Sunday, October 16, 2016

14 Hari Untuk Selamanya (Bagian 4)

IV.
Bagaimana Pos Daya Ekonomi dan Jins Robek Membuat Kemaluanmu Berpindah







TEKNIK MEMEGANG MICROFONE ALA-ALA VOKALIS SERINGAI DI DEPAN
IBU-IBU PKK: TUTORIAL BESERTA GAMBAR
aku merindukan berdiri di ubin ini
Ajo Kawir dan Si Tokek, calon kades Sidowangi 2098
Bersama Pak Polo membahas pentingnya caption pada sebuah foto.
Segalanya adalah omong kosong, pikir saya. Jadi apa saja yang terjadi, lekaslah setuju; daripada lama dan berbelit-belit. Pun saat saya ditunjuk—dengan sebelumnya celingukan kesana-kemari mencari sasaran yang pas—oleh si ketua, Anugrah, untuk menjadi ketua Pos Daya Ekonomi. Mungkin sebaiknya saya menolak habis-habisan: saya tidak pernah terlalu mengerti apa itu neraca, anggaran, analisis SWOT, bla-bla-bla meski dirumah, Ibu adalah lulusan fakultas ekonomi. Ekonomi memang penting, Orde Baru saja sampai memuja-mujanya. Tapi saya tidak terlalu paham dengan yang semacam itu—kecuali tentu saja uang. Tapi ya sudahlah. Hari sudah tampak pekat. Saya bosan. Gerah. Ikuti saja maunya dia. Dan masuklah siapa-siapa yang tidak hadir ke dalam Pos Daya yang terakhir dibahas ini. Kelompok sisa-sisa? Mereka menyisakan sisa-sisa untuk Pos Daya Ekonomi? Kurang ajar! Tapi tidak mengapa toh Nila, bendahara paling loyal sepanjang sejarah dan Sylvia, pakar dari Jurusan Ekonomi, masuk ke dalam tim ini. Sisanya: dua bajingan yang tidak masuk hari itu, Tyo dari Teknik Mesin dan Wisnu dari Bahasa Jawa. Ketuanya? Saya dari Sastra Indonesia. Jangan bayangkan bagaimana anjingnya; ini tim ekonomi tersolid sekaligus terbusuk sepanjang sejarah.

Pos daya ekonomi terus terang adalah yang paling mblendes dari pos daya yang ada. Saya tidak pernah membuat terobosan, saya biarkan mengalir saja. Saat beberapa ketua pos daya mempresentasikan proyek apa yang akan mereka kerjakan, saya hanya akan bilang sepatah-dua patah kalimat:

“Mohon maaf, mungkin ini Pos Daya yang paling mbeler, silakan aja kalian-kalian kasih masukan apa yang harus dikerjakan pos daya ini, mengingat saya dan kawan-kawan sudah buntu.”

Dan tolong jangan tafsirkan kebuntuan ini sebagai sikap seorang pemalas. Itu tolol. Saya hanya beranggapan bahwa KKN kadangkala harus diselingi sedikit improvisasi; membaur bersama warga, menjadi warga sana setidaknya selama dua minggu, dan melebur dalam masyarakat. Semua proyek atau proposal rencana kegiatan boleh saja dikerjakan, tapi jangan lupakan: ini adalah kuliah kerja nyata, jadi kehidupan disana berbeda dengan kehidupan kuliah yang teoretis. Jika rencana sudah sedemikian dipakemkan—bahkan sampai terlalu rinci—lalu apa yang menarik dari KKN? Untuk tim ekonomi sendiri, ada upaya untuk membuat proyek dimana kami membuat suatu produk, atau sejenis UMKM (atau whatever you name it), untuk kemudian diajarkan kepada warga sana. Usulan ini saya terima. Dan saya kemudian berkoordinasi dengan beberapa teman—dan kemudian seluruhnya saat rapat besar—manakala ada yang bisa membuat kerajinan, atau entahlah, barang yang bisa meningkatkan taraf ekonomi warga, silakan tolong unjuk diri dan membantu pos ekonomi. Mereka mungkin bisa mengajarkan ilmunya kepada warga, dan untuk kemudian warga bisa membuat barang tersebut lalu menjualnya. Jadilah uang. Tapi nyatanya tidak ada seorang pun yang unjuk diri. Jadi seolah beban ini hanya pos daya ekonomi yang menanggung.

Lima orang anggota pos ekonomi kemudian melakukan rapat kecil-kecilan. Nol besar. Kami tidak pandai membuat kerajinan apapun. Bangsat. Saya anak sastra, mentok bikin puisi cabul atau cerita dewasa, Tyo, mentok mempreteli mesin kulkas, Wisnu sibuk dengan gamelan dan wayang goleknya. Sementara andalan pos ekonomi nyatanya juga menguasai teknik ekonomi dan pemasarannya saja, bukan dengan membuat kerajinan. Usulan lain pun masuk:

“Disana itu ada orang bikin gelang-gelang gitu, mungkin kalian juga bisa bikin kayak gitu terus nanti diajarkan ke mereka!”

Oke. Baik. Saya mengerti. Mengerti sekali. mungkin jika kalian mengerti, usul diatas teramat..., uh! Ada dua kemungkinan dari usul ini, yang kesemuanya bullshit omong kosong dan layak disiram di lubang kakus. Pertama, pos daya ekonomi akan membuat gelang-gelang juga, dan nantinya akan diajarkan ke warga yang kesehariannya membuat gelang. Ada yang aneh dari kelimat tersebut? Sama saja kita yang misalnya bengek disuruh belajar berlari untuk kemudian disuruh mengajari pelari maraton 100 km yang memang sehari-harinya berlari. Kesia-siaan macam apa ini? bukankah seharusnya orang yang lebih ahli mengajari orang yang baru belajar dan bukan sebaliknya? Tidak ada botol-botol malam itu. Tapi saya sudah mabuk urat syaraf.

Kemungkinan kedua sama mabuknya: pos daya membuat gelang tapi lebih bagus dari gelang buatan mereka, dan kemudian diajarkan. Ini seperti menyalahi kodrat, seperti kucing makan rumput. Mereka bertahun-tahun menggeluti itu, sementara kami dengan kemampuan teknik bau kencur, disuruh membuat lebih baik dari mereka. Sepertinya kita melupakan apa yang paling jadi keniscayaan dalam penciptaan: yap, benar, proses! Usulan tersebut melupakan hal itu. Dan bahkan bila dua kemungkinan itu dijalankan, apa kami tidak merasa keminter, sotoy, songong, mengajari warga desa seakan-akan kami lebih pintar saja—mentang-mentang kuliah. Justru kamilah yang harus belajar dan melebur dengan warga, begitu pemikiran saya. Percuma kalian kuliah, pinter, tapi nyatanya tidak bisa melebur bersama masyarakat. Mending... ngopi saja sama dosen.

Lagipula saya tidak percaya warga sana sebodoh itu. Jika ada warga yang pandai pastilah mau berbagi. Pun urusan gelang yang menyangkut UMKM. Kue-kue ekonomi pastilah dibagi secara guyub merata. Akhirnya saya dengan simpelnya saat ditagih program ekonomi oleh Ketua Anugrah, menjelaskan dengan apa adanya.

“Oke, kami nggak ada yang bakat kerajinan gitu-gituan. Kalian yo nggak ada. Kami buntu harus gimana. Yasudah, kami manfaatin apa yang kami bisa aja, jadi pos daya ekonomi disana cuman memaksimalin apa yang udah aja, kita ngebantu mereka, kita diskusi bareng mereka, kalau mereka kesulitan masalah pemasaran, kita bantuin.” Peduli setan. Intinya improve saja. Jadi menyusun prokernya baru setelah dua-tiga hari disana. Ide bagus sih. Menurut saya doang tapi.

Tapi Tuhan, tiba-tiba Dini DR, kumis baplang bajingan, cecunguk brengsek Manukan, pria ceking bercelana jins lebar, memamerkan tab-nya. Breng—nama panggilannya—membuat pos daya ekonomi menemukan titik cerah; meski sebenarnya makin membuat otak saya kesemutan, pun juga Wisnu, Tyo, Sylvi dan Nila.

Tab menampilkan YouTube. “Kerajinan Tangan dari Ampas Tebu.” Dan saya baru sadar jika disana ladang tebu menghampar dengan luasnya.

Selanjutnya saya bersama Wisnu menggodok konsep dari Kerajinan Ampas Tebu ini. Uang dari bendahara Nila cukup banyak, 300 ribu—dan padahal saya hanya minta kurang dari 100. Membeli perlengkapan bersama Wisnu di H-2 jelang KKN. Mencari barang di toko bangunan, mengitari stationery, dan sepertinya harus ada alokasi dana khusus untuk bensin, yang kebetulan saat itu memakai motor Wisnu. Tapi tolong, jangan melulu uang dan penggelapan. Tidak seperti itu, dan untungnya Wisnu adalah tipe yang loyal juga.

“Halah, gapapa wis bro santai! Bensin ae lho!” saya mencium basah Wisnu di ubun-ubun.

KKN sudah resmi dimulai. Hari itu hari Senin, yang berarti acara pertama akan dimulai, dimana tiap ketua Pos Daya harus menyampaikan programnya. Dan brengseknya, tanpa saya duga, acara itu dihadiri banyak tokoh: pak lurah, pak polo (semacam RW), pak RT, ketua karang taruna, ibu-ibu PKK, ustadz, warga terpandang, dan sebagainya. Saya benci yang semacam ini. Acara tiba-tiba menjadi resmi. Saya yang mengira akan presentasi sambil duduk di mejakursi panjang yang telah disediakan di depan, ternyata harus berdiri. Aturannya: mejakursi itu untuk duduk pak lurah dan para birokrat desa. Tampak Bu Sekdes—yang berpenampilan glamour dan bermuka seperti orang-orang kaya yang gemar memilih-milih mobil di dealer—dan juga anak buahnya. Saya bisa apa.

Sambil menahan gemetar di belakang—jujur ini adalah pengalaman yang menegangkan, belum pernah sebelumnya saya berbicara di depan orang-orangso called, ‘penting—saya memilih menyulut jumput rerumputan sembari menghembuskannya. Hengki yang berbakat improvisasi dijadikan MC, dan benar, ia membawakan acara dengan percaya diri, dan rapi. Jangan lupakan, Hengki semakin menjadikan acara ini resmi. Satu-persatu ia mulai menampilkan lima orang ketua Pos Daya: Pendidikan, Agama, Lingkungan Hidup, Kesehatan dan Ekonomi. Saya sudah berunding dengan Hengki si MC—kebetulan sekali dia dan saya amat CS—dan disepakati Pos Daya Ekonomi yang saya wakili—dan karena sayalah ketuanya—akan maju di urutan ketiga. Catat, ketiga. Maju di urutan pertama mungkin cukup buruk: mereka langsung disuruh bertindak tanpa tahu situasi sebelumnya. Tapi baiknya tiada perbandingan dengan penampil sebelumnya, jadi baik buruk tidak jadi masalah. Yang pertama maju saya ingat betul adalah Fitra, kawan angkatan 2012 dari jurusan Teknik Mesin. Dia transfer dari D3 menuju S1. Kelihatannya begitu: Fitra yang anak teknik cukup mampu menguasai mesin, tapi tampak pucat dan gugup di depan. Saya jadi semakin tak karuan. Sebentar lagi giliran saya. Anjing. Selanjutnya Bang Syakur, mewakili Pos Daya Agama. Tampangnya memang seperti motor combo dengan tiga box, menumpuk di belakang. Besar, dan cukup percaya diri. Dia bicara dengan singkat sekali. Dan disini saya mulai memikirkan sesuatu.

“Sek, sek, aku iki engkok arep ngomong opo cok!”

Akhirnya saya sadar. Saya langsung mengambil sebuah bagian di otak yang berfungsi untuk mencatat, saya ulang-ulang, sedemikian rupa, sampai saya hafal poin-poin yang akan saya baca. Tapi tetap saja.

“Sek, sek, jancok lali arep ngomong opo!”

Fuck. Anjing. Sial! Saya bingung sendiri dan makin bingung saat Hengki mengucapkan terima kasih karena presentasi Syakur telah usai. Bangsat, giliran saya.

“Baiklah” ujar Hengki. “Selanjutnya adalah penampilan dari teman saya, yang cukup berpengalaman dan menguasai bidangnya. Dia sudah bisa dibilang master di bidang ini.” tambah Hengki.

Apa-apaan sialan. Berlebihan. Saya tidak sedramatik dan sehiperbolis itu.

“Kita panggil Mas Aminul dari Pos Daya Lingkungan Hidup!”

Anjing biadab! Tidak sesuai rencana! Hengki mungkin lupa karena terlalu asyik dengan obrolan ngalor-ngidulnya—yang sempat saya ‘rasani’ bareng Anugrah yang sedari tadi sepertinya ngelamun jorok di belakang (‘jancok Hengki iki improve yo improve, tapi lek ngene iki kebangeten improve, kesuwen cok!’) jadilah saya yang semula sudah melobby Hengki untuk memanggil saya di urutan ketiga, menjadi kembali sesuai urutan awal di catatan acara, yakni kelima alias terakhir. Asu. Tidak ada cara lain. Saya mengabaikan pidato Aminul. Menyumbat kembali mulut dengan rempah tumbuh-tumbuhan. Tapi bangsat, makin sialan saja rasanya. Apalagi saat Hengki mulai memanggil salah satu kawan klop saya, Ikbal.

“Oke, penampilan keempat, seorang kawan saya dari Madura, datang jauh-jauh kesini hanya untuk mempresentasikan bidang kesehatan. Dia paling aktif di camp, dan amat sangat sibuk sehingga tak sempat tidur, kita sambut Mas Ikbal!” ujar Hengki.

Bajingan ini makin tengik. Semuanya tentu saja paham ironinya. Dan tertawa dan bertepuk tangan keras. Andai saja hadirin-hadirat itu tahu bahwa Ikbal di camp dijuluki sebagai ‘raja tidur’—dia bisa tidur dari subuh hingga jelang magrib—maka mungkin Balai Desa akan seramai reuni Keluarga Persaudaraan Om Monata. Hengki sungguh, si anjing. Saya mulai tidak karuan. Tengik. Ikbal saja dipermalukan, bagaimana saya. Asu!

Dan tibalah saatnya.

“Ya, demikian bapak-bapakdan ibu-ibu presentasi dari Ikbal. Sekarang saatnya, penampilan terakhir, yang ditunggu-tunggu...”

COK HENG!

“Penampilan dari kawan saya, yang ini asal Pasuruan. Anak ini sudah pakar dan paham betul tentang ekonomi. Baiklah, kita sambut Tito dari Pos Daya Ekonomi!”

JUANCOK!

Saya hanya bisa menggelengkan kepala. Topi tetap saya pakai—dan persetan tidak ada yang memakai topi atas nama sopan santun. Anjing. Saya sudah tidak peduli. dan kadang memang ketidakpedulian memunculkan kepercayaan diri. Sialan. Tapi tetap saja tidak bisa menutupi nervous busuk ini. Tapi mau tak mau saya harus maju, mencoba senyum semanis mungkin, meraih microfon,

Dan... terjadilah.

Entah apa yang terjadi. Mulut saya sialan. Saya rasa saya berbicara panjang lebar, dan... tertular gaya improvisasi Hengki. Bangsat. Ini mungkin penampilan terlama di acara ini. Dan saya masih berputar-putar pada cerita tidak jelas: balada tukang es tebu yang tentu saja saya mengarang di tempat—memamerkan kemampuan anak sastra sebagai tukang bual nomor satu. Tapi apapun itu tidak ada yang mengalahkan kejutan yang telah saya persiapkan di saku.

“Jadi, limbah ampas tebu itu bisa jadi sebuah karya seni kriya yang mengagumkan, penuh estetika dan tidak lupa menambah nilai jual.” Saya berkata sok meyakinkan, kemudian mengeluarkan benda itu dari saku.

Bangsat sialan. Mengapa mereka tertawa. Salah satu ibu PKK mencoba jadi juru bicara keadaan.

“Oalah mas, tak pikir sampean pamer kerajinane, tibake pamer ampas tebune!”

Ya Tuhan, buk! kami saja baru memungut ampas kemarin sore, dan bahkan belum yakin akan apa yang akan kami lakukan. Ini adalah proyek nekat sialan. Semoga berhasil. Maaf atas presentasi tipuan tersebut. Toh tetap saja dipermalukan dan ditertawakan.

Dan... tidak berhenti disitu...

Ibu Sekretaris Desa berkomentar, di depan khalayak, di depan tokoh-tokoh penting desa, di depan teman-teman, di balai desa, menggunakan micorofon dengan ampli menggelegar, dengan muka sinis dan kerlingan ibu-ibu pemangsa.

“Mas, boleh saya mengkritik sedikit?” tanya Bu Sekdes.

Iya, bu, to the point saja...

“MOHON KALAU PRESENTASI DI ACARA SEPERTI INI JANGAN PAKAI CELANA SOBEK-SOBEK GITU YA! MASAK JINS SOBEK SEMUA GITU DIPAKAI D ACARA SEPERTI INI...”

ANJING!!!

Saya rasa kemaluan saya telah berpindah di muka. Terima kasih hadirin dan hadirat sekalian...

(Bersambung)

No comments:

Post a Comment