Sunday, November 20, 2016

Many Little Songs For An Hardly Long Long Night

di semesta yang entah. di bumi yang entah. di kehidupan yang entah, seorang manusia biasa-biasa saja sedang melamun parah di balkon rumahnya. ia tidak tahu harus menunggu siapa lagi setelah hujan yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. ia membayangkan peti mati dan kematian, bau busuk mayat-mayat katak dan tempurung-tempurung neraka. pikirannya kalut. kedamaiannya terusik. hujan tidak menyembuhkan apapun yang ia rasa. balkon rumahnya serasa pahit dan berisik. hujan turun menggebuki atap. membunyikan suara-suara cacian tanpa henti. membuat ia membutuhkan buku-buku psikologi. membuat ia membutuhkan campuran malt dan ethanol. tembakau dan kebohongan. jamur tahi kerbau dan kedunguan.

ia telah menamatkan seluruh koleksi film tarantino. dan tinggal tunggu waktu untuk mengulang-ulangnya lagi di tengah kepedihan. dan jadilah dia kegilaan yang payah. ia telah puluhan kali melihat vincent vega, django, sampai pembunuh-pembunuh bodoh nan keji di hateful eight. ada kegembiraan yang terus menerus membesar setiap kali melihat adegan-adegan penjahat menembak muka penjahat lain sampai meledak isi kepalanya. ada kepuasaan yang tidak terlukiskan saat uma thurman menghabisi samurai-samurai brengsek di kill bill dan menyiksanya seolah kiamat sudah terjadi. ada gerak lambat di otaknya saat menyimak seluruh caci maki samuel l. jackson yang dilempar lewat ceramah dan obrolan tidak penting dengan sumpah serapah paling kasar dan terkutuk, nyaris dalam semua film-film nigger quentin tarantino. ada gangguan dalam hidupnya yang membuatnya harus terus menurus menonton tarantino, berulang-ulang, terus-menerus.

dan malam ini, entah kebetulan apa yang mempertemukan saya dengan dia. tepat saat dia sedang keluar dan mendorong pintu minimarket dengan empat botol bir dingin di tangan kanan dan kiri. bir yang kemudian kami tenggak semalaman. dan dia menceritakan ulang seluruh kisah kelam hidupnya sejak lahir. tambahan dua botol bombay saphire. dan kita mampus seharian di sofa tengik dalam apartemen miliknya. seperti yang bisa dibayangkan, cerita tentang kepedihan tidak afdol bila tidak ditemani musik-musik pembangkit arwah kubur. musik-musik sensitif yang bisa membuat nyaman sekaligus panik. musik-musik hiburan tengah malam bagi jiwa yang tumpul dan tidak ada hal yang lebih bagus untuk dilakukan selain mabuk keparat. 

"putar morrisey kawan!" pintanya saat aku sedang menyusun file-file lagu yang berantakan di komputer tuanya yang nyawanya tinggal separuh. 

"there is a light that never goes out!" saya berteriak sekencang mungkin saat menemukan lagu tersebut.

"itu the smiths, bodoh!" jawabnya. 

dan kemudian tersusunlah sepuluh puluh lagu pilihanku, yang kesemuanya berputar semalaman, terus berulang-ulang, sampai pagi hanya tinggal menyisakan sisa-sisa alkohol yang berceceran, abu rokok menggunung, dan sisa dedaunan yang kami tak tahan untuk tak mengusiknya di dalam lemari penyimpanan. kita tidak bosan-bosannya menyimak lagu-lagu indah. walapun kesemuanya cuman tujuh buah.

1. The Smiths "There Is A Light That Never Goes Out"
aku menyimak ceritanya sambil terus mendendangkan lagu ini di otakku. pengaruh sapphire, ya ampun. dia hampir tersedak kacang dan asap marlboro di ujung ceritanya, dan kemudian memaki, johhny marr bangsat. entah kenapa marr yang dimaki dan bukannya morrisey. tapi setelah itu, dia kembali tenang, menyesap bir pelan-pelan, menikmati reff lagu, yang seakan rela mendekap kesedihannya selamanya.

2. The Smashing Pumpkins "Disarm"
ia kemudian mengajakku bermain catur. aku berkata "aku lelah, kawan. aku akan mendengarkan ceritamu saja." tapi ia seperti sudah menyudahi ceritanya. ia tidak ingin bercerita lagi mengenai perempuan brengsek yang membuat hatinya tergores-gores pecahan kaca. aku paham. kita paham. rokok terus menyala. kami terdiam. billy corgan, malam ini, terdengar begitu pilu. dia tak kuasa menitikkan air mata. aku menyediakan dekapanku. juga bir dingin yang baru terbuka.

3. The Doors "Light My Fire"
"kita kembali ke morrison, kita kembali ke morrison!" ujar dia. aku maklum. kita semua sudah biasa menyebut nama tuhan. bersama-sama. sambil mengumpat dan tertawa. sambil melamun dan bersedih. "tapi aku sedikit meragukan ketuhanan morrison di lagu ini," ia tiba-tiba  memotong. "bagaimana bila ternyata tuhan yang sebenarnya adalah ray manzarek?" aku melamun. masuk ke dalam lorong manzarek. begitu tua dan menyedihkan bunyi tuts itu.

4. The Corrs "All I Have To Do Is Dream"
ia bercerita tentang mimpinya, mimpi masa depannya, bersama margareta. "aku ingin memiliki rumah di pegunungan, dengan kopi yang kutenggak setiap pagi, adalah hasil petikan sendiri di kebun kami tiap sore hari." aku tidak dapat menahan gejolak mataku. saat menceritakan itu semua, dia seperti mengawang. jauh. gunung itu berada di pelupuk matanya. dream, dream, dream. keluarga corr mengawal itu semua dengan halus. dan semuanya menangis.

5. The Beatles "With A Little Help From My Friend"
aku kemudian yang menyeka air matanya. mengusap dengan sisa sapu tangan yang kupunya. dia sahabatku. aku tidak akan membiarkannya sendiri. bahkan aku akan menangis semalaman, bila perlu. hanya ini bantuan kecil yang bisa aku berikan. hanya ini bantuan yang bisa aku berikan, sebagai sahabat. 

6. Silverchair "Ana's Song (Open Fire)"
dia membelalakkan mata. dia tidak boleh sekalut ini. dia kemudian tertawa keras. memuji-muji australia. "aku muak grunge di luar seattle, tetapi aku bisa jatuh cinta pada lagu ini." aku terbahak. begitu cepatnya dia terbahak. apa kami menenggak semuanya terlalu kencang. saya kira tidak. dia baru saja menyuruh saya membongkar isi lemari. dan waktunya dedaunan. kami memaklumi semuanya. botol baru sudah dibuka.

7. Joy Division "Atmosphere"
matanya memerah. aku rasa aku juga. jam dinding sudah tidak jelas menunjuk pukul berapa. kesedihan sudah berlarut. dalam film control (2007), aku ingat ian curtis gantung diri dan setelah itu lagu ini mengalun. ian mati di usia 23 tahun. usia kita saat ini. sejurus kemudian kepalaku serasa pengar. amat pengar. bergemericik suara botol obat-obatan di meja. saatnya berbuat onar. tenggak sekaligus. 

dan usailah...

No comments:

Post a Comment