Tuesday, November 8, 2016

Playlist Minggu Ini

Tidak banyak lagu yang saya dengar minggu ini. kebanyakan lagu dari album-album yang itu-itu saja. memang ada juga yang baru, tapi tidak bisa dibilang baru juga karena sebenarnya itu band atau album lama, hanya saja saya yang baru tahu. Berikut—dengan tendensi pamer tingkat tinggi tentu saja, seribu persen ujub dan riya’—saya bagikan playlist saya khusus berisi lagu-lagu yang saya baru tahu dan langsung suka.

1. Banda Neira – “Derai-Derai Cemara”  (1949, Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)
Selalu ada hari dalam seminggu dimana saya akan bangun dengan kebingungan, bertanya-tanya dimanakah ini, karena malam sebelumnya sungguh melelahkan, atau jika tidak begitu mungkin kebanyakan konsumsi ethanol atau mabuk lem kayu. Dan minggu ini saya bangun pukul delapan lebih sepersekian menit di sebuah tempat antah-berantah, dan di samping saya adalah Mas Abu Wafa, sastrawan penyair kebanggaan kita semua. Segera saja saya mengingat-ingat—dan kadang ingatan memang sungguh payah—bahwa Sabtu malamnya saya memang bersama Mas Wafa nonton Scaller dan UTBBYS (oh nama band ini sungguh panjang makanya disingkat), di Marvel City, dan kemudian cangkruk di Klutik sebentar, dan kemudian karena terlalu malas pulang ke kos dan waktu itu kebetulan sedang tidak bawa kunci gerbang, saya menginap di kosan Mas Wafa yang jalan masuknya mirip kandang celeng. Tidak ada parkiran, geletakkan begitu saja motor di depan gang, maling pun ogah menjelajahi tempat macam begini (letaknya di gang bernama gang buntu). Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Mas Wafa, memang beginilah adanya, sebuah bronx yang pertama kali saya jumpai di Lidah Wetan. Masuk ke ruangan kamar Mas Wafa untung saja mendingan dan ya, tipikal kos-kosan mahasiswa sastra dengan banyak buku menumpuk sana-sini, koran-koran minggu dikliping di tembok, lukisan absurdisme, kutipan kata-kata bijak entah Sapardi atau Yesus, intinya ya begini ini kamar sastrawan. Saya sudah memesan buku Cara Menghitung Anak karya Abu Wafa dan kini berkesempatan bermalam di tempatnya menggodok karya. Warbiyasah. Satu hal yang ekletik dari kamarnya selain banyak sekali buku—dan kebanyakan belum dibaca—adalah sound system yang langsung diputar begitu kami memasuki ruangan. Dan itu mengalun terus, tiada pilihan lagu, flash disk itu tertancap disana, memutar mulai dari lagu-lagu pop kekinian sampai Efek Rumah Kaca (seingat saya, saya tertidur sesaat setelah eksekusi  lagu Menjadi Indonesia yang sungguh menggetarkan itu). Besoknya setelah bangun, melamun, dan mengambil udud, saya mendengarkan alunan folk, sayup-sayup, dan kemudian Wafa yang masih tidur seketika bangun, mengucek mata, dan seperti kebiasaan lulusan sastra pada umumnya, langsung bergairah mendengarkan karya sastra. “Enak lagu iki, musikaliasi puisine Chairil Anwar, iki lho tak dudui,” saya masih melompong kosong dan Wafa sudah bergerak menuju lemari, mencari buku, ketemu, dan diberikan pada saya. Aku Ini Binatang Jalang, kumpulan puisi Chairil Anwar. Saya membuka halaman yang ditunjuk Mas Wafa, puisi berjudul Derai-Derai Cemara, dengan salah satu bait yang membuat saya langsung melek: hidup hanya menunda kekalahan. “Iki lagune Banda Neira, aku kadang nangis ngerungokno iki.” Saya kembali melompong, melamun. Saya tidak pernah benar-benar menghayati puisi Chairil, hanya baru kali ini. Ditunjang musikalisasi yang sungguh, memang agak sedikit seperti nyanyi-nyanyi sedih (ya seperti suasana pusinya kan begitu). Dan ini saya bawa sampai pulang, lagu ini, puisi ini, entah kenapa benar-benar membekas. ‘Hidup hanya menunda kekalahan,’ anjing, kalimat yang sungguh, benar-benar  mendalam jika dipikirkan. ‘Sebelum pada akhirnya kita menyerah.’ Dan di saat itulah, saat hampir menuju klimaks itulah, suara vokalis Banda Neira (saya kurang mengerti namanya yang perempuan), seperti sesenggukan, atau menghembuskan nafas panjang. Mendalam. Momen terbaik lagu ini ada pada menit 6:21, saat suara nafas itu betul-betul menandakan akhir Derai-Derai Cemara, yang menyerah, secara elegan.

2. Barefood – “Deep and Crush”
Yang saya tahu Barefood adalah unit alternative rock dari Jakarta, dan sempat menontonnya di televisi bobrok kos-kosan saat mereka main di acara Taman Buaya Beat Club TVRI. Tentu saja mengecewakan karena TV yang busuk, antenanya pun juga bejat. Jadi yang terdengar hanya bunyi kemresek anjing dan gambar yang pecah-pecah. Jingan! Dengan terpaksa saya mengganti channel ke Tukang Bubur Naik Haji—ya tidak apa-apalah yang penting bening daripada nonton semut moshing kemresek fak. Lagu ini kemudian saya dapat dari download gratisan secara tidak sengaja, dan saya mendengarnya agak seperti... apa ya, pokoknya saya pernah dengar yang macam begini. Bukan Nirvana, bukan Pearl Jam, meski saya tahu pengaruh mereka dari sana, tidak jauh-jauh dari 90’s. Ini terdengar lebih cuek dan terasa seperti Slank, atau... o yaa, /rif. Suaranya mirip Andy /rif. Sialan. Lagu ini mantap juga didengarkan, tidak kencang-kencang amat dan cocok untuk pencinta rock kelas medium seperti saya. Bagi anak-anak band pemula yang bingung cari referensi dan ingin tetap terdengar keren, dengar saja Barefood lalu cover. Ya, setidaknya daripada Nirvana lagi Nirvana lagi.

3. Christabel Annora – "Sunshine Talks"
Lagu ini menurut penafsiran pribadi saya terasa seperti Terminal Arjosari pukul tujuh pagi, saat matahari mulai terasa, dan kegiatan warga Kota Malang mulai berjalan. Saya mendapat kopi review album Talking Days dari Ronascent, dan betapa terkejutnya saya bahwa Christabel ternyata arek ngalam sam. Mau tidak mau, ini mengembalikan memori saya tentang Malang saat mendengarkan Talking Days. Jika di lagu ini bicara tentang Arjosari di pagi hari (menurut nuansa yang saya tangkap), maka di track pembuka Early Reflections, ini seperti mengajak saya kembali ke masa kecil, di daerah Bumiayu, Kabupatan Malang, saat Ibuk masih berkuliah disana, dan saya belum genap dua tahun. Sungguh memori yang membahagiakan, dan agak melankoli nggak sih? Tidak peduli, yang pasti saya menantikan kedatanganmu di Surabaya mbak. Yuk kita nyanyi bersama sambil diiringi hujan. Saya pernah mendengarkan Frau, tapi kayaknya Christabel ini lebih masuk feelnya menurut saya. Meski sama-sama memakai keyboard dan vokal, gitu doang.

4. Efek Rumah Kaca – "Jangan Bakar Buku"
Selalu ada jalan untuk menyukai Efek Rumah Kaca. Perlahan-lahan. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu dipaksa. Saking indahnya. Kamu mungkin akan kebingungan mendengarkan lagu macam begini untuk pertama kali, tidak usah dipaksa. Biarkan saja. lama-kelamaan kamu akan mendengarkannya lagi, dan merasa lagu ini begitu indah. Itu memang efek dari Efek Rumah Kaca. Saya tidak bisa menyukai band ini cepat-cepat, dan saya biarkan saja menemukan jalannya sendiri. Pun lagu ini, Jangan Bakar Buku, yang selalu saya lewati saat memutar Kamar Gelap, entah, karena begitu muram, dan belum sesuai mood, atau lagu lainnya yang begitu indah dan ingin segera diputar. Intinya saya biarkan dulu, entar lama-lama pasti akan didengarkan tanpa sengaja, dan bisa jadi akan suka. Saya selalu begitu di seluruh lagu Efek Rumah Kaca yang tidak terlalu terkenal (bahkan di lagu yang jadi lagu wajib dan hits seperti Desember atau Cinta Melulu pun kadang masih begitu). Nyatanya, benar-benar indah. Efek Rumah Kaca, benar kata Rolling Stone, adalah salah satu band paling penting yang pernah berdiri di dekade ini.

5. Katy Perry – "Teenage Dream"
Katy Perry adalah bentuk kesempurnaan seorang perempuan. Anda harus banyak melihat foto-fotonya di Rolling Stone Amerika Serikat jika tidak percaya. Tapi lepas dari itu, ada satu lagunya yang menurut saya asyik sekali untuk didengarkan di waktu sedang sumpek: ‘we young forever!’ kata dia dalam Teenage Dream yang tidak norak dan mengumbar banyak EDM overrated. Menit favorit adalah menit-menit awal lagu: suara Katy Perry bercorak khas sekali, sengau-sengau cantik, duh. Kemungkinan besar history YouTube saya akan kembali lagi search tentang mbak satu ini.

6. Scaller – “Dreamer”
Track kedua dari EP 1991 yang rilis tahun 2013. Fak mengapa saya tidak tahu ada album sebagus ini. Selain Live And Do yang jadi hits, lagu ini juga tak kalah menarik. Bercerita tentang orang yang pengen jadi ini-itu, dalam konteks hubungan, pengen jadi istri, pengen jadi sesorang yang nggak bisa ditinggalin, tapi nyatanya dia cuman pemimpi dan nggak bakal nyata. Gimana dong? Stella Gareth dan Rene Karamoy menjawabnya, masih dalam penampilan minimalis ala-ala alternative rock, dan belum mengumbar synth seperti The Youth, single mereka yang rilis tahun ini.

7. Sonic Youth – “Bull in The Heather”
Tidak usah banyak deskripsi. Band legendaris dalam kamus hidup anak-anak noise atau sejenisnya. Band ini saya baru dapat album the best nya. Cukup seru buat didengarkan, meski kawan-kawanmu akan memaki jancok band opo iki, lagu opo iki cok. Padahal nggak berisik. Temponya lambat. Dan memang cukup ganjil sih. Tapi keganjilannya yang bikin ketagihan. Nikmat.

No comments:

Post a Comment