membaginya kepada siswa lain yang sedang makan atau sekedar duduk disana.
Di sisi yang lain, tempat makan (resmi) yang sudah disediakan sekolah, masih sangat longgar saat itu. Kantin memang belum terlampau ramai. Tempat yang disediakan terlihat sangat layak memenuhi standar kantin yang berkualitas dan bermutu; adanya tempat duduk yang nyaman, beberapa gazebo, dengan banyak kursi yang tersedia. Jika SMAN 1 Pandaan boleh dimisalkan sebuah mal, maka tempat itu adalah “food court”-nya. Tapi, banyak diantara bocah-bocah laki-laki memilih untuk tidak makan disana. Mereka tetap memilih makan di tempat biasa yang merakyat. Seperti Galley dan kawan-kawanya.
“Isin aku mangan kono, didelok’i wong, rame, kadang guru yo meneng kono,” ujar Galley mengungkapkan alasanya mengapa tak memilih makan di tempat yang sudah disediakan. Meski begitu, area “food court,” tetap saja penuh dan selalu ramai, oleh siswa putri juga beberapa siswa laki-laki.
“Iku mainstream area. Lek ndek kene iki underground, indie. Hahaha,” kata salah seorang anak mencoba talkshit dengan komparasi yang menarik.
Bel berbunyi dengan kerasnya. Pukul sepuluh. Beberapa siswa yang tertunduk lesu segera berjingkrak dan menuju tempat favoritnya masing-masing. Salah satu yang terlihat kegirangan adalah Rusdi, yang sedari tadi menahan gejolak di perutnya. Ia bersama Zack, dan satu lagi temanya yang bernama Ardi, segera bergegas menuju kantin. Rupanya, Zack berpindah haluan ketika melihat kamar mandi.
“Sek yo, rek. Urusan mendadak, hehe.” Ujar Zack pada kedua temanya. Sepertinya mereka tahu Zack akan melakukan apa. Kamar mandi pria, berjarak tak jauh dari kantin. Tempatnya cukup dekat dari area makan “underground” di sekitar rimbunan pohon. Karena itulah siswa biasanya sering nongkrong disana setelah makan. Semacam tempat favorit untuk hangout. Terlihat Rusdi berjalan dengan gontai menuju kantin, tepatnya tempat penjaja makanan. Sementara Ardy terlihat lebih tergopoh-gopoh.
“Ayo, Rus, selak rame!” kata Ardi. Rusdi hanya mengangguk. Setelah melewati kamar mandi, mereka melewati tempat makan bawah pohon untuk menuju tempat penjaja makanan. Beberapa siswa sudah sibuk mengunyah saat mereka lewat. Setelah sampai di tempat penjaja makanan yang mirip sekali dengan pujasera, mereka berdebat.
“Mangan opo iki, soto ta?” tanya Ardi. “Ojok, aku wingi mari nyoto! Ayam goreng ae!” jawab Rusdi. “Aku mari mangan ayam maeng isuk!” Ardi menaggapi lagi. “Lho koen maeng mari sarapan ta? Wedhuuus!” ujar Rusdi. Sepertinya Ardi sudah sarapan tadi pagi, rupa-rupanya ia ke kantin untuk makan lagi, semacam nafsu makan yang besar. Akhirnya, Rusdi mengantri untuk mendapatkan ayam goreng plus nasi hangat. Penjualnya bernama Om Heri. Sementara Ardi yang sedari tadi mengincar soto, harus segera mengubah pilihan karena antrian di Warung Pak No sungguh luar biasa. Ardi akhirnya menuju Warung Mak Yati, untuk memesan tahu lontong yang khas. Zack yang biasanya lama di kamar mandi, secara mengejutkan hadir di depan Warung Mak Kun yang menyediakan berbagai jenis gorengan. Sepertinya ia butuh pendorong untuk aksi keji di kamar mandi yang sedari tadi mungkin gagal.
Tempat makan Rusdi hari ini, Heri Fried Chicken namanya. Penjualnya adalah trio ramah yang selalu melayani pembeli dengan segera. Pemiliknya bernama Om Heri, Sarjana Sosial, juga penjaga sekolah yang berjualan di kantin sebagai sampingan. Ia sepertinya tahu menu yang diinginkan sebagian siswa di SMAN 1 Pandaan. Ditemani sang istri dan juga pembantunya yang bernama Mbak Win, Om Heri berhasil menggabungkan konsep makanan ala mal yang banyak diminati dengan kantin sekolah. Terbukti dengan peralatan makan, juga menu-menu menarik yang biasa kita jumpai di mal-mal besar. Menu yang sudah menjadi trademark Heri Fried Chicken diantaranya; ayam goreng ala Kentucky, ayam kecap serta nasi goreng. Minumanya juga menarik; jus aneka buah dengan es batu yang niscaya membuat gigi susah payah mengunyahnya. Fleksibilitas juga ditawarkan di HFC dengan menyediakan kertas minyak untuk melayani permintaan siswa yang minta dibungkus. Harga di sini agak sedikit lebih mahal dari soto Pak No. Sekitar empat ribu rupiah untuk seporsi Kentucky dan nasi hangat, lima ribu rupiah untuk seporsi Kentucky dan nasi goreng. Selain itu, berbagai pelengkap lain penggoda selera sengaja dipajang untuk menarik perhatian siswa yang sudah kejang-kejang akibat kepalaran. Telur, sambal goreng tempe, dan ikan bumbu bali diantaranya.
“Sego goreng, ambek ayam kentucky. Tambah endok iki om, piro dadine?” pesan Rusdi sekaligus bertanya. “Oh, enam setengah, bos!” jawab Om Heri. “Tambah tempe iki wes om cek pas pitu!” kata Rusdi diiringi anggukan Om Heri. Dengan piring plastik lebar yang cukup untuk menampung makanan dalam porsi banyak, Rusdi terlihat ingin segera menyantap makanan yang ada di hadapanya. “Ayo om! Susuk’e! Luweh pol iki!” dengan tak sabaran Rusdi menagih kembalian uang sepuluh ribuannya. Apapun memang bisa terjadi saat lapar.
Untungnya, Om Heri adalah tipe orang sabar, humble dan suka bercanda. Itu juga yang menjadi daya tarik HFC. “Opo’o yo lek aku ambek arek-arek kelasku kate mangan, mesti didisekno. Apik’an ancen Om iku!” begitulah testimoni pelanggan setia HFC, Rusdi. “Wee, arek ganteng, boyband! Opo ae iki rek mangane?” Rusdi menirukan ucapan Om Heri saat melayani ia dan kawan-kawannya yang antri memesan makanan. Sebutan boyband yang familiar untuk geng Rusdi adalah salah satu bukti betapa humble-nya Om Heri. Satu lagi, di tenant ini, para pelanggan bebas mengambil nasi. “Lek kurang jukuk’o maneh rek. Gak popo!” kata Om Heri. Dan ini adalah keuntungan favorit dari para siswa dengan porsi makan yang besar, “porsi tukang” istilahnya. “Ben wareg ho!” ujar Zack yang sudah biasa mengambil porsi besar ini. Om Heri adalah orang baru yang berjualan di kantin, karena sebelumnya ia berjualan di rumahnya, yang secara ajaib menyatu dengan sekolah. Meski begitu, tak butuh waktu lama bagi Om untuk menarik perhatian warga kantin.
“Ayo, Ndul!” teriak Rusdi kepada Ardi yang masih terlihat mengantri di Warung Mak Yati. “Lhoo, sabar, tenang, tenang. Iki tahu-ne sek digawekno!” ujar Ardi. Warung Mak Yati, adalah termasuk warung yang legend di SMAN 1 Pandaan. Bersama Pak No dan Mak Kun, Mak Yati merintis karir sudah cukup lama sebagai penjaga kantin. Ia sudah menjaja makanan bersama tiga teman seperjuanganya itu semenjak kantin masih belum sebagus sekarang. Tempatnya dulu sederhana. Sebelum pindah tempat, hanya ada tiga tenant yang ditempati tiga pedagang waktu itu; Mak Yati, Mak Kun dan Pak No. Karena itulah predikat legend layak disematkan pada warungnya, yang kini sudah bagus di area pujasera. Kantin SMAN 1 Pandaan yang dulu terbatas pada tiga tempat makan, kini telah berevolusi dua kali lipat menjadi enam tenant di food court. Tiga tenant legend, satu tenant Om Heri dan dua tenant antah berantah. Disebut antah berantah karena tenant ini sering bergonta-ganti pedagang. Entah karena tidak laku, terlalu mahal atau karena masakannya kurang lezat jika dibandingkan empat tenant tersebut. Tapi inilah yang menambah keberagaman rasa di kantin SMAN 1 Pandaan.
Mak Yati berjualan dengan dibantu putrinya, Mbak Devi, yang juga merupakan satpam perempuan pertama di Smanda. “Iyo, rek, sabar sabar. Tenang ae kabeh pasti oleh kok! Tenang tenang!” Ujar Mak Yati sambil tersenyum. Ia memang keibuan. Dengan menu andalan tahu lontong, bakso, siomay dan kare ayam, yang semuanya dibandrol hanya dengan tiga ribu rupiah. Harga yang amat sangat terjangkau, tentu juga dengan rasa dan porsi yang bisa membuat siswa semangat kembali saat belajar.
“Disini favoritnya itu bakso dan tahu, lumayan wareg arek-arek kenek iku. Lek bakso biasae digae arek wedok, ringan soale. Arek genda’an (pacaran) yo biasae pesen iku!” Ujar Mak Yati. Selain menu tersebut, Mak Yati juga menjual gorengan. Keuntunganya warungnya pun lumayan, ia bisa menunaikan haji tahun lalu. Sepertinya warungnya berkah.
Ardi pun sudah mendapat pesananya. “Ganok susuk’e (kembalian) ta mak? Yo wes engkok ae pas moleh tak jupuk!” ujar Ardi. Warung Mak Yati memang terkadang buka sampai sore. Jadi saat para siswa pulang, Mak Yati masih stand-by disana.
Semantara Rusdi dan Ardi sudah mulai menyantap makanannya, Zack terlihat masih berada di tenant Mak Kun, sebuah warung yang juga legend. Menyediakan gorengan aneka rasa, semacam ote-ote, tahu brontak, pisang goreng, tempe menjos bahkan yang terbaru juga menjual bakwan jagung, yang biasa disebut dadar jagung. Pada awalnya warung ini sempat terkenal dengan menu mie instannya yang sungguh cepat pelayanannya. Rasa dan porsinya juga khas.
“Biasane tak tambah racikan lombok, cek sedep,” ujar Mak Kun. Ditemani ibunya, yang sudah berusai sangat sepuh, yang biasa dipanggil “Mbah” oleh para siswa, setiap hari, dari jam enam sampai sore kadang, mereka berjualan. Mak Kun dan Mbah sungguh merupakan ibu kantin yang sangat baik, juga amat sangat ramah. Terkadang ia memberi gratis gorengan kepada pelanggan setia, Rusdi dan Zack diantaranya. Ia juga hafal nama-nama pelangganya, satu persatu.
“Zack, lah kok mek tuku gedang tok. Oalah rugi ganteng-ganteng tuku mek titik!” kata Mak Kun dengan nada bercanda. Zack hanya tersenyum. “Sek kere, Mak. Hehe.” Kedekatan itulah yang menjadi daya tarik tersendiri di tenant ini. Lain halnya dengan tenant antah berantah yang biasanya hanya sekedar melayani makanan siswa, terkesan kaku dan dingin. Beda warung legend dengan yang masih baru sepertinya adalah kehangatan penjualnya.
Beberapa saat sebelumnya, sempat tersiar kabar bahwa mie instan menjadi menu yang “diharamkan” untuk dijual di Smanda. Proyek lingkungan besar-besaran bernama Adiwiyata adalah sebabnya. Sempat juga kabar burung tersebar, bahwa eksistensi Warung Mak Kun terancam. Dengan dilarangnya penjualan mie instan, para siswa pun banyak yang mengkhawatirkan tenant idolanya tutup.
Sakno rek Mak Kun lek  misale warunge tutup. Kehilangan rek aku!” begitu pendapat salah satu siswi perempuan yang sepertinya menjadi pelanggan setia Mak Kun.
Tapi di hari-hari setelah pelarangan mie instan itu, Mak Kun seperti menunjukkan eksistensinya berjualan di kantin. “Husshh, ngawur ae! Wes gak oleh dodol mie ambek sekolahan. Gak apik jarene!” kata Mak Kun saat beberapa siswa iseng memesan mie instan. “Iki lho rek, menu anyar! Mangano wes cek ero rasane!” kata Mak Kun menawari. Menu yang ditawarkan Mak Kun sepertinya menunjukkan nalurinya sebagai penjual kantin sejati yang tak kalah oleh sekedar mie instan. Pecel, ayam goreng, dan sayur adalah menu yang kini dengan bangga dipajang di tenant Mak Kun. Bungkus mie instan berbagai merek dan rasa yang biasanya nampak di depan tenant-nya, kini sudah tak nampak.
Rupanya, menu baru ini mengundang cita rasa yang lain. Jelas, para siswa menyukainya. Apalagi, dengan menambah modal lima ratus perak, mereka bisa menambah lauk gorengan, seperti tempe dan dadar jagung.
“KFC iki bro, Kun Fried Chicken. Hahaha!” ujar salah satu siswa yang terlihat lahap menyantap pecel dengan tambahan ayam; menu santap yang baru. Nasi dengan ukuran yang cukup mengenyangkan, lauk ayam dibalut tepung yang khas, sayuran segar sebagai pelengkap, serta guyuran bumbu pecel yang padat oleh kacang-kacang gurih yang diuleg rata, menjadi daya tarik tenant Mak Kun sekarang. Ayam-nya spesial, berbeda dengan HFC yang mengunggulkan tepungnya yang tebal, ayam Mak Kun lebih tipis taburan tepungnya. Namun rasanya tak kalah dengan milih HFC. Mereka berdua mempunyai ciri khas yang sama-sama enak.
Istirahat pun usai. Rombongan siswa segera berduyun-duyun memasuki ruang kelas, termasuk Rusdi dan kawan-kawan. Beberapa anak yang baru saja memesan makanan terlihat tergopoh-gopoh menghabiskanya. Mulut mereka jadi tahan panas.
“Ayo, anak-anak! Sudah masuk, agak cepat ya makannya!” ujar salah satu guru yang kebetulan lewat di depan anak yang sedang makan. Mereka menanggapinya dengan mengangguk saja. Tentu tak mungkin mengucap kata-kata yang bisa berakibat semburan makanan ke arah yang tak diinginkan. Mulut mereka penuh.
Pasca istirahat, kantin lumayan sepi. Terutama setelah anak-anak yang baru makan tadi berlari ke kelas. Pengunjung kantin “food court” pasca istirahat ini biasanya adalah tukang kebun, para satpam, anggota tata usaha, juga guru yang kebetulan tidak mengajar. Biasanya mereka berkumpul sambil memesan kopi hangat, juga makanan ringan seperti gorengan dan bakso.
Para penjual kantin; Pak No, Mak Yati, Mak Kun dan Om Heri terlihat beristirahat sejenak. Biasanya waktu ini menjadi ajang curhat para pedagan kantin, juga ajang pijat memijat dan terkadang saling mencoba dagangan satu sama lain. Rasa kekeluargaan yang tinggi terasa sekali disini. Tak ada sifat bersaing karena mereka sudah mempunyai pasar masing-masing. Setelah itu, barulah mereka membersihkan area kantin; tenant, area food court juga area makan sekitar pohon. Mereka juga tak ragu untuk membawa piring yang tak dikembalikan oleh para siswa, meskipun bukan piring milik mereka sendiri, tetapi milik penjual yang lain. Budaya gotong royong yang patut dicontoh.
“Waduh, yoopo arek-arek iki, wes onok peraturan semua siswa harus mengembalikan piring waktu selesai makan, sek dilanggar ae!” begitu kata Mak Yati. Tentu sikap baik para siswa, seperti menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan dan mengembalikan piring ke tempat yang sudah disediakan waktu selesai makan dapat menjadi kebanggaan tersendiri bagi para penjual kantin. Ada perasaan semacam “anak sendiri” bagi para penjual yang telah melayani siswa selama puluhan tahun tersebut. Mereka bangga saat siswa berubah lebih baik. Meski banyak juga kelakuan siswa yang bebal. Walau begitu, para penjual kantin ini dengan sabar dan penuh kasih tetap melayani mereka. Sebuah pengabdian yang tulus.
Waktu menunjukkan hampir pukul satu. Para siswa tentu sedang sibuk belajar di dalam kelas. Terlihat Pak No membereskan daganganya. “Kukut kukut! Moleh moleh!” ucap Pak No sambil tersenyum. Penghuni kantin yang lain sudah paham akan kebiasaan Pak No itu. Mereka hanya bisa menanggapinya dengan bercanda, yang kemudian meledak dengan tawa riang pada akhirnya.
Sementara Mak Kun, terlihat letih. Kelihatan sekali dari raut mukanya. Dengan pakaian skuter mania-nya yang bermacam macam, yang sepertinya diberi putranya yang tergabung di komunitas vespa, Mak Kun tetap menunjukkan senyum. Pernah dalam suatu wawancara untuk tugas bahasa perancis, saya dan Ardi menemukan keteduhan dan keikhlasan yang cukup dalam dari seorang Mak Kun. “Lek arek-arek seng njupuk gorengan, terus gak mbayar, langsung ditinggal mlayu, iku yo lumayan akeh. Tapi aku kate nagih yo gak enak, aku ero kok sopo-sopo ae seng biasae ngono. Yo diikhlasno ae gak popo, be’e ancen arek gak duwe, sakno.” Kata Mak Kun. “Tapi arek-arek seng gak mbayar iku biasae lek wes lulus terus rene maneh iku sungkan nang aku. Kadang moro rene, ngaku. Terus aku dekek’I seket ewu. Gelek ngono iku wisan.” Mak Kun menambah ceritanya diakhiri dengan tertawa. Dengan keuntungan yang tak seberapa, ternyata ada juga siswa yang masih mencurangi Mak Kun. Tapi nyatanya, Mak Kun malah menghadapinya dengan tulus ikhlas, seperti perasaan ibu terhadap anaknya sendiri.
Bersama Mak Yati, Mak Kun juga tak pernah alpha shalat dzuhur. Saat musola sepi adalah saat yang tepat bagi mereka untuk bersyukur atas rejeki yang didapat hari ini. Bersimpuh sujud dan untaian doa juga tak lupa dipanjatkan. Dengan sifat mereka yang tulus, rasanya tak mustahil jika mereka juga mendoakan para siswa. Mereka adalah penjual kantin yang benar-benar pantas diberi predikat legend. Mungkin pihak SMAN 1 Pandaan kapan-kapan bisa mengundangnya di perhelatan wisuda. Bukan tak mungkin mereka akan merasa bangga sekaligus kehilangan. “Lho, arek iku. Seng biasane pesen mie soto saiki wes lulus. Mugo sukses wes!” begitu kira-kira ungkapanya.
Waktu menujukkan hampir pukul dua. Bel pulang berbunyi renyah. Para siswa sibuk berbenah. Berbondong-bondong menuju parkiran dan gerbang yang baru dibuka. Terlihat Ardi, ditemani Zack menuju kantin, tepatnya di Warung Mak Yati.
“Maaak!” Ardi memanggil Mak Yati. “Susuk-ku maeng wes onok ta?”

Notes: Sedikit berlatih menulis tulisan jenis feature. Demi alasan privasi, beberapa nama sengaja disamarkan.

1 comment: