Wednesday, October 12, 2016

My Mother Is Hero – Midst: Begitu Berat dan Terukur


Surabaya bukan kota rock, kata My Mother Is Hero pada Ronascent beberapa waktu lalu. Tapi toh nyatanya di album kedua yang bertajuk Midst, mereka malah semakin brutal dan liar meramu formula rock gelap dengan atmosfer stoner rock yang padat. Alhasil, jadilah Midst mengubah image MMIH dari band pop rock pada umumnya menjadi pemuja tahun 1974 dengan formulasi rock and roll tua, yang seperti mengawinkan Zeppelin dengan distorsi Sabbath. Jika didengarkan dengan saksama, Midst secara segi musikalitas dan sound juga tak jauh beda dengan album kedua The SIGIT, Detourn (2013). Atau semacam Wolfmother tapi lebih rapat dan terukur, dengan menomorduakan spontanitas dan lebih mementingkan keakuratan. Midst seperti mencoba memberi warna baru bagi genre rock beringas di Surabaya yang ‘bukan kota rock.’ Ingatan sial juga memberi tahu adanya warna seperti Eet Sjahranie pada gitar di album 2010 mereka, Edan, khusus di nomor-nomor hardrock kencang seperti Living Dead.

Dibuka dengan Sub-Urban Jam, intro yang ingin menunjukkan kepada kita semua, para penyembah rock indopahit, bahwa Midst dari MMIH adalah hardrock dengan kebul asap stoner yang pekat. Iringan drum yang lambat dan berat, dengan atmosfer bar penuh asap rokok dari seksi bas dan distorsi, menyempurnakan jamming ‘sub-urban’ ini. Pariah sebagai track kedua, menampilkan vokal Bonie yang berbeda dengan album mereka sebelumnya, Sundial. Terdengar lebih berat dan serak: kotor! Inilah musik yang ‘cowok banget.’ Tapi sayangnya di sampai di pertengahan menjadi sedikit membosankan, meski ada beberapa part yang bisa dikatakan menarik bila diolah lebih dalam. Track jagoan mereka, Guided Democracy yang sempat dibawakan di Live Session bulan Juni lalu masih memakai formula yang sama. Rock bebatuan; boots limakilogram yang menghantam kepala. Hampir kesuluruhan isi track di Midst punya formula yang sama. Ksemuanya berdurasi rata-rata empat sampai lima menit. Mungkin dengan Hurt sebagai track paling penuh isian dan emosi yang intens.

Sekali lagi ini bukan album yang bisa dianggap main-main. MMIH begitu total dan terukur. Namun sayangnya spontanitas rock and roll jadi agak kurang. Musik terasa begitu kaku dan kering—atau memang seperti itu konsepnya?—dan jarang ada bagian yang catchy dan gimmick-gimmick yang menyenangkan. Bahkan hampir tidak ada bagian untuk sing-along. Dikhawatirkan musik yang keterlaluan serius akan menghilangkan sikap senang-senang. Satu lagi, sepuluh track dalam Midst cukup melelahkan untuk didengarkan secara utuh, karena sekali lagi, kurangnya bagian yang membuat telinga merasa senang. Agaknya gempuran oktan macam beginian menjadikan MMIH seperti menjadi band ekslusif yang hanya cocok bermain di bar/pub sempit. Bukan lagi di lapangan sekolah yang luas: MMIH harus melepas predikat raja pensinya jika memainkan rock dengan formula kaku macam begini. Sayang sekali dengan artwork cover yang cukup impresif, musik yang ada begitu melelahkan.

Baca disini juga bisa. Engga diedit cuman ditambahin editor dikit hehe.

No comments:

Post a Comment