Tuesday, October 11, 2016

Drs. Sayuti, Sarjana Sastra, Mengoceh Tentang Arti Hidup

Tulisan ini adalah sebagian kecil dari hasil dari transkripsi materi Drs. Sayuti, SS, saat mengisi kuliah umum dengan tema ‘Peluang Menjadi Sastrawan Warung Kopi dengan Teknik Menguasai Minimal Dua SPG Rokok Mild,’ hari Sabtu, 9 Oktober 2098, di TPS Fakultas Bahasa dan Seni, Unesa. Pak Sayuti kini sibuk menyelesaikan buku kumpulan esai teori terbarunya yang berjudul ‘Eureka! Dan Sejarah Kejantanan.”

*** 

Akhirnya, setelah ratusan purnama, setelah Cinta dikecup Rangga, saya menemukan arti hidup. Tidak ada dalam kamus. Tidak ada dalam Perjanjian Baru. Tidak ada dalam bunyi klakson truk tinja. Saya pure menemukan arti hidup ini—baru saja setelah berkata hal ini—setelah sebelumnya melewati berbagai lampu merah datang bulan, tambal ban monyet dan orang udik bersepeda di tengah jalanan Surabaya yang padat merayap. Setelah puluhan video ‘Hati2 Di Internet’ saya tuntaskan sampai subuh, Awkarin atau Anya Geraldine yang bahkan saya ikuti perkembangan tobatnya (dan tingkahnya), dan yang terakhir, jangan terharu, jangan bergidik, Kyai Dimas Kanjeng Taat Pribadi sebagai nabi baru di televisi; calon pengganti Tukul di acara Empat Mata, pengganti Ali Zaenal di (Masih) Dunia Lain, pengganti Eko Patrio di kursi wakil ketua pemenangan Agus Harimurti Yudhoyono (atau Anies Baswedan, saya lupa), dan menjadi admin blog mahasiswa saya, Tito Hilmawan yang payah ini untuk selama-lamanya. Thanks Aa’ Gatot Brajamusti, saya musti menuliskan ini karena ini musti mustinya akan menjadi sebuah hal yang, mengutip Pram saat duduk di kamar mandi, byur. Lenyap. Lenyap. Tak berbekas. Tanpa arti. Menguap. Menyublim. Menjadi fungi. Menjadi serial Supernova ke-7. Menjadi Mirna sebelum mengudap sianida. Menjadi orang-orangan sawah di Tuyul dan Mbak Yul. Menjadi bedak Herocin di selangkangan ahli kubur. Menjadi random. Menjadi abusrdisme. Menjadi di block Google. Menjadi blog berpenghasilan dua koma hanya dalam waktu seabad. Menjadi dot com odong-odong. Menjadi tahi babi. Mati. Lalu sudah. Sudahlah.

Saya—dan tentunya juga Anda, kaum pencinta sandal Swallow—menyukai sebuah ketidakjelasan sebelum segalanya menjadi benar-benar jelas, dan Anda akan mencintai kodok seketika. Tampar saya. Apakah Anda sudah mengerti arti hidup yang saya maksudkan di atas. Ataukah saat ini Anda masih jomblo dan mengutuk Jokowi? Ataukah, masih betah balapan dengan angkot plat L? Benar, arti hidup milik saya dengan milik Anda tentulah berbeda. Seperti isi kepala Dedy Corbuzier dan Mario Teguh. Yesus dan Karl Marx. Saipul Jamil dan Sartre. Jelas berbeda dan tak perlu dimirip-miripkan. Tapi, sekali lagi, arti hidup saya tetap perlu saya publikasikan. Seperti koar-koar para Youtubers cilik tukang cover Young Lek. Viva manusia YouTube!

Arti hidup:

Hidup adalah kejutan yang berkelanjutan.

Bagaimana, Anda sudah mengerti jenis-jenis tanaman hias yang hidup di Zaman Mezolithikum yang berawalan huruf D?

Kejutan! Tepat sekali!

Dari mana Anda berasal itu adalah dari mana Anda berawal!

Itu saja untuk kuliah hari ini. Matilah semiotika!

No comments:

Post a Comment